Setelah pengakuan yang Baekhyun ucapkan didalam mobil dan hampir membuat bingung Kris dan Luhan karena sepupu mereka itu tidak berhenti-hentinya menangis dan terseguk-seguk menyebutkan nama Chanyeol dan bergumam aneh mengenai perasaannya dan juga perjanjiannya, ditambah wanita itu mengeluh karena tidak adanya stock tissue didalam mobil Kris dan Baekhyun mengungkapkan kekesalannya secara langsung dan menyalahkan Kris karena kini sweater milik Chanyeol yang digunakkan untuk menghapus jejak-jejak air matanya dan juga beberapa aliran cairan kental dari hidungnya.

"Aku masih tidak mengerti kenapa kau menangis seperti ini hanya karena kau mencintai Chanyeol, dan lagipula aku sudah mengatakan dari awal bahwa kau pasti mencintainya! Dan apa maksudmu dengan perjanjian?"

Baekhyun terdiam mendengar ocehan cukup panjang dari Luhan yang tanpa jeda.

"Sudah ku katakan dari dulu bahwa kau pasti memiliki perasaan terhadapnya. Tidak mungkin ada seseorang yang bisa bersahabat lebih dari 10 tahun dan tidak memiliki perasaan apapun. Kalau itu adalah kau dan Kyungsoo mungkin aku percaya, tapi yang kita bicarakan adalah dirimu dan Chanyeol!"

"Tapi aku memang tidak tahu kalau aku mencintainya sejak lama, Luhan!" Baekhyun melayangkan protest, mengarahkan badannya berada di sela jarak kursi Kris dan Luhan.

"Ya karena kau memang tidak pernah mengenal apa namanya cinta Baekhyun." Luhan menolehkan kepalanya. "Kau menganggap bahwa cinta itu seharusnya seperti cerita-cerita negeri dongeng, seorang pangeran yang akan mendatangimu dan menyatakan cinta dan baru menikah! Itu khayalan anak kecil Baekhyun! Kau tidak akan mendapatkan jodohmu hanya dengan menunggu sampai orang itu datang dan melamarmu secara langsung, kecuali kau menerima perjodohan dari ayahmu waktu itu mungkin iya, itu yang akan terjadi padamu."

"Aku tidak mau dijodohkan!" Baekhyun menyahut dengan sedikit berteriak.

"Kau tidak mau dijodohkan tapi kau juga tidak pernah berpacaran dengan siapapun, sekarang saat ku bilang pacari saja Chanyeol kau malah menganggapnya hanya sahabat. Aku tidak mengerti dengan pola pikiranmu." Luhan menggelengkan kepala dan mengdengus kesal.

"Karena Chanyeol memang hanya sa..ha..bat."

"Hah?! Sahabat? Lalu jawab pertanyaanku! Siapa ciuman pertamamu?"

Baekhyun menatap Luhan bingung.

"Ayo jawab, siapa ciuman pertamamu?" Luhan kembali menanyakkan kearah Baekhyun hingga Kris ikut memperhatikan kedua orang itu yang masih saling melempar tatapan intimidasi ke satu sama lain.

"Chan-chanyeol." Bibir Baekhyun berucap pelan.

"Lalu siapa orang pertama yang mengajakmu kencan?"

"Chanyeol." Suaranya semakin pelan.

"Siapa orang yang mengajakmu ke prom night untuk pertama kalinya saat tahu tidak ada satu orang pun di sekolahmu yang mengajakmu?"

"Chan—" semakin pelan namun isakannya kembali terdengar.

"Siapa yang mengucapkan ulang tahun padamu setiap tahunnya tepat pada pukul dua belas malam?"

"Cha—"

"Siapa yang menjadi emergency call pada kontak di dalam ponselmu?"

"Siapa yang rela berlari dari sekolah menyusulmu ke rumah sakit saat tahu dirimu mengalami kecelakaan? Siapa yang rela di skors dan dihukum selama seminggu karena dia habis memukuli anak laki-laki bodoh yang mau memperkosamu? Siapa yang menolak beasiswa di Oxford hanya karena seorang gadis yang bernama Byun Baekhyun diterima di Standford?"

Luhan terdiam memberikan jeda pada bibirnya yang sudah terasa kering karena mengucapkan semua kalimat tanpa bernafas sedikit pun.

"Tidak ada sahabat yang melakukan itu semua bila tidak ada perasaan cinta Baek, bahkan aku dan Kris yang jelas-jelas adalah bagian keluargamu tidak bisa melakukan hal seperti yang Chanyeol lakukan padamu. Bahkan ketika kedua orang tuamu meninggal, Chanyeol lebih dulu menguatkanmu dibandingkan kami berdua."

Baekhyun semakin menundukkan kepalanya, ia masih terisak dan bahkan air matanya menetes demi setetes kearah tangannya yang meremas sweaternya. Luhan menghela nafas sebentar dan hendak berucap lagi kearah Baekhyun tapi Kris menahannya dan mengisyaratkan dirinya untuk diam dengan gesture tangannya yang bergerak menahan didepan mulutnya. Hingga pada akhirnya mereka saling diam mendengarkan Baekhyun yang menangis dan pada akhirnya wanita itu terjatuh tidur lelap di dalam mobil.

Kris membawa mobilnya memasuki gerbang kediaman Luhan yang sudah terbuka lebar menyambut kedatangan mobilnya, tepatnya menyambut seorang Putri kesayangan mendiang Tuan dan Nyonya Byun yang sudah lama tidak kembali ke tanah kelahiran Ibunya. Setelah kejadian tragis yang merenggut kedua orang tua Baekhyun, wanita itu sama sekali tidak mau kembali mengungkit semua yang berhubungan dengan orang tuanya, bahkan wanita itu meninggalkan semua harta bendanya dan enggan untuk membawanya ikut saat ia pergi kuliah di negara asing yang cukup jauh untuk dijangkau.

Byun Baekhyun, wanita keras kepala dan sulit diatur.

Ungkapan kalimat itu selalu diucapkan oleh kedua orang tua Kris dan Luhan melihat kondisi puteri mendiang Tuan Byun.

Tapi semua itu berubah ketika Baekhyun pada akhirnya kembali ke China dan menemui paman dan bibinya meminta warisan Tuan Byun untuk ia gunakkan untuk bekerja sama dengan Chanyeol, meskipun sebenarnya mereka sangat menginginkan Baekhyun memimpin Perusahaan mendiang ayahnya. Setidaknya melihat Baekhyun memiliki ketertarikan dalam dunia bisnis membuat mereka sedikit lega karena suatu saat nanti Baekhyun mungkin bisa mengambil alih perusahaan keluarganya sendiri.

"Dia terlihat lelah." Tuan Xi yang membukakan pintu kediaman tersenyum kecil melihat Baekhyun yang berada dalam gendongan Kris di tangannya.

"Tentu saja dia lelah. Dia kurang istirahat." Luhan menyahuti sebelum mencium kedua pipi ayahnya, menahan berkomentar lebih erotis mengenai alasan yang menyebebakan kenapa Baekhyun kelelahan.

Kris mengikuti Luhan yang memimpin didepannya menuju sebuah kamar yang sudah menjadi kamar Baekhyun setiap wanita itu mengunjungi negara ini.

"Rebahkan saja badannya diatas ranjang." Luhan menunjuk sebuah ranjang besar dengan selimut berwarna pink dengan motif bunga-bunga dan tanpa ada jawaban Kris langsung menghempaskan badan Baekhyun dengan sedikit kasar, bahkan terdengar rintihan kesakitan dari wanita itu namun pada akhirnya ia kembali terlelap ketika mendapatkan sebuah guling yang diarahkan oleh Kris.

"Dia benar-benar masih terlihat seperti anak kecil." Kris mengusap kening Baekhyun, tangannya merapikan surai ranbut golden yang dimiliki wanita itu, dan juga mencium pipi wanita itu yang selalu ia anggap adik kecil baginya.

"Dia memang anak kecil, sayangnya ia sudah menjadi wanita mesum karena Chanyeol." Kekehan Luhan disetujui Kris dan mereka tertawa bersama-sama.

"Setidaknya ia sudah mengakui telah jatuh cinta pada si mesum Park itu."

"Akhirnya."


e)(o

Dangerous Romance

Chapter 10


"Hyung, kenapa kau tidak mau menginap satu kamar bersamaku sih?"

"Tidak mau. Satu kamar denganmu malah membuatku susah tidur." Chanyeol menarik kopernya masuk dalam sebuah lift yang sudah terbuka setelah mereka menunggu hampir lima menit lamanya.

"Ya, kau hanya bisa tidur nyenyak hanya dengan Baekhyun." Sehun menggerutu kesal,menekan tombol angka lantai yang akan ia tuju.

"Kau sudah tahu dan kenapa masih menanyakkannya."

"Bukan menanyakkan, hanya memastikan kalau kau memang benar-benar sudah jatuh cinta pada wanita mungil mesum menggoda itu—akh!"

Chanyeol melayangkan sebuah pukulan kencang dikepala Sehun hingga pria itu meringis kesakitan.

"Dia milikku!" Chanyeol menekan kebawah kepala Sehun dengan sedikit kasar sebelum melangkah keluar pada lantai dimana kamarnya berada, meninggalkan Sehun di dalam lift sendirian menggerutu kesal serta menahan sakit pada kepalanya karena ulah Chanyeol.

Chanyeol Pov

Sebenarnya aku menyesali keputusan untuk menginap di sebuah kamar hotel sendirian seperti ini, tapi mengingat selama tiga hari kemarin atau tepatnya dua hari penuh dipenuhi dengan kegiatan bercinta panas dengan Baekhyun, akan lebih baik untuk kami berdua berjauhan sementara waktu. Berdekatan dengan Baekhyun tanpa mencumbui badan dan bibirnya itu adalah sebuah cobaan yang sangat berat untukku, jangan tanya kenapa karena aku tidak mempunyai jawaban yang pasti untuk diberikan kepada kalian.

Dan seperti yang dikatakan oleh Sehun sebelumnya, sudah pasti aku tidak bisa tidur tanpa dirinya berada didekat ranjang yang sama denganku. Pada awalnya aku kira itu disebabkan karena kami memang sudah terbiasa bersama sejak masa sekolah menengah atas, tapi kakakku mengatakan itu bukanlah penyebabnya.

"Kau pasti mencintainya Yeol, tidak mungkin ada seorang pria yang mau bersama dengan seorang wanita yang sama dalam kurun waktu lebih dari 10 tahun dan mengatasnamakan persahabatan ada diantara kalian."

Ucapan Yoora yang selalu aku ingat hingga sekarang, terlebih saat aku selesai membaca sebuah novel picisan yang ternyata memiliki sebuah kisah cinta yang sangat menyedihkan. Jangan menertawakan aku, tapi aku sungguh membacanya. Bahkan aku menangis saat mengetahui akhir kisah cinta mereka tragis, sang wanita yang bernama Emma meninggal, dan meninggalkan Dexter—sang pemeran utama pria. Sebenarnya kisah salah satu pasangan meninggal sudah biasa dan banyak yang menggunakkan plot itu sebagai kisah sad ending di sebua novel, drama, maupun film. Yang membuatku menangis dan bahkan hampir gila membayangkannya adalah, perjuangan Dexter untuk mendapatkan Emma itulah perjuangan sedih yang membuatku menangis, dan pada akhirnya ia mengakui mencintai seorang Emma yang selama ini selalu ia anggap sebagai sahabat—classic.

Satu hal yang membuat hatiku terasa sesak adalah, Dexter sempat menikahi wanita lain dan bahkan memiliki seorang Puteri sedangkan Emma memilih menjauh dari Dexter tinggal di negara lain dan memiliki kehidupannya sendiri, tapi namanya sebuah film pasti akan berakhir bahagia bukan? Terbukti Dexter dan Emma bisa menjadi sepasang suami istri—akhirnya! Aku benar-benar senang membaca bab-bab terakhir hingga pada akhirnya saat mereka menginginkan sebuah anak didalam kehidupan mereka, Emma mengalami sebuah kecelakaan dan berakhir meninggal. Tragis! Dan saat itulah aku benar-benar takut akan kehilangan Baekhyun, aku tidak mau mengalami nasib yang sama seperti Dexter maupun Romeo yang berakhir harus menangis terisak karena kehilangan seseorang yang dicintainya.

Tapi kesalahan yang ku buat adalah, adanya perjanjian yang pernah kami buat mengenai larangan mencumbu dan lain-lainnya. Padahal aku pikir perjanjian itu bisa saja mewujudkan keinginan Tuan Byun sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya agar Puteri semata wayangnya itu menjadi wanita yang terhormat dan mendapatkan pasangan yang selalu diinginkan olehnya yang bisa menjaga dan melindunginya—tapi nyatanya perjanjian itu yang menjebak diriku sendiri dan sulit mengungkapkan perasaanku padanya.

Menurut Sehun, kesalahan memang dari kami berdua yang sama-sama bodoh untuk mengungkapkan perasaan masing-masing. Dia mengatakan bahwa aku tidaklah pantas mendapatkan sebutan playboy karena sebenarnya aku bukanlah pemain wanita seperti yang dipikirkan oleh orang lain.

"Mana ada playboy yang ingin bercinta hanya dengan satu wanita?" Salah satu ucapan Sehun yang sebenarnya membuatku kesal tapi kenyatannya memang benar.

"Seorang playboy dan pencinta wanita tidak mungkin bisa menahan hasratnya bila berada dalam satu ruangan dengan wanita yang bertingkah menggoda seperti Baekhyun. Hanya kau yang bisa menahan diri sendiri meskipun tersiksa bukan?" Kalimat lainnya yang aku dapatkan dari Luhan saat aku mengelak mengatakan bahwa aku mencintai sepupunya.

Beruntungnya mereka berdua mau membantuku untuk meluruskan kesalahan yang pernah ku buat karena perjanjian awal kami yang menahan aku untuk bisa menunjukkan dan memancing agar Baekhyun bisa luluh kepadaku atau setidaknya menunjukkan ketertarikan sedikit.

Dan itu hampir berhasil sampai saat ini, berterima kasihlah pada Kris dan Luhan yang mengatakan bahwa dengan melarang Baekhyun bertemu para pria lainnya dan menggoda dia dengan sedikit sentuhan ditambah kecemburuan Baekhyun bila aku bertemu dengan wanita-wanita lainya—yang sebenarnya hanyalah sebuah kebohongan belaka. Ini menjadi sebuah rahasia besar yang mungkin bila Baekhyun mengetahuinya dia akan membanting badanku keatas tanah dengan kasarnya.

Rencana yang aku susun cukup membuat Kris dan Luhan tercengang, tentu saja satu pukulan pada pipi sudah aku terima saat Aku mengatakan pada Kris bahwa aku mencintai sepupunya dan mungkin akan menikahinya—mungkin suatu saat—kalau Baekhyun setuju menikah denganku. Pukulan kedua aku dapatkan dari Luhan, tepatnya sebuah tamparan cukup keras di pipi kananku. Ia menganggap aku hanya akan memainkan perasaan sepupunya itu dan saat ia melihat perjanjian apa yang kubuat dengan Sehun, hatinya luluh dan semakin bersemangat untuk mendukung rencana yang aku buat.

Sialnya, waktuku tidak banyak. Hanya dua tahun.

Menujukkan perasaanku padanya sangatlah mudah, aku sudah terbiasa memprioritaskan Baekhyun diatas segalanya bagiku, membuat dia merasa aku perhatikan dan dicintai olehku itu mudah dilakukan. Yang sulit adalah membuat dia merasa hal yang sama denganku dan tentu saja mau menerima perasaanku.

Perjuangan masih panjang.

Chanyeol's Pov End.


Dangerous Romance


Chanyeol masih terjaga didalam kamar hotelnya, menikmati sebuah wine di tangan kirinya serta memandangi langit Kota Guangzhou yang masih nampak begitu ramai dengan kelap kelip dari lampu sorot kendaraan lalu lalang maupun pancaran lampu gedung – gedung yang menjulang disekitarnya, meskipun waktu di Kota tersebut sudah menunjukkan angka dua dini hari pagi. Chanyeol mendesah kesal dengan kedua matanya menatap gelas wine yang ia pegang sedari tadi hanya menyisakkan sedikit cairan yang akan habis dalam tegukkan terakhirnya sedangkan pesanan botol wine ketiganya belum juga tiba sejak 12 menit yang lalu ia pesankan melalui layanan room service.

Dirinya sudah merasa kesal hingga pada akhirnya ia menegak habis minumannya dan beralih menuju tempat telepon dalam kamar hotelnya, menekan sebuah tombol yang langsung tersambung dengan bagain layanan restaurant di hotel tersebut, mendengar suara jawaban tepat diseberang teleponnya Chanyeol tidak membuang waktu untuk menanyakkan masalah mengenai apa yang ia pesankan sebelumya.

"Petugas kami sudah mengantarkan apa yang dipesankan Tuan, mohon tunggu dalam beberapa menit kede—

Ting Tong

"Oh, maafkan aku. Sepertinya ia baru tiba." Chanyeol memutuskan sambungan teleponnya dan berlari kecil membuka pintu kamarnya guna menyambut petugas hotel yang akan memberikannya satu botol kenikmatan untuk menemani malamnya yang sangat sepi.

Tapi nyatanya terdapat kejutan lain untuknya, karena saat ia membuka pintu yang didapati adalah sosok wanita yang sedari tadi ia pikirkan membawa sebuah botol wine yang ia pesan.

"Hai!"

"Ba-baek?" Chanyeol mematung melihat Baekhyun berada dihadapannya, ditambah dengan celana tidur bercorak strawberry yang ia kenakkan sebagai bawahannya dan tak lupa sandal tidur berwarna pink yang menjadi alas kakinya. Meskipun wanita itu tengah mengenakkan mantel hitam, tapi jelas setiap orang yang melihatnya dengan jelas tahu bahwa dirinya mengenakkan sebuah kaos dengan corak yang sama seperti celana bawahnya.

"Siapa yang mengatakan akan istirahat tadi, pada kenyataannya dia memesan minuman—oh kau sudah menghabiskan 2 botol?! Chanyeol!" Baekhyun tengah mengamuk didalam kamarnya dan kini menyingkirkan dua botol wine kosong yang Chanyeol sudah habiskan.

Sementara Baekhyun tengah sibuk menyingkirkan botol-botol itu dan tentu saja mencari sebuah gelas yang lainnya untuk dirinya sendiri, lain halnya dengan Chanyeol yang masih menatap bingung dengan keberadaan Baekhyun didalam kamar hotelnya.

"Cepat tutup pintu kamarmu Tuan Park! Kau mau mengundang semua orang masuk hah?" Baekhyun menyadarkannya, wanita itu tengah menyesap sedikit rasa wine yang ia pegang sebelumnya, membuka mantel hitamnya dan merebahkan badannya pada sofa ruangan hotel itu dengan begitu santainya. Chanyeol menggelengkan kepalanya dan masih berpikir panjang mengenai kehadiran Baekhyun.

"Bisa jelaskan apa aku memang berkhayal tentangmu atau kau memang berada disini bersamaku, atau sebenarnya aku sudah tidur lelap dan bermimpi tentangmu?" Chanyeol menyikap kedua tangannya dan berdiri tepat didepan Baekhyun yang sedang menikmati rasa cairan merah manis sepat dilidahnya.

Baekhyun tertawa kecil, ia membersihkan beberapa cairan yang sedikit keluar dari mulutnya lalu memandangi Chanyeol yang masih memperhatikannya dengan tatapan sangat bingung. Badannya ia bangkitkan supaya langsung berhadap-hadapan dengan Chanyeol, kedua tangannya bergerak melingkar di pinggang Chanyeol dengan kepalanya yang mendongak keatas melihat lebih jelas wajah lucu dan menggemaskan milik Chanyeol yang bingung karena dirinya berada di hadapannya.

"Aku kira otakmu cukup cerdas untuk membedakan mana mimpi dan kenyataan." Baekhyun menggoda dan menjinjitkan kakinya agar bisa mencium bibir milik Chanyeol. "Apa ini terasa seperti mimpi?" Baekhyun memaksakan kakinya untuk lebih tinggi menjinjit pada posisi yang sama dan mengecup bibir tebal itu berkali-kali hingga pada akhirnya lengan Chanyeol melingkar di pinggangnya dan mengangkat badannya lebih naik hingga wajahnya lebih sejajar dengan wajah pria itu.

"Byun Baekhyun yang tidak pernah patuh hm." Chanyeol mencium bibir Baekhyun dengan penuh gairah, kedua tangan Baekhyun kini berpindah melingkar pada leher Chanyeol memberikan pegangan pada badannya agar bisa menikmati ciuman yang Chanyeol mulai di bibirnya yang sudah ia bayangkan sejak kakinya melangkah keluar dari kediaman Luhan.

"Aku benar-benar merindukanmu." Baekhyun mengungkapkan salah satu alasannya mendatangi Chanyeol. "Aku sudah terlelap tidur karena menangis setelah kau turun dari mobil tapi anehnya aku masih terbangun."

"Dan kau berpikiran mendatangiku?"Baekhyun menganggukkan kepalanya.

"Bagaimana kalau aku sudah terlelap tidur dan kau tidak bisa masuk kedalam kamarku?" Pertanyaan Chanyeol nyatanya membuat Baekhyun tertegun berpikir mengenai nasibnya bila saat ini memang Chanyeol tengah terlelap dan dia tidak mungkin berjalan kembali menuju rumah Luhan.

"Bagaimana?" Chanyeol menanyakkan lagi karena melihat wajah Baekhyun yang begitu serius berpikir.

"Ah! Aku bisa menginap juga disini. Aku membawa dompetku." Baekhyun mengeluarkan dompetnya dan memperlihatkannya pada Chanyeol. "Jangan meremehkan aku Park!" Baekhyun menarik dagu Chanyeol mendekat kearah wajahnya, mendaratkan sebuah ciuman pada bibir tebal itu dan melumatnya dengan lembut.

Chanyeol membiarkan bibir tipis manis milik Baekhyun mendominasi bibirnya, membiarkan bibirnya dilumat dengan kasar dan tergesa-gesa dan bahkan gigitan kecil dari gigi Baekhyun malah membuatnya ingin tertawa karena jelas Baekhyun masih sangat kaku dalam hal berciuman. Lenguhan dari Baekhyun terdengar ketika Chanyeol mulai mengambil alih bibir Baekhyun, lidahnya melesak masuk dan bertarung didalam sana dengan lidah Baekhyun, gigitan kecil dan sedikit tarikan Chanyeol berikan pada bibir Baekhyun hingga wanita itu kembali mengerang—

Kriuk

Chanyeol menghentikkan pergerakan bibirnya, mereka berdua kini saling memandang satu sama lain namun terlihat jelas wajah Baekhyun menahan malu karena tak lama kepalanya menunduk bersandar pada bahu Chanyeol. "Aku lapar." Baekhyun mengakui kondisi perutnya yang masih berbunyi menandakkan kekosongan pada isi lambung dan ususnya.

"Siapa tadi yang tidak mau menghabiskan makananya." Chanyeol memeluk Baekhyun dengan erat serta memberikan kecupan pada kepala Baekhyun. "Ayo turun, aku akan mengambil mantelku dan kita pergi mencari makanan." Kedua tangannya mengarahkan badan Baekhyun untuk turun dari gendongannya sementara Baekhyun menahan dirinya.

"Kau menyuruhku makan di jam segini?"

"Kenapa? Kau lapar kan?" Chanyeol menatap bingung kearah Baekhyun yang menatapnya dengan tajam.

"Kau mau aku gendut hah?!" Sontak Baekhyun langsung mengucap cukup keras dan menjatuhkan kakinya kembali berpijak pada karpet hotel. "Aku tidak mau makan. Biarkan aku tidur saja." Badannya berbaring pada sofa yang berada didekatnya dengan kedua tangannya melingkar pada perutnya.

Chanyeol menghampiri Baekhyun dan langsung membalikkan badan wanita itu hingga menghadap kearahnya yang kini sudah berada diatas badan Baekhyun. "Makan atau aku akan bercinta denganmu saat ini juga."

Dan sontak Baekhyun mendorong serta memukul badan Chanyeol cukup keras. "DASAR MESUM!"

"Ayo makan!" Chanyeol menarik kedua tangan Baekhyun supaya wanita itu bangkit dari posisinya.

"Aku bisa gendut Chanyeoooll!"

"Aku tidak peduli! Bahkan saat kau gendut pun aku tetap menyukainya." Chanyeol berucap dengan cepat dan sontak membuat Baekhyun tersenyum malu mendengarnya.

"Jadi kau lebih memilih membiarkan aku gendut dan tidak mau bercinta denganku." Baekhyun menahan tangan Chanyeol dan menarik pria itu untuk mendekat kearahnya. "Bagaimana kalau aku menginginkan memakanmu sekarang Tuan Park?" Baekhyun berbisik tepat didepan bibir Chanyeol dan leher pria itu.

"Baekhyun.." Chanyeol menahan bahu Baekhyun dan sedikit menjauhkan badanya dari wajah Baekhyun.

"Hm." Baekhyun menyahut cepat sedangkan bibirnya mengecup leher Chanyeol dengan kedua tangannya yang mulai masuk dibalik kaos yang Chanyeol kenakkan. "Kau menginginkan aku makan bukan?" Baekhyun mendorong badan Chanyeol hingga menabrak pembatas pinggir sofa yang mereka duduki sebelumnya.

Chanyeol menahan badan Baekhyun dengan cukup kuat hingga wanita itu benar-benar tertahan untuk tidak mendekat kembali kearahnya.

"Hmmpptt hahaha! Lihatlah wajahmu kenapa tegang begitu?" Baekhyun menjauhkan badanya dan duduk pada sisi sofa lainnya, menghadap kearah wajah Chanyeol yang tegang dan takut akan diperkosa oleh Baekhyun. "Kau ini payah sekali sih! Bagaimana kau bisa menjadi seorang playboy dan takut bila ada wanita yang menggodamu seperti tadi." Baekhyun menepuk paha Chanyeol dan bangkit berdiri.

"Bagaimana tidak takut melihatmu seperti itu hah! Jangan bilang kau melakukannya pada pria-pria yang pernah kau temui." Chanyeol ikut bangkit dan masuk berjalan kearah lemarinya untuk mengambil mantel.

"Yaaa! Aku tidak pernah menggoda mereka seperti itu."

"Mana aku tahu." Chanyeol menjawab dengan suara datar, mengacuhkan Baekhyun yang menghampirinya serta memeluk pinggangnya lagi dengan kedua tangan mungil miliknya.

"Chanyeol.." Baekhyun merengek, kedua tangannya mengusap perut Chanyeol sedangkan bibirnya mencium punggung Chanyeol yang terhalang dengan mantel hitamnya. "Aku hanya ingin menggodamu. Jangan marah.." Chanyeol masih terdiam dan mematung dalam posisi berdirinya, membiarkan Baekhyun merayu dirinya untuk tidak terlalu lama marah padanya hanya karena godaan yang cukup membuat Chanyeol kaget dibuatnya. "Aku tidak pernah menggoda pria yang lainnya, sungguh."

Chanyeol masih terdiam.

"Chanyeol.."

"Chanyeol jangan marah.."

"Chan.."

"Yeol.."

Chanyeol tersenyum mendengar namanya dipanggil dengan begitu imutnya oleh suara lembut Chanyeol, ia berbalik dan menjadi pihak yang memeluk badan Baekhyun. Kepalanya bersandar pada bahu wanita itu guna mencium aroma strawberry yang selalu melekat pada tubuh Baekhyun dan menjadi aroma ciri khas Baekhyun.

"Jangan melakukan hal itu lagi untuk menggodaku Baek. Aku tidak mau kau melakukannya dengan pria yang lain juga atau siapapun pria brengsek diluar sana bila bertemu denganmu."

Baekhyun mengangguk patuh. "Aku tidak akan melakukannya lagi."

"Janji?"

Kepalanya bergerak naik turun memberikan anggukkan lagi. "Aku janji."

Chanyeol melepaskan pelukannya, memberikan usapan pada pipi Baekhyun dan juga kepalanya.

"Aku kira kau akan menyukainya." Baekhyun merenggut menandakkan wanita itu kesal karena gagal memberikan sebuah kejutan menggoda.

"Aku menyukainya, tapi aku tidak mau kau melakukannya untuk menggodaku. Harusnya aku yang menggodamu." Chanyeol mencubit pipi Baekhyun yang menggembung dan setelahnya pria itu tertawa karena Baekhyun mendelik tajam kearahnya mengetahui pipinya menjadi bahan mainan dari tangan jahil Chanyeol.

"Ayo kita cari makanan untukmu." Tangan Chanyeol menarik tangan Baekhyun dan membawa kedua badan mereka keluar ruangan sebelum Baekhyun akan mengamuk dan menggodanya lagi.


Dangerous Romance


Menikmati Kota Guangzhou di waktu dini hari bukanlah rencana yang baik terlebih saat udara di Kota tersebut berada di angka minus dari nol derajat, dan perlu diingat sosok mungil yang tidak melepaskan pelukannya pada pinggang Chanyeol saat ini sangat membenci suhu dingin. Kaki nya tengah sulit berjalan sedangkan mulutnya juga tak sanggup untuk bicara satu kata pun.

"Kita kembali ke hotel ya." Chanyeol berulang kali menanyakkan hal itu tapi si mungil keras kepala bernama Byun Baekhyun masih menggeleng. "Sudah tidak ada penjual dim sum yang buka sekarang." Kembali Chanyeol membujuknya dan Baekhyun masih terdiam tidak memberikan jawaban.

Rencana awalnya Chanyeol memang akan membelikan Baekhyun makanan tetapi di Restaurant dekat Hotel mereka, tapi setelah memakan satu mangkuk Lamian, wanita itu meminta Chanyeol membelikan dim sum untuk dirinya dan pada akhirnya mereka berjalan mencari jajanan yang diinginkan di saat jam tengah menunjukkan waktu dini hari dan entah penjual dim sum mana yang masih berjualan di Kota ini. Sedangkan Baekhyun yang memiliki keinginan untuk memakan makan tersebut juga tetap meyakinkan Chanyeol bahwa pasti masih ada yang berjualan.

"Baekhyun.." Chanyeol menghentikkan langkahnya dan melihat disampingnya Baekhyun tengah menggigil dengan gertakan gigi yang saling beradu. "Astaga! Baekhyun!" Chanyeol panik dan langsung menggendong Baekhyun di punggung belakangnya dengan susah payah karena wanita itu masih menginginkan mereka mencari jajanan itu. "Kita pulang sekarang dan besok pagi kau akan mendapatkan dim sum sebanyak yang kau inginkan!" suara Chanyeol terdengar seperti perintah dan tidak mungkin bisa dibantah oleh siapa pun bahkan oleh Baekhyun sendiri karena pada kenyataannya wanita itu tersenyum kecil dibalik punggung Chanyeol.

Chanyeol benar-benar tidak berkomentar apapun lagi setelah ucapannya yang terakhir ia katakan, ia membawa Baekhyun dalam gendongannya dan melangkah lebih cepat agar bisa kembali menuju kamar Hotelnya sebelum Baekhyun semakin menggigil kedinginan. Langkah dan deru nafasnya bisa terdengar oleh Baekhyun, dan wanita itu tentu tahu Chanyoel tengah tergesa-gesa melangkah tapi bagi Baekhyun itu terdengar sangat sexy dan ia membayangkan nafasnya saat mereka sedang bercinta di atas ranjang. Baekhyun mengeratkan pelukannya pada leher Chanyeol, menyandarkan kepalanya pada bahu belakang pria itu untuk merasakan aroma tubuh Chanyeol yang sangat kuat tercium.

Baekhyun memejamkan kedua matanya walaupun sebenarnya ia berusaha keras untuk tetap terjaga dalam gendongan Chanyeol, bahkan saat pria itu memohon kepada petugas hotel untuk membawakan handuk tambahan dan juga air panas ke kamarnya, Baekhyun masih berakting sempurna dan berpura-pura tidur. Ketika Chanyeol merebahkan badannya pada ranjangnya dan juga membuka satu-satu bajunya digantikkan dengan pakaian Chanyeol lainnya, Baekhyun masih menahan matanya terpejam tapi badannya mulai bergerak serta rintihan dari mulutnya untuk memberi tahukan pada Chanyeol bahwa badannya masih terasa dingin.

"Chan.. dingin.."

Padahal sebenarnya Chanyeol sudah memberikan baju hangat dan selimut tebal menutupi badan wanita itu tapi tetap ia mendengar rintihan kedinginan dari Baekhyun.

"Aish!" Chanyeol mendengus kesal. Pria itu dengan cepat menyibak selimut tebalnya, memeluk badan Bakehyun dengan begitu erat dan menutupnya kembali dengan selimut tebal, bahkan Chanyeol mengusap punggung Baekhyun dengan lembut serta memberikan kecupan pada kepala Baekhyun berulang kali. Posisi mereka bertahan hingga ke menit-menit selanjutnya, Baekhyun merasakan nyaman berada dipelukan Chanyeol begitu juga dengan Chanyeol. Tidak ada bantahan meskipun satu diantara mereka seharusnya mengeluhkan sakit pada tangan yang harus tertekuk sebagai bantal atau pun bagian badan mereka yang digunakkan sebagai guling.

"Chan." Baekhyun memecah keheningan, matanya mulai terbuka dan memandang jauh kearah sudut kamar hotel mereka. Chanyeol belum menjawab panggilannya tapi tangan pria itu masih bergerak membelai rambut Baekhyun.

"Chanyeol." Baekhyun kemabali memanggil dan kini badannya bergerak memindahkan posisinya hingga berada diatas dada pria itu, wajahnya menghadap kearah Chanyeol dengan begitu jelas dan terpaku pada kedua bola mata Chanyeol yang terarah kepadanya.

"Kenapa tidak menjawab panggilanku?"

"Ku kira kau memanggilku dalam mimpimu."

Baekhyun mengerut kesal. Menolehkan kepalanya kearah lain dan juga hendak membawa badannya berbalik agar bisa memunggui Chanyeol tapi jelas badannya kini tertahan oleh pelukan Chanyeol yang cukup kencang.

"Aaaahhh.." Baekhyun merengek ketika badannya semakin dipeluk dan kini dipindahkan kesamping badan Chanyeol. Kaki panjang lelaki itu memenjarakan kedua kaki mungilnya dan kedua tangannya juga tidak bisa bergerak bebas.

"Aaaahhh Chanyeol aku ingin tidur!" Chanyeol tidak memperdulikannya lagi. Pria itu malah meletakkan kepalanya diantara bahu dan leher Baekhyun dan terlelap disana.

"Tidur saja, aku juga ingin tidur."

"Yaaaaa! Tapi tidak seperti ini!"

Chanyeol masih tidak peduli.

"Chanyeeeoollllll."

"Chaaaaaannnnnn!" Baekhyun pura-pura menangis dengan masih berusaha memberontak dari kukungan tangan dan kaki Chanyeol

"Diam Baek, dan tidurlah dengan tenang atau aku akan bercinta denganmu sekarang." Chanyeol berucap dengan nada memerintah dan dingin tapi bagi Baekhyun itu terdengar seperti sebuah godaan dan gertakan. Baekhyun terkekeh sebentar dan semakin menggerakkan badannya supaya terlepas, sayangnya Chanyeol benar-benar mengukungnya semakin erat dan tanpa Baekhyun sadari badan pria itu kini berada diatas badannya.

"Aku sudah memperingatkan." Chanyeol berbisik rendah dan langsung menyerang bibir Baekhyun yang sedikit terbuka, bibir tebalnya melumat lembut bibir Baekhyun sedangkan badannya mulai bergerak menggoda badan Baekhyun yang sudah terangsang hanya karena bersentuhan dan bergesekkan dengan badannya.

"Haaaa." Baekhyun mendesah ketika bibir Chanyeol menciumi bagian leher dan bahunya. Kedua tangan pria itu mulai mengangkat kaos hitam yang sebelumnya dipakaikan oleh Chanyeol dan kini pria itu kembali menarik untuk membuka baju itu dari badan Baekhyun. Bibir Chanyeol tidak berhenti menciumi bagian atas badan Baekhyun hingga pada dua bagain sintalnya, giginya mengigit tonjolan yang tengah menegang ketika lidahnya membelai bagian itu. Dan Baekhyun mengerang nikmat ketika Chanyeol melakukannya, bahkan badannya sedikit terangkat keatas mengikuti pergerakan Chanyeol yang menarik putingnya.

Mengingat mereka bukan melakukan percintaan untuk pertama kalinya saat ini, tapi bagi Baekhyun setiap permainan lidah dan tangan Chanyeol selalu melakukan kegiatan yang baru dan asing baginya juga bagi tubuhnya hingga ia tidak bisa menolaknya.

Saat tangan Chanyeol bergerak mengusap perut dan berakhir pada bagian intimnya yang ia yakini sudah lembap, Baekhyun masih akan memekik dan menahan desahan. Atau saat Chanyeol mulai bergerak turun dan mencium perut dan bagian intimnya, Baekhyun akan melonjak kaget dan hampir terbangun dari posisi tidurnya. Tangannya meremas dan menarik surai rambut Chanyeol dan juga kaos hitam pria itu, sedangkan bibirnya mengucapkan desahan dan nama Chanyeol tak berhenti ketika lidah dan jari Chanyeol telah berhasil membuatnya mengapit kedua pahanya dan mengalirkan cairan kenikmatan dai dalam tubuhnya.

Baekhyun terbaring lemas dengan rambutnya yang ia acak dengan kasar saat Chanyeol selesai menciumi bagian bawahnya, badannya bergerak tak karuan karena gairah yang baru saja ia rasakan. Chanyeol berada di hadapannya, duduk diantara dua kakinya yang masih sedikit terbuka lebar, pria itu membuka kaosnya dengan cepat dan membuangnya kesembarangan arah. Awalnya Baekhyun memperhatikan pemandangan itu dengan tatapan biasa karena Chanyeol memang melakukannya dengan biasa saja seperti yang selalu ia lakukan, tapi tidak ketika pria itu mulai menjulurkan lidahnya kesamping, sedangkan badannya sedikit menunduk dan merangkak kearah Baekhyun kembali.

Baekhyun kembali lemah.

Tangannya menarik leher Chanyeol, melakukan sebuah ciuman kasar dan basah guna mengundang Chanyeol untuk mendominasi bibirnya. Jari-jari nakalnya bergerak merasakan bentuk-bentuk dari badan lelaki itu hingga pada bagian pinggangnya, Baekhyun membuka kasar pengait celana Chanyeol, menariknya kebawah sehingga ia bisa menemukan milik Chanyeol yang sudah menegang keras dan juga basah oleh cairan pre-cum.

Chanyeol menahan tangan Baekhyun yang akan bermain dibawah sana dengan cepat dan kasar, tangannya menarik paksa tangan Baekhyun dan mengukungnya diatas kepala. "Nikmati saja." Chanyeol berbisik dan mencium bibir Baekhyun dengan sediit kasar dan wanita mungil itu kembali pasrah dan tentu saja menikmatinya.

Sama seperti sebelumnya Chanyeol yang akan memulai dan melakukan segala hal sendiri, salah satu tangannya mengukung kedua tangan Baekhyun dan yang lainnya tak berhenti mengusap menggoda sekujur tubuh wanita itu hingga bahkan ia merintihkan kenikmatan tak henti-hentinya. Ciuman mereka tak berhenti bahkan ketika Chanyeol bergerak menciumi leher bahu dan dada Baekhyun, ia akan melumat bibir Baekhyun kembali dengan begitu nafsunya.

"Masukkan sekarang please." Baekhyun memohon, tangannya mengusap punggung Chanyeol sedangkan kedua kakinya tengah melingkar pada pinggang lelaki itu. Memberikan isyarat bahwa segala pemanasan yang dilakukan Chanyeol sudah cukup membuatnya merasa melayang dan menginginkan hal lebih nikmat daripada yang dilakukan Chanyeol sekarang ini.

Chanyeol tersenyum, tangannya memegang dagu, mengarahkan wajah wanita itu supaya ia bisa menciumnya dengan lebih leluasa. Baekhyun memejamkan matanya lagi, mengusap punggung Chanyeol dan menarik badan pria itu yang sudah terasa begitu hangat dan basah akan keringat yang mulai bermunculan yang menurutnya akan menambah kesan lebih seksi dari Chanyeol. Baru ia mulai menikmati ciuman pada bibirnya juga sentuhan tangan Chanyeol pada salah satu dadanya, seketika ia meringis kesakitan hingga melepaskan ciuman Chanyeol saat dirinya kembali dimasuki dengan milik Chanyeol yang besar dan panjang.

"Ah-aaah! Chanyeol."Baekhyun menggeliat gelisah dan melenguh kesakitan karena Chanyeol langsung menggerakkan badannya menusuk bagian intimnya untuk semakin masuk kedalam lubang Baekhyun, ia tidak memperdulikan rintihan Baekhyun karena hanya selang beberapa gerakan yang ia lakukan wanita itu melenguh merasakan kenikmatan hingga mengigit bibir sendiri dan meremas bahu Chanyeol dengan kuat.

"Menikmatinya?" Chanyeol menggoda sebelum bibirnya mencium bibir Baekhyun.

"Eungh—Baekhyun." giliran Chanyeol yang mengerang karena Baekhyun menjilati dagunya dan menjepit otot-otot bagian dalamnya ketika Chanyeol menarik ulur dan menekannya dengan kencang.

"Aku menikmatinya." Baekhyun berbisik lembut diakhiri dengan suara desahan dan gigitan pada telinga Chanyeol yang berakibatkan gerakan tak beraturan karena pria itu sudah tersulut lebih bergairah untuk sama-sama menjemput sebuah kenikmatan.

Keadaan kamar itu dipenuhi dengan teriakan dan suara mereka berdua yang jelas menyerukan sebuah nama dan desahan vocal karena pergerakan yang mereka berdua lakukan. Tidak ada lagi suhu dingin yang membuat sang wanita merintih kedinginan karena kini sekujur badannya bahkan sudah bermandikan keringat, tak ada lagi kekhawatiran dari sang pria karena ia berhasil menggenggam erat kedua tangan wanitanya dan mengukungnya dengan badannya yang sepenuhnya menutupi badan wanita mungil dibawahnya dan memberikan sebuah kehangatan serta kenikmatan dari badannya yang bergerak cepat diatas wanita itu.

Deru nafas dari kedua pasangan itu semakin jelas terdengar setelah Baekhyun berteriak memohon agar Chanyeol semakin bergerak lebih cepat dan menekan miliknya lebih dalam. Rintihan dari Baekhyun bahkan mengundang Chanyeol untuk membungkan mulut wanita itu dengan ciuman bibirnya dan ia menghentakkan pinggangnya lebih kasar dan cepat.

"Chan-eumpht."

"Come with me.." Chanyeol menciumi leher Baekhyun dengan kasar hingga berbekas kemerahan dan Baekhyun juga mengigit bahu Chanyeol sebagai pembalasannya.

"Aaaah!" mereka berdua sama-sama mengerang disaat bersamaan, badan Chanyeol menegang dan bergetar berkali-kali. Kedua tangannya menggenggam kedua tangan Baekhyun dengan cukup kencang hingga warna kulitnya memutih, sedangkan Baekhyun, wanita itu mengigit bahu Chanyeol, dengan kedua kakinya mengapit pinggang Chanyeol.

Chanyeol melepaskan genggaman tangannya, membelai wajah Baekhyun dan merapikan surai rambut wanita itu kemudian menciuminya mata, hidung, pipi dan bibir Baekhyun disaat wanita itu masih berusaha mengumpulkan tenaganya dan menormalkan deru nafasnya yang masih terengah-engah. Baekhyun memeluk badan Chanyeol yang akan berpindah posisi beranjak dari atas badannya, kedua tangannya memeluk leher Chanyeol dengan begitu erat begitu juga kakinya menahan pinggang pria itu untuk terangkat menjauhi bagian intimnya.

"Baekhyun?"

"Aku ingin memelukmu." Baekhyun bergumam disamping kepala Chanyeol.

Chanyeol tersenyum dan pada akhirnya mengangkat badan Baekhyun dan dirinya hingga mereka berdua kini dalam posisi duduk diatas ranjang. "Begini lebih baik." Baekhyun menganggukkan kepala menyetujui ucapannya dan Chanyeol mengeratkan pelukan kedua tangan Baekhyun sementara kedua tangannya sendiri kini ikut memeluk badan wanita itu seutuhnya

"Chanyeol.."

"Kenapa?"

Baekhyun terdiam sebentar. "A-aku.." Suaranya semakin pelan dan takut-takut saat mengatakannya, bahkan kepala dan wajahnya disembunyikan diantara leher dan bahu Chanyeol.

Chanyeol menundukkan kepalanya untuk bisa melihat wajah Baekhyun, tapi nyatanya wanita itu malah menolehkan kepalanya beradu dengan bagian bahunya.

"Kenapa?" Chanyeol menciumi setiap inchi bagian bahu Baekhyun dan juga bagian tangan Baekhyun yang sudah ia lepaskan dari pelukan lehernya.

"Aku mencintaimu." Baekhyun mengucapkannya dengan jelas tapi kemudian ia memeluk badan Chanyeol semakin erat bahkan wajahnya kembali disembunyikkan, takut untuk menatap Chanyeol atau melihat bagaimana raut wajah pria itu ketika mendengar pernyataan darinya yang sebenarnya adalah sebuah pernyataan sejujurnya dan berasal dari dalam hatinya yang begitu dalam.


e)(o

Dangerous Romance