A/N: HALO SEMUA OwO)/

Gak tau mo ngomong apa euy jadi langsung aja lah yah? Happy reading guys.


Setelah para alien itu pergi, Fang menggunakan kuasa bayangnya untuk memeriksa ruangan tersebut, berjaga-jaga jika di ruangan itu ada orang yang berjaga-jaga, kamera pengawas atau semacamnya. Setelah dirasa yakin bahwa tidak ada penjaga dan kamera pengawas, Fang berusaha melepaskan ikatan yang ada ditangannya. Untungnya dengan berbagai pelatihan yang ia pernah jalani dan trik yang pernah diajarkan oleh kakaknya, itu bukan hal yang susah.

'Sekarang, bagaimana cara keluar dari sini?'

Fang mengaktifkan kacamatanya untuk memindai ruangan dan melihat ada ventilasi udara di langit-langit. Ukurannya seperti ventilasi pada umumnya dan terlihat seperti cukup untuk ukuran badannya. Fang mencoba memasuki ventilasi tersebut dengan bantuan kuasa bayangannya. Setelah berhasil, ia kembali menyalakan kacamatanya dan memeriksa denah ventilasi dengan menyebarkan kuasa bayangnya.

'Hm, denahnya seperti ventilasi pada umumnya. Kalau begitu, aku bisa keluar dengan cepat.'

Dengan bantuan denah yang ada di kacamatanya, Fang mulai merangkak pelan menuju kearah yang ia yakini merupakan arah keluar. Selama merangkak, ia menyadari bahwa sama sekali tidak ada suara disetiap ruangan yang ia lewati. Ia kemudian memeriksa jam kuasanya dan kembali menyebar kuasa bayangnya, takut kalau ia ternyata dijebak. Setelah selesai dan memastikan ventilasi aman, ia kembali merangkak pelan.

'Harusnya bala bantuan dari TAPOPS sudah datang. Mungkin mereka sedang berperang kembali.'

Tak lama kemudian, Fang merasakan ada angin kencang yang menerpanya dan menyadari sampai ditujuannya. Ia bisa melihat hamparan pasir yang ada dibalik teralis ventilasi yang ada didepannya.

'Jalan keluar!'

Fang merangkak kearah ventilasi tersebut lebih cepat dan kemudian berusaha membuka teralis ventilasi yang ada didepannya. Setelah berhasil membuka teralis dan turun dari ventilasi tersebut, Fang membalikan badannya dan berniat berlari kembali ke arah kamp TAPOPS. Namun, tiba tiba ia merasakan lehernya dipukul keras dari belakang dan kemudian gelap memenuhi pandangannya sebelum ia terjatuh.


Boboiboy melihat ayahnya yang berjalan di depan, memimpin pasukan ke daerah musuh, sementara Tarung, Maskmana, Kaizo, ia dan kawan-kawannya berjalan dibarisan kedua diikuti dengan pasukan TAPOPS dibelakang mereka. Semakin dekat mereka, semakin Boboiboy dapat merasakan aura yang tidak enak dari musuh mereka. Ia bisa melihat ketua dari pasukan musuh dan pasukan yang ada dibelakangnya. Walau hanya dari jauh, ia bisa melihat dengan jelas pemimpin musuh berbentuk seperti manusia, namun kulitnya berwarna lavender dan rambutnya yang pendek berwarna putih dengan jubah berwarna biru tua berkibar dibelakangnya. Di belakangnya, Boboiboy melihat apa yang dibawa oleh pasukannya. Pasukan mereka terlihat memiliki banyak senjata baik senjata laras panjang yang mereka pegang, beberapa granat dan peluncur granat dan pisau kecil yang bisa digunakan dalam pertarungan jarak pendek. Belum lagi ditambah dengan senjata yang mereka sembunyikan dalam seragam mereka.

Tak lama kemudian, Amato mengangkat tangannya, mengisyaratkan pasukan untuk berhenti. Pemimpin dari kedua pihak menatap satu sama lain, seperti memaksa yang lain untuk membungkuk dihadapan mereka. Hening mengisi cukup lama sampai pemimpin dari musuh memecah keheningan dengan suaranya yang berat dan dingin.

"Amato." Ucapnya dengan nada datar.

"Azzy." Balas Amato dengan nada menggoda dan senyum yang menyebalkan.

"Aztryx, bodoh."

"Namamu terlalu susah... Azzy jauh lebih mudah."

"Tch, menyebalkan seperti biasanya."

"Dan kau masih tidak bertumbuh seperti biasanya. Kau harus lebih banyak makan, kawan." Balasnya kembali dengan senyumannya yang semakin melebar.

Boboiboy terheran-heran dengan percakapan ayahnya dan pemimpin musuh. Ia melihat teman-temannya juga memasang eskpresi yang sama dengannya. Lebih herannya lagi, Ia dapat melihat ekspresi yang sama terlihat di Laksamana Tarung dan Kaizo—dan kemungkinan Laksamana Maskmana, namun beliau memakai topeng yang jelas menutupi eskpresi pemiliknya.-

'Ayah kenal dengannya?!' Batin Boboiboy bingung namun tetap berusaha memasang wajah datar.

Pemimpin musuh—atau Aztryx- terlihat tidak memakan balasan dari Amato. Ia kembali memasang tatapan tajamnya.

"Berikan Boboiboy dan Ochobot."

"Oho? Langsung ke transaksi? Azzy, dimana sopan santun mu?"

Aztryx terlihat tidak mengindahkan kata-kata Amato. "Cepat serahkan mereka jika kau ingin anak itu ku kembalikan utuh."

Boboiboy melirik kearah Kaizo. Walau eksresinya tetap datar, Boboiboy tetap dapat melihat kepalan tangan Kaizo yang semakin erat. Ia kembali mengalihkan pandangannya kepada ayahnya yang kini menghela napas dan menggelengkan kepala.

"Mengabaikan orang itu tidak baik, Azzy. Tapi, kesampingkan hal itu, aku tidak akan menyerahkan mereka."

"Entah kau menyerahkannya atau kita berperang dan mengambil mereka secara paksa, Amato. Tidak ada bedanya."

"Aku bisa menggantikan mereka jika kau benar-benar butuh kekuatan lebih, Azzy. Asal kau benar mengembalikan anak itu."

Jawaban itu sontak membuat Boboiboy dan Laksamana lain terkejut.

"Kau mau menyerahkan diri?" Ucap Tarung dengan nada tak percaya.

"Ya, aku menyerahkan diri." Balas Amato dengan senyum lebar kemudian berjalan beberapa langkah mendekati Aztryx.

"Bagaimana, Azzy? Tentu Laksamana dengan pengalaman dan keahlian seperti ku jauh lebih baik daripada anak muda seperti mereka. Aku yakin mereka bahkan tidak mengerti cara memegang senjata dengan benar. Aku bahkan tahu banyak pintu belakang."

Boboiboy ingin membalas ayahnya. Ia tahu bagaimana cara memegang senjata! Hanya saja dengan jam kuasanya, tidak ada alasan baginya untuk memegang senjata saja.

"Aku tidak butuh kau, Amato. Kau tidak berguna untuk rencana ku."

"Ow, hatiku. Ku kira hubungan kita istimewa Azzy."

"Berikan Boboiboy dan Ochobot, Amato. Aku tidak akan mengulang."

"Tch, kaku seperti biasanya, Azzy. Ya, ya, tapi kembalikan anak itu terlebih dahulu. Hidup dan utuh, Azzy. Aku tidak butuh kalau dia tidak hidup."

"Setelah kau berikan Boboiboy."

"Kau berikan anak itu, ku berikan Boboiboy dan Ochobot. Aku tetap akan menyerahkan diri juga sebagai bonus." Ucap Amato sambil menyilangkan tangannya.

Aztryx terlihat seperti memikirkan sesuatu sesaat dan kemudian menoleh kearah salah satu prajuritnya.

"Bawa anak itu. Cepat. Berikan kepada mereka."

Tak butuh waktu lama bagi prajurit itu masuk dan kembali dengan membawa Fang keluar. Mereka terkejut dengan keadaan Fang yang tak sadarkan diri penuh dengan luka dan lebam disekujur tubuhnya dan bajunya pun terkoyak disana-sini. Prajurit itu memberikan Fang kepada Aztryx dan kemudian melempar Fang ke arah Amato yang menangkapnya.

"Ouch, apa yang kau lakukan padanya?"

"Mencoba kabur. Sedikit pelajaran. Kau hanya bilang hidup dan utuh, tidak bilang tanpa luka."

Amato mengangkat bahunya, "Cukup adil." Kemudian berjalan kearah Kaizo dan memberikan Fang kepada Kaizo.

"Sekarang giliranmu." Ucap Aztryx.

"Ya,ya... Oh, tapi sebelum itu," Ucap Amato berjalan menjauhi mereka kemudian menjentikan jarinya. Seketika pasukan TAPOPS yang ada dibelakang mereka mengepung dan mengarahkan senjata mereka dan salah satu diantara mereka menangkap ochobot dan memasukannya ke dalam jaring besi yang tentu saja membuat mereka terkejut dan bersiap untuk menyerang.

"Apa ini?!"

"Kenapa kita dikepung?!"

"Jangan tembak! Aku tidak mau mati dulu!"

Boboiboy melihat kearah ayahnya yang berada diluar kepungan pasukan TAPOPS. Ia bisa melihat senyum tipis ayahnya kemudian mengangguk pelan kearahnya sebelum menoleh kembali kearah Aztryx yang terlihat juga terkejut.

"Bisa kau beri aku waktu, Aztryx? Aku akan membunuh mereka dan menghancurkan power sphere ini terlebih dahulu." ucap Amato dengan nada rendah dan seringaian di wajahnya.

"Apa maksudmu?"

"Oh? Aku tidak bilang aku akan menyerahkannya hidup-hidup bukan?"


A/N: hm hm hm... aku suka ini

Reviewnya kakak?