TITTLE : Beauty Lawbreaking
ALTERNATIVE TITLE : The Shape of Voice
PAIR : ALLxJIN / EVERONExJIN
"And the sweet little angel couldn't keep her eyes off the devil." – 4am
Keesokkan harinya Seokjin kembali masuk. Kali ini ia tidak disapa dengan Eunho dan kopi atau teh paginya. Ruangan kantornya masih kosong. Seokjin benar – benar datang pagi – pagi buta.
Kakinya masih di gips namun sudah sedikit lebih baik untuk ia pakai berjalan. Seokjin pergi kearah jendela tempat dimana biasa Eunho suka memandang, dan ternyata benar, ia bisa melihat keseluruhan areal dibawah sana termasuk jalan raya. Meski sudah memasuki pertengahan Februari suhu di Seoul masih kisaran lima sampai tujuh derajat celcius. Cukup dingin untuk berdiri diluar sana tanpa pakaian tebal.
Bosan menunggu teman – temannya datang. Seokjin berinisiatif untuk merapihkan ruangan mereka. Meja milik Hyeon dan Kwangil paling rapi dibanding yang lain. Mungkin karena tidak begitu banyak berkas bercecaran seperti di meja Wooil, Eunho, atau Seunghwan yang biasanya paling banyak menangani untuk mencari 'alur' daripada kasus – kasus mereka. Meja Seokjin juga termasuk paling rapi karena sudah seminggu lebih tidak dihuni dan berkas Seokjin rata – rata ia bawa pulang. Meja milik Gitae sedikit lebih baik karena ia yang paling sering menerima berkas laporan sehingga mudah untuk ditata.
Oh jangan tanya mengenai meja divisi pelacakan alias meja milik Kyungwoo dan Chanwook.
Meja mereka sudah lebih layak disebut sebagai tempat sampah dibanding meja kerja.
Terutama meja Chanwook. Seokjin sudah tidak bisa membedakan mana sampah cup ramen dan mana sampling CD CCTV.
Seokjin membersihkan dan merapikan semuanya agar mudah untuk mereka nanti ketika mencari barang – barang tertentu agar lebih terorganisir. Seokjin bahkan sudah menyapu dan mengelap seluruh lantai, meja, kaca, dan jendela hingga pada menambah pengharum ruangan supaya ruangan terlihat sedikit lebih 'baik' dan lebih 'hidup.'
Seokjin menghabiskan waktu dua jamnya disini dan tidak ada satupun yang datang.
Seokjin menghela nafas.
Mungkinkah mereka masih marah?
"Seokjin?" sapa sebuah suara dari pintu masuk membuat Seokjin membalikkan badannya dan bernafas lega kemudian.
"Ah, Kyungwoo hyung..." jawab Seokjin lirih, ada sedikit perasaan lega disana.
"Dirimu mengapa kemari?"
"Huh...? Bukankah ini hari kerja?" tanya Seokjin balik.
"Dirimu tidak membaca pesan di grup? Hyeon meliburkan kita hari ini. Nampaknya ia tidak begitu sukses 'membujuk' Wooil hyung sehingga memilih meliburkan team sambil merefleksikan pikiran masing – masing" jelas Kyungwoo dan Seokjin terlalu bodoh menangis semalaman hingga lupa melihat notifikasi di ponselnya.
"Ah...begitu rupanya. Hyung sendiri mengapa kemari?" tanya Seokjin dan Kyungwoo tersenyum sambil mengangkat sebuah CD yang baru disadari Seokjin sudah ada ditangan pemuda itu sejak tadi.
"Ini caraku 'merefleksikan pikiran'. Ingin melihatnya?" tawar Kyungwoo dan Seokjin mengangguk.
Kyungwoo membawa Seokjin ke ruang rapat dan menyalakan proyektor didepan mereka. Apakah mereka akan melakukan persentasi sekarang? Itu yang dipikiran Seokjin pertama kali.
Bukan sebuah video yang menampilkan sebuah kamar tidur dengan wajah girang Joomin yang menyapanya.
"Log Video : 21 Juni 2013. Hari pertama aku bekerja di Seoul Metropolitan Police Agency. Impianku dari kecil menjadi kenyataan! Eomma disurga sana pasti bangga karena kini aku bisa menjaga appa dua puluh empat jam kkk~ Wooil nampak bersemangat layaknya anak anjing, Hyeon dan Kwangil hyung juga sama bersemangatnya tapi mereka menutupinya dengan baik, itu pasti karena mereka menjaga image ckckck. Kami bertemu dengan seorang nerdy, namanya Jeon Kyung Woo dan benar – benar seorang maniak komputer. Aku berharap ia tidak mengekspos koleksi video porno milik Wooil hahaha. Oh ya, selain bertemu dengan si nerdy kami bertemu dengan si pendiam Gi Seung Hwan, anak itu memancarkan aura voldemort. Ah aku rasa segini dulu, hari – hariku baru dimulai hari ini."
Seokjin mau tidak mau tersenyum menontonnya. Joomin nampak bahagia di video tersebut.
"Log Video : 24 Desember 2014, di malam natal ini kami harus menyaksikan sebuah keluarga yang terpecah belah. Seorang ibu yang meninggal, anak yang ketakutan, dan ayah yang menggila. Eomma, aku bersyukur eomma di surga sana dan tidak meninggal dengan keadaan mengenaskan seperti tadi. Pasti menyakitkan meninggal ditangan orang yang kita cintai. Berbicara mengenai cinta...si nerdy itu secara ekplisit menyatakan cinta padaku. Dasar pemuda culun bodoh, dia tidak tahu bahwa aku sudah lebih jauh mencintainya...pemuda itu bahkan tidak berani menciumku. Tapi tak apa, dia manis apa adanya dan juga sangat tampan kkk"
Seokjin terkejut mendengar video diary tersebut dan segera mengarahkan pandangannya kepada Kyungwoo yang sudah menatap Seokjin sambil mengangguk dan tersenyum. Seokjin tidak menyangka selama ini bahwa Kyungwoo dan Joomin pernah menjalin suatu hubungan. Namun melihat ekspresi muka memerah bak kepiting rebus milik Joomin, Seokjin yakin bahwa Joomin sangat mencintai Kyungwoo.
"Log Video : 27 Mey 2015. Di UIK kita kedatangan Hong Gi Tae dan Go Eun Ho, kami baru merayakan kedatangan mereka hari ini. Gitae terlihat sangat 'western' dan aku bisa memakluminya karena dia lahir di Canada rupanya sedangkan Eunho, entahlah anak itu terlihat sangat aneh tapi ramah. Mungkin aku akan dekat dengan keduanya seiring dengan perjalanan waktu. Eum, eomma pasti aneh melihat banyak eum..anu...eung...hickey...i-itu...karena semalam aku dan Kyungwoo...HEISH JEON KYUNG WOO MENYEBALKAN! Ia baru puas setelah membuatku cum lima kali! Wooil akan meledekku habis – habisan kalau ia melihat semua tanda ini. Ck, aku menarik kembali perkataanku. Jeon Kyung Woo bukanlah si pemuda culun yang cute. Jangan percaya dengan marga Jeon, mereka serigala berbulu domba kkk"
Seokjin mau tidak mau tertawa melihat video ini sementara Kyungwoo yang sudah mengusap lehernya pertanda malu.
"Wow hyung, aku tidak tahu 'sexual drivemu' sebesar itu. Dari yang tidak berani mencium hingga 'menghajarnya' habis – habisan" sindir Seokjin jahil dibalas dengan kekehan kikuk dari Kyungwoo.
"Log Video : 24 Februari 2016. Kasus Mr. Photographer kembali memakan korban kembali...pihak SMPA sampai harus mendatangkan anggota baru, Kwak Chan Wook namanya untuk membantu kami menyelesaikan ini...eomma aku takut, firasatku tidak enak. Tapi Chanwookie dan Kyungwoo selalu bersamaku dan Wooil sangat berambisi mencari orang itu. Entahlah perasaanku tidak enak..."
Seokjin terdiam. Ia tidak tahu harus bersikap apa sekarang, ia bisa melihat ada kesedihan di wajah Kyungwoo.
"Log Video : 20 September 2016. Hi eomma, eum...aku baru saja balik dari Namsan Tower, Kyungwoo melamarku ck, sepertinya anak itu punya keberanian dan aku menjawab iya. Iya, aku mau menikah dan menghabiskan sisa waktuku bersamanya. Sepanjang perjalanan kami berbicara mengenai kasus photographer maniak tersebut yang sudah mengarah pada titik terang dan semua terasa begitu...tenang..."
Hening menyapa, Seokjin bisa melihat ada raut wajah kecemasan disana.
Joomin sepertinya mengetahui waktunya 'tidaklah banyak'
"...tapi eomma. Meskipun semua terasa baik – baik saja, aku tidak pernah merasa baik – baik saja. Aku masih merasa ada yang janggal dan entah kenapa aku sangat takut menjalani kehidupan esok hari. Eomma anakmu benar – benar akan menikah bukan? Impian terakhir appa adalah mengantarkanku ke altar pelaminan...jika ini adalah video terakhir yang kubuat aku ingin bilang bahwa aku mencintai kalian semua...dan tetaplah bahagia."
Dan berhenti.
Semua berhenti tepat dimana Joomin menghela nafas lalu kemudian berjalan kearah kamera dan mengklik sesuatu yang Seokjin asumsikan sebagai tombol 'stop' dikamera tersebut. Seokjin reflek memandang kearah Kyungwoo dimana orang yang dipandang masih tersenyum memandang layar proyektor tersebut.
Senyuman penuh kesedihan yang tidak pernah Seokjin lihat sebelumnya.
"Itu video terakhir miliknya...sebelum lima hari kemudian kami menemukannya...telah tiada..." ucap Kyungwoo terlihat lirih dan pelan.
Seokjin diam tidak bisa merespon apapun.
Juga Seokjin yang baru menyadari bahwa selama ini Kyungwoo mengenakan kalung,
Berbandul cincin.
Seokjin tidak perlu bertanya itu 'cincin apa' mengingat Joomin dalam videonya sudah menceritakan segalanya.
"Dia menyayangi kalian semua..." ujar Seokjin mencoba menghibur dan Kyungwoo tersenyum sedikit.
"Yah...dia sangat menyayangi kita semua, jika dia masih ada sekarang mungkin dia akan mentraktirmu makanan sama seperti dia mentraktir Chanwook" jawab Kyungwoo.
"Ini caramu...merefleksikan diri hyung...?" tanya Seokjin.
"Lebih tepatnya ini caraku mencintainya..." jawab Kyungwoo lembut dan perlahan, Seokjin bisa mendengar nada ketulusan disana.
Seokjin terdiam, tidak tahu harus merespon bagaimana.
"Orang bilang kita harus menjalani hidup...tapi aku dan Wooil sama-sama tahu. Kami sudah lama meninggal, jiwa kami telah meninggal bersama – sama dengan saat kami mengantarkan jasad Joomin kepemakaman. Yang kini hidup hanyalah raga kami saja Seokjin, yang masih mendendam tak bisa menemukan pelaku pembunuhan Joomin. Hidup kami sungguhlah sesak melewati hari – hari seperti ini Seokjin-ah..." ujar Kyungwoo jujur bicara dari hatinya yang terdalam.
/-/
Kyungwoo pamit pulang setelah 'acara mari mengenang Joomin' meninggalkan Seokjin terpekur diam didalam ruangan tersebut. Masih terdengar dan terbayang jelas rekaman video tadi, jika Joomin masih ada mungkin Seokjin tidak ada disini. Jika Joomin masih ada mungkin sekarang Kyungwoo dan Joomin sudah menikah, jika Joomin masih ada mungkin Wooil masih tetap tersenyum hangat tanpa memasang tampang dingin dan 'membangun dinding' terhadap semua orang yang ada didekatnya. Jika Joomin masih ada mungkin ia akan menceritakan betapa memalukannya Hyeon dan Kwangil memasang 'image cool' demi menarik perhatian polisi dan – polisi disekitar mereka. Jika Joomin masih ada mungkin kapten Daejoon, ayah Joomin, masih disini memberikan wejangan dan dad jokes terbaiknya. Jika Joomin masih ada-
Ya,
Jika Joomin masih ada.
Tapi dia sudah tiada.
Dan Seokjin tidak bisa menggantikan posisi orang yang sudah tiada. Mereka akan tetap ada dan hidup di hati orang – orang yang mengenangnya.
"Para pemuda ini hilang dan tak ditemukan sampai sekarang dan semuanya pergi hanya meninggalkan sepucuk foto polaroid ini..."
"Joomin bekerja siang dan malam demi menumpas habis kasus ini. Kami menemui titik terang, salah satu korban, Jo Woo Yeong, seorang anak yatim piatu yang bersekolah di Hanlim Arts School disinyalir menjadi trainee di BigHit membuat kami menivestigasi agensi tersebut. Faktanya, lima belas pemuda yang hilang berkaitan dengan BTS..."
"Tapi mengapa Hangyeol dibunuh?"
"Itu artinya Hangyeol tidak sendiri. Ada dalang lain yang kubicarakan dengan Seunghwan dan Kwangil"
14.02.2019
Shit! Seharusnya aku tahu bahwa MasterLife adalah Hyungnim. Aku menyesal mengikuti permintaan Yool untuk membunuh Seokjin. Seharusnya aku sadar bahwa Seokjin adalah kekasih Hyungnim!
Seokjin mengangkat kepalanya dan segera keluar dari ruangan rapat. Ia segera menuju whiteboard besar dimana banyak pattern yang sudah timnya buat untuk kasus Hongshim dan Hangyeol. Seokjin mencopt semua foto, kertas, dan pola yang sudah dibuat. Terlalu random dan tidak akan bisa ditemukan polanya sehingga Seokjin mengulang dari awal.
31 Januari 2019 : Hangyeol ditemukan meninggal dengan tembakan di kepala, shotgun sepertinya melihat lingkaran didahinya sekitar 8-10 mm, meninggalkan 'surat kematian' dalam kondisi rumah yang tertutup, punya seorang kekasih berinisial 'daddy,' dan terlibat 'hubungan panas' dengan Jungkook.
'Mianhae appa...
Mianhae eomma...
Putra yang kau banggakan ini...
Tidak lebih dari seorang pembunuh...
Polisi sudah mencariku...dan...
Mianhae Jungkook-ah...
Aku mengkhianati persahabatan kita...
Telah memojokkanmu sebagai tersangkanya...'
Isi surat tersebut ditulis dan ditandatangi langsung oleh Hangyeol.
15 Februari 2019 : Seokjin menemukan mayat Hongshim. Disinyalir korban meninggal sejak semalam (14 Februari 2019), tembakan di dahi, shotgun sepertinya melihat lingkaran didahinya sekitar 8-10 mm, dan orang yang sama yang ingin mencelekai Seokjin atas suruhan Kim Yool, mendapat penopang dana dari 'Masterlife' atau 'Hyungnim' serta mendapat akses ke Alpha Pack Club.
22 Februari 2019 : Mereka menemukan Kwon Yool dan Kim Jae Wook di perjalanan menuju villa mereka didaerah Dongjak-gu. Keduanya habis terbakar didalam mobilnya sendiri, penyebabnya remnya blong dan menabrak pohon hingga membuat tangki mereka bocor lalu membakar mobilnya sendiri. Diperkirakan tewas pada 15 Februari 2019 dan sehari sebelumnya (14 Februari 2019) mereka berdua mengunjungi restaurant milik bibi Seokjin, rupanya Jaewook dan Yool dan teman dekat sepupunya Seokjin, Daeho.
Seokjin melihat rentetan timeline yang ia pasang sekarang.
Urutannya berarti ialah penemuan mayat Hangyeol, Hongshim yang mencelakai Seokjin, lalu Hongshim yang terbunuh, dan Kwon Yool dan Kim Jae Wook yang mati terbakar didalam mobil.
Yang nampaknya semuanya dimanipulasi.
Kasus Hangyeol jelas bukan kasus bunuh diri. Tembakan itu tepat didahinya sehingga tidak mungkin Hangyeol menembak dirinya sendiri dan setelah diamati lebih jelas lagi setelah hasil visum keluar, lubang tembakan di tengkorak belakangnya lebih kecil dari lubang di dahi depan.
Itu artinya moncong peluru bertabrakan langsung pertama kali dengan tengkorak belakangnya sekaligus menandakan pelatuknya berada dibelakang tubuh Hangyeol.
Seseorang pasti telah menembaknya dari belakang dan Seokjin menempalkan notes tersebut di board tadi.
Tapi bagaimana dengan surat bunuh diri milik Hangyeol? Hasil visum jelas – jelas menyatakan itu tulisan dan tanda tangan asli milik Hangyeol.
Faktanya jenis pistol itu sama dengan pistol yang menembak kepala Hongshim. Dilihat dari bagaimana peluru tersebut bisa benar-benar persis mengenai kepala Hangyeol dan Hongshim menandakan bahwa orang ini terlatih menggunakan pistol.
Lalu sesuai dengan memoir dan hasil testimoni dosen Hongshim, Alpha Agency memberikannya beasiswa dan dilihat dari urutan waktunya Hongshim mendapatkannya setelah bertemu dengan seseorang dengan user 'MasterLife' yang menurut pengakuan Hongshim dalam memoirnya adalah orang yang sama dengan seseorang yang ia sebut dengan 'Hyungnim.' Tapi Hongshim disewa oleh Yool untuk mecelakainya.
Itu artinya baik Yool dan Jaewook bukan'MasterLife atau Hyungnim' ini dan berteman dekat dengannya.
Kekasih Hangyeol yang disebut oleh Jungkook terlihat seperti Jaewook akibat hasil hidden cam yang diretas oleh Kyungwoo, tapi sebelum Seokjin bisa mengkonfirmasi kebenaran ini baik Yool dan Jaewook meninggal duluan.
Membuat Seokjin ragu bahwa Jaewook adalah kekasih Hangyeol karena kecelakaan mereka yang dimanipulasi nampak seperti seseorang sedang 'takut' sesuatu akan terungkap jika Hangyeol, Hongshim, Yool dan Jaewook masih hidup.
Mungkinkah si MasterLife atau Hyungnim ini dalang dibalik semuanya? Melihat dari recent comment-nya di situs tersebut user MasterLife ini tahu benar bahwa Hongshim tengah masturbasi dengan video animasi buatan Hongshim sendiri.
Suatu hal yang tidak dibagikan oleh Hongshim kesitus tersebut.
Mulai darimana Seokjin harus mencari?
Seokjin memutuskan untuk mencari pelayan yang biasa menemani Hangyeol di ruang tunggu MBC. Seokjin bergegas keluar dari kantor polisi dan tidak sengaja berpapasan dengan seseorang yang kini kikuk menghadapinya.
Shin Moon Soo.
Orang yang membuat puluhan foto Seokjin tersebar di situs tersebut.
/-/
Moonsoo mengajaknya ke sebuah café dekat kantor polisi mereka. Seokjin meminta cukup dipesankan susu coklat panas dan tiramisu cake dan Moonsoo memesan menu yang sama untuk menemani siang mereka. Baik Seokjin dan Moonsoo sama-sama larut dalam pikiran mereka masing-masing sebelum Moonsoo menarik nafas panjang dan berani menghadapkan wajahnya pada Seokjin.
"Seokjin-ah, aku minta maaf. Karena aku, foto-fotomu tersebar di situs tersebut. Karena aku juga...eum...kau dalam bahaya. Sungguh aku tidak tahu bahwa Hongshim ternyata-"
"Gweanchana Moonsoo-ya. Aku juga ingin minta maaf atas luka diwajahmu itu. Wooil pasti memukulmu cukup keras" Seokjin memotong ucapan Moonsoo melihat pemuda itu yang matanya sudah nampak berkaca-kaca.
Biar bagaimanapun Moonsoo tidak sepenuhnya menjadi pihak yang salah. Ditambah lagi Moonsoo tidak pernah memfoto dirinya yang 'aneh-aneh,' semua saat Seokjin di kantor polisi dan masih memakai pakaian lengkap. Entah itu ia sedang saat makan dikantin, memeriksa hasil visum di lab forensik, atau sekedar minum air isotonik dekat vending machine yang ada di kantor polisi tersebut.
Kondisi Moonsoo sangat tidak baik saat ini. Pemuda itu jauh lebih kurus dari yang Seokjin ingat dan tidak ada lagi raut wajah bahagia dan cheerful miliknya. Semua orang dikepolisian nampak kaget dengan hal ini.
Seokjin paham bahwa Korea Selatan belum bisa membuka dirinya terhadap orientasi seksual selain heterosexual. Menjadi anggota kepolisian yang seharusnya menjadi contoh masyarakat pasti menambah beban tersendiri untuk Moonsoo karena orientasi seksualnya yang dianggap 'menyimpang' oleh banyak orang. Bersyukur orang-orang di Seoul Metropolitan Police Agency punya pemikiran terbuka bahkan jauh sebelum Joomin dan Kyungwoo sebagai pasangan sejenis pertama yang coming out terhadap para kolega-koleganya. Pihak Korean National Police Agency sendiri tidak mengatur regulasi mengenai orientasi seksual mengingat itu hak dan urusan pribadi masing – masing anggotanya. Maka dari itu untungnya Moonsoo tidak begitu mendapat banyak diskriminasi dan hanya dihukum dengan pasal atas kelakuannya sendiri.
Pesanan mereka datang sekaligus membawa nuansa hangat dimeja mereka. Moonsoo menceritakan bahwa ia pertama kali bertemu dengan Hongshim pada Desember 2017 silam lewat situs tersebut. Moonsoo bilang bahwa seseorang dengan username MasterLife memperkenalkan dirinya dengan Hongshim membuat Seokjin semakin tertarik dengan ceritanya Moonsoo.
"MasterLife ini, kau tahu 'wujudnya'?" tanya Seokjin dan Moonsoo menggeleng.
"Aku pertama kali mengetahuinya ketika sedang mencari klub khusus untuk gay dan Eunho bilang bahwa ada klub seperti itu yang terkenal di Gangnam. Namanya Alpha Pack Club"
Tunggu dulu, Eunho?
"Maksud hyung, Eunho hyung? Anggota unitku?" tanya Seokjin memastikan.
"Huum. Apa kau tidak tahu bahwa Eunho itu cukup terkenal di kalangan para artis. Ralat, seluruh anggota divismu itu terkenal Seokjin-ah. Eunho bahkan punya membership Alpha Pack Club, maka dari itu ia menyarankan aku untuk kesana. Tapi tiket masuk kesana cukup mahal, maka dari itu Eunho memberikan aku sebuah kartu nama dengan username itu. Nampaknya ia orang dalam club itu dan ia memberikan aku tiket masuk gratis. Disana aku bertemu dengan Hongshim" terang Moonsoo.
Seokjin kaget luar biasa.
Eunho kenal dengan MasterLife ini?
Kenapa Eunho tidak memberi tahu sebelumnya?
Seokjin termenung diam sampai Moonsoo menepuk pundaknya untuk menyadarkannya.
"Seokjin kau tidak apa-apa?"
"Huh...? Ah nde, aku tidak apa-apa. Hanya saja kaget Eunho hyung seterkenal itu sampai bisa memiliki membership card"
"Aigoo, Unitmu banyak memiliki kasus-kasus yang melibatkan publik figur dan sering lalu lalang ditelevisi. Kau sendiri bahkan muncul sekali dan sudah punya banyak penggemar" jawab Moonsoo dan Seokjin tersenyum kikuk.
Karena pikirannya bukan ada disini.
Pikirannya melanglang buana kesana-kemari mencoba mengurai benang kusut tersebut.
Pertemuan dengan Moonsoo cukup lama. Moonsoo menceritakan bagaimana Hongshim memperlakukannya dengan lembut dan penuh cinta. Meskipun hubungan mereka selama dua tahun ini selalu dihiasi dengan 'ranjang' tapi ada saat dimana Hongshim memperlakukannya dengan manis seperti singgah di pos tempat dia berdinas menjaga lalu lintas untuk sekedar memberikan sekotak bekal atau dimana Hongshim mengingat hari – hari penting mereka dan tidak pernah melupakan fakta-fakta kecil milik Moonsoo seperti bagaimana pemuda itu lebih suka tidur dengan lampu dimatikan atau bahwa Moonsoo alergi dengan jamur.
Hongshim benar-benar nampak seperti pacar idaman jika kita tidak mengenalnya dengan 'cara yang lain.'
Yang sayangnya Seokjin sudah membaca seluruh memoir milik Hongshim dimana laki-laki itu dengan jelas tidak mencintai Moonsoo dan hanya memanfaatkan pemuda itu.
Seokjin menatap pemuda itu prihatin.
"Moonsoo hyung...selama detensi...apa yang ingin kau lakukan...?" tanya Seokjin.
"Aku berpikiran untuk mengundurkan diri dari kepolisian dan balik ke Daegu membantu kedua orangtuaku menjadi petani buah strawberry...tapi entahlah, apakah mereka masih menerimaku atau tidak begitu tahu putra kebanggaan mereka tidak lebih dari seorang 'pria gay murahan'" jawab Moonsoo tersenyum lirih.
Surat detensi kepolisian miliknya pasti sudah sampai dirumah orang tuanya.
"Aku rasa...hati orang tua jauh lebih terluka ketika tahu bahwa anak kesayangan mereka tidak berani lagi menampilkan muka kehadapannya" ucap Seokjin langsung menarik perhatian Moonsoo.
"Tak akan ada yang tahu hyung, kepada siapa hati kita berlabuh. Jika sebuah perasaan bisa diatur, hyung tidak akan jatuh cinta pada Hongshim, atau tidak akan adalagi pembunuh di dunia ini karena perasaan bersalah mereka bisa diatur. Tapi nyatanya perasaan tidak bisa diatur, terlalu bermacam – macam, dan penuh kompleksitas. Terkadang kita melihat seseorang begitu baik namun ternyata berani untuk melukai. Terkadang kita pula melihat seseorang begitu jahat namun dibaliknya tersimpan luka begitu sakit dan masih bisa menyayangi. Jangan mengundurkan diri hyung, divisimu membutuhkanmu dan aku yakin jika orang tuamu benar-benar menyayangimu, mereka akan tetap terus menyayangimu apa adanya. Tak akan ada yang berubah" jelas Seokjin panjang lebar dan penuh ketulusan ditiap kata-katanya.
Nampaknya cukup mampu membuat Moonsoo memikirkan ulang keputusannya. Mereka berbincang-bincang cukup lama hingga waktu sudah menunjukkan sore hari dan mereka berpisah disini. Seokjin singgah di restaurant bibinya untuk bertemu Daeho yang masih sedih dan murung. Daeho mengatakan kapan jasad Yool dan Jaewook bisa dimakamkan dan Seokjin hanya bisa menjawab 'secepatnya.'
Karena proses visum masih berjalan dan Seokjin tidak tahu kapan selesainya, mengingat kondisi jasad keduanya cukup 'hangus' terbakar.
Daeho yang biasanya suka menggodanya kini bagaikan mayat hidup. Bibinya bahkan memohon padanya untuk membantu putra bungsunya agar kembali ceria.
Tapi sayangnya, Seokjin juga tidak tahu cara mengembalikan senyum di wajah sepupunya tersebut.
Seokjin mencoba bertanya bagaimana Daeho bisa dekat dengan Yool dan Jaewook dan Daeho menjawab bahwa mereka berdualah yang pertama kali mengenalkan Daeho pada dunia model. Ketiganya berasal dari agensi model kecil-kecilan sebelum ketiganya keluar dari agensi tersebut dan mengambil jalan hidup masing – masing. Jaewook sempat menjadi anggota band sebelum menjajaki dunia runway lalu kembali bertemu dengan Yool di dunia akting. Yool sendiri dari awal telah menjajaki dunia tersebut.
Daeho mengenang kisah masa lalunya sambil disuapi oleh Seokjin. Pemuda itu sepertinya bahkan tidak menyadari sedari tadi disuapi oleh Seokjin, namun memang itu tujuan awal Seokjin dan Daeho terus mengoceh dengan penuh kebahagiaan. Daeho bilang bahwa mereka bertiga kembali bertemu ketika kakaknya, diundang ke sebuah acara variety show dimana ada Jaewook disana. Jaewook yang masih mengenali Domin menanyakan keberadaan Daeho dan ketiganya kembali reuni kecil-kecilan di restaurant ibunya yang waktu itu masih kecil. Baik Yool dan Jaewook meninggalkan foto dan tanda tangan mereka untuk meningkatkan 'popularitas' restaurant ibunya. Bukan hanya itu, Daeho sering mendapat job pemotretan majalah dan runway berkat keduanya. Yool dan Jaewook bahkan mengajak Daeho untuk bergabung ke Alpha Agency tapi Daeho menolak dan memilih untuk berkarir tanpa agensi.
Suatu hal yang disyukuri oleh Seokjin sekarang.
Intinya, Yool dan Jaewooklah yang tahu bagaimana titik terendah hidupnya dan kini dua sahabat karibnya itu telah tiada dengan suatu hal yang sangat tidak mungkin bagi Daeho. Jaewook adalah pecinta mobil dan ia sangat menyayangi mobil-mobilnya. Ia merawat mobil-mobilnya sampai ke bagian-bagian terkecil sehingga sangat tidak mungkin jika Jaewook tidak menyadari rem mobilnya blong apalagi mobil itu masih baik-baik saja ketika Jaewook singgah ke restaurant mereka sehari sebelum kecelakaan kebakaran tersebut.
Seokjin menyudahi acara bincang-bincangnya begitu melihat tiga piring daging dan tiga mangkuk nasi habis masuk kedalam perut Daeho. Bibinya berterima kasih setidaknya Daeho sudah bisa makan sejak seharian tidak makan. Seokjin tersenyum lirih dan pamit untuk pulang.
Rencananya untuk mengunjungi MBC sepertinya harus diurungkannya karena hari sudah malam dan sejujurnya kaki Seokjin yang di gips sudah berdenyut-denyut dari tadi menandakan sudah tidak sanggup lagi berjalan. Seokjin memesan taksi kerumahnya namun diluar tiba-tiba hujan deras dan jarak dari restaurant bibinya menuju pangkalan taksi terdekat cukup jauh sehingga tubuhnya basah diguyur hujan.
Setidaknya ia sudah aman didalam taksi sekarang memandang jalanan Seoul yang semakin padat akibat hujan yang turun tiba-tiba.
Dirinya kelelahan.
Seokjin sadar dirinya kelelahan.
Bukan secara tenaga namun juga secara mental.
Seokjin tidak lupa senyuman sakit milik Kyungwoo saat melihat vlog milik Joomin.
Atau ekspresi kecewa Wooil,
Atau tawa getir milik Daeho,
Atau mungkin ekpresi pasrah dan putus harapan milik Moonsoo.
Namun yang paling utama adalah ekspresi kecewa milik Jungkook yang sampai saat ini masih menghantuinya.
"Aku ingin meninggalkan kesan baik, tidak bisakah? Apa kau juga berpikiran sama? Bahwa aku pembunuhnya? Dalang di balik semuanya? Apakah kepindahanmu ini juga bagian dari rencana kalian mengawasiku? Tidak bisakah dirimu melihatku sebagai Jeon Jungkook?"
"Ternyata benar kata Yoongi hyung. Kau sama saja Seokjin-ah"
Jungkook...apa hubungannya dengan Hongshim dan Hangyeol...? Apa hubungan BTS dengan Alpha Agency? Bagaimana bisa Eunho mengenal MasterLife atau si Hyungnim ini?
Bagaimana bisa lingkaran setan ini menyeret banyak orang – orang tak berdosa?
Bagaimana bisa lingkaran penuh darah ini menyeret banyak orang – orang yang tak bersalah?
Bagaimana bisa Seokjin yang harusnya mencegah ini semua terjadi dan menyelesaikannya secepat mungkin justru malah memperparah keadaan?
Seokjin merasa amarah meletup-letup didadanya. Senyuman orang-orang yang harusnya berbahagia sekarang kini semakin menambah emosi didanya.
Dadanya sesak, ia merasa seperti jantungnya diremas-remas.
Tapi dengan segala emosi yang membuncah dia hanya bisa menangis.
Menangis dalam perjalanan yang membuat supir taksi yang ditumpanginya kebingungan.
Membuat Seokjin semakin menangis.
Karena pada akhirnya ia tidak punya orang yang bisa ia salahkan.
Ia tak punya orang untuk ia lampiaskan amarahnya.
Karena pada akhirnya,
Ia hanya bisa menghakimi dirinya sendiri.
Ia ingin pulang.
Ia ingin rumahnya kembali.
Ia ingin kawan-kawan lamanya kembali.
Seoul menyakitkan untuknya,
Untuknya yang tidak berharga ini.
/-/
Taehyung Point of View
Kami baru saja menyelesaikan pemotretan dan shooting untuk comeback yang semakin dekat sekaligus merampungkan konser world tour mereka. Aku bisa merasakan bahwa ada sedikit perubahan.
Perubahan semenjak pemanggilan Jungkook.
Jungkook dan Yoongi hyung lebih pendiam dari biasanya. Well, Yoongi hyung memang tidak banyak bicara tapi ini adalah 'pendiam' yang berbeda.
Diam Jungkook seperti menunjukkan kekecewaan dan 'diamnya' Yoongi nampak seperti linglung?
Seperti kau merenungkan sebuah perbuatan yang kau lakukan? Kira – kira diamnya mereka seperti itu.
"Taehyung, kau mengganti wallpaper ponselmu dengan wajah polisi muda itu lagi?" tanya Jimin geleng-geleng kepala.
Namun cukup mengundang atensi semua member mereka.
Benar-benar semuanya, termasuk Yoongi yang mencoba keep it cool dan Jungkook yang tanpa malu menunjukkan ketertarikannya.
Mungkinkah karena Seokjin?
Haruskah aku mencoba 'mengumpan' keduanya?
"Hm, dalam foto ini dia manis sekali" ucapku memberi penekanan pada kata 'manis.'
Tapi aku tidak berbohong. Seokjin memang manis.
Heck,bohong jika tidak ada seorangpun yang tertarik dengan Seokjin. Muka pemuda itu tipikal dimana kau bertemu dengannya dijalan maka kau akan berhenti sebentar hanya untuk sekedar menatap wajahnya.
"Menurutmu apakah ia bisa membantu kita?" tanya Hoseok hyung ragu-ragu.
Aku tahu benar grup ini. Mereka benar-benar jatuh dalam pesona Seokjin, terutama Hoseok hyung yang kini tiba-tiba lebih sering menonton acara berita berharap Seokjin tiba-tiba muncul lagi.
"Kubur saja 'niatmu' itu. Dia sudah mengetahui 'semuanya' dari Wooil" jawab Jungkook sederhana namun mampu membuat suasana ruang tunggu kita semakin dingin.
Aku menghela nafas mengetahui alasan dibalik diamnya Jungkook.
Aku harusnya sadar bahwa malaikat seperti Seokjin tidak akan bisa bersanding dengan makhluk penghuni neraka seperti kami. Wooil pasti sudah menceritakan 'kisah itu' dan tidak mungkin Seokjin akan tidak berfikiran untuk membenci mereka juga.
Aku bisa melihat Yoongi hyung menghela nafas, sebelum manajer kami menyuruh kami agar segera pulang mengingat malam ini menunjukkan hujan akan turun dengan deras yang pastinya membuat jalanan Seoul macet.
Benar saja, kami baru saja tiba di kompleks apartemen kami setelah melewati dua jam dijalan. Manajer kami pamit dan Yoongi hyung dengan malas menekan pin apartemen kami sebelum suara 'ding' memecah atensi kami yang langsung memfokuskan pada lift diujung lorong lantai ini.
Apakah manajer kami datang lagi? Itulah yang kupikirkan ketika justru dihadapan kami mendapati sesosok pria dalam balutan oversize hoodie berwarna coklat yang panjangnya hingga kelutut. Diriku hampir kaget mengira pemuda ini tidak memakai celana atau bawahan lain setidaknya sampai aku melihat sembulan jeans pendek dengan salah satu kakinya yang digips.
Dan sejujurnya kaki tersebut kelihatan memerah.
Aku mengedarkan pandanganku kepada pemuda yang tengah basah kuyup ini dan kaget luar biasa begitu ia mengangkat kepalanya.
Seokjin..? Bagaimana bisa dirinya disini?
Seokjin yang melihat kami juga sama kagetnya, namun aku bisa melihat secercah air mata yang turun saat ia menundukkan kepalanya dan menyeret kakinya yang digips tersebut untuk berjalan. Aku sudah siap untuk membantunya tapi entah kenapa tubuhku sama sekali tidak bisa bergerak.
Atau tepatnya kami semua mendadak membatu ditempat kami masing-masing, hingga Seokjin berjalan mendekati kami atau lebih tepatnya berdiri didepan pintu apartemen yang persis disebelah kami mencoba menekan pin di pintu tersebut.
Tunggu dulu,
Seokjin tinggal disini!?
Aku merasakan nafasku terhenti di tenggorokan begitu tangan Seokjin berhenti menekan tombol di pintunya dan memilih memutar dirinya menghadap kami semua.
Kini aku bisa melihat wajah basah kuyupnya dan matanya yang kini berurai air mata.
Tidak, kumohon, jangan-
"Jungkook-shi. Dirimu mengenal Geum Hongshim?" tanya Seokjin namun kulihat tubuh dan bibirnya bergetar.
Nama itu- bagaimana Seokjin tahu...?
"Jeon Jung Kook-shi, kau mengenal Geum Hong Shim?" tanya Seokjin sekali lagi, kali ini tubuhnya mendekat kearah Jungkook dengan Jungkook yang masih terdiam kaku.
"Apa ini investigasi dadakan gyeongchalnim?" alih-alih menjawab, Jungkook malah bertanya balik dengan ekspresi dingin.
Ada apa ini? Apakah ada sesuatu yang tidak kuketahui?
Seokjin terisak tiba – tiba sambil meremas dadanya.
"Kau kesulitan bernafas, kita harus menelfon rumah sakit" ujar Yoongi hyung tiba-tiba sudah ada didekat Seokjin dan menopang pemuda itu.
Aku bahkan sudah tidak tahu bagaimana bisa Yoongi ada disana tapi Seokjin menggenggam erat tangan atau lebih tepatnya ponsel Yoongi hyung.
Seokjin kesakitan.
Ini adalah ekpresi paling menyakitkan yang pernah aku lihat.
"Pada 12 Mei 2013, kau bertemu pertama kali dengan Geum Hong Shim, di Alpha Pack Club. Hiks...apa-hiks...apa yang di...hiks...dilakukan oleh...bocah berumur enam belas tahun..hiks...ditempat seperti itu...?" pertanyaan yang dilontarkan Seokjin bagai palu godam bagi kami semua.
Ditambah ekpresi sakit dan mungkin kecewa? Menghiasi wajah itu yang dibalut air mata.
Seokjin yang kini ditopang oleh Yoongi kini mendekat pada Jungkook, kedua tangannya menggengam erat kaus hitam milik Jungkook.
"Jungkook-shi...kali ini...hiks...kali ini...jawab pertanyaanku...hiks...kali ini...kumohon...agar aku tidak sama saja seperti yang lain hiks...aku butuh dirimu bicara" ucap Seokjin terbata-bata.
'Agar aku tidak sama saja seperti yang lain?' Apa maksudnya?
Namjoon hyung sudah mengirimkan kode kepada Jungkook untuk diam tapi maknae itu kini matanya ikut memerah dan menangis.
Jungkook kumohon jangan-
"Aku mengenal Hongshim di Alpha Pack Club. Dia salah satu customerku. Dulu, untuk mencari uang aku bekerja sebagai seorang laki-laki penghibur" jawab Jungkook sambil menggegam kepalan tangan Seokjin yang ada pada di dadanya.
"Kami butuh uang gyeongchalnim..." Jawab Jungkook kini menangis.
Semua member terdiam.
Namun aku melihat sebuah perasaan lega diwajah Seokjin, yang kini salah satu tangannya mengusap air mata di wajah Jungkook.
"Appo…?" tanya Seokjin lirih menghentikan tangis Jungkook yang kini menelusuri tatapan Seokjin yang kini tersenyum lembut diwajahnya.
"Terimakasih telah tumbuh dengan baik-" ucap Seokjin terputus sebelum hilang kesadaran dan jatuh dalam rengkuhan Jungkook.
"Shit, kita harus panggil ambulan-" ucap Yoongi hyung segera menekan tombol rumah sakit.
"Lalu mendapatkan Wooil kembali meninju wajah kita karena melukai anggotanya, jangan gila hyung!" jawab Namjoon hyung menambah runyam semuanya.
"Hobi hyung kau masih ingat basic medis kan?" tanyaku kemudian memecah keheningan dan semuanya menatap Hoseok hyung yang terlihat ragu-ragu sendiri.
"Kita bawa dia kedalam dan biarkan aku bersama hobi hyung menanganinya" ujar Jimin tiba – tiba dan Jungkook tidak perlu berpikir dua kali untuk segera menggendong Seokjin ala bridal style. Aku langsung segera menyerobot pintu dan menekan kode pin agar kita semua segera masuk kedalam. Kami segera membawa Seokjin ke kamar Jimin karena kamarnya yang paling dekat dengan pintu masuk apartemen ini.
"Kita butuh nebulizer, tabung oksigen portable, heart monitoring patch, fiberglass short leg castdan beberapa perban juga obat penurun demam" ujar Hoseok hyung akhirnya berani memeriksa tubuh Seokjin dan diriku cukup kaget melihat Yoongi hyung segera mengotak-atik ponselnya dan Namjoon hyung yang segera pergi entah kemana.
"Kondisinya separah itu…?" tanyaku khawatir.
"Ia sepertinya terlalu lama diluar dan kakinya masih belum terlalu kuat. Kita tidak punya alat medis untuk membuka gipsnya. Apa kita masih menyimpan gunting besar atau tang potong? Atau setidaknya gergaji listrik mini" tanya Jimin lalu Jungkook segera menuju ke ruang kabinet mencari beberapa perkakas.
"Taehyung-ah, kau siapkan baskom berisi air hangat dan beberapa handuk. Jika bertemu dengan Jungkook bilang alat-alat tersebut direbus dulu dalam air panas supaya steril" titah Hoseok hyung dan aku segera menuju dapur mengambil baskom dan sekaligus memanaskan air diatas panci. Jungkook keluar dari ruang kabinet membawa tang dan gergaji listrik yang diminta oleh Jimin. Aku memanggilnya untuk merendamnya.
Yoongi hyung keluar dari kamar Jimin membawa seprai, sarung bantal, dan baju Seokjin yang basah. Nampaknya Jimin dan Hoseok hyung sudah mengganti pakaian basah Seokjin dan kasur Jimin yang basah akibat tubuh Seokjin tadi.
Namjoon hyung juga sudah datang dan nampaknya dari apotek karena aku melihatnya datang dengan plastik obat berisi banyak perban dan obat penurun demam. Tak lama bel apartemen kami berbunyi, aku dan Jungkook saling pandang penuh tegang karena tidak mungkin ada orang bertamu di jam segini.
Yoongi hyung membuka pintu dan membawa dua box kardus yang begitu dibuka berisi barang-barang yang dibutuhkan hoseok hyung. Aku dan Jungkook bernafas lega dan kami semua segera bergegas menuju kamar Jimin mendapati kini Seokjin sudah dalam balutan piyama white silk milik Jimin. Dengan cekatan menghidupkan gergaji tersebut. Suara bising kemudian menyapa indra pendengaran kami. Jimin dengan segera menekan bagian gergaji listrik yang tajam dengan hati – hati dan mantap. Gips milik Seokjin diiris perlahan sesuai dengan garis kaki Seokjin.
Kami semua tegang memperhatikan Jimin yang nampaknya juga tegang melihat butiran keringat yang muncul di keningnya.
Ia bahkan nampak menahan nafas.
Gips yang telah diiris gergaji tadi kemudian ditarik dengan tangan dan di potong dengan tang potong dengan cepat olehnya. Balutan atau bantalan pada gips dibuka oleh Jimin dengan menggunakan gunting dengan hati – hati dan perlahan. Setiap lapisan dilepas secara sempurna hingga balutan tidak lagi menutupi kakinya.
Dan kini kita bisa jelas melihat bahwa kaki Seokjin memerah dan bengkak.
Kaki Seokjin yang telah dilepas gipsnya dan dibersihkan sejenak di baskom dengan menggunakan air hangat yang aku bawa tadi lalu direndam sementara untuk merilekskan otot dan saraf kakinya.
Hoseok hyung sendiri sudah berkutat dengan alat-alat yang dibeli Yoongi hyung. Ia pertama membuka beberapa kancing pakaian Seokjin dan menempelkan heart monitoring patch tadi dan alat itu daritadi berbunyi seakan menandakan proses monitoring sementara obat penurun demam yang dibeli Namjoon hyung digiling halus dan dimasukkan kedalam tube yang ada pada nebulizer yang akan dipakai. Salah satu selangnya dimasukkan kedalam tabung oksigen portable yang mengeluarkan bunyi desisan mirip tabung gas. Masker pada nebulizer tadi dipakaikan kewajah Seokjin lalu kemudian dinyalakan dan baik tube dan tabung oksigennya seketika berfungsi melihat munculnya kabut pada masker yang dikenakan Seokjin. Hoseok hyung menaruh dua bantal dikepala Seokjin supaya pernafasan tubuh pemuda itu berjalan lancar.
Sehabis itu ia membantu Jimin mengangkat kaki Seokjin yang sedari tadi direndam didalam baskom kemudian dibersihkan dengan sabun yang lembut. Setelah dikeringkan dengan handuk kaki Seokjin dilumasi minyak atau krim sehingga kulit yang telah lama kaku, perlahan pulih. Sebelum dipasangkan kembali bantalan perbannya dan fiberglass short leg cast yang lagi – lagi dibeli oleh Yoongi hyung tadi.
Aku bahkan tidak tahu bahwa alat-alat tersebut ternyata diperjualbelikan secara bebas.
Heart monitoring patch pada dada Seokjin sudah tidak berbunyi lagi membuat Hoseok hyung kembali mengecek nadi Seokjin kemudian menempelkan tangannya pada kening Seokjin lalu bernafas lega.
"Kondisinya sudah membaik. Detak jantungnya sudah normal tapi nafasnya masih pendek. Dia masih butuh nebulizer" ujar Hoseok hyung sambil melepas pelan patch pada dada Seokjin tadi kemudian mengancingkan kembali pakaian pemuda itu dan menyelimutinya. Jimin menyalakan air purifier dan heater dikamarnya supaya kondisinya tetap hangat dan sejuk.
Kami semua keluar membawa peralatan dan gips yang sudah dibuka tadi untuk dibuang. Semua duduk diruang tamu dan tidak ada yang berani beranjak kekamarnya masing-masing. Bahkan termasuk Jimin yang harusnya punya kuasa di kamarnya sendiri.
"Jungkook, kau sudah tahu dari awal bahwa Seokjin adalah tetangga kita?" tanya Hoseok dan Jungkook menghela nafas berat lalu mengangguk kemudian.
Tapi pandanganku tetap mengarah kepada Yoongi hyung. Aku merasa bahwa ia tahu sesuatu. Tapi Yoongi hyung tetap saja diam.
Apakah ia menyembunyikan sesuatu?
"Apa yang harus kita lakukan selanjutnya…?" tanya Jimin kemudian.
Dan semuanya hening. Tak ada yang tahu apa yang harus kita lakukan semuanya mungkin masih bingung dengan bagaimana Seokjin tahu fakta tentang Jungkook atau bagaimana sikap pemuda itu tadi.
"Kita pikirkan semuanya besok pagi. Lebih baik kita semua istirahat. Kita sudah lelas seharian dan ditambah dengan ini pula semakin menambah stress untuk kita semua. Aku mau kita semua tidur. Termasuk kau Jimin. Kau harus tidur dengan polisi muda itu sekaligus mengecek kondisinya dan aku tidak mau ada bantahan" ujar Namjoon hyung segera menuju kamarnya disusul Yoongi dan Hoseok hyung yang menepuk pundakku untuk segera ke kamar kami meninggalkan Jungkook dan Jimin diruang tamu yang sibuk dengan pikirannya masing-masing
End of Taehyung Point of View.
/-/
Jugkook tidak bisa tidur. Ia tidak akan bisa tidur setelah semua yang terjadi.
"Jungkook-shi…kali ini…hiks…kali ini…jawab pertanyaanku…hiks…kali ini…kumohon…agar aku tidak sama saja seperti yang lain hiks…aku butuh dirimu bicara"
Masih teringat jelas dibenaknya kalimat Seokjin. Awalnya ia berusaha bersikap dingin dan jutek toh pada akhirnya Seokjin juga akan membencinya. Sama seperti Wooil, tapi dengan kalimat tadi meruntuhkan dinding pertahanan Jungkook.
Menyakitkan melihatnya menangis.
Dan semakin menyakitkan ketika melihatnya tersenyum lega ketika Jungkook menjawab pertanyaannya.
Jungkook sudah siap sedia membenci Seokjin sama seperti dirinya membenci seluruh anggota kepolisian Seoul yang hanya bisa menghakimi mereka semua.
Tapi bayangan jika Seokjin benar-benar membencinya nampak menyakitkan untuk dibayangkan.
Jimin tahu bahwa Jungkook tidak akan bisa tidur mengajaknya untuk bermalam bersama Jimin dikamarnya menjaga Seokjin.
Keputusan yang disesali Jimin karena baik Jimin dan Jungkook tidak akan bisa kuat melihat pemandangan yang ada dihadapan mereka kini.
Seokjin dengan salah satu kakinya yang digips, tertidur penuh damai dengan masker nebulizer yang masih terpasang diwajahnya. Jimin tidak tahu seberapa menyakitkan yang dialami Seokjin. Bagaimana pemuda itu bisa basah kuyup dengan kaki yang memerah, atau seberapa menyakitkan fakta yang Seokjin temukan tentang 'mereka'.
Bahkan, dialam bawah sadarnya, Seokjin masih menangis, kini Jungkook dan dirinya menyaksikan bagaimana air mata keluar dari ujung mata yang kini terpejam itu. Jimin segera menghapus air mata tersebut melihat Jungkook terpaku diam dan tak beranjak dari posisinya sampai Jimin menyuruhnya untuk segera mendekat.
Kini mereka berdua duduk di pinggir ranjang memandang Seokjin yang masih tidur atau mungkin masih tidak sadarkan diri.
"Apa yang harus kulakukan sekarang hyung…aku jatuh terlalu dalam kepadanya dan realita semakin menyadarkanku bahwa aku tak akan sanggup bersanding dengannya" ujar Jungkook tiba-tiba meneteskan air matanya.
Jimin tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
Sejujurnya Jimin juga takut. Sama takutnya seperti Jungkook. Di hari pertama ia bertemu Seokjin dan menawarkan tehnya Jimin tahu pemuda itu berbeda.
Ralat, waktu ia bertemu Seokjin diruang imigrasi bandara. Jimin tahu bahwa Seokjin berbeda. Bagaimana bisa pemuda bersurai hitam lembut itu tersenyum kikuk membalas perkataan Tuan Kim yang emosi saat itu? Dimatanya selalu tersirat harapan bahwa ia akan mengungkap pelaku sebenarnya. Bahwa ia akan menangkap 'orang-orang' yang bahkan Jimin dan membernya tidak bisa sentuh.
Seokjin selalu nampak berpihak pada sisi mereka dan itu berbahaya. Karena Seokjin secara langsung memberikan harapan penuh. Harapan penuh pada Taehyung dan Jungkook, atau harapan penuh pada dirinya dan Hoseok yang secara telaten merawatnya supaya pemuda itu kembali pulih.
Jimin hanya bisa berharap bahwa dirinya juga tidak ikut jatuh,
Tapi siapa dirinya bisa mengatur perasaannya.
Apalagi dihadapkan malaikat sebaik Seokjin.
Pada akhirnya Jimin hanya bisa memeluk Jungkook sambil mengelus punggungnya perlahan menenangkan maknae itu dan dirinya sendiri.
Keesokkan paginya Jimin terbangun dengan dirinya dan Jungkook yang sudah berada diranjangnya. Ia panik luar biasa.
Dimana Seokjin!?
Instingnya segera mencari Seokjin keluar dan mendapati meja di ruang makan mereka kini penuh dengan sandwich,salad waffle, pancake dan beberapa toast serta jus dari berbagai buah. Mendengar suara berisik di luar Jimin segera mendapati pemuda itu tengah menjemur sprei dan sarung bantal miliknya dan tengah melipat baju milik Seokjin sendiri.
Seokjin tersenyum kikuk sendiri mendapati Jimin berkeringat dingin seperti sehabis dikejar hantu menatapnya tidak percaya.
"Eum…jangan bangunkan yang lain. Aku tahu kalian kelelahan, jadi aku memutuskan untuk pergi diam-diam" ujar Seokjin lembut masih dalam balutan piyama milik Seokjin.
"Setidaknya kau harus sarapan bersama kami. Dirimu sudah repot-repot membuatnya" ujar Jimin lirih dan dengan spontan menggendong pemuda itu.
Sementara yang diggendong hanya bisa kaget dengan perlakuan dadakan ini.
Ya tuhan,
Jimin nampaknya sudah jatuh dalam pesona pemuda itu.
Semua member kini sudah ada diruang makan. Semuanya, tanpa terkecuali. Padahal biasanya Jimin dan Hoseok orang paling sering kebagian membangunkan semua member karena mereka yang paling bisa bangun pagi ikut terkejut dengan pemandangan ini.
Jungkook yang paling susah dibangunkan bersama Yoongi mendadak bangun dalam sekali panggilan ketika Jimin berkata,
"Seokjin sudah sadar dan menunggu kita untuk sarapan"
Jungkook bahkan dengan sigap membuka kelopak matanya dalam hitungan detik.
Bagaimana dengan Yoongi? Pemuda itu bahkan sudah bangun lebih dulu tanpa Hoseok bangunkan dan kaget mendapati Seokjin sudah duduk manis di meja makan mereka menyapanya dengan senyuman kikuk.
Taehyung dan Namjoon bahkan mengucek matanya berkali – kali untuk memastikan bahwa ini adalah Seokjin yang sama dengan Seokjin yang semalam. Namjoon berdehem untuk meredakan kecanggungan diantara mereka dan memilih untuk memulai sarapan mereka.
Dan kini mereka harus menahan nafsu mereka untuk mengambil porsi tambahan demi menampilkan kesan cool image milik mereka dihadapan pemuda itu karena demi tuhan masakan Seokjin sungguh enak.
Bahkan lebih enak dari menu restaurant bintang lima.
Seokjin sendiri memilih memakan yogurt sesuai rekomendasi Hoseok karena tubuh Seokjin baru saja pulih dan sulit untuk memakan makanan berat. Lambungnya bisa sakit.
Seokjin sendiri dengan tenang memakan yogurtnya dan tidak sadar meninggalkan bunyi decakan dan menjilat ujung atas bibirnya yang terkena buih-buih yogurtnya.
Oke, mereka tidak ingin merasakan boner di pagi hari tapi Seokjin dibalut piyama milik Jimin, dengan bagian dadanya yang sedikit terekspos, rambutnya yang berantakan, dan bibir penuh godaan itu benar –benar cobaan untuk mereka.
Jimin bahkan heran dengan ukuran tubuhnya masih muat di tubuh Seokjin bahkan masih nampak kebesaran dengan kedua lengannya yang tenggelam dalam piyama milik Jimin.
Namjoon terpaksa berdehem kedua kali ketika melihat seluruh membernya kini fokus memandang Seokjin.
"Seokjin-shi, kalau boleh tahu apakah anda tinggal disini?" tanya Namjoon dan Seokjin nampak menghentikan acara makannya dan tertunduk lesu.
Jimin bisa melihat seluruh membernya termasuk dirinya memandang tajam Namjoon.
"Nde, baru beberapa bulan yang lalu. Kondisi rumahku sedang tidak aman jadi aku dipindahkan kemari"
"Diantara semua tempat mereka memilih disini?" tanya Namjoon masih penuh sangsi.
Namjoon juga sadar bahwa seluruh membernya melempar deathglare kepadanya karena membuat 'tamu' mereka dalam posisi tidak nyaman. Namjoon sebenarnya tidak enak juga menanyakan ini apalagi setelah melihat keadaan Seokjin semalam. Tapi Namjoon harus sadar bahwa posisi mereka disini adalah sebagai calon tersangka dan seorang polisi.
Apa yang harus Namjoon lakukan selain was-was?
Ikut berfantasi liar sama seperti membernya membayangkan Seokjin berada dikasurnya tanpa perlawanan?
Well, Namjoon juga mau memikirkan hal tersebut, tapi tidak sekarang.
Tidak sebelum ia 'memastikan' semuanya.
"Lebih tepatnya dokter yang merekomendasikan" jawab Seokjin sadar bahwa dirinya kini dinterogasi.
Jawaban yang tidak diduga oleh mereka semua.
Dari dokter?
Seokjin melihat kini semua pandangan mengarah kepadanya hanya bisa tersenyum lirih.
"Semenjak rumahku disabotase, aku mengidap insomnia dan anxiety disorder. Jadi dokter menyarankan ku kemari karena suasana disini cukup tenang dan diriku masih butuh pemulihan. Mengingat diriku juga tengah diincar sekarang kompleks apartemen ini punya security yang bagus makanya aku pindah kemari. Tapi kalian tenang saja, aku hanya disini untuk beberapa bulan saja. Setelah semua kasus ini selesai atau ketika insomnia dan anxiety ku sudah pulih aku akan pindah"
Well, ini bukan jawaban yang diharapkan Namjoon dan kawan-kawannya.
Seokjin pamit dari hunian mereka dan pergi ke unitnya sendiri. Seokjin menghela nafas lelah begitu bisa berbaring dengan tenang dikamarnya.
Seokjin bisa ingat dengan jelas kejadian semalam. Seokjin menanyakan perihal Hongshim kepada Jungkook dan mendapat jawaban yang cukup melegakan.
Awalnya Seokjin berfikir bahwa Jungkook salah satu membership klub tersebut namun ternyata justru pemuda itu yang bekerja disana.
Klub itu jelas-jelas melanggar perundang-undangan mengenai memperkerjakan anak dibawah umur secara illegal bahkan pekerjaannya secara legal.
BTS. Alpha Agency. MasterLife atau Hyungnim
Ketiganya pasti memiliki keterkaitan yang tidak Seokjin ketahui. Seokjin segera mencari ponsel lainnya yang kemudian menghubungi salah satu orang.
"Janice…?"
"Hana? Apa kabar? Apa kau bersama Aiden sekarang? Eum, apakah aku boleh minta bantuan?"
/-/
Keesokkan harinya pagi-pagi Seokjin sudah menuju lab forensik. Kali ini ia langsung datang sendiri kedalam lab ikut bersama mengobservasi mayat milik Yool dan Jaewook yang sudah hangus dan tak berbentuk lagi. Awalnya unit forensik tak meperkenankan Seokjin untuk ikut masuk, tapi setelah mendapat izin dari atasan mereka sehingga membuat Seokjin diizinkan untuk ikut masuk.
Mereka bahkan cukup kaget dengan Seokjin yang nampaknya cukup tahu mengenai prosedur forensik secara keseluruhan.
Well, Seokjin bekerja dibagian DST saat di PI. Ia sudah hapal dengan segala macam otopsi forensik bersama Sophia. Apalagi yang harus diharapkan?
Tapi Seokjin sadar diri. Jasad mereka berdua sudah lebih dari seminggu dan beberapa organ dalam mereka sudah jadi arang. Sehingga semakin sulit untuk mengetahui penyebab jelas kematian keduanya. Seokjin dengan jelas memperhatikan hangus tersebut satu-satu persatu barangkali ada yang terlewat. Hingga pada bagian jakun Yool seokjin melihat lebam merah kecoklatan.
Seokjin memfokuskan bercak tersebut dengan pola hangus ditubuh Yool. Kobaran api meninggalkan bercak hangus. Umumnya dari coklat tua hingga pada hitam pekat.
"Apakah kalian sudah melakukan pengecekkan toksikologi?" tanya Seokjin pada tim forensik yang ikut melakukan otopsi bersamanya.
"Belum, bukankah mereka jasad bekas kobaran api. Kami hanya mengecek-"
"Lakukan pengecekan toksikologi. Bercak pada jakun Yool berbeda dari bekas bakaran lainnya. Bagian bawah rahangnya juga kaku luar biasa, ini bukan karna bekas bakaran. Ini nampak seperti reaksi sianida. Nampaknya korban memakan sesuatu yang mengandung sianida sebelum terbakar. Bau hangus keduanya juga tidak nampak seperti jasad kebakaran seperti biasanya. Aku mencium bau lain. Jadi tolong lakukan pengecekan lebih lanjut" ucap Seokjin dan tim forensik tidak bisa untuk tidak berdecak kagum.
Seokjin mengunjungi meja Kyungwoo dan Chanwook dimana masih rapi sama seperti saat Seokjin tinggal kemarin. Sepertinya ketika Seokjin merapikan meja mereka, anggota unitnya belum kembali. Seokjin membuka komputer Kyungwoo lebih dulu dimana Kyungwoo nampak melakukan tracking terhadap beberapa tempat yang dikunjungi mobil tersebut.
Dalam seminggu terakhir mobil itu menuju lokasi apartemen milik Jaewook, Alpha Agency, Alpha Pack Club. Sesekali ke sebuah tempat Gym dan rumah orang tuanya dan apartemen Hongshim lalu restaurant bibinya.
Tunggu dulu.
Apartemen Hongshim?
Seokjin melihat detil waktunya dan menemukan bahwa mobil Jaewook pergi ke rumah Hongshim pada 14 Februari lalu kerestaurant bibinya. Lalu pada tanggal 15 Februari lalu bertolak ke villanya yang sesuai dengan laporan yang ada dimeja Gitae terletak di distrik Gangseo.
Seokjin melihat board yang ada di ruangan ini, sesuai dengan urutan yang Seokjin buat kemarin. Seokjin tertimpa lighting pada tanggal 14 Februari pada siang hari dan menurut perkiraan Hongshim meninggal pada hari yang sama pada malam hari. Jika demikian urutannya maka benar Jaewook yang membunuh Hongshim pada malam yang sama ia datang ke restaurant bibinya bertemu dengan Daeho. Lalu keesokkan harinya menuju villanya.
Tapi ini terlalu janggal untuknya.
Jarak dari Gangnam, tempat restaurant bibinya ke Gangseo tempat villanya berada ialah 17,8 km.
Jarak dari Mapo, lokasi apartemen Hongshim ke Gangnam 13,3 km.
Sedangkan jarak dari Mapo ke Gangseo 5,4 km.
Jika Jaewook yang benar membunuh Hongshim seharusnya ia mengunjungi restaurant bibinya lalu berkunjung ke apartemen Hongshim dan berangkat menuju villanya. Terlebih menurut pengakuan sepupunya, pada hari itu tidak ada yang spesial selain Jaewook yang ingin saja berkunjung.
Dan bagaimana bisa ia bersama Yool dimobil tersebut juga masih menjadi tanda tanya.
Sesuai salinan rekaman CCTV yang ada di Alpha Agency, pada tanggal 14-15 Februari baik Yool dan Jaewook tidak ada disana.
Jadi kemana Yool dan Jaewook pada hari itu?
Sesuai dengan temuan mereka. Jaewook pergi ke rumah Hongshim lalu ke restaurant bibinya.
Lalu kemana Yool? Daeho bilang pada saat Jaewook berkunjung seseorang menelpon Jaewook yang membuat laki-laki itu tiba-tiba pamit undur diri. Mungkinkah telpon dari Yool? Yang mengabari bahwa Hongshim gagal mecelakainya?
Tapi untuk ukuran sebuah pembunuhan berencana ini tampak tidak terencana sama sekali. Semua nampak serba 'dadakan' dan entah kenapa feelingnya mengatakan ada yang aneh dengan alur ini.
"Seokjin?" seseorang menyapanya membuatnya mengedarkan pandangan ke arah pintu masuk menampilkan Wooil dan Eunho orang yang menyapanya.
Wooil segera duduk dimejanya dan nampak kaget bahwa mejanya 'terlihat lebih rapi' dan board investigasi mereka yang tidak 'semrawut' sebelumnya.
"Seokjin, kau menginvestigasi sendirian?" tanya Eunho kagum menampilkan board mereka kini yang lebih mudah dipahami daripada sebelumnya.
"Nde…" jawab Seokjin perlahan tidak mau bertatap muka dengan Wooil.
"Jadi apa yang sudah kau temukan di komputerku?" ujar sebuah suara yang lain kemudian menarik perhatian ketiganya. Kyungwoo datang bersama Chanwook dengan burger ada ditangan mereka masing-masing.
"Tidak banyak…aku hanya mencoba menganalisis hasil tracking black box milik mobil Jaewook-" ucap Seokjin terhenti kemudian.
Dia menyadari sesuatu dan segera menuju board mereka.
Penyebab kecelakaan.
Rem blong dan terjun ke jurang lalu terbakar akibat mobil terbalik sehingga tangki minyak bocor.
Itu dia.
Itu yang menyebabkan ini semakin aneh.
Seokjin tersenyum kemudian.
"Seokjin…?" tanya Eunho kemudian memastikan maknae mereka tidak tiba-tiba sakit jiwa karena stress yang mendalam.
"Hyung. Yool dan Jaewook, bukan mereka pembunuh Hongshim-"
"Perkataan macam apalagi yang ingin kau katakan setelah 'BTS bukan tersangka'" potong Wooil muak.
Sudah jelas-jelas buktinya mengarah pada dua orang jahanam itu.
"Yool atau Jaewook atau bahkan mungkin keduanya memang berencana mencelakaiku tapi bukan mereka yang membunuh Hongshim, dan mungkin bukan pula yang membunuh Hangyeol. Atau bahkan sebenarnya kekasih Hangyeol yang kita asumsikan selama ini adalah Jaewook juga bukan dirinya." Jawab Seokjin cepat.
"Oh Seokjin kumohon jangan lagi-" ujar Eunho terputus dipotong oleh Kyungwoo.
"Biarkan ia bicara. Kita dengarkan hipotesis miliknya baru kita berkomentar"sela Kyungwoo sambil memberikan pandangan kepada Seokjin bahwa ia boleh bicara.
"Hongshim wafat pada tanggal 14 Februari dan Yool dan Jaewook wafat pada 15 Februari. Pada 14 Februari, Hongshim mencelakaiku di MBC, Hongshim yang mati terbunuh, dan Jaewook pada malam harinya mengunjungi restaurant imoku" ujar Seokjin membuka awal persentasinya.
"Oke, lalu?" tanya Eunho.
"MBC terletak di Mapo-gu, sama dengan lokasi apartemen Hongshim. Asumsi kita adalah Jaewook membunuh Hongshim karena ia gagal membunuhku. Tapi logikanya ialah seharusnya ia membunuh Hongshim saat itu juga, disaat berita bahwa aku masih selamat. Nyatanya, Hongshim ditemukan meninggal pada malam harinya" jawab Seokjin
"Bisa saja bukan Jaewook yang membunuh Hongshim tapi Yool?" ujar sebuah suara lainnya, Kwangil yang datang bersama Hyeon mendengarkan persentasi tiba-tiba milik Seokjin.
"Aku juga berpikiran demikian karena pada tanggal 14-15 itu Yool tidak ada di Alpha Agency. Maka asumsiku adalah ia bersama Jaewook makan bersama di restaurant imoku. Tapi Jaewook sendirian pada malam itu. Maka kemungkinan kedua adalah ia bersama dengan Hongshim, karena dirinya yang menyuruh Hongshim. Tapi jika demikian, ia sudah harusnya membunuh Hongshim pada detik itu juga bukan harus menunggu sampai malam." Jawab Seokjin mnenghela nafas lalu melanjutkan kembali penjelasannya.
"Kemungkinan ketiga, ialah Jaewook yang membunuh Hongshim. Tapi ini semakin tidak mungkin karena jarak dari Gangnam ke villanya lebih jauh dari jarak Mapo ke villanya. Jika ia ingin melarikan diri setelah membunuh Hongshim, seharusnya ia langsung segera ke villanya saja bukannya singgah sebentar di restaurant imo-ku. Ditambah lagi fakta bahwa jarak dari Mapo ke restaurant imo-ku juga sama jauhnya. Jika mereka berdua merencanakan pembunuhan seharusnya mereka tidak ke restaurant imoku, atau mereka berkunjung ke restaurant imoku dahulu baru ke apartemen Hongshim lalu pergi ke villanya. Jika demikian, kita bisa berasumsi bahwa Jaewook bertemu dengan Yool diapartemen Hongshim baru ke villanya. Tapi timeline-nya tidak demikian. Ia ke Mapo dahulu baru kerestaurant imo-ku dan tiba-tiba ke villanya, yang logikanya bertemu dengan Yool disana karena Yool yang membunuh Hongshim di Mapo akan sampai lebih dulu ke villa tersebut. Tapi kita menemukan Yool dan Jaewook di mobil Jaewook yang sama-sama mengarah ke villa itu dan sesuai record black box itu setelah restaurant, Jaewook langsung segera menuju villanya" jelas Seokjin tuntas.
"Jadi maksudmu. Keduanya tidak sama sekali ke apartemen Hongshim?" jelas Chanwook menyimpulkan penjelasan Seokjin.
"Nde, majjayo" jawab Seokjin.
"Tapi itu tidak bisa menjelaskan kenapa mereka atau Jaewook keapartemen Hongshim pada tanggal itu lalu kemudian Yool yang tiba-tiba ada dimobil Jaewook" ujar suara yang lain membuat semuanya menaruh atensi pada pintu masuk mereka menampilkan Gitae dan Seunghwan yang baru saja datang.
Kini anggota mereka semua sudah lengkap.
"Maka dari itu. Ini posibilitas keempat, yang jauh dari kita pikirkan sebelumnya" jawab Seokjin mengundang tanda tanya dikepala mereka semua.
"Apa?" tanya Eunho.
"Yang datang dengan mobil Jaewook saat ke Mapo-gu bukanlah Yool ataupun Jaewook. Tapi orang lain, orang yang punya akses untuk memakai mobil tersebut. Lalu tujuan Jaewook dari awal mungkin bukan ke villanya. Melainkan ke tempat lain yang tidak kita ketahui sebelumnya. Dan untuk jawaban kenapa Yool bisa ada di mobil Jaewook…" ucapan Seokjin terhenti menuai kegugupan seluruh anggotanya.
"Kenapa Yool bisa ada di mobil Jaewook…?" tanya Hyeon sekali lagi.
"…karena Jaewook tidak ke villanya. Tapi kesebuah lokasi lain dimana ada Yool disana, dan kemungkinan orang dan pemilik lokasi itu yang membuat Yool dan Jaewook seolah meninggal karena kecelakaan menuju villanya. Karena jika penyebab kecelakaannya adalah rem blong, maka seharusnya perjalanan dari Mapo ke restaurant imoku, mobil itu sudah mengalami kecelakaan. Tapi mereka baru mengalami kecelakaan setelah dari restaurant imoku menuju villa itu. Atau tepatnya, setelah dari 'lokasi lain' itu yang membuatnya menuju villa tersebut" jawab Seokjin menuntaskan kalimatnya.
Semuanya mendadak hening. Penjelasan Seokjin terlalu masuk akal untuk tidak diterima, tapi terlalu riskan untuk diterima begitu saja. Pola Seokjin terlalu baru dan membongkar hipotesis mereka sebelumnya.
Seokjin yang melihat reaksi seluruh unit mereka hanya bisa pasrah, Seokjin sudah siap pamit pergi melanjutkan investigasinya sendirian sebelum mereka mendapati salah satu anggota forensik datang keruangan mereka.
"Seokjin-ah. Analisismu benar- oh, kalian sudah datang semua rupanya" ujar salah satu anggota tim forensik tersebut menyadari kehadiran yang lain lalu memberi salam hormat dan menyerahkan amplop berisi laporan mayat Yool dan Jaewook kepada Seokjin.
"Kau benar Seokjin. Baik Yool dan Jaewook meninggal bukan karena kecelakaan tersebut. Keduanya meninggal karena racun sianida. Bahkan, Jaewook meninggal sehari sebelum kecelakaan tersebut. Itu sebabnya bau mayat mereka berbeda. Seperti yang kau tanyakan tadi" jawab petugas tersebut membuat kaget semuanya bahkan termasuk Seokjin yang segera membuka amplop tersebut juga ikut kaget melihat hasil otopsi di kertas tersebut menyatakan bahwa keduanya positif keracunan sianida.
Jadi, Yool dan Jaewook bukan pelakunya?
/-/
Pemuda dengan silk robe berwarna merah marun tadi baru saja menghabiskan wine-nya. Kemudian berjalan keruang wardrobe-nya untuk memilih setelan jas yang tepat karena akan menghadiri rapat penting. Pilihannya jatuh pada setelan kemeja putih dengan setelan jas berwarna abu-abu. Ia memilih membuka dua kancing kemejanya untuk mengeluarkan kesan casual sekaligus formal dan menunjukkan dadanya yang bagus dan berbentuk.
Bagaimanapun ini rapat penting dan ia harus meninggalkan kesan kepada kolega – koleganya.
Pemuda itu keluar dari kamarnya dan mendapati kawannya datang dengan ekpresi tegang,
Ia tersenyum kemudian.
Ah, ini pasti soal 'Seokjinnienya'.
"Jadi siapa lagi yang menganggu calon babyku hm?" ujarnya.
"Aku. Tepatnya kau dan aku" ujar kawannya tersebut menghentikan dirinya yang tengah memilih jam tangan.
Ah, dirinya sendiri?
"Maksudmu…?" tanyanya dan kawannya tersebut mengeluarkan ponselnya dan mengklik sebuah pesan.
Ia sudah mengendusmu.
Hanya dengan sebaris kalimat itu ditambah sebuah attachment.
Salinan laporan otopsi dan pemuda itu segera mengklik file berbentuk pdf tersebut yang menampilkan data Kwon Yool dan Kim Jae Wook.
Probable Cause of Death : Cyanide Poisoning
Pemuda tersebut tertawa lebar kemudian.
"Astaga…dia tidak termakan oleh tipuan kita? Bagaimana bisa…?" jawab pemuda itu.
"Tidak tahu. Tapi anak buahku sudah 'membersihkan' seluruh pelayanmu dan kau harus segera pergi dari sini"
"Barang-barangku jangan lupa dibawa" titah pemuda tersebut bercermin sekali lagi untuk memastikan tampilannya dan turun kebawah dimana rumahnya sudah penuh dengan lautan darah. Ia masuk kedalam mobil yang sudah disiapkan oleh kawannya tersebut dan kawannya yang duduk dikursi samping pengemudi. Bagaimanapun keduanya masih harus tetap menghadiri rapat penting mereka hari ini.
"Kim Seokjin…bukankah anak itu terlalu pintar untuk seukuran umurnya..?" ujar pemuda itu memainkan jari dibibirnya sambil memandang tablet ipad-nya berisi foto Seokjin yang tengah tertidur di kantor polisinya dengan Chanwook yang menyenderkan bahunya sebagai bantalan kepala Seokjin. Terlihat keduanya kelelahan karena Chanwook juga menyenderkan kepalanya di kepala Seokjin.
"Anak itu lulusan Harvard. Apalagi yang kau harapkan? Lebih baik kau tidak usah berulah sebelum dirimu tamat" jawab kawannya tersebut sarkas membuat dirinya kembali tertawa.
"Ah…dirinya benar-benar mengingatkanku pada Joomin. Aku benar-benar tidak sabar 'meminangnya' sekarang juga" ucap pemuda itu kemudian.
Kali ini tanpa tawa.
Matanya memancarkan aura dingin dan tajam.
"Bagaimana kabar Namjoon dan kawan – kawannya? Aku 'rindu' mereka, haruskah kita 'berkunjung'?"
AUTHOR'S NOTE :
Long time no see reader-nim! Terima kasih sudah bersabar ya hehehe. Author baru saja selesai UAS nih, dan kambek dengan cerita baru lalu segera update chapter ini. Gimana, disini sudah adakah yang bisa menyelidiki dalang dibalik pembunuhan Hangyeol, Hongshim, Yool dan Jaewook? atau jangan - jangan kasusnya akan berakhir unsolved? Apa kabar dengan keterlibatan BTS yang membuat mereka panik saat tahu Seokjin adalah tetangga mereka?
Ada yang tahu kenapa Hoseok dan Jimin punya basic medis? Ada yang bisa membuat teorinya? AYO BANTU UNIT INVESTIGASI KHUSUS MEMECAHKAN KASUS INI SEBELUM SEMAKIN BANYAK KORBAN BERJATUHAN!
P.s : Author sudah mempublish profil team Kepolisian Seoul dan team PI milik UNSC di watppad guys! Jadi bagi kalian yang kepo tentang kawan - kawan Seokjin bisa cek disana. Silahkan cari dengan id yang sama yaitu HealingSigma dan kalian bisa berfantasi ria seputar teman - teman Seokjinnie!
