"Seperti apa yang dikatakan Zitao, Sunyoung juga kembali ke Korea. Pesawatnya bahkan baru saja mendarat di Incheon."

"Bagus, sesuai apa yang kita rencanakan sebelumnya." Suara Chanyeol ikut bergabung setelah sedari tadi mendengarkan laporan informasi yang didapat dari TY dan juga Ten melalui jaringan telekomunikasi yang mereka miliki. "Pastikan Zitao sudah pergi dari Istana sebelum aku meratakan bangunan rumahnya—

"Tunggu—tunggu—apa maksudnya meratakan—"

"Kau harus menunggu petunjuk dariku Boss." Ucapan Irene yang mempertanyakkan apa yang Chanyeol katakan harus terputus oleh sahutan Zitao.

"Hellooo? Aku tengah berbicara disini, aku menanyakkan apa maksudnya Park Chanyeol?!" Irene mengeraskan suaranya, bahkan menyebutkan nama lengkap Chanyeol disana seakan – akan ia adalah Boss-nya saat ini.

"Kau terdengar sangat menggoda disaat marah.." tapi jawaban yang ia dapat bukanlah penjelasan mengenai pertanyaan melainkan godaan kearahnya.

"Katakan lagi dan aku pastikan gadismu akan disiksa dilatihan besok pagi." Irene mengancam dan jelas disana suara Chanyeol berdeham dan berdecak kesal mendengarnya. "Apa maksudnya dengan meratakan rumahnya?" Irene mengulang pertanyaannya.

"Kami bermaksud memberikan serangan udara dan juga hadiah kecil untuk Sunyoung... sebuah peringatan." Singkat penjelasan Chanyeol dicoba dipahami dengan baik oleh Irene.

"O-okey.." Irene bangkit berdiri dari posisi duduk yang mana sedari tadi ia lakukan, tangannya berlipat didepan dada, melangkah bolak balik dihadapan layar yang mana tengah memperlihatkan susunan kode –kode kata yang diketikkan TY untuk program yang sedang berusaha ia coba untuk sadap, sementara layar disampingnya tengah memperlihatkan tampilan layar CCTV milik kediaman Sunyoung yang berhasil diretas oleh Phoenix.

"Lalu? Kau tidak mau menjelaskan hadiah apa yang ingin kau berikan?" Irene melanjutkan lagi karena Chanyeol tidak lagi bersuara memberikan penjelasan lainnya.

"Um.. ini kejutan. Kau tunggu saja." Chanyeol terkekeh disana, bahkan suara anggota lainnya bisa Irene dengar tengah ikut tertawa menyusul suara Chanyeol disana.

"Hmm." Irene menyahut singkat. "Ingat kata – kataku, begitu kalian kembali.. hukuman akan aku berikan kepada siapapun yang ikut dalam misi ini. Tanpa terkecuali." Irene menekankan kalimatnya dan semuanya kembali terdiam tidak berani memberikan bantahan.

"I love you." Chanyeol berucap disana dan tawa anggota Phoenix kembali pecah terdengar termasuk beberapa anggota yang berada di markas mereka, TY, Ten, Jisung dan juga anggota lainnya yang mana bertugas dalam divisi InCom.

Kali ini Irene tidak lagi menyahuti dan memberikan komentarnya terhadap ucapan Chanyeol, mengingat suasana di dalam helicopter itu tengah beralih untuk memfokuskan pendaratan di Bandara Gimpo menyusul Yoora dan Kris serta beberapa anggota lainnya yang lebih dulu tiba disana.

"TY, bersiaplah untuk menyadap radar mereka." Yuta yang mana tengah bertugas mengemudikan helicopter bersuara menunjukkan dirinya menunggu TY selesai menyadap radar dan juga fungsi komunikasi pada stasiun pengamat bandara sehingga helicopter mereka bisa mendarat di bandara tersebut tanpa harus meminta ijin, atau lebih tepatnya tanpa diketahui oleh siapapun.

TY tidak menjawab seketika, tangannya masih disibukkan dengan berbagai kode yang mana tidak dimengerti oleh orang lain selain dirinya sendiri, Irene bahkan jengah menatap rentetan kode dilayar itu dan beralih menatap wajah – wajah anggota yang lainnya yang mana nyatanya ikut menunggu hasil perkerjaan TY.

"Done. Aku memberikanmu waktu sepuluh menit untuk mendarat sekarang." TY menekan salah satu tombol pada keyboardnya dengan begitu semangat,

"Okey! Sepuluh menit lebih dari cukup baby~" Yuta bersenandnung disana. "Bersiaplah Boss! Kita akan mendarat dengan sangat mulus!" Yuta berbicara seorang diri dan yang lainnya hanya bisa mendengarkan dan juga menyimak mengenai proses pendaratan helicopter mereka.

"Nice... lahan kita bahkan kosong dan tidak terjaga"

"Okey.. ketinggian 5000 kaki dan masih dalam batas aman... 2000 kaki... 1500 kaki... 1000 kaki... Semuanya bersiaplah turun dan melesak masuk pada base selanjutnya.."

"Waktumu 5 menit lagi." TY mengingatkan mengenai keterbatasan waktu.

"500 kaki.."

"Setelah mereka turun kau harus kembali terbang sebelum lampu sorot menangkap helicoptermu." TY menjelaskan, tangannya kembali disibukkan dengan code – code lainya.

"Aku sudah menahan CCTV dibandara, Yuta, kau sudah pergi?" Ten ikut membantu mengalihkan semua pengamatan penjagaan dari layar CCTV Bandara demi mengamankan pengawasan bandara dari aktifitas yang tengah dilakukan anggota Phoenix disana.

Irene masih memperhatikan layar namun pendengarannya mencoba mendengarkan satu per satu suara yang masuk pada komunikasi mereka, suara deru mesin helicopter masih terdengar dan juga suara derap langkah kaki yang bergerak berlari cepat, ia ingin menyimpulkan bahwa Four dan beberapa timnya sudah berhasil masuk kedalam bandara Gimpo dengan illegal, namun sebelum ada jawaban dari mereka semua ia masih menahan diri dan tentunya merasa gugup mengenai bagaimana hasilnya.

"Wohooooooooo~ aku sudah berada diudara!" suara memekik dari Yuta terdengar lebih dulu dan itu melegakan mereka semua.

"Four? Laporkan posisimu!" kini Irene mengingatkan Chanyeol dimana pria itu belum juga memberitahukan posisinya sampai detik dimana Yuta memekik kegirangan.

Hanya ada suara – suara bunyi sambungan dari alat komunikasi disana yang mana tidak diketahui milik siapa.

"Kami sudah didalam dan tengah menjemput Lady." Willis yang merespon lebih dulu. "Boss tengah menemui Lady." Ia menginformasikan hal lainnya dan kabar itu sedikit memberikan ketenangan semua orang yang berada di markas.

"Kenapa kau tidak menyebutkan sedari tadi!" suara Irene terdengar sedikit meninggi dengan helaan diakhirnya.

"Kenapa? Mengkhawatirkanku?" kali ini suara Chanyeol terdengar.

"Bajingan."Irene menyahut dan kembali terdengar suara gelak tawa dari lainnya. "Hukuman kalian bertambah, ingat itu."

"Four yang akan menanggung semuanya!" Jongin menyahut.

"Yeah.. Boss yang memberikan perintah ini maka dia yang akan menanggung semua hukumannya." Suara Mark tiba –tiba bergabung memberikan pembelaan demi menghindari hukuman yang akan Irene berikan.

"Sekali lagi ada yang menyahut aku pastikan hukuman untuk kalian bertambah dariku."

Irene menggelengkan kepala mendengar Chanyeol yang membalas sahutan – sahutan dari anak buahnya. "Dimana posisi kalian?" ia menanyakkan mengingat mereka belum juga bertemu dengan Lady.

"Menunggu Lady tengah merapikan dandanannya."

"Hai Ace! Apa kabar?" Irene menyapa.

"Cih! Kau menanyakkan kabarku atau kabar hatiku?" meskipun diawal ia terdengar jijik mendengar sapaan dari Irene namun pada kalimat berikutnya ia ikut menggoda satu – satunya perempuan dengan posisi tertinggi di Phoenix itu, dan tentunya gelak tawa dari beberapa anggota Phoenix terdengar lagi.

"Sebenarnya Irene itu milik siapa? Ace atau Four?" Jongin dengan tanpa rasa bersalah dan takutnya menanyakkan mengenai kepemilikan wanita itu.

"Heeeyy! Kalian kira aku barang yang bisa dibagi – bagi?! Four sudah memiliki mainannya, aku tidak mau dengan dia, terlebih ia sudah pernah meniduri jalang lain." Irene menertawakan dan yang lainnya ikut tertawa dan juga menggoda Chanyeol sekarang.

"Four.. jangan lupa es krim untuk Little Bee-mu." Willis mengingatkan permohonan Baekhyun yang mana ia dengar dengan jelas sebelumnya.

"BAHAHAAHAHHAHAHHA!" Tawa seluruh anggota Phoenix terdengar pecah disana bukan hanya mereka yang berada dilapangan maupun markas, Zitao dan Yuta dan juga sebagian anggota Black Team dan juga Delta Team yang tengah bersiaga disekitar lokasi yang akan diserang bersamaan oleh mereka nantinya.

"Sekali lagi kalian tertawa aku akan meledakkan tempat dimana kalian berada sekarang." Chanyeol menyahut dan memperingati dengan dingin menunjukkan dirinya tengah tidak ingin diajak bercanda saat ini.

"Kau meledakkan Safety House maka Little Bee-mu akan ikut meledak bodoh." Irene menjelaskan kesimpulan dari ucapan Chanyeol dan lagi – lagi anggota Phoenix tertawa dibuatnya.

"Biasanya orang yang tengah jatuh cinta memang akan menjadi bodoh." Kris menyimpulkan lagi,

"Diamlah! Kita harus bergerak." Chanyeol menyudahi, mengingatkan mereka semua bahwa ada misi lain yang harus dijalankan. "Lady akan dibawa bersama Ace, dan Willis—Yuta, dimana posisimu?" Chanyeol menjelaskan cepat dan memanggil anggota lainnya.

"Aku sudah dekat dengan lokasi."

"Bagus, Zitao kau dengar aku?"

"Clear Boss."

"Bagus, bersiaplah menjauh dari sana dan menuju lokasi penjemputan Yuta. Ace, sesuai yang aku jelaskan tadi didalam, pastikan kalian bergerak cepat dan tidak terlihat sama sekali."

"Lady dan yang lainnya akan bergerak dengan apa?" Irene menanyakkan mengingat ia belum paham bagaimana memindahkan Lady dan team lainnya untuk keluar dari Bandara.

"Limosin sudah tersedia disini."

"Wow. Baguslah." Irene nampak terkejut dengan informasi yang didapat.

"Bersiaplah." Chanyeol mengingatkan yang lainnya dan yang lain membalas siap pada posisi masing – masing, Irene yang tidak tahu apa – apa hanya bisa mendengarkan dan menunggu pergerakkan apa yang akan dilakukan oleh tim nya. Irene bahkan tidak mengerti melihat beberapa anggota InCom disekitarnya tengah disibukkan akan pekerjaan apa, ia hanya bisa melihat kedua tangan mereka tengah sibuk beradu dengan keyboard dan mata mereka tertuju pasti pada pandangan layar dihadapannya.


FOUR


"Berita terkini, kami baru saja mendapatkan informasi bahwa pesawat milik Park Inc dikabarkan hilang dalam pengamatan radar tak lama ketika pesawat itu lepas landas dari Bandara Narita, Jepang. Pihak berwenang belum bisa menginformasikan dengan pasti mengenai berita ini, Pihak bandara dan juga tim terkait masih mengupayakan pencarian pada posisi terakhir dimana terkakhir kali adanya komunikasi dengan peawat milik Park Inc."

"...Perwakilan Perusahaan membenarkan bahwa Park Yoora selaku pemilik Perusahaan tengah berada didalam pesawat itu."

"Petugasa Radar mengatakan komunikasi terakhir yang mereka lakukan dengan pilot yang membawa Pesawat Park Inc berada pada jarak 250km setelah lepas landas dari Bandara Narita."

"Hingga saat ini, Pihak Perwakilan masih menunggu berita lebih jelas mengenai keberadaan Puteri Mendiang Tuan Park, Pemilik Perushaan Park Inc saat ini. Namun bisa terlihat pada Gedung Park Inc mala mini sudah didatangi beberapa petinggi yang mana kita ketahui adalah beberapa nama salah satu pemilik saham pada perusahaan yang sudah berdiri sejak 75 tahun yang lalu.."

Sunyoung tersenyum melihat berbagai channel berita mulai nampak ramai memberitakan kabar mengenai hilangnya komunikasi dengan pesawat yang membawa Park Yoora, puteri sulung dan satu – satunya keturunan dari Park yang tersisa. Menurutnya.

"Hm, sekeras apapun kalian mencari tidak akan menemukan jasadnya." Celetuknya menjawab beberapa spekulasi pada berita yang tengah menduga – guda mengenai keberadaan pesawat itu. Beberapa tayangan berita mengatakan bisa saja pesawat mengalami masalah dan kini tengah putar arah menuju Bandara Narita atau melakukan pendaratan darurat pada pulau – pulau terdekat di sekitar negara Jepang.

Sunyoung kembali tertawa kecil, sebelah tangan kirinya yang tengah memegang segelas wine ia gerakkan untuk memutar cairan merah dalam gelas itu sebelum ia sesap. "Hmm.. semuanya berjalan dengan lancar." Ia memuji seorang diri, dua orang pria yang tengah berada didalam mobil bersama dirinya pun tidak berani untuk berkomentar mendengar celotehannya.

"Nyonya, mereka mengundang Anda untuk ikut hadir dalam rapat mendadak ini mengingat nama mendiang Tuan Byun terdaftar sebagai pemilik salah satu saham di Park Inc."

"Hm." Sunyoung menjawab singkat, masih menikmati sesapan minum untuk kedua kalinya. "Antarkan aku kesana." Ia memberikan perintah dan salah satu dari pria itu mengangguk patuh sebelum pada akhirnya memberikan anggukan pada sang pemegang kemudi mobil agar mengarahkan mobil mereka menuju tempat dimana rapat itu dilaksanakan.


CHANYEOL


"Mobil mereka sudah bergerak menuju lokasi Boss!" suara dari Haechan yang mana termasuk didalam Delta Team memberikan informasi mengenai pengamatannya yang dilakukan diatas atap sebuah gedung. Delta Team memang sejak awal digerakkan untuk mengamati pergerakan dari Sunyoung dimulai dari Bandara Incheon hingga menuju kearah Gedung dimana Byun Corp berada dan pada akhirnya adalah kediaman Sunyoung.

"Bagus, sekarang kalian berpindah menuju lokasi selanjutnya." Chanyeol memberikan perintah lain, "Black Team.. bergerak menuju kediamannya. Delta, kita bertemu disana." seusai Chanyeol memberikan perintah, ia memberikan isyarat pada Kris untuk bisa membawa mobil Limosine itu yang mana Yoora sudah duduk manis didalamnya.

"Kembali tepat waktu Chanyeol!" Yoora menyempati berteriak dari balik jendela yang sengaja ia buka lebar.

Chanyeol mengangguk, memberikan ibu jarinya sebagai tanda ia mendengar apa yang Yoora katakan padanya, ia bergerak kearah dimana motor hitam besar sudah terparkir disana—Miliknya. Beberapa anak buah Phoenix yang masih berada disana juga ikut bersiap masuk kedalam mobil jeep berwarna hitam disana dan yang lainnya terpisah menuju empat motor besay yang berada disana.

Kris sempat membunyinya klackson sebelum mobil yang ia kendarai melaju perlahan – lahan meninggalkan area parkir pesawat, dan tak lama Chanyeol bersiap menunggangi motor hitam miliknya, tangannya memberikan isyarat pada yang lainnya untuk bersiap melaju meninggalkan area itu.

.

.

Sunyoung dengan angkuhnya melangkah masuk menyusuri setiap lantai hanya untuk menuju pada ruangan dimana sudah ditetapkan sebagai tempat pertemuan bagi para pemegang saham dari Park Inc, dua orang pengawal pribadinya mengikuti di belakangnya. Sementara yang lain berjaga di area parkiran tempat itu.

Tidak ada hal lain yang ia pikirkan selain menunggu keputusan para pemegang saham untuk memberikan kuasa kepadanya menggantikan Yoora untuk menjabat sebagai President Director Park Inc, dan semakin ia memikirkan hal itu, semakin senyuman bahagia terlihat jelas diwajahnya hingga akhirnya ia kembali merubah raut wajahnya untuk menatap dingin kepada dua orang pria yang berjaga didepan pintu ruangan yang akan ia masuki.

Salah satu pengawal Sunyoung menyusul langkah Sunyoung dan kini berada dihadapan wanita itu untuk membatasi jarak diantara Bos-nya dan juga orang bawahan yang tengah berjaga disana.

"Dua pengawal Anda harus menunggu diluar, Nyonya." Salah satu yang tengah berjaga memberi tahu, wajahnya menunduk untuk memberikan kesan hormat kepada Sunyoung mengingat dia adalah seorang petinggi, memiliki status sebagai janda dari nama marga Byun membuat dirinya haruslah dihormati dan ditakuti.

"Salah satu dari mereka harus ikut denganku." Dingin dan tegas suaranya menjawab.

"Ta-tapi Nyonya—"

"Aku bisa memerintahkan salah satu dari mereka untuk membunuh kalian berdua saat ini.. perlu dibuktikan?"

Kedua penjaga itu seketika terdiam, mereka saling melempar pandang satu sama lain mencari jawaban dan siapa yang lebih dulu berani menjawab bantahan dari Nyonya besar dihadapan mereka.

"Tenanglah Nyonya Byun.." pemiliki suara lainnya bergabung dalam pembicaraan antara Sunyong dan kedua orang penjaga yang mana mendinginkan suasana tegang sebelumnya. "Ini hanyalah sebuah rapat darurat.. bukan sebuah perang antara mafia."

Badan wanita itu berbalik untuk melihat sosok pemilik suara yang sudah menyela perbincangannya. "Jenderal Kim." Dengan suara manisnya ia menyapa sosok yang tengah berdiri tegap dan gagah dengan balutan seragam Militer yang disertai atribut lengkap.

"Nyonya Byun." Sang Jenderal kembali menyapa dengan lebih ramah, langkahnya mendekat kearah Sunyoung.

"Aku seharusnya tidak perlu kaget dengan kehadiranmu disini bukan?" Sunyoung melempar pertanyaan kembali dan Jenderal Kim disana dengan cepat menggelengkan kepala.

"Aku diundang untuk memberikan gambaran apa yang mungkin terjadi oleh Nona Muda Park saat ini.. peristiwa seperti ini sudah jarang terjadi.. dan kau tentu masih ingat bahwa Yoora adalah keponakanku. Aku tentu harus datang dan bergabung dengan para pemilik pundi – pundi uang yang tergabung dalam Park Inc." Jenderal Kim menjabarkan jawabannya dengan begitu tenang dan wibawa menunjukkan bahwa ia berada dalam kelas yang berbeda dengan Sunyoung.

"Um, aku tidak mungkin lupa. Kau adalah adik Victoria, dan Yoora adalah satu – satunya keponakanmu yang tersisa." Sinis ejekkan jawaban yang diberikan oleh Sunyoung hanya dibalas senyum oleh Jenderal Kim sebelum ia menawarkan tangannya sebaga tempat sandaran bagi Sunyoung yang akan ia tuntun untuk masuk kedalam ruangan meeting dihadapannya.

"Jadi.. bisakah kau gambarkan apa yang terjadi oleh keponakanmu itu? Mungkinkah dia sudah tewas saat ini sementara kau yang masih berstatus pamanya tengah duduk bersama dengan seorang janda membahas status kepemilikan perusahaan.." Sunyoung membuka pembicaraan yang mana sengaja ia gunakkan untuk memancing emosi dari sang Jenderal.

"Atau mungkin ia bisa jadi kabur.. aku sudah cukup sering mendengar gossip – gossip yang beredar mengenai keponakanmu itu. Yunho bahkan pernah bercerita kepadaku Yoora pernah kabur dari London dan berlibur bersama para pacarnya di Malibu. Itu bukan sikap anak perempuan yang baik menurutku." Sunyoung merubah sikap duduknya bersandar pada bantalan kursi yang ia duduki, menyesap minuman yang sudah disediakan disana dan kemudian menyalakan rokok miliknya. "Tell me.. apa yang ada didalam pikiranmu saat ini Jenderal Kim."

Sang Jenderal dengan begitu apik menahan segala kendali emosinya dan tetap tenang mendengarkan segala ocehan dari mulut Sunyoung disertai senyuman kecil yang sengaja ia tampilkan agar raut wajahnya tidak mudah terbaca oleh wanita itu. Menjabat sebagai Jenderal Tertinggi di Militer jelas membawa begitu banyak pelajaran dalam menghadapi situasi terlebih situasi melawan salah satu mafia dan juga tersangka pembunuhan seperti Sunyoung.

"Well.. aku tentu berharap ia baik – baik saja, dan akan lebih baik bila ia tengah berlibur dengan para pacarnya di Jepang saat ini.. sementara kita disini para tetua – tetua tengah pusing memikirkan status perusahaannya hahhaha!" Suara tawa sang Jenderal di akhir kalimatnya membuat Sunyoung tersenyum sinis.

"Aku sungguh berharap Chanyeol masih berada disini bersama kita.."

"Hm.. mungkin ada baiknya bila dulu Victoria tidak membuang anak tampan itu untuk masuk Militer." Sunyoung menjawab. "Dia pasti akan lebih tampan dan wibawa dibandingkan ayahnya." Nada menggoda lagi – lagi terdengar di ucapannya.

"Kita tidak tahu akan seperti apa bila kemungkinan itu terjadi."

Sunyoung tertawa puas, "Bila Chanyeol masih hidup.. kita tidak berada bersama saat ini Jenderal Kim." Wanita itu kembali meminum minuman yang sudah tersedia di dalam ruangan rapatn, masih bersikap angkuh dan terus menerus menghisap rokok yang berada disela – sela tangannya.

Pembicaraan mereka harus terhenti karena pintu ruangan kembali terbuka dan dua sosok pira mengenakkan setelan rapi berwarna hitam masuk melangkah dengan cepat untuk menuju satu – satunya meja podium yang berada di ruangan itu.

"Maafkan keterlambatan saya Tuan dan Nyonya." Dirinya membungkuk sebentar dan kemudia dengan tergesa – gesa membuka tas yang ia bawa lalu mengeluarkan salah satu map berwarna hitam dari dalamnya.

"Who the hell are you?" Sunyoung menatap kesal, tangannya lebih dulu menggebrak meja dan kemudian bangkit berdiri guna melangkah kearah sosok yang baru saja masuk dan berdiri cuku jauh dari hadapan dirinya.

"Sa—saya pengacara Perusahaan Keluarga Park—

"Aku tahu siapa pengacara mereka dan sudah pasti bukan dirimu!" Sunyoung menunjuk marah. "Kemana Tuan Song?!" amarahnya meluap begitu saja tanpa mempedulikan Junmyeon yang masih memperhatikan sikapnya dan tersenyum puas.

"Dia pengacara pengganti Nyonya—akh." Ucapan yang dikatakan oleh salah satu rekan pengacara itu terhenti karena Sunyoung lebih dulu mencekik lehernya dengan sekuat tenaganya dan bahkan menempelkan ujung rokok yang masih terbakar sempurna di tangannya pada pipi wajah pria itu.

"Kemana pengacara Song!" Sunyoung kembali berteriak.

"Nyo—nya.."

"Jawab aku!" Sunyoung berteriak pada yang lainnya."

"Sunyoung!" kini giliran Jenderal Kim yang berteriak memanggil namanya, suaranya menggelegar menunjukkan kemarahannya meskipun ia masih berdiri di tempatnya dan tidak berniat untuk menghampiri Sunyoung yang tengah mencekik salah satu pengcara itu. "Dengarkan penjelasan mereka.." nada suara Jenderal Kim merendah dan itu membantu Sunyoung bisa mengendalikan diri.

Tangannya melepaskan cekikan tajam pada leher sang pencara namun masih memberikan tatapan intimidasi kepada mereka berdua.

Suara batuk dan juga nafas yang tersenggal – senggal terdengar begitu jelas dari sosok yang mana sebelumnya dicekik oleh Sunyoung sementara sosok salah satunya membantu dengan memberikan minum dan juga memindahkan badan temannya untuk duduk pada tempat yang cukup berjarak jauh dari Sunyoung.

"Bisa kalian jelaskan dari awal.."Jenderal Kim menanyakkan lagi, "Kemana Tuan Song? Dan kenapa hanya kami berdua yang berada di ruangan ini sekarang? Kemana anggota dewan yang lainnya?"

Sunyoung merubah posisinya agar bisa menghadap kearah Jenderal Kim dan juga kedua pengacara disana.

"Para Dewan sudah memberikan suaranya dan mengatakan tidak berniat hadir disini Jenderal.."

"Bukankah mereka harus hadir?"

"I-iya.. tapi.."

"Hm." Sunyoung tersenyum puas.

Raut wajahnya menunjukkan kepuasan mendengar jawaban yang disampaikan oleh utusan pengacara keluarga Park. Mengingat kembali rencana awal yang ia miliki dan juga apa saja yang sudah ia rencakan hingga hari ini, semakin membuat Sunyoung tersenyum bangga dan puas. Ia mnginginkan pengalihan seluruh harta keluarga Park jatuh ditangannya. Bukan hanya dendamnya yang terbalaskan tapi Sunyoung akan mendapatkan limpahan harta dan kekuasaan di tangannya.

Jenderal Kim menyadari perubahan raut wajah dan gerak laku Sunyoung. "Apa yang kau lakukan Sunyoung?" ia dengan cepat menuntut penjelasan, berharapa apa yang ia pikirkan saat ini tidaklah sama dengan realita yang akan ia hadapi.

Sunyoung menggeleng, "Aku tidak melakukan apa pun.." suaranya terdengar dibuat – buat untuk menunjukkan sisi kepolosan wanita tapi sekuat apapun ia mencoba menjadi seperti itu sosok pria dihadapannya sudah lebih dulu mengerti dan sangat paham sisi buruk yang dimiliki oleh Sunyoung.

"Semuanya belum jatuh ke tanganmu Sunyoung-ah.. namaku masih berada diurutan pertama sebagai seseorang yang tepat mendapatkan pengalihan kepemimpinan perusahaan dan Phoenix. Kau tidak akan mudah mendapatkan semuanya begitu saja."

Wanita itu menggeleng. "Bagiku sangat mudah Jenderal Kim.." langkahnya tergerak mendekat kearah sang Jenderal, memajukkan wajahnya untuk melihat lebih rinci dan jelas sosok pria. Ada harapan sedikit didalam benaknya mungkin apa yang ia lakukan bias membuat sang Jenderal merasa sedikit takut akan kehadirannya. Tapi Sunyoung cukup mengantisipasi mengingat yang akan ia hadapi selanjutnya adalah seorang Jenderal Besar Korea, apa yang ia lakukan tidak mungkin bisa membuat pria didepannya merasa terancam.

"Anak buahku bisa membunuh dirimu saat ini dengan mudah, mungkin kalian akan beradu tembak dan mendapatkan beberapa pukulan yang aku rasa akan cukup terasa sakit diwajah dan badan kalian.. mungkin aku bisa menembakkan satu atau dua peluru dibadanmu sebagai penambah rasa sakit.. menyaksikan dirimu terkapar tidak berdaya seperti yang dialami Yunho.. aku bisa meluangkan waktu untuk melihat dirimu menjemput nyawa.. sungguh aku tidak akan keberatan akan hal itu."

"Kau gila!" teriakan sang Jenderal terdengar lantang penuh amarah.

"Ya, aku sudah sering mendengarnya." Sunyoung mengakui. "Kalau aku tidak cukup gila.. semua ini tidak akan berhasil Jenderal."

Keduanya saling bertatapan mata dalam hitungan detik dan kemudian dengan gerakkan cepat tangan Jenderal Kim mencondongkan pistol yang berada belakang punggungnya dan ia hadapkan langsung kearah Sunyoung namun bersamaan dengan itu Ia juga mendapatkan moncong pistol tepat di dekat pelipis kepalanya.

Dua pistol dihadapkan pada dua objek.

"Apa kita harus melakukan uji coba? Siapa yang akan mati lebih cepat?" Sunyoung memberikan ancaman. "Kau bisa menembakkan pelurumu tepat di keningku.. menembus otak dan mungkin akan membuat lubang yang memuncratkan darah dari kepalaku.." gambaran jelas itu ia ucapkan dengan begitu santai seakan – akan ia tengh memberikan pemahaman teori pada anak muridnya. "Dan anak buahku.. bisa menembakkan dua peluru langsung menembus pelipis..."

Jenderal Kim mengernyitkan kening ketika mendengar Sunypung mengatakan dua peluru. Ada keadaan salah yang ia baru bisa pahami setelah mendengar ucapan Sunyoung. Dua peluru. Dua kata itu menjelaskan posisinya tengah berada dikepung oleh kedua anak buah Sunyoung, satu yang ia ketahui tengah mecondongkan moncong pistolnya di sebelah kanan dari dirinya dengan jarak pada pelipisnya yang begitu dekat, dan seorang lagi barulah diketahui berada dibelakangnya. Menghadapkan moncong pada bagian belakang kepalanya.

"Kau harus belajar banyak dari Red, Jenderal." Sunyoung melempar sindirian. "Red.. selalu memiliki rencana lain dibalik rencana utama yang kita miliki." Sunyoung tersenyum, melangkah mundur dari hadapan Jenderal Kim, membawa badanya untuk duduk pada kursi sofa namun tetap saling berhadap – hadapan dengan sang Jenderal.

"Four.. Jenderal Kim terjebak. Kalian dimana?"—Irene .

" Sial!"—Kris.

"Hei Pak Kim.. kau tidak akan mati hari ini okey."—Jongin.

"Victoria yang mengajarkan hal itu.. kau tahu? Apakah kakak kesayanganmu itu tidak pernah mengatakan hal itu?"

"Four!"—Irene.

Terlepas dari fokusnya yang terpecah antara mendengar komunikasi anggota Phoenix dan juga apa yang Sunyoung katakana, Junmyeon berpikir cepat untuk mengulur waktu hingga Four memberikan perintah rencana yang sudah mereka siapkan sebelumnya.

"Victoria mengatakan banyak hal padaku.." tangannya yang memegang pistol ia turunkan sebagai tanda gencatan senjata. "Tapi Victoria hanya mengatakan sedikit hal tentangmu.."

Sunyoung tersenyum sinis. "All bad, I guess.."

Kini Suho membalas tersenyum. "Kau memanglah hal terburuk yang ada didunia ini Sunyoung-ah."

"Mungkin aku memang dilahirkan untuk itu.." dengan percaya dirinya Sunyoung membantah lagi. "Tidak semua hal baik terlihat Indah Jenderal.. dan tidak semua hal jahat adalah buruk."

Junmyeon mulai menggeram lagi, kepalan tangannya terbentuk lebih kuat mendengar kutipan dari ucapan – ucapan Victoria yang sengaja Sunyoung katakan kepadanya.

"Oh.. maafkan aku.. aku terlalu emosional mengingat betapa puitisnya Victoria. Kata – katanya selalu indah untuk didengar bukan?"

"Dia belajar banyak hal dari sebuah keburukan."

"Hm.. mungkin dia belajar dariku." Sunyoung menyimpulkan singkat guna mengakhiri percakapan basa basi dengan Jenderal Kim. "Jadi.. apa kau sudah menyiapkan suaramu?" ia kembali mengingatkan mengenai pembicaraan pengalihan perusahaan Park Inc ke tangannya. "Aku akan tetap menggunakkan nama Park tenang saja.. dan untuk Red.. aku akan tetap mempercayakan itu padamu Jenderal Kim."

"Bagaimana dengan Phoenix?" Junmyeon menanyakkan.

"Tentu saja sepenuhnya berada ditanganku. Aku sudah menyiapkan rencana sempurna untuk Phoenix."

"Kau tidak akan mampu menguasai Phoenix.. mereka semua memiliki kesetiaan penuh pada Park."

"Hm.. aku tidak mengatakan Phoenix akan tetap sama dengan sebelumnya.."

"Dia benar – benar wanita gila." –Kris.

"Hey Four.. bisakah kita langsung membunuh wanita sialan itu.."—Willis.

"Jangan.. membunuh dia tidak akan menyenangkan.. lebih baik membuat dia menderita terlebih dahulu."—Yoora.

Junmyeon sedikit tenang mendengar suara Yoora bergabung dalam saluran komunikasi miliki Phoenix, meskipun sedari tadi ia percaya keponakkannya itu baik – baik saja namun sebelum ia mendengar suara Yoora secara langsung rasa khawatirnya masihlah menghantui perasaannya.

"Hey Park Chanyeol! Dimana kau!" suara Yoora memanggil nama adiknya.

"Phoenix tidak akan sama seperti sebelumnya bila kau membuat perubahan disana.." lagi Junmyeon mencoba mengulur waktu.

"Visi dan misi yang aku miliki berbeda dengan Yunho.. itu tidak akan membuat Phoenix sama seperti yang kau inginkan Jenderal.."

"Hai Jenderal.."—Four. Mendengar suara Chanyeol, Junmyeon seketika menenangkan diri dan berusaha sekuat tenaga menutupi raut wajahnya agar tidak terbaca oleh Sunyoung. "Aku harap kau sudah siap dengan sedikit guncangan.."


FOUR


"Dia belum juga memberikan jawaban?"

"Belum.. adikmu itu sungguh menyebalkan bila sudah turun di lapangan." Irene mengadu kesal kepada Yoora yang baru saja tiba di Safety House. Ia memperhatikan tampilan layar yang menampilkan langsung siaran cctv di area Gedung Park Inc dan juga rumah yang Sunyung tinggali.

"Apa rencananya?"

Irene terdiam cukup lama, ia belum berani mengutarakan rencana yang Chanyeol siapkan untuk memberikan sedikit pelajaran pada Sunyoung karena apa yang wanita itu perbuat terhadap kakaknya.

"Irene." Yoora memanggil lagi. "Apa. Rencananya." Kini ia mengucapkan satu per satu kata demi kata penuh penekanan. Ia tidak berniat menanyakkan pada anggota Phoenix yang lain karena baginya hal itu percuma, hanya Irene yang tahu rencana jelas dari penyerangan yang dilakukan Phoenix saat ini."

"Errr.." Irene memulai ragu. "Kesimpulannya.. kita akan meratakan tempat tinggal Sunyoung.. sedikit membuat kerusakan di Gedung Park Inc.."

Yoora menghela nafas mendengarnya. "Kerusakan dalam tingkat?" ia menginginkan jawaban yang jelas.

"Mungkin.. tingkat 7." Mendengar Irene menjawab dengan jujur akan rencana yang dimiliki Phoenix.. seluruh anggota sekektika terdiam dan menghentikkan apa yang mereka tengah lakukan saat itu juga.

Perbincangan mengenai kerusakan dalam sebuah rencana adalah hal yang paling ditakuti oleh semua anggota. Angka 8 adalam kerusakan maksimal dimana dalam artian objek atau sasaran yang ditargetkan akan hancur habis tidak tersisa apapun selain debu dan abu. Bila objek sasaran adalah manusia maka bisa dipastikan mereka akan mati terbakar dan tidak bisa ditemukan sisa – sisa pada bagian tubuh atau mungkin habis terbakar. Dan bila angka – angka yang diucapkan adalah dibawah angka 5, bagi mereka itu adalah sebuah penyerangan kecil yang mana belum sepenuhnya dilakukan atau menghancurkan objek sasaran.

"Tingkat 7?! Kalian merencanakan penghancuran dalam tingkat 7? Mereka berada dalam gedung Park Inc!" Yoora berteriak kearah Irene yang tengah memejamkan matanya dengan wajah menunduk.

"Lady.."

"Apa?!" bahkan ketika Kris memanggil dengan pelan Yoora membalas dengan teriakan penuh."

Irene sempat ikut melonjak kaget sama seperti yang Kris lakukan, namun ia memberanikan dir untuk menjelaskan rencana yang sebenarnya ia sendiri belum yakin akan berada pada tingkat berapa. "Lady.. rencana ini sepenuhnya dipikirkan oleh Chanyeol.. aku tidak tahu akan berada pada tingkat keberapa pada Gedung Park Inc.. hanya saja Zitao melaporkan sebelumnya bahwa kediaman Sunyoung dan juga kediaman keluarganya sudah siap dengan daya ledak pada tingkat 7."

"Bagaimana bisa kau tidak tahu rencananya?"

"Four merencakannya tanpa sepengetahuan Irene, Lady." Ten memberanikan diri memberikan pembelaan untuk Irene.

"Ia hanya mengatakan hal itu padaku.. hanya divisi lapangan yang mengetahui keseluruhannya." Irene menambahkan lagi penjelasannya.

Yoora nampak gelisah mendengar penjelasan lebih banyak dari mulut Irene dan kini ia mengalihkankannya dengan menatap satu per satu layar rekaman cctv dari keadaan disana.

"Maafkan kami Lady." Kris mewakili, pria itu kini sudah berdiri didekat Irene.

"Aku akan memaafkan kalian setelah memberikan hukuman pada adikku." Yoora membalasnya tanpa melihat kearah mereka. "Dimana posisi Chanyeol sekarang?" ia bertanya pada Ten yang tengah mencari letak pelacak yang ada dimiliki setiap anggota Phoenix.

"Chanyeol tidak memakai pelacak Lady.. tapi dia seharusnya akan menuju pada Gedung Park Inc."

Lagi – lagi Yoora menghela nafas dan berbalik menatap sinis pada Kris dan Irene. "Hukuman kalian akan bertambah untuk ini."

"Diamond sudah terpasang sempurna di Istana." Salah satu suara dari Anggota Black Team terdengar.

"Mereka siap meledakkan kediamannya." Jisung menerjemahkan kode – kode dari kalimat yang baru saja terdengar.

"Count on Four." Dan kini suara Chanyeol yang terdengar dan sontak Yoora menyambungkan kembali alat komunikasi di telinganya.

"Yaa Park Chanyeol! kau dimana?!"

"Tenang Yoora.. aku baik – baik saja."

"Dia sudah ada di Gedung Park Inc." Kris menunjukkan tayangan cctv pada Gedung Park dan terlihat Chanyeol tengah melangkah dengan santai pada lobby gedung itu.

"Apa yang akan kau lakukan disana?" Yoora bertanya dalam gelisah.

"Hanya memberikan peringatan terhadapnya.. dan mengingatkan dia tengah berhadapan dengan siapa."

"Lady.." Kris memanggil guna menunjukkan pada Yoora tayangan cctv yang menunjukkan kediaman Sunyoung tengah terkubur dalam asap ledakkan.

"Chanyeol.. a-apa yang kau lakukan.."

"Hanya sebuah pertunjukkan. Hai Jenderal.. aku harap kau siap siap dengan sedikit guncangan.."

Saluran komunikasinya kembali terputus namun semua yang ada didalam ruangan itu bisa melihat pada layar beberapa bagian dari Gedung Park mengalami guncangan dan juga ledakkan, beberapa tayangan cctv bahkan terputus.

"Jenderal! Jenderal apa kau bisa mendengar kami?"

"Four! Four! Apa kau baik – baik saja?"

Nafas Yoora nampak tidak teratur sementara beberapa anggota mulai mencari kabar mengenai keadaan Jenderal Kim dan juga Chanyeol disana.

"Kami masih berada jauh dari lokasi.. Four mengatakan untuk berjaga disekitar karena beberapa anak buah Sunyoung yang tersebar akan menuju ke Gedung Park Inc setelah mengetahui Markas mereka dan juga Gedung itu diledakkan."

"Aku memberikan perintah untuk ke Gedung Park sekarang bodoh! Kalau gedung itu hancur mereka semua mati!" Kris berteriak merasa kesal karena rencana bodoh dan mematikkan yang disiapkan oleh Chanyeol.

"TY! Jisung! Cari dimana letak bom – bom yang sudah Chanyeol letakkan di Gedung itu! Lantai berapa yang sudah meledak?"

Kini Yoora yang terdiam dan hanya bisa menatap satu per satu layar yang masih tersambung dengan saluran cctv di Gedung Park Inc, berharap penuh bahwa sosok Chanyeol masih tertangkap pada kamera disana.

"Aku menemukan 3 bom di lantai 5."

"Dan ada 4 Bom berada di lantai 25—

"Ada satu bom dialam ruangan rapat itu—" mendengar ucapan TY semaunya kembali terdiam kaku, Kris terdiam sesaat dan langsung memberikan perintah agar para Delta Team segera menuju Gedung Park Inc.

"Johnny! Willis! Jangan tetap pantau dari udara!"

"Zitao! Kirim setengah anggota Black Team untuk menuju Gedung Park!" Irene bahkan ikut memberikan perintah setelahnya ia memerintahkan anggota InCom lainnya untuk memperlihatkan denah gedung dari Park Inc agar ia bisa mencari jalan keluar bagi Jenderal Kim dan juga Chanyeol.

"Aku dan Jongin sudah dekat dengan Park Inc—

"Jangan masuk dari basement! Kalian akan terjebak disana! Ikuti bagaimana Four masuk—kalian masuk lewat lobby utama dan jangan terlihat begitu mencolok!" Kris kembali memerintahkan Mark dan Jongin yang baru saja memberikan perintah.

"Kami akan menyamar menjadi petugas pemadam."—Kai

"Pastikan mereka berada di lantai yang sama dengan Chanyeol!" Yoora sedikit beteriak pada Kris yang tengah melihat pergerakkan Chanyeol masih menuju kearah lantai ruangan rapat tersebut dan juga memasang beberapa bom di setiap tempat yang ia lewati.

"Park—Chan—yeol.. apa rencanamu?" Kris bergumam pelan melihat tampilan dalam bentuk 3D yang ditampilkan oleh Ten mengikuti pergerakkan Chanyeol dan juga letak – letak bom yang ia tempatkan.

"Dia ingin membuat bangunan itu runtuh rata dengan tanah."

Suara Minseok tiba – tiba bergabung mengomentari dan itu membuat Yoora, Kris, Irene dan juga yang lainnya menoleh kearah dirinya berada.

"Baekhyun.." tapi fokus Yoora tertuju pada sosok disamping Minseok yang tengah menatap sedih dengan badan bergetar hebat.

Minseok merangkul Baekhyun dan mengusap lengan gadis itu, "Aku rasa ia sudah mendengarkan perbincangan kalian sedari tadi.." gumaman pelan Minseok ditujukan pada Irene dan Yoora yang saling bertukar pandang satu sama lain.

"A-aku akan menemani Baekhyun.." Irene mengajukkan diri dan melangkan mendekat kearah Baekhyun, namun Yoora mencegahnya dan mengatakan bahwa ia yang akan menemani gadis itu dan mempercayakan semua rencana yang dijalankan Chanyeol pada Kris dan Irene.

"Baekhyun.. kau mau menemaniku ke ruangan?" Yoora mengusap pipi gadis itu yang masih terdiam bergetar memperhatikan tampilan layar – layar cctv disana. "Minseok.. tolong bantu aku mengarahkan mereka.." Yoora menitip pesan pada Minseok sebelum ia berjalan keluar bersama Baekhyun menuju ruangan kerjanya.

"A-aku akan mengantar kalian berdua lebih dulu.." Kris secara spontan menolak perintah Yoora dan ikut berjalan dibelakang Yoora serta Baekhyun.


FOUR


"..Phoenix akan menguasai seluruh organisasi Mafia—" salah satu anak buah Sunyoung menurunkan senjatanya dan melangkah mendekat pada wanita itu untuk membisikkan sesuatu yang mana pada akhirnya merubah raut wajah wanita itu dengan penuh kemarahan. Namun belum sempat Sunyoung meluapkan amarahnya, terasa bangunan gedung Park terguncang hebat, atap – atap gedung dan juga dinding – dinding yang bergetar terkoyak karena dampak sebuah ledakan yang bisa didengar oleh telinga mereka.

Tidak ada satu pun yang bisa terfokus untuk saling menyerang karena getaran dan ledakkan yang terjadi terus berkelanjutan dan semakin membuat lantai gedung bergetar. Kedua anak buah Sunyoung segera berpindah kearah nyonya besar mereka dan membantu wanita itu untuk keluar dari ruangan. Junmyeon tetap waspada mengikuti mereka bertiga bersama dengan utusan Pengacara Song disampingnya.

"Kami akan membantu kalian keluar Jenderal.. setelah keluar dari ruangan segeralah menuju pintu darurat yang berada di dekat toilet. Disana lebih aman." –Kris.

"Cepat cari jalan keluar!" Sunyoung berucap pada salah satu anak buahnya yang berjaga didepan pintu ruangan, sementara anak buah Jenderal Kim terfokus menyelamatkan Sang Jenderal dibandingkan sebuah perintah yang Junmyeon isyaratkan untuk terus mengawasi Sunyoung.

"Cepat pergi Jenderal. Aku akan tetap bersama Sunyoung."

"Four! Kau memiliki tugas untuk kembali dalam keadaaan utuh!" Irene melayangkan perintah dengan tegas.

"Chanyeol.." namun Kris memanggil namanya dengan suara bersahabat dan dalam koneksi komunikasi secara terpisah yang mana hanya menyambungkan saluran komunikasi Chanyeol dengan

"Hey Ace! Kepalaku terasa pening mendengarmu memanggilku seperti itu."

Kris tidak langsung menjawab perkataannya disana. "Ada yang ingin bicara denganmu."

"Chanyeol..."

Dan kini giliran Chanyeol yang tidak menjawab jawaban dari Kris diseberang sana.


BAEKHYUN


"Baekhyun mendengar semuanya?" Yoora memulai bertanya pada gadis itu dengan memberikan secangkir teh hangat kearah Baekhyun, ia juga masih duduk disamping gadis itu, menyelimuti badan yang masih bergetar namun tetap terdiam bisu. Hanya air matanya yang sesekali turun membasahi pipi dengan pandangan matanya tak lepas dari Yoora.

"Apa yang kau dengar tidaklah salah.. Four adalah Chanyeol.." dengan pelan – pelan Yoora menjelaskan. "Dan.. dia... mereka.." Yoora terdiam menahan kalimat – kalimat selanjutnya agar bisa diterima dengan baik oleh Baekhyun. "Mereka.. mereka tengah menyerang Sunyoung saat ini..." Yoora masih terus terdiam sesaat menahan diri untuk menjelaskan keseluruhan rencana yang tengah berlangsung saat ini.

Sejujurnya ia berharap Baekhyun tidak mengetahui semua kebenerannya disaat seperti ini, dari dalam hatinya yang paling dalam ia memang menginginkan adiknya dan Baekhyun bisa kembali seperti masa kecil mereka namun selama waktu belakangan ia mulai menyadari bahwa Chanyeol-lah yang tidak menginginkan dirinya diketahui berada didekat Baekhyun sebelum pembalasan yang berada begitu kuat dalam hati adiknya terselesaikan.

"Ia pasti kembali—

"Lady.." Kris memotong, meminta ijin pada Yoora untuk memberikan alat komunikasinya untuk diberikan kepada Baekhyun. "Aku tidak bisa membantu banyak.." ucapannya terarah pada Baekhyun yang melihat kearahnya dengan aliran air mata. "Tapi kau bisa meluapkan semuanya... padanya."

Baekhyun menoleh kearah Kris dan menanyakkan dalam diam dengan menatap Yoora, anggukkan kepala dari Yoora ia anggap sebagai ijin dan dengan masih penuh keraguan ia mengambil alat tersebut, memasangnya ada telinga kanannya.

Ada waktu diam singkat dengan sebuah tarikan nafas panjang sebelum akhirnya Baekhyun mengaktifkan alat itu dan siap menyebutkan sebuah nama yang sejujurnya sudah ia ingin ucapkan sejak beberapa waktu lalu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Chanyeol..."