Kelemahan Baekhyun akan suhu dingin adalah salah satu kelemahan yang ia rutuki sepanjang hidupnya, karena setiap tahunnya dia akan terkapar didalam kamar dengan suhu badan yang cukup tinggi di saat musim dingin. Seperti saat ini, suhu badannya hampir tiga puluh delapan derajat dan hari itu adalah hari kedua pada bulan desember di Standford.
"Aku tidak akan meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini okey, tidak akan—
"Ta-ta-pi-pi kau men-men-dapat-kan un-un-dangan dari klub Phoenix, Chan." Baekhyun masih berniat memotong meskipun mulutnya untuk mengucapkan satu kalimat saja sudah bergerak tak beraturan karena gertakan giginya yang beradu menggigil karena suhu badannya yang panas dan cuaca diluar dingin dengan minus dibawah nol derajat.
"Aku tidak peduli dengan Phoenix!" Chanyeol meninggikan suaranya dan masuk kedalam kamar Baekhyun dengan sup hangat yang baru saja ia selesai masak khusus untuk Baekhyun. "Ingin aku suapi?" Chanyeol bertanya lebih lembut setelah melihat Baekhyun kesulitan hanya untuk mengangkat kepalanya. Chanyeol mengeluarkan beberapa selimut tebal dari dalam lemari gadis itu dan kemudian dipasangkan pada badan mungil yang kini sudah tenggelam dalam sweater hangat berwarna hitam-yang sebenarnya adalah milik dirinya yang sering digunakkan oleh Baekhyun- dan kini ditambah dengan tumpukkan selimut tebal diatas badannya. Chanyeol membantu Baekhyun untuk duduk dengan tegap dan meletakkan beberapa bantal pada kedua sisi badannya untuk menambah kehangatan.
"Lihatlah, kau benar-benar seperti liliput." Kekehan candaan Chanyeol mendapatkan delikkan tajam dari wajah Baekhyun, meskipun ia tidak menyahut ketus tapi bisa dipastikan gadis itu kesal akan kalimat yang baru saja dikatakan oleh pria yang kini sudah menyuapkan satu sendok dengan kuah panas yang mengepul.
"Makan dulu baru kau boleh mengumpat kesal padaku." Chanyeol memaksakan sendok yang ia pegang masuk kedalam mulut mungil Baekhyun dan setelahnya kembali tertawa sendiri.
Suapan-suapan sendok sup itu tetap dipaksa makan oleh Baekhyun karena ia malas mendengar ocehan Chanyeol yang akan membawa paksa dirinya ke dokter dan menghadapi jarum suntik serta beberapa bau rumah sakit yang selalu membuatnya merasa mual.
"Sudah.. aku sudah kenyang.." Baekhyun memberikan tatapan memohon dengan mata puppy-nya kearah Chanyeol namun pria itu masih tetap mengarahkan suapan satu sendok terakhir didepan mulutnya.
"Ini terakhir dan aku biarkan kau tidur." Chanyeol pemaksa kembali memojokkan Baekhyun.
"Kau mengatakan itu terus sedari tadi."
"Tadi aku berbohong, jadi cepat habiskan ini."
"Ish!" Baekhyun menggurutu namun tetap membuka mulutnya menerima suapan terakhir yang Chanyeol berikan.
"Good girl." Chanyeol mengusap kepala Baekhyun dan memberikan segelas air minum kepadanya.
Baekhyun menghabiskan suapan sup dimulutnya dan menyerahkan kembali gelas yang sudah habis ia minum, membiarkan Chanyeol merapikan semuanya sedangkan ia kembali menggigil dibalik lapisan selimut. Sebenarnya ia benci suasana malam dengan suhu dingin seperti ini, namun ada satu hal yang selalu ia nikmati, keberadaan Chanyeol yang akan menemaninya tidur, memberikan pelukan, bahkan merawatnya seperti yang baru saja dilakukan, dan itu hanyalah sebagian kecil yang biasa dilakukan oleh sahabat prianya itu.
"Merasa lebih hangat." Suara Chanyeol terdengar kembali.
"Hm, sudah kubilang kau tidak usah menjagaku malam ini. Pergilah.. kau akan menyesal tidak datang dan melihat wanita-wanita telanjang di klub itu." Baekhyun bersuara dibalik selimutnya sedangkan Chanyeol kini sudah melepaskan setelan jas dan dasinya.
Ia sudah memiliki niatan untuk menemani Baekhyun tidur dan juga memeluk badan mungil itu kembali ia tahan memandangi tumpukan selimut dihadapannya.
"Kau yakin?" Chanyeol kemabali memastikan.
"Ih, Kau ini bawel sekali!" Baekhyun mengerutu. " Cepat pergi dan cepat pulang! Aku akan baik-baik saja selama tidak ada badai salju dan suhu cuaca semakin minus." Baekhyun memunculkan wajahnya dan memberikan senyuman kecil pada Chanyeol. "Aku benar tidak apa, jangan menolak undangan klub elite Standford, kau menginginkannya sejak tahun lalu dan ini kesempatanmu supaya bisa bergabung dengan mereka."
"Tapi kau sedang sakit Baek, tidak ada yang menja—
"Park Chanyeol sayang, aku baik-baik saja." Baekhyun memaksakan diri untuk bangun dan mendekatkan badanya kepada Chanyeol yang masih duduk di pinggir ranjangnya. "Aku akan baik-baik saja sungguh, pergilah dan jangan meniduri wanita untuk malam karena aku butuh pelukanmu." Baekhyun tertawa mengejek dan tanpa sadar wajah mereka sudah saling berdekatan, Baekhyun merasakan bagaimana hangat nafas Chanyeol dan aroma tubuh pria itu yang begitu menyengat dan membuat hatinya tenang.
Mungkin bila saat itu otaknya benar-benar tidak bekerja dengan baik, tangan mungilnya akan menarik wajah Chanyeol untuk semakin mendekat dan bisa merasakan bagaimana bibir tebal yang selalu mencium kedua pipinya dan juga keningnya. Tapi Baekhyun masih memiliki tingkat kewarasan yang cukup tingga hingga tangannya hanya mengusap wajah Chanyeol dan kemudian menjauhkan wajahnya, sedangkan Chanyeol memandang begitu dalam wajah Baekhyun dan beralih memakai kembali setelan jas dan dasinya.
"Kabari aku.."
"Hm. Pergilah, aku akan meneleponmu bila terjadi sesuatu."
Kebohongan yang menjadi penyesalan Baekhyun karena Chanyeol benar-benar pergi menghadiri undangan Phoenix dan meninggalkan dirinya sendirian di kamar asrama mereka. Meskipun ia memang menginginkan Chanyeol pergi, tapi ada bagian dari hatinya berharap Chanyeol tetap berada dikamarnya, menemaninya hingga tertidur, memeluknya memberikan kehangatan seperti dulu saat mereka masih berada di Korea.
Entah kenapa airmata Baekhyun mengalir membasahi pipinya dan ia hanya bisa menenggelamkan wajahnya dibalik bantal sambil berusaha tertidur agar tidak merasakan hawa dingin kembali
e)(o
Dangerous Romance
Chapter 8
I want more.
"Lagi.."
Baekhyun menahan wajah Chanyeol yang selesai mencium bibirnya dan akan berpindah untuk menciumi leher dan bahunya.
"Cium bibirku lagi.." Baekhyun merengek. Dan kelemahan Park Chanyeol adalah rengekkan seorang Byun Baekhyun.
Chanyeol mencium lagi bibir tipis itu, dari ciuman sangat lembut dan akhirnya berubah menjadi sebuah lumatan panas dan bergairah yang akan mengahantarkan mereka untuk kembali saling bergerak untuk tercapainya sebuah pelepasan kenikmatan.
Kikikan suara tawa dari mulut Baekhyun bergema mengisi ruangan kamar yang mereka tiduri, bahkan kalimat minta ampun Baekhyun lontarkan dalam tawanya ketika Chanyeol mengelitiki leher dan juga perutnya namun tetap dalam posisi mereka yang masih menyatu.
"Eumm.." Baekhyun menahan desahannya ketika Chanyeol mulai bergerak pelan menusuk bagian nikmat dalamnya.
Sama dengan ketiga pelepasan yang ia lakukan sebelumnya, Chanyeol akan tetap memandangi Baekhyun dari posisinya dan akan mencium bibir tipis berwarna pink-yang kini sudah terlihat membengkak- dan melumatnya dengan pelan mengikuti pergerakan pinggulnya untuk memberikan kenikmatan pada milikinya dan juga milik Baekhyun.
"Chan..emmpp.." Baekhyun mengigit bibir Chanyeol dan melumatnya dengan kasar, tanganya mencakar bagian punggung Chanyeol dengan kukunya dan bahkan mencengkram bahu pria itu yang kini bergerak semakin cepat dan membuat bagian dalam vaginanya berkedut merasakan pergerakan batang keras milik Chanyeol yang semakin menghujam titik dalam kenikmatannya hingga bahkan remasan dari tangannya dan juga kedua kakinya yang semakin merapat memeluk Chanyeol tidak bisa menghilangkan gemetar hebat pada badannya.
Suara desahan yang semula hanya mengeluarkan kalimat vocal kini berubah menyebutkan nama Chanyeol dengan lembut dan mendesah sexy, kepalanya mendongak keatas malah semakin membuat dirinya meledak-ledak karena Chanyeol semakin mempercepat gerakannya dan bahkan badannya ikut bergerak dengan hebat dan pada saat ia sudah tidak bisa menahannya lagi, Baekhyun memeluk Chanyeol dan bahkan mengigit bahu pria itu, ledakan dalam dirinya terasa mengalir deras keluar dan kali ini membuat tenaganya terkuras habis bahkan untuk memohon Chanyeol untuk mencium bibirnya terasa sangat berat untuk ia lontarkan.
Chanyeol yang melihat Baekhyun terpejam lelah dan bahkan matanya terpejam dengan kedua tangannya mengusak surai rambut, tersenyum sebentar dan kemudian menciumi bagian tubuh Baekhyun dengan lembut. Dari kedua pipi dua buah dada yang kenyal dan kemudian naik menuju kedua bahunya, hingga pada perpotongan lehernya.
"Hmm.." Baekhyun mendesah dan menarik wajah Chanyeol untuk berada dihadapan wajahnya. "Cium aku." Baekhyun memohon dan Chanyeol langsung melumat bibir itu dan menghisapnya dengan kuat, lidahnya mengoyak rongga dalam mulut Baekhyun dan bermain dengan lidah kecil didalamnya.
Selama bibirnya melumat bibir Baekhyun, pinggulnya kembali bergerak mengeluar-masukkan batangnya yang masih mengeras didalam lubang Baekhyun karena hasrat dan gairahya belum meledak didalam sana. Baekhyun kembali mendesahkan kenikmatan dan berniat menggoda Chanyeol dengan kedua tangannya yang kini terlepas dari leher Chanyeol turun membelai lehernya sendiri dan menutupi kedua payudaranya dan bergerak memutar, kedua tangannya meremas dan memberikan pijatan pada dadanya sendiri sementara matanya menatap Chanyeol dengan menggoda dan bahkan mendekatkan bibirnya untuk memberikan sedikut ciuman.
"Apa yang kau lakukan?" Chanyeol berbisik disela-sela ciuman mereka.
Baekhyun tersenyum dan masih memutar tangannya pada kedua buah dadanya.
"Menggodamu.."
Chanyeol menyeringai dan mengangkat badan Baekhyun untuk bangun dengan bagian intim mereka masih menyatu.
"Aaahh.—astaga Chanyeol." Baekhyun meringis merasakan bagiamana lubangnya terasa penuh dan batang milik Chanyeol benar-benar menusuk titik kenikmatannya, matanya terpejam merasakan pinggul Chanyeol yang bergerak dengan pelan dan kini Baekhyun bahkan tidak sempat berpikir untuk meremas kembali payudaranya sendiri, yang ia pikirkan adalah kenikmatan dari posisi bercinta kali ini dimana ia merasakah sentuhan serta gesekan yang lebih nikmat melebihi sebelum-sebelumnya.
Chanyeol meraih tekuk leher Baekhyun dan memberikan ciuman lembut pada bibirnya, bahkan tangannya kini sudah diarahkan melingkar pada leher Chanyeol. Setelahnya usapan halus dan lembut pada punggungnya semakin membuat semuanya terasa lebih nyaman baginya. Pergerakan lembut yang Chanyeol lakukan pada bagian bawahnya masih dilakukan dan kini mereka berdua bergerak bersama dan masih saling memagut dengan kedua kepala yang bergerak ke kanan dan kekiri untuk memperdalam ciuman.
Tangan Baekhyun mengusap punggung belakang Chanyeol, bergerak naik turun hingga meremas belakang rambutnya saat merasakan pergerakan bawahnya semakin membuatnya badannya bergetar.
"Aaaahhh.." Baekhyun mendesah dengan erotisnya. Berulang kali ia meminta Chanyeol untuk menambah tempo pergerakannya bahkan hingga Baekhyun melengkungkan badannya dan menarik kepala Chanyeol untuk mencumbu leher dan bagian dadanya. Tangannya mengusak dan menjambak rambutnya sendiri saat mendengar Chanyeol membisikkan kalimat cinta sedangkan Baekhyun melenguh kenikmatan.
"Aku mencintaimu." Baekhyun menyuarakan kalimat itu sebelum mencium bibir tebal Chanyeol dan pada akhirnya ia kembali tergulai lemas disusul Chanyeol yang meledakkan cairan spermanya didalam Baekhyun dan membawa badan wanitanya pada pelukannya dengan posisi mereka yang masih sama-sama duduk dan tentu bagian intim keduanya masih menyatu didalam sebuah panasnya pelepasan cairan.
"Aku lebih mencintaimu." Chanyeol mencium lagi bibir Baekhyun, dan terdengar kembali tertawa setelah merasakan bibir Chanyeol melumat bibirnya.
"Aku suka ciumanmu." Tangan mungilnya mengusap bibir tebal milik Chanyeol dan kembali Baekhyun kecup sebentar dan setelahnya ia menyandarkan kepalanya pada bahu Chanyeol yang berkeringat sedangkan tangannya mengusap dada pria nya itu yang masih bergerak naik turun mengatur nafasnya. Chanyeol memberikan ciuman pada kepala Baekhyun dan memainkan rambut Baekhyun yang tergurai bermandikan keringat sama halnya dengan apa yang ia alami.
"Apa aku baru saja mengatakan aku mencintaimu?" Baekhyun bergumam pelan dalam sandarannya di dada Chanyeol.
"Kenapa memangnya?" Chanyeol menempelkan kepalanya pada kepala Baekhyun dan sedikit bergerak ke kanan dan ke kiri sambil menyanyi dalam hatinya. "Aku bahkan mengatakan padamu berkali-kali tadi dan kau bahkan tidak mendengarnya."
"Aku mendengarnya.."Baekhyun menjawab dengan suara sedikit lesu.
"Lalu.. kenapa kalau kau mengatakan kau mencintaiku?" Chanyeol kembali bertanya.
"Terkesan bahwa aku sudah melanggar perjanjian yang baru dibuat."
"Kau hanya mengatakannya Baek. Itu bukan menunjukkan bahwa perasaanmu memang mencintaiku." Chanyeol menyahuti lagi ditambah cubitan pada pipi Baekhyun.
"Hmmm.." Baekhyun menahan suaranya dengan bibirnya yang menekuk kedalam. "Justru itu semakin terdengar aneh.. kenapa aku bisa mengatakan kalau aku mencintaimu, padahal perasaanku biasa saja." Baekhyun mengangkat kepalanya yang sedari tadi bersandar pada dada Chanyeol dan menatap dengan keterdiamannya.
"Jangan dipikirkan." Chanyeol tersenyum kecil dan mengusap kepala Baekhyun, bahkan jari-jari tangannya menyusun setiap helai rambut Baekhyun dengan lembut.
Baekhyun memandang wajah Chanyeol kemudian mencium bibir tebal itu dan beralih pada kedua mata dan pipinya , setelahnya jari-jari mungilnya begerak lembut menelusuri setiap wajah Chanyeol hingga berhenti tepat pada bibir tebal Chanyeol dan ia membelakkan matanya saat Chanyeol mengarahkan jarinya untuk masuk kedalam mulutnya dan menjilati setiap jari mungilnya, apa yang terjadi selanjutnya disyukuri Baekhyun karena kini mereka saling berciuman lagi.
"Aaaahhh.."
"Baby, Aku menginginkan lagi." Chanyeol berbisik dalam desahan di depan mulut Baekhyun yang masih terbuka mendesah merasakan batang milik Chanyeol yang tengah bergerak menusuk bagian titik sensitivenya dibawah sana.
Baekhyun menarik wajah Chanyeol dan langsung melumat bibir tebal itu dengan sedikit kasar, ia belum memberikan jawaban akan kalimat yang diucapkan Chanyeol namun pinggulnya sudah bergerak mengikuti instingnya karena dorongan dari gairahnya yang kembali memanas. Bahkan kini badannya bergerak naik turun, ciuman pada bibir Chanyeol terlepas namun ia masih menikmati bagaimana Chanyeol mencumbu dan bahkan memberikan isapan panas dan senstiif pada leher dan bagian dadanya.
Tangan Chanyeol yang bergerak mengusap naik turun semakin membuatnya gila, desahannya terdengar lebih keras saat pinggulnya ditahan lebih menekan kebawah dan merasakan ujung tumpul pada kejantanan milik Chanyeol didalam sana semakin menusuk titiknya. Baekhyun mendesahkan kenikmatan pada telinga Chanyeol dan pria itu terlihat semakin meluapkan gairahnya, bergerak naik turun lebih cepat, mengulum dan mencium badan Baekhyun dengan tidak beraturan tapi membuat Baekhyun menggila hingga pada saat mereka merasakan akan menumpahkan segala cairan panas dari dalam tubuh masing-masing. Chanyeol merebahkan badan Baekhyun dengan kasar dan memberikan beberapa dorongan kuat, kedua tangannya mencengkram tangan Baekhyun sekuat mungkin hingga semenit kemudian ia tergulai lemas.
Kepalanya bersandarkan didada Baekhyun dengan nafasnya yang terengah-engah dan badannya masih bergetar. Sedangkan Baekhyun, kepala wanita itu masih mendongak keatas dengan mulutnya yang terbuka kecil dengan kedua matanya terpejam merasakan kedutan lubang miliknya yang terasa hangat karena milik Chanyeol yang masih mengeluakan cairan sperma yang mengalir didalam sana.
Chanyeol mengeluarkan miliknya yang kini sudah tergulai lemas dan menarik badan Baekhyun untuk berada diatas badannya, tangannya memeluk erat badan wanita itu, usapan lembut dan ciuman pada pucuk kepalanya masih ia lakukan hingga pada akhirnya mereka berdua terlelap.
Dangerous Romance
Badai salju yang cukup lebat menemani waktu malam bagi Chanyeol dan Baekhyun yang terlelap sejak beberapa jam yang lalu setelah pergulatan percintaan yang cukup panas mereka lakukan beberapa jam yang lalu.
Chanyeol menjadi pihak pertama yang terbangun, bukan karena suara lebat badai salju diluar sana, melainkan badannya terasa berat dan sesak karena sosok mungil yang seharusnya tidur dalam dekapannya kini tertidur diatas badannya dengan kepala terbaring nyaman diatas dadanya.
Dan seluruh sisa badan pada gadis itu benar-benar berada diatas badan Chanyeol hingga ke bagian kakinya.
Chanyeol mengusap surai rambut madu milik Baekhyun dan memberikan kecupan singkat sebelum akhirnya Chanyeol memindahkan tubuh mungil itu untuk terbaring lebih pada ranjang yang masih terlihat cukup luas untuk menampung kedua badan mereka bersamping-sampingan.
Tubuh Baekhyun sedikit bergerak menolak dan Chanyeol memberikan salah satu guling yang sudah berada di lantai entah sejak kapan, hingga pada akhirnya berpindah pada pelukan tangan Baekhyun.
Chanyeol melangkahkan kakinya menuju kamar mandi guna membersihkan sisa-sisa percintaan yang baru terjadi antara dirinya dengan Baekhyun, setelahnya ia mengenakkan setelan kimono yang cukup santai dan membawakan satu setelan kimono lainnya dengan warna yang sama dengan yang ia gunakkan serta beberapa handuk yang sudah dibasahi dengan air hangat. Ia mengusapkan handuk basah itu pada tubuh Baekhyun yang masih terlelap tidur dan bahkan sama sekali tidak bergerak ketika handuk itu menyentuh kulit mulus nan putihnya, dan ketika bagian intimnya yang begitu sensitif diberi usapan sebentar oleh Chanyeol, wanita itu tetap terlelap seperti tengah pingsan dalam tidurnya.
Chanyeol tertawa kecil setelah ia selesai mengusap badan Baekhyun dan mengenakkan setelan kimono itu kepada wanita mungilnya, bahkan ia juga menambahkan selimut tebal diatas badannya dan kemudian membiarkan Baekhyun tetap terlelap, sedangkan Chanyeol memilih untuk menikmati waktu malamnya dengan berendam pada kolam mandi air panas yang berada di ruangan lain dalam villa itu sambil menikmati pemandangan badai salju dihadapannya.
Berendam air panas, dengan satu botol wine berada dalam pegangan tangannya dan juga salju dihadapannya. Cukup membuat Chanyeol merilekskan badan hingga terasa ia seperti akan tidur dalam kolam itu, hingga pada saat matanya benar-benar akan terlelap dalam kolam itu suara lembut yang menyebutkan namanya terdengar dan bahkan derap langkah kaki kecil menuju kearah tempatnya berada.
"Chan?"
"Aku disini." Chanyeol menjawab dan menolehkan kepala pada pembatas pintu kayu disebelah kanannya, terlihat Baekhyun sudah berdiri disana dengan pakaian kimononya.
Wanita itu masih mengagumi badai salju yang ada pada jendela besar dihadapannya. "Ku kira aku kembali dalam asrama kita di Standford."
"Kenapa salju selalu mengingatkanmu dengan Standford?" Chanyeol menatap punggung Baekhyun yang membelakanginya dan menenggak sisa wine pada botol yang ia pegang sebelum wanita dihadapannya akan merengek untuk merasakan rasa wine itu juga.
"Hmmm… kenapa ya?" Baekhyun berbalik dan menujukkan wajah berpikir keras namun terlihat mengejek kearah Chanyeol.
Chanyeol menunggu jawaban dari Baekhyun yang kini berdiri menghalangi pandangannya yang terarah pada luar jendela, tangan lentik Baekhyun membuka pelan-pelan ikatan tali kimononya dan menurunkan kain itu dengan gaya yang sedikit sensual meskipun setelahnya ia melangkah cepat masuk kedalam kolam air panas dan mendekat pada Chanyeol.
"Di-dinginn.." seluruh badannya terendam dalam air panas dan menenggelamkan seluruh bagian wajahnya.
Chanyeol yang sedari tadi memperhatikan dan hampir saja kembali terangsang melihat bagaimana seksinya seorang Byun Baekhyun membuka kain kimononya kini menahan tawanya dan membuang wajahnya untuk tidak melihat kearah mata mendelik tajam milik Baekhyun yang terarah padanya dalam batas air di kolam itu.
"Ja-jangan menertawakan aku!" Baekhyun sedikit mengangkat kepalanya dan mengarahkan badannya mendekat kearah Chanyeol.
"Aku tidak menertawakanmu." Chanyeol memeluk badan mungil itu didalam air dan memberikan ciuman pada leher Baekhyun.
"Kenapa kau membuka bajumu?"
Baekhyun terdiam dan menyandarkan badannya pada dada Chanyeol. "Aku tidak tahu.. aku hanya ingin bergabung denganmu.. ku kira airnya akan panas dan terasa hangat ternyata aku masih saja merasa dingin."
"Lalu kenapa ingin bergabung?"
"Kenapa kau malah berendam air panas. Kau meninggalkanku tidur sendirian di kamar!"
Byun Baekhyun kembali menjadi seorang yang cerewet.
"—kau meninggalkanku setelah bercinta, kau menyamakan aku dengan wanita-wanita mu hah?"
Dan Chanyeol akan menjadi sosok yang siap mendengarkan segala keluh kesah si mungil yang menggigil tapi tidak mau mengakui dirinya tengah menahan hawa dingin dan hanya ingat harus memberikan ceramah panjang untuknya.
"Tak tahu apa kalau aku lelah setelah kau melakukannya tadi—
"Aku hanya berniat sekali melakukannya, dan kau menuntut lagi." Chanyeol menjawab.
"Ya! Tapi kan setidaknya biarkan aku istirahat! Dan harusnya kau menemaniku tidur didalam sana! Memeluk, lalu menciumi wajahku, menyelimutiku. Ish! aku tidak percaya kau benar-benar suka meninggalkan aku sendirian tertidur dalam suhu dingin! Kau suka ya melihatku tersiksa menggigil!"
"Sudah?" Chanyeol membalikkan badan Baekhyun menghadap kearahnya, bibirnya sudah terlihat pucat dan bahkan wajah Baekhyun yang memang sudah terlihat putih pucat kini semakin terlihat lebih jelas, bahkan badannya sedikit bergetar menahan gigilan hawa dingin.
Baekhyun hanya memberi anggukkan kepala dan kembali menyelam dalam kolam air panas itu, tak lama kepalanya muncul keatas permukaan dan Chanyeol langsung meraup wajahnya dan memberikan ciuman yang menuntut, bukan hanya bibir dan lidahnya yang bergerak cepat melumat dan menyesapi bibir mungil milik Baekhyun tapi juga memberikan gigitan pada bibir tipis itu dan bahkan kini sudah berpindah ke leher dan juga bahu milik Baekhyun. Jangan lupakan tangan Chanyeol yang bergerak seduktif dibalik air itu, karena selain memeluk badan Baekhyun, tangannya meremas bongkahan bokong Baekhyun, lalu menyusup naik dimana dua bongkahan sintal pada dada Baekhyun.
Dan Baekhyun menikmatinya. Seharusnya ia bisa saja berteriak 'Chanyeol aku kedinginan' atau 'Chanyeol aku ingin kembali tidur' mengingat beberapa menit sebelumnya ia memberikan ceramah mengenai betapa lelah dirinya dan butuh istirahat setelah percintaan mereka. Tapi pada kenyataanya yang terdengar hanyalah lenguhan dan desahan lembut dan sedikit sensual.
"Hmm.." Baehkhyun mendongakkan kepalanya dengan kedua matanya yang terpejam sedangkan tangannya mengarahkan kepala Chanyeol untuk tenggelam dalam air dan mengulum salah satu payudaranya.
Bercinta di dalam air.
Baekhyun seketika terpikir akan salah satu ide yang muncul karena percakapannya dengan Kyungsoo saat memilih sebuah judul film porno yang akan menjadi bahan pembelajarannya, dan kini ia menyesal karena tidak menonton film itu.
"Masih merasa dingin?" Baekhyun membuka matanya dan kini wajah Chanyeol yang basah dan penuh dengan hawa panas dari arah kolam membuatnya tidak bisa berpikir hanya untuk membalas pertanyaan yang mudah dari Chanyeol.
Ia hanya bisa menganggukkan kepala dan membelai dada Chanyeol kemudian menarik leher pria itu untuk kembali mencium bibirnya. Chanyeol tentu saja memberikan balasan dengan sebuah misi untuk menghangatkan wanita dihadapannya.
Chanyeol menyudutkan badan Baekhyun mendekat pada pinggiran kolam yang berbentuk kotak itu, bibirnya memberikan ciuman panas pada Baekhyun sedangkan tangannya kini bergerak kebawah, menyentuh bagian intim Baekhyun yang meskipun terendam dalam air panas ia tahu bahwa bagian itu sudah semakin lembab karena hal lainnya. Salah satu jarinya bergerak memberikan usapan pada salah satu bagian yang sedikit muncul diantara lipatan pada bibir bawah intimnya dan tentu saja berhasil membuat Baekhyun menggeliat dan menarik badan Chanyeol untuk semakin mendekapnya.
Jari lentiknya meremas rambut Chanyeol yang basah, kadang ia menarik kadang ia menekan kepala Chanyeol untuk semakin memperdalam ciumannya, tangannya yang lain dikalungkan pada leher Chanyeol sehingga memudahkan dirinya saat Chanyeol semakin dekat dan mengangkat kedua kakinya untuk melingkar pada pinggangnya.
Bagian terintim dan sensitif mereka saling bersingunggan, tidak sampai melesak masuk seperti yang Baekhyun pikirkan. Chanyeol hanya mencumbu seluruh badannya dan sesekali memainkan bagian bawahnya dengan salah satu jarinya dan itu membuat Baekhyun kesal dan menjambak dan menarik rambut Chanyeol hingga ciuman mereka terlepas.
"Kau mempermainkan aku?" Baekhyun mengalungkan kedua tangannya pada leher Chanyeol dan ia kini benar-benar seperti anak koala bergelantungan dengan induknya.
Chanyeol memperhatikan wajah Baekhyun yang sudah terlihat jelas bahwa wanita-nya kini sudah menahan segala gairah dalam tubuhnya dan membutuhkan pelepasan kenikmatan.
"Aku tidak mempermainkanmu Baek—
"Kau hanya mencium dan fingering saja sedari tadi!" Baekhyun merengek dan memasang wajah kesalnya, bibirnya mengerucut dengan kedua mata kecilnya yang berkedip-kedip layaknya seorang puppy mungil.
Sementara Chanyeol yang masih memperhatikan bagaimana bibr mungil itu bergerak menggerutu dengan imutnya. Chanyeol bisa tahu apa yang dilakukan oleh jari-jari mungil Baekhyun yang bergerak bermain dengan surai rambutnya.
"What do you want Baek?" Chanyeol menyatukan keningnya dengan kening Baekhyun, merepatkan punggung Baekhyun dengan dinding kolam air panas dan tangannya menggenggam kedua tangan Baekhyun yang mengalung di lehernya, bibirnya bergerak menggoda menyentuh bibir Baekhyun yang sedikit terbuka dan bernafas dengan sedikit kesusahan—atau lebih tepatnya ia tidak tahan merasakan bibir Chanyeol yang berbisik menanyakkan apa yang ia inginkan dan juga menyentuh bibirnya sedikit demi sedikit.
Jawaban yang diberikan oleh Baekhyun bukanlah dalam bentuk kalimat dan gerakan kepala yang biasanya ia gerakkan mengangguk ataupun menggeleng—terkadang bahkan diikuti dengan gerakan bibir kecil yang berbentuk menggemaskan. Tapi kali ini ia menjawab bukan dengan gaya menggemaskan, melainkan menggairahkan. Ya, mungkin kata itu yang bisa menggambarkan jawaban yang diberikan oleh Baekhyun atas pertanyaan Chanyeol.
Baekhyun mencengkram wajah Chanyeol dan langsung melumat bibir kissable itu, tangannya menarik badan Chanyeol untuk semakin menyekap tubuhnya yang masih berada pada dinding kolam dan kakinya bergerak mengalungkan pada pinggang Chanyeol lagi dan tentu saja lelakinya mengarahkan dan membimbingnya dengan baik. Chanyeol mengikuti pergerakan lumatan bibir Baekhyun dan memberikan perlakuan seperti yang Baekhyun inginkan. Saat si mungil memohon untuk badannya disentuh, ia bahkan langsung mengiyakan dan memberikan sentuhan pada seluruh badannya, mengusap punggungnya, memainkan kedua buah dadanya dan meremas bokong sintalnya dan mulai menggoda bagian intim milik Baekhyun yang kini semakin terasa licin.
Chanyeol masih menciumi bibir Baekhyun namun kini pergerakan lumatannya sedikit kasar dan bergairah, tangannya bergerak mempersiapkan keadaan didalam intim milik Baekhyun yang akan dimasuki oleh miliknya yang sudah mengeras dan menegang itu.
"Ngghhh—ah!" Baekhyun mencengkram bahu Chanyeol, tangannya menjambak rambut belakang Chanyeol dan menarik sebagian rambutnya.
"Rileks Baekhyun." Chanyeol berbisik tepat disamping telinga Baekhyun, dan wanita itu mendongak kebelakang ketika milik Chanyeol benar-benar berada memenuhi kekosongan didalamnya. Mereka saling memandang sebentar dengan nafas yang mulai bergerak tak beraturan ditambah badan Chanyeol yang mulai bergerak menghujam miliknya untuk semakin menekan kedalam menyentuh titik kenikmatan Baekhyun.
"Ah." Baekhyun mendesah pelan dengan matanya yang terpejam sesekali ketika merasakan batang tumpul milik Chanyeol yang berada didalamnya mulai menyentuh titik kelemahannya.
Pergerakan yang stabil dan masih menuruti irama nafas teratur mereka tak lama berubah menjadi berantakkan tak beraturan. Chanyeol bergerak kasar sedangkan Baekhyun tak henti mendesah berteriak memanggil nama Chanyeol yang masih sibuk bergerak memberikan kenikmatan dengan bagian pinggulnya sementara bibirnya meluapkan erangan kenikmatannya sambil tetap menciumi bibir Baekhyun dan bahkan mengigit bibir itu atau leher dan bahu putih pucat Baekhyun.
"Chan—ah-ah-ah.." Baekhyun menggeliat bersandar pada dinding kolam, tangannya mulai mencari pegangan yang lain sambil menarik-narik dinding dibelakangnya yang tidak mungkin bisa menjadi pegangan tangannya hingga Chanyeol menahan tangan Baekhyun dan mengaitkan kedua tangan mereka, meletakkannya tepat diatas kepala Baekhyun sementara mereka saling berbagi desahan kenikmatan ketika masing-masing akan meledakkan bukti pergulatan panas yang sedari tadi mereka inginkan.
Dangerous Romance
"Ini kartumu?"
Chanyeol menggeleng dan menarik selimut yang menutupi badan Baekhyun dan kini memperlihatkan badan telanjang Baekhyun tepat dihadapannya.
"Masih mau melanjutkan permainannya?" Chanyeol kembali mengajukan tantangan.
Setelah percintaan panas yang mereka lakukan sejak kemarin malam—ini sudah hari ketiga mereka berada di Jepang atau bisa dibilang hari kedua mereka berada didalam resort yang disewa dan sama sekali tidak keluar dari resort tersebut sehubungan dengan badai salju yang masih melanda dan juga alasan menikmati waktu berdua untuk bercinta diatas ranjang—di dapur—di kolam—dan teras ruangan lebih terasa menarik dibandingkan keluar dari resort dan menikmati pemandangan salju.
"Aku menyerah, kenapa aku tidak pernah bisa menebak yang mana kartumu." Baekhyun meluapkan kekesalannya karena sedari beberapa jam yang lalu ia sama sekali tidak bisa mempraktekkan trik sulap yang ia pelajari dari buku yang pernah ia beli—entah sejak kapan.
Chanyeol menggelengkan kepala dan menyeringai penuh kemenangan, tangannya menarik badan Baekhyun sedangkan ia bersandar pada ranjang tempat tidur sehingga badan Baekhyun tepat berada diatasnya dan mereka masih dalam posisi tanpa busana atau pun selimut sedikitpun.
"Kalau tidak bisa menebak kartuku.. sekarang tebak apa yang aku pikirkan?"
Baekhyun memandang wajah Chanyeol sambil berpikir, tangannya mengusap lembut bahu lelaki itu dan membuat garis pada collarbone yang nampak di badan Chanyeol. Kecupan singkat ia berikan di dada lelaki itu dan berangsur-angsur naik kearah leher hingga ke bibirnya.
"Aku memintamu menebak Baek, bukan menciumi badanku." Chanyeol menangkup kedua tangan Baekhyun dan membawa badan wanita itu berbalik hingga kini berada dibawahnya. Baekhyun memandangi mata tajam yang kini tengah menatapnya, tangan Chanyeol yang merapikan surai rambutnya bahkan tidak cukup mengalihkan pandangannya.
"Menebak pikiranmu lebih sulit dibandingkan menebak kartu." Baekhyun akhirnya memberikan jawaban dan ikut memainkan surai rambut poni Chanyeol yang terlihat sedikit berantakan. "Terkadang aku berharap bisa menebak pikiranmu.. jadi aku tahu apa yang kau pikirkan tentang aku." Ciuman singkat ia berikan dan kembali melanjutkan pandangannya pada Chanyeol.
"Mau tahu apa yang ku pikirkan saat ini?"
Baekhyun menganggukkan kepala menyetujui kalimat yang ditanyakkan padanya, Chanyeol kembali menyeringai dan menundukkan kepalanya mendekat kearah wajah Baekhyun. Tangannya mengangkat dagu wanita itu dan memberikan ciuman lembut yang basah dan panas pada bibir tipis itu. Baekhyun tersenyum dan membalas ciumannya serta mengalungkan tangannya pada leher Chanyeol sedangkan kakinya sudah terbuka lebar dan melingkar pada pinggang Chanyeol. Mengisyaratkan bahwa apa yang dipikirkan Chanyeol sama dengan apa yang sedari tadi ia pikirkan—atau lebih tepatnya menginginkan hal yang sama.
Lenguhan meringis lembut menjadi suara pertama yang keluar dari mulut Baekhyun ketika merasakan lubang intimnya berhasil dipenuhi dengan milik Chanyeol.
"Apa masih sakit?" Chanyeol berbisik dihadapan Baekhyun dan gadis itu menggeleng dengan cepat.
"Milikmu itu terlalu besar Tuan Park."
Chanyeol menahan tawanya dan menciumi bibir Baekhyun hingga mata mereka terpejam guna menikmati pergerakan yang mereka lakukan. Chanyeol bergerak pelan naik turun diatas badan Baekhyun, hingga terdengar lenguhan erotis dari wanita dibawahnya barulah ia semakin mempercepat dan mulai bergerak tak beraturan. Bahkan ciuman yang sebelumnya lembut dan pelan kini sudah menjadi lumatan dan gigitan kasar di leher, dan seperti sebelum-sebelumnya ketika mereka mencapai sebuah saat puncak dari kenikmatan yang dicari bukan saja sebuah lenguhan dan pekikan nyaring—melainkan sebuah panggilan nama. Baekhyun akan mengelukan nama Chanyeol dengan desahan erotisnya sedangkan Chanyeol menyebutkan nama Baekhyun dengan erangan rendahnya.
Dangerous Romance
Jari telunjuk tangan Chanyeol bergerak dari bawah pinggang bawah Baekhyun mengikuti garis tulang punggung wanita itu hingga ke leher belakang dan kembali turun menuju pangkal pinggang Baekhyun, ditemani seringai bahagia diwajahnya ia melakukan gerakan itu berulang kali bahkan ketika pemilik badan itu menggeliat geli dengan suara tawanya yang lucu, Chanyeol hanya akan mencium bibir tipis dan kembali mengulang gerakan tangannya.
"Apa bentuk punggungku begitu menariknya buatmu hm?"
Chanyeol menganggukkan kepala dan kini jari tangannya bergerak meliuk di punggung Baekhyun. "Punggungmu putih dan halus.." Chanyeol memberikan ciuman pada bahu belakang Baekhyun dan menggigit pelan.
"Aaahh.." Baekhyun menggeliat geli merasakan gerakan tangan Chanyeol yang semakin melambat ketika turun menuju pangkal punggungnya.
"Menikmatinya?" Chanyeol berbalik bertanya dan Baekhyun membalas dengan berpindah diatas badan Chanyeol dan menciumi bibir lelaki. Chanyeol mengangkat badannya dalam posisi duduk dengan Baehyun yang masih berada diatas pangkuannya, membiarkan wanita mungilnya mendominasi bibirnya karena ia memilih menggoda Baekhyun dengan mengusap lembut punggung Baekhyun hingga ia melengkungkan punggungnya dan mendesah dalam lumatan bibir panasnya.
"Euummhh—" Chanyeol mengerang ketika Baekhyun meliukkan punggungnya dan semakin menekan bagian intimnya yang tertahan dibawah kukungan Baekhyun.
"Menikmatinya?" Baekhyun berbisik mengikuti ucapan Chanyeol sebelumnya; menggoda dan badannya semakin meliuk dan menekan pinggulnya menggoda bagian intim Chanyeol.
"Baek—aah—"
"Hm.. kenapa Chanyeol.." desahan Baekhyun keluar sebagai jawabannya dengan bibirnya bergerak memberikan kecupan pada leher dan dada pria dihadapannya, tangannya bahkan mengusap otot-otot tegang yang terbentuk pada bagian perut dan juga lengan Chanyeol dan tak lupa ia berikan kecupan basahnya.
Chanyeol mendongakkan kepalanya saat Baekhyun kembali memberikan ciuman pada leher dan juga gigitan kecil seperti yang sering ia lakukan tapi ketika bibir Baekhyun melumat bibirnya kembali, dirinya bergerak mendominasi—melumat bibir atas dan bawah wanita itu dan melesakkan lidahnya kedalam mulut kecil Baekhyun hingga suara kecipak dan tetesan air liur mereka membasahi bibir masing-masing bahkan hingga ke dagu bawah.
Baekhyun mendorong badan Chanyeol untuk menjauh dan menahan tangannya pada dada Chanyeol yang hendak mendekat kearahnya lagi. "Kita harus mandi Tuan Park, pesawatmu menunggu." Baekhyun berbisik pada kalimat terakhirnya dengan kedipan mata nakal sebelum ia beranjak turun dari pangkuan Chanyeol, berlari kecil menuju kamar mandi dan membiarkan pintunya tetap terbuka. Chanyeol menggelengkan kepalanya, kakinya melangkah cepat menyusul wanitanya didalam sana.
Dan acara mandi bersama mereka berakhir hingga dua jam kemudian karena pengertian mandi yang Baekhyun maksudkan adalah percintaan dibawah guyuran shower dan desahan nikmat atas percintaan yang terjadi disana, bahkan ketika mereka selesai dan seharusnya segera bersiap berpakaian kini masih menikmati berciuman sambil berdiri mengabaikan handuk mereka yang sudah terlepas dari badan masing-masing dan rintikkan air dari rambut di kepala mereka.
"Kris akan mengamuk menunggu lama di Bandara." Chanyeol sempat bersuara di tengah jeda ciuman mereka tapi setelahnya ia melanjutkan lagi dan menahan Baekhyun berniat menjawabnya. "Dia pasti akan menahan dirimu untuk bersamanya terus." Gumamannya terdengar lagi. "Dan aku akan menderita melihatnya."
"Aku mau bersamamu. Kau milikku." Baekhyun membalas singkat dan menarik wajah Chanyeol untuk kembali mencium bibirnya.
Chanyeol tersenyum dalam ciumannya dan berbisik mesra antara bibir Baekhyun yang terbuka menunggu sambutan bibir tebal Chanyeol.
"Aku milikmu Baek."
Dangerous Romance
Ruang tunggu kedatangan Bandara International Guangzhou kini terlihat sudah kembali sepi dan hanya menyisakan satu pria dan satu wanita yang duduk dengan wajah lesu dan suntuk karena entah sudah berapa lama mereka duduk disana. Bahkan sang Pria sedari tadi terlihat mondar-mandir di seluruh ruangan, bersandar pada kaca jendela kemudian kembali duduk dan setelahnya kembali lagi berdiri berjalan tak menentu dengan pandangannya terpaku pada layar monitor yang menginformasikan nama-nama pesawat yang sudah tiba di landasan terbang banadara tersebut.
"Bahkan pesawat Sehun lebih dulu tiba." Pria itu menunjuk kearah layar dan memperlihatkan pada wanita yang masih dalam posisi duduk dengan salah satu kakinya yang menyilang dan bergerak bosan.
"Berarti mereka terlambat hampir empat jam." Wanita itu menyahut, badannya bangkit dan melangkah kearah pria yang masih memperhatikan layar monitor itu.
"Aku berani bertaruh mereka menikmati waktu bercintanya." Sang Pria menyikut lengan wanita disampingnya sambil menyeringai nakal.
"Seharusnya kau bertaruh berapa banyak mereka melakukannya dalam tiga hari disana." Pria itu tersedak dalam diamnya dan mendorong badan wanita itu hingga terhuyung kedepan sambil tertawa bahagia.
"Xi Luhan mulutmu benar-benar!"
"Kalimatku tidak salah kan? Aku menjelaskan sesuatu kenyataan disini Tuan Wu." Luhan, wanita yang sedari tadi bersamanya membalas lagi.
Xi Luhan dan Kris Wu yang sedari tadi menunggu kedatangan dari Baekhyun dan Chanyeol adalah rekanan bisnis dari Park Inc dan mereka juga masih termasuk dalam garis keturunan Keluarga Baekhyun karena kedua Nyonya Besar Xi dan Nyonya Besar Wu adalah kakak dari Eomma Baekhyun atau bisa dipersingkat—Luhan dan Kris adalah sepupu Baekhyun.
"Aku benar-benar ingin membawa mereka langsung ke depan altar dan meminta pastor menikahkan dua manusia aneh itu." Kris kembali duduk pada kursi ruang tunggu, kedua tangannya terlipat didepan dada namun matanya masih memandangi layar diatasnya.
"Bersabar saja.. toh semua rencana berjalan lancar kan?" Luhan berbalik sebentar menengok kearah Kris dan tak lupa kedipan mata ia lakukan pada pria yang kini menganggukan kepala dan juga tersenyum lebar.
"Yeah.. semoga berjalan dengan lancar."
e)(o
Dangerous Romance
