TITTLE : Beauty Lawbreaking
ALTERNATIVE TITLE : The Shape of Voice
PAIR : ALLxJIN / EVERONExJIN
The criminal is the creative artist; the detective only the critic - G.K. Chesterton
Kepalanya berdengung sakit. Dia menggerakkan rahangnya dan merasa mulutnya kering, saat dia bergerak dia merasakan seakan – akan beton dan pasir mendorong ke wajahnya.
Seokjin tersentak ketakutan. Dimana dia? Dia mencoba berguling tetapi dia tidak bisa. Dia berpikir , tangannya diikat. Dia membuka matanya.
Ya Tuhan.
Seokjin mencoba berteriak tetapi tidak ada yang keluar.
Di mana pun dia berada, sangat gelap, tetapi dia bisa melihat sosok gelap berjongkok beberapa meter darinya, mengawasinya perlahan.
Dan sosok gelap tadi menjadi enam sosok yang berdiri beberapa meter darinya. Seokjin bisa merasakan menggigil di tulangnya ketika ia menyadari bahwa ia berbaring di tempat tidur merah dalam kamar bernuansa merah marun .
"Kamu tahu, Seokjin, bagi seseorang yang menghabiskan begitu banyak waktu untuk melihat ke dalam kegelapan, kamu benar-benar buta" suara serak itu bergema di ruangan itu.
"Siapa kamu?" Dia bisa merasakan suaranya bergetar ketakutan.
"Kekasihmu?" Jawaban suara berat lainnya dengan nada main-main.
/-/
Pagi yang cerah, burung-burung berkicau ketika sinar matahari menembus jendela dan mengenai wajah Seokjin dengan lembut. Dia membuka matanya dan menutupnya lagi, menyelubungi kehangatan dan kenyamanan tidur. Seokjin mengerang karena ia merasa sinar matahari di wajahnya.
"Urgh jangan bilang ini sudah pagi" gumamnya.
Rasanya seperti ia hanya tertidur sepuluh menit yang lalu. Dia berbaring di sana merenungkan apakah akan memaksakan diri ketika tingkat kesadarannya perlahan meningkat. Akhirnya dia melempar selimut dan duduk di samping tempat tidur, gaun sutra putihnya berkerut dan rambutnya berantakan.
"Selamat pagi," katanya pada dirinya sendiri ketika dia berjalan melewati cermin dan menguap, dia menyusuri lorong ke dapur untuk mencari air yang sangat dibutuhkan.
Ini mengejutkan bahwa seseorang seperti Seokjin yang terbangun oleh matahari daripada suara jam alarm nya. Dia meminum air dan ia melihat bahwa ada sesuatu yang aneh. Suara yang biasa ia dengar seperti angin bertiup melalui jendela atau suara menggonggong keras dari anjingnya hilang. Suatu hal yang aneh untuk dirasakan orang seperti dia. Itu tidak normal bagi orang-orang untuk memperhatikan hal-hal semacam ini ketika mereka bangun, tetapi Seokjin berbeda. Apa yang normal bagi semua orang adalah aneh baginya dan apa yang aneh baginya adalah normal bagi semua orang.
Seokjin berbeda.
Hyperacusis (atau hyperacousis) adalah gangguan pendengaran yang melemahkan fungsi pendengaran yang ditandai dengan peningkatan sensitivitas terhadap frekuensi dan rentang volume suara tertentu (toleransi yang runtuh terhadap suara lingkungan biasa). Dan Seokjin terlahir dengan 'hadiah' ini, telinganya sangat sensitif terhadap suara.
"Pagi sayang" Ibunya menyambutnya dengan ciuman di dahi.
" Hm, pagi. Di mana appa dan hyung ? "
"Mungkin masih jogging?" Dan ibunya meletakkan tas belanja nya di pantry, mungkin baru saja kembali dari pasar.
"Eomma, apakah kamu menutup jendelaku? Dan di mana Jjanggu ? " tanya Seokjin berusaha menemukan anak anjing maltese putihnya .
"Hyung-mu membawanya keluar, dan ya aku menutup jendelamu. Kamu terlihat lelah kemarin jadi aku tidak ingin membangunkanmu. Sekarang kamu harus mandi, dirimu bau sekali" canda ibunya membuat Seokjin mengendus gaun tidurnya.
"Ya, aku akan melakukannya"
Dia melangkah ke kamar mandi, jari-jari kakinya tersentak ketika mereka menyentuh lantai keramik yang dingin. Kepala shower yang menggantung longgar di atasnya melepaskan ribuan tetes hangat, membasahi gelap rambutnya dan menetes ketubuhnya, kejutan yang tiba-tiba membuat tegang ototnya. Air perlahan menghangatkannya, menenangkan rasa sakit yang mencakar anggota tubuhnya. Dia menuangkan sabun lembut ke tangannya. Jari-jarinya bertemu rambut hitamnya yang halus, menari ke dalam kekacauan itu, membersihkannya dari simpul yang telah diberikan waktu. Matanya terpejam berulang-ulang, setiap kali menunjukkan kepadanya gambar seperti foto saat pikirannya memudar menjadi kusam dan semuanya adalah ilusi berkabut.
Seperti mimpinya sebelumnya, dia yang benar-benar ingin ia lupakan,
Itu hanya ilusi.
/-/
"Jadi, dia sudah di penjara?" Sophia meluruskan kacamatanya saat dia menyesap kopi yang sekarang dingin .
"Mungkin tidak, mungkin iya" jawab Seokjin acuh tak acuh karena ia sedang fokus memeriksa patung tangan di depannya.
"Setidaknya dia punya nyali juga membunuh mereka dan sekarang membusuk dipenjara "
"Dan sekarang bawalah laporan ini ke saudaraku, dan katakan padanya patung ini bukan palsu. Kita punya yang asli" Seokjin menyerahkan folder kuning padanya.
"Apakah kamu yakin?"
"Ya, itu adalah 'The Cathedral' yang kita cari. Katakan pada pihak museum, bahwa kita menemukannya"
Di depan mereka, diukir di batu dengan tinggi 64 cm, berat 29,5 cm, diameter 31,8 cm dan masih diliputi berbagai alat, adalah kombinasi dari dua tangan kanan, milik dua tokoh yang berbeda. Patung ini diberi judul 'The Ark of the Covenant' , sebelum dinamai The Cathedral, patung tangan terkenal yang dibuat oleh Auguste Rodin. Salah satu pematung terhebat sepanjang masa.
Dua minggu lalu, Prancis dikejutkan oleh hilangnya salah satu patung terbaik mereka, "The Cathedral " yang diciptakan oleh Auguste Rodin. Patung itu hilang dimuseumnya sendiri yang berlokasi di Paris, Musée Rodin. Berita ini tidak hanya menjadi perbincangan hangat di antara para seniman dan pematung lainnya tetapi juga di antara orang-orang di sana mengingat betapa terkenal dan pengabdian Auguste terhadap seni patung. Manajemen museum menyatakan bahwa mereka bersumpah tidak ada karyawan atau orang dalam mereka yang berani mencuri apa pun di dalam museum dan mereka memiliki sistem keamanan yang cukup ketat walaupun museum terbuka untuk umum.
Mereka menjamin bahwa orang-orang yang bekerja di sana adalah seorang pecinta seni yang tahu bagaimana nilai artistik tidak ada habisnya dengan uang. Polisi bingung ketika mereka tiba di tempat kejadian karena tidak ada kerusakan pada alarm keamanan dan juga rekaman di CCTV, selain itu ada pemadaman listrik lima menit di daerah itu, sisa kotak kaca yang melindungi patung masih utuh meskipun barang-barang di dalamnya sudah hilang di telan bumi.
Museum juga mengatakan mereka akan bertanggung jawab dan sebisa mungkin menemukan patung yang hilang. Saat ini mereka bekerja dengan polisi dan agen intelijen yang berubah menjadi PI.
Saudaranya bekerja untuk kasus ini dan menemukan patung, Seokjin belum bertanya bagaimana kakaknya bisa menemukan patung ini. Patung ini dikirim ke forensik untuk menguji keasliannya yang berubah menjadi patung nyata yang mereka cari. Setelah PI mengirimkannya ke museum, museum segera menerbitkan pernyataan resmi bahwa mereka telah menemukan patung itu dan semuanya berpikir keadaan akan kembali normal.
Padahal siapa pencuri dan bagaimana pencuri mencuri patung itu masih meninggalkan tanda tanya besar.
/-/
"Ke Korea Selatan?" tanya Seokjin memastikan.
Dihadapannya kini adalah kepala PI, Delvon Peter Jahnel. Ketua divisinya yaitu DST, Kenlea Leshon Mingan, serta menteri dalam negeri dan keamanan Kim Boo Kyum.
Sebelumnya Seokjin dipanggil menghadap keruangan Delvon dimana sesampainya disana ia menemukan bahwa menteri dalam negeri dan keamanan Korea Selatan serta ketua divisinya. Waktu Seokjin datang wajah mereka menampakkan ketegangan luar biasa. Lima menit kemudian Kenlea memperkenalkan Bookyum sebagai menteri dalam negeri dan keamanan Korea Selatan yang sangat membutuhkan pertolongan dari pihak pusat.
"Kami sudah tidak tahu lagi harus menangkap mereka dengan cara apalagi. Tolong bantu kami"
Diketahui di Korea Selatan akhir ini geger dengan serangkaian pembunuhan yang terjadi di Ibukotanya, Seoul. Mulai dari Seoul berbagai korban pun ditemukan diberbagai kota besar lainnya seperti Busan, Daegu, bahkan Jeju. Orang – orang yang menjadi korban adalah orang – orang yang hampir semuanya berparas bak dewa maupun dewi.
Lucunya, berbagai saksi mata yang berhubungan dengan kasus pembunuhan ini mengatakan bahwa tersangkanya juga tak kalah punya bentuh tubuh yang menarik.
Entah bagaimana mereka bisa melihatnya.
Beberapa 'calon' tersangka sudah dipanggil dan rata – rata dari kalangan industri hiburan Korea Selatan seperti beberapa boygroup maupun aktor – aktor yang tengah naik daun. Dikarnakan mereka mempunya fandom yang besar membuat penyelidikan kepolisian semakin sulit dikarenakan tekanan dari masyarakat untuk menjauhkan 'oppa' mereka dari berbagai 'hal – hal negatif' yang mereka rasa hanyalah tuduhan fiktif yang mencoba menjatuhkan pamor artis idola mereka.
Dikarenakan kepolisian Korea Selatan sudah 'mandek' dan pemerintah juga sudah 'angkat tangan' maka setelah berdiskusi dengan Presiden tanpa bantuan dari dewan maupun partai lainnya akhirnya Bookyum terbang langsung ke New York untuk bertemu Delvon mengenai permasalahan ini.
"Begini pak menteri kami tidak bisa membantu banyak mengenai kasusmu ini karena ini juga menyangkut martabat negaramu sendiri"
"Tuah Jahnel, saya mempertaruhkan jabatan saya, presiden, dan nama negara kami kepada tim-mu" ujar Bookyum sopan seraya memohon membuat Delvon menghela nafas berat.
"Biar saya memanggil tuan Mingan" ujar Delvon merasa bahwa Kenlea adalah orang yang tepat untuk menangani kasus ini.
Tak lama kemudian Kenlea datang mendapati wajah Delvon dan Bookyum tegang menatap dirinya. Lima belas menit kemudian setelah mendengar dengan seksama kasus serta melihat dengan jeli berkas – berkas yang dibawa oleh Bookyum akhirnya Kenlea bersuara.
"Begini pak menteri, setelah melihat berkas dan cerita dari pak menteri langsung. Saya rasa mereka tak bisa ditangkap hanya dengan 'mata' dan 'tangan' tapi juga 'akal' dan 'telinga' pak" ujar Kenlea.
"Maksud tuan Mingan?"
"Saya tidak tahu ini bisa membantu atau tidak tapi saya rasa saya punya orang yang bisa membantumu terlebih dia aslinya merupakan orang Korea Selatan"
Dan itulah asal muasal Seokjin terdampar disini.
Seokjin mengantar Bookyum pergi kedepan kantor PI dimana sudah ada mobil dengan beberapa pengawal yang sudah siap mengkawal menteri tersebut. Sebelum menteri itu masuk ia berbalik kearah Seokjin.
"Janice-shi, siapa nama koreamu?"
"Kim Seok Jin imnida" ujar Seokjin membungkuk hormat sembilan puluh derajat, memberi salam sesuai dengan kultur budaya aslinya.
"Ah Seokjin, nama yang indah. Saya rasa keluarga anda memanggilmu dengan Jinnie"
"Nde, bagaimana pak menteri bisa tahu?"
"Hanya tebakan nak, kita membagi 'darah' yang sama. Saya sangat menunggu kedatanganmu di negara saya, negara kita"
/-/
"Korea Selatan!?" ujar ibunya kaget. Ketika Seokjin memberi tahu keluarganya saat makan malam bahwa Seokjin akan 'dipindah tugaskan' ke kampung halaman ibu dan ayahnya.
"Nde eomma"
"Apa tidak terlalu cepat nak? Dari New York ke Seoul butuh waktu setengah hari penerbangannya. Kamu juga tumbuh dan besar bukan di Korea Selatan sayang, eomma khawatir kamu disana sendirian sayang"
"Kan ada keluarga appa dan eomma disana, haraboeji dan halmoeni juga masih disana, Domin dan Daeho juga kan ada disana eomma"
"Yeobo, jangan buat Jinnie tambah panik" ujar sang suami sebagai kepala keluarga.
Sang ibu hanya bisa misuh – misuh saat makan sementara sang kakak hanya bisa menyenggol lengan Seokjin memberi support bahwa semuanya akan baik – baik saja.
Sejujurnya Seokjin takut.
Karna tersangka mereka termasuk orang – orang public figure yang Seokjin sendiri bahkan tidak pernah menyangka, dan pertama kali-nya pula kasus – kasus ini tidak punya 'tersangka' yang tetap.
Kasus 14104: Serial Killer – 'No Suspect'
Seokjin menghela nafas melihat foldernya.
/-/
"Apa!? Korea Selatan!?" teriak Hana panik membuat Sophia dan Aiden yang sebelumnya sibuk dengan urusannya masing – masing berbalik menuju meja Seokjin.
"What the hell Janice!? Kenapa baru bicara sekarang!?" amuk Sophia
"Karna aku juga baru diberitahu kemarin Sophia…" ujar Seokjin lemas.
"Kapan kamu berangkat?" tanya Aiden.
"Besok"
"BESOK!?" kompak mereka bertiga serentak.
Seokjin hanya bisa menundukkan wajahnya ketika staff lainnya memandang mereka dikarenakan jadi pusat perhatian.
Seokjin membereskan mejanya dengan berat hati. Dia belum lama disini, dia belum lama juga merasakan atmosfir bekerja disini. Bertemu Hana, Sophia, serta Aiden membuatnya tidak rela meninggalkan gedung ini.
Ketika Seokjin membereskan mejanya ia melayangkan pandangannya kepada figura disamping komputernya.
Foto mereka ber-empat saat pertama kali resmi menjadi anggota PI dengan bangga foto didepan kantor PI.
Seokjin tersenyum hangat.
"Jika sudah sampai disana kabari aku" ujar Sophia berlinang air mata.
"Iya, aku akan mengabarimu" balas Seokjin sambil mengusap air mata Sophia.
"Hati – hati disana ya Seokjin, kasusmu cukup rumit" ujar Hana.
"Iya aku akan berhati – hati"
"Jangan takut Seokjin, kalau kamu takut, mereka jauh lebih berani nanti" pesan Aiden.
"Yes sir!"
Setelah berpamitan kepada teman – temannya, Seokjin langsung balik kerumah membereskan barang – barang sekiranya yang perlu dibawa dan pakaian – pakaian disana nanti. Setelahnya, Seokjin melihat bingkai foto yang ia bawa dari kantornya tadi. Seokjin tersenyum melihat bingkai foto tersebut dan memutuskan untuk membawanya ke Korea Selatan bersama dengan bingkai foto keluarganya disaat hari kelulusannya.
"Seokjin…"
"Nde eomma?" ujar Seokjin menyadari ibunya sedari tadi memperhatikannya melihat kedua bingkai yang dia pegang.
"Kamu sudah siap – siap ya…?" dan Seokjin pun mengangguk.
"Hati – hati disana ya, entah kenapa feeling eomma ga enak…"
"Iya eomma, eomma tenang saja, Jinnie bisa jaga diri baik – baik kok" ujar Seokjin tersenyum menenangkan hati ibunya yang gundah.
Tapi sejujurnya hati Seokjin pun sama gundahnya.
Karna bagaimanapun Seokjin pun sama resahnya dengan ibunya. Entah kenapa Seokjin punya perasaan yang aneh dengan kasus ini. Mungkin karena pertama kali Seokjin melakukan destinasi ke negara lain membuatnya jadi lebih gugup.
Keesokkan harinya, keluarga Seokjin pun mengantarkan Seokjin ke bandara setelah berpamitan dengan ibu, ayah, dan hyungnya dan setelah itu naik ke pesawat dengan berat hati.
Ini akan menjadi perjalanannya yang panjang.
/-/
Incheon International Airport – Arrival Gates.
"Tuan Janice Kim? Anda harus mengisi beberapa berkas di bagian Imigrasi" ujar petugas di pintu kedatangan.
Seokjin pun mengangguk menuju kebagian imigrasi dimana beberapa orang sedang sibuk marah – marah disebuah ruangan yang harusnya jadi tujuan ruangan untuk Seokjin masuk. Namun saat Seokjin membuka pintu pertama kalinya. Wajahnya dilemparkan oleh beberapa kertas yang membuatnya terkejut. Seokjin harus memproses apa yang terjadi dalam beberapa menit untuk melihat petugas imigrasi yang kelihatannya sedang emosi dan mungkin salah satu dari mereka yang melempar berkas kearah Seokjin dan beberapa orang lainnya yang duduk tenang kini berdiri semua memandangnya.
BTS .
Itu pertama kalinya Seokjin bertemu dengan 'calon tersangkanya' sendiri.
"Eum…permisi, saya disuruh kebagian sini untuk mengambil formulir imigrasi" ujar Seokjin tenang meski tadi dirinya 'dilempari' kertas secara tidak sengaja.
"Tuan Park, ayolah selesaikan masalah ini. Lihat sudah beberapa orang mengantri"
"Maaf tuan Kim. Menurut otorisasi kepolisian kalian tidak diperkenankan meninggalkan Korea Selatan"
"Apalagi yang jadi permasalahannya? Karna kasus tujuh wanita yang menghilang? Itu bukan salah artis kami, artis kami sudah cukup 'koperatif' untuk datang ketika dipanggil agar dimintai keterangan. Sudah jelas disitu artis kami tak bersalah. Ini World Tour kami, dan kami bisa rugi besar kalau event ini dibatalkan"
"TETAP SAJA KALIAN TAK BISA KELUAR!" ujar petugas tadi marah besar sambil membanting meja.
Seokjin yang menyaksikan keduanya hanya bisa terkesiap.
Menyadari ini bukan ranahnya untuk mendengar, Seokjin berbalik pergi sebelum dicegat oleh salah seorang disana.
"Hey tunggu sebentar"
"Ya…?"
"Siapa namamu…?"
"Janice Kim" dan semura orang bingung begitu mereka mendengar namanya.
"Namamu cukup aneh untuk orang Korea" dan Seokjin meringis kemudian menyadari kebodohannya.
"Ah, maaf. Saya lahir dan besar bukan di Korea nama saya Kim-"
"Okelah apapun itu, ada urusan apa kau kemari"
"Tuan Kim itu bagian kami-"
"Psst! Biar aku yang bertanya, jadi dirimu yang lahir dan besar bukan di negara bodoh ini mengapa kemari?"
"Saya bekerja…"
"Oh bekerja kan? Nah apa kau tahu artis kami? Lihat keenam pria tampan ini. Mereka taat dan berbakti kepada negara, mereka menyumbangkan banyak sekali sejumlah amal dan donasi untuk NEGARA INI dan kamu tahu apa? Mereka dilarang BEKERJA hanya karena dituduh membunuh waw hebat sekali bukan!? Sebaiknya dirimu tidak usah bekerja dinegara ini dan kembalilah ke negaramu berasal!"
"TUAN KIM!"
"YA TUAN PARK! KAMI LELAH DIPERLAKUKAN SEBAGAI PENJAHAT SEDANGKAN KAMI TIDAK MELAKUKANNYA!"
"Jika anda merasa bahwa artis anda bukanlah penjahat yang dituduhkan saya rasa ada baiknya artis anda menetap terlebih dahulu di Korea" ujar Seokjin akhirnya membuka suara. Mengundang keterkejutan dari berbagai pihak dan rasa tertarik.
"Nak, tahu apa kamu-"
"Maaf saya terlihat lancang. Tapi saya rasa ini perlu dilakukan. Jika tersangka dan korbannya belum ditemukan, dan anda sendiri yang bilang bahwa artis anda telah dipanggil sebelumnya untuk kasus ini dan pergi kemudian, artis anda bisa dicurigai sebagai tersangka karena terlihat upaya ingin kabur"
"Hey nak, kami tidak kabur, kami bekerja dan sehabis itu kami akan kembali lagi!"
"Bukankah jawaban anda terlihat bahwa sebenarnya artis anda ingin kabur untuk menenangkan massa yang sedang panas disini?" ujar Seokjin kemudian membuat tuan Kim tadi kehabisan kata – kata.
"Hey anak kecil memangnya kau itu siapa hah!? Tahu apa kau tentang hukum"
"Perkenalkan saya Janice Kim atau Sersan Kim Seok Jin" ujar Seokjin kemudian menutup bungkam perkataan Tuan Kim dan mengundang senyum dari tuan Park.
Akhirnya, BTS tidak jadi diberangkatkan.
"Maaf membuat anda menunggu lama Kim Seok Jin-shi, perkenalkan saya Park Bon Hwa, saya Chief Immigration Officer disini. Saya dengar banyak tentang anda dari Pak Menteri"
"Tidak masalah, saya mengerti…"
"Saya dengar anda bukan orang biasa tapi apakah pantas ditempatkan sebagai sersan?" ujar Tuan Park menyadari berkas 'identitas' milik Seokjin.
"Huum, saya rasa jika saya harus menyelidiki sesuatu, saya harus memulainya dari bawah. Lagipula ini demi kebaikan keluarga saya yang tinggal disini"
"Berhati – hatilah nak, mereka bukan orang biasa, dan mereka pun adalah 'mereka'" ujar tuan Park khawatir melihat bagaimana orang sebaik dan selembut Seokjin ini nanti bekerja dengan kepolisian Korea Selatan.
"Nde. Nasihat anda akan saya dengar"
/-/
"Jinnie!" ujar sang bibi dan paman mendapati Seokjin yang keluar dari gerbang kedatangan. Seokjin tersenyum seraya melambaikan tangan, Domin dan Daeho yang dulu nampak kecil kini tumbuh menjadi pemuda – pemuda tampan.
"Wah, sudah lama sekali kita tak bertemu Imo! Samchon!" ujar Seokjin mendorong trolley luggage miliknya kemudian memeluk sang paman dan bibi kemudian memeluk para sepupunya.
"Aigoo, dulu diriku mengingat kau masih digendonganku dan kini tumbuh menjadi pemuda tampan, meski tidak lebih tampan dari aku" ujar Domin kemudian semua tertawa mendengarnya.
Kim Sang Do adalah kakak ayahnya yang sekaligus menjadi pamannya. Ia menikahi bibinya Cho Dae Hyeon dan dari pernikahan mereka lah lahir Kim Do Min dan dua tahun kemudian, Kim Dae Ho pun menambah kehangatan di keluarga ini.
Kim Sang Do adalah seorang pegawai negeri sipil di kantor Kementrian Pendidikan sebagai seorang staf ahli. Sementara bibinya membuka restoran kecil – kecilan di daerah Gangnam. Kim Do Min lebih tua lima tahun darinya adalah seorang atlit pacuan kuda sementara adiknya yang lebih tua tiga tahun darinya adalah seorang model freelancer.
Seokjin bertemu keluarga pamannya sesekali jika keluarga pamannya datang ke Amerika atau sekedar datang untuk memberi support moral buat Domin kalau ada pertandingan diluar.
Seokjin memasuki kamar yang sudah disediakan oleh paman dan bibinya. Rumah pamannya terletak disebuah kompleks apartemen di daerah Seoul dengan tipe apartemen duplex. Dimana lantai pertama diisi oleh kamar utama, dapur, ruang makan, ruang tamu, dan ruang keluarga dimana ada TV disana beserta satu unit kamar mandi, dan ruang cuci baju sementara dilantai atas terdiri dari tiga kamar yang didalamnya sudah disediakan kamar mandi, sementara lorong di lantai dua diisi oleh satu kamar mandi dan satu sofa panjang didepan jendela besar, sengaja ditaruh demikian agar bisa menikmati salju di perkotaan. Di ujung lorong lantai dua ada tangga kecil yang mengarah ke roof deck atau atapnya apartemen mengingat unit apartemen pamannya terletak dilantai paling atas yang langsung menuju atapnya gedung ini dimana biasanya paman dan bibinya menggelar barbeque party.
Karena kompleks apartemennya berada di pusat kota, Seokjin lebih mudah kemana – mana termasuk ketempat 'kerja barunya'
Seoul Metropolitan Police Agency.
Seokjin merapikan barang – barangnya sambil membongkar isi kopernya. Kamar miliknya yang biasanya digunakan sebagai kamar tamu terlihat cerah dengan nuansa putih dipadu dengan warna soft pink pastel. Kamarnya kurang lebih tidak jauh berbeda dengan kamarnya di rumahnya yang sesungguhnya. Sebuah kasur berukuran queen size dimana kedua ujung kepala kasurnya diapit meja kecil khas meja ruang tidur. Dimeja sebelah kiri terdapat sebuah cermin berdiri berukuran besar dan disamping cermin tersebut tersedia lemari pakaian.
Sedangkan dibagian meja sebelah kanan terdapat sebuah sofa santai yang langsung berdampingan dengan jendela kamarnya. Space kosong didepan kasurnya ialah meja belajar, satu rak buku, dan transparent board yang terpasang didinding samping jendela berdampingan langsung dengan meja belajar. Kelihatannya terlihat baru dipasang melihat bekas pengeboran di dindingnya. Samping meja belajar atau meja kerja tadi langsung pintu kamar mandi dimana didalamnya ada wastafel, bidets, serta bathup yang menyatu langsung dengan shower.
Seokjin yang membuka kopernya segera menaruh alat – alat mandinya dikamar mandi. Sehabis itu ia merapikan pakaiannya untuk dimasukkan kedalam lemari pakaian dan menaruh di hanger untuk pakaian bertipe kemeja atau jas yang tidak bagus kalau dilipat. Setelahnya Seokjin menaruh file – filenya kedalam laci meja kerjanya dan sebagian ditaruh diatas mejanya bersamaan dengan laptop miliknya beserta figura yang ia bawa. Buku – buku serta folder – folder kasus yang Seokjin bawa dari Amerika Seokjin taruh kedalam rak buku. Mengingat Seokjin tidak punya banyak alat makeup. Ia menempatkan produk skincare miliknya seperti sunblock, body lotion, toner, moisturizer, night cream, perfume dan lain – lainnya kedalam rak kecil di meja tidur sebelah kirinya.
Untuk meja sebelah kanannya tidak begitu banyak ia isi selain daripada tempat menaruh headphone, mp3 player, kacamata, dan jam tangan. Mungkin Seokjin akan menaruh beberapa buku yang biasa Seokjin baca sebelum tidur sehingga dirinya tidak perlu bangun menuju rak buku miliknya. Atau mungkin ia akan menempatkan satu jam weker disamping lampu meja. Remote AC dan Heater mungkin akan Jin taruh disitu.
Setelah mengeluarkan seluruh isi kopernya, Seokjin berencana menaruh koper tersebut diatas lemari, namun karena tinggi tak sampai Seokjin kesusahan hingga Daeho datang membantunya.
Apalagi yang diharapkan dari model selain bertubuh tinggi.
"Yah aku iri dengan tubuh tinggimu, Daeho hyung" ujar Seokjin mencoba terdengar 'iri'. Daeho hanya terkekeh sambil membawa sekotak paket disampul berwarna coklat yang sedari tadi tidak disadari oleh Seokjin.
"Ini ada paket untukmu" ujar Daeho kemudian membuat Seokjin membuka paket tersebut mendapati sebuah kotak bernuansa putih biru dengan lambang Korean National Police Agency. Didalamnya ada kemeja berwarna turquoise dengan bawahan celana bahan berwarna navy khas seragam kepolisian Korea Selatan dengan emblem Seoul Metropolitan Police Agency di dada sebelah kiri, lambang Korean National Police Agency di lengan sebelah kiri, lambang pangkatnya dibahu kiri dan kanan, serta emblem namanya didada sebelah kanan,
수경김석진,
Sergeant Constable Kim Seok Jin
Dirinya jatuh cinta dengan lambang kepolisian miliknya, Mawar Sharon yang dikelilingi oleh 2 daun di bagian atas dipadu simbol yin dan yang di bagian bawah.
Dan dia lebih jatuh cinta lagi dengan namanya.
Daripada Janice Kim, ia sudah lama tidak melihat nama aslinya terpampang apik.
Jin juga mendapat kemeja berwarna ivory white dengan bawahan yang sama dengan seragam sebelumnya. Sepertinya ini seragam kepolisian apabila bertugas sebagai polisi lalu lintas. Berbeda dengan seragam sebelumnya yang dipakai saat bertugas sehari – hari. Selain itu juga seragam dengan jas dan celana berwarna hitam serta kemeja berwarna putih. Seragam ini nampaknya dipakai untuk menghadiri acara tertentu.
Tidak lupa kepolisian menghadiahkannya atribut lainnya berupa tiga jenis topi untuk ketiga seragam tersebut, dasi serta ikat pinggang dengan warna yang berbeda sesuai dengan seragamnya. Adapula iya diberi jaket khas kepolisian yang kurang lebih hiasannya sama dengan kemeja kerjanya berwarna navy dan abu – abu, mungkin dipakai ketika bertugas diluar dan dalam kondisi dingin. Luar biasanya lagi ia dilengkapi dengan berbagai persenjataan mulai dari pistol, satu set peluru, handy talkie, baton, borgol serta kuncinya, dan yang terakhir ia diberikan dua jenis id card dalam bentuk id card biasa berupa dikalungkan atau dijepit serta dalam bentuk 'dompet' dimana hanya ada kartunya dan logo kepolisian Seoul.
Mereka tidak lupa memberikan Seokjin jas lab dengan hiasan lebih simple yaitu hanya berupa namanya di dada sebelah kanan dan emblem kepolisian Korea Selatan di dada sebelah kiri. Dan sebagai penutupnya mereka memberikan sebuah greeting card
Honor,
To never do what you know is wrong, even if no one is watching.
And always to do what you know is right, even though no one is watching.
To defend the innocent, protect the weak, to aid the injured.
To speak the truth in all things, and to stand against evil in all ways.
Honor is beyond price,
And we welcome you as the part of us.
- Seoul Metropolitan Police Agency.
"Wah uri Jinnie benar – benar menjadi seorang polisi sekarang"
"Nde hyung" ujar Seokjin tersenyum kecil.
Seragam ini mungkin tak sehebat 'seragamnya dahulu,' tapi entah mengapa Seokjin merasa 'dekat' dengan seragam ini.
Mungkin karena ini berhubungan dengan 'darimana ia berasal.'
"Ayo kita lakukan foto keluarga appa pasti senang melihatmu memakai seragam ini" ujar Daeho semangat.
Dan benar saja. Pamannya yang baru pulang mendadak heboh mendengar bahwa keponakan bungsunya telah menerima seragam resminya. Berhubung besok hari sabtu dan pamannya libur dihari itu ia mengajak keluarganya untuk foto keluarga bersama, bahkan disaat pulang disaat itu juga ia mengajak istri tercinta mencari gaun terbaik sekaligus mencari laundry terbaik untuk membersihkan seragam kebesarannya, seragam Domin, dan juga seragam barunya yang berwarna hitam.
Seokjin yang memang belum familiar dengan wilayah Seoul terbantu dengan acara keliling dadakan pamannya di wilayah Gangnam. Gangnam memang terkenal sebagai pusat hiburan dimana fashion style, produk kecantikan, busking, hingga pasar tumpah ada disini. Seokjin tidak heran bahwa julukan 'Ibukota tidak akan pernah tidur' memang berlaku di negara gingseng ini.
Namun itu juga berarti Seokjin harus mulai beradaptasi dengan 'suara – suara' baru yang sebelumnya ia tidak kenal jenisnya. Telinganya nampak kelelahan karna berbagai macam suara mendobrak masuk kedalam indra pendengarannya, Seokjin panik mencari earphone ditasnya dan dia meringis begitu tahu earphonenya tertinggal di meja tidur tadi sewaktu ia berberes. Telinganya mulai tidak kuat dan ia hampir kehilangan keseimbangannya jika tidak ada seseorang yang sigap menahannya.
"Chongak-shi, neo gweanchanhni?" ujar orang tersebut membantu Seokjin yang terlihat susah berdiri atau sempoyongan.
"Ah nde, gweanchanashimida" ujar Seokjin namun tak berselang kemudian tubuhnya kembali ambruk sebelum pria tadi membantunya lagi.
"Jinnie!" ujar seseorang yang Seokjin hapal sebagai suara tantenya.
"Ahjumma keluarganya?"
"Iya dia keponakan saya, apa yang terjadi padanya"
"Daritadi dia memegang kepalanya dan kehilangan keseimbangan. Saya rasa dia terkena sakit kepala-" ujar pria itu belum tuntas mengatakan kalimatnya sebelum Daeho menarik Seokjin kegendongannya.
"Kemungkinan dia jetlag karena baru saja tiba disini. Terima kasih telah membantunya" ujar Daeho membawa Seokjin menjauh meninggalkan pria tadi kebingungan sebelum menyadari bahwa ibu – ibu tadi menenteng tiga paperbag dan didalam salah satunya terdapat pakaian yang pemuda itu kenal.
"Gyeongchal heh…?"
Ujar pemuda itu tersenyum.
/-/
Keesokkan harinya Seokjin bangun dalam keadaan sudah lumayan membaik, telinganya jauh lebih baik beradaptasi dengan suara – suara lainnya. Paman dan bibinya yang pertama menemukan Seokjin dalam keadaan sadar, setelah memastikan semua keadaan baik – baik saja. Mereka semua beberes memakai pakaian – pakaian yang sudah disiapkan oleh tantenya tadi. Sebuah studio tua dengan design sederhana dan vintage yang kental menjadi studio pilihan pamannya. Seorang kakek tua datang menyambut ramah keluarga pamannya. Nampaknya, ini studio langganan pamannya.
"Sangdo-ah! Apa kabar? Sudah lama tidak kemari" ujar kakek tua itu nampaknya sudah lama sekali akrab dengan pamannya.
"Aigoo, ige gyeongchalgwannim...nuguya?" ujar kakek tua itu terpana memandang Seokjin dalam balutan seragam polisi.
"Samchon, ini anak Sanghyun! Seokjin-ah. Ini adalah kawan dekat haraboejinmu, Han Soo Chan" ujar pamannya sontak membuat Seokjin mendekat kaget dan memberi penghormatan lebih pantas kepada kawan lama kakeknya.
"Mianhamnida karena tidak mengenal anda, Kim Seok Jin imnida, saya putra kedua Kim Sanghyun-shi" ujar Seokjin membungkuk hormat.
"Aigoo uri Jinnie-ga sudah tumbuh dengan dewasa" ujar sang kakek tua memeluk Seokjin hangat.
Usut punya usut. Han Soo Chan adalah kawan sejawat kakek dari ayahnya, Kim Jae Sung. Dulu ayahnya pernah bercerita bahwa kakeknya dulu adalah reporter veteran dan mungkin bersama Soochan mengungkit kasus – kasus gelap yang tidak usut dituntas.
Namun entah apa yang terjadi, Soochan memilih pensiun dini dari perjunalisan dan membuka studio fotografi kecil – kecilan sampai sekarang. Dia memilih membesarkan anak angkatnya sambil terus memelihara studio kecil ini. Seokjin melihat dari dulu keluarganya selalu foto disini, bahkan foto kelahiran dirinya dan hyungnya juga difoto melalui kamera tua yang berdiri apik didalam studio ini. Akhirnya mereka berfoto bersama lalu foto paman dan bibinya, Seokjin dan sepupunya, hingga Seokjin disarankan untuk foto sendiri dalam balutan seragam polisinya.
Mungkin Seokjin bisa foto bersama seragam PI-nya nanti.
"Ini foto kami berdua aku dan haraboejimu" ujar Soochan memberikan sebuah foto didalamnya ada dua orang pemuda tampak berpose v-sign.
"Yang berkacamata itu adalah haraboejimu" dan Seokjin cukup kaget kakeknya lumayan mirip dengannya.
Keesokkan paginya Seokjin berangkat kantor polisi Seoul. Hari pertama ia berangkat ia diantar oleh Daeho sambil memberi tahu Seokjin rute bus dari kantor kepolisian menuju rumahnya. Begitu sampai di kantor kepolisian Seokjin langsung menjadi pusat perhatian. Masalahnya, dikantor kepolisian Seoul sudah santer terdengar bahwa kantor kepolisian mereka merekrut orang lulusan luar negeri.
Yang tak mereka sangka se-flawless begini orangnya.
"Kami sudah melihat berkasmu dan kudengar kau lulusan terbaik di Harvard, dan tampaknya kepolisian pusat langsung ingin menempatkanmu di bagian Unit Investigasi Khusus" ujar Inspektur Jo Hwan.
"Sepertinya begitu, saya harap bisa membantu banyak disini" ujar Seokjin tenang. Karena dia tahu bahwa berkasnya 'ditutup serapat' mungkin hingga tidak ada seorang pun yang tahu bahwa dia adalah anggota PI.
"Kau akan ditempatkan di Divisi Intelijen dibagian UIK, Captain Woo Hyeon akan membantumu" ujar Inspektur dan tak lama kemudian seseorang datang menghadap.
"Captain Woo, ini adalah orang yang ditransfer oleh KNPA. Ia ditempatkan di unitmu tolong bantu dia keliling kepolisian kita. Sersan Kim, ini Captain Woo Hyeon dia ketua Unit Investigasi Khusus" Seokjin langsung berdiri memberi hormat.
Seokjin diantar ke Unit Patroli dan Lalu Lintas, Unit Hukum, Unit Hubungan Masyarakat, Unit Reserse Kriminal, Unit Inestigasi Daerah, Unit Pemeliharaan Keamanan, dan Unit Teknologi Informasi Kepolisian. Selain itu Seokjin diajak keliling melihat taman, ruang tahanan, lab forensik, pantry dan lain – lain. Terakhir Seokjin dibawa masuk ke Unit Investigasi Khusus dimana membawahi tiga divisi. Divisi Penyelidikan, Divisi Pelacakan, dan yang terakhir Divisi Intelijen.
"Perkenalkan ini Letnan Choi Kwang Il dia ketua Divisi Penyelidikan, dibawahnya ada Sersan Hong Gi Tae, dan Go Eun Ho" dan Seokjin membungkuk hormat.
"Kim Seok Jin imnida, mohon bantuannya"
"Sangat aneh melihatmu berpakaian begitu" dan Seokjin menyadari hanya Seokjin dan Captain Woo yang berpakaian formal. Selebihnya mereka memilih mempadu padankan kaus dan jaket kulit atau sweater.
"Ah, karena ini hari pertama dan harus menghadap Inspektur tadi"
"Ini Sersan Jeon Kyung Woo dan Sersan Kwak Chan Wook. Mereka adalah ketua dan anggota Divisi Pelacakan, dan Sersan Gi Seung Hwan adalah partnermu nanti bersama Letnan Ok Woo Il, dia ketua Divisi Intelijen"
"Kudengar dirimu baru berusia dua puluh tahun" ujar Seung Hwan.
"Nde, majjayo. Desember nanti saya berusia dua puluh satu tahun" Seokjin tersenyum.
"Nyaman – nyamanlah disini, dan anggap kami para hyungmu tidak usah formal begitu. Wooil hyung sedang tidak ada disini cuman nanti dia akan segera datang" ujar Eunho sambil menyerahkan segelas kopi instan.
"Nde khamsahamnida Eunho hyung"
"Jadi aku resmi bukan lagi maknae disini?" ujar Chanwook yang dihadiahi getukan dari dari Kyungwoo.
"Ada yang mau engkau tanyakan?" ujar Captain Woo.
"Eum perihal kasus yang sedang kalian kerjakan…" ujar Seokjin agak ragu.
"Kasus 14104: Serial Killer – 'No Suspect'" ujar Gitae sampai hafal dengan nomor kasusnya.
"Sesuai namanya, kita tidak menemukan tersangkanya, banyak saksi, banyak korban, namun tidak ada tersangka" ujar seseorang dari pintu yang membuat Seokjin kaget.
"Eh? Dangsin-neun" ujar Seokjin mengenal orang yang ia temui semalam dipasar.
"Waeyo? Kalian saling mengenal?" tanya Eunho.
"Bisa dikatakan begitu" ujar Wooil tersenyum.
/-/
Personal Details
Full Name : Kim Seok Jin
Date of Birth : December, 4th 1998, Manhattan, New York, United States of America
Address : Seoul City View Apartmen, Unit No. 369, Yongsang-gu, South Korea
Phone : +82 1306 1311 0670
Email : kimseokjin[add]police. go .kr.
Gender : Male
Marital Status : Single
Ethnicity : Korean
Highest Education Level : University
Highess degree and Major : Bachelor / Criminal Justice and Law
Data Acquired : June, 13th 2017
Institution Name : Harvard University
Seorang pemuda menyeringai lebar melihat selembar kertas berisi biodata dimana di ujung kanannya terdapat foto menampilkan seorang pemuda memakai baju dinas khas kepolisian dengan background warna biru tua dengan lambang kepolisian Korea Selatan.
"Jadi ini anggota baru Wooil?" ujar pemuda itu menatap foto Seokjin lamat – lamat.
"Hm, aku tak tahu dia berguna atau tidak karena dirimu tahu sendiri bahwa Wooil sendiri tak pernah berhasil menangkapmu"
Pemuda itu tersenyum.
"Yeppeun Namja…Kau sudah yakin dia lulus tahun 2017? Itu artinya dia menyelesaikan studinya selama sembilan belas tahun. Dia punya riwayat pekerjaan?"
"Sejauh yang kulihat dia tidak punya riwayat pekerjaan. Background keluarganya juga hanya sebatas latar belakang saudara dari ayahnya atau pamannya yang memang keluarganya bertempat tinggal disini"
"Orang sepintar dirinya, menganggur, lalu tiba – tiba mendapat pekerjaan di Kepolisian Seoul, ditempatkan di unit khusus, serta background keluarga yang tertutup" pemuda itu tertawa melecehkan.
"Ah kurasa, kita harus mengirimkan 'hadiah selamat datang' kepada pretty boy satu ini"
/-/
"Nde? Galeri Pameran?" ujar Seokjin kaget.
"Hm, para tersangka kita disana. Dan oh ya, pakai pakaian yang sedikit lebih cerah dan berusaha menutupi senjata kalian. Akan ada banyak warga sipil disana" ujar Wooil.
Seokjin segera mengganti bajunya menjadi turtleneck male thick loose sweater berwarna putih dengan chino pants berwarna hitam. Bersamaan dengan Seunghwan memakai kaus turtleneck berwarna abu – abu dipadu jaket dan celana yang terbuat dari jeans.
Baru dua hari ia bekerja dan Seokjin sudah bertugas. Selama diperjalanan Seunghwan menceritakan bahwa ada kasus tujuh perempuan hilang dan belum ditemukan sampai saat ini. Ketujuh – tujuhnya hanya mempunyai satu kesamaan yaitu seorang army, fansnya BTS. Saat ini ada Galeri Pameran yang diadakan oleh Seoul Art Center berkolaborasi dengan para entertainer diseluruh Korea Selatan yang nanti akan dilelang. Hasil tiket dan pelelangannya akan disumbangkan untuk panti asuhan dan panti sosial setempat. Wooil memprediksi bahwa 'korban' mungkin ada disana mengingat ada nama Jungkook serta Taehyung menjadi didalam list nama seniman didalam pameran tersebut.
"Biasanya kita menemukan korban disaat mereka sudah 'membusuk' atau 'rusak' sehingga membuat proses penyelidikan menjadi sulit" ujar Kwangil.
"Eunho yang mengetahui event ini mengharapkan kita bisa menemukan clue" ujar Gitae.
"Eunho, lampirkan semua berkas para pengrajin serta kerajinannya dan sebarkan kepada kita semua. Gitae minta semua list para bidders nanti malam, dan Kwangil nanti minta daftar seluruh petugas, visitor dan rekaman CCTV. Dan kamu Seokjin, kamu ikut memantau pameran ini bersamaku" titah Wooil.
"Yes Sir!"
Mereka tiba pukul empat sore, tiga jam sebelum pameran dan pelelangan dimulai. Barang – barang pameran juga sibuk ditempatkan beserta para artis yang datang melihat barang – barang mereka memastikan bahwa tak ada lecet sedikitpun.
Seokjin mengerti mengapa Wooil memerintahkan mereka untuk berpakaian 'sebiasa' mungkin karena daritadi sudah banyak visitor yang mengantri diluar menunggu galeri dibuka. Mengingat bahwa polisi sudah sering mencurigai artis kesayangan mereka, membuat mereka sangat membenci kepolisian Seoul. Selama Seokjin keliling tidak ada yang aneh selain ia banyak berpapasan dengan para artis ternama.
"Kepolisian atau staff?" ujar seseorang membuat Seokjin membalikkan badan.
"Ah nde, saya kepolisian dari Seoul" ujar Seokjin menunjukkan tanda pengenalnya dan tersenyum hangat mencoba ramah kepada seseorang yang Seokjin kenal sebagai Nayeon, personil dari grup TWICE.
"Pameran BTS ada dilantai tiga kalau kalian masih mencurigai mereka dan banyak artis lainnya. Ck, menyebalkan" ujar Nayeon ketus.
"Ah, kami disini-"
"Setelah kalian memastikan bahwa kalian salah lagi dan jangan ganggu kami lagi" ujar Nayeon mendelik benci lalu pergi.
Seokjin menghela nafas. Seunghwan memang sudah mengatakan bahwa Nayeon sangat benci dengan kepolisian terutama menyangkut BTS. Nayeon tampaknya menyukai Taehyung meski perasaannya tak terbalas. Bukan hanya Nayeon, rata – rata artis perempuan kurang suka dengan kepolisian karena selama ini yang menjadi 'calon tersangka' selalu artis laki – laki dimana bisa menjadi pacar, suami, atau love-interest mereka. Seokjin yang biasanya selalu berkutat dikantor atau laboratorium forensik harus bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan 'dilapangan'.
Seokjin hanya bisa menghela nafas dan menuju lantai tiga, dimana ia langsung disambut dengan sebuah bingkai dimana terdapat tujuh foto bernuansa hitam putih. Didalam foto – foto tersebut menampakkan sebuah studio dance, sebuah kelas, sebuah kafe, pantai, taman bermain, ruangan pegawai disebuah kantor, dan sebuah taman yang dibelakangnya terdapat gedung.
花樣年華
Hwa Yang Yeon Hwa
Picture taken by BTS, V.
Seokjin entah mengapa tersenyum melihat foto – foto tersebut. Meski tidak ada orang atau manusia didalamnya, Seokjin nampak damai melihat foto – fotonya. Ada banyak emosi didalamnya yang tak dapat Seokjin sampaikan. Seokjin kembali menghela nafas kembali.
Bisakah dia benar – benar menemukan pelakunya?
Seokjin juga tak percaya dengan kemampuannya sendiri. Seniornya sudah banyak bercerita bahwa tak banyak yang bisa mereka lakukan. Semakin kuat kekuatan 'calon tersangka' semakin sulit untuk dibongkar seberapa kuatnya kekuatan polisi.
"Menikmati pemandangan Sersan Kim?" ujar sebuah suara membuat Seokjin berbalik dihadapannya ada member BTS lengkap dan seseorang yang dulu Seokjin temui dibandara, si Tuan Kim. Seokjin membungkuk hormat mencoba menyapa dengan baik.
"Nde Tuan Kim, V-shi memfoto dengan baik" ujar Seokjin.
"Tapi anda nampaknya membawa senjata lengkap untuk sekedar 'menikmati pemandangan' Sersan Kim" ujar Taehyung nampak main – main.
"Nde, saya kemari sekaligus-"
"hhh…"
"…bertugas.." ucapan Seokjin sempat terjeda beberapa detik sebelum ia melanjutkan kalimatnya kembali.
Seokjin jelas mendengar suara orang merintih.
Tapi sejauh mata memandang, Seokjin tidak menemukan orang yang punya suara rintihan tersebut.
"Apakah sersan sudah berkeliling lantai ini?" tanya seseorang yang Jin ketahui sebagai Jimin.
"Ah belum, dan tidak usah seformal begitu saya masih baru disini. Pangkat sersan bukanlah apa – apa jadi cukup panggil gyeongchal-nim saja" ujar Seokjin.
"Kalau begitu bagaimana dengan Janice-shi?" ujar Jimin kemudian dan gayung pun bersambut Seokjin hanya mengangguk.
"Janice atau Seokjin pun tidak masalah"
"Kalau begitu tolong selesaikan urusan anda disini Seokjin-shi, kami tidak nyaman dengan kehadiran polisi" ujar Tuan Kim kemudian, rupanya masih kesal dengan insiden bandara kemarin. Seokjin hanya mengangguk paham sambil berkeliling meninggalkan mereka. Mengingat kini lantai tiga semakin ramai banyak artis yang datang.
"Yah Jimin dia polisi?"
"Nde, dia kesini untuk menangkap kita"
"Masih kemungkinan Jimin"
"Tapi kenapa Chanyeol hyung bertanya"
"Jangan bohong Jimin, muka tingkat dewa seperti dia bahkan bisa dengan mudah jadi idol tanpa trainee bertahun – tahun"
Lalu mereka pun tertawa mengiyakan.
Sementara Seokjin hanya bisa menghela nafas, mereka pasti mengira Seokjin tidak bisa mendengar karna jarak mereka sedikit berjauhan. Seokjin bersyukur masih belum ada yang tahu mengenai kondisi telinganya. Seokjin mencoba fokus mencari suara rintihan tadi tapi Seokjin sudah tidak bisa mendengar lagi bahkan ketika ia sudah mengelilingi lantai ini tiga kali.
Namun daritadi sesuatu menarik perhatian Seokjin.
Tujuh patung tangan dengan situasi berbeda berdiri apik diatas sebuah meja podium.
Seven Deadly Sins
Created by BTS, Jungkook.
"Seokjin-shi, saya perhatikan dari tadi anda hanya fokus melihat karya buatan member kami. Jujur saja anda kesini untuk menangkap-"
"Saya tidak ingin menangkap seseorang yang tidak terbukti melakukan kejahatan. Tuan Kim, jika anda yakin bahwa anak anda tidak melakukan kejahatan, anda tidak perlu-"
"Hhh…"
"…sepanik itu…" ujar Seokjin lemah kini menuai atensinya pada tujuh patung yang tertera dibuat oleh Jungkook.
"Help…"
Seokjin segera mengeluarkan baton yang sedari tadi bersembunyi di pinggangnya yang tertutup oleh sweaternya yang besar. Lalu memukul meja tempat dimana patung tangan itu berdiri.
"YAK SERSAN KIM! ANDA MERUSAK PROPERTI-" ujar Tuan Kim marah sebelum terhenti menyaksikan Seokjin yang kini terdiam kaku.
Seonggok manusia dalam posisi duduk jongkok kedua tangan mengapit kakinya ada didalam meja podium yang Seokjin coba buka tadi. Seokjin yang terdiam segera sadar dan mendekatkan diri kepada perempuan itu dan memeriksa nadinya.
"Dia masih hidup segera pangggil ambulans" teriak Seokjin membuat orang disana segera memanggil ambulan. Seokjin pun mengambil baton dan memukul keenam meja podium lainnya. Seokjin terdiam.
Tujuh wanita yang mereka cari kini ada dihadapan mereka.
Seokjin segera mengambil HT miliknya.
"Sersan Kim disini, lapor…" Seokjin terdiam.
"…lapor…saya menemukan tujuh perempuan dilantai tiga" ujar Seokjin kemudian menghela nafas.
Kini tatapan matanya mengarah ke Jungkook.
Juga Jungkook yang kini sedang menatapnya.
Mereka berdua saling bertukar pandang dengan pemikiran masing - masing
