Dangerous Romance


"Apa rencanamu setelah ini?"

"Hum?" Chanyeol mendongak kearah wajah Baekhyun yang berada diatasnya. Sejujurnya Chanyeol tidak bisa menemukan jawaban untuk pertanyaan itu karena ia masih menikmati pemandangan cantik yang terlihat dari wajah Baekhyun, rambutnya yang berwarna golden brown telihat berterbangan terbawa angin, senyumnya selalu terlihat saat beberapa mahasiswa berlalu lalang menyapa atau bahkan melihat kearahnya.

Bahkan hanya dengan make up minimalis yang selalu ia kenakan, bagi Chanyeol ia tetap cantik.

Mungkin Chanyeol bisa saja menjawab bahwa ia akan menikah atau melakukan liburan panjang bersama kekasihnya setelah acara kelulusan mereka.

Tapi kenyataannya Chanyeol tidak memiliki kekasih.

Park Chanyeol, 25 tahun.

Mendapatkan gelar sebagai lulusan terbaik yang berasal dari Korea dan memiliki predikat sebagai playboy kelas atas dan telah meniduri banyak wanita di lingkungan kampusnya hingga tak terhingga. Tidak pernah memiliki hubungan khusus dengan wanita manapun karena ia lebih sibuk bermain dengan mereka diatas ranjang.

Dan, dipastikan ia hanya memiliki satu teman wanita sejak usianya 15 tahun, dan gadis itu adalah Byun Baekhyun.

Pertemuan pertamanya saat itu adalah sebuah ketidaksengajaan dan bisa dibilang mungkin memang Tuhan yang menakdirkan mereka untuk bertemu.

Saat itu adalah memasuki hari pertama semester awal di sekolah menengah dan Baekhyun adalah murid pindahan dari China. Seandainya saat itu Chanyeol tidak mengalami perkelahian bersama Kim Jongin, mungkin ia tidak akan mengenal Baekhyun hingga saat ini.

Ya, Chanyeol yang baru saja dipanggil ke ruangan kepala sekolah harus menuruti perintah dari kepala sekolahnya untuk mengantarkan murid baru itu ke ruangan kelasnya. Dan lagi-lagi sebuah kebetulan, Baekhyun akan masuk di kelas yang sama dengannya.

Awal mulanya Chanyeol hanya mengantarkan dan memberi tahukan kepada guru kelasnya ada anak baru yang dia antarkan, dan setelah tradisi perkenalan satu per satu nama anak-anak murid di kelas itu ada hal yang mengejutkan lainnya yang terjadi pada Chanyeol.

Byun Baekhyun, anak baru itu memilih untuk duduk bersamanya.

"Aku merasa nyaman denganmu saat berkenalan di ruang kepala sekolah. Biasanya perasaanku ini tidak pernah salah, jadi boleh aku duduk denganmu?"

Kalimat itu selalu Chanyeol ingat, dan tidak akan pernah ia lupakan.

"Aku sudah mengenal mereka semua, tapi entah kenapa hanya kau yang bisa membuatku nyaman di kelas ini."—Kalimat lain yang tidak pernah Chanyeol lupakan.

Ya, iya sangat bersyukur saat itu tidak menolak ajakkan Baekhyun untuk duduk bersama karena setelah kejadian itu Chanyeol merasa bahwa ia telah menemukan belahan jiwanya.

Tidak hanya hal itu saja, banyak kejadian lain yang seakan-akan memang ditakdirkan bagi Chanyeol dan Baekhyun untuk bersama.

Pertama, rumah mereka berada berdekatan dan itu tentu saja menguntungkan mereka untuk saling mengenal. Bahkan Keluarga Byun dan Park seakan-akan menjadi dua keluarga yang sudah bersahabat baik entah sejak kapan.

Kedua, Chanyeol dan Baekhyun selalu berada dalam satu kelas hingga mereka lulus, bahkan mereka tidak terpisahkan hingga ujian tes masuk perguruan tinggi. Meskipun mereka mendaftar di universitas yang berbeda, takdir tetap menginginkan mereka untuk bersama hingga suatu hari mereka mendapatkan surat penerimaan dari Universitas Standford yang memberikan beasiswa penuh kepada keduanya untuk bersekolah disana.

Aneh bukan?

Dan semenjak itulah keduanya semakin tidak terpisahkan.

Bahkan saat musibah menimpa Baekhyun dimana kedua orangtuanya harus mengalami kecelakaan dan merenggut nyawa keduanya. Chanyeol dan keluarganya semakin berada disampingnya melindunginya dan bahkan merawatnya, Keluarga dari pihak ayah Baekhyun pun tidak bisa berkata apapun lagi selain ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk keluarga Park karena mau menjaga Baekhyun hingga hari kelulusan mereka.

Dan disinilah, bagaimana awal perjanjian bisnis mereka yang bisa dibilang cukup konyol.

"Bagaimana kalau kita memulai rencana bisnis yang sudah kita impikan sejak lama?" Chanyeol menarik wajah Baekhyun untuk memperhatikannya yang masih berada dipangkuan gadis itu.

Baekhyun tersenyum sebentar. "Bisnis yang mana? Prostitusi atau impianmu?"

Chanyeol tertawa lepas dan kemudian mencubit pipi mochi Baekhyun.

"Jaga bahasamu Nona Byun."

"Aku hanya ingin memperjelas kalimatmu. Kita terlalu memiliki banyak impian." Baekhyun menjawab santai.

"Yang ku maksud disini adalah, kita lakukan apa yang menjadi impianmu dan impianku. Kau ingin membangun perusahan dalam bidang fashion dan development property sementara aku ingin membangun usaha property dan arsitektur, ayo kita lakukan." Chanyeol menjawab dengan menatap serius wajah Baekhyun.

"Kau yakin?"

"Tentu saja." Chanyeol beranjak dari tidurnya, duduk disebelah Baekhyun dan membawa tubuh mungil gadis itu untuk berhadapan dengannya. "Aku akan meminjam uang Ayahku dan kita akan memulai usaha ini. Bagaimana?"

"Kau benar-benar yakin kita bisa melakukannya bersama?"

"Tentu saja! Kau memiliki otak cerdas untuk semua bidang ini."

Baekhyun membanggakan dirinya dengan memamerkan senyum sinisnya pada Chanyeol tapi setelah itu ia kembali memikirkan rencana yang diucapkan Chanyeol. Rencana yang bisa dibilang akan mewujudkan cita-citanya selama ini untuk membangun sebuah bisnis fashion dan development property yang menjadi ketertarikannya sebelum kedua orang tuanya meninggal dunia. Walaupun saat ini bisa saja ia memilih untuk bergabung pada perusahaan yang ditinggalkan Ayahnya, tapi tawaran Chanyeol tidak bisa ia tolak.

"Bagaimana?" Chanyeol menyadarkan lamunan Baekhyun.

Baekhyun menatap lama wajah Chanyeol sambil terus berpikir apa pilihannya kali ini benar, apakah ia tidak akan menyesali jawaban yang akan ia berikan pada Chanyeol.

"Hey.. aku rasa kau harus memikirkannya lagi dengan pamanmu dan keluarga besarmu. Aku akan menunggu jawabanmu, kau tidak harus memberikan jawabannya sekarang." Chanyeol mengusap wajah Baekhyun sambil tersenyum. "Aku akan berada di dorm setelah acara bermainku selesai, jangan menungguku ya. Kau segeralah tidur. Besok adalah hari baru untuk kita." Chanyeol mengusak rambutnya dan hendak berlalu pergi menuju acara 'bermain'-nya yang sudah dipastikan dalam arti yang erotis.

Baekhyun tertawa mengejek dan kemudian mengangukkan kepala, membiarkan Chanyeol melangkah pergi dengan senyuman yang lebar. Hingga beberapa saat langkah Chanyeol, Baekhyun berteriak padanya dan berhasil membuat namja itu berhenti, tidak hanya berhenti melangkah, tapi berhenti untuk pergi ke acara bermainnya.

Ya, hanya karena kalimat Baekhyun yang sedari tadi ian nantikan, ia bisa berhenti melupakan semua kegiatanya yang ia ingin lakukan.

"Kau tidak main-main dengan perkataanmu bukan?"

"Tidak. Apa aku pernah bermain-main denganmu Park Chanyeol?"

"Tidak pernah Nona Byun."

"Lalu?"

"Aku hanya memastikan. Memastikan bahwa kau memang serius mengejar impianmu bersamaku."

Baekhyun tertawa lepas dan kemudian melangkah mendekati dimana Chanyeol masih berdiri mematung saat mendengar apa yang ia katakana. "Aku benar-benar mengatakannya, ayo kita lakukan apa yang menjadi impian kita."

Chanyeol memeluk badan mungil itu dan membawanya dalam gendongan hingga berputar beberapa kali.

"Ini adalah rencana yang hebat! Ayo kita lakukan!"

Mereka langsung berlari kembali ke dorm tempat mereka tinggal dan segera menyusun rencana mengenai modal awal, visi, misi hingga letak perusahaan yang akan mereka rintis.

Dan Kota Seoul adalah pilihan mereka berdua untuk memulai semuanya.


e)(o

Dangerous Romance

Chapter 2


Hari itu langit Seoul sedang tidak bersahabat, hujan yang mengguyur dari siang hari masih berlanjut hingga pukul enam sore ini, kemacetan yang terjadi di jalan raya Seoul semakin menjadi ditambah dengan suara klackson dari berbagai kendaraan yang mulai tidak sabar karena harus berdiam cukup lama.

"Melihat suasana hari ini membuatku teringat akan Standford." Baekhyun berucap dengan posisinya yang berdiri menghadap ke jendela dengan pemandangan dibawahnya dimana kemacetan yang sudah berapa jam terjadi.

"Apa yang kau ingat?" Chanyeol menghampiri dan memeluk pinggangnya dengan leluasa, bahkan kini wajahnya dibawa untuk menyesap wangi badan gadis itu.

"Ck! Tentu saja suasana hujan disana."

"Suasan hujan bersamaku atau—

"Diam kau Park!"

Chanyeol tertawa dan mencium pipi gadis itu hingga ia kembali diliputi hawa nafsu untuk mencium kembali bibir tipis berwarna pink itu. Baekhyun pun tidak menolak. Ia mengalungkan tangannya pada leher Chanyeol dan mengijinkan bagaimana bibir tebal pria itu mendominasi untuk melumat atau bahkan menggigit bibirnya.

"Sekarang aku tahu kenapa kalian datang padaku."

Chanyeol menghentikkan ciumannya dan menoleh kearah sumber suara dimana Sehun sudah berada di depan pintu ruangannya dengan membawa laptop dan beberapa dokumen perjanjian di tangannya.

Oh Sehun, salah satu sahabat Chanyeol dan Baekhyun saat mereka berkuliah di Standford. Pria berdarah Korea dan Inggris ini dikenal sebagai lawyer terbaik saat ini.

Dengan membuka perusahaan konsultan dan legalitas untuk berbagai bidang usaha menjadikan dia sebagai salah satu pengusaha muda terbaik, namanya bahkan masuk dalam daftar pengusaha terbaik di Korea bersama Chanyeol dan Baekhyun.

"Jadi.. kalian melanggar?" Sehun seperti biasa, tidak ada basa-basi bila berhadapan dengan mereka berdua.

"Ini yang ku sukai dari dirimu. Selalu tahu apapun tentang kami." Chanyeol menjentikkan jarinya. Sedangkan Baekhyun merapikan dandanannya dengan cepat dan kemudian berjalan bersama Chanyeol menuju tempat duduk dalam ruangan kerja Sehun.

"Siapa yang melanggar?" Sehun duduk dan menyilangkan kakinya menatap mereka bergantian.

"Chanyeol." Baekhyun menjawab lebih dulu dengan wajahnya yang datar, sedangkan seseorang disampingnya yang merasa namanya disebutkan tersedak kaget mendengarnya.

"Pardon me?" Chanyeol menatap kearah Baekhyun dan hanya dibalas dengan gedikkan bahu dari gadis itu.

Sehun menganggukkan kepala menyetujui ucapan Baekhyun. "Seperti yang kubilang, Chanyeol pasti tidak kuasa menahan nafsunya kepadamu."

"Heeyy!—

"Yap, padahal aku tidak menggodanya." Baekhyun menganggukkan kepalanya, ucapannya memotong kalimat yang Chanyeol ucapkan.

"Huaaaa! Kalian sungguh mengintimidasiku. Ya Byun! Kau pun yang menggodaku ingat! Bahkan kau tidak menolak saat aku melakukannya!"

"Aku tidak menggoda! Kau saja yang selalu memeriksa bagian tubuhku setelah aku bertemu pria-pria diluar sana!"

"Tentu saja aku harus memeriksa! Ayahmu memintaku untuk menjagamu seutuhnya.. dan menjaga anak gadisnya hingga kau akan menikah dengan pria yang telah dijodohkan padamu." Chanyeol menjelaskan cepat.

"Oh! Dengan memeriksa seluruh tubuhku dan memberikan cumbuan panasmu? Huaaa Ayahku bisa bangkit dari kubur bila tahu apa yang kau lakukan padaku."

"Hey! Aku kan membantumu, daripada kau bertemu dengan pria hidung belang yang bisa saja memperkosamu, lebih baik denganku."

"Yak! Kau juga pria hidung belang!"

Sehun memperhatikan keduanya yang masih beradu pendapat dan kini mengalihkan pandangannya dengan memainkan ponselnya untuk melanjutkan games yang sempat terhenti sebelum ia ikut hadir dalam meeting perusahaannya.

Ia tidak memperdulikan kedua orang di hadapannya yang masih membahas mengenai cumbuan, fingering dan bahkan membahas desahan-desahan.

"Kalau tidak ada perjanjian ini pun aku yakin kau sudah memperkosaku dari beberapa tahun yang lalu." Baekhyun menjawab tegas hingga Chanyeol tidak bisa menjawab apapun lagi padanya.

Sehun yang mengetahui adanya ketenangan mulai melirik kearah mereka yang sudah saling diam dan menatap satu sama lain, sedangkan dalam hatinya ia ingin sekali tertawa bahagia melihat tingkah kedua orang ini yang selalu membuatnya merasa gemas.

"Aku tahu.. maafkan aku." Chanyeol menjawab dengan pelan dan bersandar kembali pada sofa dimana ia duduk. Sedangkan Baekhyun kini terdiam dan seakan-akan merasa bersalah karena ucapannya yang tidak sengaja katakan.

"Maafkan aku juga.." Baekhyun menundukkan wajahnya dan mengikuti Chanyeol bersandar pada sofa dimana ia duduk terpisah dengan Chanyeol.

Tidak ada suara saling bersahutan diantara keduanya, ruangan itu kembali hening dan hanya terdengar suara musik dari ponsel milik Sehun yang masih sibuk dengan permainan games-nya.

"Bisa kau sudahi games sialan itu?" Chanyeol berucap dengan sinis.

Sehun yang masih terfokus pada ponselnya hanya menggelengkan kepala sebagai jawabannya.

"Biarkan aku selesaikan satu sesi ini." Sehun menjawab setelah tidak ada pertanyaan yang ditujukan padanya.

Chanyeol menggelengkan kepala dan membawa badannya untuk bersandar pada sofanya, namun akhirnya berpindah agar ia bisa bersandar pada badan Baekhyun dan membawa badan mungil itu kedalam rangkulannya.

Sehun tertawa kecil melihat tingkah laku mereka karena baru saja mereka berdua beradu pendapat dan kini mereka malah kembali untuk saling bersandar dan mulai saling mengobrol yang dipenuhi dengan topik yang mengejek Sehun sebagai maknae diantara mereka yang belum juga mendapatkan kekasih karena terlalu sibuk dengan dunia games-nya.

Sialan. Sehun merutuki dalam hatinya.

"Kau ingat sepupu jauhku yang bernama Luhan?" Baekhyun berbisik pelan namun tetap menjaga suaranya supaya bisa terdengar oleh Sehun.

"Ah.. si rusa China itu!" Chanyeol menyahut. "Bukankah dia sudah memiliki kekasih saat ini?"

"Hm.. dia sudah memiliki kekasih.. aku rasa ia lebih tampan dari Sehun."

"Oh ya? Well itu bagus. Semoga mereka cepat menikah dan memili—

"Okey enough!" Sehun meletakkan ponselnya dan menatap kedua orang tersebut yang kini sama-sama tersenyum bodoh kearahnya.

"Tidak usah menampilkan wajah bodoh kalian berdua." Sehun menatap mereka dengan wajah datar.

"Kami tersenyum padamu Oh-Se-hun." Baekhyun menjawab dengan memberikan penekanan pada kalimatnya yang menyebutkan nama Sehun.

"Diam kau Noona." Sehun tidak memperdulikan ucapan itu dan membuka dokumen perjanjjan yang dibuat oleh Chanyeol dan Baekhyun. "Jadi. Apa yang harus aku lakukan pada perjanjian aneh yang kalian buat ini." Sehun mengangkat salah satu perjanjian itu dan menunjukkan pada kedua orang itu.

"Perjanjian itu tidak berlaku lagi." Chanyeol menjawab dengan senyuman tiga jarinya. "Buatkan kami perjanjian yang baru." Alisnya terangkat kearah Sehun dengan masih tersenyum padanya.

Sehun menggelengkan kepala dan membuang dokumen perjanjian itu kearah tempat sampah. "Kalian sudah berciuman, bercumbu, fingering and tounge dan bahkan bercinta—

"Belum!"

"Hey kami tidak bercinta." Chanyeol dan Baekhyun sama-sama menjawab memberikan protest pada Sehun.

Sehun kembali menghela nafas mendengar mereka berdua.

"Baiklah, kalian belum bercinta, lalu apa alasan untuk membuat perjanjian yang tidak masuk akal lagi hah?" Sehun mengusap wajahnya yang mulai lelah berhadapan dengan mereka berdua.

"Buatkan kami perjanjian yang lain." Baekhyun berucap dengan pelan.

"Perjanjian apa lagi."

"Perjanjian— Chanyeol menahan kalimatnya dan memperhatikan Baekhyun yang ikut menatapnya.

"Kalian akan menikah?" Sehun menggigit bolpointnya dan menunjuk kearah mereka berdua.

Chanyeol seketika tertawa terbahak sedangkan Baekhyun menatapnya dengan tatapan tajam kearah Sehun.

"Pernyataanku tidak salah bukan?" Sehun menjelaskan. "Kalian membuat perjanjian, tidak boleh mencium, bercumbu dan bahkan bercinta. Tapi semua sudah dilanggar—oh kecuali bercinta. Ya itu berarti kalian sudah saling jatuh cinta dan kemudian menikah. Benar bukan?"

"Tidak." Baekhyun menjawab ketus sedangkan Chanyeol masih belum puas untuk tertawa.

"Kami ingin membuat perjanjian dimana aku dan Chanyeol bisa memenuhi semua kepuasan nafsu tanpa melibatkan perasaan apapun didalamnya. Aku akan memberikan kepuasaan untuknya dalam mencumbu badanku, bercinta dengannya tanpa melibatkan perasaan kami masing-masing."

Sehun hampir saja menjatuhkan rahangnya mendengar penjelasan yang Baekhyun katakan.

"Kau mengerti?" Baekhyun menatap Sehun dengan tangannya yang sudah menyilang didadanya.

"Aku tidak mengerti." Sehun menggelengkan kepalanya. Pikirannnya benar-benar tidak bisa mencerna setiap perkataan yang dikatakan oleh Baekhyun, bercumbu tanpa bercinta?

"Oh yang benar saja! Kalian bercinta tanpa perasaan?"

"Dia akan menjadi friends with benefits denganku." Chanyeol membantu menjelaskan.

"Tunggu.. tunggu.. aku semakin tidak mengerti dengan kalian berdua."

Baekhyun menghela nafas panjang. "Chanyeol.. kau saja yang beri penjelasan padanya."

"Astaga Sehunah." Chanyeol menggelengkan kepala. "Jadi.. Aku dan Baekhyun akan melakukan apapun untuk kepuasan kami berdua, dengan persyaratan tanpa adanya perasaan saling jatuh cinta pada masing-masing. Aku tidak akan bersetubuh atau bercinta dengan wanita lainnya, hanya dengan Baekhyun dan begitupun sebaliknya."

Baekhyun menganggukkan kepala menyetujuinya, sedangkan Sehun masih mengerjapkan matanya berkali-kali dengan mulutnya yang masih terbuka karena terlalu shock mendengar penjelasan diantara keduanya.

"Aku tidak tahu akan berkomentar apa terhadap kalian." Sehun akhirnya bersuara.

"Tidak usah berkomentar. Buatkan saja!" Baekhyun menunjuk kertas kosong yang berada di mejanya. "Oh—ini termasuk dalam perjanjian bisnis kerjasamaku dengan Chanyeol." Baekhyun kembali menambahkan.

"Astaga.. apa lagi ini?" Sehun membuang bolpoint dan kertasnya.

"Yaakk! Kau cukup mendengar dan buatkan saja!" Baekhyun melemparkan kembali bolpoint itu kearah Sehun. "Dengarkan aku.. perjanjian ini kau buat dan akan berlaku saat sudah ditanda tangani, lalu." Baekhyun mengarahkan tangannya kepada Sehun untuk diam. "Bila salah satu dari kami jatuh cinta kepada masing-masing, perjanjian ini akan batal dan salah satu dari kami harus mengundurkan diri." Baekhyun tersenyum kecil kearah Sehun, sedangkan Chanyeol yang sedari tadi memperhatikan bagaimana wanita mungil itu menjelaskan semuanya hanya bisa terdiam dan memperhatikan wajah Sehun yang semakin bingung mendengar semuanya.

"Jadi.. segera buatkan perjanjian itu." Baekhyun mengetukkan jarinya pada meja.

"Kalian benar-benar gila." Sehun menggelengkan kepalanya berkali-kali dan menatap satu-satu wajah Chanyeol dan Baekhyun. "Bagaimana kalau kalian saling jatuh cinta dan tidak bisa melepaskan satu sama lain hah?"

"Untuk itu salah satu dari kami harus mengundurkan diri dan pergi dari Korea untuk selama-lamanya." Baekhyun menjawab lebih dulu sebelum Chanyeol membuka suara.

"Kau yakin bisa melakukannya?" Sehun bertanya lagi.

"Tentu saja, itu hal mudah untuk dilakukan. Pergi dan menghilang." Baekhyun tersenyum kecil.

"Bagaimana denganmu?" Sehun kini bertanya pada Chanyeol yang sedari tadi diam memperhatikan Baekhyun.

"Semua itu mudah dilakukan." Chanyeol menjawab, dan hanya Sehun yang bisa jelas mendengar adanya keraguan dari suara Chanyeol.

"Mudah bukan, pergi dan menghilang." Chanyeol mengedipkan matanya.

"Ha-ha-ha." Sehun tertawa kering.

"Buatkan saja perjanjian itu." Baekhyun menunjuk kearah Sehun dan segera berkemas setelah melihat kearah jam yang berada ditangannya. "Aku ada meeting sore ini, kabari aku bila kau sudah selesai." Baekhyun beranjak dan memberikan kecupan pada pipi Chanyeol sebelum ia melangkah keluar dari ruangan Sehun.

Sedangkan setelahnya Sehun dan Chanyeol saling bertatapan dalam diam.

"Segera buatkan, dan kabari aku bila sudah selesai dan siap ditanda tangani." Chanyeol berdiri dan mengancingkan jas hitamnya, sebelum ia melangkah ke pintu ruangan itu tangannya menepuk bahu Sehun sebentar dan kemudian segera berjalan.

"Kau akan mempertahankannya kan?"

Chanyeol menghentikkan langkahnya dan terdiam sebentar. "Berdoa saja aku bisa melakukannya."

"Aku tahu Hyung, aku sudah tahu yang sebenarnya ten—

"Kabari aku segera." Chanyeol memotong dan melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan Sehun, meninggalkan sosok itu yang masih dipenuhi pertanyaan mengenai segala perjanjian dan segala rahasia diantara mereka berdua.


e)(o

Dangerous Romance