Hello there~

Maaf lama :') sibuk dengan urusan bernama kehidupan soalnya…

Langsung aja lah yahh


"Kaizo! Arah jam tiga!"

Kaizo menoleh dan mendapati ledakan yang cukup besar. Ia mengaktifkan masknya dan mengaktifkan dinding energi, namun ternyata Ia terlambat sehingga ia terlempar dan terbating begitu jauh. Ia berusaha untuk berdiri namun kepalanya masih sakit karena efek benturan yang keras. Tak lama terdengar suara Laksamana Maskmana dari alat komunikasinya.

"Kaizo, kau tidak apa-apa?"

"T-tidak apa-apa, Laksamana. Hanya benturan di kepala. Saya akan segera kembali ke lapangan."

Kaizo mendengar teriakan perintah dari Laksamana Maskmana sebelum alat komunikasinya kembali diam. Ia mengambil napas sejenak untuk menghentikan rasa sakit yang ada dikepalanya. Dirasa rasa sakit di kepalanya memudar, ia berdiri dan kembali dalam pertarungan.

Kaizo tidak bisa fokus dalam pertarungannya. Bayangan adiknya yang tiba-tiba jatuh tak sadarikan diri dan ditarik oleh salah seorang anggota dari musuh mereka membuatnya geram. Serangannya mulai terlihat seperti hanya pelampiasan. Tidak ada teknik atau rencana dibalik serangannya. Armor Laksamana MaskmanaIa pun terlihat kerusakan yang membuatnya tidak bisa berfungsi secara maksimal akibat dari serangan bertubi-tubi. Kaizo dan Laksamana Maskmana sudah bertarung begitu lama membuat energinya semakin lama semakin habis diperparah dengan musuh yang terus mengirimkan pasukan dan luka yang mereka dapatkan karena waktu pertarungan yang cukup lama membuat mereka membuat mereka semakin lelah. Bala bantuan yang dikirimkan TAPOPS pun terasa tidak memberi efek apa-apa mengingat kebanyakan dari anggota TAPOPS pergi ke planet lain entah untuk misi diplomasi atau pengumpulan informasi dan yang tersisa hanya anggota baru yang belum terbiasa dalam perang.

Ditengah mereka bertarung, pengeras suara dari markas organisasi itu menyala dan seseorang dengan suara yang serak berbicara.

"Mundur. Kalian tahu kalian akan kalah jika kalian meneruskannya. Jika kalian ingin prajurit kalian kembali, kami akan melepaskannya jika kau mau memberikan kami Boboiboy dan Power Spherenya. Kalian tahu apa yang akan terjadi jika kalian tidak menurutinya. Pasukan, Mundur."

Tak lama pasukan mereka pun perlahan-lahan mundur dan hanya tersisa beberapa saja yang masih bertarung dengan pasukan TAPOPS. Kaizo yang geram mendengar ucapan yang diucapkan oleh orang yang ada dibalik speaker kemudian menebaskan pedangnya semakin liar dan semakin kuat. Ia tidak mau mengakui bahwa ia "dikasihani" dan "diancam" oleh musuh.

Kaizo tahu organisasi kriminal ini memang memiliki pertahanan dan perencanaan yang begitu detail. Ia tahu ini bukanlah misi yang bisa diselesaikan dengan gampang walaupun Laksamana Maskamana sudah memperlemah pertahanan mereka dari dalam. Ia sudah merencanakan dan berdiskusi dengan Komandan Kokoci dan Laksamana Tarung untuk mengirimkan bala bantuan jika ada sinyat darurat dari mereka. Ia sudah mempunyai rencana-rencana cadangan jika ada misi kali ini tidak bisa berjalan lancar. Semua sudah ia rencanakan entah itu bala bantuan, senjata cadangan, formasi pertarungan dan taktik pertarunngan. Ia merasa semua sudah bisa dikendalikan, namun Ia tidak menyangka bahwa adiknya akan dijadikan sandra oleh mereka. Organisasi ini terkenal dengan perdagangan budaknya. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Fang jika mereka tidak berhasil menyelamatkan Fang, adik satu-satunya dan anggota keluarga yang ia bersumpah untuk lindungi. Ia bersumpah Ia akan membunuh orang-orang yang berani menyentuh adiknya. Ia akan membunuhnya perlahan dan penuh rasa sakit dan-

"..zo! K...ZO! KAIZO! BERHENTI!"

Kaizo seketika berhenti dan menatap Laksamana Maskmana.

"Laksamana?"

"Berhenti, Kaizo. Lepaskan. Dia sudah tidak berbentuk."

Kaizo menatap heran Laksamana Maskmana dan perlahan menolehkan kepalanya kearah tangannya, "Apa yang Laksamana—"

Ia terhenti melihat alien—atau apa yang tersisa darinya- yang ada di tangannya. Ia melihat ke sekitarnya yang hanya tersisa ia, laksamana dan korban dari pertarungan. Ia kembali melihat kearah Laksamana. Ia tidak sadar melakukan ini.

"Laksamana—"

"Kaizo, kita harus mundur."

Kaizo menunduk tidak menjawab. Ia tahu lebih baik mundur dan menyusun ulang strategi. Mungkin menunggu Laksamana lain untuk datang dan membantu mereka, tapi Ia merasa jika diulur terlalu lama siapa yang tahu apa yang akan terjadi pada Fang.

"Aku tahu kau khawatir, Kaizo. Tapi kita tidak mungkin menolong Fang kalau kita sendiri terbunuh disini."

Kaizo terdiam sejenak kemudian menjawab lirih, "Baik, Laksamana."


"Itu saja status dan penjelasan tentang musuh kita kali ini dari ku."

Mendengar penjelasan dari Komandan Koko Ci membuat mereka ingin segera sampai agar bisa membantu Laksamana Maskmana dan Kapten Kaizo.

"Bagaimana dengan Fang?" tanya Boboiboy.

Saat Komandan Koko Ci ingin menjawab, terdengar suara pesan yang masuk. Komanda Koko Ci terlihat membaca pesan tersebut sebelum kemudian kembali berbicara.

"Aku baru saja mendapat pesan dari Laksamana Maskmana bahwa mereka sekarang sedang mundur dan sedang menunggu bantuan yang lain. Ia juga berkata bahwa musuh menginginkan Boboiboy dan Ochobot jika ingin Fang kembali tapi itu pasti jebakan. Setibanya kalian disana kuharap kalian berhati-hati dan tidak langsung menyerang musuh walaupun kalian ingin segera menolong Fang. Laksamana Amato dan Laksamana Tarung tiba disana beberapa saat setelah kalian mendarat. Sementara itu, kalian berunding dengan Laksamana Maskmana dan Kapten Kaizo untuk merencanakan strategi."

Mendengar itu Boboiboy mengeratkan kepalan tangannya frustasi. Mendengar penjelasan tentang organisasi seperti apa musuh mereka saja sudah membuat dirinya bertanya bagaimana bisa ada mahkluk seperti mereka, entah bagaimana dengan Fang yang ditahan oleh mereka.

"Baik, ini saja dariku. Semoga sukses dan berhati-hatilah dalam misi kali ini. Salam untuk kalian."

"Salam, Komandan Koko Ci." Balas mereka yang diikuti komandan yang menutup sambungan.

Tak lama setelahnya, mereka sudah tiba di planet tujuan mereka. Mereka memeriksa daerah yang aman sebelum mendarat dan mencari sinyal kapal angkasa Laksamana Maskamana untuk mengabari bahwa mereka sudah tiba. Setelah mereka mendarat, mereka bergegas pergi ke tempat Laksamana Maskmana. Disana, mereka terdiam dengan apa yang mereka lihat. Di depan kapal Laksamana Maskmana, ada banyak prajurit yang terluka, medis yang berlarian kesana-kemari dengan membawa kotak obat dan hal lain dan tumpukan rongsokan yang terlihat seperti senjata yang sudah rusak. Dari situ saja mereka bisa melihat bagaimana cara kerja musuh mereka.

"Ah, Boboiboy, Yaya, Ying, Gopal. Kalian sudah sampai. " ucap Laksamana Maskmana berjalan keluar dari kapal angkasanya.

"Salam, Laksamana." ucap mereka bersamaan.

"Ikut aku. Kita dikusikan strategi selanjutnya."

Mereka membalas mengangguk dan mengikuti Laksamana Maskmana. Ketika mereka sampai di suatu ruangan, mereka melihat Kaizo yang duduk menunduk dan tidak menyadari kehadiran mereka. Mereka tidak perlu melihat wajah dari Kaizo untuk tahu seperti apa ekspresinya sekarang.

"Kaizo."

Mendengar namanya dipanggil, Kaizo menegakan badannya dan mengangkat kepalanya. Ekspresinya terlihat netral dan profesional, seperti tidak terjadi apa-apa.

"Laksamana." Ucapnya dengan nada datar.

"Boboiboy dan teman-temannya sudah datang. Kita rencanakan dulu strategi sembari menunggu Amato dan Tarung datang."

"Baik, Laksamana." Jawab Kaizo.

Laksamana Maskmana mengangguk pelan dan mengisyaratkan Boboiboy dan yang lain untuk duduk. Setelah mereka sudah duduk, Maskmana memulai perencanaan mereka.


Ditengah perencaan mereka, terdengar suara notifikasi pesan yang masuk dari alat komunikasi Laksamana Maskmana. Laksamana Maskmana membaca pesan itu sesaat sebelum akhirnya berdiri dan berkata, "Kalian lanjutkan dahulu. Amato dan Tarung sudah sampai. Aku akan menunggu mereka diluar." Kemudian berjalan keluar.

Tak lama, Maskmana kembali dengan dua orang yang ada dibelakangnya yang tak lain adalah Amato dan Tarung. Boboiboy yang melihat ayahnya berdiri dan mendekati ayahnya.

"Ayah!"

"Oho, Boboiboy. Baru sebentar Ayah pergi diplomasi kau sudah sebesar ini?" ucapnya sambil menepuk kepala anaknya."

"Aku tidak tahu kalau tiga bulan itu sebentar atau tidak, yah."

"Hahaha... maaf maaf."

"Sudah, itu kita kesampingkan dulu. Sekarang ada yang harus kita lakukan." Sela Laksamana Maskmana sembari mengisyaratkan mereka duduk

"Ah, kita akan melawan organisasi yang kau selidiki selama ini, Maskmana? Aku sudah lama ingin menjatuhkan mereka. Terlalu banyak korban." Ucap Amato sambil menarik kursinya kemudian menjatuhkan dirinya diatasnya.

Laksamana Tarung menggumam setuju dan berkata, "Tapi bukankah seharusnya ini misi ini bisa selesai lebih cepat tanpa ada masalah seperti ini? Kau bilang kita bisa menyerang tanpa masalah, Maskmana."

Laksamana Maskmana menghela napas sebelum menjawab,

"Ternyata selama ini ada agen ganda di markas TAPOPS dan dia masuk pada saat TAPOPS sedang di masa sulit dan butuh rekrut baru. Saataku, Kaizo dan Fang hendak masuk dan menjalankan rencana, tiba-tiba datang kapal dari TAPOPS. Saat aku datangi kapal itu, pasukan musuh ternyata ada didalamnya dan mulai menembak. Sisanya, kau tahu semua dari Koko Ci."

"Bagaimana dengan agen ganda itu?" Tanya Tarung

"Ia menangkap Fang dan menjadikannya sandra. Mereka bilang jika ingin Fang kembali, kita harus menyerahkan Boboiboy dan Ochobot. Aku tahu ini hanya akal mereka saja karena mereka tidak mengatakan mereka akan mengembalikan Fang hidup atau mati. Kita harus cepat jika kita ingin Fang kembali dengan keadaan hidup."

"Apa Koko Ci mengatakan akan ada bala bantuan lain yang akan datang?" Tanya Tarung kembali.

Laksamana Maskmana menggeleng pelan. "Yang lain sedang dalam misi entah itu diplomasi atau pengumpulan informasi dan mereka tidak bisa membantu. Kalaupun bisa, tidak akan sempat."

Boboiboy melihat Laksamana Tarung mengeratkan kepalan tangannya dan menahan emosinya, Ayahnya memasang ekspresi serius, Kaizo yang menunduk membuat rambutnya menutupi ekspresi wajahnya dan teman-temannya yang terlihat bingung harus melakukan apa. Suasana ruangan terasa penuh tekanan bahkan Boboiboy, Yaya, Gopal dan Ying merasa mereka tidak bisa bernapas sebelum akhirnya Laksamana Amato angkat suara.

"Kupikir kita sudah cukup untuk melawan organisasi ini dan menyelamatkan Fang."

Semua yang ada di ruangan itu melihat kearah Laksamana Amato.

"Maksudmu?"

"Maskmana, bagaimana dengan power sphere mu?"

"Hanya kerusakan ringan dan sedang diperbaiki."

"Hm... itu mungkin akan butuh waktu dua sampai tiga jam. Bagaimana dengan prajurit?"

"Ada beberapa yang mengalami luka berat dan yang tak sadarkan diri, tapi masih ada banyak prajurit yang bisa bertarung."

Laksamana Amato terdiam dan menuliskan sesuatu di kertas yang ada didepannya. Selesai menulis, Laksamana Amato menoleh kearah Laksamana Tarung.

"Tarung, aku butuh kau untuk menyiapkan kostum tarung mu dan simpan energimu."

Laksamana Tarung membalas mengangguk. Setelah itu, Amato menoleh kearah Boboiboy dan Ochobot.

"Ocho, kekuatan jam kuasa Boboiboy dan yang lain sudah stabil bukan?"

"Sudah, Laksamana."

"Boboiboy, kau masih bisa berpecah menjadi tiga dan melakukan fusion?"

"Iya, yah."

Laksmana Amato mengangguk kemudian menoleh kearah Gopal, Yaya dan Ying.

"Gopal, Yaya, Ying, kalian sudah mendalami kemampuan kalian dalam menggunakan jam kuasa kah?"

Mereka mengangguk. "Sudah, Laksamana."

"Bagus." Ucap Laksamana Amato kemudian menoleh kearah Kaizo yang masih memasang ekspresi netral, tatapannya begitu jauh seakan dia tidak ada di ruangan itu.

"Kaizo."

Kaizo memfokuskan pandangannya ke arah Laksamana Amato.

"Ya, Laksamana?"

"Apa kau mengalami luka serius?"

"Tidak, Laksamana."

"Bagaimana dengan mask helmetmu dan senjatamu?"

"Hanya mengalami sedikit kerusakan, Laksamana. Sekarang sedang diperbaiki bersama dengan power sphere Laksamana Maskmana."

Laksamana Amato mengangguk puas mendengar jawaban dari Kaizo. Ia terdiam sebentar seperti memikirkan sesuatu kemudian menulis kembali di kertas. Seisi ruangan memasang ekspresi bingung dan heran kearah yang bersangkutan, meminta penjelasan apa yang dipikirkannya. Setelah selesai menulis, Laksamana Amato kembali membaca kertas yang ada didepannya dan mengangguk puas.

"Ini lebih dari cukup. Kita bisa mengalahkan mereka. Ini rencananya." Ucapnya kemudian menjelaskan strategi yang ia pikirkan.


Yak segitu dulu...

Komentarnya mungkin kakak-kakak?