Ha-halo… masih ada yang kenal aku? Duh, aku bener-bener minta maaf loh undah nelantarin ini berapa tahun ditambah sama laptop yang rusak :") aku niat buat tamatin ini cerita, jadi mungkin bakal regular ini cerita. JANJI BENERAN! AKU BAKAL KELARIN INI CERITA BARU BIKIN CERITA LAIN. Okeh udah langsung aja lah yah.
Chapter 3
Malam itu, Boboiboy tidak bisa tidur dan memutuskan pergi ke dapur untuk membuat susu. Ia berjalan perlahan menuruni tangga supaya tidak membangunkan Ochobot dan Atoknya. Sesampainya ia di dapur, ia langsung menyalakan kompor dan menyiapkan gelasnya. Disela itu, Ia teringat dengan kejadian sepulang sekolah. Sebenarnya dia juga menyesal karena langsung menyalahkan Fang tanpa tahu kejadian sebenarnya. Fang juga mengatakan ia akan keluar dari sekolah.
'Aku tidak seharusnya mendorong Fang terlalu kasar tadi. Anak-anak yang lain juga sama salahnya. Tapi, Fang benar mau keluar dari sekolah?'
"Air mendidih sampai sesedikit ini, tak kau matikan pula kompornya."
Mendengar itu, Boboiboy mengangkat kepalanya dan melihat Tok Aba sudah ada disampingnya.
"Atok?"
"Duduk sana. Biar Atok yang buatkan." Ucap Atok sambil mengambil gelas yang dipegang Boboiboy.
Menurut, Boboiboy kemudian duduk di meja makan sembari menunggu Atoknya. Pikirannya kembali ke kejadian di sekolah dan rasa bersalah yang kembali datang.
'Mungkin besok aku harus minta maaf. Tapi, bagaimana kalau Fang benar-benar keluar sekolah? Tidak, tidak, Fang mungkin kelepasan saat itu jadi dia berbicara seperti itu. Tapi bisa saja dia benar keluar 'kan? Akhhh aku pusing!' batinnya sambil meengacak rambutnya frustasi.
Tok Aba yang sedari tadi sudah selesai dan melihat cucunya seperti itu hanya menantap heran sambil meletakan susu hangat didepan Boboiboy dan duduk disampingnya. Atok tahu cucunya yang satu itu sedang ada masalah. Jarang melihat cucunya seperti ini, Atok pun bertanya.
"Boboiboy."
"Wha-Atok, sejak kapan-" terkejut, Boboiboy menoleh kearah Atoknya kemudian pada susu yang ada didepannya dan kembali lagi ke Atoknya.
"Sejak tadi. Ada apa kau ni? Jarang Atok lihat kau seperti ini."
"Ta-tak apa, Tok." Ucap Boboiboy sambil menggelengkan kepala.
"Masalah misi kah?" tanya Atok kemudian meminum minumannya.
Boboiboy menggelengkan kepala.
"Sekolah?"
Boboiboy hanya menatap gelasnya.
"Teman?"
Boboiboy menghela napas.
"Fang?"
Boboiboy hanya mengangguk kemudian meminum minumannya.
Atok langsung mengerti kurang lebih apa masalahnya. Atok tentu tahu Fang. Bisa dibilang, Fang sudah dianggap cucu sendiri olehnya. Atok juga tahu sedikit banyak kesulitan Fang hidup di Bumi. Kadang, saat jam kedai tutup atau jam sepi pengunjung, Fang akan datang untuk mengobrol dengannya. Atok ingat ada satu hari Fang bercerita sampai hampir menangis karena sikap beberapa warga sekitar padanya. Atok hanya bisa memeluknya dan mengatakan kata-kata penyemangat untuknya. Saat waktunya pulang, Atok selalu memberinya coklat panas yang kemudian dibalas senyum dari pemuda itu.
"Ada kejadian apa di sekolah?" tanya Tok Aba.
Boboiboy menghela napas, bingung menjawab Atoknya.
"Ceritalah dari awal."
Mengambil napas dalam, Boboiboy menceritakan kejadian itu. Mulai dari melihat Fang berteriak kepada salah satu teman perempuan sekelasnya karena dia menjelek-jelekan keluarga Fang, Boboiboy mendorong kasar Fang dan menyalahkannya, Fang yang mengatakan kalau dia dianggap kriminal hanya karena dia alien, teman-teman sekelasnya yang memperkeruh suasana sampai Fang yang mengatakan kalau dia akan keluar dari sekolah.
"Fang hampir menangis, Tok. Aku awalnya berniat untuk minta maaf tapi dia sudah lari."
Mendengar itu, Tok Aba menghela napas sambil menggelengkan kepala.
"Kau tau kenapa?"
"Itulah, Tok. Saat aku tanya, mereka mengira Fang mencuri uang kas. Aku tanya ke bendahara, uang itu ternyata masih utuh di tasnya. Lalu aku tanya dua orang yang menuduh Fang, mereka bilang hanya bercanda. Tapi tok, bercanda juga ada batasnya. Aku bilang besok mereka harus meminta maaf, tapi mereka bilang ini juga bukan pertama kalinya mereka begini." Ujar Boboiboy sambil menahan emosi kemudian minum untuk meredakan emosinya.
Atok hanya diam mendengar sambil sesekali meneguk minumannya. Anak muda zaman sekarang... Entah apa yang ada dipikiran mereka.
"Pantaslah Fang ingin keluar dari sekolah."
Boboiboy mengangguk, "Aku juga salah, Tok. Seharusnya aku bertanya dulu sebelum menuduhnya seperti itu."
"Kau harus minta maaf Boboiboy."
"Fang saja tidak mau dekat-dekat denganku Tok." Ucap Boboiboy kemudian menghabiskan minumannya.
"Atok serius Boboiboy, kalau kau merasa bersalah sudah seharusnya kau minta maaf. Apa kau mau sama seperti dua orang yang menuduh Fang?"
Boboiboy terdiam memandang gelasnya yang kosong kemudian mengangguk.
Melihat itu Atok hanya tertawa pelan dan menepuk pelan kepala cucunya itu.
"haha, kalian dan masa muda kalian. Dah, tidurlah, besok sekolah. Gelasnya biar Atok yang cuci."
"Aku saja, Tok."
"Dah, dah, Atok yang cuci. Kau tidur sana. Cepat, cepat."
Atok kemudian mengambil gelas dari tangan Boboiboy dan mencucinya. Boboiboy hanya tersenyum, mengucapkan selamat malam kepada Atoknya dan kembali ke kamarnya.
'Besok. Besok aku akan minta maaf.'
Keesokan harinya, Boboiboy datang ke sekolah lebih pagi. Ia tahu Fang selalu datang lebih pagi untuk menghindar dari kerumunan siswa lain. Melihat kelas masih kosong, Boboiboy memutuskan untuk menunggu Fang sambil membaca bukunya. Tak lama kemudian Gopal masuk ke kelas sambil berjalan gontai dan duduk di kursinya sambil mengunyah roti yang dibawanya. Boboiboy menatap heran sahabatnya yang satu itu karena biasanya dia terlambat.
"Gopal, tumben kau datang awal."
"Hah... Aku terpaksa la. Mak ku ancam tak masak kari lagi kalau aku dipanggil ke BK lagi."
"Haha, betul lah itu. Sudah berapa kali bolak-balik BK heh?"
"Ish, kau ni Boboiboy."
Boboiboy hanya tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya.
"Kau pula, kenapa?" Tanya Gopal.
Boboiboy terdiam sejenak sebelum menjawab, "Aku ingin minta maaf pada Fang."
"Kenapa?"
"Ah, ada lah... kau makan saja roti mu."
"Cih, pelit."
Gopal kembali memakan rotinya dan Boboiboy kembali membaca bukunya. Lama menunggu, Fang masih belum datang. Kelas makin lama makin ramai, murid-murid lain mulai berdatangan, tapi masih belum ada tanda-tanda dari Fang. Sampai bel jam masuk berbunyi dan guru masuk kelas, Fang pun masih belum datang.
'apa benar Fang keluar sekolah?'
"Selamat pagi, anak-anak. Sebelum kita mulai pelajarannya, Bapak ingin menyampaikan kalau Fang sudah tidak lagi bersekolah disini. Keluarganya juga mengirim surat permintaan maaf karena Fang tidak bisa hadir untuk perpisahan."
Kabar dari pak guru diikuti bisikan dari teman sekelasnya.
"Dia beneran keluar sekolah..."
"Bagus dia keluar sekolah, gak ada yang ganggu lagi."
"Kayak gitu aja dibawa perasaan. Lemah."
Mendengar hal itu Boboiboy menahan emosinya. Bagaimana bisa mereka berbicara seperti itu?
Melihat ekspresi Boboiboy, Gopal kemudian bertanya, "Dey, Boboiboy. Kau tau tak kenapa?"
Boboiboy hanya terdiam sambil mengeratkan kepalan tangannya.
"Sudah, sudah. Kembali ke pelajaran. Sekarang buka halaman 55."
Boboiboy tidak membuka bukunya. Pikirannya sudah pergi ke kemana Fang pergi.
Jam istirahat datang, Gopal langsung menarik Boboiboy ke kantin dan bertemu Yaya dan Ying. Boboiboy tidak ada niat untuk makan, masih terlalu marah kerena ucapan teman sekelasnya tadi jadi ia langsung jalan kearah meja tempat Ia dan yang lain makan. Gopal, Ying dan Yaya yang melihat sahabat mereka bersikap seperti itu hanya menatap heran.
"Boboiboy kenapa tu?" Tanya Ying.
"Gopal, kau pasti tau kenapa Boboiboy begitu. Ceritalah." Ucap Yaya.
"Tak tau. Semenjak guru bilang kalau Fang keluar dari sekolah Boboiboy seperti itu." Jelas Gopal kemudian memesan makanannya.
Ying membayar makanannya sebelum bertanya kembali, "Fang keluar? Kenapa?"
"Aku tak tau lah. Tanyalah Boboiboy."
Setelah membayar makanan mereka, mereka langsung pergi ke tempat Boboiboy berada. Masih bingung dengan tingkah Boboiboy kemudian Gopal bertanya.
"Ey, Boboiboy, gak makan kah?"
"Gak ada niat."
Mendengar itu, Gopal makin heran.
"Kenapa la kau Boboiboy? Ada hubungannya sama Fang kah?"
Boboiboy terdiam.
"Boboiboy, ceritalah. Barangkali kami bisa bantu." Tawar Yaya.
"Iyalah, Boboiboy. Ceritalah."
Boboiboy melihat teman-temannya kemudian menghela napas sementara Gopal, Yaya dan Ying menunggu Boboiboy bercerita.
"Hahh... Begini ceritanya." Boboiboy pun mulai bercerita.
Disisi lain, Kaizo dan Fang sedang duduk di sofa menonton siaran televisi sambil memakan makan siang mereka. Mereka baru saja selesai berkemas barang-barang Fang. Barang-barangnya tidak banyak. Hanya beberapa baju dan mungkin sedikit buku dan novel. Kaizo sebenarnya tidak yakin dengan keputusannya menyanggupi permintaan Fang untuk keluar dari sekolah dan ikut bersamanya. Ia merasa Fang lebih aman di Bumi daripada ikut bersamanya. Setelah mendengar isak tangis dan cerita adiknya, dia juga merasa bersalah. Mungkin saja kalau saat itu dia tidak beralih menjadi pemberontak, adiknya tidak perlu menanggung reputasi jeleknya. Sudah cukup susah hidup di Bumi karena mereka bukan berasal darisana. Ditambah dengan reputasinya yang kini sedang Ia usahakan untuk bersih, hal itu semakin sulit. Kaizo mengerti apa yang dirasakan oleh adiknya itu.
"Abang?"
Tersadar dari lamunannya, Kaizo menoleh kearah adiknya, "Hm?"
"Abang gak apa-apa?"
Sambil mendengus pelan, Kaizo tersenyum dan mengelus kepala adiknya. "Abang gak apa-apa. Kamu sendiri? "
Melihat adiknya hanya terdiam, Kaizo kemudian memeluk adiknya.
"Abang minta maaf, Fang."
Dari pelukannya, Kaizo bisa merasakan anggukan pelan dari adiknya.
"Tidurlah sebentar, Fang. Nanti kalau sudah waktunya abang bangunkan. Kita akan pergi dari bumi."
Tak lama kemudian terdengar dengkuran pelan dari Fang.
Review kalian sangat ditunggu :D
