TITTLE : Beauty Lawbreaking

ALTERNATIVE TITLE : The Shape of Voice

PAIR : ALLxJIN / EVERONExJIN


You should have know that villains often come with pretty faces. Because if they were attractive—if their looks matched their charm and their cunning—they wouldn't only be dangerous. They would be irresistible. — Anna Godbersen & Nenia Campbell


Kau peluk aku,
Sebelum, membunuhku.

Tersenyum, melihatku
Merenung, melihatmu

Empat baris rangkaian kata dari sepucuk surat yang Joomin dapat dari seorang pemuda basah kuyup karena kehujanan ini, mampu membuatnya bergidik takut dan juga emosi yang meradang.

"Kenapa kau baru datang dan memberitahuku sekarang?" tanya Joomin pada pemuda yang masih lengkap dengan seragam sekolahnya itu. Ia menangis tersedu-sedu dengan tubuh yang menggigil kedinginan.

Diluar sedang hujan, hujan deras. Joomin baru saja pulang dari kantor polisi sampai ia menemukan seseorang terduduk jongkok di samping rumah anjing di tamannya. Ayahnya sedang bertugas bersama tunangannya, Kyungwoo dan sahabat baiknya, Wooil.

Bertugas menangani enam belas pemuda yang hilang dengan kode kasus "Mr. Photographer" yang berjalan dari musim salju hingga ke musim salju kembali.

"Hiks...tidak- hiks... tidak ada yang mencariku, tidak ada yang akan percaya padaku... hiks...aku dibiarkan hidup untuk mengabarimu akan hal ini..." pemuda itu tremor luar biasa.

Hujan begitu deras disertai iringan petir yang saling menyambar seakan menggambarkan suasana hati yang dialami kedua orang pemuda ini. Penuh emosi namun ketidakberdayaan. Joomin duduk sambil mengurutkan kening pertanda pusing tujuh keliling.

Ini sungguh diluar ekpektasi dan kendalinya, bagaimana bisa semua hal ini terjadi. Namun, Joomin setidaknya bernafas lega karena kini ia tahu berhadapan dengan siapa.

Dan juga sebentar lagi tahu, bencana apa yang menimpa mereka.

Joomin memutar otak beberapa saat dan akhirnya beranjak memeriksa tubuh pemuda itu dan menemukan chip GPS tanam di lehernya. Membuat Joomin segera mengambil kotak P3K dan dengan peralatan sederhana yang ia punya untuk mengeluarkan chip itu dari tubuh pemuda tersebut.

"Sekarang dengar baik-baik. Kau harus hidup. Kau, harus, hidup." ujar Joomin setelah memperban luka sayatan di leher pemuda itu yang kini menahan rintihannya akibat efek obat bius yang sudah hilang saat Joomin melakukan operasi kecil-kecilan di lehernya.

Pemuda itu bergidik takut.

"Bagaimana bisa? Ia akan mengincarku..mereka akan mengincarku..." ujar pemuda itu menangis pasrah mengetahui hidupnya dalam hitungan waktu.

"Dengar baik-baik dan turuti perintahku...kau bisa melakukannya untuk ku bukan?" ujar Joomin menangkup wajah pemuda itu yang mau tidak mau mengangguk.

Yang membawanya pada perasaan bersalah berkepanjangan.

Karena malam itulah, malam terakhir ia melihat Joomin masih bernafas.

/-/

Runyam.

Satu kata yang menggambarkan situasi dan keadaan ruang UIK sekarang. Wooil masih ingat dengan jelas bagaimana bergetarnya tubuh Seokjin yang dibopong keluar oleh Myeongyi dan Chanwook.

Seunghwan dan Kyungwoo juga ikut terdiam setelah dimana Seokjin dengan lancar mengucapkan sumpah polisinya dengan posisi bersimpuh, menyakitkan hati untuk dilihat dan didengar.

Gitae dan Eunho membawa dua kotak P3K dan langsung mengobati luka Seunghwan dan Wooil yang habis saling baku hantam. Gitae hanya bisa menghela nafas melihat Seunghwan melirik Wooil penuh emosi.

Gitae menghela nafas "Hyung, cukup. Jangan sekarang" bisik Gitae pelan pada Seunghwan yang sebenarnya mampu ditangkap indra pendengaran Kyungwoo yang sedang duduk disebelah Seunghwan. Ia pun menghela nafas dan menepuk pundak Seunghwan berat namun pelan.

Pertanda untuk meminta Seunghwan diam dengan emosinya yang meraung-raung.

Eunho sendiri dilain sisi saling bertukar pandang dengan Kwangil yang juga sedang sama-sama berusaha mendinginkan emosi Wooil. Mereka saling melempar pandang seakan bercakap tanpa suara untuk menemukan kalimat paling tepat untuk meredam situasi saat ini.

"Wooil, untuk sementara. Bisakah kita redam emosimu ini, kami semua yakin Seokjin tidak melakukan hal buruk yang diberitakan media massa tersebut" akhirnya Kwangil buka suara sambil Eunho mengobati luka diwajah Wooil.

Wooil hanya diam mendengarkan ucapan dari orang yang lebih tua dua bulan dari dirinya tersebut.

"Aku habis menghubungi Chanwook dan memutuskan untuk mengeluarkan Seokjin dan Wooil dari kasus ini" ujar Hyeon tenang ketika datang ke ruangan mereka setelah selesai menelpon dengan Chanwook.

Semua diam.

"Lebih baik kita serahkan kasus ini ke unit lain" ujar Hyeon kemudian menuai atensi dari semua orang disana.

"Hyung? Apa kau serius?" kaget Eunho hingga matanya terbelalak.

"Kau tidak bisa lakukan ini hyung, hasil jerih payah Seokjin-" ujar Seunghwan tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya dikarenakan tidak terima akan semua hal yang diucapkan oleh Hyeon namun terpotong oleh Gitae.

"Hyung jikalau mengeluarkan Seokjin dan Wooil, aku mungkin bisa terima. Tapi memindahkan kasus ini ke unit lain? Hyung kumohon jangan lakukan itu" ucap Gitae kemudian.

Hyeon menghela nafas.

"Kau bisa mengeluarkan aku, tapi jangan keluarkan Seokjin atau limpahkan kasus ini ke unit lain" ujar Wooil kemudian akhirnya membuka suara untuk pertama kalinya dan langsung keluar begitu saja.

Hyeon, sekali lagi, menghela nafas untuk kesekian dalam malam ini.

"Kau butuh istirahat Hyeon hyung. Kerja kita tidak akan berhasil kalau kita dalam posisi yang kacau seperti ini" ujar Eunho menimpali.

"Kita harus istirahat dan besok pagi segera ke rumah Seokjin untuk mendiskusikan masalah ini karena bagaimanapun kita belum mendapat informasi dari Seokjin dan juga BTS sendiri" ujar Kyungwoo akhirnya membuat mereka membubarkan diri.

/-/

Member BTS beserta Chanwook dan Myeongyi yang diruang tamu hanya bisa duduk dengan tenang memandang teh yang dihidangkan oleh Myeongyi dari tadi.

"Chanwook-ah, apakah kalian sudah menemukan Kali?" ujar Namjoon akhirnya angkat bicara menuai atensi semuanya.

"Huh...Kali?" tanya Chanwook bingung dan membuat Namjoon menghela nafas lelah mengetahui bahwa kepolisian Seoul masih belum menangkap Kali.

"Siapa Kali?" tanya Myeongyi kebingungan sambil membawa teh untuk diminum.

Hingga sampai kepul asap diminuman mereka menghilang, tak ada satupun yang mau minum barang seteguk pun. Semua sibuk dalam diam memandangi kearah satu pintu kamar didalamnya.

Yoongi menghela nafas dan memutuskan untuk menjawab.

"Bukan apa-apa, Namjoon terbiasa berbiasa berbicara sendiri" ujar Yoongi mengalihkan pembicaraan yang untungnya tidak ditanggapi oleh Chanwook dan Myeongyi.

Membuat mereka kembali sibuk dengan pikiran masing-masing.

Dilain sisi Seokjin membuka matanya perlahan dengan pening luar biasa, Seokjin menengok kesamping melihat tangannya digenggam erat oleh Hoseok yang kini sudah tersenyum hangat kepadanya.

Seokjin meneteskan air matanya kembali.

'mianhae...'

Hanya itu yang bisa Seokjin ucapkan dibalik masker oksigennya meski tak mengeluarkan suara sama sekali.

Terlalu lelah.

Hoseok mengangguk dan akhirnya ikut meneteskan air matanya.

Nampaknya pemuda dengan julukan sunshine itu dapat melihat raut bibirnya.

"Shh...kau tidak salah apa-apa. Aku yang minta maaf...aku yang salah...jangan sakit..kami tidak kuat melihatmu menderita...jangan bersedih...kau tidak salah, kami yang salah...aku yang salah...maafkan aku.."

Dan Seokjin kembali terlelap dalam tidurnya begitu Hoseok dengan berani mengecup keningnya. Setelah memastikan kondisi Seokjin sudah stabil dan tenang dalam istrihatnya, Hoseok memutuskan keluar dari kamar Seokjin mendapati teman-temannya saling hening dalam diam begitupula dengan Myeongyi dan Chanwook.

"Kau ingin tahu kisah sebenarnya dibalik artikel yang keluar hari ini bukan?" tanya Hoseok kemudian entah pada siapa namun mampu menuai atensi orang-orang di ruang tamu tersebut.

Myeongyi adalah orang pertama yang merespon kalimat Hoseok.

"Apa maksudmu J-Hope-shi?" tanya Myeongyi kemudian.

Hoseok kemudian berjalan kearah mereka dan ikut duduk bersama dengan tenang.

Hoseok menceritakan kejadiannya dari awal hingga akhir tanpa menutupi apapun. Ia menjelaskan bagaimana ia menemukan Seokjin masih belum tidur di balkonnya yang membuat Hoseok melipir ke unit pemuda tersebut lalu tertidur bersama di kasur balkon. Hoseok bersumpah seratus persen bahwa tidak ada tindakan asusila yang ia lakukan maupun yang Seokjin lakukan terhadapnya.

Chanwook akhirnya mengecek cctv diapartemen unit Seokjin melalui akses dari ruang keamanan unit apartemen, dan benar saja bahwa mereka tidak melakukan hal yang seperti yang dituduhkan oleh media massa lainnya.

Myeongyi yang memang bekerja di Unit Pemeliharaan Keamanan membuatnya sudah familiar dengan CCTV. Ia segera menyalin rekaman tersebut sambil mengecek footage yang lain.

Untuk melihat bagaimana orang-orang dari media massa bisa mendapatkan foto Hoseok dan Seokjin. Anehnya, Myeongyi tidak bisa melihat satu orang pun dari angle dimana foto Seokjin dan Hoseok.

"Aku tidak melihat satu orang pun di titik dimana seharusnya foto itu diambil" ujar Myeongyi kepada Chanwook dan member BTS yang saat itu ada disana, Hoseok dan Namjooon.

"Sejujurnya aku pun saat itu tidak melihat ada paparazzi pada malam itu. Aku tidak tahu bagaimana Dispatch bisa mendapatkan foto itu..." ujar Hoseok juga kebingungan mendapati bahwa di gedung apartemen yang bersebrangan dengan unit Seokjin, tempat dimana seharusnya foto Seokjin dan Hoseok diambil.

Myeongyi akhirnya berkompromi kepada petugas keamanan untuk dapat mengakses cctv didalam ruangan, akhirnya setelah perdebatan singkat, petugas memberikan akses penuh kepada Myeongyi. Myeongyi seketika mengakes salah satu unit yang jendela balkonnya langsung menghadap balkon Seokjin dan benar saja. Seseorang berpakaian serba hitam dari ujung kepala hingga ujung kaki tengah merunduk pada balkon apartemennya dan memotret mereka diam-diam menggunakan kamera lensa kecil.

"Dilihat dari gestur dan posturnya, kira-kira ia laki-laki dengan tinggi kisaran 179 cm dan berat sekitar 67 hingga 70 kg. Aku hanya baru bisa memperkirakan segini, kita harus mempunyai salinan footage ini dan membawanya kekantor untuk diselidiki lebih lanjut. Meski orang di rekaman ini nampak sulit untuk teridentifikasi" jawab Myeongyi yang langsung menyali rekaman tersebut kedalam flashdisk yang selalu ia bawa kemana-mana.

Namun Hoseok terdiam melihat figur pemuda tersebut. Chanwook yang memantau raut wajah Hoseok pun membuat kecurigaannya semakin meningkat. Meski orang ini tidak terbukti bersalah berdasarkan testify Seokjin, namun orang-orang inilah yang selalu terlibat dengan beberapa kasus yang sulit dipecahkan.

Termasuk kasus kematian, kawan sekaligus hyung terdekatnya, Joomin.

"Kau mengenal orang di rekaman ini?" tanya Chanwook tiba-tiba pada Hoseok menuai atensi Namjoon dan Myeongyi saat itu.

Chanwook dengan jelas bisa menangkap raut keterkejutan bukan hanya di wajah Hoseok, namun juga di wajah Namjoon.

Hal ini semakin menimbulkan red alarm dipikirannya.

"Tidak, aku tidak mengenal orang dalam rekaman ini. Sulit di identifikasi karena ia memakai pakaian serba hitam" jawab Hoseok tenang namun Chanwook melihat sekelebat gerak gerik mata Hoseok yang bertubrukan dengan mata Namjoon dalam sepersekian detik.

Menandakan ada sesuatu yang tidak boleh kepolisian tahu dan juga mencari alasan yang tepat untuk pertanyaannya.

"Kau mencurigai seseorang yang sekiranya bisa melakukan hal ini?" tanya Chanwook lagi.

"Tidak bisa. Terlalu banyak orang yang membenci kami, bahkan pers sendiri" kali ini Namjoon yang menjawab.

"Oh ya? Meski ini bisa saja perbuatan Kali?" tanya Chanwook lagi menekan mereka berdua.

Dan benar saja.

Kali ini raut keterkejutan di wajah mereka tak bisa ditampik.

/-/

Seokjin terbangun dengan kepala pening luar biasa. Ia mengerjapkan matanya berkali - kali sampai bisa memfokuskan pandangannya yang sempat berkunang-kunang. Ia melihat kesekeliling dan mendapati Taehyung tengah memandangi figura kecil yang bersandar manis di meja kerjanya.

"Taehyung-shi..?" tanya Seokjin serak dengan suara kecil sekaligus berusaha untuk bangkit dari tidurnya dan melepaskan breathing tube di yang terpasang di hidungnya. Taehyung yang seketika mendengar suara Seokjin lantas dengan sigap membantu Seokjin untuk duduk berbaring dikasur, menyandarkan punggung pemuda itu ke bagian kepala kasur dan menahan Seokjin untuk melepaskan breathing tube-nya.

"Kadar oksigenmu masih sedikit, Hoseok hyung berpesan untuk jangan melepasnya dahulu" ujar Taehyung lembut membuat Seokjin akhirnya menurut.

"Mengapa dirimu bisa disini?"

"Kau demam tinggi semalaman selama tiga jam lebih diseertai sesak nafas. Chanwook dan Myeongyi panik karena mereka tidak bisa membawamu kerumah sakit karena wartawan yang makin berkerumun dibawah sana sehingga dua anak itu meminta bantuan pada kami" jelas Taehyung dengan suara pelan.

Ah, Seokjin bisa mengingat kekacauan yang terjadi sebelumnya.

"Jam berapa sekarang?"

"Pukul lima pagi?"

"Dan kalian tidak tidur dari semalam?" tanya Seokjin kaget dan Taehyung tersenyum.

"Bagaimana bisa tidur, kau terbaring lemah karena kami.." jawab Taehyung lesu menggenggam tangan Seokjin. Seokjin sedikit kaget dengan aksi Taehyung namun membiarkannya.

"Kau terlihat bahagia di foto itu" ucap Taehyung tiba-tiba.

"Tentu saja, itu foto hari kelulusanku.."

"Bukan. Fotomu sendiri saat memakai seragam kepolisian..."

"Ah...tentu saja itu juga hari yang membahagiakan..."

"Aku tidak bisa membayangkan jika tangan ini yang menodongkan pistol ke arah keningku nanti..." ucap Taehyung kali ini membuat Seokjin bergidik.

Selain intonasi suara Taehyung yang tiba-tiba berat, Kalimat yang dilontarkannya pun sangat menakutkan.

"Apa maksudmu?" tanya Seokjin membuat dua pasang iris mata itu saling bertubrukan meminta jawaban atas pertanyaan masing-masing.

"Aku mencintaimu. Tidak, ralat. Kami mencintaimu. Termasuk 'dia'" seru Taehyung tiba-tiba.

Dia? Dia siapa yang dimaksud Taehyung?

"Dan jikalau itu berarti membuatku harus berhadapannya dan mati ditanganmu. Aku rela" lanjut ucapan Taehyung tadi dengan kobaran semangat terpancar di kedua bola matanya.

Seokjin hanya bisa terbelalak kaget dan bingung.

"Hyung, Namjoon hyung menyuruh kita kembali-" ujar sebuah suara memecahkan keheningan diantara mereka berdua yang kompak memandang ke arah pintu kamar mendapati si maknae, Jungkook yang mematung tak menghabiskan kalimat yang diucapkannya.

"Aku pamit" ujar Taehyung lagi tiba-tiba berjalan keluar meninggalkan Seokjin dan Jungkook yang kebingungan.

Seokjin yang bingung dengan confession dan ucapan Taehyung yang tiba-tiba.

Serta Jungkook yang speechless mendapati hyungnya dan Seokjin saling mengenggam tangan dan memandang intens kearah wajah masing-masing.

Seokjin pun memutuskan keluar setelah melepas seluruh alat medis yang menempel disekujur tubuhnya dan mendapati Chanwook yang baru saja datang dengan Kyungwoo, Seunghwan, Hyeon, dan Eunho. Seokjin tidak melihat Kwangil, Gitae, dan Wooil yang Seokjin asumsikan bahwa kedua hyungnya tersebut mencoba menghibur Wooil.

"Chanwook bilang dia dan Myeongyi merawatmu semalam. Kau sampai demam tinggi, bagaimana kondisimu sekarang?" tanya Hyeon sambil membawa buah-buahan dan beberapa makanan siap saji.

Seokjin tentu saja bingung karena yang ia tahu, member BTS lah yang menolongnya. Namun nampaknya Chanwook berbohong kepada mereka dan Seokjin mengarahkan pandangannya kearah Chanwook yang juga ikut menatapnya.

Tatapan yang sama yang dilayangkan oleh Taehyung kepadanya.

"Ah ya..sedikit lebih baik" ujar Seokjin kemudian sementara Chanwook secara insting membawakan plastik makanan ke arah dapur dan menuangkannya kedalam piring dan mangkuk untuk disajikan di atas meja makan dimana semua orang sudah menunggu.

Sebenarnya ini bukanlah hal yang janggal mengingat di situasi sekarang Seokjin dan Chanwook lah yang paling muda dan kultur mereka yang mengharuskan yang muda melayani yang lebih tua. Namun karena Seokjin sedang sakit makan Chanwook mengerjakan semuanya sendiri dibantu oleh Kyungwoo.

Hyeon duduk di kursi kepala meja makan tersebut sementara disamping kanannya ada Myeongyi yang ternyata telat datang karena mengurus keamanan dibawah sana. Sementara disamping kirinya ada Eunho. Kyungwoo mengambil kursi berselang satu kursi dari Eunho dimana setelahnya Chanwook menempati kursi kosong tersebut sementara Seokjin didudukkan di samping Myeongyi oleh Seunghwan yang ikut duduk disampingnya. Jadilah Seokjin diapit oleh Myeongyi dan Seunghwan sekaligus berhadapan dengan Chanwook langsung yang masih diam.

Ya, itu yang Seokjin khawatirkan.

Chanwook nampak pendiam padahal biasanya ia manusia paling hiperaktif. Apalagi saat ini dia duduk diapit oleh Eunho dan Kyungwoo, dua hyung yang biasa memanjakan dirinya.

Namun Seokjin bisa melihat Chanwook nampak diam.

Myeongyi berdehem sedikit untuk memecah keheningan dan mengatakan bahwa Bighit telah me-release public stament terkait Seokjin dan Hoseok. Myeongyi mengatakan bahwa Hoseok telah mengakui bahwa itu adalah dirinya dan Seokjin didalam gambar tersebut namun tidak seperti yang dituduh oleh media. Hoseok mengakui pada malam itu tidak melakukan tindakan asusila apapun juga tidak memiliki hubungan khusus apapun dan meminta publik maupun fansnya untuk menghargai privasi dan pilihan hidup yang ia pilih nanti kedepannya.

Hyeon yang mendengar hal tersebut juga mengatakan bahwa putusan untuk pelimpahan kasus juga ditolah oleh jajaran atas yang masih mempercayakan kasus ini kepada tim UIK, namun Hyeon mengatakan bahwa Wooil dan Seokjin masih tetap harus dikeluarkan dalam penyelidikan. Seokjin tersenyum kecil dan mengangguk setuju, tidak ada raut kekecewaan diwajahnya yang membuat Kyungwoo dan Seunghwan agak sedikit kaget sekaligus cemas.

Karena sama seperti kasus sebelumnya, meski Seokjin dikeluarkan pemuda itu akan menyelidikinya sendiri.

Hyeon yang nampaknya juga menyadari hal tersebut juga memperingatkan Seokjin secara halus dengan mengatakan bahwa Seokjin diizinkan untuk pulang kembali ke kampung halamannya, Amerika Serikat untuk berlibur sebentar.

Kali ini pun Seokjin mengangguk dan mengatakan bahwa dalam seminggu nampaknya kakinya akan segera pulih dan dia akan pulang ke negeri dengan julukan Paman Sam tersebut. Chanwook nampaknya juga kali ini terkejut bersamaan dengan Eunho yang tak menyangka bahwa tidak ada sedikitpun upaya penolakan. Namun, sang hyung tertua disana, Hyeon memilih diam dan mengatakan akan mem-booking tiket penerbangan Seokjin serta mengurus visa dan paspor dan hal yang sekiranya Seokjin butuhkan.

Para hyungnimnya tersebut berkeliling sementara Eunho hampir salah masuk kamar, karena mengira kamar Seokjin adalah kamar mandi. Chanwook dengan segera mengarahkan Eunho ke kamar mandi yang lalu datang bersandar di sofa ruang tamu, dengan kepala yang bersandar pada paha Hyeon yang sedang duduk mengeluhkan perutnya yang sakit. Myeongyi yang tidak sempat membantu Chanwook. Membantunya mencuci piring dan mengupasi buah untuk dimakan oleh para tamu mereka yang sudah duduk berkumpul di sofa ruang tamu. Menikmati hari libur mereka sejenak.

Akhirnya mereka pulang terkecuali Myeongyi dan Chanwook yang saat itu memang sedang menetap di kediaman Seokjin. Chanwook segera ingin mengkomplain segala keputusan yang Seokjin ambil namun nampaknya Seokjin seakan menginsyaratkannya untuk tetap diam bersama Myeongyi yang ikut tegang bersamanya.

"Aku lelah Chanwook. Kita berbicara nanti saja.." ujar Seokjin tiba-tiba masuk kedalam kamar meninggalkan mereka berdua kebingungan namun terkejut ketika mendapat pesan singkat dari orang yang baru saja kembali ke kamarnya tersebut.

'Jangan ucapkan sepatah kata apapun terkait kita. Rumah ini tengah disadap oleh Eunho hyung. Hanya kamarku yang belum.'

Akhirnya yang membuat mereka berdua secara sinkron tanpa berinteraksi apapun untuk terlihat semuanya nampak normal. Myeongyi segera mandi dan lalu membawa air panas untuk mengelap tubuh Seokjin sementara Chanwook datang seolah membawakan obat untuk Seokjin.

Keduanya masuk secara natural mengingat bahwa kini ada kamera yang memantau pergerakan mereka. Seokjin seketika menjelaskan mendapati gerak-gerik Eunho yang aneh dan menyadari bahwa ia menempelkan kamera sadapan kecil dibawah meja makan dan juga sofa serta hampir didalam kamarnya apabila jika Chanwook tidak mengarahkannya kekamar mandi saat itu.

"Mungkinkah atas suruhan Wooil hyung untuk memantau Seokjin?" dan Chanwook seketika menyela.

"Bukan. Bisa jadi Eunho hyung tahu tentang Kali" ujar Chanwook seketika membuat Seokjin terpekur kaget.

Kali..?

Nama itu terdengar familiar di telinganya.

"Tolong bantu aku, Kali adalah pelakunya tolong temukan dia. Little bean adalah kunci utama untuk menemukannya. Bantu aku menuntaskan kasus yang tak bisa kutuntaskan Seokjin-ah. Demi aku, demi Wooil, demi Kyungwoo, dan demi cintamu"

"Tapi-"

"Dan selalu, untuk tetap bahagia"

Seokjin seketika teringat akan mimpinya.

"Kali.." ucap Seokjin lirih.

"Eum, Kali..." ujar Chanwook menuai atensi Seokjin dan dilanjut dengan Myeongyi yang akhirnya menceritakan apa yang terjadi.

"Member BTS sempat menanyakan apakah pihak kepolisian sudah menangkap seseorang yang mereka panggil dengan Kali. Lalu tiba-tiba saja saat itu mereka mengalihkan pembicaraan. Lalu disaat pengecekan rekaman CCTV untuk melihat footage apa yang terjadi denganmu dan Hoseok waktu itu, kami melihat seseorang dari gedung sebrang yang memfoto kalian berdua . Tiba-tiba saja Chanwook menanyakan Kali dan mereka hanya bisa menghela nafas dan menjawab-"

"-tanyakan saja pada Go Eun Ho" potong Chanwook melanjutkan penjelasan Myeongyi.

Seketika Seokjin menjadi paham alasan keterdiaman Chanwook.

Chanwook mengatakan disaat ia ingin mengivestigasi lebih lanjut Hyeon telah menghubunginya mengatakan bahwa akan berkunjung membuat Chanwook meminta pada Namjoon dan Hoseok serta member BTS yang masih ada di unit apartemen Seokjin untuk segera pergi sekaligus untuk meminimalisir huru-hara yang terjadi. Dilain sisi, Myeongyi disuruh oleh Chanwook untuk kebawah meminta kepada manajerial apartemen untuk meminta info mengenai pemilik unit kamar yang dipakai oleh orang berpakaian serba hitam ini. Karena betapa terkejutnya Myeongyi ketika Chanwook bilang bahwa ia melihat ada sebuah tato kecil berbentuk bibir dengan lidah menjulur keluar seperti ikon majalah rolling stone tepat dibagian punggung atas pemuda itu ketika kerah bajunya tersangkut pada gagang pintu balkon yang memungkinkan Chanwook melihat sekelebat.

Dan sesuai dengan pengakuan Chanwook, Eunho mempunyai tato yang sama dan tepat di areal yang sama. Hal yang tak pernah Seokjin ketahui sebelumnya. Myeongyi pun menjawab bahwa selama ini Eunho selalu rajin meminta backupan rekaman CCTV kantor kepolisian Seoul yang jauh membuat Seokjin dan Chanwook lebih kaget lagi.

"Kau belum saja seperti Wooil yang bisa tidak tidur tujuh hari berturut- turut Jinnie"

"Kau cantik Jin"

"Hyung, kau buatkan dua kopi dan tahu aku akan datang setelah dirimu?"

"Kau ini kenapa Jin? Tentu saja aku tahu kau akan datang. Kau tidak lihat mejaku langsung mengarah kekaca ruangan ini? Dari sini aku bisa melihatmu yang sudah berjalan sempoyongan seperti manusia mau mati"

Seokjin terdiam sesaat.

"Myeongyi, kau bisa mengakses rekaman ruangan unit kami pada tanggal 32 Januari dan hari-hari sebelumnya?" tanya Seokjin dengan nada sedikit panik.

"Huh? Saat ini juga..? Tapi rekaman itu hanya bisa diakses dengan komputer dan anggota dari kepolisian. Kita tidak punya unit komputer disini.." dan seketika Seokjin berjalan tertatih - tatih mengeluarkan laptop kerjanya yang ia terima di awal saat bertugas di Kepolisian Seoul.

"Lakukan" ujar Seokjin cepat menyerahkan laptopnya kearah Myeongyi dan kaget ketika mendapati Seokjin mempunyai laptop yang memiliki akses dan aplikasi punya Kepolisian Seoul.

Ia sempat ragu sebelum akhirnya Myeongyi segera menjalankan aplikasi tersebut dan segera mengarahkan pada program milik unitnya sendiri yaitu Unit Pemeliharaan Keamanan. Setelah program tersebut berjalan, Myeongyi segera memasukkan ID beserta kata sandi akun miliknya dan menuju repository section untuk melihat rekaman CCTV dan ketika mencoba mencari video yang diinginkan oleh Seokjin rupanya video tersebut terkunci.

"Private access. Aku tidak tahu passwordnya"

"1-1-1-1-2-9" ucap Chanwook tiba-tiba mendapati Myeongyi dan Seokjin yang kaget melihatnya.

"Itu kata sandi yang dipakai oleh Eunho hyung jika memang benar dia yang menutup aksesnya. Aku pernah melihat kombinasi angka itu pada komputernya juga" jawab Chanwook santai dan benar saja ketika Myeongyi mengetikkan sandi tersebut, ternyata cocok.

Seokjin segera saja langsung memperhatikan bagaimana rekaman itu pada pagi hari bahwa Eunho datang dengan setelan pakaian serba biru dengan sarung tangan yang masih dipakai. Terlihat Eunho datang menyapa Chanwook yang saat itu masih ada di meja kerjanya yang nampaknya sedang mengurusi kasus Seven Deadly Sins. Seokjin melihat Eunho mengambil pistol seri Glock 20 lalu pergi entah kemana yang saat itu kalau tidak salah memang hari liburnya.

Seokjin seketika terkesiap.

Petugas cleaning service yang datang saat itu kerumahnya juga memakai pakaian serba biru dengan yang dipakai oleh Eunho dan tepat pada tanggal tersebut pukul 19.00 KST, Hangyeol ditemukan mati ditembak. Dilihat dari kasus penyadapannya pun Seokjin tidak menemukan jejak sidik jari yang mungkin saja diakibatkan oleh sarung tangan yang dipakai oleh Eunho.

"Chanwook, orang yang menyadap rumah samchon dan imoku kemungkinan adalah Eunho hyung"

"Bagaimana mungkin?"

"Aku sempat menyelidiki kematian Hangyeol yang membawaku pada Hongshim. Aku sempat membaca memoar Hongshim yang mengatakan bahwa ia melihat Jungkook menjadi pekerja seks di Alpha Pack Club dan Moonsoo hyung yang mengatakan sendiri bahwa ia mengetahui klub tersebut dari Eunho hyung. Eunho hyung disinyalir dekat dengan petinggi klub tersebut" ujar Seokjin cepat membuat mereka semakin kebingungan.

Seokjin segera meminta mereka segera keluar seakan-akan sudah membantu Seokjin mandi dan minum obat. Seokjin meminta mereka berhati-hati khususnya pada Eunho dan meminta agar investigasi mengenai dirinya dan Hoseok luput dari pantauan Eunho. Chanwook yang pertama keluar dengan gelas kosong seolah-olah Seokjin sudah habis meminum obatnya sementara Myeongyi keluar dengan handuk, ember, dan pakaian yang Seokjin pakai tadi sebagai kain kotor. Seokjin sudah berganti pakaian dengan piyama putih miliknya namun dirinya masih tidak tenang. Ia mengecek keadaan sekitar dan memastikan bahwa kamarnya luput dari penyadapan.

Seokjin berterima kasih pada telinganya karena pendengaran tajamnya yang masih berfungsi saat ia mendengar bunyi click halus yang berasal dari tangan Eunho yang menyelinap dibawah meja makannya.

Itu artinya pula bahwa pendengarannya saat itu tidak salah. Itu benar bahwa petugas cleaning service tersebut adalah Eunho. Serta orang yang menugaskan Hongshim untuk membunuhnya adalah suara Eunho.

Jenis pistol yang digunakan untuk membunuh Hangyeol dan Hongshim adalah jenis pistol yang sama yang digunakan oleh Eunho. Namun Seokjin tidak bisa berasumsi sebelah mata. Ia harus punya bukti. Jika benar dan mungkin Myeongyi bisa membuktikan bahwa orang yang memfoto dirinya dengan Hoseok adalah Eunho setidaknya bisa menambahkan sebuah alibi.

Kali.

Ini adalah titik paling krusial yang mana bisa jadi menjadi titik pencerahan atas keterkaitan BTS juga kematian Hangyeol, Hongshim, Yool, Jaewook, dan juga mungkin penyebab kematian Joomin serta korban-korban terdahulu.

Apa itu Kali? Atau siapa itu Kali? Sebuah nama? Sandi? Istilah? Kode rahasia?

Tapi yang paling terpenting, Seokjin harus memulai investigasi dari mana? Seokjin tidak bisa memulai pencarian tanpa clue.

Tolong bantu aku, Kali adalah pelakunya tolong temukan dia. Little bean adalah kunci utama untuk menemukannya. Bantu aku menuntaskan kasus yang tak bisa kutuntaskan Seokjin-ah. Demi aku, demi Wooil, demi Kyungwoo, dan demi cintamu"

Little Bean.

Itu dia kunci utama dari semua ini.

Seokjin tahu harus berbuat apa sekarang.

/-/

Kyungwoo bangun mendapati beberapa notifikasi pesan masuk yang berasal dari group chat mereka. Chanwook bilang bahwa ia akan mengantarkan Seokjin ke RS tiga puluh menit yang lalu dibalas dengan jawaban 'semoga cepat sembuh' dari anggota UIK yang lain terkecuali dirinya yang baru saja bangun serta Wooil yang nampaknya masih dingin terhadap Seokjin. Kyungwoo menghela nafas dan mungkin berpikir bahwa Seokjin bisa saja memang menurut kali ini.

Namun yang tak disangkanya kini ada dua orang yang tengah duduk di ruang tamunya seakan menunggunya keluar dari kamarnya sendiri.

"Seokjin? Chanwook? Kalian bukankah di rumah sakit tadi?" tanya Kyungwoo kebingungan mendapati dua bocah maknae itu ada di apartemen mereka.

"Hyung, apakah Eunho hyung pernah berkunjung kemari?" tanya Seokjin balik membuat Kyungwoo kebingungan.

"Belum pernah. Tunggu dulu, bagaimana kalian bisa masuk?" tanya Kyungwoo menyadari bahwa Seokjin dan Chanwook bebas masuk ke apartemennya dan kini keduanya mengobrak - abrik tempatnya seakan-akan memeriksa sesuatu

"20-09-16. Itu kata sandi apartemen hyung. Mudah tertebak karena itu tanggal dimana hyung melamar Joomin hyung" jawab Chanwook cepat menelisik keadan seluruh rumah Kyungwoo.

"Disini aman Seokjin, disana?" tanya Chanwook cepat.

"Aman." keduanya pun langsung bernafas lega kemudian.

"Oke jadi jelaskan. Ada apa ini sebenarnya" tanya Kyungwoo kebingungan.

"Kyungwoo hyung. Rumahku disadap oleh Eunho hyung, dan kemungkinan dia terlibat dengan pembunuhan Hangyeol, Hongshim, Yool, Jaewook, bahkan Joomin hyung dan korban kasus Mr. Photographer waktu itu." jelas Seokjin tersirat kepanikan disana.

Dan Kyungwoo tidak bisa untuk tidak lebih kaget dari hal ini.

Keduanya dibawa duduk ke ruang tamu dan Kyungwoo yang menghidangkan dua gelas teh lemon hangat. Keduanya menyeruput teh tersebut sebelum Chanwook akhirnya membuka percakapan dan menjelaskan keadaan sebenarnya yang tengah terjadi.

Kyungwoo mendengarkan dalam diam. Dimulai dari testimoni Seokjin soal Moonsoo yang bercerita mengenai awal kedekatannya dengan Hongshim berawal dari Eunho yang memperkenalkannya pada sebuah tempat bernama alpha pack club, kecurigaan Chanwook mengenai bagaimana Eunho tidak pernah ada di hari pertama penyelidikan atau hari pertama dimana mereka menemukan para korban yang mana membawa mereka pada suatu kesimpulan yang pernah dijabarkan oleh Seokjin.

Bahwa BTS adalah kambing hitam dari seseorang atau mungkin sekumpulan orang dibalik MasterLife atau Hyungnim dan memiliki keterkaitan dengan Eunho.

Chanwook pun dengan menggebu-gebu menyodorkan footage mengenai seseorang yang disinyalir memfoto Seokjin dan Hoseok. Kyungwoo yang sama seperti Chanwook, mampu seketika melihat tato kecil berbentuk bibir dengan lidah menjulur keluar seperti ikon majalah rolling stone tepat dibagian punggung atas pemuda itu ketika kerah bajunya tersangkut pada gagang pintu.

"Ini tato milik Eunho aku pernah melihatnya saat kami berganti pakaian di locker room waktu itu" ujar Kyungwoo tiba-tiba membuat Seokjin dan Chanwook serentak menghadapkan kedua pandangan mereka ke hyung mereka itu.

"Kau serius hyung? Kau betul-betul pernah melihat tato ini?" tanya Chanwook memastikan bahwa penglihatannya juga tidak salah dan Kyungwoo mengangguk yakin.

"Iya, sekilas kita melihat tato ini sebagai ikon Rolling Stone tapi sebenarnya lambang ini diambil dari simbol Kali" jawab Kyungwoo yang lagi-lagi menuai keterkejutan dari kedua maknaenya itu.

"KALI!?" seru Seokjin dan Chanwook serempak.

"Hm, Kali. Salah satu dewi yang berasal dari kepercayaan Hindu dan masih menjadi bagian dari beberapa pesta pujaan di India" ujar Kyungwoo tiba-tiba mengeluarkan ponselnya dan terlihat tengah mengetik sesuatu dan rupanya menunjukkan foto dewi Kali tersebut.

"Lihat, dia sering digambarkan sebagai seorang wanita berkulit hitam/biru dan lidahnya menjulur keluar. Lidah merahnya yang menjulur keluar inilah yang diambil oleh Rolling Stone sebagai ikon dan juga sebagai tato oleh Eunho" ujar Kyungwoo membuat Seokjin dan Chanwook saling berpandang-pandangan seakan-akan berinteraksi melalui telepati sampai pada akhirnya Seokjin menatap Kyungwoo.

"Hyung, apa Eunho hyung pernah menceritakan tentang 'Kali' ini?" tanya Seokjin dan Eunho mengangguk membuat Seokjin dan Chanwook kembali bertukar pandang.

"Ya, dia yang menjelaskan tato itu sekaligus memberit tahu bahwa Kali ini adalah Dewi Kematian dan dia mentato itu di perpotongan leher dan pundak belakangnya karena menurutnya hidupnya selalu diwarnai dengan kematian dan ia berharap Kali selalu akan 'melindunginya'" jawab Kyungwoo membuat Seokjin dan Chanwook saling diam.

"Sebenarnya ada apa ini?" tanya Kyungwoo dari tadi kedua bocah maknae ini bertanya seputar Kali.

"Hyung, Member BTS pernah menanyakan apakah kita sudah menangkap 'Kali' dan..." jawab Chanwook terputus mengarahkan pandangannya ke arah Seokjin. Seokjin yang menangkap sinyal pandangan Chanwook pun menghela nafas dan menatap Kyungwoo sendu.

"Dan aku mendapat mimpi bahwa Joomin hyung, nampak mengetahui orang ini.." lanjut Seokjin.

Kali ini giliran Kyungwoo yang terdiam membisu.

"Apa kau bilang...?" tanya Kyungwoo memastikan, tubuhnya terlihat menegang.

"Aku bermimpi didatangi oleh Joomin hyung dan dia berbicara bahwa Kali adalah dalang dibalik semua ini dan Little bean adalah kunci utamanya" jawab Seokjin sekali lagi kali ini dengan nada penuh kesungguhan dan kepastian.

Kyungwoo tak bisa menyembunyikan keterkejutan yang dialami olehnya.

Kyungwoo merasa bergemuruh di dadanya.

/-/

20 September 2016 - Taman Belakang Seoul Metropolitan Police Agency.

"Kyungwoo-ah..."

"Nde hyung..."

"Aku mencintaimu...kau tahu itu kan...?" ujar si pemuda lebih tua dengan lembut. Si pemuda yang lebih muda memberikan senyuman meneduhkan membawa tubuh kecil tersebut ke pelukannya.

"Tentu aku mencintaimu, kalau tidak aku tidak akan melamarmu hyung"

"Hyung punya perasaan tidak enak akan kasus ini, jika boleh maukah kau membantuku untuk menyetujui agar UIK tidak terlibat dalam kasus ini...?"

"Hyung, mengapa berbicara demikian? Wooil dan Hyeon hyung sudah bekerja semaksimal untuk kasus ini, appa hyung juga bahkan kita semua termasuk dirimu. Kasus kita telah menemukan titik terang-"

"Daripada titik terang, aku punya firasat kita mendapat 'blackhole' Kyungwoo-ah...hyung..." ujar Joomin akhirnya terbata-bata membuat Kyungwoo menarik tubuh tunangan yang kelak menjadi pasangan hidupnya itu keluar kearah taman belakang. Membantu pasangannya menenangkan diri.

"Ada sesuatu yang menganggu pikiranmu hyung?"

"Tolong apapun yang aku katakan jangan marah padaku..."

"Baiklah, katakan"

"Bagaimana jika...BTS...enam orang didalam grup itu dijebak menjadi tersangka atas kasus ini dan Eunho mengetahuinya?"

Dan Seunghwan yang saat itu beristirahat dibalik pohon yang tidak sengaja menguping terkesiap kaget mendengarnya.

Sehingga sanggup membuatnya jatuh terjerembab dari posisi duduknya membuat Joomin dan Kyungwoo kaget.

"Seunghwan? Sejak kapan kau disana?" tanya Joomin kaget dan Seunghwan tersenyum kikuk sambil menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal.

"Ah Joomin hyung..? Hehe apa kabar? Kau nampak kurang tidur?" tanya Seunghwan mengalihkan pembicaraan sementara Kyungwoo mengirim sinyal pada Seunghwan untuk mengurusi tunangannya sementara ia bersiap-siap pergi untuk mempersiapkan kejutan lamarannya.

Ya, Kyungwoo telah membicarakan rencananya untuk melamar Joomin tepat di waktu kelahirannya. 20 September 2016 Pukul 20.45 KST, si mungil Joomin lahir kedunia dan bersyukurlah Kyungwoo mendapat info ini dari calon mertua sekaligus kepala tim divisi UIK, Kwon Daejoon. Hanya Seunghwan dan Daejoon yang mengetahui rencana ini mengingat Kyungwoo sendiri sebenarnya sedikit pemalu untuk membahas hubungan percintannya dan sahabat serta orang yang bisa ia percayai saat ini adalah Seunghwan.

Seunghwan pula yang memberi ide untuk melamar Joomin di Namsan Tower sehingga pemuda yang menangkap sinyal dari Kyungwoo segera membantu pemuda culun tersebut.

"Ah Kyungwoo, bukankah kau disuruh untuk meminta CCTV dari Daegu Police Metropilitan Agency bersama Chanwookie?" tanya Seunghwan sekali lagi belum sempat membiarkan Joomin menjawab pertanyaannya tadi.

"Ah betul juga! Aku harus segera kembali sebelum malam karena sudah janji dengan Joomin hyung untuk makan malam. Bagaimanapun hari ini hari ulang tahunnya dan aku belum memberikan hadiah apapun" jawab Kyungwoo cepat dan Joomin ingin menjawab bahwa Kyungwoo tak perlu memberikannya hadiah dan dia ingin ikut bersama mereka, akibat firasatnya yang sudah tidak enaknamun sekali lagi, Seunghwan dengan cepat menyelanya sebelum ia membuka mulutnya.

"Aigoo, kalau begitu cepatlah pergi sebelum kau ketinggalan acara makan malamnya" sela Seunghwan membuat Kyungwoo segera pamit dan melambaikan tangannya kearah mereka berdua dan pergi secepat mungkin membuat Joomin menghela nafas pasrah pertanda menyerah.

Seunghwan yang melihat raut wajah gusar Joomin membawa hyungnya itu ke sebuah cafe dekat kantor kepolisian mereka. Kebetulan suasana sedang sepi karena waktu masih menunjukkan pukul sepuluh pagi sehingga belum banyak orang lalu lalang karena masih dalam jam kerja.

"Aku mendengar tadi tidak sengaja hyung berbicara dengan Kyungwoo mengenai BTS dan juga Eunho..." ujar Seunghwan akhirnya membuka suara. Joomin nampak ragu membicarakan hal ini dan melihat sekitar memastikan bahwa tidak ada yang mendengar percakapan mereka berdua. Setelah memantapkan diri dan yakin bahwa Seunghwan adalah orang yang bisa dipercaya membuat Joomin akhirnya membuka mulutnya.

"Seberapa dekat dirimu dengan Eunho?" tanya Joomin kemudian, membuat Seunghwan berpikiran dengan cukup lama.

"Dia baru bergabung setahun dengan kita hyung, anaknya dekat dengan Chanwook dan juga Wooil hyung. Dia juga dekat dengan Gitae. Kenapa memangnya?" tanya Seunghwan kebingungan.

"Kau ingat mengenai salah satu korban Mr. Photographer yang masih hidup bukan?" tanya Joomin alih-alih menjawab sambil mengeluarkan ponselnya dan dengan lihai jari-jarinya bergerak cepat diatas layar ponselnya tersebut dan menunjukkan sebuah foto secarik kertas yang terdiri dari empat baris kalimat.

Kau peluk aku,
Sebelum, membunuhku.

Tersenyum, melihatku
Merenung, melihatmu

"Hyung, surat siapa ini?" tanya Seunghwan namun Joomin enggan menjawabnya.

"Dia little bean, dia yang membantuku menguak kasus ini dan mencurigai-" namun ucapan mereka terhenti ketika ponsel Seunghwan berdering dengan nama 'Kapten Daejoon' sebagai id caller yang menginterupsi percakapan mereka.

"Kurasa appa hyung memanggil kita untuk mendiskusikan kelanjutan kasus ini hyung. Kau mau menuntaskan percakapan kita atau menunggu setelah kasus ini selesai?" tanya Seunghwan dan Joomin nampak bimbang dan mempertimbangkan sesuatu sebelum ia mengeluarkan senyuman lirih.

"Tidak apa-apa kita selesaikan kasus ini saja terlebih dahulu..." ujar Joomin gamang sebelum ia mengirim foto surat itu kepada Seunghwan.

"Seunghwan-ah. Tolong simpan bukti ini dan bukti foto-foto yang sempat aku titipkan pada Chanwookie" ujar Joomin saat itu dan Seunghwan tersenyum mengangguk sambil berjalan mengangkat telepon dari ayah Joomin meninggalkan Joomin di kafe dengan perasaan gundah gulana.

"Itu terakhir kalinya aku punya percakapan dengan Joomin hyung sebelum akhirnya ia dinyatakan hilang ke-esokkan harinya dan ditemukan meninggal setelahnya..." jawab Seunghwan lirih setelah mencertakan percakapan terakhirnya dengan Joomin dan menyerahkan ponselnya bersi surat yang dahulu sempat difoto oleh Joomin.

Sebelumnya Kyungwoo segera menghubungi Seunghwan yang nampaknya juga masih kusut akibat dirinya ditunjuk sebagai orang yang ikut me-release public statement terkait Seokjin dan Hoseok sekaligus mengumumkan untuk pembukaan investigasi ulang atas kematian Hangyeol, Hongshim, Yool dan Jaewook.

Tentu ini berita ini menggegerkan seantero Korea Selatan karena melibatkan tiga publik figur sekaligus mematahkan ucapan sumpah serapah yang di tujukan kepada Seokjin. Bahwa polisi muda itu masih memiliki integritas untuk menyusut penjahat dibalik semuanya. Seunghwan dengan jelas dan lugas mengatakan bahwa hasil penyelidikan ini dikepalai oleh Seokjin yang membuat dirinya saat ini terlukan dan menjadi incaran orang-orang dibalik kasus pembunuhan tersebut semakin membuat para netizen dan rakyat Korea Selatan berempati terhadap polisi tersebut.

Hal ini juga sejalan dengan press release yang dilakukan oleh Bighit dan Hoseok serta BTS sehari sebelumnya yang mengatakan bahwa Seokjin tetap menjalankan tugasnya dengan baik sebagai seorang polisi dan kabar mengenai apartemen Seokjin sebagai tetangga mereka itu tidak terkait dengan BTS melainkan memang atas rekomendasi pihak rumah sakit terkait kesehatan mentalnya.

Namun yang tidak Seunghwan pikirkan adalah bahwa Chanwook dan Seokjin ada dirumah Kyungwoo disaat ia sudah mengirim pesan semoga cepat sembuh di grup kepada Seokjin.

Chanwook pun menjelaskan dari awal bagaimana niat mereka bisa sampai kemari dan setelahnya Seunghwan menatap Kyungwoo yang keduanya kini bergantian saling bertukar pandang seakan bertelepati sebelum akhirnya Seunghwan menarik nafas panjang dan menjelaskan bahwa dahulu mendiang Joomin sempat berspekulasi hal yang sama dengan Seokjin.

Yaitu, BTS sengaja di-framing sebagai tersangka atas kasus pembunuhan yang terjadi beberapa tahun kebelakang ini dan Eunho terlibat didalamnya.

Kyungwoo yang mendengar penjelasan Seokjin mengenai Kali dan little bean pun akhirnya mengundang Seunghwan untuk berbicara mengenai siapa itu little bean.

"Saat itu aku berpikir bahwa surat ini datang dari Jo Woo Yeong, dia adalah satu-satunya korban yang berhasil kabur dari Mr. Photographer, namun Woo Yeong saat itu sama sekali tidak mengenal surat ini maupun bertemu dengan Joomin hyung pada malam hari karena ia masih dirawat intensif di rumah sakit" keluh Seunghwan kemudian.

"Malam hari..?" tanya Seokjin dan Seunghwan mengangguk.

"Eum, sesaat setelah Joomin menghilang aku memikirkan keterkaitan surat ini dengan saksi yang masih hidup, karena bagaimanapun saat itu Wooyeong adalah kunci utama penyelesaian kasus ini dan karena Joomin hyung yang menemukannya, kami khawatir pembunuh itu mengincar Joomin hyung juga sehingga aku dibantu Kyungwoo men-tracking foto tersebut dan menemukan foto ini tepat difoto pada pukul dua dini hari pada tanggal 21 September 2016 dan memang pada waktu dan tanggal segitu, Wooyeong masih dirumah sakit. Jadi aku berkesimpulan dia bukanlah little bean yang kalian cari..." jelas Kyungwoo sesingkat mungkin.

Seokjin dan Chanwook saling berpandangan sebentar sebelum menghela nafas bersamaan mengetahui mereka menemui jalan buntu.

"Chanwook, Seokjin. Aku tahu ini masalah yang rumit karena kita mencurigai kolega sekaligus sahabat kita sendiri. Tapi aku dan Kyungwoo akan mencoba membantu semampu yang kami bisa" jawab Seunghwan menghibur duo maknae tersebut terkhusus Chanwook karena anak itu dekat sekali dengan Eunho.

Seokjin mengangguk tersenyum menenangkan sementara Chanwook masih berkalut dengan pikirannya sendiri Seokjin pun menatap Chanwook iba.

"Log Video : 20 September 2016. Hi eomma, eum...aku baru saja balik dari Namsan Tower, Kyungwoo melamarku ck, sepertinya anak itu punya keberanian dan aku menjawab iya. Iya, aku mau menikah dan menghabiskan sisa waktuku bersamanya. Sepanjang perjalanan kami berbicara mengenai kasus photographer maniak tersebut yang sudah mengarah pada titik terang dan semua terasa begitu...tenang..."

"...tapi eomma. Meskipun semua terasa baik – baik saja, aku tidak pernah merasa baik – baik saja. Aku masih merasa ada yang janggal dan entah kenapa aku sangat takut menjalani kehidupan esok hari. Eomma anakmu benar – benar akan menikah bukan? Impian terakhir appa adalah mengantarkanku ke altar pelaminan...jika ini adalah video terakhir yang kubuat aku ingin bilang bahwa aku mencintai kalian semua...dan tetaplah bahagia."

Seokjin teringat akan video log yang sempat Kyungwoo tampilkan padanya.

"Kyungwoo hyung, bolehkah aku melihat video log yang saat itu sempat hyung tampilkan padaku?" tanya Seokjin cepat.

"Video log?" tanya Chanwook akibat pertanyaan Seokjin menuai atensinya kepada pertemuan mereka.

"Diary Joomin ketika ia masih hidup. Ia sering membuat vlog. Sebentar ku ambil dulu laptopku" ujar Kyungwoo sambil datang dari kamar dan segera membuka folder berisi banyaknya video log milik Joomin.

Seokjin segera menuju pada video dengan tanggal 20 September 2016 dan mencoba mendengar dengan seksama. Ia sudah memakai earbuds dengan volume tinggi berusaha agar kali ini telinganya mencoba menangkap sesuatu.

Tapi hasilnya nihil.

Seokjin tidak mendengar apapun selain bunyi hujan dan sepertinya raut frustasi di wajahnya menguar dan terlihat kepada ketiga orang tersebut.

"Kau sudah me-rewind video ini selama sepuluh kali Seokjin. Apa yang kau cari sebenarnya?" tanya Chanwook.

"Aku berusaha mencari petunjuk Chanwook-ah. Jika betul foto surat tersebut diambil Joomin hyung pada malam hari, berarti ini dimalam yang sama saat dia merekam video ini. Tapi aku tidak bisa mendengar suara apapun selain bunyi hujan-" gerutuan kesal Seokjin terputus ketika ia menyadari bahwa suara hujan divideo ini terdengar dengan jelas.

"Suara hujan? Kami mendengar suara hujannya samar-samar..." ucap Kyungwoo ikut mendengarkan video tersebut namun ia hanya mendengar suara rintikan hujan samar-samar.

"Anni...ini hujan deras...aku mendengar gemuruh..." monolog Seokjin tidak sadar menjawab pertanyaan Kyungwoo dan mungkin membuat ketiganya kebingungan bagaimana 'telinga Seokjin' bisa menangkap suara dan membedakannya sedetil itu. Seokjin seketika melihat video Joomin yang lain sebelum akhirnya tersenyum lega.

"Hyung, lihat. Joomin hyung selalu merekam video log-nya dikamar tidurnya tapi khusus pada malam ini ia merekam video tersebut pada pukul dua dini hari dan berlatar ruang tamu rumahnya. Itu sebabnya aku bisa mendengar suara hujan, pasti ada pintu atau jendela rumahnya yang terbuka" ujar Seokjin seketika kemudian mem-pause dibagian Joomin terlihat diam sejenak didetik saat,

"...mengarah pada titik terang dan semua terasa begitu...tenang..." jeda lumayan lama sekitar sepuluh detik sebelum Joomin kembali melanjutkan ucapannya.

"Lihat hyung, Joomin hyung nampak cemas sekali disini seakan ia sepertinya mengetahui waktunya 'tidaklah banyak' dan lihat arah matanya..." ucap Seokjin men-zoom video tersebut dan dari jeda tadi hingga ia selesai berbicara keempatnya dengan jeli bisa melihat bahwa Joomin tidak melihat kearah kamera, tapi 'sesuatu' dibalik kamera yang berdiri tersebut.

"Kalimat 'jika ini adalah video terakhir yang kubuat aku ingin bilang bahwa aku mencintai kalian semua...dan tetaplah bahagia' ini bukan hanya untuk kita tapi juga untuk orang yang memegang kamera ini hyung." ujar Seokjin.

"Apa maksudmu?" tanya Seunghwan kebingungan.

"Hyung kau lihat, kamera ini tidak berada di posisi yang biasanya Joomin hyung pasang. Aku melihat tremble kecil dan semakin jelas ketika Joomin hyung menekan tombol berhenti. Wajahnya saat menekan tomnol stop tidak sejajar dengan lensa kamera tetapi diatasnya sedikit mengartikan bahwa kamera ini dipegang dan tidak menggunakan tripod seperti biasanya" jelas Seokjin kemudian mengundang Chanwook memperhatikan video itu sekali lagi dan benar saja, Chanwook bisa melihat ada bayangan orang lain yang duduk selain daripada Joomin meski remang-remang.

"Jadi..." ujar Seunghwan tak sanggup berbicara mengenai keberadaan fakta yang selama ini melekat pada mereka namun tak mereka hiraukan.

"Iya hyung, hipotesis kalian berdua benar. Little bean ini memang ada dan bertemu dengan Joomin hyung pada malam itu"

"Tapi bagaimana mencarinya? Kali dan Little bean. MasterLife atau Hyungnim, serta keterlibatan Alpha Agency, Eunho, dan BTS."

"Aku rasa BTS mengetahui semua ini dan menjadi kunci utama kita. Tapi mereka bungkam karena seperti yang kita tahu, Bighit berhutang banyak pada Alpha Agency dimasa lalu. Pasti ada perjanjian yang tidak mereka beritahukan kepada kita, dan fakta bahwa mereka sendiri yang keceplosan menanyakan apakah kita sudah menangkap 'Kali' atau belum" jawab Chanwook membuat Seokjin sedikit kagum bahwa Chanwook tidak meninggalkan stigma negatif lagi terhadap BTS.

"Ah, foto yang dimaksud oleh Joomin hyung yang ditipkan kepada Chanwook. Itu foto apa?" tanya Seokjin pada Seunghwan.

"Foto-foto korban Mr. Photographer, Chanwook memilikinya" jawab Seunghwan dan Chanwook mengangguk.

"Foto-foto yang sempat aku berikan kepadamu, yang aku pikir foto yang dipotret oleh Taehyung" jawab Chanwook sedikit tidak enak karena kini mereka tahu bahwa BTS berkemungkinan besar tidak bersalah.

"Tak apa Chanwook, memang saat itu fokus kita berpikir bahwa mereka lah pelakunya. DNA sperma yang ditemukan di peti Joomin saat itu sangat cocok dengan DNA mereka berenam.

"Pada tahun 2016 unit kami mendapatkan kasus orang hilang secara berturut – turut dengan kemiripan yang sama. Pemuda usia dibawah dua puluh tahun, bersekolah di sekolah seni atau seorang trainee dan sejenisnya yang berhubungan dengan seni dan mereka hilang tanpa kabar. Maksudku tanpa kabar adalah mereka orang – orang yang tidak akan dicari kalau hilang"

"Joomin bekerja siang dan malam demi menumpas habis kasus ini. Kami menemui titik terang, salah satu korban, Jo Woo Yeong, seorang anak yatim piatu yang bersekolah di Hanlim Arts School disinyalir menjadi trainee di BigHit membuat kami menivestigasi agensi tersebut. Faktanya, lima belas pemuda yang hilang berkaitan dengan BTS. Ada yang sebagai back dancer , sebagai seorang produser atau song-writer, sebagian ada yang pernah menjadi kawan 'akrab' salah satu member saat menjadi underground rapper. Namun anehnya tidak ada satupun yang kami selidiki mengarah kepada BTS kalau tidak terungkap hubungan Wooyeong dengan BTS ini. Masalah nampak semakin menemui akhir hingga..."

"Hingga Joomin hilang di kantor polisi saat itu. Rekaman CCTV terakhir yang kita temukan adalah saat Joomin menyeduh kopi kemudian mendapat panggilan lalu ia tiba –tiba saja keluar melewati pintu belakang dan tak ditemukan. Lima hari kemudian kami mendapat kiriman sebuah peti mati dimana didalamnya ada Joomin yang telah wafat dibalut jas putih dan tangannya memegang sebuket bunga lily putih"

"Hasil autopsi memperlihatkan bahwa Joomin meninggal bukan karena kekerasan fisik melainkan mental. Joomin kami selama lima hari 'digilir' berturut – turut sebagai pemuas nafsu. Kami menemukan banyak 'DNA' yang tertinggal ditubuhnya dan enam diantaranya positif milik semua member BTS"

"Kami tak bisa menangkapnya karena alibi BTS sangat kuat. Bahwa sebulan sebelum Joomin hilang mereka tengah berada di Amerika. Sedangkan sesuai hasil autopsi korban wafat dipagi hari tepat kami menemukannya, itulah mengapa suhu tubuhnya masih hangat. Yang artinya tidak mungkin peti mati itu dikirimkan dari Amerika sana dan juga seluruh maskapai domestik dan internasional diseluruh bandara di Korea Selatan tidak memiliki 'daftar peti mati' yang dikirim pada hari itu juga. Terlebih peti mati itu didesain oleh sebuah pembuat peti mati di Jeju. Kami tak bisa menangkap BTS dan ayah Joomin, Kapten Daejoon memilih mengundurkan diri dari kepolisian dan menutup kasus puteranya. Semuanya menjadi abu"

Seokjin seketika teringat percakapannya dengan Wooil dan meminta kepada Kyungwoo apakah ia masih menyimpan file-file berisi penyelidikan kasus Mr. Photographer dan Kyungwoo pun membawa satu container box besar berisi penyidikan, berkasi, autoposi, foto-foto, visum, biodata, salinan investigasi dan wawancara dan hal-hal berhubungan lainnya. Seokjin seketika mencari hasil visum Joomin beserta foto pertama kali mayat Joomin ditemukan.

"Ini semua ganjil. Tubuhnya masih hangat, namun dia dibalut dengan jas putih dan memegang sebuket lily putih. Hasil visum menyatakan bahwa ia diperkosa secara massal namun hanya ada enam sperma yang terdeteksi karena itu yang masih ada didalam holenya dan bercak pada pakaian dalamnya yang masih basah..." ujar Seokjin membuat mereka menjadi serempak berpikir.

"Benar juga, hasil tes psikologi tidak menunjukkan grup itu punya identifikasi fetish bersetubuh dengan mayat..." celetuk Kyungwoo yang membaca report BTS yang saat itu menjadi tersangka utama.

"Ini jelas fake staging hyung. Dari foto ini bisa dilihat bahkan bunganya masih terlalu basah dan segar. Dari bercak spermanya terlihat bukan dari penis..." ucap Seokjin malu mengucapkan kalimat terakhir dan berdehem sedikit melanjutkan penjelasannya.

"Maksudku, ketika seseorang sehabis bersetubuh dan memang mengeluarkan orgasme hingga keluar seperti ini membutuhkan tenaga dari dalam tubuh Joomin hyung untuk mengeluarkannya. Tapi hole Joomin hyung terindikasi beku, dan aku tidak melihat ada indikasi air seni maupun poop yang terdorong akibat gas dari dalam tubuh orang yang mati. Itu tandanya ini sperma bukan habis berhubungan badan dengan Joomin hyung. Dilihat dari bercaknya yang menempel pada areal bokong saja dan tidak pada area 'bawah' pakaian dalam tersebut maupun paha memperkuat bahwa sperma ini tidak keluar dari 'dalam' karena seharusnya ia mengalir kebawah. Pikiranku adalah seseorang mengambil sperma mereka dan menaruhnya ditubuh Joomin hyung. Karena menurutku jika BTS pelakunya sangat bodoh untuk merapihkan Joomin hyung sebagus ini didalam peti tapi melupakan fakta bahwa sperma milik mereka 'tertinggal' begitu saja dan fakta bahwa Joomin wafat pada tanggal 26 September tidak masuk akal untukku." ucap Seokjin panjang lebar membuat mereka mengangguk paham.

"Tapi buat apa mem-framing BTS? Dan siapa orang yang semaniak ini?" tanya Seunghwan.

"Yang jelas orang yang sama yang memiliki playroom di kamar Hangyeol dan juga di villa dimana kita menemukan mayat secara massal tersebut" jawab Seokjin lugas.

"Mengapa kau begitu yakin?"

"Buket bunga tersebut. Bunga lily melambangkan purity dan juga rebirth. Orang ini pasti merasa dia adalah dewa/deity yang mempunyai hak untuk mengatur seluruh orang disekitarnya termasuk membunuhnya. Pola pikiran yang sama dipakai oleh Hangyeol ketika di kasus Seven Deadly Sins. Sama seperti Dewi Kali ini, yang merepresentasikan kematian sebagai bagian dari sebuah 'kesimbangan' tata kehidupan" jelas Seokjin secara singkat.

"Lalu bagaimana mem-framing BTS?" tanya Chanwook.

Seokjin terdiam sejenak.

"Myeongyi, jika aku boleh tahu, dirimu bertemu mereka saat itu diumur berapa?"

"Ah, aku rasa disekitar tahun 2008 hingga 2010. Aku ingat waktu itu RM-shi sempat berkolaborasi dengan Zico-shi dari Block B. Waktu itu stage name dirinya bukan Zico melainkan Nakseo"

"Aku terpesona dengan cara mereka rap, dan saat itu juga meyakinkan diri menjadi fans tapi mereka waktu itu tiba-tiba saja menghilang...?" jawab Myeongyi ragu.

"Menghilang katamu...?"

"Eum, aku rasa mereka menghilang karena persiapan debut menjadi BTS. Aku juga tidak punya ponsel secanggih yang kupunya dan dirumah tidak punya internet. Disaat aku masuk ke akademi kepolisian, disaat itu mereka debut menjadi anggota BTS. Hanya itu yang aku tahu..." jawab Myeongyi sambil menggaruk lehernya kikuk.

12.05.2013

Aku merasa kasihan kepada Jungkook dia harus bekerja ditempat kotor ini diusia yang sangat muda.

Itu dia. Seokjin seketika mendapat pencerahan setelah mengingat percakapannya dengan Myeongyi dan memoir milih Hongshim.

"Hyung. Aku tahu alasan kenapa mereka mem-framing BTS, juga, aku punya rencana sendiri mengenai hal ini"

Ketiganya kalang kabut begitu mengetahui rencana Seokjin setelah ini yang membuat mereka mengutuk diri mereka sendiri karena tidak bisa membatalkan rencana Seokjin yang sudah bulat.

/-/

Hyeon, Kwangil, Gitae, dan Eunho kaget mendapati Seokjin dan Chanwook datang bersama Seunghwan dengan lima set box pizza berukuran besar ke ruangan mereka.

"Seokjin-ah, bukankah kau kerumah sakit bersama Chanwook tadi pagi?" tanya Gitae khawatir.

"Eum, tapi aku bosan dan Chanwook harus bertugas menggantikan Kyungwoo hyung yang tepar" jawab Seokjin merajuk sedikit mencoba meluluhkan hati para hyungnya.

"Kemana Kyungwoo?" tanya Eunho kebingungan kepada Seunghwan karena mereka datang bertiga secara bersamaan.

"Aku kerumahnya tadi dan memberikan pesan kepada Chanwook untuk menggantikannya. Dia tidak enak badang dan aku lelah mengurusi press statement tadi pagi dan memutuskan untuk Chanwook saja yang menggantikannya. Kau tahu sendiri anak ini baru mau disuruh apabila disogok makanan" jawab Seunghwan lancar seperti biasa menuai decakan sebal dari Chanwook yang mengundang tawa mereka.

"Kau boleh saja disini, tapi Seokjin kau tahukan kau tidak boleh ikut berkontribusi-" ucapan Hyeon terpotong oleh Seokjin sendiri.

"Iya - iya aku paham Hyeon hyung, aku akan mengunjungi Myeongyi sebentar dan makan siang bersamanya sebelum balik pulang. Aku hanya bosan sedikit" jawab Seokjin lalu pergi menuju ruang kerja divisi Myeongyi.

"Yah Chanwook, apa kata dokter? Apa anak itu mengalami gangguan mental?" tanya Kwangil cepat melihat tidak biasanya Seokjin menurut begitu.

"Dia baik-baik saja hyung. Kau lihat gipsnya sudah dilepas dan diganti dengan perban biasa. Nampaknya dia menyerah soal kasus ini dan merindukan keluarganya" ujar Chanwook asal sambil memakan pizzanya.

"Kyungwoo punya tugas menumpuk kau bisa mengantarnya pulang kembali?" tanya Eunho khawatir.

"Iya juga sih...Myeongyi juga rencananya menggantikan shift seniornya sampai malam. Tak apalah, aku akan mengantarkan Seokjin pulang habis itu balik kemari"

"Membuang banyak waktu, lebih baik Eunho yang mengantar Seokjin karena ini juga hari libur Eunho" jawab Hyeon kemudian.

"Yak! Eunho hyung diberikan banyak waktu libur kenapa aku tidak!?" seru Chanwook tidak terima.

"Itu karena dia menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat dari kecepatanmu mengunyah makanan bodoh" celetuk Seunghwan membuat semua orang disana tertawa dan Eunho mengiyakan suruhannya Hyeon karena hari dimana Eunho harusnya mendapat giliran menjaga Seokjin, Seokjin saat itu sudah pulih dan siap berangkat ke kantor mereka.

Sementara Seunghwan dan Chanwook saling beradu pandang barang sejenak, hal yang tidak digubris oleh para timnya.

Waktu menunjukkan pukul lima sore ketika pekerjaan Eunho sudah selesai dan menemukan Myeongyi dan Seokjin yang tengah bersenda gurau sambil berjalan kearah mereka.

"Seokjin hari ini aku tidak bisa mengantar pulang. Kyungwoo hyung menambah tugasku lagi" ujar Chanwook lesu.

"Tidak masalah Chanwook-ah, aku juga mau patroli jadi bisa mengantar Seokjin pulang" jawab Myeongyi yang kemudian disahutin oleh Eunho.

"Tidak perlu repot Myeongyi, aku bisa mengantarkan dia pulang"

"Eh? Serius Eunho hyung? aku juga nanti singgah di apartemen juga kok, ingin mengambil barang yang tertinggal"

"Iya tidak apa-apa. Aku bisa mengantarnya pulang lagipula ini hari liburku jadi aku bebas" jawab Eunho sambil tersenyum membuat Seokjin akhirnya memilih pulang bersama Eunho dan pamit dengan tim divisinya serta pamitannya terakhir dengan Myeongyi diparkiran.

"Kau mau langsung pulang atau ada barang yang ingin dibeli Seokjin-ah?"

"Well, aku bosan di apartemen juga sih...karena Myeongyi dan Chanwook tidak keapartemenku dan aku juga tidak punya rencana sehabis ini mau kemana, jadi terserah hyung saja mau bawa aku kemana" jawab Seokjin membuat Eunho mengangguk setuju.

"Kau mau ke club? Kudengar di Amerika sana punya klub yang bagus" ujar Eunho menaikkan alisnya jahil sekaligus menjalankan mobilnya membuat Seokjin tertawa.

"Percayalah Eunho hyung, aku tidak akrab dengan dunia malam. Aku seorang light drinker jadi sangat tidak diperbolehkan minum"

"Kau seminggu lagi akan balik kesana, bersenang-senanglah sedikit disini. Tenang saja, aku akan menjagamu" ujar Eunho dan dua jam kemudian mobil mereka terparkir di Alpha Pack Club.

"Hyung kau serius? Ini kan..." jawab Seokjin ragu.

"Tenanglah, ini memang club yang menjadi intaian kita, siapa tahu kita mendapat informasi hari ini. Lagipula aku punya unlimited membership card. Sayang kalau tidak dipakai" ujar Eunho seketika mengajak Seokjin yang nampaknya terdiam kaku sebelum diajak masuk oleh Eunho membuat Seokjin akhirnya mengangguk setuju dan melangkahkan kakinya mantap.

Membuat Eunho tidak mengetahui bahwa ini bagian dari rencana Seokjin sendiri.

/-/

Namjoon dan Yoongi pulang lebih awal mendapati laporan dari pihak apartemennya bahwa ada tetangganya yang meminta izin untuk mengambil barang yang tertinggal dirumahnya dan karena urgensi membuat Namjoon akhirnya balik bersama Yoongi khawatir bahwa ini adalah akal-akalan sasaeng fan tapi yang mereka temukan justru Myeongyi yang tersenyum kikuk sambil menggaruk mengusap lehernya canggung.

"Aku lupa mengambil barang di apartemen Seokjin, tapi aku lupa passcode-nya boleh masuk lewat balkon unit kalian..?" tanya Myeongyi dengan cengiran polos membuat Yoongi dan Namjoon menghela nafas karena membuat panik mereka.

"Kau yakin bisa melewati balkon?" tanya Yoongi.

"Tenang saja! Kecil - kecil ini aku lumayan lincah" ucap Myeongyi dan setelah Namjoon membuka passcode unit mereka dan mengarahkan Myeongyi kebalkon anak itu dengan lincah bisa masuk melewati balkon dan keluar dari pintu unit Seokjin sambil membawa peralatan patroli yang dilihat oleh Yoongi yang sedari tadi diluar dan Namjoon yang kembali menutup balkon dan pintu apartemennya.

Pantas saja urgensi menurut mereka berdua.

"Mengapa tidak menghubungi Seokjin? Kau tidak perlu repor-repot begini" tanya Namjoon.

"Aku sudah menghubunginya tapi ponselnya mati, jadi aku menghubungi Eunho hyung dan mengatakan bahwa Seokjin masih bersama Eunho hyung dan tertidur pulas di rumahnya. Ia susah tidur akhir-akhir ini aku dan Eunho hyung tidak enak membangunkannya" jawab Myeongyi seketika membuat mata mereka terbelalak.

"Apa katamu? Dia bersama Eunho? Dirumahnya?" tanya Yoongi panik dan Myeongyi mengangguk mengiyakan. Namjoon dan Yoongi seketika bertukar pandangan dalam hitungan detik sebelum akhirnya berlari menuju lift dan sibuk menelpon seseorang meninggalkan Myeongyi yang terdiam kebingunan,

atau tidak sama sekali.

'Seokjin, aku harap kali ini rencanamu berhasil' monolog Myeongyi dalam hati dan berjalan seperti biasa menuju lift apartemen mereka.

Insting pertama Namjoon menelpon Taehyung. Taehyung yang tengah latihan dance bersama Jimin dan Hoseok kaget mendapati telpon yang tak biasa dari Namjoon.

"Ada apa hyung-"

"Kau bisa melacak ponsel Seokjin atau Eunho!?" sentak Namjoon panik tak sempat mebiarkan Taehyung menyelesaikan sapaan panggilannya

"Hah? Apa maksudmu hyung-"

"Seokjin bersama Eunho dan kata Myeongyi ada di rumah Eunho. Aku tidak yakin 'rumah' mana yang dimaksud Eunho. Bisakah kau cepat sedikit!?" kali ini giliran Yoongi yang memotong kalimat Taehyung.

Taehyung yang sedari tadi me-loud speaker panggilannya membuat situasi ketiga orang itu menjadi tegang.

"Alpha Pack Club." ujar Jungkook kemudian yang datang dari pintu masuk berniat membawa makanan namun tak sengaja menguping pembicaraan para hyungnya.

"Rumah yang dimaksud Eunho, pasti unit exclusive Alpha Pack Club." jawab Jungkook sekali lagi tapi kali ini nadanya terkesan datar dan dingin.

Hening sejenak meliputi panggilan mereka baik dari Taehyung maupun dari Yoongi dan Namjoon disebrang sana.

"Kita sekarang kesana juga. Tidak peduli bertemu Kali atau tidak kita bawa Seokjin pulang" nada Yoongi di sebrang sana juga sama dinginnya.

Seketika saja, raut wajah mereka yang terkenal ramah itu mendadak menjadi seperti pembunuh berdarah dingin.

Nampaknya,

Kali ini Taehyung tidak akan peduli jika Seokjin berakhir menodongkan pistol di keningnya.

Begitupun dengan yang lain.

Mati ditangan Seokjin jauh lebih baik daripada menyaksikan orang yang mereka cintai tewas didepan mata mereka sendiri.

Kali ini,

'Kali' salah 'membangunkan' iblis yang tertidur pulas setelah sekian lama.

/-/

Seokjin mengerjapkan matanya beberapa kali membiarkan bias cahaya menyesuaikan dengan retina matanya. Kepalanya pusing tujuh keliling namun ia merasakan berat yang lain.

Serasa ia tidak berbaring di kasurnya yang nyaman dan beban dipinganggnya yang lumayan berat.

"Pusing..." keluhnya lirih.

"Hm, kau menghabiskan lima belas shots vodka, tentu pusing" ujar suara khas serak khas orang bangun tidur membuat Seokjin mengangguk paham sebelum akhirnya otaknya memproses apa yang terjadi membuat dirinya reflek terbangun dengan cepat mendapati dirinya tidur diatas tubuh Yoongi yang bertelanjang dada dan Namjoon dalam keadaan yang sama memeluk pinggangnya sedari tadi.

"Hai manis sudah bangun?" tanya Yoongi jail sementara Namjoon terbangung karena mendapati pergerakan reflek Seokjin yang tiba-tiba sudah berdiri di ujung kasur.

"Apa yang terjadi semalam!?" tanya Seokjin panik.

Mungkinkah rencananya gagal!?

"Well kami menemukanmu sudah hampir passed out di club dan-" Namjoon yang mendapati wajah panik Seokjin tersenyum jahil.

"-dan tentunya kita berakhir disini, diranjang, bertujuh" jawab Namjoon hampir membuat Yoongi tertawa namun ia lebih senang menikmati pemandangan Seokjin yang baru bangun tidur dengan wajah merah padam dibalut sinar matahari yang memantul ke arah kulitnya.

"Diranjang...? Be-ber-bertujuh..?" jawab Seokjin terbata-bata membuat mereka menahan nafas karena baru kali ini mereka melihat sisi Seokjin yang seperti ini.

"Hyung sarapan sudah siap- eh Seokjin-ah? Kau sudah bangun?" sapa Jimin yang tiba-tiba datang membuka pintu lalu tersenyum lembut mendapati Seokjin sudah bangun dengan wajah merah padam.

Jimin pun sama kebingungannya.

"Eum, bertujuh. Jimin, semalam kita 'tidur bertujuh' bukan?" tanya Yoongi pada Jimin membuat Jimin mendengus jahil dan mengetahui alasan dibalik Seokjin berdiri kaku di depan kasur.

"Eum yah! Kita passed out semua dan dirimu tidak ingin 'lepas dari kami'" jawab Jimin menambah daftar pikiran yang tidak-tidak dikepala polisi muda itu.

Oh Seokjin,

Malangnya dirimu bertemu dengan dua slytherin dan seorang ravenclaw.

Seokjin ingin rasanya pingsan ditempat saja.


AUTHOR'S NOTE :

Hello reader-nim!Long time no see! Bagi kalian yang sudah menunggu fanfic ini, terima kasih sudah bersabar ya hehehe. Author akhir-akhir ini disibukkan dengan berbagai tugas dan pemulihan dari sakit kemarin.

Bagaimana? Setelah mengetahui apa yang ingin Joomin katakan waktu itu semasa hidup? Apakah benar Eunho terlibat!? Dan adakah yang bisa menebak siapa Little Bean dan Kali yang dimaksud?

P.s : Adakah yang ikut nonton Map of The Soul : On:E Day 2? Outfit Seokjin pas Moon cantik banget author gakuat ㅠ.

JANGAN LUPA KOMEN DAN VOTE YA GUYS! KARENA KOMENTAR DAN VOTE KALIAN MENAMBAH SEMANGAT AUTHOR

SEE YOU NEXT TIME! ^^ ~