"Kapan kau akan membawanya kehadapan Ayah?"
"Aku akan membawanya, saat status kami sudah jelas Ayah."
"Geez. Selama ini kalian berdua yang membuatnya semakin tidak jelas." Yoora tertawa dengan suara mengejek.
"Cepatlah beranikan diri untuk mengatakan bahwa kau mencintainya. Apa susahnya hanya mengatakan itu dihadapannya, kalau dia menolak buat dia akan jatuh cinta padamu. Dan kalau dia menerimanya, cepatlah menikah."
"Aku pernah mengatakannya, dulu."
"Dulu dan sekarang itu berbeda." Yoora kembali menyahuti.
Dangerous Romance
"Bolehkah aku jujur padamu?"
Sehun menghentikkan gerakan tangannya pada lembar dokumen di hadapannya dan sedikit melirik kearah sosok Chanyeol yang masih memunggunginya menatap keluar jendela dimana rintikkan butiran putih terlihat turun dari langit.
"Aku sudah melanggar perjanjian itu sebelum dibuat." Chanyeol bersuara dan masih belum mau menengok ke belakang untuk sekedar melihat posisi Sehun yang tengah memperhatikannya dengan kedua tangannya tersikap di depan dada.
"Ucapanmu mengenai setiap perjanjian yang ada memang seharusnya dilanggar sepertinya memang betul adanya. Tapi dalam kasusku, aku membuat sebuah perjanjian yang memang benar-benar sudah kurencanakkan untuk aku langgar." Kekehan kecil terdengar di akhir kalimat dan setelah itu barulah Chanyeol membalikkan badannya, bersandar pada jendela dengan kedua tangannya masuk kedalam kantung celana.
Wajahnya menunduk memperhatikan gerak sepatunya yang ia lakukan sendiri.
Sehun terdiam memperhatikan Chanyeol, ia masih enggan berkomentar dan memutuskan untuk berjalan kearah meja barnya, membuka salah satu botol Whisky yang menjadi favoritenya dan juga membawa dua gelas berukuran kecil.
"Seperti yang kukatakan. Perjanjian dibuat hanya untuk dilanggar." Ia memberikan segelas untuk Chanyeol, gelas mereka beradu untuk melakuakn toast dan setelahnya isi cairan panas dengan kandungan alkohol itu habis hanya dalam sekali tenggak. "Dan dalam kasusmu." Sehun menunjukkan dan mengisi gelas kosong itu lagi. "Sudah kuperingatkan jauh-jauh waktu bukan? Jangan main-main dengan perasaanmu."
"Ini bukan mengenai perasaan, hanya saja semakin sulit menahan diri untuk tidak mencium Baekhyun atau tidak memeluknya." Chanyeol tersenyum sinis.
"Perasaanku padanya hanya sebatas ini, tidak bisa dilebihkan dan tidak bisa dikurangi."
"Perlu berapa kali ku beri bukti kalau kau memang mencintainya hah? Percayalah perasaanmu dan segala tingkah lakumu itu tidak bisa dikatakan sebagai sahabat yang saling mencintai." Suara Sehun mulai terdengar penuh kekesalan.
"Tidak. Aku memang mencintainya, sebagai sahabat, teman hidup dan juga.. hm.. soulmate mungkin."Chanyeol nampak berpikir disana.
"Kau mencintainya karena dia wanita yang kau cintai! Dasar bodoh!" Sehun menggelengkan kepalanya dan berjalan kearah rak bukunya dan segera tangannya bergerak mencari sesuatu yang ia inginkan. "Ah! Find it!" Sehun memekik senang dan berjalan kembali menghampiri Chanyeol yang masih berdiri di tempat yang sama dan sibuk menghabiskan botol Whisky yang ada di tangannya.
"Aku tahu kau memang pemain wanita yang bisa membuat mereka memohon untuk bercinta denganmu atau sekedar mengajakmu makan malam dan lain-lain. Tapi setelah melihat sikapmu dengan Baekhyun dan segala macam perjanjian yang kalian buat dan tentunya pelanggaran yang kau lakukan." Sehun menahan untuk melanjutkan kalimatnya, tangannya menyerahkan satu buah novel yang sudah terlihat kusam pada sampulnya dan juga kertas pada bagian dalamnya terlihat menguning.
"Pffftt!" Chanyeol tertawa dengan punggung tangannya menahan didepan bibirnya. "Kau memberiku novel?" Tangannya menunjuk novel yang masih Sehun pegang.
"Ya, aku memberimu novel ini. Apa kau mau novel Romeo and Juliet dalam bentuk aslinya? Tapi ku rasa otakmu belum mampu memahami setiap perkataan Romeo yang ditulis dalam buku itu melihat otakmu itu tidak bisa membedakan rasa cinta." Sehun memaksa Chanyeol menerima novel itu dan mengambil alih botol whisky yang ada ditangannya.
"Percayalah, terkadang kita pria juga butuh membaca referensi untuk bersikap sebagai pria yang romantis dan mengerti mengenai setiap perasaan yang kita rasakan pada seseorang." Sehun berucap dengan santainya di kursi kerjanya dan memilih untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Huaaa.. aku tidak mengira kau akan menjadi tipe pria romantis seperti ini." Chanyeol menggodanya.
"Diam! Aku berharap kau mau meluangkan waktumu untuk membaca novel itu. Dan untuk saat ini segera keluar dari ruanganku."
"Sudah kubilang aku akan menemanimu pulang. Jadi cepat selesaikan pekerjaanmu." Chanyeol akhirnya terduduk di sofa dan mulai membuka novel yang Sehun berikan, meskipun ia tidak membacanya dan hanya memainkan halaman-halaman kertas itu untuk bergerak dan menimbulkan suara.
"Have you lost your mind Park?! ini jam 3 pagi!" Sehun menutup pintu dengan kasar sedangkan Chanyeol sudah lebih dulu menyusup masuk, dengan pakaian kerja yang ia gunakkan dan juga koper kecil yang ia bawa. Sehun berpikir bahwa Chanyeol mungkin baru kembali setelah perjalanan bisnisnya atau mungkin hal lain, yang ia ingin tanyakkan adalah kenapa sosok itu mengusik ketenangan tidurnya untuk pertama kali.
"Apa cerita ini menyedihkan?" Chanyeol mengangkat novel yang sudah ia genggam sedari tadi kini ia perlihatkannya pada Sehun.
"Ha?" Sehun tercengang melihat novel yang berada di tangan Chanyeol.
"Novel ini memiliki akhir yang menyedihkan bukan? Apa mereka sempat berpacaran hah? Tunggu, mereka belum pernah bercinta sama sekali bukan?" Chanyeol berjalan mondar mandir dan membuka halaman per halaman, sedangkan Sehun yang masih memperhatikan Chanyeol mulai sedikit mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Chanyeol.
"Kau mengganggu jam tidurku hanya karena ingin membahas novel yang kuberikan padamu tiga tahun lalu? Seriously Park?" Sehun mendengus kesal dan memilih meninggalkan Chanyeol yang masih membuka halaman pada novel itu satu persatu. "Kau tahu dimana pintu keluar, dan kalau kau memutuskan menginap ku sarankan tidur di sofa karena tidak ada kamar tamu di apartemenku." Sehun melangkah kearah kamarnya.
"Mereka sudah jatuh cinta saat pertama kali bertemu kan?"
Sehun menahan tangannya untuk bergerak memegang knop pintu kamarnya.
"Dexter sudah mencintai Emma sejak malam itu bukan?"
Senyum terbentuk pada wajah Sehun. "Sudah kukatakan bukan, kau harus membaca novel itu hingga selesai, aku sudah lupa jalan ceritanya, terlalu banyak novel yang ku baca beberapa tahun terakhir ini."
"Mereka saling mencintaikan? Tapi tidak ada yang mengatakannya?"
"Sudah kubilang, aku lupa isi novel itu, hanya yang ku tahu memang berakhir sedih. Dan oh, mereka saling mencintai tapi tidak mengatakannya? Aku rasa aku kenal sosok itu." Sehun mengedipkan matanya dan masuk kedalam kamarnya tanpa memperdulikan Chanyeol yang masih termatung berdiri pada posisinya.
Dangerous Romance
Chapter 5
Sudah lima hari Baekhyun ditinggal oleh Chanyeol yang pergi ke Jepang untuk mengurusi sedikit pekerjaan disana, dan itu berarti Baekhyun sebagai pemimpin tertinggi saat ini yang mengurusi berbagai masalah dan kerjaan di Park Inc. Jika biasanya ia akan datang bersama Chanyeol yang menggenggam tangannya, untuk lima hari hari belakangan ini ia berjalan masuk kedalam gedung kantornya dengan wajah masam yang ditutupi dengan kaca mata hitam, jangan lupakan langkahnya yang berkesan memiliki emosi terpendam dan bisa saja dilontarkan pada siapapun yang mengganggunya.
Sama hal-nya yang terjadi pada meeting-meeting Internal yang sudah menjadi rutinitas untuk Top Level Management, biasanya Chanyeol yang berada di hadapannya dan selalu mengingatkan dirinya untuk bersabar dalam memberikan pendapat dan perintah untuk para direktur dan manajer, tapi saat ini dirinya yang masih dipenuhi emosi membiarkan Jongin dan Jongdae yang melanjutkan meeting itu dan memberikan kejelasan mengenai masalah yang ada.
"Lihatlah.. baru ditinggal lima hari dan kau terlihat sangat berantakan." Siapa lagi kalau bukan Kyungsoo, sang sekretaris yang selalu memberikan kritik pedas padanya. Baekhyun hanya mendengarkan dan masih merebahkan badannya di sofa dalam ruangan kerjanya.
"Sudah mengerti bagaimana arti Chanyeol dalam hidupmu?" kembali Kyungsoo berucap.
Baekhyun memijit kedua pelipisnya. "Kyung.. bisakah kau tidak membawa nama Chanyeol saat ini? Aku sudah cukup kesal karena harus menghadapi para direktur dan manajer bodoh itu setiap harinya, dan kau!" Baekhyun melirik kearah Kyungsoo, tangannya menunjuk kearah sekretarisnya yang memiliki tinggi hampir sama dengannya namun postur badannya lebih berisi.
Kyungsoo berdiri bersandar pada sofa dengan kedua tangan yang memeluk beberapa dokumen yang seharusnya ditanda tangani oleh Baekhyun. "Kau malah membuat emosiku semakin tidak stabil karena selalu membawa-bawa nama Chanyeol." Baekhyun menggerutu dengan bibirnya yang mengerucut seperti anak kecil yang tidak diperbolehkan bermain dengan Ibu-nya.
"Tidak kah kau sadar sikapmu semakin tak terkendali saat Chanyeol tidak ada?"
"Ya itu sudah pasti karena seharusnya dia membantuku mengurusi segala pekerjaan ini dan tidak meninggalkan aku disini sendirian—
"Dia pergi untukurusan bisnis."
"Seharusnya dia bisa mengajakku juga untuk pergi!"
"See! Kau memang tak bisa lepas dari Chanyeol." Kyungsoo mulailagi mengungkit sebuahteori mengenai topik 'Baekhyun has Chanyeol' .
Tidak tahu siapa yang memulai topik pemikiran itu, tapi dari seluruh rangkain kejadian yang ia, Jongin, Jongdae dan juga Sehun kumpulkan, banyak bukti-bukti yang bisa disimpulkan dan mereka berpendapat bahwa dimana ada Baekhyun, pasti ada Chanyeol dan begitupun sebaliknya, bukan hanya sekedar selalu bersama dalam kegiatan di kantor, atau sekedar pertemuan bisnis.
Dalam setiap acara yang mereka hadiri entah itu undangan resmi dari rekanan bisnis atau sekedar acara sosialisasi, Chanyeol akan selalu berada di sisi Baekhyun. Hal yang membuat teori itu semakin menjadi sebuah fakta adalah, walaupun undangan itu hanya menyebutkan nama Baekhyun atau Chanyeol seorang diri, mereka akan datang bersama dengan jawaban—Rekanan kerja.
Kyungsoo sangat membenci jawaban itu karena baginya itu adalah sebuah alasan yang tidak masuk akal, seharusnya Chanyeol bisa saja membawa wanita yang biasa ia ajak untuk kencan satu malam ataupun wanita sewaan lainnya hanya untuk sekedar menemaninya dan berpose kepada wartawan. Kenapa harus Baekhyun? Dan Kyungsoo juga tahu bahwa seorang Byun Baekhyun bisa melakukan hal yang sama dengan menyewa pria untuk ia ajak kencan setiap saat, atau setidaknya ia bisa mengajak Sehun yang tidak memiliki kekasih itu.
Kembali lagi pada teori 'Baekhyun has Chanyeol' yang ternyata cukup dikenal juga dalam topik gossip karyawan Park Inc,hal itu dikarenakan hampir seluruh karyawan perusahaan disana menjadi penonton setia dalam beberapa kesempatan melihat kedekatan Chanyeol dan Baekhyun disetiap sudut kantor. Beberapa gossip bahkan mengatakan hubungan antara CEO & COO mereka hanyalah tinggal menunggu sebuah undangan pernikahan.
Sementara yang lain berspekulasi, kedua subjek yang dijadikan bahan Gossip sama sekali tidak memperdulikan masalah itu.
Baekhyun masih enggan untuk melanjutkan perdebatan itu dan memilih memejamkan matanya sementara Kyungsoo masih bercerita panjang lebar mengenai hubungan dia dan Chanyeol.
Dangerous Romance
"Kau belum tiba dirumah?" Suara wanita diseberang telepon sana terdengar jelas di telinga Baekhyun yang kini sedang berusaha membawa kantung belanjaannya sementara bahunya menahan ponsel pada telinganya untuk bisa tetap tersambung dengan sosok disana.
"Aku mampir sebentar di supermarket dan membeli bahan-bahan makanan." Baekhyun menjawab dengan penuh perjuangan.
"Aaaahhh.. tidak ada Chanyeol jadi kau melakukan semuanya sendiri.. belanja sendiri, memasak sendiri—
"Bisakah kau juga berhenti membicarakan bagaimana hari-hariku tanpa Chanyeol? Telingaku sudah cukup panas belakangan hari ini karena Kyungsoo juga membicarakan Chanyeol, Chanyeol, dan Chanyeol—
Pintu lift yang terbuka menjadi waktu Baekhyun untuk menstabilkan nafas dan emosinya dan begergas meletakkan semua kantong belanjaan yang menjadi beban kedua tangannya sementara sosok yang masih berbicara dengan nada mengejek itu masih berbicara sendiri dan Baekhyun enggan untuk mendengarkannya.
"…kau selalu mengelak bila mendapatkan pertanyaan mengenai Chanyeol. Sekali-kali jujurlah pada perasaanmu Baek. Sudahkah kau mengetahui isi hatimu itu?"
Baekhyun menggelengkan kepalanya. Ia membiarkan ponsel di meja dapur dalam mode speaker tanpa memperdulikan kelanjutan dari kalimat yang diucapkan oleh sosok itu.
"Ya? Baekhyun? Baekhyunn-ah? Kau tidak mendengarkan aku eoh?! Benar-benar anak ini! Yaaa! Lihat saja! aku akan meminta Chanyeol tidak pulang meskipun kau merajuk dan memo—
"Wae wae! Kenapa kau jadi bawa-bawa Chanyeol untuk tidak pulang?"
"Huh! Eoooohh lihat siapa yang akhirnya menjawab setelah ku sebutkan nama Chanyeol.."
"Aku sedang merapikan belanjaanku, Luhaannn.." Baekhyun menjawab dan sedikit merengek menyebut nama Luhan diakhir kalimatnya.
"Hm, bagus. Jadilah istri yang baik."
"YAAAKKK!"
"Sudah, aku harus kembali kedalam, mereka sepertinya sudah selesai meeting."
Baekhyun terdiam mendengarkan Luhan.
"Chanyeol akan kembali.. ke hotel setelah ini, jadi tak usah khawatir. Sahabatmu itu masih banyak pekerjaan yang menanti jadi tidak ikut acara minum-minum."
Baekhyun tersenyum sedikit setelah mendengar Luhan yang tertawa saat menjelaskan keadaan Chanyeol disana.
"Baiklah, selamat istirahat Baekhyun. Kita bertemu di China minggu depan eoh.. aku sungguh merindukanmu!"
"Hm, kau juga jangan terlalu banyak bekerja. Ah! Aku merindukanmu rusa cantikku!" Baekhyun merayu dan setelah sambungan telepon mereka terputus. Dirinya kembali disibukkan dengan menata belanjaannya untuk mengisi kekosongan lemari pendinginnya, kegiatan selanjutnya yang dilakukan oleh Baekhyun adalah mengambil beberapa potongan pizza yang ia beli kemarin dari microwave dan juga dua buah kaleng beer- milik Chanyeol. Langkah kakinya beranjak naik menuju kamarnya dengan terburu-buru setelah mematikan lampu pada ruangan lantai 1 Apartemennya.
Badannya ia rebahkan pada sofa panjang yang berada dekat jendela di kamarnya, masih dengan mengenakkan baju yang ia gunakkan ke kantor tapi mulut kecil berwarna merah muda itu sudah dipenuhi segigit potongan pizza dan kemudian bercampur dengan seteguk beer yang baru saja ia minum.
Pandangannya beralih pada suara yang sudah lima hari ini tidak ia dengar, Chanyeol. Baekhyun mengambil remote televisinya dan menaikkan volume suara untuk memperjelas suara Chanyeol yang tengah diwawancarai pada sebuah acara program Bisnis yang pernah Chanyeol hadiri.
"Aku benar-benar merindukan suaramu." Baekhyun mengusap bibirnya yang basah karena beer yang baru saja ia minum. Langkahnya kembali berjalan menuju kamar Chanyeol yang terlihat kosong dan rapi, badannya ia rebahkan pada ranjang yang ditutupi selimut abu-abu dan memeluk guling milik Chanyeol seakan-akan itu adalah badan sang pemilik.
"Chanyeooollllll!" Baekhyun berteriak dengan wajahnya yang tenggelam di dalan guling itu, dan entah kenapa cairan hangat keluar dari matanya dan membasahi permukaan guling.
"Chanyeolll… aku merindukanmu."
Lirihan itu terdengar beberapa kali hingga akhirnya ia terlelap masuk kealam mimpinya.
Dangerous Romance
Bila Baekhyun tengah menjemput dunia mimpinya, lain halnya yang dialami Chanyeol, tepat pada pukul 11.55 KST kakinya menginjak tanah Korea, bahkan kini Yoora sang kakak sudah berada diluar mobilnya untuk menyambut sang adik yang baru saja selesai keluar dari dalam pesawat jet-nya.
"Kenapa tiba-tiba sekali memutuskan untuk pulang?" Yoora memberikan pelukan dan menggandeng adiknya itu untuk masuk kedalam mobil.
"Hm, ada seorang gadis yang butuh obat penenang." Chanyeol tersenyum dan kemudian mengikuti Yoora masuk kedalam mobil.
"Kau yakin tidak ingin aku antar ke apartemenmu?"
"Tidak, aku akan bertemu Seulgi besok pagi. Jadi lebih baik aku kembali kerumah dan kembali ke kantor setelah selesai dengannya.
"O-oohh.. apa Seulgi-ssi yang akan mengurus semuanya mengenai—
"Aku tidak akan menjelaskan lebih detail padamu Noona, karena lebih baik hanya aku dan Seulgi yang tahu lebih banyak. Bila persiapannya memang sudah hampir selesai aku akan memberitahumu lebih lanjut." Chanyeol memberikan penjelasan yang tidak bisa dibantahkan oleh Yoora.
"Berhati-hatilah, kehadiranmu dengan setiap wanita selalu jadi bahan berita. Jangan lupa kau memiliki wanita yang lain yang mempunyai perasaan sensitive terhadap Seulgi."
"Hm, aku tahu."
Dangerous Romance
"Yaaa! Kenapa kau bisa sakit hah?"
Minseok yang baru saja masuk kedalam ruangannya terpaksa menahan langkahnya saat mendengar suara Kyungsoo yang berteriak didalam entah dengan siapa.
"Kau sudah minum obat? Apa perlu aku temani untuk ke dokter?"
Minseok mulai penasaran mendengar segala yang Kyungsoo ucapkan itu dan memilih masuk kedalam ruangannya.
"Kyung.. kenapa—
"Oh ayolah Baek! Tak bisakah kau menurut denganku sekali saja." Kyungso memberikan isyarat dengan tangannya yang meminta Minseok untuk menahan tidak mengganggu percakapan di teleponnya dengan Baekhyun.
"Tidak ada tapi-tapian, aku akan menelepon Chanyeol dan meminta ijin supaya aku bisa ke apartemenmu dan merawatmu hari ini. Nah! Jangan berkomentar lagi. Tunggu aku!"
Kyungsoo membanting pelan gagang teleponnya dan mengatur nafasnya yang masih terengah-engah karena emosi yang ia keluarkan.
"HAAAAAA Byun Baekhyun kau membuat emosi ku di pagi hari!" Teriakan kembali dilontarkan Kyungsoo hingga Minseok menutup telinganya.
"Kenapa dengan Baekhyun?" Minseok mendekat kearah Kyungsoo.
"O-oh.. Minseokkie! Untung saja kau sudah tiba di kantor." Kyungsoo mulai merapikan mejanya yang sedikit berantakkan saat ia melampiaskan kekesalannya pada Baekhyun. "Aku ingin meminta ijin pada Chanyeol, apakah ia sedang meeting disana atau bagaimana?"
"O-oh? Seharusnya ia belum ada pertemuan penting disana. Bagaimana kalau aku coba hubungi?"
"A-aah! Please bisa kau hubungi Chanyeol sekarang?"
Minseok menganggukkan kepala dan segera mengeluarkan ponsel dan mencari kontak Chanyeol, tanpa ragu ia melakukan panggilan dan mengaktifkan mode speaker supaya Kyungsoo juga bisa mendengarnya. Cukup lama mereka menunggu supaya Chanyeol mengangkat panggilan dari Minseok dan ini sduah percobaan ketiga tapi belum juga ada tanda dan suara dari seberang sana.
"Yeoboseyo."
Minseok dan Kyungsoo memekik senang mendengar suara rendah Chanyeol.
"Chanyeol-ah! Akhirnya kau mengangkat telepon."
"O-oh.. maaf aku sedang dalam perjalanan. Ada apa?"
"Ah, tidak maafkan aku mengganggu pekerjaanmu disana. Oh, aku mengaktifkan mode speaker karena Kyungsoo ingin mengatakan sesuatu yang penting padamu." Minseok dengan cepat menjelaskan dan tidak ingin mengulur waktu hingga ia memberikan ponsel itu padanya supaya Kyungsoo bisa lebih jelas berbicara.
"Hm, katakan, ada apa." Chanyeol memberikan ijin dan saat itu Kyungsoo segera memberikan penjelasan mengenai kabar Baekhyun yang pagi ini baru memberinya kabar ia tengah sakit dan memutuskan untuk beristirahat dirumah. Satu hal yang membuat Kyungsoo ingin menemuinya adalah sosok wanita itu tidak akan bisa makan-makanan yang sehat karena ia sendiri bahkan tidak bisa memasak nasi dengan benar.
"…Selama kau pergi pasti ia hanya memesan makanan junk food atau menghabiskan stock makanan ringan di dalam kulkasmu. Untuk itu aku mohon ijin untuk menemaninya di apartemen kalian dan juga membawanya ke dokter untuk diperiksa—
"Tidak usah."
"E-eh? Tapi dia sedang sakit Yeol! kau tahu kan dia itu tidak bisa—
"Aku yang akan merawatnya, kau bantu mengurusi kantor selagi aku dan Baekhyun tidak berada disana, dan juga setelah jam kantor kau bisa mampir ke apartemen kami dan membawa laporan pekerjaan itu. Okey?"
"Tunggu. Kau sudah di Korea?" Kyungsoo mengernyitkan alisnya begitu juga dengan Minseok yang sudah menunggu jawaban dari Chanyeol.
"Aku sudah di Korea. Kalian tenang saja."
"Heol! DAE-BAK!" Kyungsoo menutup mulutnya dan tidak tahu harus berkomentar apa lagi.
"Jangan beri tahu dia bahwa aku sudah tiba di Korea. Bisakan?"
Kyungsoo dan Minseok terdiam dan saling pandang. Tidak percaya bahwa sosok Chanyeol ternyata sudah tiba di Korea dan tidak ada informasi sebelumnya, dan kenapa itu bertepatan dengan saat Baekhyun sakit dan membutuhkan perawatan.
"Hey! Kalian masih disana? Kyung? Minseok?"
"A-aahh.. iya kami masih disini. Aku janji tidak akan mengatakan apapun pada Baekhyun." Minseok yang menjawab karena Kyungsoo masih terdiam di tempatnya dengan wajah bingung.
"Baiklah, aku sudah dijalan pulang. Kabari aku mengenai situasi kantor nanti, dan juga minta Jongin dan Jongdae meneleponku nanti."
"Eoh, baiklah. Hati-hati, aku akan meminta mereka menghubungimu."
Setelah panggilan itu terputus Kyungsoo masih berada pada posisinya, kesadarannya belum juga kembali normal dan masih berusaha mencerna situasi yang terjadi setelah ia mendengar apa yang Chanyeol katakana.
"Dia benar-benar ada di Korea?"
"Hm." Minsoek menjawab.
"Dan Baekhyun tengah sakit."
"Kondisinya seperti itu." Kembali Minseok masih memberi jawaban.
"Apa ini kebetulan yang disengaja? Atau memang sudah ditakdirkan oleh Tuhan?"
…
"Apakah memang benar ada telepati yang tercipta diantara mereka?"
"Uhm.. aku tidak bisa memberikan jawaban." Minseok tertawa setelahnya dan memutuskan untuk memulai berkerja.
"Ini sungguh aneh." Sedangkan Kyungsoo memilih untuk menganalisa kejadian yang ada saat ini.
Baekhyun's Pov
Pagi ini aku terbangun dengan kepala yang sungguh terasa berat, badanku masih meringkuk dengan guling milik Chanyeol yang masih berada dipelukanku tapi tidak dengan selimut tebalnya, padahal aku sudah menggigil entah sejak kapan karena memasang pendingin ruangan dengan suhu yang rendah dan tertidur tanpa satu pakaian yang menutupi bagian atas badanku. Hanya bra berwarna hitam yang menutupi bagian payudaraku sedangkan bagian bawahku masih mengenakkan rok berwarna merah sepanjang lutut.
Sungguh sangat berantakkan.
Setelah menelepon Kyungsoo dan mendapatkan sedikit omelan darinya karena aku tidak bisa masuk kerja karena demam ini dan juga rasa sakit pada seluruh badanku, aku memutuskan mengenakkan pakaian hangat milik Chanyeol. Dengan terhuyung dan melangkah pelan-pelan aku masuk pada walk in closetnya dan dengan senyuman yang menghiasi wajahku, tangan-tanganku mencari sweater hitamnya yang selalu ia kenakkan saat dirumah. Tanpa berpikir panjang aku segera mengenakkannya dan juga melepaskan rok kerjaku dan mengantikkannya dengan training Adidas miliknya yang sungguh sangat kebesaran di badannku.
Tapi aku menyukainya.
"Hm.. wangi.." Aku bahagia mencium bau wangi yang sudah menjadi ciri khas dari Chanyeol.
Seingatku, aku masih memiliki beberapa potongan pizza di dalam kamarku dan itu bisa jadi menu sarapanku pagi ini sebelum Kyungsoo datang dan membuatkan sup ayam untukku. Aku memutuskan untuk berjalan menuju kamarku demi sebuah pizza dan juga sedikit air minum yang semoga masih tersedia disana karena aku tidak mau harus berjalan jauh kearah dapur untuk mengambilnya.
Setelah memakan beberapa gigitan dari pizza itu aku melangkah kembali ke kamar Chanyeol untuk berbaring dan menyembunyikkan badanku dibawah selimut tebal karena suhu badanku yang semakin panas hingga membuatku menggigil ditambah rasa pening pada kepalaku yang selalu berputar-putar saat menatap sesuatu.
Tidur menjadi pilihan yang bagus saat ini.
Baekhyun's Pov End
Dangerous Romance
Chanyeol membanting setir mobilnya untuk berbalik arah dan kakinya menekan pedal gas semakin dalam guna mempercepat laju kendaraanya setelah mendapatkan telepon dari Kyungsoo yang mengatakan bahwa Baekhyun kini tengah sakit di apartemennya, tanpa berpikir panjang untuk sekedar memberi kabar pada Seulgi yang akan ia temui pagi ini, ia lebih memikirkan bagaimana tiba di apartemen dalam waktu singkat.
Matanya benar-benar terfokus pada jalanan sementara kedua kakinya terpaku pada ketiga pedal dibawah sana. Sebuah panggilan tertera pada layar handphonenya dan tentu saja Chanyeol sempat memperhatikan sebentar siapa yang meneleponnya, dan saat nama Seulgi yang tertera di layar ia memilih untuk mengabaikan panggilan itu mengingat kondisi jalanan saat ini mendukungnya untuk melaju cepat.
Mobil yang dikendarainya kini tengah berada dalam antrian lampu merah, Chanyeol segera mencari nama Seulgi dan langsung meneleponnya dalam mode speaker.
"Ya! Park Ch—
"Seulgi! Maafkan aku, Baekhyun sedang sakit sekarang jadi aku harus tiba di rumah untuk membawanya ke dokter." Chanyeol menjelaskan dengan cepat tanpa memberi jeda untuk Seulgi bicara panjang lebar.
"O-oh? Baekhyun sakit apa?"
"Aku belum tahu. Maka dari itu aku segera putar arah untuk bisa pulang cepat." Chanyeol menjelaskan dengan nada sedikit kesal karena kalimat Seulgi.
"Haha, mian. Baiklah hati-hati, kabari aku bila kita akan bertemu lagi."
"Hm. Aku tutup."
Chanyeol memutuskan panggilan telepon dan kembali membawa mobilnya melaju melewati beberapa kendaraan disekitarnya yang menurutnya berjalan sangat lamban dibandingkan dirinya, bahkan ia tak segan-segan mengumpat memaki mereka semua meskipun tidak ada satupun yang mendengarnya.
Perjalanan memutar yang ia tempuh cukup memakan waktu hingga dua jam dan untung saja dalam waktu itu Chanyeol bisa mampir ke supermarket untuk membeli segala bahan-bahan yang ia butuhkan untuk memasakkan sesuatu makanan saat tiba di apartemennnya. Langkahnya kaki panjangnya bergerak cepat keluar dari mobil, kedua tangannya penuh dengan kantung belanjaan bahkan ia tidak tahan menunggu lama saat masuk kedalaam lift khusus untuk menuju lantai dimana pintu masuk apartemennya.
Sesuai perkiraan Chanyeol, apartemennya terasa kosong dan sama sekali tidak ada perubahan sejak lima hari yang lalu ia tinggalkan. Lantai bawah itu terlihat gelap karena tirai-tirai masih tertutup rapat dan juga pencahayaan yang dibiarkan padam, keadaan ruang tamu dan sekelilingnya tidak berubah sama sekali—sejak ia tinggalkan—hanya saja terdapat mantel berwarna merah yang jelas Chanyeol sudah tahu siapa pemiliknya. Chanyeol tersenyum melihatnya dan memilih untuk berjalan masuk ke dapurnya dan mempersiapkan makanan untuk Baekhyun yang pasti tengah kelaparan saat ini, menurutnya.
Tak butuh waktu lama bagi Chanyeol untuk menyiapkan sebuah sup ayam yang dibumbui dengan segala rempah dimana yang ia ketahui itu bagus untuk obat saat seseorang sakit, kini ia tengah menyiapkan satu mangkuk nasi, sup ayam, potongan buah - buahan, serta air mineral dan juga beberapa obat untuk menurunkan panas, semuanya ia tata dengan rapi pada meja kecil dengan nampan diatasnya dan siap ia bawa menuju kamar Baekhyun.
Satu hal yang membuatnya panik, Baekhyunnya tidak ada di kamarnya dan hanya menampakkan beberapa kaleng beer kosong yang tergeletak sembarangan dan juga sebuah kotak pizza kosong, bahkan televisi di dalam kamar itu masih menyala dan menampilkan sebuah tayangan video sebuah acara yang pernah Chanyeol hadiri sebagai bintang tamu. Alisnya mengernyit sementara senyuman menghiasai wajahnya karena tidak menyangka bahwa ada seorang gadis yang memiliki rekaman videonya dan menontonnya saat ini. Chanyeol mematikan tayangan tersebut dan membawa kembali paket makanan untuk Baekhyun menuju kamarnya yang ia sudah yakiniseratus persen bahwa gadis itu berada didalam kamarnya dan tidur pada ranjangnya.
Keyakinan Chanyeol benar.
Hanya ada satu pemahaman yang tidak ia percaya, Baekhyun tengah tertidur pulas dengan menggunakan setelan baju miliknya dari sweater, celana bahkan kaos kaki yang dipakai gadis itu adalah miliknya. Tubuhnya yang meringkuk dan memeluk guling namun terdengar merintih karena merasakan kedinginan dan juga badannya yang hampir basah karena keringat terlihat jelas di wajah dan seluruh badannya.
Chanyeol meletakkan makanannya pada meja nakas disamping ranjangnya sebelum ia memutuskan untuk membangunkan Baekhyun dan memintanya untuk mengganti baju dan makan sup yang sudah ia siapkan.
"Baekhyun.." Chanyeol mengusap wajah gadis itu yang benar-benar terasa panas. "Baekhyun.. sayang.. bangunlah." Segala usaha Chanyeol lakukan untuk membangunkan gadis mungilnya itu yang masih terlelap tidur dan kini malah mencari kehangatan pada badannya, meskipun ia juga ingin memeluk dan mendekap Baekhyun pada pelukannya tapi ia masih ingat bahwa gadisnya itu butuh mengisi perut kosongnya dan juga meminum obat sebelum rasa sakitnya semakin bertambah.
Chanyeol kini mulai menggerakkan tangan dan sedikit memukul lengan dan paha Baekhyun—dengan begitu lembut—untuk membuat Baekhyun terbangun, tak jarang ia juga memukul pipi mochi gadisnya itu atau kadang menciuminya berkali-kali berharap itu bisa mempercepat Baekhyun untuk terbangun dari tidurnya.
"Baek… hey Baekhyun…"
"Ummm.."
Baekhyun mulai mengerang seperti anak kecil yang dipaksa untuk bangun pagi oleh kedua orang tuanya, matanya masih terpejam tapi badannya kini sudah berguling kearah lain untuk menjauh dari Chanyeol, tapi sebelumnya Chanyeol sudah menahan kedua tangan Baekhyun dan kini menariknya kembali untuk mendekat padanya.
"Hey.. bangunlah sebentar.. aku sudah menyiapkan sup ayam untukmu." Chanyeol berbisik di telinga Baekhyun dan memberikan usapan lagi pada pipi dan merapikan sedikit rambut Baekhyun yang berantakkan di wajahnya.
"Ummm… Chanyeol-ah.." balasan yang diterima masih sama.
"Ayo bangun.. kau hanya harus membuka matamu dan duduk, aku akan menyuapimu." Chanyeol menarik-narik badan Baekhyun yang masih pada posisi yang sama seperti sebelumnya. Pemikiran bila Baekhyun pingsan tentu saja salah, karena jelas-jelas gadis itu sudah mengerang dan bahkan memanggil namanya. Chanyeol menghela nafas sebentar dan memikirkan bagaimana cara cepat untuk membangunkan gadisnya yang tertidur seperti orang mati itu.
Chanyeol membuka kemeja yang masih membalut badannya dan menyisakkan kaos t-shirt tipis berwarna putih di badannya, tanpa pikir panjang ia masuk kedalam selimut untuk bergabung bersama Baekhyun yang masih terlelap. Bukannya memutuskan untuk tidur, ia lebih memilih menciumi wajah gadis itu dari kening, kedua pipinya dan bibirnya hingga turun ke leher dan bahkan tulang selangka Baekhyun yang sedikit terlihat karena sweater Chanyeol yang sangat kebesaran pada tubuhnya.
Chanyeol memposisikan badannya berada diatas Baekhyun dengan tangannya yang bertumpu di sebelah kepala Baekhyun supaya tidak menindih badan gadis itu, wajahnya ia rendahkan guna untuk mencium kembali bibir pucat milik Baekhyun sementara tangannya sudah menyingkap sweater hitam yang digunakkan untuk meremas bagian sintal didalam sana yang selalu menjadi mainan kesukaannya.
"Eungghh.." Badan Baekhyun menggeliat dengan cepat merespons semua yang dilakukan Chanyeol meskipun bibirnya tidak ikut membalas ciuman yang dilakukan Chanyeol. Matanya bergerak untuk meyakinkan apakah ia tengah bermimpi atau tidak dan sesaat ia melihat wajah Chanyeol yang benar-benar ada dihadapannya, saat itu juga kedua matanya membelak lebar dan mendorong badan Chanyeol sekuat tenaga untuk menjauh darinya.
"Yaaaaakkkkk! Kau mau memperkosaku hah?" Baekhyun berteriak, sedangkan Chanyeol hampir terjengkang dari kasurnya.
"Yak! Aw." Chanyeol memegangi pergelangan tangannya yang sedikit nyeri karena berada pada posisi yang tidaktepat saat menahan badannya yang didorong Baekhyun.
"Tunggu.. kau ada disini? Ini bukan mimpi kan? Ommo?" Baekhyun melihat sekelilingnya dan memukul kedua pipinya untuk memastikan kesadarannya. "Kau benar-benar sudah pulang?" Baekhyun mendekat kearah Chanyeol, benar-benar dekat bahkan Chanyeol yakin ia bisa merasakan hawa panas dari nafas Baekhyun yang masih terengah-engah.
"Aku sudah pulang dan ini bukan mimpi." Chanyeol meraup wajah mungil itu dan memberikan ciuman pada kening dan ujung hidung gadisnya. Chanyeol pikir mungkin saja Baekhyun akan memekik senang atau mungkin akan memukul badannya lagi mengingat apa yang dilakukannya untuk membangunkan dirinya tapi ternyata bukan itu, wajah Baekhyun memerah dan bahkan matanya terlihat berkaca-kaca, bibirnya terlipat kedalam seolah-olah menahan sebuah ucapan atau kalimat yang sebenarnya sudah lama ia ingin katakan hingga tak berapa lama air mata keluar dari sudut matanya.
"Ya, Baekhyunnie.. kenapa kau menangis?" Chanyeol merengkuh badan Baekhyun dan memeluknya, memberikan usapan pada punggung gadis itu. "Sssstt.. ssttt.. hey jangan menangis, maafkan aku.." Chanyeol tidak mengerti dan memutuskan untuk menenangkan Baekhyun yang masih menangis didadalam dadanya.
"Hiks.. kau jahat!" isakan pertama yang terdengar.
"Aku tahu.. maafkan aku.. aku janji tidak akan melakukannya lagi..maaf—
"Kau janji tidak akan meninggalkan aku hiks.. tapi.. hiks.. tapi kau meninggalkan aku sendiri selama lima hari.. hiks.. hiks.. bahkan kau tidak menanyakkan keadaanku.."
Chanyeol ingin tertawa mendengarnya karena ia pikir Baekhyun marah padanya karena ia tengah kurang aja mencumbu Baekhyun saat tertidur tetapi setelah mendengar segala curahan hati dari seorang Baekhyun yang panjang dan selalu diiringi dengan isakan tangisnya itu semakin membuatnya tersenyum lebar.
Chanyeol menciumi kepala Baekhyun berulang kali. "Aku tahu.. maafkan aku."
Baekhyun semakin memperat pelukannya dan membiarkan Chanyeol mendekapnya dan memberikan usapan pada punggungnya dan ciuman pada kening kepalanya. Bahkan lelakinya itu tidak berhenti meminta maaf danmengatakan berkali-kali bahwa tidak akan pernah lagi meninggalkannya sendiri untuk urusan apapun.
"Kau benar berjanji?" Baekhyun mengusap air matanya dan kini menatap mata Chanyeol.
"Aku berjanji." Chanyeol menganggukkan kepala, menciumi kedua mata Baekhyun yang masih basah karena belum juga berhenti mengeluarkan air mata. "Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu, dan kita akan selalu berpergian bersama-sama mulai sekarang." Ciuman Chanyeol berikan pada bibir Baekhyun, tapi sebelumnya gadis itu sudah menutupnya dengan punggung tangannya.
"Kau tidak mengijinkanku untuk menciummu?"
Baekhyun menggeleng dan Chanyeol kembali mendekatkan wajahnya untuk meminta sebuah ciuman tapi tidak ada respon dari Baekhyun.
"Kenapa?"
"Aku tidak mau kau tertular.. kalau kau sakit aku tidak bisa merawatmu." Baekhyun berucap lirih dan sangat pelan bahkan Chanyeol hampir tidak bisa mendengar kalimat itu dengan lengkap.
"Aku tidak akan sakit. Chanyeol mencuri ciuman pada bibir Baekhyun dengan cepat dan membawa tubuh gadis itu kedalam pelukannya lagi. "Ganti bajumu dan temui aku di dapur, aku harus menghangatkan makananmu lagi." Tangan Chanyeol merapikan ikatan rambut Baekhyun dan juga mengelus pipinya yang masih terasa hangat.
"Apa kau akan menyuapiku juga?" Baekhyun memeluk badan Chanyeol dengan memamerkan mata puppy nya untuk merayu Chanyeol, sedangkan sang korban yang sudah pasti akan kalah akan permintaan dari gadis mungilnya yang menggemaskan itu menganggukkan kepala dan menjawil hidung Baekhyun.
"Aku tunggu di dapur."
Dangerous Romance
Jangan tanya apakah Chanyeol merasa lelah harus memasak dan bahkan berbelanja bahan-bahan kebutuhan di apartemennya selama tiga tahun terakhir ini, karena ia akan menjawab bahwa itu semua sudah bagian dari kewajibannya sebagai seorang pria yang bertugas menjaga dan merawat gadis mungil yang tinggal bersamanya.
Belum alasan lain yang menjadi jawaban paling tidak masuk akal adalah ia menyukai saat Baekhyun memperhatikannya saat ia sedang memasak atau seperti saat ini, dimana Baekhyun berjalan mengendap-endap dan langsung memeluk pinggangnya dengan kedua tangannya yang kecil.
Chanyeol hanya bisa tersenyum bahagia disana, tangan Baekhyun yang masih melilit dipinggangnya sementara kepalanya mencoba melihat apa yang tengah dikerjakan oleh Chanyeol setelahnya gadis itu malah menciumi punggung Chanyeol dengan tambahan gigitan gemas yang jelas dilakukan oleh Baekhyun untuk pertama kalinya.
"Wow! Untuk apa itu?" Chanyeol meletakkan sendok yang ia pegang dan merangkul bahu Baekhyun untuk berada disampingnya.
Baekhyun hanya membalas gelengan kepala dan tersenyum lebar dengan matanya yang sudah berbentuk bulan sabit dan pipinya yang merona, mungkin karena badannya yang masih terasa panas.
"Aku lapar." Rengekkannya mulai terdengar.
"Tunggu sebentar lagi." Chanyeol mendekapnya untuk berada disampingnya dan Baekhyun menurut menyandarkan kepalanya pada badan Chanyeol.
Setelah ia yakin bahwa sup ayam yang berada pada panci itu sudah cukup panas, Chanyeol meminta Baekhyun untuk duduk di meja dapur dan tanpa satu kata pun gadis itu dengan cepat berlari dan duduk manis di tempat yang sudah menjadi kursi khusus untuknya saat mereka makan di apartemen ini. Chanyeol membawakan kembali semua makanan untuk Baekhyun, sup ayam, nasi, kimchi, potongan buah- buahan dan bahkan air minum untuk gadis itu tetap Chanyeol yang siapkan.
"Nah, makanlah." Chanyeol mengusak kepala Baekhyun dan duduk di sampingnya.
Baekhyun tengah berbinar-binar melihat makanan yang ada dihadapannya, hanya ada satu hal yang Chanyeol lupakan.
"Kau janji akan menyuapiku."
"Benarkah?"
"Ish! pembohong!" Baekhyun mendengus kesal dan mengambil sendok dan sumpit dengan kasar dan hal itu malah membuat Chanyeol semakin gemas.
Ciuman pada pipi Baekhyun kembali ia lakukan dan kemudian merebut sendok yang ia pegang, si kecil mulai memekik senang karenanya. Mulutnya sudah terbuka bersiap menerima suapan pertama yang akan dilakukan oleh Chanyeol yang sekarang sudah bersiap menyendokkan nasi dan juga beberapa suir ayam.
Suapan demi suapan Chanyeol berikan dengan begitu sabarnya sedangkan si mungil yang kini benar-benar terlihat seperti anak kecil yang tengah disuapi oleh Daddy-nya sibuk menunjukkan makanan apa saja yang ia inginkan bahkan kakinya mulai bergerak kedepan kebelakang setiap mendapatkan suapan dari Chanyeol.
"Kenapa kau bisa pulang cepat? Apa karena aku sakit?" Baekhyun mulai tidak tahan untuk duduk diam dan hanya makan, mulutnya kini mulai melontarkan beberapa pertanyaan.
"Habiskan dulu makananmu."
"Ini sudah habis. Aaa~" Mulutnya mulai terbuka menunggu suapan dari Chanyeol.
"Aku ada urusan dengan ayah dan Yoora semalam." Chanyeol menjawab setelah selesai memberikan suapan terakhir pada mulut Baekhyun—pihak yang bertanya itu kini sibuk mengunyah makanan didalam mulutnya dan menganggukkan kepala sambil memperhatikan Chanyeol yang tengah membereskan piring dan mangkuk yang sudah kosong tanpa ada sisa makanan.
"Kenapa mendadak sekali?" Baekhyun melanjutkan sambil mengambil air minum.
Chanyeol mendekatkan wajahnya hingga begitu dekat dengan wajah Baekhyun yang tengah mengedipkan matanya memperhatikan wajah Chanyeol dihadapannya. "Tidak tahu, mungkin Tuhan yang menakdirkan supaya aku bisa cepat pulang dan merawatmu." Ia mengedipkan matanya dan membersihkan cairan sup dan nasi yang ada pada ujung bibirnya.
"Jangan lupa minum obatmu."
Baekhyun membuang nafasnya tepat setelah Chanyeol melangkah pergi untuk meletakkan piring dan mangkok kotor pada tempat cucian piring, tangannya memegang jatungnya yang berdebar cukup hebat hanya karena melihat Chanyeol sedekat itu. Ia menggelengkan kepalanya sebentar dan kemudian membuka bungkusan obat yang sudah disiapkan Chanyeol, mungkin saja detak jantungnya tidak beres karena ia memang sedang sakit sekarang ini.
Chanyeol menunggunya hingga Baekhyun selesai meminum obatnya dan mengajaknya berjalan bersama menuju kamar mereka, tapi saat mereka akan melangkah naik melewati tangga tangan Baekhyun menahan lengan pria tinggi itu.
"Kenapa? Kau merasa pusiing?" Chanyeol segera memegang kedua lengan Baekhyun dan memeriksakan suhu panas pada kening Baekhyun dengan menempelkan keningnya dan itu membuat Baekhyun senang.
"Panasmu masih sama. Cepat naik ke punggungku." Chanyeol memerintahkan tanpa bertanya lebih banyak lagi dan Baekhyun menurut dengan senang karena memang ia berharap Chanyeol akan menggendongnya untuk naik kekamar mereka-salah-kamar Chanyeol.
"Apa aku berat?" Baekhyun berbisik tepat di telinga Chanyeol.
"Hah, berat badanmu tidak pernah bertambah sejak masih kuliah Baek." Chanyeol menjawab dengan senyuman pada wajahnya.
Baru saja mereka masuk kedalam kamar Chanyeol, Baekhyun lebih dulu memberikan ciuman pada pipi pria itu.
"Terima kasih sudah merawatku hari ini." Baekhyun meloncat turun dan segera masuk kedalam selimut dan memaksakan matanya untuk terpejam menghindari menatap Chanyeol yang mungkin saja akan bertanya untuk apa ciuman tadi itu.
Satu hal yang Baekhyun selalu lupa mengenai Chanyeol, bahwa pria itu tidak pernah bisa mengacuhkan segala yang Baekhyun lakukan. Chanyeol menyibakkan selimutnya dan menarik badan Baekhyun untuk berbalik dan memeluk badannya, ia bisa melihat bahwa si mungil itu kini tengah berpura-pura tidur. Chanyeol tidak mengatakan apapun, ia memilih untuk memperhatikan bagaimana mata Baekhyun yang masih bergerak-gerak dibalik kelopak matanya yang terpejam.
"Cepatlah sembuh, aku merindukanmu." Chanyeol berbisik, tangannya semakin mendekap badan Baekhyun dan ikut terlelap bersama.
Dangerous Romance
