Dua ruangan pada kantor Markas Besar Militer Korea saat ini jelas terlihat perbedaan yang mencolok. Ruangan pertama dimana Yoora dan Baekhyun berada yang sebelumnya terasa dingin dan kaku kini lebih menghangat karena dua orang disana masih terlibat percakapan yang begitu asyik, tak hanya suasana yang menghangat terlihat disana. Mereka berdua bahkan terlihat saling berbagi suara tawa dan terdengar hingga di luar ruangan.

"… Victoria Mama memukulnya dengan cukup keras, tapi Chanyeol bisa lari kabur setelah pukulan yang kedua." Baekhyun tersenyum lebar sementara Yoora berusaha menahan rasa sakit pada perut dan kedua pipinya yang sedari tadi berkontraksi karena gelak tawa yang tidak bisa ia tahan.

"Aku bahkan tidak tahu Chanyeol mau memelihara tikus dirumah—anak itu benar – benar.."

"Victoria Mama tidak mau ada hewan – hewan yang akan dibawa Chanyeol untuk dipelihara, setelah larangan itu, Chanyeol membawa semua hewan yang ia temui dan merawatnya di rumah pohon. Ayah membuatkan rumah itu untuk Baekhyun."

Senyuman yang menandakkan kebanggaan dari apa yang Baekhyun ucapkan terulas di wajahnya.
Yoora menahan senyumnya, ia memberanikan diri menggenggam tangan Baekhyun sebagai artian dari kepedulian hatinya mengingat keduanya tengah mengalami hal yang sama. Kedua orang tua mereka meninggal karena ulah seseorang.

"Kau merindukan mereka?" Yoora menyudahi moment bahagia mereka dan kembali mencoba mengambil sedikit keterangan yang Baekhyun ketahui mengenai pembunuhan Chanyeol dan juga pembunuhan kedua orang tuanya.

Wajah anak itu mulai menunduk dan melepaskan genggaman tangan Yoora, "Aku tidak membunuh mereka semua.. aku tidak melakukannya.."

"Hey.." Yoora beranjak bangun dan segera berpindah posisi untuk berada disebelah Baekhyun. "Aku yakin kau tidak melakukannya.. dan aku tahu Sunyoung sudah menceritakan padamu mengenai rencananya bukan? Bagaimana dia membunuh Chanyeol? Atau dia membunuh—

"Aku tidak ingat." Baekhyun mengangkat wajahnya, memperlihatkan wajah penuh tangis kepada Yoora. "Aku tidak ingat jelas bagaimana ia membunuh Mama, maupun Papa.. tapi dia menceritakan padaku ketika orang –orang yang bekerja dengannya mengirimkan bom tepat dimana Chanyeol berada saat itu. Mereka bukan hanya membunuh Chanyeol.. semua orang yang berada ditempat itu pasti terbunh di waktu yang bersamaan bukan?"

Yoora mengusap air mata Baekhyun dan menenangkannya. "Mereka terbunuh, tidak ada satu pun yang selamat saat itu—

"Sebenarnya Chanyeol pergi kemana? Kenapa ia harus pergi? Seharusnya Chanyeol menemaniku! Victoria Mama bahkan mengatakan tidak akan memisahkan kami sampai kapanpun!" Baekhyun berteriak namun matanya terpejam karena tangisanya tak kunjung berhenti.

"Baekhyun.." Baekhyun semakin terisak dan Yoora membawa anak itu masuk dalam dekapan pelukannya berharap ia bisa tenang dan tidak lagi mengingat kejadian – kejadian yang bukan disebabkan olehnya.

".. kalau aku menolak ikut untuk menemui Ahjussi saat itu, mungkin Ahjussi tidak akan terbunuh—
"Bukan karena dirimu Ayah-ku terbunuh Baekhyun, semua itu adalah ulah dari wanita itu yang memang sudah berniat menghancurkan keluarga kita. Jadi jangan pernah menyalahkan dirimu tentang apa yang terjadi belakangan ini."

Baekhyun tampak lebih tenang dibandingkan sebelumnya meskipun airmatanya masih mengalir pelan membasahi pipi wajahnya.

"Kau masih selamat dan tak lagi berada dibawah penjagaannya, itu adalah hal yang patut kita syukuri. Kau setuju denganku?" Yoora melontarkan pertanyaan dengan tetap memandangi Baekhyun untuk memberikan sedikit keyakinan dan keberanian dari anak itu.

"Aku tidak mau kembali kerumah itu.. a-aku tidak mau bertemu dengan wanita itu.. Eonnie jangan kembalikan aku pada mereka—
Belum selesai Baekhyun merengek pada Yoora, Chanyeol telah masuk kembali dalam ruangan, hanya berdiri di depan pintu dengan salah satu tangannya terangkat membawa kertas putih disana.

"Baek.. beristirahatlah dulu ya, kita akan bertemu saat makan siang nanti. Okey?" Yoora membawa Baekhyun duduk kembali dan memberikan kode pada dua anak buah dari Red yang bersama dengannnya. Luhan dan Kyungsoo—untuk menemani Baekhyun.

Yoora masih menutup rapat mulutnya meskipun Chanyeol tengah membawa dirinya masuk kedalam ruangan lain untuk bergabung dengan Kris dan Jenderal Kim.

"Ada apa? Apa anda sudah menemukan data milik Baekhyun?"

"Duduklah," Yoora menurut apa yang dikatakan oleh Chanyeol. "Dan mungkin kau harus membaca apa yang tertulis disini." Dokumen yang sebelumnya Chanyeol pahami kini tengah berpindah ke tangan Yoora dan ia langsung mengamati rentetan kata – kata yang tertulis disana.

"Aku ingin kita melakukan sesuatu menyangkut apa yang tertulis disana—

"Baekhyun kandidat Red?" Yoora tidak mendengarkan apa yang dikatakan Chanyeol padanya, ia lebih dulu memandang Junmyeon sebagai satu – satunya orang yang bisa memberikan penjelasan lebih detail mengenai keterangan yang tertulis di kertas itu.

"Aku sudah memeriksa track record pendaftaran kandidat anggota Red dan nama Baekhyun berada disana, usianya saat ini tepat 17 tahun dan dia harus mengikuti pelatihan untuk menjadi anggota Red. Sama seperti Chanyeol yang masuk pelatihan Militer di usianya 17 tahun, maka apapun keputusan yang kau inginkan, anak itu akan dilatih menjadi anggota Red."

Yoora berpikir mendengar semua yang dikatakan Junmyeon padanya, memasukkan Baekhyun pada program Red memang akan memastikan jaminan perlindungan untuknya, namun yang ia takutkan adalah lemahnya fisik dan jiwa yang dimiliki Baekhyun saat ini.

"Apa yang harus kita katakan pada Baekhyun?"

Junmyeon menutup rapat mulutnya, Kris yang sedari tadi berada disana juga tidak berniat menyumbangkan pendapatnya, pandangan kedua pria itu tertuju pada Chanyeol yang meskipun terlihat berdiam diri acuh tak acuh tapi semuanya tahu otaknya tidak bisa berhenti bekerja.

Yoora masih menunggu sebuah ide ataupun pendapat terlontar namun matanya mengikuti pandangan Junmyeon dan Kris yang terarah pada Chanyeol, "Apa idemu?"

Chanyeol memutar bola matanya dan mengambil kertas yang masih berada di tangan Yoora, "Ideku sedikit gila." Ia berucap tenang. "Sejak awal, kita tahu Baekhyun membenci Sunyoung, bukan hanya Baekhyun, tapi alter-ego nya bahkan memiliki dendam yang sama dengannya. Dan tentu.. kita semua yang ada disini memiliki dendam yang sama dengannya. Phoenix dan Red. Sunyoung merebut semuanya dan maka dari itu kita harus mengikuti permainannya. Menukar nyawa dengan nyawa."

"Chanyeol—aku tidak mau mengirim anak buah untuk berperang dengan Sunyoung dan kelompoknya—

"Bukan sekarang Lady.." Chanyeol menahan ucapan Yoora. "Sunyoung beranggapan Phoenix tidak akan kembali menjadi kelompok mafia yang disegani karena kau tidak akan menjadi pemimpinnya—

"Kau memintaku memimpin—

"Aku salah." Chanyeol menjawab cepat. "Aku kira membiarkan dirimu memimpin Phoenix akan memudahkan ia menyerah tapi-No—dia memang menginginkanmu memimpin Phoenix dan dengan begitu dirimu akan dibunuh dengan mudah olehnya."
Ucapan Chanyeol membuat Yoora menegang kaku dalam diam.

"Maka dari itu, kita buat Phoenix dianggap telah mati, namun pada kenyataannya tidak, Phoenix berada dibawah bayang – bayang Red. Red tidak akan pernah mati, karena dirimu adalah pemimpin selanjutnya yang tidak akan diketahui oleh siapapun. Red masih dibawah naungan Militer dan tentu saja Sunyoung tidak akan mengetahui hal itu."

"Aku mengerti maksudmu.." Kris akhirnya bersuara. "Tapi, tidak ada Phoenix akan memberikan ancaman pada kelompok mafia lainnya, Sunyoung akan menyerang mereka dan menghabiskan para Fathers. Banyak kelompok mafia yang berada dibawah perlindungan Phoenix dan kita tidak bisa meninggalkan mereka begitu saja—

"Kita tidak meninggalkan mereka, Phoenix tetap ada.. tapi tidak beredar dalam radar Sunyoung."

"Aku mengerti, dan sekarang aku tahu kenapa Ayahmu dan Lady Vic membawamu masuk dalam Militer saat itu." Junmyeon berdiri dan merangkul bahu Chanyeol meskipun dengan susah payah karena perbedaan tinggi diantara mereka berdua. "Phoenix dan Red menjadi satu dalam misi yang sama."

Kris dan Yoora yang masih tidak mengerti dari apa yang Chanyeol jelaskan masih menunggu dua orang disana untuk kembali menjelaskan lebih rinci.

"Oh, ayolah? Ace! Kau tidak mengerti maksudku?"
Kris diam. Tidak mengatakan iya ataupun tidak.

"Aku tidak mengerti, kau mau Phoenix dianggap sudah tidak ada, tapi kau masih mau melindungi sekelompok mafia lainnya. Dan apa maksudnya dari Phoenix dan Red menjadi satu dalam misi yang sama?"

Chanyeol menunduk dan mengusap wajahnya, "Park Yoora.. kini aku tahu kenapa Ayah merasa kesal padamu."

"Apa maksudmu?"

"Kau tidak bisa berbohong dengan baik." Chanyeol menyahut dan Kris terkekeh mendengarnya.

"YAAA!"

"Aku serius! Maksudku kita hanya akan membuat Sunyoung beranggapan Phoenix telah tiada namun pada kenyataannya kita masih beroperasi dibawah bayang – bayang Red. Dalam artian bayang – bayang adalah, dimana Red beroperasi, disitulah Phoenix berada. Ini seperti yang diinginkan oleh Ibu dulu, kau ingat?"
Mulut Yoora terbuka kecil sementara raut wajahnya terlihat tengah berpikir keras.

"Sudahlah, aku yang akan mengambil alih Phoenix." Chanyeol berucap mantap, wajahnya terlihat kesal berbeda dengan ketiga orang disana yang memberikan sebuah senyuman lebar.

"Sebenarnya aku menunggu kalimat itu." Bisik Yoora kearah Chanyeol dan adiknya itu membalas dengan decihan. "Dan apa yang kau rencanakan dengan teman masa kecilmu itu?" masih dengan senyuman lebar, Yoora bermaksud menggoda Chanyeol dengan menyebutkan Baekhyun dalam bahasa tersirat.

"Dia adalah Red, mau tidak mau kau harus membawanya masuk dan melatih dirinya menjadi seorang Red—gadis anti mafia." Chanyeol berucap acuh.

"Kau yakin? Ada peraturan anggota Phoenix tidak diijinkan menikah dengan salah satu anggota Red, kau tetap ingin Baekhyun masuk kedalam Red?" Yoora menggoda lagi.
Chanyeol hanya membalas dengan tatapan dingin, dan Yoora menggedikkan bahunya seolah – olah ia tidak paham akan apa yang dimaksud oleh tatapan yang diberikan oleh sang adik.

"Aku sudah mendengar banyak cerita tentang masa kecilmu dengan Baekhyun, jadi aku hanya mengingatkan.. bahwa peraturan yang berlaku tetap sama. Tidak ada anggota Phoenix yang bisa menikah dengan salah satu anggota Red."

Chanyeol menggelengkan kepala dan melangkah untuk keluar dari ruangan dimana mereka gunakkan untuk berbicara panjang, ia mengabaikan Yoora katakan sebelumnya dan meskipun kakaknya itu tengah berteriak memanggil namanya, Chanyeol tetap mengabaikan dan memilih untuk kembali masuk pada ruangan dimana Baekhyun berada.


FOUR


Baekhyun masih berada diruangan yang sama, duduk bersama dan berbicara dengan Luhan serta Kyungsoo yang menjaga dirinya. Sebelumnya Chanyeol sempat mengira mungkin saja anak gadis itu merasa ketakutan dan memilih untuk duduk diam namun ternyata ketika dirinya membuka pintu, terdengar Baekhyun tengah menanyakkan pada kedua orang disana mengenai dimana ia berada saat ini dan juga mengenai siapa saja yang tengah berbicara padanya sebelumnya.

"…kau sudah bertemu Yoora, Lady Yoora tepatnya. Dia pemimpin Red, organisasi yang dikembangkan oleh pihak Militer dan juga CIA, dan mengenai dua orang yang bersama kami sebelumnya salah satunya bernama Ace, dan seseorang yang kau panggil Chanyeol—atau kau katakan mirip dengan Chanyeol, itu adalah Four. Mereka adalah anggota.."

"Phoenix." Chanyeol mengucapkan dengan lantang. "Kau pernah mendengarnya?" ia melangkah masuk menuju tepat didekat Baekhyun dengan perlahan sembari memperhatikan raut wajah anak itu yang tengah merona memperhatikan dirinya. Kedua mata mereka saling beradu pandang satu sama lain, tatapan Chanyeol terlihat mencari arti kebenaran dari apa yang Baekhyun berikan padanya, sedangkan Baekhyun memperlihatkan tatapan terpesona hanya dengan melihat Chanyeol saat ini. "Kau pernah mendengarnya?" lagi Chnayeol mengulang dan Baekhyun menggeleng ketika dirinya tengah kembali tersadar dari lamunannya.

"Aku pernah mendengarnya.. Sunyoung selalu mengatakan nama itu berulang kali."

"Apa yang ia katakan?" pertanyaan lainnya cepat dilontarkan.

"Chanyeol bagian dari Phoenix.." Baekhyun berucap pelan, mulai merasa takut apabila ucapannya ternyata tidak pantas untuk diucapkan.

"Lalu?"

Baekhyun memberanikan diri untuk kembali bertatapan dengan mata Chanyeol, "A-aku.. tidak tahu selain itu.."

"Hm. Baiklah." Chanyeol menyudahi percakapan singkat itu dan melangkah keluar dari ruangan tanpa mengatakan apapun kepada siapapun disana. Baekhyun tak bergeming sesudahnya dan ketika Yoora serta Kris masuk kedalam dan mengajak diriya untuk kembali ke ruangan dimana ia dirawat, barulah ia menyadari bahwa pria bernama Four sudah tidak berada bersama dirinya diruangan itu.

Yoroa mengantarkan dirinya hingga ia benar – benar kembali diatas ranjang dan selesai melakukan pemeriksaan mengenai luka yang masih dibalut perban putih. Tidak ada kekhawatiran lain yang ditakutkan mengenai luka itu, namun dokter belum memperbolehkan Baekhyun untuk keluar dari area rumah sakit mengingat kondisinya masih belum sepenuhnya sembuh.

Yoora mengatakan Baekhyun akan tetap tinggal hingga luka jahitan yang didapatkan telah pulih dan tidak Nampak pada bagian dadanya. Baekhyun mengangguk setuju, tidak ada yang perlu ia takutkan dan khawatirkan karena ketakutan dalam dirinya yang selama ini ia miliki sudah berada jauh dari tempat dimana ia berada saat ini. Dan itu cukup bagi Baekhyun.

"Beberapa anggota Phoenix akan menjagamu didalam kamar ini dan juga berada diluar pintu, kau tidak perlu merasa takut karena mereka telah diperintahkan untuk menjagamu dengan nyawa mereka, jadi beristirahatlah." Yoora merapikan selimut yang menutupi badan Baekhyun dan juga membenarkan posisi tidur anak itu.

"Kali ini Cha—Ja. Hari ini giliran Four yang menjagamu hingga nanti malam." Yoora sengaja terbatuk untuk mengalihkan kata yang hampir saja ia ucapkan akan menyebutkan nama Chanyeol didalamnya.

"Eonnie.." Baekhyun memanggil Yoora.

"Ya? Kau butuh sesuatu?"

Baekhyun menggelengkan kepala.

"Kenapa?" Yoora menunggu apa yang Baekhyun ingin katakan padanya karena jelas terlihat kedua bola mata anak itu tengah bergerak ke kanan dan kiri secara cepat. "Kau harus terbiasa menghilangkan rasa takutmu Baekhyun, katakan apa yang ingin kau katakan." Yoora memberikan pelajaran pertama bagi Baekhyun secara tidak sengaja.

"Um.. aku mau bertanya.."

"Katakan.."

"Mengenai… Four.."

Dan senyuman Yoora terbentuk meskipun ia sudah berusaha menahan agar tidak terlihat.

"Itu.. aku.. mau menanyakkan.."

"Menanyakkan apa?" Yoora sengaja memaksakan Baekhyun untuk segera menyelesaikan pertanyaannya.

"Dia.." Baekhyun menahan kalimat selanjutnya.

"Dia…"

Dan Yoora merasakan kesabarannya tidak bisa lagi tertahan menunggu Baekhyun yang masih bingung ingin mengatakan apa pada kalimat selanjutnya.

"Kenapa dia.. mirip dengan Chanyeol?"

"O-oh?" Yoora merespon bingung karena ia tidak menyangka pertanyaan yang akan Baekhyun katakana mengenai hal kemiripan antara Chanyeol dengan Four. Yoora menimbang – nimbang apa yang akan ia jelaskan mengenai dua nama tersebut yang sebenarnya adalah satu orang yang sama, satu orang yang selalu Baekhyun pikirkan di hari ini.

"Mereka memiliki mata yang sama, bahkan bentuk telinga yang dimiliki sama, seperti Yoda." Baekhyun tersenyum lebar hampir terkekeh pelan dan Yoora seakan – akan dihipnotis untuk ikut tertawa bersama dengan anak itu.

"Kau sangat mengenal Chanyeol dengan baik, hm?"

Baekhyun mengangguk.

"Mereka berdua.. hanya memiliki kesamaan fisik, tapi hatinya berbeda. Aku yakin Chanyeol selalu memiliki hati yang lembut dan perasaan hangat bila ia masih ada disini. Ia pasti selalu memberikan perhatian padamu dengan caranya sendiri sementara Four.. dia.."

"Dia anggota Phoenix, apa dia anggota terpenting? Ayah mengatakan anggota Phoenix adalah anggota terbaik. Mereka pintar, terlatih dan juga sangat professional."

Yoora mengangguk. "Four adalah pemimpin tertinggi saat ini, tidak ada Father—itu sebutan pemimpin organisasi mafia—dan dia yang mengambil alih saat ini. Mereka memiliki tiga orang di posisi tertinggi sebelum Father, Ace dan Four adalah salah satunya. Kau memiliki ingin tahu cukup tinggi mengenai ini?" Yoora memancing perasaan penasaran yang dimiliki Baekhyun.
Anak itu mengangguk mantap seakan – akan tidak memahami bahwa dia baru saja membuka peluang bagi Yoora untuk menjelaskan lebih banyak mengenai Phoenix dan Red.

"Beristirahatlah, kita bisa membahas mengenai mereka nanti." Yoora memberi tepukan pelan pada punggung tangan Baekhyun sebagai tanda ia pamit meninggalkan ruangan kamar inap itu.


FOUR


Pembicaraan serius masih terus dilanjutkan hanya untuk mengambil keputusan mengenai apakah seorang anak bernama Byun Baekhyun dianggap pantas untuk bisa masuk dalam program Red yang dimana anak itu akan diberi pelatihan sama halnya seperti pelatihan Militer namun juga dibekali pengetahuan dalam tingkatan lebih tinggi dan spesifik mengenai hal – hal sciences dan juga hal – hal mengenai kriminalitas.

Jenderal Kim sudah pasti memiliki jawaban 'YA' untuk menerima Baekhyun masuk dalam program itu, sama dengan Kris dan juga Chanyeol, hanya saja, sang Lady, masih menunggu pernyataan berulang kali dari Chanyeol. Benarkah Chanyeol menyetujui anak itu masuk dalam program Red dan akan menjadi sosok anti – mafia sama seperti apa yang ada dalam diri Yoora.

"Ia hanya menceritakan tentang masa kecil, itu tidak menjamin aku akan memiliki perasaan yang sama dengannya meskipun aku mengingat semua hal itu—" Chanyeol kembali lagi mengatakan tidak mengerti kenapa Yoora meragukan keputusannya hanya karena sebuah peraturan yang ada.
Phoenix tidak bisa menikahi anggota Red.

"—lagipula, Ibu adalah Red dan ayah adalah Phoenix, mereka bisa menikah."

"Itu berbeda." Jenderal Kim yang menyahut lebih dulu.

"Aku ingin Baekhyun berada di Red, tapi aku yakinkan padamu lagi, ketika ingatanmu mengingat semua itu.. jangan memohon padaku untuk menikahinya!" Yoora lagi – lagi memberikan ultimatum.

"Aku. Tidak. Akan. Menikah. Dengannya." Chanyeol menjawab mantap, menekankan setiap kata yang ia ucapkan kepada Yoora, "Kalau pun aku menikah, pasti bukan dengan dia. Kami berbeda tiga tahun, dan dia bahkan masih terlihat seperti anak – anak!"

"Dia baru saja berusia 17 tahun." Kris mengingatkan usia Baekhyun.

"Nah, lihat." Chanyeol menunjuk kearah Kris. "Jangan khawatirkan aku memohon untuk menikah dengannya Lady, karena itu tidak akan mungkin. Sekali pun aku mengingat dirinya, aku tetap mengingat dia… ketika berada dalam satu ruangan bersama Ayah di hari kedua orang tua kita terbunuh." Chanyeol membalikkan badannya untuk melihat kearah luar jendela, sehingga Yoora tidak melihat bagaimana wajahnya memperlihatkan luapan emosi yang selama ini ditahan olehnya.

"Chanyeol.. bukan dia yang melakukannya."

"Aku tahu, hanya saja.. kalau dia bisa membawa diri dan—

"Dia memiliki Alter-Ego, Chan." Yoora mengingatkan lagi.

"Aku tahu." Chanyeol berbisik namun ia masih enggan untuk memandang kembali ketiga orang yang berada bersamanya.


Phoenix - Red


Phoenix telah resmi memiliki pemimpin baru, hari itu Chanyeol memberikan pernyataan resminya tepat dihadapan ratusan anggota Phoenix yang masih berniat bergabung dengan kelompok mafia itu, ia bahkan menjelaskan kini Phoenix akan mengalami perbedaan dalam menjalankan operasi karena mereka harus tetap berada dibawah naungan Red dan juga tidak memperkenalkan diri kepada dunia luar—dunia gelap mafia dan juga bisnis. Anggota Executive masih diisi oleh Ace dan juga Irene, dan anggota Officer tidak mengalami perubahan seperti sebelumnya.

Markas Phoenix kini berada di safety house, satu – satunya rumah peninggalan dari kedua orang tua mereka. Namun sebutan safety house terdengar tidak sesuai karena dilihat dari luas dan model bangunan yang dimiliki, sepertinya mendiang Tuan dan Nyonya Park sudah menyiapkan rumah itu sebagai markas baru bagi Phoenix dan juga Red. Meskipun terlihat sebagai rumah tua dari penampilan luarnya, rumah itu memiliki banyak ruangan kamar yang bisa menampung hingga ratusan orang, terdapat ruangan latihan bawah tanah dan juga ruangan persediaan senjata yang juga telah dilengkapi penuh mengisi satu ruangan. Ruangan makan yang mereka miliki bahkan hampir sama dengan ruangan makan yang berada di Markas Militer, tak hanya itu. Bahkan mereka disana terdapat ruangan operasi dan juga klinik kecil, bahkan ada laboratorium yang Chanyeol pikirkan aneh mengapa bisa disiapkan didalam rumah itu.
Yoora hendak membawa beberapa anggota Red untuk bergabung bersama di safety house tepat di hari dimana Baekhyun akan bergabung masuk dalam Red. Dan mengenai hal itu, masih ada persiapan yang perlu dilakukan oleh Yoora dan Chanyeol.

Mereka berdua duduk kembali dalam ruangan yang sama di hari menginterogasi Baekhyun mengenai Chanyeol, hari ini Baekhyun telah diperbolehkan untuk keluar dari ruangan inap dan Yoora bermaksud menjelaskan semuanya mengenai status anak itu yang terdaftar di Red.

"Menurutmu.. apa dia akan mengiyakan?" Yoora berbisik mendekat kearah Chanyeol, kedua tangannya terusap pelan menunjukkan kegelisahannya.

"Tergantung.. kalau kau menawarkan untuk membalaskan dendam terhadap Sunyoung, mungkin dia akan mengiyakan." Adiknya menjawab dengan nada santai, bahkan matanya terpejam seakan – akan ia tengah tertidur.

"Kau tahu, dirimu benar – benar mencerminkan seorang Phoenix. Acuh, dominan, dan juga tidak mengenal takut. Ditambah penampilanmu saat ini kau benar – benar sangat Phoenix." Yoora memperhatikan tampilan adiknyan dengan celana hitam ketat dan juga memakai jaket kulit berwarna hitam, namun rambutnya berwarna merah gelap yang ditutupi oleh topi hitam.
Dan Chanyeol hanya memberikan senyuman tipis untuk kakaknya.

"Lady, Nona Byun sudah berada disini." Suara Irene terdengar. Yoora bangkit berdiri dan melihat kearah pintu ruangan itu, Baekhyun ada disana, berdiri dengan masih mengenakkan pakaian rumah sakit, rambut hitamnya dikuncir rapi, wajahnya tidak lagi terlihat pucat menandakkan dirinya ketakutan.

"Kemarilah, aku ingin bicara kembali denganmu." Yoora memberikan tangannya untuk disambut Baekhyun, namun fokus gadis itu lebih dulu dicuri oleh kehadiran Chanyeol yang juga tengah memperhatikan dirinya dimana tengah melangkah mendekat menuju kursi kosong lainnya yang berhadapan dengan mereka berdua.

"Duduklah," Yoora mempersilahkan.

"Bagaimana keadaanmu hari ini?" pertanyaannya hanyalah sekedar basa – basi karena sebetulnya Yoora sudah tahu dengan jelas bahwa keadaan Baekhyun sudah membaik dibandingkan sebelumnya.

"A-aku baik, Dokter memperbolehkan aku pulang.." Baekhyun menjawab ragu, pandangan matanya terlihat mencuri pandang kearah Chanyeol yang masih duduk tenang dalam diam, pria itu bahkan kembali memejamkan matanya.

"Selamat untukmu.. aku turut senang mendengarnya, bukan begitu Four." Yoora menoleh pada Chanyeol namun tidak diperdulikan oleh adiknya. Helaan nafas terdengar pelan keluar dari mulut Yoora dan ia memilih untuk kembali fokus pada Baekhyun dihadapannya. "Aku ingin mengatakan sesuatu padamu," Yoora memulai. Ia menyerahkan dokumen keterangan milik Baekhyun yang ia terima dari Chanyeol beberapa hari yang lalu. "Aku meminta Red mencari keterangan dirimu—hanya untuk mencari tahu mengenai dirimu—bukan untuk menahan atau melakukan hal buruk padamu." Kalimat penjelasannya ia ucapkan dengan lebih cepat. "Dan disini tertulis bahwa Ibuku telah mendaftarkan dirimu untuk mengikuti program pelatihan Red tepat usiamu genap tujuh belas tahun.." Yoora terdiam sejenak dan membiarkan Baekhyun membaca apa yang ada dikertas itu.

"Aku tidak memaksa, namun kita berdua tahu, kau tidak mungkin kembali kerumah dimana Sunyoung berada—

"Aku tidak mau kembali kesana." Baekhyun menolak langsung. "Aku tidak mau betemu dengannya dan tinggal dalam rumah dimana ia berada. Jangan kembalikan aku padanya, Eonnie aku mohon—

"Kau tidak akan kembali kesana Baekhyun." Yoora menggenggam kedua tangan Baekhyun, "Semenjak Four menembakmu.." Yoora berhati – hati menjelaskan kembali kejadian di hari Chanyeol menembakkan peluru pada tubuh Baekhyun. "Sunyoung menganggapmu telah terbunuh, beberapa orang suruhan sudah melaporkan hal itu padanya dan sudah seharusnya kita tetap terus membuat mereka tidak mengetahui kebenarannya. Kau setuju?"

Baekhyun mengangguk, anak itu dengan cepat memahami apa yang Yoora sampaikan padanya.

"Dan.. di kertas yang kau tengah pegang saat ini, tertulis.. bahwa.. tepat ketika kau berusia tujuh belas tahun, kau terdaftar sebagai kandidat dalam program perekrutan anggota Red, seperti diriku." Yoora memperhatikan raut wajah Baekhyun yang menatapnya tanpa menunjukkan raut wajah apapun. Kosong. "Aku ingin kau bergabung bersama kami, berlatih bersama dan menyiapkan diri untuk melawan Sunyoung di kemudian hari—tolong katakan sesuatu, aku tidak tahu apa kau mengerti apa yang aku ucapkan."

Baekhyun mengedipkan matanya berulang kali masih mencoba mencerna apa yang dikatakan kepadanya sementara Yoora Nampak frustasi memberikan penjelasan pada anak itu.

"Apa Victoria Mama sungguh mendaftarkan aku?" Baekhyun menanyakkan dengan suaranya yang lembut dan sangat pelan.

"Be-betul.. disini tertulis beliau mendaftarkan dirimu tepat dimana Chanyeol pergi meninggalkanmu.. atau selang dua hari dimana kejadian Ibumu.." Yoora terdiam seketika tidak mau melanjutkan penjelasan yang akan mengingatkan Baekhyun pada kejadian dimana Ibu-nya terbunuh.

"Semua keputusan berada padamu Baekhyun, kalau kau ingin bergabung dengan Red, maka dengan senang hati aku akan menerimamu dan melatih dirimu untuk menjadi anggota Red. Kita akan tinggal bersama dengan anggota lainnya dan juga melindungi satu sama lain dari hal apapun. Kau tidak perlu takut mengenai Sunyoung karena Phoenix akan bersama – sama dengan kami dan tentu saja mereka bertugas melindungi kita semua."

Baekhyun menggigit bibirnya, pandangan matanya masih sekali – kali ia curi untuk melihat sekilas pada Four yang masih memejamkan matanya pada posisi duduknya.

"Jadi.. apa kau bersedia bergabung dengan Red?" Yoora menanyakkan kepastiannya.

"A-aku tidak memiliki pilihan lain bukan?" suaranya terdengar sangat jelas dengan nada sepenuhnya yakin untuk mengutarakan apa yang ingin Baekhyun ucapkan, Chanyeol bahkan mulai membuka matanya sedikit demi sedikit. "Aku tidak bisa tinggal sendiri di luar, tanpa ada uang sepersen pun, dan juga mungkin bila aku berjalan disepanjang jalanan Korea, Sunyoung akan menemukanku dan mungkin kembali menyiksa diriku, atau mungkin anak buahnya langsung membunuhku saat itu juga." Senyumannya menekuk kedalam. "Aku hanya ingin untuk terus hidup, aku tidak mau meninggal di tangannya.." suaranya mulai terdengar isakan tangis. "Aku memang tidak punya siapa – siapa lagi yang bisa menjagaku, tapi setidaknya aku ingin menikmati hidupku walau hanya sebentar.. dan mungkin Victoria Mama menginginkanku untuk bisa menjadi anggota Red agar aku bisa menikmati hidup walau hanya sesaat—" Yoora lebih dulu memeluk Baekhyun masuk dalam dekapannya hingga anak itu kembali terisak menanggis lebih kencang, meluapkan kesedihannya yang sempat ia tahan sekuat tenaga sebelumnya.

"Kau tidak sendirian.. kami semua akan menjagamu.."

.

.

Tepat ketika Baekhyun mengatakan ketersediannya bergabung dengan Red, saat itu juga Yoora meminta Chanyeol membawanya langsung menuju safety house diiringi oleh beberapa anggota Red lainnya. Baekhyun berada dalam mobil yang sama dengan Yoora dimana Chanyeol yang mengemudikan mobil tersebut. Sementara yang lainnya berada dalam bis berukuran sedang yang mengikuti dibelakangnya.

Perjalanan itu ditempuh hampir tiga jam lamanya dan tidak ada satupun dari mereka mengetahui letak pasti dimana mereka berada saat ini, kedua mata Baekhyun ditutup rapat oleh kain hingga ia tidak tahu perjalanan keberangkatannya sementara bis yang membawa anggota lainnya dilengkapi dengan kaca hitam dan tidak tembus pandang.

Yoora menuntun mereka masuk kedalam ruangan aula yang sudah dipenuhi oleh beberapa anggota Phoenix lainnya yang telah menunggu bermaksud untuk menyambut kedatangan Father dan juga Lady mereka.

"Mulai saat ini, kita akan tinggal bersama di rumah ini." Yoora langsung berucap ketika langkahnya terhenti berada diantara anggota Phoenix dan anggota Red. "Sementara Phoenix akan melakukan operasi bersama dengan para kelompok mafia lainnya, Red akan tetap mengawasi pergerakan mereka semua khususnya yang menyangkut dengan wanita bernama Sunyoung. Semua peralatan sudah disediakan di rumah ini, oleh karena itu kita harus bisa tinggal dan bekerja bersama didalam rumah ini dengan sebaik mungkin." Yoora berkeliling memperhatikan semua mata yang memandang kearahnya. "Peraturan yang berlaku saat ini adalah, Pertama. Dilarang berkelahi dengan sesama anggota. Meskipun kalian Red ataupun Phoenix, kalian dilarang keras untuk itu. Kedua, jika kalian diketahui menyebarkan informasi internal, kalian akan ditembak mati ditempat."

Seketika suasana semakin hening karena tidak ada lagi yang berbisik melontarkan candaan ataupun saling mengobrol.

"Kalian sudah tahu apa yang menimpa pada keluargaku dan untuk itu aku menuntuk loyalitas dan profesionalitas dari kalian untuk membalaskan apa yang mereka perbuat padaku, kalau kalian tidak sanggup, aku akan dengan senang hati membiarkan kalian kembali pada keluarga diluar sana tanpa mengurangi satu bagian dari tubuh yang masih dimiliki, tapi… jika kalian berkhianat dikemudian hari. Aku tidak bisa menjamin hal itu." Yoora masih memandangi satu per satu semuanya. "Aku masih memberikan kesempatan ini pada kalian untuk menyerah." Ia menunggu beberapa dari mereka yang hendak menyerah untuk kembali pulang menjalankan kehidupan normal layaknya manusia pada umumnya, bukan mengabdi pada dirinya dan melakukan hal kotor dengan membunuh manusia lainnya."

"Phoenix selamanya akan tetap menjadi Phoenix!" entah siapa yang mengutarakan kalimat itu diawalnya, kini seluruh anggota Phoenix ikut meneriakkan kalimat yang sama. Lain halnya dengan anggota Red, mereka berbaris dan menunduk pada Yoora seakan – akan memberikan hormat dan juga kepatuhan sepenuhnya pada sang Lady.

Yoora melihat semuanya dengan pandangan matanya yang tidak mempercayai dirinya sendiri berada disekeliling mereka semua, Chanyeol yang sebelumnya memperhatikan dari sudat ruangan, kini berjalan mendekat dimana Yoora berdiri dan itu mengundang seluruh anggota Phoenix lainnya terdiam seketika.

Chanyeol tidak melihat satu persatu para anggota yang ada disana, ia masih memusatkan semaunya pada Yoora yang telihat gugup dengan badannya bergemetar karena untuk pertama kalinya Yoora menjalankan salah satu tugas sebagai seorang Lady, berbicara dihadapan seluruh anggota.

"Kau terbaik, dan selalu menjadi yang terbaik. Wanita hebat yang aku kenal." Chanyeol berucap pelan pada Yoora, dan hanya Yoora yang bisa mendengar itu semua.

"Lady.." dan kali ini suaranya terdengar begitu keras, "Selamat datang, dan mari bekerja sama." Chanyeol memberikan tangannya untuk bisa dijabat oleh Yoora sebagai tanda formalitas dimana hari kerja sama diantara dua organisasi yang saling bertentangan kini bersatu.


FOUR


Ruangan kamar yang berada di safety house bisa dikatakan berjumlah lebih dari 20ruangan yang terbagi di tiga lantai didalam sana dan bisa dihuni hingga empat orang dalam satu ruangan. Yoora bahkan masih tidak percaya bahwa semua ini sudah disiapkan oleh kedua orang tua mereka entah sejak kapan.

Kris dan Minseok tengah mengantarkan Baekhyun dan juga Yoora untuk melihat dimana anak itu akan tinggali mulai saat ini, kamar yang berada di lantai 3 dan terletak di ujung sudut lantai.

"Ini kamarmu." Minseok menunjukkan. Tangannya mengetuk pintu dan kemudia memutar knop pintu tersebut. Mereka bersama – sama masuk kedalam dan disambut oleh Luhan, Kyungsoo dan juga Seulgi—anggota Red lainnya. "Seluruh anggota Red berada disatu lantai ini, hanya untuk memudahkan agar kalian saling mengenal dan aku rasa kau seharusnya berada dikamar dengan seseorang yang pernah kau temui."

"Beristirahatlah kalian semua, hari ini masih berjalan dengan normal. Dan Baekhyun, nikmati waktu santaimu karena mulai besok.. Minseok, Irene dan Kris akan mengajarkan banyak hal padamu." Yoora mengusap bahu Baekhyun dan pamit undur diri meninggalkan anak itu didalam kamarnya.

Mereka semua berlalu dan meninggalkan area lantai itu untuk kembali menuju ruangan pertemuan dimana sebetulnya adalah ruangan kerja yang mungkin dulu disiapkan sebagai tempat dimana mendiangan ayah mereka untuk bekerja.

Chanyeol, Kai dan Willis sudah berada disana lebih dulu sambal menikmati pesanan burger yang baru saja Chanyeol beli sebelumnya diperjalanan menuju safety house.

"Kalian masih belum selesai?!" Yoora berkomentar melihat Chanyeol yang baru saja memasukan gigitan besar terakhirnya. Mulut adiknya itu dipenuhi oleh bagian dari burger sementara dua orang lainnya hampir tersedak karena terkejut mendengar suara Yoora yang melengking tinggi.

"Ya, dimana bagianku?" Kris melewati Yoora dan mencari bagian makanannya pada kantungan belanja di meja depan Chanyeol.

Yoora menggeleng tidak percaya melihat apa yang dilakukan oleh keempat orang disana dan enggan untuk membicarakan topik permasalahan serius mengenai Sunyoung, Baekhyun dan rencana lainnya, ia berlalu meninggalkan ruangan itu diikuti oleh Minseok yang turut serta menemani Yoora menuju kamar tidurnya.

Chanyeol yang masih menikmati gigitan burgernya pun sama sekali tidak merasa bersalah, ia tetap menikmati apa yang tengah ia santap saat ini, begitu juga Kris yang bersenandung riang menyiapkan tangan dan mulutnya untuk melahap satu bungkus burger yang tengah menggoda dirinya untuk bisa disantap sesegera mungkin.

Mereka berempat menikmati waktu santai itu tanpa ada pembicaraan serius atau bahkan bahan obrolan sama sekali, hanya Kai dan Sehun yang berbagi suara karena dua orang itu tengah menikmati permainana dari ponselnya—hingga ketika Irene memasuki ruangan. Chanyeol tersenyum kecil kearah wanita itu.

"Mau melakukannya sekarang?"

Tidak ada satupun yang menjawab apa yang ditanyakkan oleh Irene, Kris menyelesaikan kunyahan di mulutnya dan membawa satu kaleng cola ditangannya, Chanyeol mengambil topi hitam miliknya dan ikut bangkit berdiri, dan kedua orang lainnya mengikuti para petinggi Phoenix keluar dari ruangan tanpa ada suara sedikitpun.

.

.

Rumah mewah yang berdiri kokoh dipuncak bukit itu Nampak terlihat sepi, lampu – lampu kamar yang menyala bahkan hanya terlihat diarea sebelah kanan pada bagian bangunan rumah, pekarangan rumahnya bahkan terlihat sepi penjagaan. Hanya terlihat beberapa orang berpakaian resmi berlalu lalang melakukan patroli penjagaan namun itu hanya terdapat di area depan pintu masuk selebihnya, keadaan sangat lengang.

Dan dibagian ruangan dimana lampu masih menyala terang, jelas terlihat seseorang masih berada disana, didalam ruangan kerja. Ditemani dengan tiga orang pria yang tengah menyampaikan pendapat atau mungkin keterangan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh seseorang yang tengah duduk pada kursi kerja dengan angkuhnya, seorang wanita. Sunyoung.

"…Park Yoora dikabarkan akan mengambil alih perusahaan Ayahnya, namun beredar kabar dia tidak akan meneruskan Phoenix. Beberapa pimpinan kelompok mafia dikabarkan akan meninggalkan Korea dan melanjutkan bisnis mereka di negara lain. Ada beberapa kabar mendengar bahwa Yoora memilih untuk bekerja sama dengan Militer untuk menyusut kematian kedua orangtuanya dan juga kematian adiknya."

Sunyoung tersenyum sinis. "Puteri Yunho ini memang sangat mengecewakan Ayahnya, sayang sekali. Ia bahkan menyerah sebelum aku memulai menyatakan perang padanya. Lanjutkan." Ia menunjuk pria tua kedua yang berada dihadapannya dengan jari telunjuknya.

"Yes, Nyonya, aku sudah memeriksa tempat dimana mereka membuang mayat nona Byun Baekhyun, baju yang dikenakan pada hari itu berada disana, namun wujud mayatnya sangat.." pria itu meringis menahan diri untuk mengungkapkan apa yang ingin ia katakan.

"Katakan." Sunyoung berucap tegas.

"Wujudnya sangat hancur." Pria itu menunduk, merasakan kepedihan untuk menceritakan ulang apa yang ia lihat kala memeriksa jejak dimana anggota Phoenix membuang mayat yang mereka kira adalah bagian tubuh dari Baekhyun. "Mereka menembaknya dibagian kepala dan juga bagian jantungnya, dan sepertinya mereka meninggalkan tubuh Nona Byun dan dibiarkan untuk dilindas dengan mobil bermuatan besar karena menurut otopsi yang dilakukan.. bagian tulangnya hancur." Pria itu memberikan lembaran foto dari hasil penemuan yang ia lakukan.

Sunyoung menerimanya dengan senang hati dan bahkan tertawa puas melihatnya.
"Seperti yang aku katakan, Phoenix adalah terbaik bila menyangkut penyiksaan dan pembalasan dendam.. sayang sekali mereka semua harus meninggalkan dunia jahat ini tanpa ada perlawanan yang sebenarnya." Ia meletakkan kembali lembaran foto itu dan menunjuk satu – satunya pria berusia muda disana.

"Dan, kau.. apa yang membawamu untuk berada disini? Kau terlihat cukup berani meminta ijin untuk bertemu denganku." Sunyoung memberikan senyuman pada pemuda itu. "Tuan?"

"Richard." Pria itu menjawab tegas. Dan membuka kaca mata yang ia kenakkan, Memperlihatkan wajahnya pada Sunyoung tanpa ada rasa takut didalam dirinya.

"Ah.." raut wajah Sunyoung menggambarkan keterpesonaan melihat bagaimana wajah pria itu terlihat jelas oleh kedua matanya. Muda, tampan dan menebarkan pesona.

"Kenapa suaranya terdengar terpesona melihat wajahmu?"

"Tuan – tuan.. bisa tinggalkan aku dengan Tuan Richard?" Sunyoung bangkit berdiri dan melangkah untuk berdiri didepan meja kerjanya. Kedua pria lainnya pamit undur diri dan meninggalkan Sunyoung dengan patuh tanpa ada rasa curiga sedikitpun akan apa yang mungkin saja terjadi didalam ruangan itu.

"Jadi, namamu Richard." Sunyoung mengeluarkan suara kekaguman yang jelas terdengar. "Apa yang membuatmu ingin menemuiku?" kini ia duduk diatas meja dengan kedua kakinya yang bersilang, memperlihatkan kaki jenjangnya dan juga bagian pahanya yang sedikit terlihat karena pakaian berwarna hitam yang ia kenakkan terlihat sangat ketat dan minim.

"Aku mendengar kau sedang membutuhkan beberapa tambahan untuk menjadi anak buahmu?" pria itu menjelaskan maksud kedatangannya.

"Bagus Four, tetap tenang dan buat dia lemah oleh pesonamu.. jangan gegabah. Ini harus berjalan sesuai apa yang kita rencanakan tadi."

"Anak buah?" Sunyoung berbalik menanyakkan padanya. "Apa yang kau dengar mengenai aku membutuhkan anak buah?"

"Kau membutuhkan seseorang untuk menjadi pengawal pribadimu." Ia menjawab lagi, suaranya lebih santai bahkan kini ia berani berdiri dengan kedua tangannya dimasukkan dalam kantung celananya.

Sunyoung menggigit bibirnya, pandangan matanya memperhatikan penampilan pria muda itu dan ada perasaan lain yang ia rasakan ketika semakin lama ia terhanyut dalam apa yang ia lihat. Wanita itu kembali berdiri dan mendekat kearah dimana Richard berdiri.

"Berapa usiamu?" Sunyoung menanyakkan sementara ia melangkah mengitari pria itu.

"Dua puluh dua."

"Kenapa kau tidak mengatakan dua puluh lima!"

"Ya, itu terlalu muda bodoh!"

"Kau masih sangat muda, Tuan Richard." Sunyoung tersenyum lagi, kini tangan wanita itu sudah berada di lengan Richard, bukan hanya menyentuh namun berusaha merasakan adanya bagian otot –otot kekar yang biasanya dimiliki oleh para pria muda berbadan atletis.

"Aku kira kau akan menyukai pria – pria muda berada disekitarmu, Nyonya." Richard menjawab.

"Yeah.. kau akan terlihat sebagai pemuas nafsu tante gila itu."

"Hm.. kau tahu apa yang aku sukai rupanya." Sunyoung berbisik tepat ditelinga Richard. "Sayangnya, aku tidak semudah itu memperkerjakan karyawan sebagai pengawalku disini Tuan Richard.. kau harus melalui berbagai test.. dan kalau kau berhasil.. barulah kau bisa menjadi salah satu pengawalku." Jari – jari jemari Sunyoung mulai bergerak menelusuri punngung dan juga bagian perut Richard dengan bebas, bahkan kini ia menggerakkan ujung kukunya memberikan gesekan halus pada leher pria muda itu.

"Aku harap ini tidak berujung pada salah satu ide kotor yang ada dikepalaku sekarang.."

"Ehhmm.. kenapa aku merasa semakin aneh mendengar ucapannya."

"Four.. kenapa dia bisa berada dihadapan wajahmu?!"

"Apa kau masih ingin tetap ingin menjadi pengawalku Tuan Richard?" Sunyoung bukan lagi berada dihadapannya, kedua tangan wanita itu melingkar dengan bebas di leher Richard, wajahnya bahkan sudah berada begitu dekat dengan wajah pria itu dengan kedua mulutnya yang semakin bergerak mendekat untuk menyesap bibir tebal pria muda dihadapannya.

"Test apa yang harus aku lakukan?" Richard membalas, membiarkan bibrinya semakin lebih dekat dengan bibir Sunyoung dan pada detik berikutnya bibir mereka saling bersentuhan, melumat dengan gerakkan cepat hingga kedua nafas mereka saling memburu.

"Fuck! Dia benar – benar mencium wanita itu!"

Sementara ditempat lain, Irene, Sehun, Jongin dan Kris yang sedari tadi memantau dan mendengarkan apa pembicaraan antara Chanyeol dan Sunyoung menjauhkan earphone mereka karena enggan untuk mendengarkan suara lumatan perpaduan kedua bibir dan lidah yang tengah saling mencumbu. Jongin masih memegang teropong jarak jauhnya untuk melihat sejauh apa Chanyeol mendekatkan diri dengan Sunyoung.

"O-ooh.. Chanyeol baru saja membalik badan wanita itu dan mencumbu lehernya!"

Irene bergedik muak, sementara Kris dan Sehun pada akhirnya mengambil teropong mereka dan melihat kearah pemandangan yang sama.

"Aku hanya berharap Yoora tahu apa yang adiknya lakukan saat ini." Irene mengucapkan permohonan dan tetap acuh tidak memperdulikan keadaan pria lainnya yang tengah menikmati tontonan vulgar secara langsung.