Hellow there!
(Author's Note dibawah :D)
Chapter 8
Lagi-lagi, Boboiboy tidak bisa tidur. Salahkan Ochobot dan para sahabatnya yang menanyakan hal yang sama padanya.
"Kau suka pada Fang, ya?"
Boboiboy tidak tahu apa yang ada dipikiran mereka dan kenapa mereka bertanya hal itu. Alasan mereka lagi-lagi,
"Susah dijelaskan, tapi gampangnya belakangan ini kau perhatian sekali padanya…"
Lalu? Boboiboy merasa alasan mereka aneh. Bukannya wajar jika perhatian dengan teman sendiri? Perhatian tidak selalu berarti suka… kan?
Boboiboy bangun dari tempat tidurnya dan memandang keluar jendela. Langit pada malam ini tidak berawan, menampilkan bulan purnama dan beberapa bintang yang bersinar. Pikirannya melayang pada kali pertama bertemu dengan Fang. Ia masih ingat sikap Fang yang dingin saat itu. Ia juga ingat saat mereka bertanding jika bukan untuk popularitas, entah untuk apa. Ia mengingat hubungan mereka yang semakin membaik walau masih ada pertengkaran kecil disana-sini. Ia masih ingat Fang yang lebih memilih tidak menuruti kakaknya dan membantu Boboiboy melawan kakaknya.
Boboiboy tersadar dari pikirannya dan memutuskan untuk ke dapur dan membuat coklat panas. Sesampainya di dapur, ia melihat lampu yang masih menyala dan atoknya yang sedang menulis sesuatu dan ditemani dengan gelas yang kelihatannya berisi teh susu mengepulkan uap panas. Menyadari Boboiboy yang masuk, Tok Aba mengangkat kepalanya dan melihat cucunya dengan tatapan heran.
"Boboiboy? Kenapa belum tidur juga?"
Boboiboy mengangkat bahunya, "Tidak bisa tidur, tok. Banyak pikiran." Balasnya kemudian membuka kabinet dapur, mencari gelas dan bubuk coklat.
"Apalah yang dipikirkan sampai tidak bisa tidur? Ujian?" Atok kembali bertanya sambil kembali menulis.
"Hal lain, tok... mungkin ujian juga, tapi tidak terlalu masalah." Jawabnya sambil membuka kulkas dan mengeluarkan sekotak susu.
Atok balas menggumam kemudian mereka kembali dengan kegiatan masing-masing, Atok dengan tulisannya dan Boboiboy dengan coklat panasnya. Setelah selesai dengan coklat panasnya, Boboiboy langsung mencuci perlatan yang ia pakai kemudian mengambil coklat panasnya dan duduk di sebelah atoknya. Boboiboy penasaran dengan apa yang ditulis oleh kakeknya sedari tadi kemudian bertanya.
"Atok, sedang menulis apa?"
"Pembukuan minggu ini... kenapa? mau bantu atok?"
Boboiboy membalas dengan dengusan tawa sambil menggelengkan kepala. "Atok tahu sendiri aku tidak suka hal seperti itu."
"Kau ini.." balas atoknya menggeleng.
Suara goresan pulpen dan ketikan kalkutor kembali mengisi suasana diantara mereka. Boboiboy meniup minumannya kemudian meminumnya perlahan sementara Tok Aba sibuk mengerjakan pekerjaannya. Tak lama kemudian, Tok Aba menutup bukunya dan menghela napas lega, tanda pekerjaannya sudah selesai. Minumannya yang sempat terlupakan diminumnnya perlahan. Mereka berdua diam sampai akhirnya Tok Aba membuka pembicaraan.
"Jadi, ada apa?"
Boboiboy terdiam sejenak kemudian menggelengkan kepala. "Aku juga tidak tahu, Tok."
Atok tidak membalas, hanya meminum minumannya, memberikan waktu untuk Boboiboy melanjutkan ceritanya sementara yang bersangkutan melihat ke dalam gelasnya sambil memasang ekspresi bingung dan berusaha untuk menyusun kata-kata.
"Menurut Atok, Fang itu bagaimana?"
Pertanyaan yang entah datang darimana tapi atok tetap menjawab, "Fang pemuda yang baik. Sedikit kaku memang, tapi dalam hatinya atok tahu sebenarnya dia peduli, hanya kadang tertutup dengan sifat dan ekspresinya dinginnya." Atok minum sejenak sebelum melanjutkan. "Dia juga suka membantu atok di kedai sesekali dan beberapa kali dia suka bercerita pada atok."
"Cerita?"
Atok mengangguk. "Kadang soal misinya, atau soal keluarganya jika hari itu dia sedang tidak bersemangat atau sedih. Mungkin sedikit masalah orang-orang yang selalu membuatnya susah karena dia bukan berasal dari bumi."
Boboiboy hanya diam. Tidak percaya ternyata Fang bercerita pada atoknya, apalagi soal keluarganya.
"Fang tidak pernah bercerita seperti itu denganku."
"Oho? Cucu atok yang satu ini iri?"
"Sedikit." Jawab Boboiboy singkat.
Atok tertawa pelan. "Kalian anak muda dan cerita muda kalian kadang membuat atok berpikir apa atok juga seperti kalian saat masa muda. Ya, mungkin kurang perjalanan ke luar angkasa."
Boboiboy memasang ekpresi heran. "Maksudnya tok?"
"Kapan kalian berdua terakhir berbicara seperti ini, duduk berdua mungkin dengan minuman atau makanan bukan bertengkar? Karena semenjak kalian masuk SMA, kalian berdua mulai menjauh."
Boboiboy membuka mulutnya, hendak menyangkal atoknya, namun kembali menutup mulutnya karena apa yang diucapkan atoknya benar. Boboiboy kemudian kembali melihat minumannya kemudian meminum minumannya perlahan. Melihat respon cucunya itu, atok menghela napas dan menggelengkan kepala.
"Entah masalah apa diantara kalian atau mungkin salah paham. Awalnya, atok kira kalian hanya di fase normal ketika kalian anak muda berpacaran."
Boboiboy menyemburkan minumannya kemudian terbatuk. Atok langsung mengamankan buku yang ada di depannya—menjauhkannya dari semburan cucunya itu- dan mengambil kain lap dan tisu yang ada di sisi meja. Atok memberikan tisu kepada cucunya kemudian mulai mengelap meja.
"Kenapa kau ini?" Atok bertanya kemudian menuangkan air ke gelas dan memberikannya pada cucunya.
Boboiboy masih terbatuk walau tidak terlalu separah tadi. Boboiboy mengambil gelas yang diberikan oleh atoknya dan meminumnya. Perlahan, batuknya mereda.
"Atok orang ketiga yang berkata seperti itu."
Atok memasang ekpresi heran.
"Sebelum ini, Ochobot, Gopal dan yang lain bertanya apa aku suka pada Fang. Mereka juga bilang mereka kira aku dan Fang berpacaran. Maksudku kenapa mereka berkata seperti itu?"
"Mereka bilang alasannya?"
"Mereka bilang kalau belakangan ini aku perhatian sekali pada Fang, tapi bukannya sebagai teman memang harus saling perhatian?"
Atok mengangguk. "Tapi kau sendiri suka suka pada Fang kah?"
"Ish apalah atok ini..."
"Jawab saja dulu." Atok kembali meminum minumannya sambil menunggu jawaban Boboiboy.
Boboiboy menunduk, melihat ke arah minumannya. Boboiboy jelas suka pada Fang, tapi jika yang dimaksud suka, Boboiboy tidak tahu harus menjawab apa. Pikirannya melayang pada saat dia dan Fang sebelum Fang menjauhinya. Ia mengingat saat mereka bertarung bersama, memikirkan strategi bersama, sparring disana-sini dan mungkin hanya santai dan mengobrol berdua. Ia mengingat wajah Fang, ekspresinya seriusnya ketika sedang bertarung, emosi ketika mereka sedang bersaing, tawa ketika ada sesuatu yang lucu dan sipu malunya dan tangis sesekali. Ia juga mengingat Fang yang kadang selalu mengorbankan dirinya—jujur saja itu selalu membuat Boboiboy marah karena itu terlalu berbahaya, tapi dia sendiri juga sering melakukan itu jadi apa haknya untuk marah-ketika sedang bertarung. Ia juga mengingat ekspresi sedih, marah dan sakit Fang saat itu. Saat ia mengatakan bahwa tidak ada orang yang mau berteman dengannya. Saat ia merasa bahwa Boboiboy menghinanya. Mengingat itu membuat hati Boboiboy terasa tertarik oleh sesuatu.
Mengehela napas, Boboiboy menjawab, "Hah.. aku tidak tahu, tok. Mungkin saja... tapi aku tidak tahu pasti...Lagipula, Fang pernah bilang tidak sudi berteman denganku, apalagi suka padaku."
Mendengar Boboiboy, atok hanya tertawa. Tidak puas dengan respon atoknya, Boboiboy bertanya.
"Aku serius, tok. Kenapa tertawa?"
Atok masih tertawa sebelum menjawab, "Kalian benar-benar harus berbicara. Bagaimana bisa kalian...? Hah... kalian ini..."
"Maksudnya tok?" Boboiboy masih tidak mengerti dengan apa yang dikatakan atoknya.
Atok terseyum dan menggelengkan kepalanya. "Bukan tempat Atok untuk membicarakan soal itu, tapi yang atok tau, seselesainya kalian ujian dan kembali ke markas, kalian harus berbicara."
Boboiboy masih tidak mengerti apa yang dimaksud atoknya, tapi ia memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut. Kepalanya sudah pusing memikirkan hal itu dan tiba- tiba ia mengantuk. Melihat Boboiboy mulai mengantuk, Tok Aba menepuk pelan bahu cucunya itu.
"Dah, habiskan coklatnya lalu tidur. Besok tidak sekolah, kan? Bantu atok di kedai besok."
"Ah... siap..."
Boboiboy meneguk sisa minuman yang ada di gelasnya kemudian beranjak dari tempat duduknya, hendak mencuci gelasnnya. Selesai mencuci gelasnya, Boboiboy mengucapkan selamat malam pada atoknya dan kembali ke kamarnya.
Ketika ia menutup matanya, ia bermimpi bertemu dengan Fang dan berbicara dengan pemuda bersurai ungu itu seperti biasa.
yes telat update
maafkan aku :')
