SELAMAT TAHUN BARU SEMUA

Maaf lama banget updatenya karena selain WB, urusan RL yang gak bisa ditunda huhuhu... aku usahain buat update paling gak seminggu sekali m(_ _)m

Dah lah yah langsung saja


"Begitu rencananya. Sederhana bukan? Improvisasi jika perlu namun jangan lupa untuk mengabari yang lain jika ada perubahan yang perlu dilakukan." Amato menepuk tangannya setelah menjelaskan strateginya.

Semua yang ada di ruangan rapat menganggukan kepalanya kecuali Kaizo. Amato bisa melihat ekspresi skeptis dari Kaizo walau tertutupi dengan ekspresi datar wajah yang biasa Kaizo pasang.

"Kalau begitu segerap persiapkan sesuai rencana. Dua jam lagi bala bantuan dari TAPOPS akan datang dan setelah itu kita akan berangkat. Oh, Kaizo, tinggal disini sebentar. Ada yang ingin ku bicarakan."

"Siap, Laksamana."

Setelah yang lain sudah keluar dari ruang rapat, Amato duduk di hadapan Kaizo kemudian memanggil pemuda yang ada di depannya.

"Kaizo."

"Siap, Laksamana."

"Kau tidak yakin dengan rencana ini?"

Kaizo terdiam sejenak kemudian menjawab, "Ya, Laksamana."

"Alasannya, nak."

Kaizo membuka mulutnya berniat untuk mengutarakan alasannya namun kembali menutup mulutnya dan terdiam.

"Aku tahu jelas kau ingin menyelamatkan Fang secepat mungkin. Namun cepat bukan berarti bisa berhasil. Aku yakin kau ada pikiran untuk menyerahkan Boboiboy dan Ochobot kepada mereka walau hanya sekelebat."

Kaizo tetap terdiam dan menundukan kepalanya seakan mengkonfirmasi ucapan Amato.

"Kau sudah cukup lama di medan perang nak. Aku juga yakin kau tahu dengan siapa kita berhadapan. Aku yakin mereka akan berharap kita mengeluarkan semua kartu kita saat melawan mereka dan jelas itu yang mereka harapkan. Disaat itu kita semua akan kewalahan karena kita sudah dibaca terlebih dulu oleh mereka dan kita tidak punya rencana lain. Sederhana memang, tapi improvisasi di rencana ini masih bisa dilakukan, dan yang paling penting kerja sama dan komunikasi mu dengan yang lain. Aku yakin mereka tidak menyangka kita akan melakukan ini."

Hening mengisi ruangan sebelum akhirnya Amato berdiri dan berjalan mendekati Kaizo.

"Tidak hanya kau yang khawatir soal Fang. Aku, Maskmana, Tarung, Boboiboy dan teman-temannya juga sama denganmu. Sekarang fokus jalankan sesuai rencana. Bisa, Kapten Kaizo?"

"Siap bisa, Laksamana."

"Kita bisa menyelamatkan adikmu, Kaizo. Yakin kepada dirimu sendiri dan anggota TAPOPS yang lain." Ucap Amato sambil menepuk bahu Kaizo kemudian berjalan keluar dari ruang rapat, meninggalkan Kaizo yang kembali larut dalam pikirannya.


"Ugh..."

Kesadaran mulai kembali sedikit demi sedikit kepada Fang. Ia mulai merasakan tali yang mengikat tangan dan kakinya serta dinginnya tempat ia berbaring.

'Dimana ini? Markas musuh?'

Fang membuka sedikit matanya dan disambut oleh gelapnya ruangan. Di depannya, Ia bisa melihat ada cahaya yang masuk dari celah-celah yang kemungkinan tempat pintu berada. Kemudian terdengar suara yang mendekati ruangannya dan berhenti di depan pintu. Fang mulai memikirkan rencana dan pelatihan yang pernah ia lakukan sebelumnya.

'Abang pernah bilang, di keadaan seperti ini lebih baik kembali pura-pura tak sadarkan diri.'

Fang kembali menutup matanya dan mengatur pernapasannya agar tetap terlihat seperti tak sadarkan diri. Ia mendengar langkah kaki yang mendekatinya sebelum akhirnya berhenti dan mendengar orang-orang yang didepannya berbicara.

"Masih belum bangun."

"Kalau kau tidak memberi obat bius sebanyak itu mungkin dia sudah sadar sekarang."

"Hey, jaga-jaga."

"Ya, ya, terserah."

"Taruhan. TAPOPS tidak akan memberikan Boboiboy dan Ochobot."

"Oho? Kesepakatan?"

"Seminggu membersihkan toilet."

"Terlalu mudah."

"Tambah yang kalah bayar makan selama seminggu?"

"Sepakat."

Fang merasakan mereka berjalan mendekatinya.

"Kira-kira berapa harga anak ini? Sepuluh juta?"

"Hah. Terlalu rendah. Lima puluh paling tidak."

Kemudian Fang bisa merasakan ada yang mendekatinya dan menunduk di depan wajahnya.

"Cantik. Sayang kita tidak bisa menyimpannya."

"Apa yang kau pikirkan? Jangan gegabah atau bos akan menghabisimu."

"Aku tahu, bodoh. Tapi apa salahnya mengapresiasi keindahan? Mungkin mimpiku indah malam ini." Ucapnya diikuti tawa dengan nada rendah. Fang bisa merasakan gemetar yang berjalan di tulang punggungnya.

"Kau dan imajinasi liar mu."

"Sudah lama kita tidak kedatangan tamu. Lagipula, apa salahnya bermain sebentar?"

Mendengar itu Fang berusaha tidak panik dan tetap mengatur pernapasannya.

'Apa maksudnya? Apa yang ingin dia lakukan?'

"Hei, kalian! Apa yang kalian lakukan disini?!"

"Oho? Tenang. Kita tidak mengganggu makhluk kecil ini."

"Kembali ke posisi kalian!"

"Ya, ya. Kaku sekali."

Fang merasakan orang yang didepannya berdiri dan berjalan menjauhinya. Kemudian, terdengar suara pintu yang tertutup dan dikunci. Fang tetap menutup matanya dan mengatur pernapasannya, takut kalau mereka hanya memasang perangkap. Setelah dirasa sudah cukup lama dan sudah aman, ia membuka sedikit matanya dan melihat kesekitarnya.

'Aku harus segera kabur dari sini Oh, jam kuasa?'

Fang mencoba memutar tanganya yang diikat dan mencari jam kuasa yang ada ditangannya.

'Ah, masih ada. Sekarang bagaimana keluar dari sini?'

Fang mulai memutar otaknya dan menyusun rencana.


"Ayah!"

Mendengan anaknya memanggilnya, Amato yang sedang memasang armornya menoleh kearah Boboiboy sambil memasang ekspresi tegas.

"Kita di dalam perang, prajurit. Dimana etikamu?"

Boboiboy terkejut kemudian memberi hormat dan menundukan kepalanya. "Ma-maaf, Laksamana. Saya tidak bermaksud..."

Hening menemani mereka sampai akhirnya terdengar tawa dari Amato. Boboiboy yang heran dengan perubahan sikap ayahnya memasang wajah heran dan bertanya dengan suara kecil.

"La-laksamana?"

Amato melanjutkan tertawanya dan Boboiboy hanya bisa terdiam heran sampai ayahnya mulai berhenti tertawa.

"Hahaha... maaf Boboiboy. Ekspresi mu lucu sekali hahahaha"

"Laksamana?"

Amato tertawa kecil. "Hahh, kapan terakhir kali aku tertawa lepas? Ahh, pipi ku sakit. Ya, kesampingkan itu, kau harus membiasakan untuk tidak memanggil ku Ayah di saat tugas Boboiboy. Orang lain akan mengira kau spesial dan mempersulitmu nanti."

"Ya, Laksamana, akan saya perbaiki."

Amato mengangguk puas dan berkata, "Ada apa tadi?"

"Oh, saya ingin bertanya soal Kapten Kaizo."

"Kaizo?"

"Ya, Laksamana. Saat saya bersiap-siap tadi, Kapten Kaizo masih terlihat duduk di ruang rapat. Saat saya bertanya kenapa dia belum bersiap-siap, dia hanya menjawab "Diam." seperti itu. Saya khawatir Kapten Kaizo tidak akan turun di pertarungan nanti. "

Amato memasang senyum tipis dan menepuk bahu Boboiboy. "Biarkan dia. Jika dalam tiga menit sebelum berangkat dia masih seperti itu, ku beri kau ijin untuk memukul kepalanya dan menyeretnya keluar, Boboiboy."

"Siap, Laksamana."

"Sekarang kembali ke teman-teman mu. Kembangkan rencana yang tadi kita bicarakan. Aku juga akan kembali bersiap-siap."

"Siap, Laksamana. Terima kasih." Ucap Boboiboy kemudian berbalik ke arah ruang utama.

Amato kemudian kembali memasang dan melengkapi armornya.

"Murid mu keras kepala sekali, Maskmana." Ucap Amato tanpa menghentikan aktivitasnya.

Maskmana yang sedari tadi ada di balik koridor dekat Amato berada menampilkan dirinya dan berjalan ke arah Amato.

"Apa maksud mu?" ucap Maskmana.

Amato menyelesaikan sentuhan terakhir di armornya dan menoleh kearah Maskmana.

"Kau."

Maskmana menyilangkan tangannya. "Kau menyindir ku?"

"Kau yang bilang. Bukan aku." Amato mengangkat kedua tanganya tanda menyerah.

"Terserah kau saja." Ucap Maskmana kemudian berjalan menjauh.

Amato menunggu sampai Maskmana berjalan cukup jauh kemudian menghela napas.

"Lihat? Benar-benar keras kepala." Ucap amato kemudian menggelengkan kepalanya dan tertawa pelan.


if you squint and tilt your head lil' bit, you'll see other chesmistry and sorry not sorry wwwww
dah segini aja dulu... nanti update lagi

komennya kak?