Seperti yang sudah Chanyeol rencanakan sebelumnya, membalaskan semua perlakuan Sunyoung pada keluarganya dan juga keluarga Baekhyun adalah apa yang menjadi prioritas dalam hidupnya.
Berbagai rencana sudah mereka jalankan dan bahkan banyak rencana – rencana yang harus ia ubah sedemikian rupa hingga akhirnya kini ia tengah membawa helicopter milik Phoenix menuju kediaman Tuan Byun yang sudah lama kosong dan terbengkalai dengan Sunyoung yang berada bersamanya sebagai tahanan.
Irene sempat menanyakkan pada Father Anggota Mafia lainnya yang dipanggil Tuan Choi mengenai harga dari kepala Sunyoung, tapi pria tersebut sudah tidak tertarik dan malah meminta kabar kematian Sunyoung agar ia bisa mengirimkan satu mawar hitam di pemakaman wanita tersebut.
Lalu tidak ada yang bersuara banyak setelah Chanyeol memerintahkan anggota lainnya untuk kembali ke Markas sementara hanya dirinya, Kris, Minseok dan tiga perempuan dari Red—Yuri, Amber dan juga Tiffany yang masih memiliki tugas di akhirnya.
Bahkan Yoora dan juga Irene tidak lagi menanyakkan terhadap Chanyeol mengenai rencana selanjutnya atau pun sekedar menanyakkan kapan pria itu akan kembali ke Safety House.
"Kau yakin melakukannya disini?" Kris sempat menanyakkan ketika Chanyeol tengah memfokuskan dirinya dalam mengontrol kemudi untuk mendaratkan helicopter mereka.
"Tentu.. tidak ada tempat yang lebih cocok selain disini.. kau ada usulan lain?" ketika mereka benar – benar berhasil mendarat, Chanyeol menoleh kearah Kris dan dengan begitu saja ia turun dari helicopter tersebut. Beralih untuk membantu membawa Sunyoung yang tengah tidak sadarkan diri akibat suntikan obat penenang sebelumnya. Minseok berjalan didepan Chanyeol membantu pria itu membuka pintu dan kemudian melangkah menuju ruangan kamar. Kris dan ketiga perempuan lainnya menurunkan beberapa peralatan yang mereka bawa dari Safety House dan membagi satu sama lain untuk dibawa menyusul kemana Chanyeol melangkah.
Kris dan Minseok saling bersitatap ketika mereka masuk kedalam sebuah kamar berukuran sedang dan terdapat foto Baekhyun terpajang disalah satu dindingnya. Kamar Baekhyun.
Entah apa yang ada dipikiran Chanyeol saat ini namun Kris dan Minseok yakin pertunjukkan yang Chanyeol maksudkan sebelumnya akan memakan banyak waktu dan juga perasaan yang terlibat.
Sunyoung sudah didudukkan pada sebuah kursi ditengah – tengah ruangan itu, Tiffany dan juga Amber mengikat kedua tangan dan kaki wanita itu dengan begitu erat dengan sebuah tali berwarna hitam, tak hanya itu, setelahnya mereka memasang borgol dan dipasangkan pada tangan dan kaki Sunyoung. Kris sempat menanyakkan mengapa borgol itu dipasangkan setelah keduanya terikat, dan ketika mendapati jawabannya membuat pria itu diam tak bergeming dan mengalihkan diri mendekat kearah Chanyeol yang tengah melihat – lihat sekeliling isi kamar Baekhyun.
"Aku tidak tahu kalau Red ternyata segila ini.." Kris mulai berbisik. "Mereka memasang borgol listrik.." tatapannya terarah pada borgol yang sudah terpasang sempurna di tangan dan kaki Sunyoung. "Apa kau tahu selama ini.. Ibumu… melakukan ini semua?" Mengucapkan hal tersebut Kris terdengar lebih berhati – hati takut akan menyinggung perasaan Chanyeol.
Namun pria disebelahnya yang tengah bermain – main dengan pajangan salju hanya tersenyum kecil, "Aku bahkan baru mengetahuinya beberapa hari lalu.." ia menjawab dengan berbisik juga. "Dan.. asal kau tahu.." badannya mengikis jarak dengan Kris. "Mereka.. pintar merayu pria.." sontak ucapan Chanyeol dihadiahi sebuah pukulan telak dikepalanya oleh Kris.
"Aku serius.." Meskipun ia mengeluh sakit namun tetap melanjutkan topik pembicaraan sebelumnya. "Kau harus melihat beberapa video pelatihan mereka nantinya."
Kris tetap mengabaikan dan kembali memperhatikan keempat orang dari Red yang tengah mempersiapkan segala perlengkapannya. Jarum suntik, berbagai jenis pisau dan juga beberapa obat sudah berada area dekat mereka dan bahkan salah seorang dari mereka mulai menyiapkan kamera untuk merekam semuanya.
"Kita siap." Minseok mengabari kearah kedua pria disana. "Kita akan segea melakukannya setelah Sunyoung sadar.. kalian mau tetap disini?"
Kris menggeleng sementara Chanyeol mengangguk. "Aku masih memiliki urusan dengannya sedikit."
11
Satu per satu anggota Phoenix yang memiliki tugas pada malam itu kembali ke Safety House dengan perasaan bangga dan juga rasa syukur mengingat meskipun belum sepenuhnya menghadapi penyerangan melawan musuh mereka, tapi beberapa baku tembak dan pukul jelas terjadi dari setiap pos yang ditugaskan pada mereka. Beberapa yang baru kembali adalah Zitao dan juga anggota Phoenix yang tergabung di Black Team.
Irene dan Yoora menyambut mereka tepat didepan pintu masuk, memberikan sapaan sebatas pelukan atau pun tepukan tangan terhadap satu sama lain sebagai tanda selamat datang kembali bagi mereka yang ditugaskan saat itu. Beberapa anggota dari Red juga ada beberapa yang ikut berkumpul disana termasuk Baekhyun yang berdiri didekat tangga untuk melihat satu per satu anggota Phoenix yang kembali dan berharap ada wajah yang begitu ia tunggu – tunggu menampakkan wujudnya.
"Ia tidak akan kembali hari ini.." Yoora secara mengejutkan berucap dihadapan Baekhyun yang masih berdiri dalam diam. "Istirahatlah.. ini sudah pagi dan kita belum tidur sejak kemarin malam.." ucapannya terdengar biasa saja namun Baekhyun menganggap itu adalah sebuah perintah untuknya.
"Jika dia kembali.. kami akan membangunkanmu.." Irene ikut berucap dan kemudian ia meminta Luhan beserta yang lainnya untuk membawa Baekhyun menuju kamarnya.
Kini tertinggal Yoora dan Irene yang mana bersandar pada tangga ditengah – tengah ruangan rumah itu.
"Literally.. aku juga merasa cukup lelah." Yoora mengeluh kepada Irene.
"Sama.. kita bukan hanya berjaga sepanjang malam namun otakku juga dikuras memikirkan semuanya." Dan bukan hanya Yoora yang mengeluh, Irene juga melakukan hal yang sama.
Tak lama ada senyuman di wajah Yoora yang mana itu membuat Irene mempertanyakan arti senyuman itu kepada Sang Lady.
"Apa artinya itu?"
Yoora menggeleng.
"O—keey.. apa artinya?" Irene menuntut jawaban.
Yoora melihat kearahnya dan semakin melebarkan senyumannya. "Kau tahu.. janji yang disebutkan Chanyeol kepada Baekhyun?" Irene mengangguk mengerti maksudnya. "Aku sempat berpikir.."
"Apa?" Irene nampak tidak sabar mendengar penjelasan lebih detailnya.
Dan Yoora kembali tertawa kecil, "Aku berpikir.. kenapa Chanyeol ikut membawa Sunyoung.. dan kenapa ia tidak ikut kembali sementara ia tahu ada seseorang yang menunggunya disini.. dan itu karena janji yang sudah ia buat terhadap Baekhyun sebelumnya."
Irene secara perlahan – lahan meresapi dan berusaha memahami maksud penjelasan dari Yoora namun pikirannya tidak bisa menyatu dengan sempurna akan apa yang dipikirkan oleh Yoora. "A-aku masih tidak mengerti.."
Yoora berdecak kesal. "Jam berapa sekarang?"
"Setengah 7 pagi.." Ia melihat kearah jam tangan ditangannya dan juga penunjuk waktu diponselnya. "Jam setengah 7 pagi.." Ia mengulang lagi.
"Katakan padaku.. toko es krim mana yang sudah buka pukul setengah 7 pagi?"
Tanpa menunggu lama untuk berpikir seperti sebelumnya, kini Irene sontak tertawa keras dan juga memukul pelan badan Yoora. Mereka berdua terkikik bersama meskipun tengah melangkah menuju ruangan lain untuk membicarakan lebih lanjut mengenai bahan pembicaraan yang sangat penting pagi ini.
"Aku rasa ia sedang berkeliling Seoul sekarang.."
"Dia mungkin menunggu didepan 7-11.."
"AH! Adikku pasti langsung pergi ke Pabrik Es Krim.."
FOUR
Kris masih bisa menyempatkan waktu untuk dirinya terlelap meskipun hanya dua jam dari jam tidur biasanya. Ia merebahkan dirinya pada sofa panjang yang di ruang keluarga yang letaknya persis didepan ruangan kamar Baekhyun disana. Dan untuk Chanyeol pria itu memilih disibukkan dengan memilih pakaian yang bisa ia bawa untuk Baekhyun dan juga beberapa barang pribadi milik gadis itu. Setelahnya ia menyibukkan diri di ruang kerja milik mendiang Tuan Byun.
"Yo! Aku kira kau ikut tertidur." Kris masuk kedalam ruangan itu dan menghampiri Chanyeol yang tengah berdiri dan memegang sebuah dokumen ditangannya. "Badanku masih terasa pegal.. hey.. berapa lama obat itu bekerja?" tangannya menepuk bahu Chanyol dengan pandangan matanya yang ikut melirik kearah isi dokumen disana. "Apa itu?"
Chanyeol segera menutup isi dokumen itu, ia melangkah menuju meja kerja disana dan menggabungkan beberapa dokumen lainnya yang sudah selesai ia baca. "Tugas kita berikutnya." Ia memberikan tumpukan dokumen itu kepada Kris. "Ini akan mengembalikan harta Tuan Byun ke tangan Baekhyun." tangannya menepuk tumpukan dokumen disana lalu melangkah lagi menuju lemari yang berisikan macam – macam dokumen dan juga buku – buku tebal.
"Tugas kita?" Kris mempertanyakkan, menyempatkan diri membaca judul dari dokumen tersebut.
"Tuan Byun memiliki saham di Park Inc.. dan itu harus kita alihkan menjadi nama Baekhyun.." dan pria yang menjawab dengan pasti itu masih mencari – cari dokumen lainnya namun fokusnya bisa dibagi untuk mendengar pertanyaan lain dari Kris.
"Err.. kita sudah membuat nama Baekhyun dalam status meninggal.. kalau perlu kuingatkan.."
"Oh." Chanyeol menghentikkan gerakkan jarinya dan menoleh kearah Kris. "Aku lupa akan hal itu.." ia kembali berpikir, bibirnya tergigit sesaat lalu dengan kebiasannya ia mempoutkan bibirnya hingga membentuk kerucut lancip. "Well.. kita bawa dulu semua dokumennya.. aku rasa masih ada jalan supaya kita bisa menarik saham disana menjadi milik Baekhyun lagi." tangannya bergerak melambai dan Ia kembali fokus mencari beberapa dokumen penting lainnya.
Kris tidak berniat membantu disana, ia hanya duduk di kursi kerja dan menerima dokumen – dokumen yang Chanyeol berikan padanya untuk digabungkan dengan dokumen lainnya. Keduanya melakukan hal demikian hingga Minseok masuk melangkah dalam diam namun gerakkan kepalanya yang mengarah ke pintu berhasil membuat dua orang pria disana menurut dan bergegas mengikuti dirinya.
"Dia sudah sadar. Dan kami belum memulai apapun atau menjelaskan padanya.. tapi ia sudah mengenali diriku adalah bagian dari Red." Minseok sempat menjelaskan sebelum mereka membuka pintu dan masuk kedalam kamar Baekhyun. Hanya Kris dan Minseok. Chanyeol tertinggal dibelakang meminta waktu untuk dirinya sendiri sebelum ia ikut bergabung.
Kris menarik kursi lainnya dan ia bawa untuk diduduki dihadapan Sunyoung yang nampak tak berdaya dihadapannya.
"Huh. Tampan ini ikut serta juga?" Sunyoung berdecih mengenali Kris ada dihadapannya.
"Wuah.. kau mengenaliku?"
"Tangan kanan Yunho.."
Kris mengangguk sombong. "Kau tahu banyak tentang Bossku.."
Sunyoung tersenyum kecil. "Aku tahu semua tentang Boss-mu sayang.. tidak ada yang terlewat sedikitpun darinya.."
Kris membalas tatapan Sunyoung dan melihat jauh kebelakang punggung wanita itu dimana Chanyeol tengah menyiapkan diri dalam tampilan seorang 'Park Chanyeol', tidak ada rompi anti peluru maupun senjata terlihat di tangannya, hanya tampilan serba hitam yang selalu digunakkan oleh seluruh anggota Phoenix. "Ada beberapa hal yang tidak kau ketahui.." senyuman Kris melebar menunjukkan sebuah perasaan bangga menunjukkan kemenangan dirinya dari seorang wanita berdarah iblis didepannya.
Ia berucap demikian dan bangkit dari kursi yang sempat ia duduki sebagai tempat Chanyeol duduk nantinya.
Chanyeol masih melangkah pelan, diwajahnya terlihat jelas ia tengah mempersiapkan diri untuk bertatap dan juga sedikit berbasa basi dengan Sunyoung untuk pertama kalinya dalam wujud Chanyeol—sebagai Park Chanyeol, bukanlah Four yang memiliki tatapan mata dingin dan juga tampilan sedikit berantakkan, bukan juga Richard yang terlihat memikat namun mematikan.
Yang akan ia tunjukkan adalah Chanyeol sebagai mana pria itu dilahirkan dan hidup selama ini. Rambutnya tidak lagi terurai acak dengan beberapa anak rambutnya yang sempat menutupi pelipisnya, Chanyeol membiarkan beberapa anak rambutnya tertata rapi menutupi keningnya.
Sunyoung merasakan ada seseorang yang akan bergabung dengan yang lainnya, keinginannya untuk menoleh kearah belakang punggung harus ia tahan kuat – kuat mengingat ikatan pada leher dan juga kedua tangannya sangatlah erat hingga ketika ia bergerak hanya akan ada rasa sakit setelahnya. Matanya diupayakan bergerak sejauh mungkin untuk melirik kesamping kirinya, dan ketika pupil matanya melihat langsung sosok yang baru saja bergabung, jantungnya berdetak cepat dan kesepuluh jarinya terkepal erat beradu dalam sebuah kepalan tangan.
"Kau tahu siapa aku?" Chanyeol berdiri santai disana, kedua tangannya masuk bersembunyi dibalik kantung celana jeans hitam yang ia kenakan.
Wanita dihadapannya diam bergeming dalam gelutan amarah mengingat – ingat kembali dirinya telah dibohongi oleh semua orang yang ia bayar untuk membunuh keturunan kedua dari Yunho dan juga Victoria.
"Apa perlu aku ingatkan siapa diriku?" Chanyeol menawarkan diri, menarik kursi yang sebelumnya diduduki oleh Kris dan ia tarik untuk lebih dekat dengan Sunyoung, tangannya yang lain mengambil pisau kecil yang sudah disediakan oleh anggota Red. Amber sempat menahan tangan Chanyeol untuk mengambil peralatannya, namun Minseok mengijinkan dan dengan begitu kini di berada di tangan Chanyeol ia tengah memainkan satu buah pisau bedah berukuran kecil yang ia usapkan ujungnya dengan salah satu jari telunjuknya.
"Apa ini pertemuan pertama kita?" Chanyeol bertanya lagi.
"Bukankah harusnya kau sudah mati terkubur dibawah tanah?!" Sunyoung menunjukkan kekesalannya dan berusaha memberontak. "Aaarrkkhhh!" suaranya merintih kemudian karena Yuri yang memegang kendali remote control dari borgol listrik yang sudah dipasangkan ditangan Sunyoung menekan tombol power disana dan tentunya membuat wanita itu merasakan sakit luar biasa di tangan dan kakinya.
"K-kau mau melampiaskan dendammu? Huh? Mau tahu bagaimana aku membunuh satu per satu dari orang tuamu?" Sunyoung mulai memberikan pengaruh ancaman bermaksud menggoyahkan sifat dingin yang nampak terlihat dari tatapan Chanyeol padanya. "Huh.. ayahmu bukan aku yang membunuh bila kau perlu perjelas—argghh!"
Belum selesai Sunyoung mengatakan apa yang ingin ia ucapkan kepada Chanyeol, tangan pria itu lebih dulu menusukkan pisau bedah kecil itu masuk kedalam kulit paha wanita itu hingga darah segar keluar merembes nampak jelas dan sangat kontras dengan warna putih kulitnya.
"Kenapa kau meringis hm? Malam itu kau mendesah ketika aku membelaimu disini."
"Ennggh—arrrgghh!" lagi teriakan Sunyoung terdengar saat Chanyeol menarik pisau itu dan menusuk pada bagian pahanya yang lain.
Ada tangisan kesakitan yang mulai terdengar dari wanita itu tapi Chanyeol lebih dulu membentengi dirinya dengan tembok es. Kris bahkan enggan ikut berkomentar atau pun menatap kearah Chanyeol karena baginya saat ini yang ada dihadapannya adalah sisi dingin dan kejam yang dimiliki pria itu dan tidak ada yang pernah menyangka pria dihadapannya bisa berbuat keji sedemikian rupa.
.
Suara rintihan Sunyoung terus menerus berkumandang mengisi kekosongan rumah mendiang Tuan Byun. Chanyeol masih menjadi pelaku penusukkan dan siksaan terhadap wanita itu hingga baju dan warna kulit Sunyoung bahkan sudah hampir tertutupi oleh warna merah darah. Minseok sudah memperingati Chanyeol disana bahwa ia harus berhenti karena bila ini terus berlangsung dalam bebrapa menit kedepan mungkin Sunyoung bisa dipastikan mati dalam keadaan kekurangan darah.
Chanyeol seketika menghentikkan pertunjukkannya.
Ia membiarkan pisau bedah itu masih menancap di lengan kiri Sunyoung dan ia lekas bangkit berdiri, membersihkan cipratan darah wanita itu yang berada di lengannya dengan begitu santai dan kemudian kembali berdiri tanpa rasa bersalah sedikit pun sambil menatap bangga kearah Sunyoung yang terlihat sangat mengerikan dan menyedihkan.
"Aku tidak butuh kau ingatkan mengenai kematian mereka.. yang aku butuhkan adalah dirimu mengingat dengan jelas apa yang aku lakukan sebagai pembalasan terhadap perbuatanmu." Chanyeol berucap pelan dan pasti disana. "Ingat wajahku ini.. ingat apapun yang aku lakukan karena hanya hal itulah yang akan menemanimu selamanya sampai kau memohon kematian datang menghampirimu."
Sunyoung sudah nampak tak berdaya disana dan ia hanya bisa mendengarkan setiap perkatan Chanyeol tanpa bisa melayangkan protest atau ancaman apapun.
"Kita akan membawa dia ke rumah sakit militer."Minseok berbicara kearah Chanyeol disampingnya. "Setelah ia membaik.. semua ini akan kembali terulang.." dan kemudian menjelaskan hal yang mereka lakukan saat ini masihlah akan terus berlanjut sampai Sunyoung benar – benar tidak berdaya.
"Lakukan." Tanpa pertimbangan apapun Chanyeol menyetujui hal itu dan selanjutnya Minseok memberikan perintah pada ketiga orang lainnya untuk menghubungi markas Militer dan juga merapikan kekacauan yang baru saja terjadi.
Kris menepuk bahu Chanyeol, menguatkan pria itu meskipun ia tahu sejujurnya hal itu sama sekali tidak berpengaruh sedikit pun. "Kita bisa pulang?" Kris mengalihkan situasi. "Aku benar – benar butuh liburan panjang dan juga kasur yang empuk." Mereka berdua saling bersitatap dan kemudian melihat kearah jendela luar yang menunjukkan suasan siang yang begitu damai dengan sinar mentari yang menghangatkan.
"Aku butuh mobil." Namun Chanyeol meresponsnya dengan jawaban lain yang mana semakin membuat Kris merasa heran dan kembali memikirkan banyak pertanyaan. "Aku harus mencari es krim.. kau ingat? Penjelasan terakhirnya membuat Kris terkikik seorang diri lain halnya dengan Chanyeol yang menahan malu dan menundukkan kepala.
"Ayo! Kita cari mobil untukmu." Tepukan pada bahu Chanyeol adalah ajakan dari Kris, mereka keluar lebih dulu meninggalkan semuanya, masuk kembali kedalam helicopter dan ketika melihat helicopter pihak Militer sudah tiba dan membawa Sunyoung untuk dipindahkan kerumah sakit, Chanyeol dan Kris barulah beranjak pergi dari sana.
FOUR
"Keadaanya cukup mengenaskan.. dan sedikit menyedihkan.." suara Jenderal Kim tengah terdengar dari alat spiderphone yang ada diruangan kerja Yoora. Luhan, Irene dan dirinya tengah mendengarkan kabar terkait kondisi Sunyoung saat ini setelah Chanyeol dan juga beberapa anggota Red melakukan penyiksaan terhadapnya.
"Minseok dan lainnya masih berada disini dan meninjau pemeriksaan.. sejujurnya aku mengharapkan Sunyoung tidak akan berhasil melewati masa kritisnya.."
"Aku masih menginginkan dia hidup.. masih banyak antrian orang – orang yang ingin membalaskan perbuatan kejamnya." Yoora mengatakan demikian kearah suara Jenderal Kim disana.
"Semua tergantung padamu Yoora-ah.." Suara Junmyeon sedikit melembut disana. "Aku akan mengabari kabar selanjutnya nanti.. beristirahatlah.."
Sambungan itu terputus dan semuanya nampak menghela nafas untuk menenangkan diri.
"Dia benar – benar melakukannya.." Irene berbicara kearah Yoora yang seketika menoleh kearahnya. "Mak-maksudku Chanyeol benar – benar melakukannya.." Ia menjelaskan ucapan sebelumnya.
Dan Yoora menggeleng. "A-aku masih tidak percaya.. Lu.. apakah kita punya rekaman setiap melakukan 'hal' itu?"
Luhan mengangguk. "Kami masih menyimpan semuanya dalam server.. dan seharunya untuk kejadian ini.. Yuri pasti menyempatkan diri untuk merekam apa yang mereka lakukan disana."
"Oh." Mata Yoora berkedip cepat sama halnya dengan Irene.
"Maksudmu.. kita bisa saja tahu dan menonton reka ulang kejadian apa yang Chanyeol lakukan?"
Luhan mengangguk lagi.
"Wow." Respons Irene terdengar tidak begitu bersemangat dan tertahan ragu.
"Yah.. kita bisa melihat nanti.. bagaimana adikku menyiksa seseorang." Yoora menutup pembicaraan dalam topik tersebut dan memperhatikan Irene yang tengah berbicara kearah informan dalam line komunikasinya. "Kenapa?" Yoora merasa curiga.
"Mereka pulang." Cukup dua kata itu Irene ucapkan dan mereka bertiga bergegas keluar dari ruangan menuju pintu depan, Irene sempat meminta Luhan untuk memanggil Baekhyun karena demi apapun dua orang yang akan mereka sambut salah satunya adalah sosok yang sudah ditunggu – tunggu oleh Baekhyun.
Suara mesin helicopter mulai terdengar mendekat dan mencoba mendarat di halaman rumah itu dan bukan hanya Irene dan Yoora yang menyambut, beberapa anggota Phoenix lainnya segera menyusul demi memberikan sambutan pulang terhadap Pimpinan mereka dan juga Excutive dari Phoenix.
"Hey.. apa Four sudah membawa es krimnya?" bahkan dari mereka sudah ada yang berbisik siap untuk melayangkan candaan pada pimpinannya.
"Ya! Kalau dia hanya membawa es krim strawberry.. kita harus menghukumnya habis – habisan." Willis bahkan ikut menyumbangkan ide untuk membully Chanyeol nantinya.
Sementara yang lain mulai berbisik dan melontarkan candaan dan tentunya sindiran terhadap pemimpin mereka, dua orang wanita yang berdiri dibarisan paling depan tidak bisa menahan senyuman dan juga suara tawa mendengarnya celotehan dari yang lainnya. Tapi pada akhirnya mereka mengunci mulut rapat – rapat dan kembali sunyi ketika Luhan bersama Baekhyun ikut bergabung menunggu disana.
"Bagiamana perasaanmu?" Yoora berbisik, merangkul pundak Baekhyun untuk mendekat kearahnya dan menunggu jawaban dari gadis itu yang nyatanya hanya memberikan gerakkan gelengan kepala karena sejujurnya memang ia tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini.
Tidak bisa diungkapkan namun begitu terasa nyata, detak jantungnya berdebar begitu cepat dan Baekhyun rasa jantungnya akan meloncat keluar menyusul helicopter disana. Pipinya bersemu merah meskipun ia yakin suhu badannya tidak sedang demam. Tangan dan kakinya bergetar tidak karuan meskipun ia kini tidak sedang berada diatas ketinggian yang sangat amat ia takuti.
Ketika helicopter berwarna hitam itu benar- benar mendarat dengan sempurna dan baling – baling yang menerbangkan benda itu berhenti, perasaan semuanya semakin meriuh menunggu sosok akan muncul dari sana.
Satu orang sudah terlihat, berbadan tinggi dan juga nampak begitu wibawa ketika berjalan.
"Itu dia.." Yoora berbisik kearah Baekhyun memberitahukan bahwa yang akan tiba sesaat lagi tengah melangkah disana adalah benar Chanyeol.
"Err.. itu bukan Chanyeol." Irene menyanggah dengan cepat dan tentunya membuat Yoora beserta Baekhyun melihat kearahnya. "Itu bukan Chanyeol.. dia tidak mungkin berjalan dengan penuh gaya aneh seperti itu." Irene menunjuk lagi kearah sosok yang masih berjalan kearah mereka dan belum terlihat dengan jelas wujud wajahnya.
"Yaaaa! itu Ace!" Kai lebih dulu berteriak dari belakang dan alhasil membuat segerombolan anak buah Phoniex berlari kearahnyauntuk memberikan pelukan.
Irene menggelengkan kepala melihat sikap – sikap anak buahnya yang selalu ia pertanyakkan apakah mereka masih kanak – kanak atau belum dewasa sepenuhnya.
Yoora ikut tersenyum namun kemudian ia tahan karena melihat Baekhyun disamping mulai menundukkan kepala merasa sedih kembali. Sempat ia berpikir bahwa Chanyeol tidak mungkin akan kembali ke rumah itu dan tinggal bersama dirinya.
"Ia pasti kembali.." Yoora menguatkan Baekhyun lagi.
Kris menghampiri keduanya, berdiri dalam diam dihadapan Yoora dan juga Baekhyun, lalu menoleh kearah Irene disamping Yoora. Kepalanya menunduk memberikan hormat dan tanpa ada satu kata pun yang keluar darinya ia melangkah masuk melewati ketiganya.
Irene lebih dulu merasakan keanehan dan karena itu ia dengan cepat berbalik dan menyusul Kris masuk, begitu pun Yoora yang mengikuti Irene disana.
Dan Baekhyun tersisa seorang diri masih menunggu didepan pintu.
Luhan menghampiri setelah hampir beberapa menit berlalu tidak ada nampak kedatangan dari Chanyeol, ia bermaksud mengajak Baekhyun kembali untuk masuk namun ia niatannya ia tahan karena gadis itu lebih dulu merosot jongkok di posisinya dengan diiringi suara isakan dan juga sedikit luapan emosi dengan menyebutkan nama Chanyeol.
Luhan melangkah mundur dan membiarkan Baekhyun disana.
"YAAAA! Kau bilang akan pulang!"
"Kau berjanji padakuuu!"
"Huaaaaaaa! Mamaaaa!"
"Chanyeol pabbo!"
Teriakannya sudah pasti akan didengar oleh semua orang yang tinggal disana tapi Baekhyun tidak peduli akan hal itu. Saat ini keadaan hatinya lebih tidak terbentuk, entah sedih, entah sakit, atau bahkan kecewa dan ia hanya berharap dengan meneriakkan semuanya akan membuat lebih baik.
.
.
"Huaaaaaaa! Mamaaaa!"
"Dengar itu!"
"Kau yang akan bertanggung jawab setelah ini!"
"Iya.. aku yang akan bertanggung jawab.."
"Kau yakin dia akan datang kan?"
"Sstt! Sudah aku bilang dia pasti datang.. aku yakin sebentar lagi.."
"Kenapa kalian tidak bersama –sama?"
"Adikmu itu memilih mengutamakan es krim. Dan kau harus tahu berapa banyak yang ia pesan. Dua truk es krim."
"What?!"
.
.
"Chanyeeeeeooolllll!" Baekhyun masih menangis di luar sana dan belum ada tanda – tanda isakan tangisnya akan berhenti, bahkan dalam posisi jongkoknya ia sudah merasakan kelelahan karena menangis dan juga berteriak hingga akhirnya ia harus tersungkur duduk didepan pintu.
Matanya yang nampak kecil bahkan semakin tenggelam dibalik bengkaknya pipi dan juga kelopak matanya. Ia berulang kali menyeka aliran air matanya yang tak kunjung berhenti, kepalanya kembali menunduk dan ia lebih memilih melanjutkan tangisannya. Tidak peduli siapa yang mengajaknya masuk kedalam atau pun memanggil namanya berulang kali untuk bangun. Bahkan suara berat yang ia kenal seperti suara Chanyeol ia abaikan begitu saja karena baginya semua itu hanyalah omong kosong agar dirinya bisa kembali masuk kedalam kamarnya.
"Baekhyun.."
Suara itu memanggilnya lagi. Begitu terdengar mirip dengan suara Chanyeol dan malah semakin membuat dirinya kembali menangis lebih keras dari sebelumnya.
"Baekhyunnie.."
Dan barulah tangisnya berhenti dan kepalanya sontak melihat kearah suara yang memanggil namanya dengan sebutan Baekhyunnie.
Chanyeolnya berdiri disana. Menatap diam kearahnya dengan berdiri bersandar pada mobil yang Baekhyun tak mau tahu itu milik siapa.
"Chan—" belum selesai Baekhyun menyebutkan nama pria itu, ia lebih dulu memeluk badan Chanyeol dan kembali menangis sekencang – kencangnya. Umpatan yang sebelumnya ia katakan di tangisan sebelumnya bahkan kembali Ia ulang lontarkan agar Chanyeol bisa mendengar semuanya.
.
.
"Ya! Kenapa kau ikut menangis?"
"Irene? Kau menangis juga?"
Irene tidak menjawab namun langsung memberikan pukulan pada badan Kris dengan cukup keras.
"Akh."
"Aku terharu bodoh!"
Kris masih mengeluh kesakitan, melihat kembali Yoora dan Irene yang tengah memperhatikan bagaimana pertemuan Chanyeol dan Baekhyun di luar sana dari balik jendela ruangan kerja Yoora mereka berdua tak henti – hentinya ikut terisak.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tbc.
Thank you!
