Hellow there :D
(Author's note dibawah ;))
Chapter 7
Setelah mengantar Ibu mereka, Kaizo dan Fang kembali kedalam markas dan ke kamar mereka. Perjalanan mereka ke kamar hanya diisi obrolan kecil yang berhubungan dengan pertemuan dengan Ibu mereka tadi seperti masakan Ibu mereka yang tetap sama, cerita Ibu mereka soal planet mereka, mungkin beberapa asumsi mereka seperti apa planet mereka sekarang. Sesampainya mereka dikamar, mereka melepas armor mereka. Selesai melepas armornya, Kaizo langsung membaringkan dirinya dan membenamkan wajahnya ke bantal, berniat untuk langsung tidur. Fang memasang ekspresi jengkel melihat abangnya seperti itu dan langsung menarik baju abangnya.
"Abang! Kalau mau tidur, mandi dulu!" ketusnya sambil menarik baju Kaizo yang hanya dibalas kata-kata yang tidak jelas terdengar dari abangnya. Tidak puas dengan jawaban abangnya, Fang kembali menarik baju Kaizo. "Abang, Ma 'kan selalu bilang sebelum tidur harus mandi! Ayo, bang, mandi!". Fang terus membujuk dan menguncang tubuh Kaizo berharap abangnya akan langsung bangun dan mandi, namun hanya dibalas gumaman dari Kaizo.
Melihat abangnya tetap tidak mau bergerak, Fang hanya menggelengkan kepalanya sambil menghela napas. Sebenarnya sifat abangnya yang keras kepala dan tidak mau diatur sudah jarang muncul, tapi jika sudah muncul pasti menyusahkan. Menyerah karena abangnya sepertinya juga tidur, Fang berbalik hendak mandi sampai tiba-tiba tangannya di genggam erat dan ia tertarik ke bawah.
"Uwaaa!" Fang reflek menutup matanya dan bersiap berhentakan dengan kerasnya lantai dan rasa sakit, tapi rasa itu tak kunjung datang. Fang membuka matanya perlahan dan melihat ke sekitarnya. Ia melihat abangnya yang disebelahnya tertidur dan merasakan tangan abangnya yang melingkar erat di pinggangnya. Fang berusaha bangun dan melepas pelukan abangnya.
"A-Abang, lepasin! Aku mau mandi!"
Tidak ada respon. Fang kembali berusaha melepaskan diri sampai akhirnya ia lelah dan menyerah.
"Abang... "
Kaizo membuka matanya dan memandang Fang dengan tatapan malas. "Hm?"
"Lepasin... "
"Kenapa?"
"Aku lelah... mau mandi..."
"Kalau lelah, tidurlah. Kenapa harus mandi?"
Fang menghela napas menyadari abangnya mulai kekanak-kanakan dan makin keras kepala. "Abang..."
Kaizo kemudian bangun dan melihat Fang sejenak sebelum akhirnya melepaskan pelukannya dari adiknya.
"Yasudah sana mandi." Ucapnya dengan nada ketus kemudian kembali berbaring dan berbalik memunggungi Fang.
Fang yang mendengar nada ketus dari abangnya merasa bersalah. Fang menarik pelan ujung baju abangnya. "Abang, jangan marah..."
Tidak ada balasan.
"Abang..."
Masih tidak ada balasan.
Fang yang takut abangnya marah kemudian memeluk abangnya malu-malu. "Abang... maaf..."
Kaizo membalikan badannya kembali menghadap Fang masih dengan memasang wajah kesal. "Untuk apa?"
"A.. um... itu..." Fang bingung bagaimana harus menjawab.
Kaizo tetap memasang wajah seriusnya sampai akhirnya ia mendengus tertawa. Fang heran dengan perubahan tiba-tiba dari abangnya hanya bisa bertanya, "Abang?"
Kaizo menatap adiknya, tersenyum tipis dan mengacak rambut Fang. Kaizo beranjak dari kasur, berjalan ke lemari untuk mengambil alat mandi dan baju ganti kemudian masuk ke kamar mandi, meninggalkan Fang yang masih dengan memasang tatapan heran. 'Abang kenapa?'
"Ini cuma pengamatanku saja... tapi... kau suka pada Fang yah?"
Pertanyaan Ochobot masih terngiang-ngiang dipikirannya. Boboiboy sempat bingung dan bertanya kepada Ochobot kenapa power spherenya yang satu itu tiba-tiba bertanya seperti itu yang kemudian dibalas, "Hanya pengamatan... lagipula sepertinya kau sepertinya jadi lebih perhatian pada Fang belakangan ini. Malah awalnya kukira kalian berpacaran tapi bertingkah seperti biasanya karena kalian tidak ingin ada yang tau hubungan kalian.".
Boboiboy kembali larut dalam pikirannya, memikirkan jawaban Ochobot. Ia merasa selama ini ia bersikap biasa pada Fang, tidak terlalu dekat, tapi tidak terlalu jauh juga. Ia akui belakangan ini memang ia berusaha untuk mendekati Fang, tapi karena Boboiboy merasa Fang tidak harus selalu sendiri dan sesekali-kali berkumpul dan berinteraksi dengan yang lain atau setidaknya dengannya.
"Dey, Boboiboy, melamun saja. Kau tidak makan kah? Aku makan ya?" ucap Gopal membuyarkan lamunan Boboiboy. Boboiboy yang mendengar itu langsung mengamankan makanannya dari jangkauan Gopal.
"Makananmu masih ada, kenapa mau makananku juga?"
"Ish pelitnya..." Gopal kembali memakan makanannya.
Boboiboy hanya menggelengkan kepala dan memakan makanannya namun kembali termenung. Yaya yang melihat Boboiboy kembali termenung kemudian bertanya.
"Ada apa, Boboiboy?"
Boboiboy mengangkat kepalanya, "Ah, tidak apa-apa." lalu kembali makan.
Tiga sahabatnya tidak percaya dengan jawaban Boboiboy. "Masih soal Fang?" Tanya Ying.
Boboiboy berhenti sejenak, namun kembali makan, tidak menjawab pertanyaan Ying.
Gopal pun tidak tahan dan ikut bertanya, "Kau tahu Boboiboy, aku sebenarnya ingin bertanya dari entah kapan, tapi kau suka pada Fang kah?"
Boboiboy tersedak.
"Fang, abang dah selesai." Ucap Kaizo sambil mengeringkan rambutnya.
"O-Oh..." Fang menghetikan permainan padnya dan beranjak mengambil alat mandi dan baju gantiya, bergegas untuk mandi. Sebelum masuk ke kamar mandi Fang melihat abangnya yang sedak duduk di kasur dan mengeringkan rambutnya, berpikir apa abangnya masih marah atau tidak. Memberanikan diri, kemudian ia memanggil abangnya.
"A-abang?"
"Hm?"
"Abang masih marah kah?"
Kaizo berhenti mengeringkan rambutnya dan menoleh ke arah adiknya.
"Untuk apa?"
"Ngg... karena yang tadi?"
"Tadi apa?"
Fang menunduk terdiam, bingung harus menjawab apa. Melihat adiknya bingung, Kaizo tersenyum dan berkata,
"Abang tidak marah, Fang."
Fang menoleh kearah abangnya dengan ekspresi tidak yakin dengan jawaban Kaizo. "Tapi tadi..."
Kaizo mendengus tertawa kemudian berdiri dan berjalan kearah adiknya. Fang menunduk dan panik dalam hatinya seiring abangnya mendekat, tapi kemudian ia merasakan tepukan pelan dikepalanya.
"Abang bercanda, Fang."
Fang mengangkat kepalanya, melihat senyum tulus di wajah Kaizo. Tidak tahu harus merespon apa, Fang menundukan kepalanya dan berbicara dengan suara pelan. "A-aku kira abang benar marah."
Kaizo tertawa pelan kemudian mengacak rambut Fang yang disambut gerutu dari adiknya. "Abang, berhenti!"
Kaizo menarik tangannya, melihat adiknya menggerutu sembari merapikan kembali rambutnya. "Dah, mandi sana." yang kemudian dibalas anggukan pelan dari Fang.
Setelah selesai mandi dan keluar dari kamar mandi, Fang melihat abangnya yang sedang fokus pada padnya.
'Mungkin sedang melihat misi.' Batinnya sambil mengeringkan rambutnya.
Menyadari adiknya yang sudah selesai, Kaizo meletakan padnya dan memanggil Fang. "Fang, duduk sini." Ucapnya sambil menepuk sisi kasurnya. Tak lama, Fang duduk didepannya memasang wajah heran. Kemudian Kaizo mengambil handuk yang ada ditangan Fang.
"Hadap ke depan, abang bantu keringkan rambutmu."
Fang menurut kemudian memunggungi Kaizo, membiarkan abangnya mengeringkan rambutnya. Sesekali Kaizo juga memijat pelan kepala Fang yang membuat Fang mengeluarkan napas lega dan nyaman. Entah sudah berapa lama dia seperti ini dengan abangnya. Semenjak Fang dikirim ke bumi untuk menjalankan misinya, mereka jarang punya waktu bersama. Mungkin mereka memang sering bersama dalam misi, tapi saat itu Kaizo dan Fang harus sadar dengan status mereka dan memasang jarak. Jarang mereka bersama diluar misi. Disaat-saat seperti ini, Fang berusaha menikmatinya selama masih bisa. Hening mengisi kekosongan sampai akhirnya Kaizo memecah keheningan.
"Sudah lama tidak seperti ini."
Fang membalas pelan, "Hm... Misi selalu datang jadi tidak ada istirahat."
Mereka kemudian bercerita tentang misi mereka yang baru-baru saja selesai. Fang yang menceritakan Adu Du yang sampai sekarang masih terus merebut power sphera dan Kaizo yang menceritakan misi penyamarannya di pabrik robot musuh.
"Aku jadi ingat abang pernah menyamar jadi Kassim. Waktu itu aku kaget abang berubah sifat sampai seperti itu." Ucap Fang kemudian tertawa.
Kaizo menghela napas. "Ah, abang benci itu. Jangan diungkit lagi. " Ucapnya kesal.
Darisitu mereka mengganti topik mereka dengan kegiatan sehari-hari mereka jika tidak ada misi. Kaizo menceritakan Lahap yang selalu mengomelinya kalau dia keluar dari rencana misi sampai kalau dia terus-terusan bekerja menyelesaikan laporan sampai Ramenman dan sifat menyebalkannya- yang hanya dibalas tawa dari Fang—.
"Bagaimana dibumi?" tanya Kaizo.
Fang mengangkat bahunya, "Tidak ada yang spesial."
"Teman-teman?"
Fang menggeleng, "Abang sudah dengar ceritaku."
"Bagaimana denganmu dengan Boboiboy dan teman-temannya?" Tanya Kaizo.
Kaizo menunggu Fang menjawab namun adiknya hanya diam. Khawatir, Kaizo memanggil. "Fang?"
"A-aku... aku sudah tidak dengan mereka."
Kaizo memasang wajah heran, "Maksudnya?"
Fang kembali terdiam. Tak lama kemudian, ia melihat bahu Fang bergetar. Kaizo beranjak dari tempat duduknya dan berlutut didepan Fang. Ia melihat adiknya menahan tangis.
"Fang..."
Fang langsung mengusap matanya yang berair. Tidak ingin menangis. Kaizo kemudian memeluk adiknya dan mengelus pelan punggungnya. Fang masih diam, menahan air matanya yang terus ingin jatuh.
"Fang, jangan ditahan. Keluarkan saja. Abang disini."
Ucapan itu membuat Fang kemudian menangis sejadi-jadinya. Fang menceritakan ia merasa dikesampingkan oleh Boboiboy dan lainnya. Gopal, Yaya dan Ying yang tidak memandangnya sebagai teman mereka. Ia yang mengira Boboiboy awalnya akan membantunya saat ia dituduh mencuri namun ternyata Boboiboy tetap menyalahkannya. Ia yang lelah harus memendam perasaan lelah dan keluh kesahnya. Ia yang iri pada Boboiboy karena punya tempat untuk bersandar. Ia yang iri pada Boboiboy yang selalu dipuji semua bahkan oleh Kaizo yang pada saat itu memuji Boboiboy dan sampai saat itu dia tidak mendapat pujian dari Kaizo. Ia yang iri pada Boboiboy karena semua orang bisa menerima Boboiboy sementara semua orang yang selalu mengganggap dirinya adalah orang asing. Ia yang iri pada Boboiboy saat Boboiboy dan Kaizo diperintahkan untuk maju di garis depan dan Fang yang ditahan untuk digaris belakang karena ia tidak cukup kuat. Ia yang merasa kecewa pada dirinya sendiri karena tidak pernah bisa memenuhi ekspetasi orang-orang karena ia adalah adik dari seorang Kaizo. Ia yang takut ditinggalkan Kaizo karena ia tidak cukup kuat seperti Boboiboy.
Kaizo hanya diam mendengar cerita dari Fang. Ia mengerutkan alisnya saat mendengar Boboiboy tetap menyalahkan Fang karena Fang tidak menceritakan itu saat dia bercerita alasan Ia keluar sekolah, namun saat ia mendengar ia juga salah satu penyebab kenapa Fang seperti ini, ia merasa bersalah. Ia memeluk Fang semakin erat dan tetap mengelus pelan punggung adiknya, membiarkan adiknya mencurahkan isi hatinya sembari mengucapkan beberapa kata maaf.
Yeay! Kaizo and Fang moment~
Kita semua butuh ini kawan-kawan. Percaya kepadaku.
