"Bisa-bisanya mereka menjulukimu 'Three second-man'."
"Memangnya kenapa?"
"Apa istimewanya menatapmu dalam tiga detik? Aku sudah terbiasa melihatmu dari pagi hingga pagi, tidak terjadi apapun, bahkan tidak ada yang membuatku memiliki perasaan padamu."
Chanyeol tertawa mendengar bagaimana Baekhyun masih menceramahi mengenai sebutan bagi dirinya yang dibuat oleh beberapa wanita di lingkungan kampusnya yang mana pernah mengalami kencan one-night-stand bersamanya.
"Itu berbeda Baek.. aku tidak pernah mencoba tatapan mautku itu padamu." Chanyeol menjawab dan masih melakukan lemparan pada pada papan dart yang ada didalam kamar mereka.
"Oh? Berarti kau harus mencobanya padaku biar bisa aku jelaskan pada mereka semua bahwa tatapan itu hanya sebatas bualan mereka saja."
"Akan aku coba."
"Sekarang?"
"Suatu saat."
"Kenapa tidak sekarang?" Baekhyun masih menuntut jawaban dari Chanyeol.
"Tidak bisa."
"Kenapa?"
"Aku tidak mau melakukannya."
Baekhyun tidak menyahut lagi tapi melemparkan bantal yang ada didekatnya dengan cukup kasar, Chanyeol hanya mengaduh sebentar dan masih mengabaikan gadis itu dengan kembali bermain melemparkan panahnya ke papan dart.
"Kemarin aku didatangi oleh wanita bernama Jessica, ia datang ke kelasku dan langsung mendorong badanku ketembok dengan kasarnya."
Chanyeol terdiam mendengar Baekhyun yang mulai bercerita penyerangan terhadap gadis itu yang selalu dilakukan oleh para wanita yang telah ia tolak.
Dan kali ini ia tidak bisa hanya dengan memberi peringatan pada semua mantan wanitanya untuk menjauhi Baekhyun, ia harus melakukan sesuatu hal lain.
"..aku sudah mengatakan bahwa kau memang tidak tertarik menjalin hubungan, dan dia malah semakin berteriak didepan wajahku. Huaaaa sungguh menyeramkan." Baekhyun masih terus mengoceh sambil membenahi beberapa pakaiannya yang telah disetrika. "Oh! Bahkan ia berteriak memberiku ancaman bila melihatku denganmu berada didekatnya. Hii dia aneh." Baekhyun bergedik ngeri.
"Dia mengatakan itu padamu?"
"Hm. Tanyakkan saja pada Irene, ia mendengar semuanya. Bahkan ia dan Suzy sudah berniat untuk menjambak rambut Miss J itu."
"Kenapa tidak mereka lakukan?"
"Molla.." Baekhyun menggelengkan kepala.
"Aku akan menemui Jessica dan memberinya peringatan." Chanyeol duduk di ranjang Baekhyun dan kemudian merebahkan kepalanya pada pangkuan gadis itu.
"Kenapa kau itu bodoh sekali sih." Chanyeol mengernyitkan alisnya mendengar dengan jelas bahwa ia dikatakan bodoh oleh Baekhyun. Tangannya bergerak untuk sedikit menjawil ujung hidung gadis itu dan seketika ia mendapatkan tepukan pada keningnya. "Tanganmu Tuan!" Baekhyun memprotest.
"Kenapa kau mengataiku bodoh hah?" Chanyeol menuntut jawaban.
"Tentu saja kau bodoh, bisa-bisanya berhubungan dengan para wanita gila itu." Baekhyun melanjutkan dengan nada ketus, Chanyeol yang melihat jelas dari bawah wajah Baekhyun tidak memperdulikan ucapannya dan masih terfokus melihat bagaimana setiap perubahan raut wajah itu yang berganti-ganti sesuai dengan emosi yang disalurkan.
"… kenapa pula kau mau meniduri mereka dan menjadi laki-laki yang merenggut keperawa—
"Jangan dilanjutkan. Kau masih kecil!" Chanyeol menahan bibir Baekhyun dengan tangannya. "Dan aku melakukannya karena mereka memang sudah sering berhubungan banyak pria Baek. Ketahuilah nafsuku tidak bisa ku tahan setiap saat bila berada—Kini Chanyeol yang menahan kalimatnya sendiri. Sedangkan Baekhyun masih memperhatikan pria dipangkuannya itu dan menunggu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Kenapa tidak dilanjutkan.." Baekhyun akhirnya mengingatkan karena melihat Chanyeol yang masih menatapnya dan tidak bersuara sedikit pun.
Chanyeol hanya menggelengkan kepala dan memejamkan matanya. "Kau tidak akan mengerti bila ku jelaskan jadi percuma saja, sudah aku mau tidur."
Baekhyun menggurutu dan akhirnya menggeser kepala Chanyeol dari pangkuannya, tapi sayangnya kepala Chanyeol cukup berat untuk ia angkat. Bahkan segala umpatan yang ia katakan tidak diperdulikan karena Chanyeol benar-benar lelap dalam tidurnya dengan menjadikan paha Baekhyun bantalnya.
e)(o
Dangerous Romance
Chapter 4
Bunyi alarm yang dengan melodi yang cukup keras itu tidak cukup untuk menghentikkan kegiatan dua anak Adam dan Hawa yang masih bergelung dibalik selimut tebal, atau bisa dibilang mereka tengah making out dibalik selimut itu.
Sang pria yang menjadi dominan sudah mengecap hampir keseluruhan badan si mungil, desahan dan geliat badannya menuntut sang dominan untuk melakukan hal lebih padanya. Ciuman panas yang mereka lakukan sebelumnya kian memanas, tangan sang dominan bergerak menyentuh bagian sensitive si mungil yang dengan baiknya mengarahkan tangan itu kebagian yang ia inginkan, kedua buah bagian sintalnya menjadi kunjungan pertama untuk tangan sang dominan.
"Eumm.. Cium aku." Desahan dan perintah si mungil dituruti dengan baik.
Sementara bibirnya masih memberikan gerakan melumat di bibir tipis si mungil, tangannya ikut bekerja dengan memberikan remasan pada bagian sintal itu bahkan kini tangan si mungil yang sebelumnya menahan wajahnya untuk terus memberikan ciuman sudah berjalan ke punggung sang dominan yang sudah bertelanjang dada. Tangannya meremas punggung itu dan memberikan sentuhan lembut.
"Jangan main-main denganku Baek." Sang dominan memberikan peringatan dan hanya dibalas kekehan kecil sebelum si mungil menuntut sebuah ciuman lagi.
Ciuman berlanjut, remasan berlanjut dan kini sang dominan menunggu saat yang tepat untuk memberikan ciuman pada leher dan bahu si mungil yang begitu menggoda untuk ia sesapi. Setelah tangannya bermain dengan kedua bagian sintal itu, salah satu tangannya bergerak turun untuk memberikan sentuhan pada perut rata si mungil dan tentunya menyapa keadaan bagian intim dibawah sana yang sudah ia rasa sedikit lembab.
Tangannya membelai sedikit dan itu berhasil membuat si mungil melepaskan ciumannya karena mendesah pelan. Dan artinya ia bisa melanjutkan cumbuannya yang lain.
Bibirnya bergerak menjilati leher dan bahu si mungil, tangannya mulai melepaskan kain segitiga yang menutupi bagian yang akan ia berikan kenikmatan.
"Chanss.. kita ada meeting!" si mungil memperingati.
Sang dominan masih mencumbuinya dan sebelum ia memberikan ciuman pada puting bagian sintalnya ia berbisik di bagian dadanya. "Meeting bisa ditunda." Dan selanjutnya bibirnya melahap habis bagian sintalnya sementara si mungil menahan rasa getar pada tubuhnya karena pekerjaan sang dominan yang membuat paginya terasa panas.
Permainan kembali dilanjutkan, sang dominan benar-benar menguasi seluruh badan si mungil yang hanya bisa memohon dan mendesah karenanya. Bagaimana bibir tebal yang biasa memberikan ciuman itu kini sudah mengecupi seluruh bagian tubuhnya, lidahnya yang panas dan basah bergerak dari leher, dada, perut hingga ke bagian intimnya. Teriakan peringatan akan waktu yang terus terbuang karena kegiatan mereka tidak dipedulikan sang dominan, bahkan kini dirinya tengah bersiap memberikan kenikmatan pada bagian intim si mungil yang baru saja terbanjiri kenikmatan karena ulah jari-jari nakalnya yang bergerak pada ujung sensitivenya.
"Aaaaahh…" reaksi pertama dari si mungil terdengar saat lidah Chanyeol bergerak menjilat dibawah sana. "Chanyeol…" terdengar lagi dengan memanggil nama sang dominan saat kedua tangan bersar itu meremas kedua bagian sintalnya sementara lidahnya masih memberikan kenikmatan dibawah sana. Kaki si mungil memberontak, tangannya bahkan meremas surai hitam sang dominan tapi tetap menekan untuk semakin bekerja dibawah sana.
Badannya bergerak tak menentu saat lidah panas itu bergerak membuat lingkaran dan menjilati bagian kecil yang begitu sensitivenya, punggungnya terangkat sementara kakinya semakin melingkar dan menekan pada punggung sang dominan.
Suara desahan yang tertahan sudah tak habis-habisnya disuarakan oleh si mungil, jeritan kenikmatan yang ia berikan malah semakin membuat semangat sang dominan untuk terus melakukan hal yang sama hingga cairan kenikmatan itu kembali keluar dan membasahi bagian intim si mungil.
Dan saat sentuhan terakhirnya berhasil merangsang seluruh saraf seksualitas si mungil, surai rambutnya menjadi sasaran tebaik untuk menjadi pelampiasan, jambakan dan juga cakaran ia anggap sebagai hadiah lain karena berhasil membuat si mungil yang masih memburu nafas setelah pelepasan kenikmatan kedua kalinya.
Bahkan jari tangannya yang lentik menjambak rambutnya sendiri dan malah membuat kesan seksi untuk dilihat sang dominan.
Walaupun masih dalam waktu pengaturan nafas, saat sang dominan menuntut sebuah ciuman terakhir, si mungil tersenyum dan menciumi kembali bibir tebal yang basah itu dan kembali memberikan rangkulan pada lehernya, ciuman panas, basah, dan juga berisik karena beberapa kali terdengar bunyi peperangan lidah didalam sana.
"Jangan pernah menggodaku diam-diam.." Sang dominan berbisik di sela-sela ciuman mereka sementara si mungil terkekeh menikmati.
"Aku tidak menggoda. Aku hanya membangunkanmu."
"Dengan menciumi badanku?"
"Hm hm." si mungil menjawab asal dan meminta ciuman lagi dan kini ia membalikkan posisi untuk bisa duduk pada pangkuan sang dominan dimana ia bisa merasakan otot kencang pada perut sang dominan dan juga bagian intimnya yang sedikit mengeras yang berada tepat pada bagain intimnya yang masih basah karena cairan kenikmatan.
"Apa kabar bagian yang ini?" Si mungil mulai nakal dan sedikit begerak memberikan gesekan hingga ia merasakan pergerakan pada batang yang mengeras itu.
"Baekhyun.." sang dominan menyebut namanya dengan suara lirih dan matanya yang terpejam.
"Hm.." bibir si mungil mengikuti apa yang dilakukan bibir sang dominan pada badan miliknya tadi. Menciumi dan menjilat seluruh bagian tubuh atasnya, lehernya yang terlihat menegang menjadi sasaran utama untuk ia ciumi, dadanya yang bidang ia belai dengan jari-jari lentiknya dan kemudian turun untuk menyapa bagian intim sang dominan yang sudah berdiri tegang.
"Baek—aaaahh."
Larangan sang dominan tidak diindahkan karena tangan sang mungil yang sebelumnya memegang batang kerasnya kini sudah berganti dengan kehangatan dalam mulut kecil si mungil. Sang dominan mengerang dengan kepalanya yang ia dongakkan kebelakang mendapati kenikmatan yang berjuta-juta lebih nikmat karena si mungil menjilati dan mengulum batang kebanggaanya.
Entah siapa yang mengajarkan si mungil nakal ini untuk bisa memberikan kenikmatan yang sungguh tepat baginya, Chanyeol tidak peduli karena apa yang dilakukan Baekhyun benar-benar membuat kejantanannya itu mendapatkan kenikmatan yang luar biasa. Tangannya bergerak merapikan surai rambut si mungil dan menekan sedikit kepalanya untuk semakin masuk kedalam mulut si mungil.
"Baek-hyun.. stop.." Chanyeol memperingati saat ia merasakan penuh dan akan meledakkan cairan kenikmatannya tapi si mungil masih terus memompa dan menjilati miliknya.
"Baekhyun.. stop please.." Chanyeol memohon lagi dan hendak menarik si mungil, namun kembali tidak diindahkan karena kini kejantanannya kembali masuk kedalam rongga mulut si mungil sementara jari lentiknya bermain dengan dua bola kembar yang berada di dekat batangnya. Hingga beberapa detik kemudian Chanyeol meledakkan cairan itu keluar kedalam mulut si mungil, tangannya meremas rambut Baekhyun dan membiarkan mulutnya menelan habis cairan miliknya.
"Um.. hoek—"
Si mungil berlari menuju kamar mandi dengan cepat dan berakhir memuntahkan segala cairan yang hampir tertelan olehnya.
Chanyeol merapikan sedikit kekacauan pada dirinya dan kemudian menyusul Baekhyun yang masih berjongkok didepan toilet untuk memuntahkan cairan itu. Tangannya membantu memijat leher belakang Baekhyun guna memberikan dorongan untuk bisa memuntahkan cairan itu.
"Rasanya aneh." Baekhyun merengek dan meminta pelukan dari Chanyeol tak lama setelah ia sudah merasa lebih baik.
"Sudah kuperingatkan bukan?" Chanyeol membersihkan mulut dan pipi Baekhyun dengan tangannya dan kemudian menciumi bibir itu untuk menghilangkan rasa jijik yang masih tersisa.
"Jangan pernah melakukannya pada siapapun." Chanyeol memberikan peringatan.
Baekhyun mengangguk dan membalas ciuman Chanyeol.
"Kau milikku." Ia berbisik di sela-sela ciuman mereka dan kemudian melumat bibir tebal Chanyeol, dan entah berapa kali ia membisikkan kalimat itu hingga Chanyeol tersenyum dalam ciuman mereka yang begitu dalam.
"Aku milikmu."
Dangerous Romance
Biasanya pagi ini suasana kantor Park Inc sudah dipenuhi suasana tegang karena berbagai meeting dan suara tegas dari COO mereka yang selalu terdengar berada di seluruh ruangan. Tapi tidak untuk hari ini.
Memasuki pukul sepuluh pagi belum ada tanda-tanda kedatangan dari dua bos besar mereka dan itu berarti menjadi waktu yang damai bagi siapapun di kantor itu. Tidak ada pertanyaan mengenai segala perkembangan, tidak ada wajah tegang saat nama mereka dipanggil, tidak ada bunyi gebrakan meja dan juga tidak ada kertas-kertas yang dibuang didepan wajah siapun bila sang Little Devil COO—Byun Baekhyun marah.
Dan kedamaian pagi ini dimanfaatkan Kim Jongin untuk menyapa pacarnya yang menjadi sekretaris sang Little Devil COO, Do Kyungsoo.
"Hai Kyungiee.." Jongin memanggil dengan manja.
"Mau apa kau." Jawaban yang didapat dari Kyungsoo adalah singkat dengan nada ketus pada kalimatnya.
"Hanya menyapa saja, menikmati pagi yang tenang dan damai ini karena sahabatmu itu belum tiba." Jongin kembali menjelaskan dan kini ia sudah bersandar pada meja Kyungsoo.
"Dia sudah dalam perjalanan ke kantor, Jong." Suara lain menyahut. Dan itu adalah Minseok, yang menjadi sekretaris CEO Park Inc—Park Chanyeol.
"Aaahh.. aku kira dia tidak akan datang." Jongin menghela nafas sedih.
"Itu hal yang mustahil, karena jadwal yang ia miliki cukup padat hari ini." Kyungsoo ikut bersuara meskipun tangannya masih bergerak cepat di keyboard sedangkan pandangannya terarah pada layar komputernya.
"Oh! Apa malam ini Jongdae ikut berkumpul?" Minseok menanyakkan kearah Jongin, dan baru saja Jongin akan menjelaskan bunyi telepon dari meja Minseok membuatnya menahan suaranya.
"Park Inc."
"…"
"Oh, hai Sehun."
"…"
"Tidak, dia belum datang ke kantor, mungkin sebentar lagi."
"…"
"Ya, Baekhyun juga belum tiba. Mereka masih dalam perjalanan. Ada pesan yang ingin disampaikan?"
"…"
"Hm, baiklah. See you."
Minseok meletakkan teleponnya dan memandang Jongin serta Kyungsoo yang tengah menatap kearahnya dengan begitu serius.
"Kenapa dengan kalian?"
"Oh Sehun baru saja menelepon?" Kyungsoo bersuara lebih dulu dan Minseok menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Kenapa? Apa yang terjadi?" Minseok mencoba memahami dengan perilaku Jongin dan Kyungsoo yang menatap dirinya dengan begitu serius.
Baru saja Jongin akan menjelaskan, langkah kaki dan bunyi ujung heels yang beradu dengan lantai membuatnya terdiam apa lagi saat ia menoleh kesamping dirinya, Baekhyun sudah berdiri disana dengan kedua tangannya yang menyilang di depan dada.
"Sedang apa kau disini?" Baekhyun menatapnya tajam dengan suara ketusnya.
"H-hai Baek." Jongin menyapa. "Aku akan kembali.." Jongin segera keluar dari ruangan itu dengan cepat tanpa berniat menoleh sedikitpun. Kyungsoo dan Minseok hanya bisa menahan tawa dan kembali pada kerjaan mereka lagi, Baekhyun tersenyum sebentar dan melangkah masuk kedalam ruanagnnya.
"Oh Baek." Minseok tak lama menyusul Baekhyun masuk kedalam ruangan.
"Hm, ada apa?"
"Apa Chanyeol tidak ke kantor?"
"Dia mengatakan setelah makan siang baru datang. Kenapa?"
"Sehun menelepon dan menanyakkan jadwalnya hari ini."
"Oh. Aku akan memberi tahu Chanyeol mengenai itu." Baekhyun dengan cepat mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan mengetikkan pesan dengan cepat setelah menemukan nama Chanyeol pada kontaknya.
To : Sexy-Hot Park Chan (love)
Kau sudah sampai? Aku sudah di ruangan.
Sehun mencarimu, ia menanyakkan jadwalmu hari ini.
Be safe.
love.
B
Baekhyun tersenyum setelahnya dan mulai memeriksa satu persatu dokumen yang sudah menumpuk di mejanya.
Saatnya bekerja.
Dangerous Romance
Berbeda dengan Baekhyun yang sudah memulai mengurusi segala pekerjaannya di kantor, Chanyeol kini masih duduk santai di sebuah coffe shop dengan tanganya yang memegang cangkir kopi berisikan Americano Coffe yang selalu menjadi minuman favoritnya. Tangannya memegang ponsel miliknya dan tengah membaca sebuah pesan yang sedari tadi ia pandangi dengan senyumnya yang terukir sempurna di wajahnya.
Setelah puas menyesapi kopi itu dan memandangi kotak pesannya, ia mulai mengetikkan pesan balasan pada sang pengirim.
To : Beauty Bee
Aku masih ada meeting.
Aku akan menelepon Sehun untuk menanyakkannya.
selamat bekerja!
Love, C
Senyumnya masih berada di wajahnya dengan pandangan terarah pada layar ponselnya hingga ia tidak menyadari sosok yang ia tunggu kedatangannya sudah berada di hadapannya.
"Aku rasa ponsel milikmu itu lebih menarik dibandingkan pertemuan kita ini." Suara manis terdengar dari wanita dihadapannya, bahkan berhasil membuat benda persegi panjang itu terlepas dari pegangannya.
"Tak bisakah kau datang dengan sedikit pemberitahuan?"
"Aku sudah memanggil namamu berulang kali Tuan Park! Tapi sepertinya matamu tidak bisa dialihkan oleh kehadiranku." Wanita itu merajuk dan kini duduk dengan kedua tangan yang memangku wajahnya.
Chanyeol tersenyum dan mengusak rambut wanita itu. "Bisa kita lanjutkan pembahasannya Nona Kang."—Kang Seulgi, wanita yang berada dihadapannya tersenyum dan memulai topik pembicaraan yang menjadi alasan pertemuan mereka hari ini.
Dangerous Romance
Jam makan siang menjadi sebuah waktu yang sangat berharga bagi setiap karyawan kantor, bagaimana tidak. Waktu yang diberikan kurang lebih satu jam dan itu sungguh berarti karena dalam satu jam itu mereka bisa mempergunakkannya untuk menyantap makan siang, sedikit mengobrol dan juga memejamkan mata yang terasa pegal karena hampir empat jam fokus menatap layar.
Keuntungan bagi karyawan Park Inc, mereka tidak perlu mengantri makanan atau pun berjalan jauh hanya untuk makan siang, kantin yang disediakan pada lantai 9 di gedung itu sudah disiapkan menjadi Lounge yang menyediakan makan siang prasmanan dengan menu yang berganti tiap harinya, cemilan untuk melepas penat dan juga berbagai minuman untuk memuaskan dahaga tersedia dengan berbagai macam. Tak lupa salah satu ruangan tersedia bagi mereka yang memilih untuk menikmati tidur siang dibandingkan menyantap makanan.
Sementara saat ini Kyungsoo dan Minseok yang masih berada di lantai tempat mereka bekerja melangkah dan membuka pintu ruangan Baekhyun, "Baek kau tidak turun?"
Baekhyun mendongakkan kepalanya dan menatap mereka berdua. "Aku rasa aku akan menunda makan siangku hari ini."
"Kau yakin?"
"Di kulkas masih ada persediaan susu strawberry, kau mau aku ambilkan?" Minseok menawarkan.
"No-no-no! Aku akan menghindari susu dan cairan-cairan kental lainnya untuk sementara waktu." Baekhyun menggelengkan kepalanya, tanganya dilayangkan kearah Minseok dan Kyungsoo yang kini nampak bingung karena untuk pertama kalinya seorang Byun Baekhyun menolak susu strawberry.
"Kau baik-baik saja kan?"
"Hm, aku hanya sedang tidak ingin meminum cairan putih, kental dan sedikit—
Baekhyun bergedik dan mulai merasa mual kembali. Sementara Kyungsoo dan Minseok saling menatap dan kemudian pamit undur diri untuk pergi ke kantin mereka meninggalkan Baekhyun yang masih merasa mual mengingat kejadian di pagi hari.
"Chanyeol!" Kyungsoo menyapa lebih dulu saat melihat bos nya itu keluar dari lift vip dengan salah satu tangannya yang dimasukkan kedalam celana dan tangannya yang lain membawa satu paper bag.
"O-oh, kalian akan makan siang?"
"Hum, kami baru akan turun. Oh iya, Baekhyun sepertinya kurang enak badan. Dia masih berada di dalam ruangannya dan menolak untuk ikut makan." Minseok menjelaskan sambil menunjuk ruangan Baekhyun yang tertutup rapat.
"Ah. Aku mengerti. Selamat makan untuk kalian." Chanyeol menepuk bahu Minseok dan melangkah cepat menuju ruangan Baekhyun, sedangkan Kyungsoo dan Minseok segera masuk kedalam lift dan kembali pada topik pembicaraan mereka yang sedang membicarakan pasangan masing-masing.
Chanyeol mengintip sekilas keadaan didalam ruangan Baekhyun, dimana sosok mungil kesayangannya itu bersandar pada kursi kerjanya dengan mata terpejam dan tangannya yang memijit kedua keningnya. Senyum kembali terukir pada wajah Chanyeol sebelum ia masuk kedalam ruangan itu dan tanpa ketukan atau ucapan permisi, ia melangkah masuk kedalam dan langsung membelai wajah si mungil.
"Kau mengagetkanku." Baekhyun hampir meloncat dari duduknya mendapati Chanyeol sudah berada didekatnya.
"Kenapa teleponku diabaikan?" Chanyeol mulai menginterogasi sementara Baekhyun memajukan kursi kerjanya dan memeluk Chanyeol yang bersandar di mejanya.
"Aku sibuk Tuan Park, tak bisakah kau lihat dokumen yang harus aku periksa sebanyak apa." Baekhyun berbicara dengan kesal tapi menurut Chanyeol itu seperti Baekhyun tengah merajuk padanya karena terlalu banyak yang ia kerjakan.
"Hingga membuatmu tak ikut makan siang?" Chanyeol kembali lagi bertanya dan dirinya masih menciumi kepala Baekhyun berkali-kali.
"Aku masih mual." Suara Baekhyun mengecil dan Chanyeol terkekeh setelahnya.
"Chanyeol?" Baekhyun memanggil namanya dengan suara manja.
"Hm? Kenapa sweetheart."
"Apa aku bisa hamil karena menelan spermamu?" Pertanyaan yang ditanyakkan itu sontak membuat Chanyeol terbahak dengan keras dan tak jarang ia memukul meja kerja Baekhyun karena mendengar pertanyaan polos yang keluar dari seorang Byun Baekhyun.
"Ih aku serius bertanya!" Baekhyun mendorong badan Chanyeol dan ia memilih melangkah pergi mengambil minum dan duduk pada sofa, Chanyeol masih menahan tawanya sebentar dan kemudian menyusul Baekhyun yang sudah memasang wajah kesal.
"Maafkan aku." Chanyeol berdeham sebentar dan menghentikkan tawanya. "Aku membawakanmu sandwich tuna dan salad tanpa mayo." Chanyeol menunjukkan paper bag yang ia bawa dan mengeluarkan satu per satu makan siang yang sengaja ia belikan untuk Baekhyun sebelum tiba di kantor dan seperti perkiraan Chanyeol.
Mata Baekhyun bergerak tertarik untuk melihat makanan apa saja yang Chanyeol sudah belikan.
Chanyeol mulai mengeluarkan berbagai bekal yang ia bawa, sandwich tuna dari kedai makanan yang memang sudah menjadi langganan Baekhyun setiap saat masih terbungkus hangat, Caesar salad dengan tambahan potongan daging sapi masih terlihat segar dan juga perasan jeruk lemon masih sangat menyengat dan membuat siapa saja yang mencium aromanya akan melahap habis makanan itu seketika.
"Dan kau tidak akan hamil hanya karena menelan sp—
"Stop." Baekhyun menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya.
Chanyeol terkekeh. "Makanlah."
Chanyeol menyodorkan semuanya itu dan mengusak rambut Baekhyun, tapi si mungil masih merajuk dan duduk bersandar dengan tangannya yang menyilang di depan dada. Begitu juga kakinya yang ikut menyilang dan memperlihatkan kaki kecilnya yang mulus.
Chanyeol tidak tinggal diam, ia mengambil sumpit makan itu untuk mengambil beberapa potongan daging dan sayuran salad dan kemudian diarahkan pada mulut Baekhyun. Dan dalam sekali gerakan si mungil langsung melahap suapan makanannya itu dan tersenyum menang.
"Kau memang paling mengerti."
"Habiskan dulu makananmu baru bicara." Chanyeol memberikan satu pukulan pelan pada kepala Baekhyun dan mulai bersiap memberikan suapan lainnya.
"Kau tidak makan?"
"Aku sudah makan sebelum tiba di kantor."
"Makan siang dimana?" Baekhyun bertanya kembali sebelum melahap suapan Chanyeol.
"Aku makan di kedai Bibi Yoo saat memesan sandwich untukmu." Chanyeol menjawab dengan santai dan tangannya membersihkan sedikit saus lemon yang berada di ujung bibir Baekhyun, sedangkan sosok mungil yang sedari tadi bertanya hanya menganggukkan kepala menerima jawaban yang diberikan.
"Kau makan sendiri?"
Kembali Baekhyun bertanya. Chanyeol masih menyodorkan potongan sandwich itu kedepan mulutnya dan tersenyum kecil, tangannya meletakkan kembali potongan itu dan meraup wajah Baekhyun untuk menatap kearahnya, ia memperhatikan bagaimana Baekhyun masih mengunyah sedikit makanan di dalam mulutnya namun mata puppy nya menatap Chanyeol menunggu jawaban dari pertanyaan terakhir yang ia tanyakkan.
"Aku makan di kedai Bibi Yoo. Sendirian, aku menikmati sandwich kalkunku seorang diri dan juga segelas air lemon hingga akhirnya Bibi Yoo menanyakkan kenapa aku tidak mengajak seorang Byun Baekhyun yang begitu cerewet untuk makan bersama. Jawaban yang bisa kuberikan padanya adalah seorang Byun Baekhyun terlalu sibuk hingga mengabaikan teleponku dan tidak membalas satu pun pesan yang kukirimkan. Setelah itu aku mengatakan pada Bibi Yoo untuk membuatkan sandwich tuna dan salad untukmu. Sudah puas?"
Baekhyun sedari tadi mendengarkan dan melihat langsung bagaimana manik tajam milik Chanyeol menjelaskan dengan jujur tentang hal yang ia lakukan.
Dan itu berhasil membuat Baekhyun seakan-akan susah menelan masuk makanannya.
"Masih ada yang mengganjal di pikiranmu?" Chanyeol kembali bertanya dan si mungil hanya bisa menggelengkan kepala sambil membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Chanyeol. Tapi yang dilakukan Chanyeol adalah melahap mulut itu untuk merasakan kembali ciuman dari bibir tipis manis milik Baekhyun yang sudah ia rindukan sedari tadi.
Ciuman itu tentu didominasi oleh Chanyeol dan Baekhyun akan menjadi pihak penikmat yang pasrah akan apapun yang dilakukan Chanyeol. Lumatan, gigitan, ataupun lidahnya yang menyapu dalam rongga mulutnya akan dinikmati oleh Baekhyun tanpa penolakan hingga dirinya kehabisan nafas karena ciuman mereka.
Chanyeol terkekeh melihat Baekhyun yang berusahan mengambil nafas sebanyak-banyaknya ditambah bibirnya yang sudah menebal serta wajahnya yang memerah membuat Chanyeol gemas melihatnya. Tangannya mengusak rambut Baekhyun dan mencubit pipi mochi itu sebelum memintanya menghabiskan makan siangnya.
"K-kau mau kemana?" Baekhyun menahan tangan Chanyeol yang sudah beranjak berdiri dari duduknya.
"Aku ada meeting dengan Yoora dan Ayah di SM." Chanyeol menjawab dan mengelus punggung tangan Baekhyun.
"Kau tidak akan kembali ke kantor?"
"Sepertinya tidak. Aku akan makan malam dengan mereka, kau mau ikut? Aku bisa menjemputmu dulu nanti."
Baekhyun menggeleng. "Aku sudah ada janji dengan Kyungsoo dan yang lain nanti malam."
"A-ah, aku ingat. Jangan minum soju atau alcohol lainnya." Chanyeol mengingatkan dan setelah itu ia mencium kembali bibir Baekhyun sebelum benar-benar melangkah pergi tanpa mendengar gumaman kekesalan Baekhyun yang melihatnya pergi.
Aku ingin ikut.
Dangerous Romance
Kim Jongin, Kim Jongdae adalah saudara sepupu dari keluarga Kim yang mana mereka sudah mengenal Chanyeol dan Baekhyun sejak mereka berada dalam satu sekolah menengah bersama. Begitu juga Do Kyungsoo, wanita bermata bulat dan memiliki tinggi badan yang sama dengan Baekhyun sudah bersahabat sejak kelas 11. Sementara Minseok baru bergabung dan berteman dengan mereka setelah ia diterima bekerja sebagai Sekretaris seorang Park Chanyeol.
Seperti rutinitas yang selalu mereka adakan di setiap bulan setelah hari gajian bulanan, mereka akan berkumpul dalam satu tempat dan saling menghabiskan waktu bersama. Melupakan urusan pekerjaan ataupun status dalam kantor. Dan malam ini mereka memilih tempat Lounge semi Club yang baru saja buka di daerah Gagnam, XO Club.
Kyungsoo, Minseok dan Baekhyun baru saja masuk melewati pintu utama dan segera melangkah ketempat mereka yang sebelumnya telah dibooking oleh Minseok jauh-jauh hari. Jongin dan Jongdae harus menunda keberangkatan karena Chanyeol tiba-tiba menghubungi dan meminta sebuah data penting untuk dilaporkan pada Yoora dan Ayahnya.
"Mereka pasti tengah menggurutu tak henti-hentinya." Kyungsoo berucap dan membayangkan wajah kekasihnya itu yang sudah ia yakini akan sangat kesal karena permintaan Chanyeol.
Baekhyun ikut menganggukkan kepala dan ikut meminum Lemon Squash yang ia pesan.
Sementara Minseok masih sibuk dengan ponselnya sambil mengetik cepat dengan jari-jarinya.
"Seharusnya Chanyeol bisa meminta Jongin dan Jongdae untuk mengerjakannya besok, aku juga tidak percaya ia meminta mereka menyiapkan data itu saat ini juga." Baekhyun berucap kembali dan menatap Kyungsoo dan Minseok yang kini tengah mendengarkannya.
"Apa kau bilang mereka akan ikut untuk berkumpul bersamamu?" Baekhyun mengangguk cepat dan mulai melahap hidangan kecil yang ada di mejanya.
"Kalau begitu sudah jelas."
"Apa? Apa yang sudah jelas?" Baekhyun bertanya kembali pada Minseok.
"Ck! Kau selalu tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana protectivenya seorang Park Chanyeol padamu Baek." Kyungsoo yang menyahut dan menepuk tangan Minseok yang sudah bersiap disebelahnya.
Baekhyun mengerjapkan matanya. Bingung
"Ma-maksud kalian?"
"Oh astaga! Byun Baekhyun! Otakmu terlalu banyak membaca buku Standford atau apa?" Kyungsoo masih bersemangat membodohi Baekhyun. "Kau tidak bisa melihatnya?" dan kesabaran Kyungsoo masih berlanjut.
"Melihat apa?" Kali ini Kyungsoo menyerah.
"Tidak kau lihat Chanyeol sangat protective padamu meskipun ia tahu kau akan pergi dengan Jongin ataupun Jongdae?" Minseok yang melanjutkan dengan suaranya yang lembut tidak seperti Kyungsoo yang sudah hampir berteriak.
"Oooohhh." Baekhyun menepuk tangannya. "Itu sudah biasa bukan, dia memang seperti itu."
"Kau anggap ini biasa?"
"Tentu saja." Baekhyun mengangguk. "Dia sudah biasa seperti itu, bahkan dari saat kita sekolah pun sudah seperti itu, benar kan Kyung?" Baekhyun menunjuk kearah Kyungsoo.
"Benar sekali." Kyungsoo menjawab dengan santai. "Bayangkan seorang Park Chanyeol menjadi yang pertama bagi segala hal untuk Byun Baekhyun." Kyungsoo masih menjelaskan sambil melahap cheese stick di tangannya. "Chanyeol adalah ciuman pertama Baekhyun, Chanyeol adalah orang pertama yang mengajak Baekhyun berkencan karena dia tidak mau seorang Byun Baekhyun dibawa kencan untuk pertama kalinya dengan pria brengsek—padahal dia juga salah satunya, Park Chanyeol yang menjadi orang pertama yang mengajak Baekhyun saat prom night sekolah dan Park Chanyeol-lah yang mungkin saja akan menjadi orang pertama yang melakukan seks dengan Byun Baekhyun."
"Benar."
"Ommo!" Minseok kaget mendengar jawaban Baekhyun sementara yang menjawab pertanyaan Kyungsoo kini sudah menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Tunggu. Kau sudah melakukannya dengan Chanyeol?" Kyungsoo bertanya lagi dan kini ia sudah berpindah posisi duduk disebelah Baekhyun.
Baekhyun mengerjapkan matanya berkali-kali dengan mulutnya yang masih ia tutupi dengan keduan tangannya.
"Jawab Baek." Kyungsoo memaksa.
"Ih! Aku belum melakukan dengannya, tapi mungkin sebentar lagi setelah—
"Perjanjian kalian?" Kyungsoo memotong. "Itulah alasannya kenapa kalian menemui Sehun kemarin dan kenapa tadi pagi Sehun menanyakkan dimana kalian berada." Mendengar apa yang Kyungsoo katakan berhasil membuat Baekhyun terdiam dan hanya mengerjapkan matanya berkali-kali. Bahkan tarikan pada sedotan pada gelas minumannya terhenti dan terlepas dari bibir tipis merah mudanya.
"Perjanjian?" Minseok bertanya.
"Yeah, perjanjian untuk tidak saling mencumbu dan making out or making love." Nada sinis jelas tedengar dari mulut Kyungsoo.
"Kalian benar-benar membuat perjanjian itu?" Minseok bertanya kearah Baekhyun.
Tidak ada yang menjawab dan memberikan penjelasan sedikit pun mengenai hal itu karena Baekhyun kini terdiam setelah menenggak habis minumannya.
"Tak bisakah kau jujur dan mengatakan bahwa kau mencintai Chanyeol, Baek?"
Baekhyun tersedak dan menyemburkan minumannya yang baru saja akan ia telan habis.
"YAAKK!" Minseok dan Baekhyun berteriak bersamaan, hanya saja Minseok berteriak karena tubuhnya yang terkena cipratan air sedangkan Baekhyun berteriak karena ucapan Kyungsoo yang terkadang harus di filter terlebih dahulu.
"Aku berkata benar bukan?"
"Tentu saja salah."
"Oh dimana letak salahnya?"
"Aku mencintai Chanyeol?" Baekhyun menatap tajam sahabatnya itu.
"Itu tidak salah Okey."
"Jelas salah!"
"Aniya. Jelaskan padaku dimana salahnya?" Kyungso melipat tangannya dan menatap tajam kearah Baekhyun kembali.
"Pokoknya aku memang tidak mencintainya!" Baekhyun bersikeras.
"Ya, katakan itu pada seseorang yang menjaga virginitasnya hanya untuk seorang Park Chanyeol."
"YAK! DO KYUNGSOOOO!"
Dangerous Romance
Baekhyun kembali ke apartemen mereka tanpa menunggu Chanyeol menjemputnya, adu pendapat antara dirinya dan Kyungsoo masih berlanjut hingga Jongin dan Jongdae tiba di Club itu, dan tak berapa lama Baekhyun memilih untuk pamit pulang mengingat besok dirinya akan ada jadwal pemotretan untuk majalah seperti yang disetujui oleh Pihak Jung kemarin.
Ia masuk kedalam apartemen dan memilih langsung masuk kedalam kamar Chanyeol yang masih kosong tapi menyimpan aroma mint dan vanilla yang selalu menjadi aroma favorit Baekhyun. Ia melepas mantel, sepatu dan melempar tas kerjanya secara asal dan langsung merebahkan badannya. Adu pendapat dengan Kyungsoo jelas berhasil membuat dirinya merasa dalam mood yang buruk malam ini.
Ia memeluk salah satu guling dan menarik selimut untuk menutupi badannya, berharap Chanyeol cepat pulang dan bisa menjadi pengganti untuk dipeluk.
"Chanyeol bagaimana rasanya ciuman pertamamu?"
Chanyeol kaget mendengar pertanyaan itu dan menggelengkan kepalanya. "Aku belum pernah mencium siapapun."
"Bohong."
"Aku berkata jujur Baek."
"Kau sungguh-sungguh jujur?"
"Apa aku pernah berbohong padamu?" Chanyeol menatap Baekhyun dengan tajam dan memperlihatkan manik matanya yang hitam, dan Baekhyun selalu tahu bahwa Chanyeol tidak pernah bisa berbohong padanya.
Saat itu adalah hari Valentine's day. Baekhyun seperti biasa akan menyiapkan cokelat untuk Chanyeol dan hanya untuk Chanyeol. Bahkan sepupu dan kakak laki-lakinya tidak akan mendapat jatah cokelat dari dirinya, semuanya hanya untuk Chanyeol. Sepulang sekolah seperti biasanya ia akan mengerjakan tugas bersama Chanyeol dan kemudian tidur siang bersama, tapi hari ini berbeda karena Baekhyun meminta Chanyeol untuk membuka bingkisan yang sudah ia siapkan. Cookies banana cokelat berukuran mini dan terdapat tulisan 'I LOVE YOU CHANYEOL' yang sangat jelas terlihat saat bingkisan itu dibuka.
"Apa aku harus memakan ini?" Chanyeol bertanya setelah membuka bingkisan itu.
"Tentu saja, kau harus memakannya dan memberikan balasan padaku saat White Day. Ingat, aku hanya menerima white chocolate." Baekhyun tersenyum dan mencium pipi Chanyeol.
"Tapi aku ingin menyimpannya."
"Kenapa kau tidak mau memakannya?" Baekhyun mulai berwajah sedih.
"Aku ingin menyimpannya karena baru kali ini kau menuliskan kata 'I love you' untukku."
Baekhyun tertawa dan kemudian memeluk Chanyeol. "Aku akan membuatkannya lagi nanti, sekarang kau harus makan cokelat itu."
"Kau harus pegang janjimu."
Baekhyun mengangguk dan memperhatikan bagaimana Chanyeol memakan cookies banana cokelat itu kedalam mulutnya, dan bagaimana perasaannya semakin senang karena sahabatnya itu sungguh menikmati hasil buatannya.
"Ini enak, kau harus mencobanya juga." Chanyeol menawarkan.
"Tidak, aku tidak begitu suka pisangnya." Baekhyun menggeleng dan menjauhkan tangan Chanyeol yang akan menyuapinya.
Tapi Baekhyun ingat, saat itu Chanyeol tetap membuatnya merasakan bagiamana rasa pisang dan cokelat menjadi satu berada dalam mulutnya, bahkan ia dengan jelas teringat bagiamana bibir tebal itu untuk pertama kali mencium bibirnya.
Manis.
Dan satu hal yang membuat Baekhyun menangis mengingat ingatannya saat masa sekolah itu, bagaimana dengan jelas dalam bisikan mereka berciuman kata I love you terucapkan.
e)(o
Dangerous Romance
