Ha-halo? Hehehe... mohon maaf gais hamba telat update abis yah... things happened...
Yak langsung aja. Happy reading!
Fang tidak tahu harus membalas apa pada Boboiboy. Jelas ia ingin kembali ke bumi, tapi disisi lain ia juga tidak terlalu ingin kembali ke bumi kalau orang-orang disana tidak menginginkannya. Ia juga masih bingung dengan pernyataan Boboiboy yang menyukainya dan jujur ia tidak menyangka bahwa pemuda di depannya ini menyukainya. Wajahnya masih panas menahan malu mendengar pernyataan Boboiboy. Ia sebenarnya juga mempunyai perasaan, tapi ia juga masih belum yakin.
"A-aku tidak tahu, Boboiboy. Aku sudah bilang pada Ma kalau aku akan kembali." Akunya dengan suara kecil.
Boboiboy tersenyum dan mengeratkan pegangannya, "Tidak usah memaksakan diri, Fang. Kalau kau ingin kembali ke planetmu, tidak ada yang menahanmu. Kalau kau ingin kembali, aku dan yang lain akan berusaha menjelaskan kepada mereka kalau kau baik, tidak seperti yang mereka kira."
Fang kembali terdiam dan bergumul dalam pikirannya. Akhirnya ia memutuskan sesuatu.
"Mungkin lebih baik kalau aku kembali ke planet ku, Boboiboy." Jawabnya. Kemudian, ia bisa melihat senyum Boboiboy yang berubah menjadi senyum sedih dan genggaman tangannya melonggar. Merasa bersalah, Fang kemudian melanjutkan,
"Ma-maksudku hanya untuk sementara waktu. Mungkin selama itu, aku juga bisa latihan untuk mengalahkanmu dan setelah itu, aku akan jadi yang paling populer antar galaksi!"
Boboiboy menoleh kearah Fang, senyum lebar terpasang di wajahnya dan kilauan di matanya.
"Ohh aku tidak yakin, Fang. Aku pasti lebih populer!" Ucapnya dengan nada bangga yang kemudian disusul balasan dari Fang yang kemudian berujung pada tawa dari keduanya. Keduanya merasa kembali saat mereka masih kecil dan selalu bersaing bahkan untuk hal-hal kecil. Kemudian, mereka berdua mendengar suara ketukan pintu. Mereka menoleh dan mendapati Gopal, Yaya dan Ying dengan beberapa perban di wajah dan tangan mereka
"Fang, kami datang untuk menjenguk!" Sapa Yaya.
"Hai Fang! Sudah baikan 'kah?" Tanya Ying.
"Dey, Fang, buah yang di meja boleh ku makan tidak?" tanya Gopal sambil memakan buah yang dimaksud.
"Ish, Gopal, apa gunanya minta izin kalau kau sudah makan duluan la?" Ucap Ying dengan nada jengkel yang hanya dibalas tawa oleh Gopal.
Fang tertawa pelan sebelum membalas, "Tidak apa-apa, Ying. Gopal memang seperti itu 'kan?"
"Ho, kalian sudah jadian?" tanya Gopal sambil tetap memakan buah yang ada di tangannya. Boboiboy dan Fang yang mendengar pertanyaan Gopal membuang muka dengan rona merah di wajah mereka.
"A-apa maksudmu?" Boboiboy balik bertanya.
"Hmm... tidak apa-apa. Hanya saja tangan kalian bergandengan seperti itu, jadi ku kira akhirnya kalian jadian." Jawab Gopal yang kemudian diikutin Yaya dan Ying yang melihat tangan Boboiboy yang masih menggenggam tangan Fang sementara yang bersangkutan baru menyadari mereka masih bergandengan hanya bisa menunduk malu namun keduanya tidak berusaha untuk melepaskan gandengan mereka.
"Ho... jangan lupa traktirannya, Boboiboy." Goda Ying sambil terkekeh.
"Wahh... Selamat kalian berdua!" ucap Yaya memberi selamat kepada mereka berdua.
"Tu-tunggu kalian salah paham! Kita belum jadian!" ucap Fang dengan nada panik.
"Aish, kenapa lagi? Kita bertiga sudah lelah melihat kalian hanya melihat satu sama lain dari jauh." Balas Gopal.
"Iya la, kita juga lama-lama lelah melihat kalian seperti itu!" Tambah Ying
"Betul tu. Apa lagi yang kalian tunggu?" Tanya Yaya.
Boboiboy dan Fang hanya terdiam dan menunduk malu. Mereka tidak tahu harus membalas apa pada teman-teman mereka.
"Sampai Boboiboy belum menunjukan kalau dia cukup kuat untuk melindungi Fang, aku tidak mengizinkan." Ucap Kaizo dari depan pintu diikuti dengan Isa yang tersenyum canggung.
"A-Abang!" Teriak Fang, tidak tahu harus berterima kasih atau marah kepada abangnya.
"Jangan protes, Fang. Kalau dia tidak bisa, kenapa aku harus merestui?" Kaizo menanggapi Fang dengan nada dan ekspresi yang serius, seakan benar adiknya berpacaran dengan Boboiboy.
" 'kan sudah ku bilang aku tidak perlu selalu dilindungi. Lagipula kami belum berpacaran!"
"Belum bukan berarti tidak, Fang. Jadilah lebih kuat dahulu lalu setelah itu kau bisa berpikir untuk berpacaran dengan Fang, Boboiboy."
"Abaaang... bukan itu maksudku..." Ucap Fang sambil tetap berusaha menutupi wajahnya yang semakin memerah.
"Ahh.. terhalang restu rupanya..." ucap Yaya sambil tertawa pelan.
"Oof... sepertinya jalan mu masih panjang Boboiboy." Ucap Ying dengan wajah prihatin kepada kawannya.
Gopal menepuk bahu Boboiboy, "Semangat meraih restu demi pendamping hidup, kawan."
Boboiboy hanya bisa tertawa canggung sementara Fang semakin menundukan wajahnya malu.
"Wah... ada apa ini?"
Mereka semua menoleh kearah pintu dan mendapati Amato bersender di pintu dengan senyum sumringahnya di wajahnya.
"Boboiboy tidak dapat restu dari calon kakak ipar, Laksamana." Jawab Ying sambil menahan tawa.
"Ying!" wajah Fang semakin memerah sementara Boboiboy hanya tertawa canggung sambil menggaruk tengkuknya.
Mendengar jawaban Ying, senyum Amato berubah menjadi seringai jahil.
"Oho... kenapa itu?" lanjutnya bertanya.
"Kata kapten Kaizo, Boboiboy belum cukup kuat." jawab Yaya sambil tertawa kecil.
Amato terkekeh dan menoleh kearah Boboiboy.
"Hmm... memang Boboiboy belum cukup kuat. Semangat, nak. Ayah mendukung dari jauh saja."
"Ayaahhh... jangan ikut-ikut mereka..." ucap Boboiboy sambil memijit keningnya, merasa pusing karena ayahnya yang mengikuti temannya untuk menggodanya dan sekarang tertawa diatas penderitaanya.
"Ya, sudah, sudah... Niatku kesini tadi selain menjenguk calon menantu.." Amato menoleh kearah Fang sementara yang bersangkutan membuang pandangannya dan semakin menundukan kepala, "Tiga puluh menit lagi kita akan kembali ke markas. Aztryx dan yang lain sudah diamankan. Mereka tidak akan sadar sampai kita ke markas, tapi untuk berjaga, Kaizo dan Maskmana akan memantau mereka. Oh, Gopal, Yaya, Ying juga, kalian segera kembali ke kokpit."
"Loh, aku bagaimana, yah?"
Amato kembali memasang seringai jahilnya, "Kau bantu Isa jaga calon menantu ayah."
"Ayah... hentikan..." Boboiboy menghela napas lelah.
Amato terkekeh.
"Maaf, maaf. Tapi, ayah pikir kau lebih baik disini saja dan bantu Isa, Boboiboy. Isa dari tadi sibuk mengurus yang terluka dan mungkin sudah lelah. Kau mungkin bisa sekalian belajar beberapa hal soal pertolongan pertama atau medik darinya."
Isa menepuk bahu Boboiboy. "Tidak apa-apa kalau kau tidak mau, Boboiboy. Aku masih bisa." ucapnya sambil tersenyum.
"Bu-bukan begitu kak! Aku- aku mau bantu!" Ucap Boboiboy panik.
"Hahaha... kalau begitu, Kaizo, Gopal, Yaya, Ying, pergi ke posisi kalian. " Perintah Amato.
"Siap, Laksamana." Ucap mereka kemudian pergi ke tempat tugas mereka.
Amato berjalan mendekati Fang dan menepuk pelan bahunya.
"Istirahat, Fang. Kau sudah aman." Ucapnya dengan nada lembut.
Fang menatap Amato sejenak. Ia ingin membalas namun seperti mulutnya tidak bisa berkata-kata. Akhirnya, ia hanya mengangguk yang diikuti dengan senyum lembut dari Amato.
"Baiklah, kalau begitu aku akan kembali ke posisiku. Boboiboy, bantu Isa, jangan merepotkannya." ucap Amato kemudian berbalik, berjalan keluar ruangan.
"Baik, laksamana." balas Boboiboy dengan nada sedikit kesal yang direspon tawa dari Amato.
"Komandan, ada sambungan hologram dari Laksamana Amato!"
Kokoci melihat monitor dari kamera pengawasan sejenak, kemudian menjawab,
"Sambungkan, setelah itu buka gerbang markas dan persiapkan pendaratan mereka. Jangan lengah dan tetap berjaga-jaga." Ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya dari monitor.
"Siap, laksamana."
Tak lama kemudian, dari hologram yang ada dihadapannya muncul hologram dari Amato.
"Ya-ha, Kokoci!" ucap Amato dengan girang.
"Salam, Laksamana Amato." Ucap Kokoci sambil memberi hormat.
Kemudian ekspresi Amato berubah menjadi serius. "Kau sudah menyiapkan ruangan khususnya bukan?"
"Sudah, Laksamana."
"Segera temui aku disana setelah pendaratan. Aku, Kaizo dan Maskmana akan mengantar Aztryx kesana. Perketat keamanan. Jangan sampai dia kabur."
"Baik, Laksamana."
Amato mengangguk puas kemudian ekspresinya kembali cerah, "Oh, sampaikan juga kepada ibu Fang kalau anaknya sedang kencan dengan anakku jadi mungkin waktu pulangnya akan diundur."
Kokoci terkejut dengan perkataan Amato, "Ha- Laksamana, mak-"
"Sudah ya! Jangan lupa setelah pendaratan segera ke ruangan khusus, Kokoci!" kemudian sambungan hologram dari Amato terputus.
"E-eh?"
Setelah pendaratan, Amato, Kaizo dan Maskmana segera mengantar Aztryx ke ruangan khusus sementara Boboiboy menggendong Fang ke ruang medik untuk melanjutkan pemeriksaan lebih lanjutnya disana, tentunya tidak dengan perlawanan dari yang digendong.
"Boboiboy! Turunkan aku!" ucap Fang sambil berusaha melepaskan diri dari gendongan Boboiboy.
"Kalau aku turunkan, kau mana mungkin bisa berjalan sendiri, Fang. Lagipula saat digendong kapten Kaizo, kau biasa saja." Balas Boboiboy sambil tetap berusaha mempertahankan fang digendongannya.
"Karena dia abangku!" Balas lagi Fang sambil tetap berusaha turun.
Boboiboy mengehela napas dan mulai memikirkan cara supaya Fang bisa tenang. Kemudian, ia terpikirkan sebuah cara.
"Boboiboy Gempa!"
Fang heran dengan apa yang dilakukan Boboiboy kemudian menoleh ke sekeliling mereka, mencoba mencari apakah ada musuh yang datang atau serangan yang akan datang namun ia tidak mendapati apa-apa. Kemudian, kembali menoleh kearah Gempa.
"Gempa, ada a-" ucapan Fang terputus saat ia melihat senyum lembut yang terpampang di wajahnya. Kemudian, ia merasakan wajahnya memanas dan ia membuang mukanya, berusaha untuk tidak memandang orang yang menggendongnya.
"Kenapa, Fang?" tanya Gempa dengan suara lembut.
"Gempa curang." jawab Fang dengan suara kecil.
Gempa tertawa kecil, "Maaf yah, Fang. Aku terpaksa soalnya takut kamu jatuh nanti." ucapnya sambil tetap memasang senyum lembutnya.
"Tetap saja curang." balas Fang kemudian menggembungkan pipinya.
Gempa tertawa pelan kemudian mencoba membenarkan gendongannya.
"Tenang sebentar saja, Fang. Mau yah?" Boboiboy memasang tatapan melasnya.
"U-ughh... I-iya, iya! Hentikan ekspresi itu!" Ucap Fang sambil menutup wajahnya.
"Yeay! Sabar ya, Fang. Sebentar lagi sampai kok!"
Mereka berdua berdua terlalu larut dalam dunia mereka sendiri sampai tidak tahu kalau Gopal, Yaya, Ying menahan untuk tidak merinding dan tawa canggung dari Isa yang melihat tingkah mereka yang terlalu chessy.
"Aku senang salah paham mereka sudah selesai, tapi agak kesal yah..." Ucap Gopal.
Yaya tertawa, "Kalau perasaan yang ditahan lama terus keluar, yah begini jadinya."
"Hahaha, biarkan saja mereka. Namanya juga pasangan baru." tambah Isa
"Hey! Kalian! Cari ruangan sana! Tempat umum hey!" Teriak Ying.
Gempa hanya membalas dengan tawa sementara Fang semakin menutup wajahnya ke dada Gempa.
Fluff uwu
Maaf yah kawan-kawan ini lama banget. Abis belakangan ini bener bener hectic jadi aku harus kesampingin fic ini dulu. Maaf yahh...
