Semua mata melihat kearah drama dibalik pertemuan pertama kali antara Chanyeol dan Baekhyun, seharusnya tidak perlu seharu dan sedrama ini jikalau sejak awal Chanyeol sudah mengenalkan sosok sebenarnya dari jati dirinya kepada Baekhyun sebagai Chanyeol, bukan sebagai Four yang memiliki sosok dingin dan angkuh. Seluruh penghuni Safety House disana terus senantiasa menonton dan juga mendengarkan setiap curahan yang dilontarkan sosok Baekhyun dalam isakan tangisnya. Chanyeol bahkan tidak berniat untuk menyudahi, pria itu masih memeluk tubuh yang lebih mungil dalam dekapannya, setia mendengarkan dan juga terkadang ia mengusap punggung Baekhyun dengan begitu lembut.

Umpatan dan segala hal yang Baekhyun katakan rasanya sudah semuanya ia curahkan hingga tak ada lagi kata yang bisa ia ucapkan. Tersisa keterdiaman dalam waktu yang tak singkat di sela – sela segukan isakan yang masih terdengar dari dirinya.

Sedari tadi Chanyeol masih terdiam disana, tidak ada satu kata pun yang diucapkan pria itu selama Baekhyun mengeluh kesah dan itu membuat suasana menjadi canggung untuknya.

"Sudah menangisnya?" akhirnya Chanyeol bersuara, melontarkan pertanyaan saat Baekhyun membawa badannya terlepas dari pelukan pria itu. Suaranya masih sama lembut seperti sebelumnya, tidak lagi terdengar dingin dan cuek seperti ketika pria itu menjadi sosok Four dihadapan Baekhyun.

Baekhyun mengangguk, menghapus sisa – sisa aliran air matanya, Chanyeol membantu mengusap pelan meskipun diawalnya ia sedikit ragu untuk menyentuh pipi Baekhyun.

"Pipi mochi sudah hilang.." gurauan singkat itu nyatanya bisa membuat keduanya terkikik bersama. Baekhyun ikut terkikik tapi ia kembali menangis diakhirnya, entah ia terlalu bahagia atau ada kesedihan dibaliknya.

"Kemarilah.. aku masih merindukanmu.." ada yang mengajak meluapkan rindu kembali dan berbagi peukan dan itu bukanlah Baekhyun. Chanyeol-lah yang kembali menarik tangan Baekhyun hingga membuat badannya tertarik untuk masuk kedalam dekapan hangat pria itu, Keduanya kembali berbagi pelukan satu sama lain, dengan kedua mata terpejam untuk lebih menikmati aroma wangi tubuh yang sudah lama mereka rindukan satu sama lain.

"Chanyeol.." ada suara lirih yang memanggil dengan nada ragu.

"Hm?"

Baekhyun menggeleng, "A-aku hanya ingin memanggil namamu.."

Chanyeol tertawa kecil mendengarnya. "Kau tidak berpikir akan memeluk seorang hantu bukan?" Kini giliran Baekhyun yang tertawa dibuatnya.

"Maaf. Maaf karena aku tidak memberi tahumu langsung mengenai semuanya." Chanyeol memulai memberikan penjelasan yang seharusnya ia katakan sejak awal pertemuan mereka. "Maafkan aku. karena meninggalkanmu begitu lama, membiarkanmu mengalami semua hal buruk.."

Baekhyun memberikan gelengan kepala di dada bidang Chanyeol dan semakin memeluk erat badan pria itu, "Four sudah membalaskan semuanya.."

Mereka berdua tertawa bersama dan kembali dalam pikiran masing – masing masih dengan posisi saling berpelukan. Chanyeol perlahan – lahan melepaskan pelukan, membawa Baekhyun untuk melihat kearah wajahnya agar ia bisa melihat secara jelas bagaimana wajah gadis itu. Bagaimana wajah polos dengan kedua pipi yang selalu merona bila didekatnya, bagaimana gerak mata yang berkedip seirama ketika membalas tatapan terpusat dari Chanyeol.

Ada sepatah kalimat yang mungkin ingin diucapkan dari salah satu diantara keduanya tapi nyatanya hanyalah sebuah keterdiaman yang ada diantara mereka hingga akhirnta momen di antara mereka berdua harus terhenti karena suara teriakkan dari para penonton drama antara Chanyeol dan Baekhyun.

"Pesta Es Krim!" Teriakan dari beberapa anggota Phoenix yang berlarian keluar menyerbu dua truk pembawa es krim berukuran sedang yang sudah terparkir di halaman rumah itu.

Gerakkan kikuk dan kaku Chanyeol perlihatkan dan pria itu dengan cukup pintar menutupinya dengan wajah dingin dan umpatan memaki kepada siapapun yang terlihat oleh pandangan matanya hanya karena mereka menyantap es krim yang dari awal ia bawa untuk Baekhyun seorang. Ia memprotest dan mengambil satu per satu untuk diberikan kepada Baekhyun, ia bahkan melarang semuanya untuk meminta es krim bila Baekhyun tidak mengijinkan.

Suasana kembali meriuh penuh canda dan tawa serta beberapa godaan yang dilontarkan kearah mereka berdua.


FOUR


Siang itu menjadi hari yang baru bagi semuanya,seluruh anggota Phoenix sudah merencanakan acara sebagai perayaan keberhasilan mereka mengurus Sunyoung hingga mendapatkan hukuman yang setimpal, sementara Red masih disibukkan melatih kandidat baru mereka dan juga menyiapkan beberapa anggota yang akan menjalankan hukuman bagi Sunyoung. Termasuk Baekhyun.

Setelah acara makan – makan es krim, mereka kembali dalam kegiatan masing – masing, Chanyeol meninggalkan Baekhyun dengan alasan untuk mencari Yoora, Irene dan juga Kris yang belum juga terlihat ikut bergabung dengan semuanya.

Ketiga orang tersebut memang hanya memperhatikan apa yang terjadi di luar sana tapi Chanyeol yakin meskipun mereka bertiga menunjukkan senyuman bahagia, ada sebuah pemikiran kekhawatiran yang tak luput hilang saat ini.

"Bukankah kalian bertiga sudah cukup tua untuk menikmati es krim?" Chanyeol menyapa mereka bertiga, pandangannya tertuju kearah Kris yang tengah menikmati es krim di mangkuk kecil sembari berdiri bersandar pada lengan sofa. Yoora tersenyum kearahnya, meskipun sikap duduknya santai tapi Chanyeol bisa mengerti maksud dari lehernya yang mendongak keatas dan juga pandangan mata tajamnya. Chanyeol bahkan tak perlu menebak apa yang dilakukan Irene di tempat duduknya karena wanita itu sudah menunjukkan wajah dingin yang sudah melekat dalam raut wajahnya.

"Oh come on.. aku baru saja berhasil membuat Sunyoung mendekam dalam siksaan Red dan kalian masih saja mengadakan pertemuan penting seperti saat ini?"

"Apa rencanamu selanjutnya?" baru saja Chanyeol menutup mulut, Yoora sudah memberikan pertanyaan dari arti tatapan matanya. Dan setelahnya Chanyeol terdiam dalam posisi berdiri, melirik kearah Kris dan juga Irene untuk mencari sebuah bantuan penjelasan tapi kedua orang tersebut mengalihkan pandangannya kearah lain.

"Apa rencanamu setelah menunjukkan diri kepada Baekhyun? Kau mau meninggalkannya lagi atau ingin terus berada bersamanya?" Yoora masih memberikan pertanyaan lainnya.

"Aku rasa terlalu cepat untuk menanyakkan hal itu?"

"Aku hanya mengingatkan, Baekhyun adalah Red. Dan kau adalah Phoenix."

Chanyeol membawa badannya untuk duduk pada sofa yang berseberangan dengan Yoora, menunjukkan wajah malas dan acuhnya mengingat pembicaraan ini akan menjadi pembicaraan panjang nantinya.

"Kenapa kau senang sekali mengingatkan hal itu sih." Chanyeol menanggapi dengan suara menggerutu.

"Aku serius Chanyeol, dirimu sudah kembali pada Chanyeol yang seharusnya, Baekhyun sudah tergabung dengan Red. Meskipun Sunyoung sudah diamankan.. aku tidak mau kau membuat—aku tidak mau Baekhyun dipermainkan olehmu!" Yoora mengatakannya secara frontal dan tak lagi mengulur – ulur mencari bahan obrolan lain.

Bukan hanya Chanyeol yang terbatuk mendengar ucapan Yoora disana, Kris ikut tersedak mendengarnya.

"Aku serius.. aku ingin tahu apa rencanmu mengenai Sunyoung setelahnya, mengenai Baekhyun di Red, mengenai hubungan kalian. Aku tidak buta bila kau mengira aku tidak tahu ada sesuatu antara kalian berdua."

"Sunyoung aku serahkan pada Red." Chanyeol mengesampingkan pertanyaan lainnya dan mulai menjawab satu per satu. "Kalian bertiga sudah tahu apa yang ingin aku lakukan padanya, dan tugas Red selanjutnya adalah melanjutkan proses hukumannya."

"Bagaimana dengan rencana yang ia miliki sebelumnya, para mafia di Kolombia dan Amerika Selatan serta Rusia sudah pasti akan—"

"Phoenix akan mengurusnya. Itu tugas kita selanjutnya." Chanyeol memotong ucapan Irene yang baru saja bergabung dalam pembicaraan diantara dirinya dengan Yoora. "Red mengurus Sunyoung dan kita mengurus para Mafia lainnya."

"Kalau kau berpikir bisa pergi jauh dari tempat ini.. aku ingatkan jangan coba – coba untuk berpikir demikian." Yoora memperingati lagi, kembal mengingatkan pada satu nama yang menjadi topik terpenting mereka.

"Baekhyun akan tetap di Red." Ada yang berubah dari sikap Chanyeol ketika ia mengatakan kalimat itu, wajahnya menunduk tidak lagi membalas tatapan sang kakak. "Aku sudah mengatakan bahwa kami berdua sudah berubah dan tak lagi sama seperti masih kanak – kanak dulu. Aku tidak tahu akan menjadi apa hubungan kami.. mungkin ya.. aku mencintainya.. mungkin perasaan ini hanya perasaan sesaat.. mungkin aku hanya simpatik terhadapnya.. aku tidak tahu." Ia kembali menatap Yoora, menyampaikan seluruh resah dalam benaknya dan juga segala keraguan.

"Kau mencintainya?"

"Aku tidak tahu.." Chanyeol menjawab langsung tanpa menyempatkan dirinya merenung atau pun berpikir dua kali sebelum memberikan menjawab.

"Kau menciumnya Yeol.."

"Itu tidak sengaja."

"Kau bahkan meminta maaf padanya sambil menangis waktu itu.."

Chanyeol diam seketika, menatap sinis kearah Irene dan juga Kris yang sama sekali tidak membantu dirinya saat ini.

"Kau tidak memiliki dendam terhadapnya karena Ayah 'kan?" pertanyaan Yoora lagi membuat Chanyeol menunduk lemah.

Semuanya terdiam memperhatikan keterdiaman Chanyeol disana, mereka saling memandang satu sama lain hingga Yoora memutuskan untuk bangkit berdiri berpindah duduk tepat disamping adiknya. Tangannya merangkul pundak Chanyeol, memberikan usapan bermaksud untuk menguatkan dan juga menenangkan.

"Aku sangat yakin bukan dia yang melakukannya. Bukan Baekhyun, bukan sisi Alter-ego-nya. Percayalah.."

Chanyeol memberikan tepukan pada paha Yoora. "Kita bicarakan nanti.. aku masih ingin menikmati es krimnya.." Chanyeol bangkit berdiri setelahnya dan melenggang begitu saja hendak keluar dari ruangan kerja Yoora. Kris dan Irene tidak ada yang menyahut untuk menanggapi sikap Chanyeol.

"Masih belum terlambat untuk memulai.." Yoora berucap pelan tanpa memalingkan wajah kearah adiknya.


12


Chanyeol kembali ke ruangan makan dimana semuanya masih nampak menikmati es krim yang ia bawa, Phoenix dan juga Red terlihat berbaur dan saling mengobrol satu sama lain. Baekhyun termasuk disana. Meskipun terlihat masih malu – malu, tapi Chanyeol bisa melihat senyuman bahagia nampak diwajah gadis itu ketika beberapa anggota menggoda dan melemparkan candaan kearahnya.

Chanyeol terlalu fokus memperhatikan kearah Baekhyun hingga pria itu melamun tenggelam hanyut dalam pikirannya dan tidak menyadari Baekhyun tak lagi duduk di kursinya melainkan kini berada persis di depannya tersenyum manis kearahnya.

"Chanyeol mau es krim lagi?" ia bahkan sempat menawari pria itu dengan es krim yang ada di tangannya.

Chanyeol berkedip berulang kali memastikan dirinya sudah kembali di tempat pijakan kakinya, bukan dalam dunia lamunannya.

"Four?" Baekhyun memanggil namanya lagi tapi kali ini ia menggunakan panggilan Phoenix kepada Chanyeol.

"O-oh. A-aku sudah terlalu banyak makan es krim." Ia menjawab asal dan bahkan berpura – pura menggaruk tekuk lehernya yang tak gatal.

"Aku sudah memakan semuanya. Dengan choco chips, selai strawberry, buah strawberry, aku sudah memakan rasa cokelat tapi terlalu manis, yang vanilla enak.. tapi aku lebih suka yang strawberry.. rasanya sama seperti buah strawberry. Four, ini semua buat Baekhyun kan?" Baekhyun berbicara tanpa henti hingga membuat Chanyeol yang mendengarkan tak kuasa menahan tawanya dan ketika Baekhyun bertanya padanya, Chanyeol menggeleng dan mengusak rambut gadis itu.

"Kau menyukainya?"

Baekhyun mengangguk, gadis itu kembali menikmati suapan – suapan sendok es krimnya.

"Kalau aku mengatakan masih ada hadiah lainnya untukmu.."

"Hadiah?" rona merah bahagia terlihat pada wajah Baekhyun ketika mendengar Chanyeol kembali menyebutkan kata 'hadiah' padanya.

Chanyeol mengangguk mengiyakan. "Sebagai permintaan maafku karena.. semuanya.." suaranya terdengar berbisik diakhir kalimatnya.

Baekhyun masih tersenyum disana mendengarkan apa yang Chanyeol katakan padanya.

"Tapi aku harus meminta ijin pada Yoora untuk hadiah kali ini."

"Kenapa?" seketika wajah Baekhyun nampak lesu dan Chanyeol menanggapinya dengan tersenyum lebar.

"Karena ini akan memotong waktu latihanmu."

"Oh." Baekhyun teringatkan kembali bahwa dirinya adalah anggota Red dan banyak jadwal latihan di setiap hari sudah mengisi jadwal kesehariannya.

"Merasa lelah karena latihan kan?" tangan Chanyeol tergerak untuk menyeka sisa es krim didekat mulutnya dan Baekhyun berdiri kaku dihadapannya.

"Oh." Baekhyun membeo disana.

Chanyeol tersenyum disana dan mereka kembali saling bertatap dalam diam. "Semoga Yoora mengijinkan yaa.." Ia memberikan pengharapan lagi dan Baekhyun mengangguk nurut.

.

.

Setelah jam istirahat makan siang Yoora meminta Irene dan Minseok mengumpulkan semua anggota Phoenix dan juga Red didalam ruangan besar. Chanyeol ikut serta dan sudah siap berdiri disebelah sang kakak, mereka diapit oleh Kris dan Irene disamping sisi Chanyeol dan juga Minseok dan Luhan disamping sisi Yoora. Anggota Phoenix berbaris rapi sesuai dengan team divisi mereka. Sementara untuk Anggota Red, barisan terdepan adalah anggota – anggota baru, dan Baekhyun berdiri disana bersama yang lainnya.

"Maaf aku meminta waktu istirahat kalian, aku ingin memberikan sedikit penjelasan dari apa yang sudah terjadi beberapa waktu lalu." Yoora memulai dan suaranya membuat semuanya terdiam siap mendengarkan. "Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada Four dan juga anggota Phoenix lainnya karena sudah merencanakan sebuah rencana yang begitu apik hingga bisa membalaskan perbuatan Sunyoung terhadap keluargaku dan juga keluarga Baekhyun." Yoora melihat kearah Baekhyun sesaat lalu kembali melihat kearah lainnya.

"Dan karena rencana mereka, Sunyoung sudah berada didalam tahanan Red dan tentunya akan diberi hukuman sesuai apa yang Four perintahkan. Aku akan memberikan kesempatan pada semuanya untuk menjalankan prosedur hukuman. Untuk itu.. Aku meminta Minseok dan Luhan memberikan gambaran mengenai hukuman – hukuman apa yang sudah dilakukan Red selama ini, kita akan belajar bersama mengenai itu semua." Kini matanya kembali melihat kearah Baekhyun yang sduah terlihat bingung dengan apa yang Yoora ucapkan.

"Meskipun Sunyoung sudah diamankan.. aku yakin urusan kita tidak selesai disini. Phoenix memiliki data dan juga sebagian rencana apa yang akan Sunyoung jalankan sebelumnya dan kita sebagai Red harus bisa siap siaga untuk membantu." Yoora melirik kearah Chanyeol yang sedari tadi berdiri sigap mendengarkan ucapannya.

"Untuk saat ini itu saja yang ingin aku informasikan kepada kalian, selebihnya aku mengijinkan Irene untuk berbicara." Sontak semua anggota Phoenix mengernyitkan alis termasuk Chanyeol yang mulai menunjukkan raut wajah penuh pertanyaan mendengar Irene diberikan kesempatan untuk berbicara.

"Aku hanya akan mengatakan beberapa hal. Pertama, Lady Yoora sudah mengijinkan dua hari kedepan Phoenix mendapatkan waktu libur." Sontak semuanya bersorak dan tepuk tangan. "Kalian bisa menikmati waktu di luar Safety House, menikmati waktu bebas selama dua hari kedepan. Kedua." Irene terdiam sesaat, melihat kearah semua anggota dan juga Chanyeol dan Kris dalam gerakkan pelan. "Hukuman atas rencana yang tidak dilaporkan pada Lady Yoora tetap berlaku pada saat ini juga." Semua anggota menunduk lemas, Chanyeol dan Kris bahkan melangkah pelan untuk pergi dari tempat mereka berdiri sebelumnya.

"Four! Ace! Lapangan sekarang!" Irene berucap tegas, dan tanpa diketahui keduanya, Yoora, Luhan dan Minseok dengan cepat menarik mereka berdua dalam cengkraman tangan, tak hanya itu seluruh anggota Red tanpa disangka semuanya menyerbu beberapa anggota Phoenix satu per satu dan membawa mereka keluar ruangan menuju lapangan di halaman depan Safety House.

Hanyalah Baekhyun seorang diri yang sama sekali tidak paham mengenai apa yang terjadi dan apa yang harus ia lakukan tapi ia tetap mengikuti kemana semuanya pergi, bahkan ketika sudah berada di luar rumah, Baekhyun memaksakan dirinya untuk berada di barisan terdepan untuk melihat apa yang akan dilakuakn oleh Irene kepada semua anggota Phoenix.

"Irene, sayang.. ayolah ini hanya hal kecil.." Kris mulai menyerukan protest. Pria itu berdiri bertolak pinggang membelakangi beberapa anggota dibelakangnya yang ikut memprotest kearah Irene, tapi wanita itu masih memasang wajah dingin dan angkuh seolah – olah menutup rapat pendengarannya dari suara protest setiap anggota.

"Ayolah.. salahkan Four yang memberikan perintah!" Sehun berteriak dari arah belakang Kris dan semua anggota mendukung.

"Four yang memerintahkan.. jadi dia yang harus menanggung semuanya!" suara lainnya melayangkan protest.

"YAA!" dan sosok yang disebutkan ikut memprotest, Chanyeol sedari tadi berdiri disamping Kris, tidak mengeluarkan protest namun setelah mendengar anak buahnya mulai menyudutkan dirinya, ia kemudian ikut berteriak kearah mereka.

"Sudah diam!" Irene kembali berteriak, "Aku sudah katakan sebelumnya, kalian semua akan mendapatkan hukuman karena membuat rencana tanpa sepengetahuan anggota dan juga Lady, dan kalian bahkan menjalankan perintah itu. Jadi kalian semua akan menerima hukuman." Semuanya mengehela nafas pasrah, kepala menunduk lesu tak lagi berniat melayangkan protest. Chanyeol dan Kris bertukar pandangan mata dan setelahnya menggedikkan bahu tanda menyerah untuk memulai protest lainnya.

"Red.. bersiaplah." Yoora memberikan perintah kepada anggota Red yang sudah paham akan apa yang harus dilakukan. Mereka mengambil senapan angin dan siap pada posisi masing – masing.

"Apa lagi yang kalian tunggu, buka baju dan berbarislah!" Irene memberikan perintah lagi.

Anggota Phoenix lainnya mulai bersiap membuka pakaian atasan mereka dan berebut untuk berada di barisan paling belakang, Kris dengan sukarela berada dibarisan depan, melepaskan kaos hitam yang ia pakai dan membuat beberapa anggota Red yang melihat badannya mulai kehilangan fokusnya.

"Four, cepat buka bajumu." Irene berucap kearah Chanyeol yang masih dalam posisi berdiri dengan kedua tangan dipinggang, sementara ia menatap kearah lain.

"Aku ingin melakukan penawaran." Chanyeol menyerukan suaranya.

"Tidak ada penawaran." Irene menjawab tegas.

"Aku yang akan menanggung semua hukuman anggota Phoenix.. tapi aku ingin meminta satu hal." Chanyeol mengucapkan hal itu dengan pandangan kearah Yoora dan juga Irene secara bergantian.

"Katakan." Yoora menjawab langsung, "Apa yang kau inginkan?"

Tidak ada yang mengeluarkan suara disaat mereka menunggu Chanyeol mengatakan apa yang ia inginkan hingga bahkan rela mau menanggung hukuman dari seluruh anggota Phoenix.

"Ijinkan Baekhyun ikut denganku." Kalimat yang ia ucapkan singkat dan jelas tapi membuat suasana diluar sana menjadi canggung, Kris bahkan terbatuk beberapa kali efek dari terkejut mendengar ucapan Chanyeol, lain hal dari anggota Phoenix yang berseru menggoda.

Lain halnya Yoora yang tidak memberikan jawaban secara langsung. Hanya senyuman yang terbentuk diwajahnya setelah melihat kearah Baekhyun yang berdiri mematung jauh dari tempatnya.

"Bersiaplah menanggung semuanya." Yoora memberikan jawaban dan matanya memberikan perintah pada anggota Red yang memegang senapan untuk bersiap menembak kearah Chanyeol.


FOUR


"Akh! Pelan – pelan."

"Diam bodoh!"

"YAA! Tidak usah memukul kepalaku!"

"DIAM."

Chanyeol menahan ringisan sakitnya ketika Irene mengobati beberapa luka di punggung belakangnya. Dari 100 tembakan yang dilayangkan kearah dirinya seorang diri jelas membuat banyak luka tembakan senapan angin tercipta di punggungnya.

"Lain kali tolong gunakkan otak cerdasmu untuk membuat penawaran." Kris yang baru saja masuk membawa beberapa obat tambahan langsung memberikan komentar kearah Chanyeol. "Hanya demi kencan dua hari kau rela dihujani tembakan semacam ini?"

"Dia buta akan cinta."Irene yang menjawab sembari terus memberikan betadine kearah luka – luka di punggung Chanyeol.

"Ini pengorbanan untukmu juga ngomong - ngomong.." Chanyeol menjawab kearah Kris sambil terus meringis kesakitan.

"Maaf, aku menyukai orang lain." Kris menjawab dengan suara layaknya wanita.

Irene yang memperhatikan kedua orang disana dengan sengaja menekan keras olesan kapas dengan betadine ke luka Chanyeol lalu melempar kapas itu kearah Kris.

"Seharusnya kalian berdua yang berlibur bersama, bukan dengan Baekhyun." Irene berucap lagi seraya melanjutkan olesan – olesan lainnya.

"Kami sudah sering." Kris menjawab asal membuat Chanyeol ingin tertawa tapi rasa ingin meringis kesakitan lebih besar.

"Ngomong – ngomong.. kau belum menjawab pertanyaan Lady sebelumnya.. apa yang kau rencanakan untuk Baekhyun kedepannya?" Irene melontarkan pertanyaan yang mana membuat Kris terdiam dengan wajah serius dan Chanyeol ikut terdiam dalam posisi tidurnya. Kedua tangannya kini bertumpu dibawah dagu memeluk bantal.

"Kau mencintainya 'kan?" Irene bertanya lagi.

Ada jeda keheningan begitu lama dan Irene masih menunggu jawaban dari Chanyeol hingga dirinya tidak lagi mengoleskan obat di punggung pria itu, Kris ikut terdiam, menatap kearah Chanyeol yang termenung menatap jauh kedepan.

"Aku sudah pernah mengatakan pada kalian.. bahwa kami sudah berubah. Aku bukan Chanyeol yang ia kenal dulu.. sedangkan ia masihlah Baekhyun yang sama. Tapi dia adalah anggota Red." Chanyeol mengubah posisi badannya, ia bangkit untuk duduk, memakai kaos hitam dan melihat kearah Irene dan juga Kris bergantian.

"Sejujurnya aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada kami berdua." ada suara tawa renyah yang tercipta dari kalimat yang ia lontarkan. "Kalau aku mencintainya.. apakah ia juga merasakan yang sama? Dan kalau aku tidak mencintainya.. apakah kita bisa kembali berteman seperti dulu?"

"Well.. tanyakkan saja pada Baekhyun.." dengan santai Irene menjawab dan Kris mengangguk setuju.

"Apa yang harus aku tanyakkan?" Chanyeol balik bertanya.

"Dasar pria." Irene meledek. "Kau mau mengajaknya pergi tapi tidak punya rencana untuk menanyakkan hal itu padanya?" dan Chanyeol lantas menggeleng cepat.

"Seorang Park Chanyeol pintar menyusun rencana menyerang musuh tapi lemah dalam menyusun sebuah kencan." Ledeknya didukung oleh suara kikikan dari Kris disana. "Kau juga termasuk ngomong – ngomong." Irene menyudutkan pria itu.

"Apa yang kau pikirkan ketika melontarkan tawaran itu tadi?" tanya Irene pada Chanyeol.

Pria itu memangku tangannya bertumpu pada kedua kakinya yang menekuk diatas ranjang. "Yang aku pikirkan hanya mengajaknya pergi menikmati suasan pantai.. kami berdua menyukai pantai, fyi."

"Kau tidak berencana yang tidak – tidak bukan?"

Irene yang mengerti maksud dari ucapan Kris melemparkan tatapan mengintimidasi kearah pria itu.

"What? Aku hanya memastikan." Kris memberikan penjelasan dan setelahnya mendapatkan lemparan bantal keras kearah mukanya yang mana itu berasal dari Chanyeol.

"Dia baru 17 tahun." Irene mengingatkan. "Minseok bahkan menahan diri untuk memberikan pelajaran level dewasa kepada anak itu dan kalau kau sampai berpikiran untuk menidurinya secepat ini, aku akan meminta Yoora membunuhmu."

"Aku tidak berpikir kesana ngomong – ngomong. Thanks Kris, sudah membuatku terancam."

"Sama – sama."

Irene yang mendengarkan percakapan singkat antara kedua pria itu hanya terdiam malas dalam posisi duduknya dengan bola mata berputar cepat.

"Jadi.. apa rencanamu?" kembali lagi ia mengingatkan mengenai topik pembicaraan utama.

Chanyeol menghentikkan pukulan – pukulan ringan pada badan Kris lalu kembali memposisikan dirinya kearah Irene untuk melanjutkan pembicaraan mereka. "Menurutmu aku harus bagaimana?" Chanyeol berbalik bertanya dan karena ucapannya itu, Irene melemparkan tatapan kesal berserta botol betadine kearahnya.

"Jadi maksudmu memintaku untuk mengobati lukamu itu karena ini! Kau meminta saran untuk berpacaran huh?!"

"Betul sekali." Chanyeol mengangguk.

"Pria aneh." Irene mengejek lagi. "Siapkan buku catatan.. ini akan menjadi pelajaran yang panjang." Maksud ucapan Irene hanya sebuah gurauan tapi nyatanya diluar pemikirannya Chanyeol dan juga Kris sungguh – sungguh mengikuti ucapannya. Mereka berdua sontak bangkit berdiri dan melangkah menuju lemari demi mencari sebuah kertas dan juga pena, lalu kembali duduk rapi dihadapan Irene bersiap mencatat arahan yang akan diucapkan olehnya layaknya murid yang patuh pada sang guru.

.

.

Yoora sengaja mengajak Baekhyun berjalan – jalan berkeliling taman dibelakang Safety House bersamanya. Selain untuk bonding time, Yoora rasa ini saat yang tepat agar keduanya bisa saling terbuka satu sama lain dibandingkan sebelumnya.

"Sebelumnya aku meminta maaf karena selama ini berbohong dan menutupi kenyataan mengenai Chanyeol, aku paham bila kau memiliki rasa kesal terhadapku." Ia memulai pembicaraan dan mengajak Baekhyun untuk duduk pada sebuah kursi taman disana. "Permintaan maafku diterima bukan?"

Baekhyun menurut dan kemudian mengangguk. "Luhannie sudah mengatakan alasan kenapa Chanyeol harus bersikap demikian." Dengan suara polosnya Baekhyun menjawab santai.

"Aku bersyukur Luhan sudah lebih dulu memberikan penjelasan padamu." Senyuman yang diberikan Yoora dibalas serupa oleh Baekhyun.

"Chanyeol sempat mengatakan keadaan kalian sangatlah berbeda, anak itu lebih dulu berbohong diawal mengenai dirimu, dan aku tahu mengapa ia melakukan semuanya." Yoora bersiap menjelaskan setiap detailnya. "Keadaan kalian benar –benar berbeda, kita berada dalam sebuah lingkaran dengan lilitan benang kusut karena perbuatan Sunyoung. Kita mengalami kehilangan. Kehilangan akan kehidupan kita yang seharusnya, kehilangan orang – orang yang kita sayangi hingga kehilangan jati diri."

Baekhyun mendengarka setiap perkataan Yoora dan membenarkan semuanya, apa yang dikatakan wanita disampingnya merangkum semua yang ia alami.

"Kita semua mengalami hal yang sama dan aku yakin itulah yang membuat Chanyeol memiliki ambisi untuk melawan Sunyoung dan membawa wanita itu pada posisi yang seharusnya."

"A-apa dia ditangkap?" suara tanya Baekhyun terdengar masih takut – takut.

"Dia menjadi tahanan Militer namun tetap berada dalam pengawasan Red."

Baekhyun mendengarkan namun kerja otaknya masih begitu awam menangkap apa yang dimaksud oleh Yoora.

"Chanyeol menugaskan Red untuk memberikan hukuman penyiksaan terhadap dirinya, aku belum bisa menjelaskan bagaimana cara kerjanya seperti apa.." Yoora memberikan jeda dan menatap Baekhyun begitu dalam. "Ini akan terdengar teramat sadis dan aku harus tahu bahwa dirimu sudah siap untuk berada dalam tahap ini."

Baekhyun membalas tatapannya dalam diam.

"Sebelum itu..." Yoora mengalihkan, mengambil kedua tangan kecil Baekhyun dan ia berikan usapan lembut. "Baekhyun, kau mendengar apa yang Chanyeol inginkan bukan?" Baekhyun mengangguk ragu dan malu dan Yoora tak tahan untuk menahan senyumnya melihat kepolosan anak itu. "Aku ingin kau menikmati waktu itu bersama Chanyeol, mengingat kembali bagaimana keakraban kalian dan bahkan mungkin bisa membuat kalian berdua sadar akan perasaan kalian masing – masing saat ini. Bohong kalau kalian tidak merasakan perubahan terhadap satu sama lain, dan untuk itu aku ingin kau mencari jawaban itu nantinya, kau mau?"

Baekhyun tidak menjawab perkataan panjang Yoora hanya saja wajah gadis itu mulai memerah merona dan nampak gugup dalam gerak gerik tubuhnya. Yoora menyadari itu semua dan karena itu dirinya tak henti – henti untuk terus tersenyum.

"Aku sudah memperingati Chanyeol ketika aku menanyakkan mengenai status dirimu tergabung dalam Red, anak itu dengan yakin mengiyakan dirimu berada bergabung bersama kami dan sekarang aku tidak tahu apa yang ia inginkan. Aku sudah bisa melihat dari tatapan matanya bagaimana dia amat menyayangimu.. bahkan ketika ia selalu menganggap dirinya adalah Four.. matanya tidak bisa menyembunyikan perasaan terhadapmu."

Yoora tak berhenti tersenyum kearah Baekhyun, ia bahkan tidak sungkan untuk mengusap lembut rona merah yang sangat terlihat kontras di pipi wajahnya.

"Baekhyun, apa kau memiliki perasaan khusus kepada Chanyeol?" Pertanyaan Yoora terucap begitu saja dan semakin membuat Baekhyun salah tingkah karenanya.

Baekhyun belum menjawab atau bahkan mungkin gadis itu tidak tidak tahu harus mengatakan apa untuk menjawab pertanyaan Yoora. Lain halnya dengan Yoora yang tidak tahan untuk terus tersenyum hanya dengan memperhatikan sikap Baekhyun dihadapannya.

"Hua, apa cinta Chanyeol bertepuk sebelah tangan?" Yoora mengambil kesimpulan sendiri yang mana itu sengaja ia ucapkan untuk menggoda Baekhyun.

"Bukan.." Baekhyun menyanggah cepat.

"Oh. Jadi?"

Baekhyun kembali dalam keterdiaman, tangannya bergerak gelisah begitu juga kelopak matanya yang berkedip – kedip.

"A-aku belum tahu.."

"Tidak apa." Yoora menepuk tangan Baekhyun, "Mungkin kau belum menyadari betul bagaimana perasaanmu kepada Chanyeol. Oh, ngomong – ngomong.. menurutmu.. lebih baik mana. Chanyeol atau Four?"

Tak disangka Baekhyun tertawa kecil mendengarnya. "Aku menyukai dua – duanya."

Yoora ikut tertawa setelahnya.


FOUR


Luhan membantu Baekhyun merapikan beberapa pakaian yang akan dibawa gadis itu dalam waktu libur singkatnya bersama Chanyeol. Tidak banyak yang akan dibawa oleh Baekhyun mengingat dirinya tidak mempunyai pakaian cukup banyak layaknya gadis – gadis lain.

"Apa Chanyeol tidak mengatakan kemana tujuan kalian?" Luhan yang tengah melipat baju Baekhyun menanyakkan kepada gadis itu dan Baekhyun menjawab cepat dengan menggelengkan kepala.

"Chanyeol hanya mengatakan ini liburan untuk hadiahku."

"Benarkah? Hadiah apa?"

"Hm.. dia mengatakan hadiah permintaan maaf darinya.."

"Dia pria yang baik." Suara Irene tiba – tiba bergabung. Wanita itu sudah berada di daun pintu kamar Baekhyun dan terlihat membawa satu paper bag di tangannya. "Aku membawakan hadiah untukmu.. Yoora dan aku yang memesan ini dan kami rasa cocok untuk acara liburan kalian." Irene memberikan paper bag itu ke arah Luhan agar bisa diletakkan pada koper kecil Baekhyun.

"Terima kasih.." Baekhyun mengucapkan terima kasih ke arah Irene dan wanita itu membalasnya dengan senyuman terpatri di wajahnya.

"Aku ingin memberikan sedikit nasihat juga.." Irene menyambung lagi, kini dirinya sudah duduk disebelah Luhan. "Mengenai Chanyeol.. aku tahu kalian sudah begitu dekat dulunya dan bila dalam waktu dua hari kedepan ada gerakkan darinya yang sedikit agresif bila didekatmu—"

"O-okey. Ini akan menjadi pembicaraan serius." Luhan lebih cepat mengerti kemana arah pembicaraan Irene sementara Baekhyun masihlah menjadi pihak pasif yang tidak mengerti maksud dua orang didekatnya.

"Aku rasa Baekhyun harus mengetahui kemungkinan yang akan terjadi. Mereka hanya pergi berdua disana dan who know apa yang akan terjadi." Irene memberikan pembenaran.

"Tapi Chanyeol pasti tahu untuk bisa menahan diri—"

"Kalau tidak." Irene menyahut lagi. "Sekeras apapun dia menahan diri.. dia tetap pria. Dan kita berdua tahu pria tidak akan bisa menahan hasrat seksualnya." Kedua alis Irene bergerak naik turun memberikan penekanan arti dari kalimat yang baru ia ucapkan.

Luhan dan Irene masih saling menatap serius, Luhan terlihat ragu disana. Dan pada menit berikutnya Luhan memberikan anggukan kepala sebagai tanda setuju bagi Irene untuk melanjutkan pembicaraan yang sebelumnya terhenti.

"Jadi.. Baekhyun.." Irene beralih kembali kearah Baekhyun dan memaksa anak itu untuk duduk didekatnya mendengarkan penjelasan panjang darinya.

.

.

Esok paginya Baekhyun sudah nampak rapi dengan dandanan sederhana menghiasi setelan pakaian dan juga wajahnya. Baekhyun mengenakkan setelan dress berwarna broken white dengan topi terhias di kepalanya yang menutupi rambut palsu berwarna golden dan Flat shoes melindungi ada dandanan yang begitu berlebihan karena memang ia tidak begitu lihai memoles make up apapun di wajahnya kecuali bedak dan lipstick berwarna terang. Ia sudah menunggu di depan pintu utama dengan satu koper kecil disampingnya, dan masih menunggu Chanyeol yang belum juga nampak di hampir 15 menit selama Baekhyun menunggu disana.

Sudah berulang kali ia melengok ke kanan dan ke kiri atau pun terkadang mengintip sedikit kearah dalam ruangan untuk mencari wujud Chanyeol dan pria itu belum juga terlihat. Hingga akhirnya pria itu muncul dan sudah membawa mobil yang akan mereka gunakkan untuk berpergian.

Chanyeol menyusul Baekhyun, mengendarai mobil Mercedes-Benz miliknya yang ia bawa berhenti tepat di dekat gadis itu.

"Sudah menunggu lama?" sapanya dan Baekhyun menggeleng dalam menjawab.

"Baru beberapa menit." Ada senyuman lebar ia berikan kearah Chanyeol dan dibalas dengan hal serupa.

Chanyeol turun dari mobilnya untuk mengiringi Baekhyun masuk kedalam mobil lalu membawa koper gadis itu kedalam bagasi mobilnya. Mereka terlihat sudah sangat siap untuk melakukan perjalanan.

Perjalanan dimulai begitu mobil yang Chanyeol kemudikan melesat begitu cepat membelah jalan keluar dari belantaran hutan. Dan Baekhyun dibuat terheran – heran dibuatnya karena ini adalah pertama kalinya dia melihat langsung perjalanan disekitar daerah Safety House. Chanyeol tidak berbicara banyak selama di perjalanan, ia hanya sesekali melirik kearah Baekhyun, menanyakkan keadaan gadis itu yang nyatanya nampak begitu senang dan bersemangat memperhatikan kondisi jalanan menuju tempat dimana Chanyeol tuju.

Tiga jam lamanya mereka berkendara hingga tiba didaerah Gangwon-do, Baekhyun mulai bisa melihat garis – garis cakrawala yang membentang membelah lautan dan juga beberapa batu – batu karang terlihat oleh pandangan matanya.

"Kita akan ke Pantai Naksan.." Chanyeol berucap singkat sekedar menginformasikan tujuan ia membawa Baekhyun.

"Naksan.." Baekhyun mengulang, berusaha mengingat – ingat nama tempat itu karena ini adalah pengalaman pertamanya berlibur dan berpergian.

Hal yang membuat Baekhyun begitu takjub melihat sekeliling perjalanannya bukan hanya pantai yang mudah terlihat dari arah jalan raya namun juga deretan pepohonan yang terkumpul disekitar daerah pantai membuat pemandangan yang ia dapat semakin terkesan begitu asri.

Tak begitu lama, Chanyeol menghentikan mobilnya ketika mereka memasuki area parkir Naksan Beach Hotel.

"Ini tempat kita menginap.." Chanyeol menginformasikan, mengisyaratkan mereka berdua untuk turun dari mobil. Baekhyun tak lupa merapikan rambut palsu dikepalanya, memasang kembali topi putih berbentuk bulat diatas kepalanya dan kemudian mengenakkan kaca mata berwarna pink di matanya. Chanyeol membukakan pintu mobil untuknya dan kemudian menawarkan tangannya untuk bisa Baekhyun genggam ketiga keduanya berjalan memasuki lobby hotel.

Sekali lagi Baekhyun dibuat takjub dengan dekorasi hotel tersebut, nampak begitu indah dan modern dan juga terkesan sangat mewah. Chanyeol hanya memperhatikan dan sesekali tersneyum melihat bagaimana Baekhyun begitu bahagia dan terbuai dengan kondisi sekitarnya. Baekhyun bahkan tidak ingat bagaimana proses hingga mereka berdua sudah berada didalam lift dan kini menuju kamar yang akan mereka tempati selama dua hari kedepan.

Lift mereka berhenti di lantai 6, Chanyeol kembali menggandeng tangah Baekhyun sembari mereka melangkah bersama menuju kamar bernomor 6104.

Chanyeol membukakan pintunya, mempersilahkan Baekhyun masuk lebih dulu dan lagi – lagi dibuat kagum dengan kondisi kamar mereka. Ada dua ranjang yang tersedia di kamar itu, sofa berukuran besar, dan juga kamar mandi yang cukup luas, dan yang membuat Baekhyun terbuai terpesona adalah pemandangan pantai yang terlihat begitu dekat dari jendela kamarnya.

"Kau menyukainya?" Chanyeol menanyakkan ketika ia telah usai memindahkan barang – barang bawaan mereka dan menyusul Baekhyun yang masih berdiri di balkon jendela kamar.

"Ini sangat Indah.." Baekhyun menjelaskan, menoleh kearah Chanyeol dengan senyuman lebar. "Terima kasih Chanyeol.." Baekhyun berucap, memamerkan senyuman manisnya kearah Chanyeol lalu kembali atensinya diarahkan pada deru ombak dan sapuan angin laut yang membelai wajahnya.

Chanyeol menyusul ketika ia sudah selesai meletakkan barang – barang yang mereka bawa, ia berdiri tepat disamping Baekhyun dan dibandingkan melihat kearah pemandangan yang disuguhkan didekatnya, ia lebih memilih memandangi Baekhyun disampingnya yang begitu terbuai puas dengan pemandangan pantai sekitarnya.

"Chanyeol ingat? Dulu keluarga kita juga selalu berlibur ke Pantai bukan?" Baekhyun bersuara disana, menoleh sebentar kearah Chanyeol yang tengah memperhatikan dirinya tapi kembali lagi memandangi pemandangan didepannya. "Seandainya mereka semua masih hidup.. pasti kita masih akan terus berlibur bersama – sama sampai sekarang.. iya kan?"

Chanyeol menghela nafas, mengalihkan pandangannya kearah pantai yang sedari tadi dipandangi Baekhyun lalu mengikis jarak untuk merangkul badan mungil disampingnya. "Lupakan saja semua itu.. anggaplah sebuah kenangan indah dan mulai sekarang kita membuat cerita dan kenangan yang lain."

Ada yang terpaksa mengangguk patuh meskipun raut di wajahnya terlihat menahan tangisan begitu kuat. Chanyeol merangkulnya, mendekapnya dengan begitu erat dan juga mengusap bahunya karena pria itu sudah paham bahwa gadis disebelahnya masihlah terjebak dalam kesedihan bila mengingat – ingat kenangan mereka saat kecil dulu.

"Aku mengajakmu kesini sebagai hadiah, bukan untuk melihatmu menangis." Chanyeol memperingati.

"Aku tidak menangis…" Baekhyun membela diri, dengan cepat tangannya mengusap aliran air mata yang mengalir pelan membasahi pipinya.

"Kau tidak bisa berbohong Baek.." Chanyeol mengusak pelan kepala Baekhyun sembari memperhatikan gadis itu yang tengah mencoba meredakan tangisannya. "Ayo, waktu kita tidak banyak disini. Aku akan mengajakmu berkeliling." Chanyeol lebih dulu meninggalkan Baekhyun guna bersiap – siap untuk berjalan – jalan disekitaran pantai, dan Baekhyun mencoba menenangkan dirinya lalu menyusul Chanyeol setelahnya, membenarkan tampilan dirinya sebelum mereka beranjak pergi.

.

Pantai Naksan termasuk objek wisata yang sering dikunjungi oleh wisatawan dalam negeri mauapun luar negeri karena letaknya yang tidak jauh dari Seoul dan juga kondisi sekitar pantai yang memiliki keunikan tersendiri. Terdapat Hutan Pinus tak jauh dari sekitaran Pantai, dan juga restoran – restoran yang menghidangkan sajian makanan laut yang mana cukup ramai karena kualitas yang disajikan sangat berkelas dari segi kualitas makanan.

Hari pertama liburan yang dihadiahkan Chanyeol kepada Baekhyun membawa mereka berdua berkeliling kesekitaran Hutan Pinus. Mereka berjalan berdampingan dengan tangan Baekhyun yang tidak lepas dari genggaman tangan Chanyeol kemana pun mereka berjalan. Dan pemandangan itu sangat wajar mengingat banyak pasangan muda mudi yang berdatangan keareah Hutan itu.

Baekhyun terlihat sangat menikmati waktunya ketika mereka berkeliling daerah Hutan Pinus disana, Chanyeol bahkan membiarkan gadis itu berlama – lama untuk berfoto dan duduk menikmati suasan asri, dingin dan juga segar dari keadaan sekitarnya.

"Aku lapar.." rengekkan Baekhyun terdengar setelah berjam – jam ia habiskan untuk berkeliling di dalam Hutan Pinus, ia merengek kearah Chanyeol namun tak disangka pria itu hanya tertawa kecil sebagai balasannya.

Mereka berkendara lagi menuju tempat yang mana berderet nama – nama restoran yang menghidangkan sajian laut. Chanyeol tidak meminta Baekhyun untuk memilih restoran mana yang ia inginkan, tangan Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun begitu saja dan mereka melenggang masuk kedalam restoran yang terletak paling ujung. Restoran itu memiliki tempat duduk di pasir pantai dan karena hal itulah Chanyeol memilihnya.

"Kita makan disini?" Baekhyun menanyakkan melihat keadaan sekitar restoran itu yang mana hampir semua meja dan kursinta terletak di pasir pantai. Tanpa berpikir panjang, Baekhyun bahkan membuka sepatunya dan membiarkan kakinya menyapa sentuhan halus dari pasir itu.

"Ini indah sekal!" Baekhyun memuji, mendapati ia bisa melihat pemandangan matahari tenggelam dengan jelas dari tempat itu.

"Darimana kau tahu tempat ini?" Baekhyun menanyakkan kearah Chanyeol yang tengah menikmati minuman beer-nya.

"Internet." Ia menjawab singkat.

Baekhyun mengangguk, ia tahu jaman sekarang apapun bisa didapat dengan mudah melalui Internet.

"Apa ini pengalaman pertamamu kesini?" ia bertanya lagi, masih menyimpan rasa ingin tahu dari Chanyeol lebih lengkap.

Chanyeol mengangguk. "Kita berdua sama – sama diasingkan, kau tahu? Aku harus masuk kedalam dunia Militer dan bahkan mengikuti perang sementara dirimu dikurung di dalam kamar tidak bisa pergi kemanapun."

Baekhyun mengangguk setuju dan kembali lagi mengingat masa – masa dimana ia terkurung sendiri di kamarnya. Ia bahkan tidak diijinkan untuk sekedar bertemu dengan Ayahnya meskipun hanya beberapa menit.

Rasanya begitu lama Baekhyun melamun sembari memandangi pemandangan senja didepannya hingga Ia melupakan sajian makan malam yang telah dipesan kini sudah memenuhi meja makan mereka. Baekhyun memulai dengan meminum es kelapa yang Ia pesan tadi sambil memperhatikan Chanyeol yang masih menikmati botol beer di tangannya.

"Apa itu enak?" Baekhyun menunjuk botol itu dengan tatapannya.

"Jangan coba – coba.." Chanyeol memperingati dan setelahnya bibir Baekhyun terpoutkan dengan begitu menggemaskan yang mana membuat Chanyeol tersenyum melihatnya.

Selesai menyantap hidangan makan malam, mereka berdua memutuskan kembali ke Hotel karena Baekhyun merasakan kakinya sudah tidak sanggup berjalan dan perutnya yang terasa penuh karena semua makanan yang ia santap habis.

Chanyeol membawa mereka kembali ke Hotel dan sesampainya disana Baekhyun langsung menjatuhkan dirinya keatas ranjang. "Aku lelah.." ia berkata demikian dan Chanyeol membiarkan karena ia pikir anak itu hanya mengeluh kelelahan dan tidak menyangka pada menit berikutnya Baekhyun benar – benar terlelap tidur dengan masih mengenakkan tas selempangnya dan juga sepatu.

Mau tidak mau Chanyeol melepaskan satu per satu. Ia bahkan mencopot bagian rambut palsu yang Baekhyun kenakan, membenarkan posisi tidur gadis itu lalu menutupi badan Baekhyun dengan selimut.

Kecupan singkat ia berikan pada kening Baekhyun sebelum ia memutuskan untuk menikmati mandi malamnya.

.

Baekhyun terbangun begitu saja karena rasa haus yang memenuhi tenggorokannya, ia bangkit duduk dan menenggak air dalam gelas yang ada di meja dekat ranjangnya. Ia meminum semuanya hingga habis lalu memutuskan untuk kembali tertidur.

Pada awalnya, matanya mulai bisa Ia ajak untuk memejam erat. Tapi ketika mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka serta suara langkah milik Chanyeol mulai terdengar. Keinginan untuk tidur kembali Baekhyun urungkan dan memilih mengira – ngira apa yang Chanyeol lakukan nantinya. Baekhyun mensyukuri dirinya memilih ranjang yang dekat dengan balkon jendela, terlebih ia tengah tidur menghadap kearah itu dan bisa melihat Chanyeol yang masih bertelenjang dada tengah memunggungi dirinya.

Pria itu masih memegang botol beer yang entah sudah botol keberapa pada hari ini ia minum, memandangi pemandangan malam di pantai itu dan terlihat tengah memikirkan sesuatu disana seorang diri.

Baekhyun berhati – hati memperhatikan Chanyeol disana, satu tangannya menggenggam erat selimut yang menutupi dirinya untuk berjaga – jaga ketika Chanyeol melihat dirinya. Meskipun kondisi ruangan kamar mereka sudah nampak gelap karena tidak ada satu pun lampu yang dinyalakan oleh Chanyeol.

Debaran di jantung Baekhyun dirasa semakin menggila ketika kedua matanya melihat bagaimana pemandangan bagian depan dari tubuh Chanyeol, Baekhyun bisa melihat dengan jelas otot – otot yang terbentuk di perut dan dada bidang pria itu. Ini bukan pertama kalinya ia melihat dengan jelas bentuk badan pria itu, tapi ini pertama kalinya ia meraskan debaran dan desiran aneh ketika tengan memandangi badan Chanyeol dan semuanya semakin ia rasakan ketika matanya melihat kearah genggaman tangan Chanyeol yang tengah memegang botol, deretan tattoo yang terlihat menghiasi kekar tangan itu semakin membuat kerja otak dan seluruh tubuhnya tidak wajar.

Baekhyun perlahan – lahan lebih berhati – hati memperhatikan Chanyeol yang kini sudah masuk kembali kedalam kamar dan duduk pada sofa yang menghadap kearah tempat tidurnya. Sesekali ia memejamkan mata ketika dirasa cukup lama ia memperhatikan pria yang masih disibukkan dengan botol beer-nya. Chanyeol duduk dengan santai disana, merebahkan badannya untuk rileks sambil memikirkan sesuatu dan pada akhirnya ketika ia tengah melihat kearah Baekhyun, mata gadis itu terlihat terbuka dan tengah melihat kearahnya.

Baekhyun salah tingkah dan langsung memejamkan matanya begitu saja, sementara Chanyeol berpindah untuk terbaring disampingnya. Pria itu berbaring menyamping dengan salah satu tangannya sebagai bantal kepala.

"Tidak bisa tidur?" Chanyeol bertanya kearah Baekhyun yang masih berpura – pura memejamkan matanya. "Mau aku nyalakan lampunya?" kali ini Baekhyun menggeleng.

"Tidurlah Baek.. besok hari terakhir kita berlibur." Chanyeol mengusap kepala Baekhyun dengan penuh sayang.

Gadis dihadapannya masih memejamkan matanya karena merasa malu untuk kembali saling bertatap mata dengan Chanyeol. Tapi mulutnya berucap begitu saja mengungkapkan rasa yang sudah lama ingin ia katakan langsung ketika mendapati Chanyeol berada didekatnya.

"Terima kasih Chanyeol.. Terima kasih karena sudah kembali." Baekhyun berucap begitu saja, menenggelamkan wajahnya dibalik selimut dengan mata terpejam tanpa tahu ucapannya membuat perasaan pria dihadapannya kembali merasakan perasaan sayang begitu dalam tanpa lagi bisa ia hindarkan.

Chanyeol tidak menjawab ucapan Baekhyun, pria itu dengan kurang ajarnya semakin mendekatkan wajahnya kearah Baekhyun, menarik selimut yang menutupi wajah gadis itu dan kemudian mencium bibir Baekhyun tanpa ijin, membuat sang pemiliki membelakkan matanya merasakan ciuman dari Chanyeol yang begitu dalam dan basah.

tbc