TITTLE : Beauty Lawbreaking
ALTERNATIVE TITLE : The Shape of Voice
PAIR : ALLxJIN / EVERONExJIN
"I love you the way a knife loves a heart, the way a bomb loves a crowd, the way your mother warned you about, essentially." ― E. Horne and J. Comeau
"Mama! Mama!" seorang anak kecil berlarian kedalam rumah meninggalkan jejak – jejak lumpur di kakinya.
"Aigoo, our little bean! Lihat apa yang kau lakukan sayang…mama sudah bilang jangan mengotori rumah hm?" ucap seorang perempuan menangkap anaknya yang habis bermain hujan – hujanan di luar sana meninggalkan bekas genangan dibaju anaknya.
"Come on little bean! Kita perang sabun dikamar mandi!" ujar sang ibu menggendong anaknya membawanya ke arah kamar mandi.
"Nyonya besar…anda dipanggil tuan besar" ujar salah seorang pelayan menyambungkan pesan.
Sang perempuan tersenyum lemah.
"Little bean, mama pergi menemui papa dulu. Kita hentikan dulu perang sabunnya dan biarkan pelayan membantu membersihkanmu, okay?" ujar sang ibu mengecup kening sang anak yang kini bersedih ria karena tidak jadi bermain perang sabun bersama sang ibu tercinta.
Seorang pemuda terbangun dengan keringat dingin membasahi tubuhnya waktu menunjukkan pukul dua pagi. Ia segera melangkahkan kakinya gontai menuju kamar mandi dan membasuh wajahnya.
"Hiks! Kumohon! Jangan lakukan ini!"
"Waw…kau punya nyali yang cukup besar…our little bean-"
PRANK
Ini kesembilan kalinya pemuda itu menghancurkan kaca kamar mandinya dalam satu bulan ini. Ia segera menuju dapur mengambil beberapa pil dan meneguknya bersama satu gelas air mineral. Ia mengatur nafasnya perlahan.
Setelah memastikan dirinya cukup tenang ia memutuskan untuk keluar dan menghirup udara segar, kakinya melangkah tak tentu arah hingga ia menemukan sebuah kursi panjang di sebuah taman yang ia tidak ketahui ini dimana.
"Hentikan! Hentikan! Hentikan!"
Pemuda itu kembali menghela nafas.
Sejauh manapun ia berlari, sebanyak apapun pil yang ia teguk, sesibuk apapun ia bekerja, ingatannya akan kembali kesana.
Ke sebuah memori suram yang tak ingin ia ingat lagi.
Pada akhirnya ia kembali memilih berjalan menuju sebuah tempat.
Tempat yang kini sudah sepi dan tak berpenghuni.
"Hyung! Hyung!"
"Aigooo jangan ambil ramyeonku anak nakal!"'
"Yak hyung jangan pelit begitu. Lihat nanti kalau aku sudah punya uang banyak"
Pemuda itu menghela nafas, namun kali ini disertai air mata.
Ah ia merindukan segalanya.
Kini langkah kakinya membawanya pada sungai han memandang matahari yang mulai menyembul malu – malu.
"Chingudeul! Kemari! Sunrise sebentar lagi muncul!"
"Ayo kita buat wish"
"Hey wish-mu apa?"
"Eum, wish ku agar kita tetap bersama selamanya!"
"Ew, menjijikkan!"
"Menjijikkan tapi aku lihat bibirmu komat-komit dengan wish yang sama"
"Yak!"
Pemuda itu merasa sesak luar biasa didadanya, ia mencoba mengatur nafasnya namun kesulitan.
Apakah ini hukuman untuknya.
Siapapun
Siapapun
Tolong dirinya.
Sepertinya tuhan tidak ingin ia mati hari ini.
Seseorang menghampiri dirinya dan membantunya.
"Hey? Tuan? Apakah dirimu bisa mendengarku?"
"Nde…"
"Dimana tuan merasa kesakitan? Apakah tuan tidak bisa bernafas?"
"Da..dadaku…sakit…jantungku serasa diremas – remas"
/-/
Kini anggota mereka semua sudah lengkap.
"Maka dari itu. Ini posibilitas keempat, yang jauh dari kita pikirkan sebelumnya" jawab Seokjin mengundang tanda tanya dikepala mereka semua.
"Apa?" tanya Eunho.
"Yang datang dengan mobil Jaewook saat ke Mapo-gu bukanlah Yool ataupun Jaewook. Tapi orang lain, orang yang punya akses untuk memakai mobil tersebut. Lalu tujuan Jaewook dari awal mungkin bukan ke villanya. Melainkan ke tempat lain yang tidak kita ketahui sebelumnya. Dan untuk jawaban kenapa Yool bisa ada di mobil Jaewook…" ucapan Seokjin terhenti menuai kegugupan seluruh anggotanya.
"Kenapa Yool bisa ada di mobil Jaewook…?" tanya Hyeon sekali lagi.
"…karena Jaewook tidak ke villanya. Tapi kesebuah lokasi lain dimana ada Yool disana, dan kemungkinan orang dan pemilik lokasi itu yang membuat Yool dan Jaewook seolah meninggal karena kecelakaan menuju villanya. Karena jika penyebab kecelakaannya adalah rem blong, maka seharusnya perjalanan dari Mapo ke restaurant imoku, mobil itu sudah mengalami kecelakaan. Tapi mereka baru mengalami kecelakaan setelah dari restaurant imoku menuju villa itu. Atau tepatnya, setelah dari 'lokasi lain' itu yang membuatnya menuju villa tersebut" jawab Seokjin menuntaskan kalimatnya.
Semuanya mendadak hening. Penjelasan Seokjin terlalu masuk akal untuk tidak diterima, tapi terlalu riskan untuk diterima begitu saja. Pola Seokjin terlalu baru dan membongkar hipotesis mereka sebelumnya.
Seokjin yang melihat reaksi seluruh unit mereka hanya bisa pasrah, Seokjin sudah siap pamit pergi melanjutkan investigasinya sendirian sebelum mereka mendapati salah satu anggota forensik datang keruangan mereka.
"Seokjin-ah. Analisismu benar- oh, kalian sudah datang semua rupanya" ujar salah satu anggota tim forensik tersebut menyadari kehadiran yang lain lalu memberi salam hormat dan menyerahkan amplop berisi laporan mayat Yool dan Jaewook kepada Seokjin.
"Kau benar Seokjin. Baik Yool dan Jaewook meninggal bukan karena kecelakaan tersebut. Keduanya meninggal karena racun sianida. Bahkan, Jaewook meninggal sehari sebelum kecelakaan tersebut. Itu sebabnya bau mayat mereka berbeda. Seperti yang kau tanyakan tadi" jawab petugas tersebut membuat kaget semuanya bahkan termasuk Seokjin yang segera membuka amplop tersebut juga ikut kaget melihat hasil otopsi di kertas tersebut menyatakan bahwa keduanya positif keracunan sianida.
Jadi, Yool dan Jaewook bukan pelakunya?
Ini terlalu tidak masuk di akal.
Ponsel Seokjin kembali berbunyi menandakan sebuah pesan masuk.
From : Aiden
Jinnie, aku sudah melakukan eksaminasi report terhadap catatan mekanis mobil yang kau kirim. Seseorang memotong kabel remnya.
Jantung Seokjin berdegup kencang. Beberapa hari yang lalu ia menghubungi Hana untuk menyambungkannya dengan Aiden karena setahu Seokjin pemuda itu paling sulit dihubungi. Seokjin mengirimkan laporan mekanis terhadap mobil Jaewook secara diam-diam agar diselidiki lebih lanjut mengingat hal itu merupakan keahlian Aiden.
Seokjin jelas melanggar peraturan karena melibatkan PI dalam urusan dalam negeri, atau dalam hal ini masih dalam tindak lanjut kepolisian.
Tapi Seokjin tidak bisa berlama – lama ia harus sesegera mungkin. Ia tidak tahu berapa banyak korban yang akan kembali berjatuhan kalau ia tidak menangkap pembunuh tersebut.
From : Seokjin
Kau yakin? Sudah mengeceknya dengan teliti.
From : Aiden
Aku yakin seratus persen.
Memang sedikit sulit untuk diamati karna kondisi mobilnya hampir Sembilan puluh persen terbakar.
Namun.
[sent image]
Kau lihat kabel ini? Ini kabel rem yang terputus. Semua kabel memang hangus terbakar dan mungkin akan putus, tapi hanya kabel ini yang putus tepat ditengah – tengahnya.
[sent ]
Ini laporan lengkapnya.
Seokjin menghela nafas gusar. Haruskah ia bicarakan kepada timnya atau tidak? Ia belum berani untuk bicara karena semua masih dalam masa hening memproses seluruh hal yang terjadi.
Amat sangat brainstorming bagi mereka.
Bagaimana tidak? Seluruh petunjuk dan bukti yang mereka kumpulkan mengarah pada satu kesimpulan yang salah dan kini, si 'anak baru' Seokjin mampu mendeteksi mungkin lima puluh persen dari seluruh petunjuk yang ada hanya dalam waktu dua puluh empat jam.
Atau bahkan mungkin kurang.
Terlebih bagaimana Seokjin menjelaskan report yang ia terima dari Aiden? Report ini jelas bukan dari kepolisian korea selatan dan Seokjin bisa dipecat karena ketahuan 'membocorkan' investigasi.
Namun dilain sisi, ini juga pukulan telak bagi Wooil. Ia didapuk sebagai ketua dalam kasus ini namun tidak bisa berkontribusi banyak selain melempar amarah kepada anggotanya, terkhusus kepada Seokjin. Wooil diantara malu, kecewa, marah, dan sedih, semua menjadi satu.
Bisakah seseorang tidak melukai anggotanya sekali saja?
"Seseorang menggunakan mobil Jaewook saat ke Mapo-gu, orang yang punya akses untuk memakai mobil tersebut. Lalu tujuan Jaewook dari awal mungkin bukan ke villanya. Melainkan ke tempat lain yang tidak kita ketahui sebelumnya, kesebuah lokasi lain dimana ada Yool disana, dan kemungkinan orang dan pemilik lokasi itu yang membuat Yool dan Jaewook seolah meninggal karena kecelakaan menuju villanya. Begitu maksudmu Seokjin?" tanya Seunghwan mencoba merangkai alur probabilitas milik Seokjin yang nampak runyam.
"Nde…"
"Dan hasil visum menyatakan bahwa keduanya meninggal karena racun sianida. Bahkan, Jaewook meninggal sehari sebelum kecelakaan tersebut?" tanya Seunghwan lagi dan Seokjin menghela nafas lalu menjawab Seunghwan dengan anggukan.
"Oke berarti timelinenya berubah" ujar Seunghwan kemudian mengambil spidol dan menuliskan sesuatu di board mereka.
14 Februari 2019 : Kwon Yool dan Kim Jae Wook mengunjungi restaurant 'Wooden House.'
14 Februari 2019 : Geum Hong Shim mencelakai Seokjin atas suruhan Kwon Yool.
14 Februari 2019 : Geum Hong Shim meninggal di apartemennya.
14 Februari 2019 : Kim Jae Wook meninggal akibat keracunan sianida.
15 Februari 2019 : Kwon Yool meninggal akibat keracunan sianida.
15 Februari 2019 : Mobil Jaewook mengalami kecelakaan dan terbakar.
22 Februari 2019 : Penemuan bangkai mobil Jaewook didaerah Dongjak-gu.
"Oke jadi ini inti timeline yang sebenarnya bukan?" tanya Seunghwan dan mereka semua mengangguk.
Seokjin bersyukur masih ada yang mau mendengarkan 'analisisnya' sementara yang lain mulai duduk diam memperhatikan karena diantara mereka semua yang paling cermat menemukan pattern dan petunjuk ialah Seunghwan, Seokjin, dan Eunho.
"Kini poinnya adalah bagaimana memastikan bahwa memang ada seseorang yang datang kerumah Hongshim selain Yool atau Jaewook dan seseorang yang 'memodifikasi' kematian keduanya" tanya Eunho.
"Jawabannya cukup sederhana. Fakta bahwa Jaewook meninggal sehari sebelum kecelakaan dan justru dirinya yang duduk di kursi pengemudi menandakan seseorang pasti menempatkannya disitu. Itu artinya seseorang juga menempatkan Yool yang tentunya sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri atau kita asumsikan telah meninggal…" jawab Seunghwan namun masih berfikir keras.
"…namun tentu belum bisa membuktikan bahwa Jaewook bukanlah kekasih Hangyeol dan memang ada 'orang lain' yang datang kerumah Hongshim. Jin-ah, kau mengetahui sesuatu…?" tanya Seunghwan kembali.
'Ya. Aku mengetahui memoir milik Hongshim, MasterLife atau Hyungnim, dan pastinya sangkut paut Jungkook yang bekerja di Alpha Pack Club, juga kecurigaanku terhadap Eunho hyung'
Seokjin menghela nafas kembali karena tidak ada satupun kalimat yang ia rangkai dikepalanya keluar.
"Anniyeo hyung…aku hanya berfikir bahwa melihat Yool dan Jaewook di framing sebagai tersangka dan ketika menerima 'rekaan' tersebut, mereka tewas tepat sebelum kita memastikan lebih lanjut…" jawab Seokjin seadanya, tidak sepenuhnya 'berbohong.'
"Seokjin-ah, kau tahu bukan sebagai seorang polisi pun tidak tepat menganalisis secara 'praduga' tanpa bukti" ujar Hyeon dan Seokjin mengangguk.
"Mianhae Hyeon hyung…" jawab Seokjin meminta maaf karena kini dirinya sendiri yang mengarahkan timnya pada jalan buntu.
Siapa sebenarnya mereka kejar?
Seokjin sungguh tidak tahu.
"Tapi aku mengerti jalan pemikiranmu. Kau punya saran bagaimana kita memulai pencarian?" tanya Hyeon membuat Seokjin mengangkat kepalanya dengan cepat mendapati Hyeon tersenyum bangga kepadanya. Dirinya melirik kearah Seunghwan dan Kyungwoo yang memberikan senyum terbaik mereka sambil mengangguk.
Memberi 'sinyal' kepada Seokjin untuk menguatkan member termuda mereka itu.
Kali ini Seokjin diberi kesempatan untuk benar-benar menginvestigasi 'kasusnya.'
"Aku kembali mereview hasil catatan mekanis bangkai mobil milik Jaewook dan mendapati bahwa memang kabel rem miliknya dipotong. Itu artinya kabel tersebut baru saja dipotong tepat disaat mereka memodifikasi kecelakaan itu alias di daerah Dongjak-gu" ujar Seokjin semangat.
"Oke berarti hingga pada tanggal 15 mei sebelum kecelakaan mobil itu masih berfungsi. Begitu bukan maksudmu?" tanya Eunho dan Seokjin mengangguk cepat.
"Sesuai testimoni saksi, Jaewook meninggalkan restaurant setelah mendapat sebuah panggilan dimana apabila kita melihat record gps-nya dari mobil Jaewook bahwa setelah itu menuju villanya dan mengalami kecelakaan sebelum sampai ditujuan. Asumsi awalku ialah Jaewook menghubungi Yool dan menjemputnya di Mapo-gu. Tapi mobil milik Jaewook berhenti di apertemen Hongshim sebelum ia pergi ke restaurant…"
"Itu artinya…seseorang 'sebelum' Jaewook mengendarai mobilnya sebelum ia menuju restaurant adalah kunci utama kita saat ini…" seru Seunghwan memperhatikan periode waktu yang mereka buat.
Bagaimana bisa si pembunuh ini bisa membunuh dalam waktu kurang dari empat puluh delapan jam dan hampir 'mengelabui' mereka?
"Wooil dan Gitae kalian menuju Alpha Agency untuk memeriksa siapa saja yang punya akses terhadap mobil Jaewook. Sedangkan Kwangil dan Eunho, kalian coba koreksi info sebanyak mungkin ditempat – tempat yang biasanya didatangi keduanya. Seunghwan dan Seokjin kalian kembali ke tempat kejadian perkara siapa tahu ada sesuatu yang terlewat disana. Dan Kyungwoo dan Chanwook akses semua CCTV jalan sekitaran apartemen Hongshim, Alpha Agency, restaurant imo Seokjin, daerah Dongjak-gu, Villa milik Jaewook, atau CCTV lalu lintas manapun dimana kalian bisa menemukan mobil Jaewook pada kisaran 13 hingga 15 Februari. Jangan lupa untuk minta eksaminasi ulang terhadap catatan mekanis mobil Jaewook. Aku harus menghadiri rapat dengan Inspektur Jo Hwan mengenai kelanjutan kasus ini dan tentunya membuat press release serta official statement untuk keluarga mereka mengenai jenazah yang sudah bisa dikuburkan" titah Hyeon dan tanpa banyak basa-basi semuanya langsung berpencar menuju tujuan mereka masing – masing.
/-/
Jarak dari kantor polisi mereka ke daerah Dongjak-gu memang hanya 7,5 kilometer. Namun karena posisi distrik mereka yang bersebrangan membuat mereka mau tidak mau menyebrangi sungai melewati Hangang Bridge dan itu memakan waktu cukup lama karena merupakan jalur padat. Apabila jalanan lancar maka diprediksi bisa memakan waktu satu jam. Namun jika sudah dalam keadaan macet seperti ini khususnya didaerah Namyeong-dong dan Yongsan-dong karena keduanya merupakan lokasi pariwisata dan bisnis.
Mereka bisa menghabiskan waktu dua hingga tiga jam.
"Tidurlah Seokjin. Aku tahu dirimu kelelahan. Upayakan waktu untuk istirahat karena begitu sampai disana kita mungkin tidak mendapatkan apa-apa" ucap Seunghwan dan Seokjin mengiyakan meski matanya memang mengantuk.
"Hyung boleh aku bertanya..?"
"Hm, tentu saja. Apa yang ingin kau katakan?"
"Eunho hyung…apa kalian tahu Eunho hyung punya Alpha Pack Club membership card?"
"Jangankan Eunho. Aku dan Wooil hyung juga punya" jawab Seunghwan dan Seokjin kaget luar biasa.
Saking kagetnya mampu menghilangkan rasa kantuknya.
"Kami sering 'bertamu' kesana karena bagaimanapun itu club khusus para entertainer terkenal. Pihak club memberikan unlimited membership card malah kepada kita karena sebagai 'suap' meski pada kenyataannya tidak ada gunanya. Aku bukan tipikal pecinta klub malam dan Wooil hyung lebih suka minum dan mabuk – mabukkan sendiri" jawab Seunghwan.
"Hyung apakah Eunho hyung sering kesana?"
"Well dia pecinta party dan minum – minuman, terkadang dia mengajak Chanwook atau Wooil yang juga pecinta minuman" jawab Seunghwan kalem namun keheranan dengan ekspresi milik Seokjin.
"Hey Seokjin, ada sesuatu yang menganggu pikiranmu…?" tanya Seunghwan dan Seokjin bergulat dengan pikirannya.
Haruskah ia beritahu Seunghwan atau tidak?
Seunghwan yang menyadari kegugupan Seokjin mengelus tangan anak itu peerlahan.
"Kita semua hyungmu, kalau kau punya sesuatu untuk diceritakan jangn sungkan untuk menceritakannya" ucap Seunghwan membuat Seokjin kembali menghela nafas.
"Hyung berjanjilah untuk merahasiakan ini dari siapapun"
"Baiklah…jadi ada apa?"
"Hyung ingat waktu aku menemukan Hongshim?"
"Huum, lalu?"
"Sewaktu pertama kali aku menemukannya aku menemukan jasadnya didepan meja komputer aku melihat dikomputernya ada folder di zip yang aku transfer ke ponselku waktu itu. Isinya merupakan memoir milik Hongshim"
"Nde!? Seokjin-ah mengapa kau tidak bilang kepada kami? Itu merupakan bukti kuat untuk penyelidikan" jawab Seunghwan kaget.
"Aku tahu seharusnya aku memberikan folder zip itu kepada kalian tapi aku sudah dititahkan untuk tidak ikut dalam investigasi kasus ini. Jadi kupikir…" bela Seokjin terhenti dan Seunghwan pun paham.
"Kau pikir untuk menginvestigasi sendiri?" tanya Seunghwan mengkonfirmasi dan Seokjin mengangguk.
"Terlebih di memoir milik Hongshim dia menyebut nama Jungkook sekali jadi aku juga takut apabila Wooil hyung mendadak emosi dan menghancurkan segalanya…" jawab Seokjin kini merasa bersalah.
"Jadi apa yang kau temukan?" tanya Seunghwan mencoba untuk tidak menghakimi tindakan Seokjin dan menilai dari alasan pemuda itu.
"Didalam memoirnya ia jatuh cinta dengan dosennya sendiri sewaktu ia berkuliah di Sejong University. Karena dia gay, ia dikucilkan dari pergaulan di sekitarnya. Disitu ia masuk dalam sebuah web chatting online khusus untuk gay dan bertemu seseorang dengan username 'MasterLife' orang ini nampaknya begitu baik terhadap Hongshim karena ia memberikan apapun kebutuhan Hongshim termasuk beasiswanya untuk melanjutkan studi S2 di KAFA bahkan termasuk orang yang mengenalkan Moonsoo hyung kepadanya…"
"Jadi Moonsoo mengenal orang dibalik "MasterLife" ini?" tanya Seunghwan dan Seokjin menggeleng.
Seunghwan pun kebingungan.
"Moonsoo hyung bilang waktu ia sedang mencari club khusus gay dan Eunho hyung merekomendasikan Alpha Pack Club namun ia tahu bahwa tidak sembarang orang bisa masuk kesana dan Eunho hyung menyarankan untuk coba menghubungi si MasterLife ini karena Eunho hyung punya kartu namanya"
"Kartu Nama…?"
"Iya semacam apa ya…jadi mereka yang masuk kedalam club itu harus punya membercard bukan? Dan Eunho hyung kebetulan mempunyai membercard milik MasterLife ini"
"Jadi maksudmu Eunho mengenal si MasterLife ini? Kalau begitu seharusnya kau bisa menanyakannya langsung pada Eunho dan mempercepat penyelidikan kita bukan…?" tanya Seunghwan dan Seokjin kembali menggeleng.
"Aku tidak berani menanyakannya karena menurutku ini aneh hyung…"
"Kenapa…?"
"Eunho hyung…apabila sesuai dengan perkataan hyung merupakan langganan club itu bukan? Seperti yang aku bilang diawal Hongshim menyebut nama Jungkook sekali. Didalam memoirnya ia mengatakan ia kasihan terhadap Jungkook dan aku menanyakan ini kepada Jungkook langsung dan…"
"Dan…?" tanya Seunghwan tidak menutupi rasa penasarannya.
"Pada tahun 2013, Jungkook bekerja sebagai pekerja seks hyung…di klub itu…dan pada saat itu umurnya bahkan masih enam belas tahun…bagaimana bisa Eunho hyung tidak menyadari klub itu memperkerjakan anak dibawah umur secara illegal bahkan ini merupakan pekerjaan yang juga illegal…" lanjut Seokjin dan Seunghwan hampir menabrak mobil didepannya saking kagetnya.
"Apa maksudmu…? Jungkook…Jungkook BTS seorang gigolo…?" tanya Seunghwan memastikan telinganya tidak salah dengar.
"Nde…" jawab Seokjin pelan dan semua mendadak terpekur diam, seakan-akan waktu disekeliling mereka berhenti.
"Uraikan dengan jelas…" titah Seunghwan membuat Seokjin kembali berbicara.
"Aku mencoba mencari fakta mengenai Alpha Pack Club ini dan ternyata sistemnya ialah sistem pre-booking orang-orang yang masuk kesana harus mendaftar paling maksimal enam jam sebelum pembukaan dan hanya terbatas untuk seratus lima puluh orang perharinya terkecuali bagi mereka yang punya unlimited membership card seperti Eunho hyung mungkin bisa masuk meski kuota terpenuhi. Sistem ini dipakai karena klub ini yang paling sering dikunjungi oleh para artis atau bahkan petinggi politik sana. Itu sebabnya mengapa tiket masuk kesana sangat mahal, karena klub tersebut sangat amat bagus kualitasnya dalam menyediakan privasi bagi mereka-mereka yang ingin bersenang-senang. Orang yang mem-booking tersebut bisa melihat list nama-nama siapa saja yang sudah memesan tiket masuk dalam bentuk username seperti 'MasterLife' ini dan bukan hanya itu mereka bahkan bisa langsung melihat siapa saja 'staff' yang bekerja dimalam itu. Semuanya ditampilkan secara 'transparan' maka dari itu aku berasumsi mungkin itu sebabnya Hongshim bisa mengetahui Jungkook karena jelas informasi Jungkook pada saat itu terpampang jelas di website mereka atau mungkin Hongshim juga dulu pernah bekerja disana"
"Lalu…?"
"Balik kembali ke memoir milik Hongshim, Yool dan Jaewook nampaknya memiliki akses kesana karena setelah ku selidiki lebih lanjut, delapan puluh persen saham milik Alpha Pack Club adalah milik Alpha Agency. Secara tidak langsung klub tersebut milik agensi itu. Yool yang sepertinya mengenal Hongshim menjadi masuk akal disini karena bisa saja Jaewook yang kesal terhadapku menyuruh Yool mencari orang untuk mencelekaiku dan ia memilih Hongshim mengingat Hongshim tidak punya uang untuk bertahan hidup selain berpangku tangan pada Moonsoo hyung. Namun di memoir milik Hongshim ia menyebutkan menyesal melakukan perintah Yool karena nampaknya aku adalah incaran 'Hyungnim', orang dibalik username 'MasterLife' ini"
"Jadi dirimu berasumsi bahwa MasterLife ini punya kuasa lebih tinggi dibanding Yool dan Jaewook?" tanya Seunghwan menyimpulkan dan Seokjin mengangguk.
"Jika demikian, kita bisa berasumsi bahwa Eunho hyung pasti kenal dengan si Hyungnim atau MasterLife ini karena dirinya punya kartu nama orang tersebut. Jadi, bagaimana bisa selama kalian melakukan investigasi Eunho hyung tidak menyebutkan Alpha Pack Club, atau sosok Hyungnim ini dan lagi melihat bagaimana Hangyeol dan Hongshim dibunuh-"
"Nampaknya berasal dari orang yang mahir menggunakan pistol dan itu berarti orang yang berprofesi sebagai polisi adalah salah satunya…" jawab Seunghwan memotong ucapan Seokjin.
Seokjin meneguk ludahnya.
Apakah ia telah melewati batas?
"Apa kau sudah mengkonfirmasi ini lebih lanjut…?"
"Belum…"
"Kalau begitu mari kita simpan analisis ini dulu. Sehabis ini aku akan coba bicarakan untuk mengunjungi Alpha Pack Club kepada tim" jawab Seunghwan menentukan langkah selanjutnya yang menurutnya paling bijak.
"Terima kasih hyung…setidaknya dirimu tidak menamparku karena mengatakan ini…" ujar Seokjin jujur dari hati yang terdalam Seunghwan tertawa.
"Aku bukan tipikal barbar seperti Wooil jadi tenanglah. Kecurigaanmu pun beralasan jadi aku tidak akan menghakimimu sebelah mata. Bagaimanapun ini semua hanyalah posibilitas Seokjin-ah, untuk menangkap para kriminal kita harus berpikir selayaknya kriminal tapi pada dasarnya kita bukan kriminal karena kita bukan mereka. Terkecuali disaat kita benar – benar 'seorang kriminal' jadi jangan putus harapan. Masih banyak cara untuk menangkap mereka. Tidurlah, dirimu baru sembuh dan butuh istirahat banyak" ujar Seunghwan.
Seokjin pun tersenyum mengiyakan sambil mengeluarkan mp3 dan airpods miliknya memutar lagu – lagu favoritnya untuk mempercepat tidurnya mengingat telinga Seokjin sensitif terhadap suara-suara.
Seunghwan yang melihat maknae mereka sudah jatuh ke alam mimpi tersenyum lega sambil menurunkan jok kursi Seokjin sehingga posisi Seokjin kini berbaring dengan selimut yang menutupi tubuhnya yang Seunghwan ambil dari jok belakang.
Namun senyum Seunghwan hilang seketika saat ia fokus kedepan sambil menyetir.
Benarkah Eunho terlibat?
Sangat tidak mungkin rasanya ia terlibat.
Kunci utamanya ialah apakah Eunho mengetahui sosok Hyungnim atau si MasterLife ini.
Tapi bagaimana cara mengkonfirmasinya tanpa membuat Eunho terlibat didalamnya atau setidaknya Eunho tidak mengetahuinya.
Namun entah mengapa ingatannya kembali kepada suatu kejadian tiga tahun silam, disuatu sore, didalam sebuah pantry, dirinya mendengar suatu pembicaraan yang seharusnya tidak ia dengar.
Seunghwan mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Nde Seunghwan-ah..?"
"Kyungwoo-ah…kau masih di kantor? Boleh aku minta bantuan?"
"Nde, kau butuh bantuan apa?"
"Bisakah kau minta rekaman CCTV untuk seluruh kamera yang ada di kantor selama tiga tahun kebelakang…?" tanya Seunghwan pelan.
Kyungwoo menghela nafas diujung sana.
"Apa ini atas perintah Wooil hyung? Hyung kita semua tahu apapun yang kita lakukan tidak akan membawa Joomin kembali-"
"Anniya Kyungwoo-ah, aku butuh ini untuk investigasi tersendiri, dan kalaupun bisa jangan sampai anggota kita tahu. Bisakah kau memintanya diam-diam…?" tanya Seunghwan.
Hening sejenak menyelimuti panggilan mereka.
"Apakah kalian menemukan sesuatu atau Seokjin 'berbicara' mengenai sesuatu…?"
Kali ini Seunghwan yang diam.
"Ya Kyungwoo-ah, dia berbicara 'sesuatu' mengenai hal yang 'kita' bicarakan"
"Tunggu kalau begitu"
Dan sambungan mereka terputus.
/-/
Kyungwoo yang sedang sibuk dengan tugasnya mendapati panggilan dari Seunghwan, ia pun segera mengangkatnya.
"Nde Seunghwan-ah..?" jawabnya masih dengan sibuk mengketik sesuati di keyboardnya.
"Kyungwoo-ah…kau masih di kantor? Boleh aku minta bantuan?"
"Nde, kau butuh bantuan apa?"
"Bisakah kau minta rekaman CCTV untuk seluruh kamera yang ada di kantor selama tiga tahun kebelakang…?" tanya Seunghwan pelan.
Kyungwoo menghela nafas lelah.
Wooil berulah lagi seperti biasa.
"Apa ini atas perintah Wooil hyung? Hyung kita semua tahu apapun yang kita lakukan tidak akan membawa Joomin kembali-"
"Anniya Kyungwoo-ah, aku butuh ini untuk investigasi tersendiri, dan kalaupun bisa jangan sampai anggota kita tahu. Bisakah kau memintanya diam-diam…?"
Atau tidak sama sekali.
Ini bukan atas suruhan Wooil.
Kyungwoo mendadak beku dan menghentikan seluruh aktifitasnya. Apakah ia tidak salah dengar? Seunghwan yang memintanya? Bukan atas dasar suruhan Wooil? Untuk apa? Apakah ini ada hubungan dengan Joomin? Atau keperluan investigasi? Atau-
Seokjin berbicara mengenai sesuatu yang tidak mereka ketahui.
"Apakah kalian menemukan sesuatu atau Seokjin 'berbicara' mengenai sesuatu…?"
Kali ini Seunghwan yang diam.
"Ya Kyungwoo-ah, dia berbicara 'sesuatu' mengenai hal yang 'kita' bicarakan"
"Tunggu kalau begitu"
Dan sambungan mereka terputus.
"Hyung, Seunghwan hyung bilang apa? Kenapa kalian menyebutkan nama Seokjin tadi?" tanya Chanwook membuat Seunghwan menyadari sedari tadi ia bekerja bersama anak bandel itu yang kini tengah menatapnya sambil memakan double cheese burger.
"…dan kalaupun bisa jangan sampai anggota kita tahu…"
Kyungwoo menghela nafas.
"Iya, dia bilang Seokjin sedikit tidak enak badan tadi diperjalanan jadi dia memintaku untuk menjaganya semalam nanti di apartemennya. Karena Seunghwan punya urusan lain" jawab Kyungwoo dusta.
"Jinjja!? Hyung aku boleh ikut tidak?" tanya Chanwook dan Kyungwoo menepuk jidat salah satu maknae mereka tersebut dihadiahi erangan sebal.
"Kau hanya bisa merecoki tahu. Aku ingin mengunjungi unit satlantas untuk meminta akses CCTV sepanjang rute perjalanan mobil Jaewook. Kau fokus pada rekaman black box mobilnya" ucap Kyungwoo keluar.
"Ck! Yak hyung! Kenapa aku selalu mendapat tugas berat! Ini sama saja kalian menyuruhku memperbaiki black box yang sudah rusak terbakar!" teriak Chanwook marah sambil memakan burgernya ganas tidak menyadari bahwa sebenarnya tape CCTV yang dibutuhkan Kyungwoo tadi sudah ada dimeja hyungnya tersebut.
Karena Kyungwoo tidak pergi ke Unit Satuan Lalu Lintas.
Dirinya pergi menuju Unit Pemeliharaan Keamanan.
Sesampainya disana ia bertemu petugas penjaga polisi baru yang kurang lebih masuknya sama dengan waktu Seokjin diterima disini.
"Ah, Yi Myeong Yi. Itu namamu bukan?" ujar Kyungwoo mengingat – ingat saat upacara pelantikan kepolisian.
"Nde sunbaenim! Ah ada yang bisa saya bantu?" jawab polisi muda itu semangat.
"Aku ingin minta backupan CCTV kantor ini selama tiga tahun kebelakang, bisa?" tanya Kyungwoo dan Myeonyi memiringkan kepalanya keheranan.
"Eh…? Maksud sunbaenim video CCTV keseluruhan ruangan…?" tanya Myeongyi memastikan.
"Nde waeyo?" tanya Kyungwoo kini mengerutkan keningnya.
"Eunho sunbaenim baru saja meminta seminggu yang lalu"
Jantung Kyungwoo berhenti berdetak saat itu juga.
"Bahkan disini ia tercatat setiap bulan meminta backupan rekaman CCTV kantor kita semenjak tiga tahun yang lalu. Apakah Eunho sunbaenim tidak memberitahu anggota unitnya?" tanya Myeongyi dan Kyungwoo tersenyum lembut.
"Dia pasti membutuhkannya untuk urusan lain. Ini untuk urusan kasusku dan karena ini berhubungan dengan kantor pusat, tolong jangan beritahu siapa-siapa ya" jawab Kyungwoo dan Myeongyi mengangguk semangat.
Bagi Myeongyi saat ini suatu kehormatan bisa membantu bahkan bertemu dengan Unit Investigasi Khusus, itu unit impian seluruh mahasiswa Korean National Police University. Kyungwoo hanya bisa tersenyum melihat semangat empat lima dan kepolosan anak tersebut.
Meski tidak menampik kekhawatirannya terhadap Eunho.
Apakah yang dibicarakan olehnya dan Seunghwan dulu benar-benar terjadi?
"Sunbaenim, duplikatnya mau dibuat dalam bentuk apa?"
"Bisa dalam bentuk format drive. Di mejaku sudah terlalu banyak tape dan CD" jawab Kyungwoo sambil menuliskan alamat email-nya dan Myeongyi mengangguk mengiyakan.
"Kau harus bertemu Chanwook atau mungkin Seokjin…sangat jarang melihat polisi muda disini dan pastinya kalian butuh inner circle" ujar Kyungwoo mengajak Myeongyi berbicara.
"Ah, apakah Seokjin sunbaenim dan Chanwook sunbaenim seumuran denganku? Aku pernah melihat Seokjin sunbaenim di televisi dan wajahnya sangat menawan! Aku salah satu yang ikut mentrendingkan polisi tampan di Naver" ngaku Myeongyi malu-malu membuat Kyungwoo mau tidak mau tertawa.
"Benarkah? Aku tidak tahu Seokjin seterkenal itu" ujar Kyungwoo sambil menikmati teh yang dibuat Myeongyi. Kini keduanya duduk diruang tunggu sambil menunggu loading di komputer ruangan tersebut.
"Jangankan Seokjin sunbaenim. Sunbaenim juga punya banyak fans"
"Ah, aku…?" tanya Kyungwoo akward sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.
"Nde, ini coba sunbaenim lihat. Banyak sekali komen tentang Kyungwoo sunbaenim" ujar Myeongyi menunjukkan layar ponselnya yang penuh dengan komen berisi tentang dirinya layaknya seorang fanboy.
Kyungwoo menyadari suatu hal.
Phone case milik Kyungwoo adalah cover album BTS Love Yourself : Tear.
Kyungwoo menaikkan satu alisnya pertanda tertarik.
"Myeongyi-ah, dirimu seorang army?" tanya Kyungwoo dan pipi anak itu memerah.
"Aku fans mereka sejak mereka debut hyung. Bahkan aku sudah mengikuti mereka sejak pre-debut!" jawab Myeongyi dengan semangat yang sama.
Myeongyi sendiri kini mengecek komputernya kembali dan melihat bahwa file yang diminta Kyungwoo sudah siap dan sekali klik file itu sudah ada di ponsel Kyungwoo sekarang. Tanpa menunggu waktu lama Kyungwoo segera mem-forwardnya kealamat email Seunghwan.
To : Seunghwan
Aku sudah mengirimkannya ke emailmu.
Kyungwoo memutuskan untuk singgah lebih lama untuk menghabiskan tehnya. Sekaligus mencoba mengorek informasi mengenai BTS karena nampaknya Myeongyi masih tidak menyadari bahwa BTS 'sering terlibat' dalam kasus mereka. Layaknya seorang penggemar, dengan bangga Myeongyi memperkenalkan para member BTS kehadapan Kyungwoo yang berpura-pura tidak tahu tentunya. Myeongyi adalah fans rapline garis berat. Pemuda itu sudah mengikuti karya RM dan Suga sejak mereka masih jadi underground rapper lalu disusul Hoseok kemudian.
Suatu fakta yang tidak diketahui oleh Kyungwoo sebelumnya.
Selama ini yang ia ketahui BTS hanya datang dari agensi kecil lalu kini tiba-tiba mereka mendapat popularitas hingga jadi the new sensation masa kini.
Hanya ini.
Myeongyi menjelaskan bahwa namestage mereka ialah Runch Randa dan Gloss. Sebuah nama yang mampu membuat Kyungwoo tertawa namun ia tahan.
Siapa sangka nama 'lucu' seperti itu datang dari dua orang yang dicurigai sebagai seorang penculik, pemerkosa, dan pembunuh?
Melihat bagaimana antusias Myeongyi, Kyungwoo punya ide tersendiri.
"Hey Myeongyi. Hari ini aku akan berkunjung kerumah Seokjin, kau mau ikut? Aku ingin 'memperkenalkan' dirimu kepadanya"
"Eh? Bolehkah sunbaenim!? Tentu aku mau! Khamsahamnida sunbaenim!" ucap Myeongyi semangat sambil membungkukkan badannya hormat.
"Hm datanglah nanti ke ruangan kami saat dirimu sudah selesai bertugas" ujar Kyungwoo sambil pamit keluar.
'Juga untuk mengetes bagaimana reaksi Eunho ketika melihatmu' lanjut Kyungwoo tentunya dalam hati.
/-/
Seokjin tepat bangun ketika mereka sudah sampai lokasi. Menyadari kursinya dalam posisi terbaring dan tubuhnya yang dibalut selimut pasti tentunya ini perbuatan Seunghwan. Seokjin tersenyum sambil mengucapkan terima kasih kepada Seunghwan. Mereka menuju jurang di tepi jalan yang menjadi lokasi tempat jatuhnya mobil tersebut. Garis kuning masih menghiasi daerah tersebut, ditemani dengan polisi yang bertugas didaerah tersebut mereka kembali menyisiri daerah itu sedikit demi sedikit.
Tentunya sudah pasti tak banyak atau bahkan nihil yang bisa mereka temukan.
Mengetahui bahwa pencarian mereka sia-sia Seokjin memutar otaknya mencoba fokus dan tidak lama telinga menangkap suara gemerisik air.
"Apakah ada aliran air disekitaran sini?" tanya Seokjin dan polisi setempat tersebut mengangguk ada sungai kecil jika mereka lebih dalam lagi menelusuri jurang tersebut. Itu artinya ada setidaknya perumahan atau desa didaerah sini dan polisi tadi kembali mengangguk bahwa ada beberapa rumah disekitaran sana.
"Hyung ingat bukan, bahwa aku mengatakan jika mereka kesebuah lokasi lain dimana ada Yool disana, dan kemungkinan orang dan pemilik lokasi itu yang membuat Yool dan Jaewook seolah meninggal karena kecelakaan menuju villanya? Mungkinkah lokasi itu sekitaran sini?" tanya Seokjin pada Seunghwan dan Seunghwan segera meminta data rumah – rumah siapa saja yang paling dekat dengan lokasi jatuhnya mobil tersebut. Tidak lama kemudian anggota polisi lainnya datang memberikan kertas berisi perumahan, desa, atau villa dengan radius hingga sepuluh sampai lima puluh kilometer.
Setidaknya disini tercata ada sepuluh perumah, dua puluh lima desa, dan lima buah villa pribadi. Seokjin memilih untuk menginvestigasi sebuah Villa besar yang nampaknya sudah lama tidak disewakan milik orang Perancis atas nama Acel Delano Kalman. Seokjin menuju villa tersebut dan harus Seokjin akui bahwa rumahnya ini cukup cantik dan indah. Hanya saja villa tersebut nampak sudah lama tidak dihuni dan tidak diurus. Mereka masuk lebih dalam mencoba mengitari villa tersebut yang penuh dengan taman kosong, kolam ikan, dan kolam renang, air mancur, dan lain-lain.
Entah kenapa Seokjin merasakan hawa yang tidak enak dari rumah ini.
Mereka mengetuk pintu murah, namun taka da yang mau membukanya, mencoba mengubungi si pemilik rumah. Si pemilik tersebut justru masih di perancis dan tentunya tidak bisa ke Korea Selatan untuk sekedar 'memberikan kunci rumah' namun si orang Perancis ini setuju jika rumah atau villa miliknya ini didobrak.
Dengan bantuan berbagai perkakas oleh polisi setempat seunghwan berhasil membobol pintu villa tersebut. meski diluar nampak terbengkalai, didalam rumah ini cukup bagus selain debu – debu kecil yang menempel dipermukaan apapun menandakan rumah ini tidak lama dihuni.
"Hyung…untuk ukuran rumah yang tidak ditinggali selama berbulan-bulam lamanya, rumah ini tergolong bersih" seru Seokjin menyuarakan pendapatnya dan Seunghwan mengangguk pelan.
Rumah atau villa atau bahkan sudah bisa disebut mansion ini karena saking megah dan luasnya terdiri dari tiga lantai dengan lantai pertama diisi ruang tamu, ruang makan, ruang keluarga, dapur, dan beberapa kamar tidur sederhana serta kamar mandi.
Dilantai dua diisi dengan ruang bermain (menurut Seokjin) karena ada meja biliar, soccer foosball, bahkan hingga arcade machine dan VR ada disini, beberapa kamar tidur yang kini luasnya lebih lebar sedikit dari lantai satu, beberapa kamar mandi, dan pantry bar mini yang lebih kecil sedikit dari dapur utama. Dilantai tiga hanya berisi dua kamar tidur yang luasnya dua kali lipat dari kamar yang ada di lantai dua sehingga Seokjin mengasumsikan ini adalah kamar tidur utama, sebuah piano yang menurut Seokjin agak sedikit aneh karena biasanya orang – orang menempatkan piano di lantai dasar, belum lagi sepanjang lorong lantai ini diisi dengan lemari dinding berisikan wine dari berbagai jenis, tahun, dan rasa, sebuah ruangan bioskop mini, pantry bar mini seperti dilantai dua, perpustakaan kecil dan pintu menuju teras atau balkon atas yang diisi dengan bangku dan meja panjang serta alat –alat pemanggang.
Orang perancis tersebut nampaknya memiliki banyak 'uang.'
"Dilihat dari berbagai furniture yang dipakai, ini semua merupakan barang – barang mahal Jinnie…kita bahkan belum menanyakan harga botol – botol wine yang dipajang di lantai tiga" ujar Seunghwan mendapati rumah ini dalam sekali pandang memancarkan aura 'royal' dengan nuansa merah marun, coklat tua, dan sedikit aksen warna ungu pekat.
Seunghwan memustuskan untuk menyisir diareal lantai satu dan luar, sang polisi setempat ditugaskan menyisir di lantai dua, dan Seokjin dilantai tiga.
Seokjin langsung melangkahkan kakinya menuju salah satu kamar tidur mewah tersebut dan Seokjin cukup kaget karena nuansa kamarnya berwarna putihh, cream, dan peach. Sangat kontras dengan warna –warna yang digunakan dirumah ini. Tidak banyak yang Seokjin bisa lihat karena meski luas dengan memiliki kamar mandi dan ruang wardrobe sendiri, kamar ini terlihat cukup minimalis dengan sebuah meja belajar atau meja kerja mungkin menghadap kasur dan dibelakang meja tersebut memililk rak tempel di dinding yang diisi dengan beberapa buku – buku seni.
Seokjin melangkah ke kamar satu lagi dan disini jauh lebih berbeda dari kamar sebelumnya. Kamar tersebut didominasi oleh warna hitam dan abu-abu dan perbedaanya disini tidak ada rak atau meja belajar melainkan dua single sofa yang salong berhadapan dengan meja bundar kecil ditengahnya.
Seokjin pertama kali masuk kedalam kamar ini terasa sekali bau wine-nya dan bau lainnya yang dirasa Seokjin sangat 'aneh'
Ini seperti bau manusia namun taka da manusia yang tinggal disini.
Seokjin masuk kedalam ruang wardrobe dan tidak menemukan apapun sehingga ia berlanjut kekamar mandi.
Lucunya keran air masih berfungsi.
Lebih tepatnya seluruh aliran air dan listrik dirumah ini masih berfungsi dengan baik untuk ukuran sebuah hunian besar yang sudah lama tidak ditinggali.
Apakah si orang perancis ini membayar tagihan tiap bulan?
Seokjin melangkah menuju perpustakaan yang ternyata tak jauh berbeda nuansanya dengan kamar yang sebelumnnya Seokjin lihat.
Seokjin mengelilingi perpustakaan itu hingga ia mendengar sesuatu.
'Bzzt'
Suara buzzing dan Seokjin tak salah dengar dan itu tempat dirak dihadapannya ini, kini dihadapannya sebuah buku dengan sampul berwarna merah.
Our Little Bean
Seokjin membuka buku tersebut untuk mendapati ada sebuah hidden cam yang dipasang didepan buku tersebut. Dilihat dari jenisnya, tampaknya ini kamera yang terhubung dengan sistem wireless.
Itu artinya seseorang bisa jadi tengah memantaunya.
Seokjin merasa ada yang tidak beres dengan rumah ini.
"Kalian menemukan sesuatu?" tanya Seokjin kepada polisi yang bertugas tadi.
"Kami tidak menemukan apapun selain nametag disalah satu kamar. Nampaknya kamar tersebut dihuni oleh pelayan – pelayan yang bekerja disini" ujar sang polisi memberikan sebuah nametag kecil yang hanya tulisan saja tanpa ada gambar dengan nama Kang Eun Seom.
Seokjin merasa ada yang tidak beres dan memutuskan kembali ke lantai tiga dan menuju perpustakaan tadi untuk semakin niat menyelidiki. Feelingnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres terjadi dan semakin memfokuskan pendengarannya.
Seokjin mendengar langkah kakinya sedikit bergema, pertanda ada ruangan lain dibalik perpustakaan ini. Seokjin lebih teliti memperhatikan rak-rak buku yang menyampir pada dinding untuk menemukan ada satu rak yang jarak longgarnya sedikit lebih lebar dengan rak lainnya.
Seokjin mendorong rak itu kedinding dan rupanya itu adalah pintu rahasia menuju sebuah ruangan yang membuat Seokjin kaget bukan main.
Playroom yang sama dengan yang ia temui di kediaman Hangyeol.
"SEUNGHWAN HYUNG!" teriak Seokjin panik membuat Seunghwan yang menyisiri sekitaran luar rumah panik mendengar teriakan Seokjin dan berlari namun naasnya dirinya yang tidak sengaja tersandung kerikil akhirnya jatuh terjerembab. Seokjin yang panik mendengar suara orang jatuh segera berlari menuju keluar mendekati Seunghwan.
Hingga langkahnya terhenti.
Seokjin tidak bisa mendengarkan langkah kakinya dengan jelas.
Nampak seperti tanah yang ia injak tidak begitu padat.
Nampak seperti ada sesuatu yang memantulkan langkah kakinya sehingga tidak ada bunyi 'tap' – 'tap' yang biasa ketika sepatu kita bersentuhan dengan tanah.
Seokjin yang panik segera menghampiri Seunghwan kembali keposisi awal mereka berdiri dimana Seokjin bernafas lega karena tanah yang mereka pijak adalah 'tanah yang normal' dan tak lama kemudian ia menyuruh polisi yang berjaga didaerah tersebut menggali tanah aneh tersebut.
Asumsi Seokjin ialah ia mendapati adanya 'lumpur hidup' atau berbagai 'jebakan' yang di -setting oleh pemilik murah.
Dan bukannya pemakaman masal dimana mereka melihat banyak mayat bergelimangan disana.
Seokjin mau tidak mau akhirnya muntah dan pingsan ditempat.
Seunghwan yang panik pun segera menghubungi Kyungwoo kembali untuk menyusul mereka kemari dikarenakan saat ini Seunghwan tidak bisa menghubungi siapapun kecuali Kyungwoo.
Sambil menunggu kolega sekaligus temannya tersebut datang Seunghwan meminta polisi lokal tersebut menelpon kantor kepolisian Seoul untuk membawa tim kesini.
Apa yang mereka lihat sekarang ini jauh lebih mengerikan.
Sepetak halaman luas belakang rumah ini penuh dengan mayat-mayat yang sebagian sudah mulai membusuk dengan posisi tidak beraturan yang kini baunya menyengat hingga kemana-mana.
Tak lama kemudian Kyungwoo datang tidak berselang dengan kedatangan tim olah TKP mereka yang kini mulai ribut memfoto, membuat garis kuning, dan menelusuri halaman ini. Seunghwan kaget mendapati Kyungwoo tidak sendiri da ia bersama seorang pemuda yang tidak Seunghwan kenal sebelumnya yang diperkenalkan Kyungwoo sebagai Myeongyi anak Unit Pemeliharaan Keamanan. Rupanya Kyungwoo juga tidak berdua namun juga dengan Chanwook yang menyusul dari belakang.
Seokjin yang tadinya pingsan kini terbangun dengan Chanwook disebelah kanannya dan orang tidak ia kenal disebelah kirinya.
Keduanya mengeluarkan raut yang sama.
"Kau sudah menghubungi anggota lain…?" tanya Kyungwoo dan Seunghwan menggeleng. Kyungwoo menghela nafas sambil duduk disebelah Seunghwan dan menawarkannya segelas kopi panas.
"Bau kafein akan menghalau bau-bau tidak enak tersebut" monolog Kyungwoo.
"Kau mengapa membawa Myeonyi kemari?" tanya Seunghwan.
"Anak itu yang membantuku mendapat 'barangmu'. Kau sudah lihat?"
"Belum. Aku belum memngecek ponselku sedari tadi" jawab Seunghwan dan Kyungwoo menggelengkan kepalanya prihatin.
"Anak itu fans berat unit kita sepertinya dan juga seorang army" ucap Kyungwoo mampu membuat Seunghwan hampir tersedak kopi panasnya sendiri.
"Dia sepertinya bukan hardcore fans sehingga dia tidak tahu seberapa banyak kita memanggil boyband favoritnya tersebut. Aku mengudangya sekaligus untuk melihat sesuatu"
"Apa..?"
"Reaksi Eunho. Anak itu mengaku selama ini Eunho meminta akses CCTV selama tiga tahun belakangan ini"
Kini keduanya hening.
"Lalu…?"
"Suasananya agak sedikit chaos. Wooil dan Gitae sama – sama marah karena frustasi tidak bisa mengakses info banyak mengenai mobil Jaewook karena kebetulan semua orang di agensi itu punya mobil kecuali para trainee. Mereka memberikan akses CCTV selama tiga bulan terakhir dan hanya Jaewook yang mengendarai mobilnya sendiri. Jadi ketika Kwangil dan Eunho datang, keduanya jadi korban sasaran amukkan mereka berdua. Hyeon hyung yang pusing melihat kondisi runyam di ruangan memutuskan untuk membubarkan kita tadi dan anak itu datang disaat kita beberes pergi" ujar Kyungwoo menjelaskan situasi mereka tadi.
"Bagaimana reaksinya"
"Datar, tapi aku bisa melihat dia tegang. Nampaknya ia panik melihat Myeonyi jadi aku menambahkan sedikit bumbu dengan mengatakan bahwa Myeonyi membantuku mendapatkan rekaman CCTV kantor dan aku ingin mengajaknya makan dengan Chanwook juga Seokjin karena mereka kebetulan"
"Kau memberi tahu semua rencanamu heh?"
"Tentu saja seni berbohong paling unggul adalah menceritakan kebenaran yang 'tidak' sebenar-benarnya. Aku bilang ada ide untuk melihat ulang gerak – gerik Yool dan Jaewook ketika di kantor kita. Eunho terlihat biasa saja sedari awal hingga akhir. Jadi aku tidak bisa mendeteksi emosinya dan ketika perjalanan menuju restaurant tiba-tiba saja dirimu menghubungiku" lanjut Kyunwoo akhirnya selesai menjelaskan ceritanya.
"Rumor tentang Eunho…menurutmu itu benar…?" tanya Seunghwan gugup.
"Kau tahu Gitae dan Kwangil tak akan mempercayai omongan kita" ujar Kyungwoo.
"Bagaimana jika kita bilang bahwa ucapan itu dari-"
"Joomin sudah meninggal, tak ada yang bisa mengkonfirmasi-"
"Bagaimana jika 'aku' bilang bahwa ucapan itu dari 'Seokjin'?" kini Seunghwan balik memotong perkataan Kyungwoo.
Yang kini terdiam kaku merespon apa.
Seunghwan mendengar suatu pembicaraan yang seharusnya tidak ia dengar,
Dan pembicaraan ini terjadi diantara Kyungwoo dan Joomin tiga tahun silam.
/-/
Seseorang sedang bermain lempar dart hingga sebuah pesan masuk memecah konsentrasinya. Pemuda dengan sweater abu-abu tadi memilih untuk mengecek notifikasi daripada membuka pesan tersebut dan tersenyum karena dari satu pesan tersebut kini ramai berbagai pesan masuk lainnya. Pemuda itu memilih untuk menekan mode airplane dan melanjutkan permainannya.
Tak lama kemudian seorang pemuda berkacamata datang dengan kaus putih celana hitam dan tangannya yang berisi sebuah buku, botol wine, dan dua buah gelas.
"Kau nampaknya menekuni hobimu heh?" tanya pemuda dengan kaus putih tadi.
Ia tersenyum.
"Tentu saja. Bukankah ini semakin menarik…?" tanya si pemuda pelempar dart tadi kini duduk berhadapan dengan pemuda berkacamata tadi tersenyum remeh.
"Melihat ucapanmu aku yakin ada sebuah kejutan untukku" ucap pemuda berkacamata itu tadi dan pemuda bersweater tadi hanya mengendikkan bahunya pertanda tak minat.
"Aku ingin mengunjungi para 'peliharanku' bagaimana menurutmu?"
"Lebih tepatnya, 'mantan' peliharaan" dan si pemuda berkacamata tadi tersenyum kecut.
"Aku membuatmu hidup dengan tenang tapi kau malah menghinaku didepan wajahku sendiri"
"Setidaknya aku tidak menjilat dan membicarakanmu dibelakang"
"Itu sebabnya kau adalah favoritku hehehe"
"Langkahmu selanjutnya akan membuat dirinya semakin berani mendekatimu. Jadi aku tak bisa memberikan opini apa-apa, toh aku hanya bertugas untuk membersihkan ulahmu saja"
"Dan ini sudah ketiga kalinya aku membersihkan ulah bodohmu ditambah juga dengan ulah bodohmu little brat" ujar sebuah suara datang dari pintu masuk yang kini menyampirkan jas coklatnya asal dikasur, mengambil gelas dan menuangkan wine untuk dirinya sendiri sambil melonggarkan dasi.
"Aku juga kena…?" tanya pemuda bersweater itu tidak percaya.
Tidak mungkin.
Selama ini ia selalu rapi dalam bertugas.
"Kau. Bagaimana bisa kau membuang 'kelinci mainanmu' dihalaman rumah itu dank au juga lil brat! Kau menaruh hidden cam tanpa sepengetahuanku!?"
"Itu ide hyungnim. Aku tak ikut campur" jawab pemuda bersweater tadi lepas tanggung jawab dan membiarkan hyungnimnya tersebut kena omel.
"Oh ayolah, jangan marah-marah begitu. Satu buah kamera tidak akan membuatmu sakit kepala" jawab pemuda berkacamata tadi membuat si pemuda berjas tadi mengeluarkan ponselnya, mengetik sesuatu dan memutar sebuah video.
Video dimana Seokjin ketika datang ke perpustakaan tersebut dan tidak sengaja menemukan kamera dalam sebuah buku.
Lalu layarnya menjadi gelap.
"Oh…tidakkah dia begitu manis"
"Hm, dia mirip sekali. Aku tak menyangka mereka punya karakter yang sama" jawab pemuda bersweater tersebut tersenyum.
"Mereka berhasil menemukan rumah itu. Apa rencanamu"
"Tidak ada"
"Itulah sebabnya kenapa aku menyesal berteman denganmu"
"Ck, jangan begitu"
"Bukankah ada baiknya aku mengunjungi peliharanku lagi?"
"Mantan"
"Diam kau lil brat!" ujar pemuda berkacamata itu tadi kesal.
"Lemparkan rumah itu kepadanya. Aku ingin tahu bagaima Jinnieku bereaksi…" ujar pemuda berkacamata tadi kini berubah dari yang sebelumnya ceria dan playful menjadi dingin dan bitter. Apalagi setelah dimeja itu ternyata selain gelas dan botol wine berisi banyak foto – foto Seokjin.
Salah satunya foto Seokjin ketika pingsan dan Jungkook menggendongnya dan membawa masuk kedalam apartemen mereka.
"Peliharaanku sedikit melunjak nampaknya. Jadi mereka harus diberi sedikit pelajaran…"
Sementara pemuda bersweater tadi hanya memiringkan kepalanya sambil tersenyum remeh.
'Menarik' pikirnya.
'Kim Seokjin, kau luar biasa rupanya' monolognya dalam hati sambil menghabiskan winenya dalam sekali teguk.
/-/
Myeongyi atau Yi Myeong Yi merupakan kenalan Kyungwoo yang dikenalkan juga kepada Chanwook dan akhirnya Seokjin. Nampaknya mereka bertiga tergabung dalam maknae line disini meski berbeda unit. Seokjin dan Chanwook di Unit Investigasi Khusus sementara Myeongyi di Unit Pemeliharaan Keamanan. Namun demikian tidak menampik bahwa Chanwook lah masih yang paling tua disini dan Seokjin yang paling muda karena Myeongyi lahir pada 19 September 1998. Beda tiga bulan dengan Seokjin. Seokjin diberi tahu bahwa mereka sebenarnya berencana untuk makan diluar namun Seunghwan menghubungi Kyungwoo untuk mengabari dirinya pingsan.
Seokjin jadi tidak enak hati dan menawarkan diri untuk mengajak mereka ke restaurant imonya. Kyungwoo dan Seunghwan menolak karena mereka harus melanjutkan penyelidikan karena Seokjin masih lemas jadi ia terpaksa dilburkan hingga esok hari dan tugasnya dialihkan kepada Chanwook dan Kyungwoo. Chanwook pun memutuskan akan melanjutkan penyelidikannya tapi ia mohon agar diberikan izin makan bersama Myeongyi dan Seokjin. Kyungwoo pun mengizinkan namun mengingat hari mulai semakin senja, Kyungwoo meminta agar sebelum jam enam Chanwook sudah sampai dikantor polisi. Kyungwoo juga meminta Myeongyi agar tidur bersama Seokjin dan tentu saja anak itu mengiyakan karena kebetulan shiftnya selesai hari ini dan mendapat libur seminggu penuh dari atasannya.
Jika Changwook hyperactive maka Myeongyi jauh lebih hyperactive dari Chanwook.
Tiga kalinya bahkan.
Anak itu tidak kehabisan stamina, berlarian kesana kemari, layaknya remaja berusia tujuh belas tahun. Tentu saja Chanwook merasa memiliki soulmate karena memiliki orang dengan tipe yang sama (karena Seokjin tipe yang tidak se-hyper Chanwook) ditambah lagi mereka sama – sama pecinta Marvel dan karakter favorit mereka ialah Iron Man. Terpaksa sepanjang perjalanan Seokjin mendengar celotehan mereka yang kesal terhadap ending End Game dan merasa banyak plot hole yang memungkinkan mereka berharap agar Robert Downey Jr. tersebut masih bisa berlaga.
Tak lama kemudian ponselnya dan ponsel Chanwook berbunyi menandakan pesan masuk
[UIK Teams]
Seunghwan : Aku dan Seokjin menemukan sebuah Villa terbengkalai yang disinyalir sebagai tempat dimana Yool dan Jaewook dibunuh.
Seunghwan : sent image
Seunghwan : Dan kami juga menemukan ini.
Wooil : Fuck! Dimana kalian sekarang? Dimana Seokjin!?
Kyungwoo : Pergi diantar pulang oleh Chanwook. Pemandangan itu terlalu menjijikkan untuknya.
Hyeon : Kau menemukan dna Yool dan Jaewook disana?
Kyungwoo : Forensik sedang menelurusuri, rumah ini terlalu besar, akan memakan waktu sangat lama.
Seunghwan : sent image
Seunghwan : Seokjin juga menemukan ruangan ini.
"Holy shit!" ucap Chanwook tanpa ia sadari membuat Seokjin dan Myeongyi memberika tatapan tajam.
Yang tidak ada tajam-tajamnya sama sekali karena mereka berdua terlalu imut.
"Hehe…mian"
Seokjin : Ini ruangan yang sama dengan ruangan yang aku temui di apartemen Hangyeol, mulai dari warna, design kasur, alat-alatnya, semua sama.
Gitae : Holy shit! Aku tidak menyangka ponselku penuh dengan foto –foto disturbing seperti ini
Hyeon : Seokjin, hey kau tidak apa-apa?
Chanwook : sent image
Chanwook : Seokjin aman bersamaku dan Myeongyi!
Kyungwoo : Jangan lupa jam 6 Chanwook.
Chanwook : Nde tuan diktaktor-_-
Kwangil : Hyung kau butuh bantuan?
Kyungwoo : Ya sangat, aku dan Seunghwan tak hanya bisa bekerja sendirian.
Wooil : Aku akan kesana
Kwangil : Aku juga, kalian ada mau titip sesuatu?
Kyungwoo : Kopi dan ramen
Seunghwan : Kopi dan ramen (2)
Eunho : Butuh orang banyak atau tidak?
Chanwook : Yak hyung! Kau kemana saja!
Eunho : Seperti biasa menjadi silent readerㅋㅋㅋ
Chanwook : Kau kalah taruhan bola karena Liverpool yang menang kemarin. Hari ini aku minta chicken!
Eunho : Allright little bear!
Kyungwoo : Eunho-ya, kau bisa kemari? Kami butuh banyak tim analisis dan Seokjin sudah pasti tak bisa berkontribusi hari ini.
Seokjin : Mianhae Eunho hyung dan Kyungwoo hyung.
Kwangil : Ei tak usah minta maaf Jinnieya~~ sudah ada Wooil, aku, dan Eunho yang siap membantu.
Hyeon : Aku akan kembali menghadap Inspektur Jo untuk memberitahukan hal ini. Kirim laporannya kepdaku secepatnya.
Chanwook : Kalau Eunho hyung pergi, aku sama siapa!? Dan chickenku!?"
Gitae : Chickenmu bersamaku bodoh. Masih ada aku dan Hyeon hyung jadi cepatlah datang sebelum jam 6!
Chanwook : Yak!
Eunho : ㅋㅋㅋ
Seokjin tersenyum melihat percakapan di groupchat mereka dan tak menyadari bahwa mereka sudah sampai. Bibi Seokjin tentu menerima dengan senang hati keponakannya tersebut apalagi Seokjin sangat jarang kemari sambil membawa teman-temannya.
Si kembar nampaknya sedang tidak ada karena sepertinya Domin menemani Daeho mengunjungi pemakaman Yool dan Jaewook yang dilaksakanakan besok pagi dan nampaknya Daeho sebagai salah satu dari panita atau orang yang akan mengangkat peti mati nanti. Setelah bincang-bincang sebentar sang bibi memberikan beberapa bonus daging panggang untuk dibawa pulang. Chanwook pun harus segela balik karena Gitae sudah menunggunya dikantor.
Seokjin memanfaatkan kesempatan ini untuk mengenal Myeongyi dan rasanya Myeongyi pintar menyesuaikan diri karena bersama Seokjin Myeongyi jauh lebih perhatian bahkan dirinya memutuskan untuk memegang kantung makanan yang diberikan imonya tadi juga yang memesan taksi.
Myeongyi tak seaktif saat bersama Chanwook.
Myeongyi layaknya polisi pada umumnya memang lulus diakademi kepolisian. Namun cita-citanya ingin menjadi dokter karena ia suka menolong banyak orang. Namun rupanya orang tua Myeongyi hanyalah seorang penjual ikan di pasar kampong halamannya, Daegu. Sehingga biaya sekolah kedokteran dirasa Myeongyi memberatkan orangtuanya.
Meski Seokjin dan mungkin orang tua Myeongyi tahu bahwa mereka pasti akan mensupport apapun pilihan Myeongyi.
Namun rupanya Myeongyi masih berbaik hati kepada orang tuanya tersebut mengingat Myeongyi masih punya dua adik, perempuan dan laki-laki serta mengingat sekolah kepolisian adalah sekolah yang ditanggung negara dan begitu lulus segera diperkejakan akhirnya Myeongyi mencoba peruntungannya dengan harapab bisa membantu dan membalas budi terhadap orang tuanya karena yang sebenarnya seorang anak adopsi atau lebih tepatnya anak pungut.
Rupanya Myeongyi adalah anak dari seorang pelacur yang dibuang begitu saja ketika ia berumur empat tahun. Ibunya bahkan tidak sempat memberikannya nama, Myeongyi terlunta – lunta dijalanan hingga memakan sampah – sampah dipasar sana. Belum lagi ia dipukuli oleh preman – preman atau orang-orang mabuk di malam hari. Myeongyi harus menjalani 'hari neraka' tersebut selama satu tahun sebelum ia akhirnya nyasar di toko ikan milik orangtuanya sekarang dan mengasuh Myeongyi, memberi anak itu nama, bahkan hari ulang tahun Myeongyi adalah hari dimana mereka menemukan Myeongyi, mengajari membaca dan menulis selayaknya anak sendiri. Seluruh luka – luka Myeongyi diobati hingga kepada luka bagian dalam tubuhnya akibat terlalu sering dipukuli.
Untuk ukuran orang seceria dan sehangat Myeongyi, Seokjin tidak menyangka Myeongyi punya cerita sekelam itu.
Tapi lebih daripada itu, Seokjin lebih berterima kasih kepada orang tua Myeongyi sekarang karena telah berhasil melakukan parenting dengan baik hingga Myeongyi tumbuh dengan baik seperti sekarang bahkan tidak membeda – bedakan Myeongyi dengan kedua adiknya juga memberi nama untuk Myeongyi dengan nama yang terdengar cute untuk diucapkan.
Orang – orang seperti orang tua Myeongyi adalah alasan Seokjin masih berharap bahwa masih banyak manusia baik diluar sana.
Setelah mereka bercengkrama cukup lama Seokjin juga dihadapkan dengan sebuah kenyataan lucu namun penuh ironis bahwa Myeongyi adalah seorang army.
'Chanwook akan mengamuk mendengar fakta ini' ratap Seokjin lucu dalam hati.
Myeongyi menceritakan dengan semangat bagaimana dirinya bisa menjadi seorang army dan kecintaannya terhadap rapline namun ia tetap mencintai keenam-enamnya. Seokjin bisa mendengar suara langkah jejak kaki dan sebuah pintu yang dibuka.
'Ah, mereka pulang…' batin Seokjin bersyukur diberikan 'telinga' yang baik.
Seokjin berpikir matang – matang haruskah Seokjin mempertemukan Myeongyi atau tidak karena melihat kecintaan anak itu kepada BTS terlihat begitu tulus…?
Tidak lupa kisah hidupnya membuat hati Seokjin terenyuh dan tidak tega.
Tapi bagaimana mempertemukannya? Baik Seokjin dan BTS tidak dalam hubungan yang 'baik' dan fakta bahwa selama ini Myeongyi tidak mengetahui apapun tentang 'kasus BTS' juga membuat Seokjin jadi iba.
Sekaligus tertawa terpingkal-pingkal.
Dalam hati tentunya.
Seokjin mengarahkan pandangannya kepada sebuah kantung plastik hitam yang tergeletak begitu saja dimeja pantry apartemennya.
Seokjin punya ide sekarang.
"Hey Myeongyi apa kau lapar…?"
"Tidak begitu mengapa memangnya?"
"Aku juga tidak lapar apalagi sejak kejadian tadi. Nafsu makanku hilang, daging yang diberikan imoku terlalu banyak. Bagaimana kalau kita bagikan kepada tetangga disini saja? Aku akan bagikan kepada security di lantai ini" ujar Seokjin dan Myeongyi mengangguk semangat. Selama Seokjin pindah ia juga belum pernah memberikan besekan sebagai tetangga baru jadi anggap saja ini sebagaia penggantinya. Seokjin menghangatkan daging imonya yang sebenarnya ini bisa untuk makan dua puluh lima orang. Bahkan setengahnya terpaksa Seokjin taruh kulkas saking banyaknya. Seokjin mempacking tempat daging tersebut dengan styrofoam putih dan Myeongyi dengan semangat menghiasi Styrofoam tersebut dengan sticky notes
Hi! Perkenalkan saya Seokjinnie si tetannga baru! Salam kenal!
-KSJ & YMY
Seokjin membagikan packing tersebut langsung kepada dua orang security yang sedang berjaga, sepasang kakek nenek yang hidup dengan cucunya dan seorang single mother yang anaknya berusia lima tahun.
"Seokjinnie!" teriak Myeongyi menggelegar membuat Seokjin lari keapartemen yang tepat disebelahnya memandangi Myeongyi berdiri mematung didepan pintu menjatuhkan berbagai daging panas kearah kakinya dan kaki seseorang yang membuka pintu tersebut.
Kim Nam Joon.
Singkat cerita, Myeongyi berteriak karena panik hampir melukai idolanya sendiri. Mendengar teriakan Seokjin tentu saja membuat member lain menuju kearah pintu masuk mendapati Seokjin tengah memungut satu demi satu potongan daging dan membuangnya ke tempat sampah.
"Apa kalian punya semacam salep atau obat krim lainnya? Kaki Namjoon-shi nampaknya yang paling parah" ujar Seokjin khawatir karena Namjoon tidak menggunakan apapaun menutupi kakinya sementara Myeongyi memakai kaus kaki tadi.
Mendengar perkataan Seokjin, Myeongyi menangis jerik, panik meminta maaf karena melukai idolanya, dia bahkan mengaku secara tidak langsung kalau dia fanboy grup tersebut. Namjoon bahkan tidak merasakan sensasi 'melepuh' dikakinya karena bingung harus bereaksi seperti apa didepan 'fans' mereka ini.
Akhirnya semua tenan ketika Seokjin dan Hoseok saling bantu membantu mengobati luka lepus dikaki keduanya. Myeongyi pun mendapat kesempatan menceritakan kisah yang sudah Seokjin dengar berkali – kali mengenai 'Bagaimana seorang Yi Myeong Yi menjadi seorang army' suatu hal yang dirasa mereka aneh karena Myeongyi ini polisi dan mereka adalah…'calon tersangka'? Melihat muka kebingungan BTS Seokjin mengucapkan kalimat tanpa suara
Ia tidak tahu. Dia tidak tahu mengenai kalian
Seokjin hanya bisa geleng – geleng kepala ketika Myeongyi mendapat selca perindividu dan foto grup yang difoto oleh Seokjin tentunya. Myeongyi menangis bahagia layaknya seorang kecil yang senang luar biasa ketika diberi tahu ada hadiah dari paman Santa Claus dibawah pohon natal. Rupa-rupanya selama ini Myeongyi tidak bisa membeli album, fanmeet, konser, dikarenakan ia menabung untuk biaya pendidikan adiknya. Suatu hal yang Seokjin dan member BTS lainnya kagumi maka dari itu Taehyung berinisiatif memberika seluruh edisi Love Yourself album dengan tanda tangan eksklusif dari mereka.
Myeongyi menangis lagi untuk ketiga kalinya dan Seokjin tersenyum melihat kelakuan antik teman barunya.
Namun Seokjin tidak sadar,
Bahwa tawanya mengundang enam senyum lainnya yang sebenarnya sedari tadi mereka coba tahan.
AUTHOR'S NOTE :
Hello reader-nim! Bagaimana? Ada yang tahu diawal chapter itu siapa? Apakah benar Eunho terlibat!? APAKAH TIM UIK DAN BTS DALAM BAHAYA!? AYO BANTU UNIT INVESTIGASI KHUSUS MEMECAHKAN KASUS INI SEBELUM SEMAKIN BANYAK KORBAN BERJATUHAN!
P.s : Beberapa komen di chapter sebelumnya di wattpad sudah menggunakan pikirannya, aku suka, aku suka, sangat menantikan komen berisi teori kalian semua (ง ͠° ͟ل͜ ͡°)ง
