Ketemuan, sudah.

Punya kontak, sudah.

Chatting dan teleponan, sudah.

Foto bareng, sudah.

Masih butuh kemajuan apa lagi?

Tinggal pacaran. Tapi, masa, baru kenal kok sudah main tembak. Sudah saling mengaku kalau saling suka satu dengan yang lain? Gerak cepat sih, oke, tapi kalau terlalu cepat, bisa-bisa Taehyung dianggap agresif saat pedekate dengan Jungkook.

Tidak etis sekali, pikirnya.

Tapi mau bagaimana?


A BTS Fict

Sunny Ji, Me, and You.

#3. Gerakan -yang terlalu- Cepat

Jeon Jungkook

Kim Taehyung

Romance - Teen

Copyright Choi Miun

2017

edited ver! 2020

.

nb : semua nama tempat hanya fiksi belaka.

nb 2 : plagiat haram hukumnya.

nb 3 : bisa dibayangkan Jungkook itu male/fem. Up to you.

nb 4 : percakapan banyak memakai bahasa non baku lo-gue.

nb 5 : fiksi ini tidak dibuat untuk menjelekkan suatu hal. Kesamaan di beberapa bagian merupakan sebuah ketidaksengajaan.

nb 6 : tulisan 'italic' adalah percakapan melalui telepon.


Kring kring

"Halo?"

'Halo, Kook.'

"Eh, kak Taehyung, ada apa?"

'Kangen kamu.'

"Ih. Tumben telepon pakai telepon rumah?"

'Ini aku lagi pulang kampung, balik ke rumahku di pinggir kota. Sekali-kali telepon pakai telepon rumah, biar baterai hapeku nggak cepet habis.' -niat terselubung Taehyung adalah mencegah tagihan telepon untuk tidak membludak parah.

"Nanti kupingmu panas, lho." -maksudnya kuping Jungkook lama-lama panas.

'Nggak apa-apa, biarin aja panas, yang penting teleponan sama kamu.'

"Ih, gombal. BTW, kakak tiap minggu pulang kampung?"

'Iya, nih. Kan rumah ortu kakak nggak begitu jauh dari kampus, paling sekitar 30 km. Kamu mau ketemuan sama camer kamu? Nggak jauh banget dari rumahmu, lho.' -kode keras sekeras-kerasnya.

"Apaan sih." -kapan-kapan Jungkook mampir ke sana bareng ortunya, deh.

'Di-iya-in aja deh, Kook.'

"Iya iya.."

'Nah, gitu, dong. Besok main ke Sunny Ji, nggak?'

"Belum tahu. Semoga besok nggak ada kerja kelompok di sekolah. Emang kenapa?"

'Aku mau traktir kamu ayam goreng. Itu aja.'

"Lah, di sana kan memang cuma ada ayam goreng."

'Ada lagi yang lebih spesial.'

"Apaan?"

'Cintaku padamu lebih spesial daripada paket combo spesial Ssun.'

Bantu Jungkook mengatasi deg-degan dan muka merona merah yang parah akibat gombalan Taehyung. Jungkook berdeham mengatur suara.

"Ih, jangan gombal dong."

'Itu kan memang fakta, Kook.' -kode keras sekeras-kerasnya #2

"Ya tapi jangan sering nggombal dong, Kak." -malu-malu tapi mau.

'Yah.. kok kamu gitu, sih... kan cintaku padamu tumbuh dan berkembang di Sunny Ji.'

"Kok mirip judul FTV ya?"

'Tapi cerita cinta kita nggak menye-menye kayak cerita FTV kok. Tenang aja.'

"Ah apaan sih kak. Aku jadi malu." Beneran, muka Jungkook memerah malu seperti tomat ranum.

Taehyung tertawa kecil.

'Udah, ya, besok aku telepon lagi. Kupingmu mesti udah panas banget. Aku tutup ya. Dadah~'

"Dadah~"

Ini belum jadian saja sudah saling telepon dan saling perhatian. Bagaimana kalau sudah jadian?


Taehyung tersenyum ganteng melihat foto profil Line-nya. Itu foto selcanya bersama Jungkook 2 minggu lalu. Baru kenalan sudah punya foto berdua, sudah begitu terlihat mesra.

Setelah Taehyung mendapat ID Line Jungkook, tiap hari dia mengirimkan chat ke Jungkook. Mau chat panjang bermutu ataupun tukar menukar stiker yang lucu tapi garing. Sudah begitu, dia sering memberi kode keras untuk gebetan hatinya.

Kodenya sih, keras sekali. Sangat keras, malahan. Sampai orang lain bisa baper sendiri melihat chemistry mereka berdua. Taehyung sudah memberi kode, sinyal, sandi, isyarat segala macam kalau dia ada rasa ke Jungkook. Padahal mereka baru kenal 2 minggu.

Terlalu cepat kah?

Tidak juga.

Apa dia terlalu agresif?

Bisa jadi.

Akhirnya dia meminta pencerahan ke bang Minho, pakar gombalan dan percintaan remaja. "bang, misal kalau suka orang padahal baru kenal orang itu 2 minggu boleh nggak sih?"

"Lo suka sama Jeon Kook itu?" ingat, Minho membantu Taehyung dalam awal chatnya dengan Jungkook.

"Iya, bang. Padahal gue baru kenal dia secara resmi 2 minggu."

"Terus apa masalahnya?"

"Gue mau nembak dia, tapi nggak berani."

Tiba-tiba saja Minho menggeplak kepalanya keras-keras. Taehyung mengaduh keras. "Kok gue digeplak, sih?!"

"Lo udah berani nggombalin anak orang, tapi nggak berani nembak?! Cemen amat sih!" protes Minho sambil pasang muka tidak santai.

"Ya masa gue langsung nembak dia padahal baru kenal 2 minggu?!"

Minho memegang sebelah bahu Taehyung, dan menatapnya erat. "Bro, gue kasih tahu. Lo tau pacar gue, Jinwoo?" Taehyung mengangguk. Jinwoo kakak kelasnya di SMA dulu. "Lo tahu berapa lama gue pedekate sama dia?" Taehyung menggeleng.

Minho mendengus. "Gue pedekate ke dia seminggu, langsung pacaran."

Taehyung kaget. Ternyata ada yang lebih agresif dari dirinya.

"Beneran, bang?" Minho mengangguk.

"Jadi kalau udah kenal seminggu boleh nembak dia?"

Minho menggeplak lagi kepala Taehyung. "Bukan begitu juga, Taehyung. Maksudnya, kalau lo udah pasti dan yakin, tembak aja, lah. Gue dulu nembak Jinwoo karena udah ada rasa sejak lama. Baru bisa pedekate seminggu sama dia, gue tembak, eh, dia terima. Yang penting lo yakin."

Iya juga, ya. Harus pasti dan yakin dulu, baru tembak.

Tapi Taehyung sudah yakin kalau mau nembak Jungkook.

Tapi mereka baru kenal 2 minggu.

Tapi Taehyung suka Jungkook.

Tapi belum dekat banget.

Tapi-

"Kalau nunggu sampai sebulan, boleh, nggak?"


Di sisi lain, ada Jungkook yang sibuk main hape di kamarnya. Ada Wonwoo juga yang menonton film aksi di laptopnya Jungkook. Jungkook sibuk membaca ulang chat-nya dengan Taehyung. Rata-rata isinya hanya perang stiker dan gombalan Taehyung yang ditanggapi antusias oleh Jungkook. Dia senyum-senyum sendiri melihat balasan chat-nya. Kadang dia membalas gombalan Taehyung memakai stiker 'apaan sih'

Sampai di chat paling akhir, chat dari Taehyung 2 hari lalu yang belum dia balas sampai sekarang.

'Aku suka kamu. Beneran.'

Kode keras, Kook. Sama-sama suka, kok. Mau tunggu apa lagi?

Jungkook tidak berani membalas chat Taehyung dengan stiker andalannya, 'apaan sih'. Nanti dikira tidak serius, padahal sudah didekati sekian lama. Apalagi kalau dianggap menggantungkan perasaan Taehyung, makin menyesakkan dada. Kalau pakai stiker itu, sama saja Jungkook menganggap remeh usaha Taehyung selama 2 minggu ini.

Tapi, Jungkook -cukup- yakin dengan perkataan Taehyung.

Bagaimana tidak yakin? Perlakuan Taehyung padanya saja sudah sangat spesial. Tidak dapat diragukan lagi kalau Taehyung ada rasa kepada Jungkook.

Jungkook tinggal terima saja.

Udah, begitu saja selesai, habis perkara.

"Dek, gue traktir lo makan, ya."

Jungkook mengalihkan pandangannya ke Wonwoo yang sibuk makan keripik kentang. Tumben sekali, pikir Jungkook. Abang satu-satunya ini sangat pelit dalam hal traktir mentrakir. Biasanya tidak punya uang, sekarang sok-sokan ingin mentraktir Jungkook.

"Tumben, bang. Biasanya makan di rumah."

"Ini beda. Gue mau makan ayam goreng di Sunny Ji."

"Serius bang?!" Jungkook langsung heboh mendengar kata Sunny Ji. Bisa dibilang, itu tempat yang penuh kenangan. Kenangan bareng Taehyung, tepatnya.

Ihir~ memikirkannya saja sudah tersipu malu.

Dasar, anak yang sedang jatuh cinta memang begini, ya.

Wonwoo mengangguk. "Gue dapet honor asdos, sekali-kali kita makan di luar, gitu, tapi gue yang bayar. Makan di Sunny Ji aja, ya, gue bayarin. Kan murah, rasanya juga enak."

Jungkook sebenarnya bosan makan ayam goreng saos keju terus-terusan. 3 hari sekali dia makan dada ayam berlumuran saos keju. Pasokan proteinnya meningkat drastis. Lama-lama dia bisa menjadi ayam beneran. Tapi kali ini dia semangat pergi ke Sunny Ji karena 3 hal.

Pertama. Dia bisa makan ayam tanpa mengeluarkan uang.

Kedua. Dia bisa bertemu Taehyung di sana.

Ketiga. Dia bisa makan ayam tanpa mengeluarkan uang sekaligus bertemu Taehyung di sana.

Kenikmatan yang hqq sekaligus rejeki nomplok bagi Jungkook.


"Selamat datang di Sunny Ji. Mau pesan apa?"

Jungkook bersembunyi di balik punggung Wonwoo. Malu, ada Taehyung di depannya.

Lah. Tadi saja semangat mau pergi ke Sunny Ji, sekarang kok semangatnya menyusut. Bertemu gebetan kok malu.

"Bang, gue malu..." Jungkook menggusak wajahnya di punggung si abang. Wonwoo risih, dia menggeplak pinggang si adek. "Ih, apaan, sih." Dia masih belum tahu perihal Taehyung yang lagi pedekate dengan Jungkook.

Taehyung mengulum senyum melihat kelakuan Jungkook yang mirip anakan kucing tetangganya. Lengket dengan induknya sambil menggesekkan kepala manjah. Ah. Ah. Taehyung mulai melantur.

Jungkook mendusel kepalanya di pangkal ketiak Wonwoo. Dia masih malu pada Taehyung karena chat yang dikirimkan si pemuda Kim.

'Aku suka kamu. Beneran.'

Aih, otak Jungkook mulai error.

"Saya pesan seember ayam goreng original," pesan Wonwoo.

"Satu bucket ayam ori. Mau pakai saos ekstra apa?"

"Lo mau saos apa, dek?" tanya Wonwoo ke adeknya yang masih berada di bawah ketiaknya.

"Eng.. saos keju."

"Saos keju 2 sama saos lada hitam 2."

Taehyung menulis kode makanan di mesin kasir. "baik, minumnya apa, Kak?" Kakak di sini bisa dianggap sebagai panggilan untuk pelanggan, atau calon kakak iparnya. Ihir~

"Iced cola satu sama susu cokelat biasa satu."

Jungkook protes. "Lho, bang, adek mau minum cola," protesnya sambil pasang muka aegyo mewek plus puppy eyes. Kalau orang lain melihat, mungkin bakalan gemes dan luluh setelah melihat wajah memelas Jungkook. Untuk Wonwoo, muka -sok- melas adeknya tidak ampuh untuk mengubah keputusannya.

"Nggak. Lo nggak bisa minum cola sok-sokan mau minum cola. Nanti mual."

"Tapi adek kan bukan anak kecil lagi. Masa, adek minum susu?"

"Halah, biasanya tiap pagi minum susu."

Taehyung menjerit keras dalam hati melihat ekspresi Jungkook yang terlalu imut sampai membuatnya tidak fokus menulis pesanan. "Satu cola dan susu cokelat untuk adeknya, ya?" ulang Taehyung sambil melirik sedikit ke Jungkook. Wonwoo mengangguk.

"Totalnya 12.000 won." Wonwoo menyerahkan selembar 10 ribu dan 2 lembar seribu won ke Taehyung. Dia mendapat gaji sebagai asdos sebesar 100 ribu won, lumayan, bisa untuk biaya fotokopi jurnal.

Melihat transaksi antara abang dan gebetan, Jungkook jadi ingat insiden memalukan sulitnya mencari 500 won di dompet.

"Ayo, dek. Duduk di deket jendela." Mereka berjalan ke salah satu meja mepet jendela. Jungkook membawa nampan berisi 2 gelas minuman, satu cola dan satu susu cokelat. (sebenarnya kalau Jungkook main ke sini, dia selalu pesan cola, tapi di malam hari perutnya selalu kembung.)

"Bang, tumben mau beliin makanan buat adek?"

"Sekali-kali, lah," jawab Wonwoo sambil menyeruput cola. "Ya masa gue nggak pernah jajan bareng lo. Berasa kakak durhaka kalau begitu ceritanya."

"Beuh, biasanya nggak pernah bagi-bagi makanan," cibir Jungkook.

Tak berselang waktu lama, makanan mereka dihidangkan. Taehyung yang mengantarkan makanan mereka. Wonwoo heran, mengapa yang menghidangkan makanan Taehyung, padahal banyak petugas yang sedang tidak ada pekerjaan. Jungkook sih suka-suka saja melihat Taehyung mengantarkan pesanannya. Kan makin ganteng.

"Permisi. Satu bucket ayam goreng, dua saos keju, sama dua saos lada hitam." Taehyung meletakkan pesanan gebetannya. Tak lupa dia menaruh sepiring kecil acar lobak putih. Wonwoo makin heran.

"Maaf ya, saya tidak pesan acar lobak putih."

"Anu, itu buat si adek. Kan adeknya abang suka acar lobak putih."

Blush~

Muka Jungkook merona parah saat mendengar perkataan Taehyung, Bagaimana tidak, Taehyung tahu kalau dia suka acar lobak putih, dan dia diberikan acar ekstra. Jungkook jadi makin sayang. Sudah begitu, Taehyung menepuk pelan kepala si lebih muda saat akan berjalan kembali ke counter.

Wonwoo mendelik tidak suka ke Jungkook yang merona. Bagaimana bisa ada anak yang berani menggombali adek kesayangannya, dan adeknya senang-senang saja diberikan gombalan dari orang yang Wonwoo tidak kenal. "Kamu kenal sama dia?"

Jungkook terkesiap. "Eh, apa?" baru kali ini Jungkook mendengar kata 'kamu' yang ditujukan padanya dari Wonwoo. Biasanya dia memakai bahasa gaul. Berarti ada suatu hal serius yang ingin Wonwoo katakan.

"Kamu kenal sama dia? Yang tadi nganterin makanan?"

Jungkook mengangguk.

"Kamu deket sama dia?"

Jungkook mengangguk lagi.

"Kenal dari mana?"

"Ketemuan di sini, bang."

"Jadi dia orang yang kamu add Line-nya dua minggu lalu?"

Jungkook mengangguk lagi. Takut dimarahi sama abangnya yang kadang galak. Tiba-tiba saja Wonwoo menepuk tangannya keras-keras. "Wah, sekarang adek gue udah gede."

"hah?" Jungkook cengoh.

"Sekarang adek gue punya fans! Gue pikir adek gue kok nggak laku, nggak pernah pacaran sama orang lain."

"anjir."


3 hari berlalu. Jungkook dan Taehyung berjalan bersama di malam hari. Jungkook ada kelas tambahan malam, dan dia langsung mampir ke Sunny Ji yang belum tutup. Taehyung pulang setelah warung ayam tutup. Rumah mereka searah, dan juga Taehyung ingin mengantarkan Jungkook pulang ke rumah si gebetan. Hitung-hitung bisa tahu alamat rumah, dan bisa ngapelin Jungkook tanpa harus tanya alamat.

"Kook, kemaren itu kakakmu?" Taehyung membuka pembicaraan.

"Iya, kak. Kenapa?"

"Ah, nggak apa-apa." Hening. Suasananya canggung sekali. Tumben, biasanya mereka sibuk mengobrol seru. Tidak biasanya Taehyung sediam ini. Jungkook tidak suka suasana ini.

"Kak, ada masalah, ya?"

"Nggak, kok. Nggak ada masalah apa-apa."

"Nggak marah ke aku, kan?"

"Kok bisa marah ke kamu?"

"Ya siapa tahu gara-gara chat kemarin."

"Nggak dibales juga nggak apa-apa. Toh aku tahu jawabanmu apa."

Kode keras. Lalu mereka diam.

"Tumben kakak diem aja? Biasanya semangat cerita."

"Tenggorokanku lagi sakit. Maaf ya."

Jungkook paham. Dia ingin bercerita banyak ke Taehyung, tapi dia harus memahami kondisi Taehyung yang sedang tidak fit. Perlahan, tangan kanannya meraih tangan kiri Taehyun, menggandengnya erat.

Grep.

Taehyung menoleh kaget. "eh?"

"Sekali-kali aku yang inisiatif, ya. Masa, cuma kak Taehyung yang semangat pedekate. Aku juga sekali-kali mau merespon. Caranya pegang tangan kak Taehyung." Jungkook berbicara malu-malu.

Astaga, baru kali ini Taehyung merasa gemas sekali, sampai-sampai dia mencubit pelan pipi tembem Jungkook yang sedikit merona. "Kok kamu nggemesin banget, sih. Aku jadi makin suka lho."

Mereka berjalan berdua, dengan tangan bertautan. Jungkook menatap Taehyung dari samping. Rahangnya tajam sekali, hidungnya juga mancung. Tampan. Jungkook jadi makin suka. Mereka tersenyum, apalagi Taehyung yang saking senangnya tidak bisa menahan senyum.

Tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah Jungkook.

"Makasih ya, kak, udah nemenin aku jalan sampai rumah."

Taehyung memegang kedua tangan Jungkook. "Besok kita ketemuan lagi, ya," ucapnya sambil mengelus punggung tangan Jungkook. Jungkook mengangguk, pipinya merona parah.


Esok adalah hari Minggu. Mereka berencana bertemu di cafe yang berada sejalan dengan Sunny Ji. Taehyung duduk ganteng di meja dekat jendela. Hari ini dia ijin ambil libur 1 hari untuk bertemu Jungkook. Dia sudah berdandan lama dan memakai baju bagus untuk bertemu Jungkook.

Dipikir-pikir, Taehyung tidak kuat menunggu seminggu lagi. Minggu depan itu tepat sebulan dia kenal dengan Jungkook. Dia sudah bertanya pada Minho mengenai tanggal nembak yang pas. Jawaban Minho simpel.

'Nggak usah mikir aneh-aneh. Yang penting yakin dan pasti.'

Selang 10 menit, Jungkook datang ke cafe. Dia celingukan mencari tempat duduk Taehyung, dan Taehyung berhasil ditemukan. Dia langsung duduk di depan Taehyung.

"Maaf, kak. Aku agak telat, soalnya tadi ada ke-"

"Kook, ayo kita pacaran."

".. hah?"

"Aku udah nggak sabar nunggu momen ini, dan ini momen yang paling tepat. Aku nggak mau nunggu sebulan lagi, itu lama banget. Aku juga nggak menyiapkan surprise buat nembak kamu, saking terburu-buru. Tapi kamu mau, kan, jadi pacarku?"

"I.. iya... aku juga mau."

Taehyung tersenyum tampan. Jungkook mengangguk malu-malu. Akhirnya perjuangan mereka selama ini membuahkan hasil manis. Manse!


Hari ini Taehyung menelepon nomor rumah Jungkook via telepon rumah.

'Halo.'

"Halo, Kook."

'Ini siapa ya?' Mampus, bukan Jungkook yang mengangkat teleponnya. Ini antara Bapak Jeon atau Wonwoo. 'Halo? Dengan siapa saya berbicara?'

"Anu, saya temennya Jungkook."

'Oh, kamu Jimin, temennya anak saya?'

"Bukan, om. Saya Taehyung." -calon mantu anda.

'Jungkook lagi les. Mau titip pesan apa?'

"Anu, tidak usah, Om. Nanti saya telepon lagi. Kalau boleh tahu, dia selesai jam berapa?"

'Jam 5.' - buset, jutek amat.

"Oke, terima kasih, Om."

'Tunggu dulu.'

"Ada apa, Om?"

'Kamu pacarnya Jungkook?'

Mati aku.


Note

Halo.

Selamat menikmati bacaan fluff gemay ini.

Last, fav, follow, n review plz :D