Dangerous Romance

Chapter 11


Baekhyun masih terdiam dan sibuk mengaduk-aduk nasi dan potongan daging yang ada pada mangkuk nasinya, dirinya mengabaikan pembicaraan antara Chanyeol dan juga Kyungsoo—dimana Chanyeol bergabung setelah Kyungsoo berteriak memanggilnya—tapi sejak Chanyeol duduk di sebelah Baekhyun, dirinya sama sekali tidak menoleh sedikitpun kearah Chanyeol atau bahkan mengajaknya bicara walaupun untuk satu kata 'halo'. Bersyukurlah Kyungsoo menjadi pihak yang mengerti kondisi dengan cepat, dia menjadi sosok penyelamat keadaaan yang menegangkan saat ini dan terus mengajak Chanyeol berbincang sembari pria itu memesan makanan.

Bunyi dering ponsel Chanyeol menjadi pengalih lain, bahkan benda kecil itu berhasil membuat Baekhyun menoleh melihat kearah layar ponsel Chanyeol yang ada di dekat mejanya dan segera mengambil alih sebelum yang empunya.

"Hyung kau dimana?"

"YAAH OHSEH! APA YANG KAU LAKUKAN DENGAN WANITA PENGGODA ITU!" Baekhyun berteriak dengan kencang hingga pengunjung restoran berdesis memintanya untuk diam.

Bila sebelumnya Baekhyun meminta maaf karena Kyungsoo yang berteriak, kini Kyungsoo yang mengalami kejadian serupa bahkan ia lebih malu karena jelas-jelas Baekhyun mengumpat dengan kasar dan bahkan mengeluarkan kata-kata yang cukup menggambarkan kebenciannya pada sosok wanita itu.

"AKU TIDAK TERIMA ALASANMU! CEPAT KEMARI! AKU BENAR-BENAR AKAN MENCEKIK LEHERMU!" Tangannya melempar asal dan kasar hingga ponsel milik Chanyeol terbanting kearah Kyungsoo.

Emosinya masih memburu bahkan ketika ia menyuapkan nasi kedalam mulutnya dan mengunyahnya dengan kasar, Baekhyun tidak peduli. Meskipun Chanyeol memintanya untuk pelan-pelan makan dan bahkan memberikan minuman untuk dirinya pun Baekhyun masih mendengus kesal.

"Kau marah padaku hanya karena melihat Seulgi dan Sehun?" Chanyeol menyangga kepalanya yang kini terarah melihat Baekhyun dari sisi tempat duduknya. Baekhyun masih mengacuhkan pertanyaannya dan tidak memperdulikan apa yang dikatakan Chanyeol mengenai penjelasan kenapa mereka bisa bertemu dalam satu tempat.

"Baiklah, kalau kau tidak percaya padaku." Chanyeol mengakhiri kalimat penjelasannya bertepatan dengan Sehun yang datang diam-diam dengan kedua tangannya yang menutup sebagian wajahnya untuk menghindari tatapan tajam dari Baekhyun.

Baru saja pantatnya duduk dengan tenang diatas sofa empuk, Baekhyun dengan penuh emosi hendak menjambak rambut Sehun dan sontak mengejutkan Kyungsoo dan Chanyeol yang dengan sigap menahan tangan dan badan Baekhyun.

"YAAAKK MAKNAE MESUM! SINI KAU—AISH!"

"Yaaa! Noona ini tidak seperti yang kau pikirkan!" Sehun sedikit beranjak lagi dan enggan untuk duduk, sementara Chanyeol sudah mengukung badan Baekhyun dengan kedua tangannya. Kyungsoo turut beranjak dan melebarkan kedua tangannya diantara jarak Sehun dan Baekhyun. "Aku tidak sengaja bertemunya! Dia ingin mengurus sebuah surat hak milik sebuah tanah dan bangunan—wuah kau benar-benar membencinya ya." Sehun menyilangkan kedua tangannya didepan dada sebagai antisipasi akan serangan dari Baekhyun sementara mulutnya bergerak meminta pertolongan dari Chanyeol.

"Hyung bantu aku."

"Aku sudah menjelaskannya lebih dulu."

Mereka berdua terlibat pembicaraan dengan mulut yang bergerak tanpa suara sedikitpun sementara wanita mungil yang ada didekapan Chanyeol masih mendelik tajam bergantian kearah dua pria itu.

Baekhyun mendengus kesal lagi dan menghentakkan tangannya melepaskan kukungan dari Chanyeol.

"LEPAS! Aku ingin kembali ke kantor!" suaranya masih terdengar penuh amarah tapi tidak sebuas sebelum-sebelumnya.

Chanyeol menggeleng dan masih memeluk badan Baekhyun. "Habiskan makananmu dulu baru beranjak pergi."

"AKU TIDAK MAU!"

"Habiskan."

"NO!"

Chanyeol tidak membalas lagi tapi kedua tangannya masih mengukung badan Baekhyun hingga wanita itu bahkan tidak bisa bergerak sedikit pun tubuh kecilnya tak mampu melawan betapa kuatnya kukungan badan Chanyeol.

"Jangan melawan, tenagamu tidak akan kuat."

Baekhyun membalasnya dengan tatapan tajam, bahkan deru nafasnya mulai memburu penuh emosi, membiarkan Chanyeol tetap mengukung badannya meskipun dirinya juga tidak berniat menghabiskan makanannya, ia mengabaikan kehadiran Kyungsoo dan Sehun yang sama-sama terdiam sedikit memperhatikan dirinya dan Chanyeol.

"Mereka seharusnya sadar bukan kalau masih ada kita berdua disini?" Kyungsoo berbisik pelan mendekat kearah Sehun.

"Hm, aku rasa meskipun mereka sadar, tetap saja mereka tidak peduli." Sehun menjawab dengan suara yang sama berbisik kearah Kyungsoo.

"Aaah~ aku lupa kalau mereka menganggap dunia ini milik mereka berdua."

"Bukan. Dunia Baekhyun adalah Chanyeol, dan dunia Chanyeol adalah Baekhyun."

Kyungsoo menatap Sehun dengan penuh pemikiran panjang dan cukup menguras kerja otak kecilnya, mendengar rentetan kalimat terakhir yang dikatakan oleh pemuda itu ditambah saat ini pandangan dihadapkan langsung dengan kedua pasangan itu.

Masih terlihat jelas wajah marah kesal di wajah Baekhyun, sangat jelas terlihat. Tapi gerak tubuhnya sama sekali tidak memperlihatkan emosi yang ia ingin lontarkan seperti teriakan sebelumnya, kukungan Chanyeol yang masih melingkar dibadannya ia biarkan dan kini kepalanya bersandar pada dada pria itu. Bagi orang lain yang tidak tahu beberapa saat lalu Baekhyun meluapkan emosinya mungkin akan berpikir bahwa wanita itu kini sedang bermanja-manja dengan kekasihnya. Pasti! Tapi tidak dengan Kyungsoo dan Sehun yang jelas-jelas tahu bahwa Byun Baekhyun beberapa waktu lalu marah karena merasa cemburu.

Kyungsoo menggelengkan kepalanya.

"Sudah kukatakan bukan." Sehun kembali berbisik mengingatkan Kyungsoo untuk melihat lagi kearah Chanyeol dan Baekhyun, bukan karena mereka kembali saling beradu mulut atau mencoba berlagak seperti adegan penculikan dan lainnya. Mereka tidak melakukan itu.

Yang mereka lakukan adalah, Chanyeol menciumi kepala Baekhyun berkal-kali hingga gadis itu merasa risih dan sebaliknya Baekhyun semakin menyadarkan kepalanya kearah dada Chanyeol, tangannya meremat kemeja lelaki itu dengan mulutnya yang nakal mencoba menggigit lengan Chanyeol yang masih melingkar di depan dadanya.

"Lanjutkan makanmu." Chanyeol bersuara menahan mulut Baekhyun yang hendak menggigit lengannya dan wanita itu menggelengkan kepalanya.

"Aku mau memakanmu."

"UHUK—" Suara Kyungsoo dan Sehun yang seketika terdengar seakan-akan kerongkongan mereka tersedak paksa oleh makanan. Sehun beranjak berdiri sambil berpura-pura mengangkat ponselnya yang jelas-jelas tidak ada panggilan masuk atau pun keluar. Sementara Kyungsoo ikut pamit beranjak berdiri dengan alasan Jongin tengah menunggunya didekat restoran.

"Aku kan belum selesai menginterogasi Sehun." Baekhyun megernyitkan alisnya menatap kepergian dua orang itu.

"Kau masih tidak percaya apa yang dijelaskan oleh Sehun?"

Baekhyun menatap Chanyeol dengan tatapan mata segarisnya. "Aku tidak percaya! Pasti Appa yang mengatur pertemuan kalian kan?! Appamu masih berniat menjodohkanmu dengan Seulgi kan? Dan kenapa Sehun ada saat itu juga karena kalian membuat perjanjian sebelum perjodohan bukan?" Baekhyun melupakan kekesalannya hingga tanpa sadar wajahnya memerah menahan rasa kesal dan air matanya mulai terlihat mengalir pelan jatuh menuju pipinya.

Chanyeol tidak menjawab sepatah katapun, kukungan tanganya terlepas dari badan Baekhyun dan beralih kearah kedua pipi wanita itu yang jelas sudah basah karena air matanya yang mengalir cukup deras. Chanyeol menghapus aliran air mata Baekhyun dengan sangat lembut seakan-akan sedikit goresan kasar tangannya pada pipi wajah wanita itu bisa mengakibatkan goresan luka.

"Be-benarkan?" Baekhyun memejamkan matanya, membuat aliran air matanya kembali mengalir dan Chanyeol masih terdiam, tangannya masih menghapus lembut berulang kali.

"J-ja-jawab aa-aku." Baekhyun menghentakan tangan Chanyeol untuk menjauh. Warna merah pada sekeliling bola matanya terlihat jelas bahwa dirinya menahan rasa kesal, emosi dan juga kesedihan yang mendalam dan tidak bisa dijelaskan lebih kearah Chanyeol.

"JA-JAWAB AKU PARK CHANYEOL!"


Dangerous Romance


Kyungsoo melemparkan tasnya dengan asal pada kursi kerjanya, sedangkan ia masih melangkah menuju lemari pendingin yang ada pada sudut ruangan kerja miliknya dan Minseok.

"Wow, apakah perjalanannya cukup berat untuk kembali ke kantor?"

"Kau tahu apa yang baru saja terjadi saat aku dan Baekhyun makan siang?" Minseok menggelengkan kepala mendengar apa yang diucapkan Kyungsoo.

Helaan nafas terdengar dari mulut Kyungsoo dan ia memejamkan mata sebentar hanya untuk sekedar menenangkan detak jantung dan emosinya yang bercampur aduk. "Kami bercerita mengenai saat ia di China dan lain-lain, lalu tak disangka Baekhyun melihat Sehun tengah bersama dengan Nona Kang—

"Kang Seulgi maksudmu?" Minseok memotong, langkahnya mendekati Kyungsoo yang masih bersandar pada dinding dengan memegang botol air minum.

"Ya, Kang Seulgi. Kau tahu kan?"

"Seseorang yang sangat dibenci oleh bos-mu." Mereka berdua tersenyum mengejek dan Kyungsoo menganggukkan kepalanya menyetujui sahutan Minseok.

"Ya, begitulah. Tapi bukan itu yang membuatku kesal. Kau tahu? Sehun yang terlihat bersama dengan Seulgi, sedangkan aku yang melihat Chanyeol keluar dari gedung yang sama tapi tidak melihat dia bersama Nona Kang itu, dan Bos-ku yang bernama Byun Baekhyun itu meluapkan emosinya dengan suara nyaring kearah Sehun." Kyungsoo tidak hanya menjelaskan bagaimana kalimat yang Baekhyun katakan sebelumnya pada Sehun, tetapi wanita itu juga berteriak dan meronta memperagakan bagaimana kejadian di restoran itu.

"Well, kenapa dia melampiaskan kemarahannya pada Sehun?"

"Nah! Exactly! Itulah yang aku pikirkan. Kau tahu, Chanyeol menyusul ketika aku melambaikan tangan padanya, tepatnya saat aku melihat Chanyeol keluar dari gedung itu, aku berlari cepat keluar restoran dan memanggil namanya. Dan dia juga tahu kalau Baekhyun ada bersamaku karena itulah ia masuk kedalam menyusul Baekhyun, duduk disebelahnya."

Minseok mengernyitkan alisnya.

"Tunggu, aku ingin mengklarifikasi lebih dulu."

"A-apa?"

"Siapa yang memilih restoran tempat kalian makan siang?" Kyungsoo tercengang mendengar pertanyaan Minseok, sudah menahan dirinya unuk melanjutkan cerita dan kini wanita itu menanyakkan perihal siapa yang memilih tempat mereka makan siang.

"Baekhyun yang memilih tempat, ia ingin makan di restoran itu. Kenapa? Oh, jadi selanjutnya—

"Baekhyun yang memilih tempat?" Minseok memotong lagi dengan mulut terbuka sedangkan tangannya menutupi sebuah senyuman di wajahnya.

"Bisakah kau membiarkan aku bercerita hingga selesai dan kemudian kau boleh menginterupsi atau berkomentar setelahnya."

Minseok jelas mengetahui rekan kerja dan teman baiknya itu sangat benci saat ia tengah bercerita dan dipotong seperti yang ia lakukan tadi, tapi kenyataan yang ingin ia sampaikan juga tidak bisa ia tahan diujung lidahnya.

"Pertama, aku tahu kau marah. Maafkan aku, tapi apa yang akan kusampaikan bisa membuatmu lebih tenang atau mungkin paham dengan apa yang Baekhyun maksudkan dengan sikapnya disana."

Mata bulat Kyungsoo mendelik tajam menatap Minseok. "Apa maksudmu? Aku tidak mengerti."

"Nah, ini yang Kedua." Minseok semakin mendekat kearah Kyungsoo. "Baekhyun memang sengaja meminta kalian untuk makan siang di Restoran itu, karena ia tahu Chanyeol memiliki janji dengan seseorang disana, begitu juga Sehun. Aku tidak tahu pastinya, hanya saja saat Chanyeol mengiyakan akan bertemu dengan Sehun di Gedung Linox, ia sempat menanyakkan kenapa Sehun ingin bertemu disana, pada akhirnya Chanyeol mengiyakan karena memang ia sudah memiliki janji di tempat yang sama, dan saat telepon itu Baekhyun dan aku masih ada di ruangannya."

Minseok selesai bicara dan memperhatikan Kyungsoo, wanita itu terdiam dan terlihat berpikir mencerna maksud dari cerita yang ia katakan.

"Jadi maksudmu, Baekhyun sengaja karena ia ingin mengetahui siapa yang Chanyeol temui."

"Mungkin seperti itu."

"Dasar wanita penguntit." Minseok tertawa keras setelahnya dan begitu juga Kyungsoo. "Tapi kenapa ia marah terhadap Sehun juga—ah tidak, ia juga marah dengan Chanyeol, hanya saja. Ah aku tidak mengerti."

"Kau ini bodoh atau apa! Jelas dia marah dengan keduanya. Pertama, jelas dia cemburu karena pasti ia berpikiran bahwa Chanyeol juga menemui Seulgi disana."

"Hm, aku sependapat."

"Kedua, ia semakin marah karena ternyata Sehun, sebagai teman kesayangannya—calon pacar sepupunya, ada di tempat yang sama dan bertemu dengan orang yang sama dimana ia sangat membenci sosok tersebut."

Kyungsoo mendengarkan dengan baik setiap penjelasan yang Minseok sampaikan. "Tapi, aku masih tidak mengerti. Ia begitu marah dengan Sehun tapi dengan Chanyeol ia tidak bisa melampiaskan kemarahannya. Kau tahu apa yang Baekhyun lakukan terhadap Chanyeol? Diam dan memasanag wajah seperti ini." Kyungsoo memperlihatkan bagaiamana raut wajah Baekhyun. "Seperti itu, bahkan saat Chanyeol menjelaskan bahwa ia memang ada di Gedung Linox tapi tidak bertemu dengan Seulgi, Sehun yang menemuinya karena sedikit ada urusan, tetap saja ia tidak mau dengar."

"Tentu saja ia tidak bisa marah mengamuk seperti yang ia lakukan pada Sehun—oh ini, ini mungkin saja menjadi alasan kenapa Baekhyun tidak percaya dengan Chanyeol."

Kyungsoo menerima sebuah kartu undangan yang ada di tangan Minseok, sebuah undangan berwarna hitam pekat dan dihiasi dengan sebuah pita berwarna gold begitu juga sebuah ukiran nama dan kalimat yang terketik didalam undangan itu.

"Dengan penuh rasa sukacita, Perusahaan Kang mengundang Saudara-saudari untuk bisa meramaikan Acara Peresmian Casino and Resort of The Galaxy yang bekerja sama dengan Kang Coorporation, KISTEC dan juga Park Inc." Kyungsoo terdiam sebentar, matanya menatap kearah Minseok sebentar dan melanjutkan membaca setiap kalimat lanjutannya. "Oh, ini ada yang menarik! Segala acara telah sepenuhnya disponsori oleh LY Entertaiment dan Park Inc, kami mengarapkan kehadiran Anda pada malam puncak untuk bergabung di meja permainan pada Ruang Casino Phoenix dimana hasil permainan akan disumbangkan pada Yayasan Kang Coorporation untuk pembangunan Rumah Kesehatan dan Panti Asuhan."

"Aku juga tertarik pada kalimat itu, begitu juga dengan Baekhyun. Ia langsung membuang undangan yang diberikan dan berlalu pergi mengajakmu makan siang tadi."

Kyungsoo menganggukkan kepala. "Tentu saja, kerjasama dengan Kang Corp, apalagi ini di bidang Casino Resort dan diharapkan untuk bergabung dalam permainan Casino."

"Hm, makanya jangan heran melihat tingkah Baekhyun pada Chanyeol—

"Ia tidak mungkin bisa marah kepada Chanyeol." Suara lain menginterupsi perbicangan mereka berdua.

"Yak! Sejak kapan kau ada disini!" Kyungsoo melempar botol kosong kearah Sehun yang berdiri di depan pintu ruangan mereka.

"Sudah sedari tadi! Kalian saja yang sibuk membicarakan Bos masing-masing tanpa menyadari sekitar."

"Kau juga kenapa tidak ikut menjelaskan kondisi disana tadi!" Kyungsoo kembali menyahut.

"Yaaaa! Tidak usah berteriak-teriak, kalian hanya berjarak setengah meter sekarang." Minseok menengahi dan menunjukkan jarak antara Sehun dan Kyungsoo yang sudah saling berhadap-hadapan, persis seperti yang dikatakan Minseok, jarak mereka hanya terbentang setengah meter.

Kyungsoo menatap Sehun kesal sedangkan pria itu mengambil undangan yang ada ditangannya.

"Ini akan menjadi acara yang menarik, Bos-mu akan merasa perasaan dan harga dirinya dipermainkan bila mendatangi acara ini, sementara ia juga tidak mau Chanyeol berada di satu tempat bersama Seulgi."

"Heol, wajahmu benar-benar bahagia membayangkan Baekhyun menderita."

"Tentu saja!" Sehun menyahut kearah Minseok. "Bos-mu itu harus dibuat merasakan rasa cemburu terhadap Chanyeol supaya ia sadar akan perasaannya sendiri."

"Kau terdengar sangat kejam terhadap mereka."

Sehun menggelengkan kepalan. "Aku tidak kejam, aku hanya membantu mereka supaya bisa saling jujur." Kedipan mata Sehun berikan pada Kyungsoo dan Minseok dan kedua wanita itu menatap Sehun dengan tatapan menolak dan enggan menerima.

"Ck, kalian ini. Oh, Minseokkie! Aku butuh salah satu kontak PD di acara Late Night Show di CMB."

"E-eh? Untuk apa?"

"Ck! Cepat berikan saja!"


Dangerous Romance


Baekhyun dan Chanyeol masih duduk pada bangku restoran tersebut, Chanyeol masih duduk mengukung badan Baekhyun sedangkan wanita mungil itu masih menatap penuh kekesalan kearah Chanyeol. Makanan yang berada pada meja mereka satu per satu sudah diambil kembali oleh para pelayan dan hanya menyisakan satu piring dimana menu makanan yang dipesan oleh Baekhyun sebelumnya masih belum ia santap kembali meskipun Chanyeol sudah memintanya berkali-kali untuk ia santap, keegoisannya masih dipegang teguh oleh Baekhyun dan hanya kata tidak yang keluar dari mulut kecilnya.

"Apa perlu aku menyuapimu disini, supaya kau mau menghabisan porsi makanmu?"

"Suapi saja Nona Kang itu." Baekhyun menjawab ketus. Jelas bukan ia masih marah.

Chanyeol menghela nafas lagi untuk kesekian kalinya. "Sudah berapa kali aku katakan bahwa pertemuan ini tidak disengaja, aku bahkan tidak tahu dia ada janji dengan Sehun di dalam Gedung itu." Penjelasan kesekian kalinya Chanyeol ucapkan lagi.

"Habiskan makananmu dan akan aku jelaskan apa yang ingin kau dengar."

"Kenapa tidak mau kau jelaskan saat ini juga?" Baekhyun menatap kearah Chanyeol, memperlihatkan raut wajahnya yang jelas nampak lelah dan marah, sudut ujung matanya masih mengalirkan tetesan air mata yang entah kenapa juga tidak mau berhenti meskipun dirinya sudah merasakan kadar air matanya sudah habis.

"Aku akan jelaskan lagi, tapi tidak disini. Tidak dalam kondisimu seperti ini, tidak di ruangan public seperti sekarang. Selesaikan makana—

"Kenapa? Kau takut ada pemburu berita yang akan mengabadikan fotomu denganku? Takut image-mu untuk Keluarga Kang terlihat buruk karena bertemu dengan seorang wanita disebuah res—umph.

Sebuah ciuman Chanyeol berikan hanya untuk membungkam mulut Baekhyun untuk berhenti bicara, tapi tidak hanya sebuah kecupan atau kedua bibir yang saling bersentuhan karena pada akhirnya Chanyeol menggerakkan mulutnya untuk membuka belah bibir Baekhyun, menyesap bagian bawah dan atasnya, melumat dengan lembut hingga pada akhirnya bibir mereka berdua bergerak bersama dan seirama, saat tangan Chanyeol semakin menarik badan Baekhyun untuk mendekat, Baekhyun membalasnya dengan melingkarkan kedua tangannya pada leher Chanyeol dan setelahnya mereka menikmati setiap pergerakan bibir dan lidah masing-masing.

Tidak peduli akan gerakkan dari para pelayan yang mengendap-endap membersihkan meja mereka dan meletakkan secarik kertas yang berisikan nominal pembayaran atas makanan yang dipesan. Chanyeol mengeluarkan black card-nya diatas kertas itu tanpa melihat apakah pelayan itu mengambilnya atau tidak dan beranjak pergi atau tidak karena ia sudah kembali terfokuskan untuk membelai rambut Baekhyun dan melanjutkan ciuman mereka.

"Jangan pernah meragukanku." Mata Chanyeol terpejam dengan keningnya dan masih melekat dengan kening Baekhyun, merasakan nafas keduanya yang saling memburu dan juga suara isakan kecil dari Baekhyun. "Cobalah untuk selalu percaya padaku." Bisikan dan lirihan Chanyeol terdengar berbisik halus dengan suaranya rendahnya yang sedikit bergetar, hingga Baekhyun bahkan mengangkat dagu Chanyeol untuk menatap bulat mata milik pria itu.

"Aku tidak suka ia berada didekatmu. Aku sungguh membenci dirinya Chan—

"Aku tahu." Sebuah ciuman kembali didaratkan pada bibir Baekhyun. "Aku tidak akan menikah dengannya, dan tidak akan ada perjodohan yang terjadi antara aku dengan Seulgi—jangan gigit bibirmu." Chanyeol kembali mencium bibir Baekhyun yang baru saja terlepas dari gigitan giginya, dominasi ciuman Chanyeol dibiarkan begitu saja oleh Baekhyun karena ia menginginkan bibir tebal Chanyeol melumat dan menyesap bibirnya dengan begitu lembut namun penuh gairah. Ketika Chanyeol menghentikkan gerakan bibirnya, Baekhyun akan menarik Chanyeol untuk kembali melumat, tanganya terkalungkan begitu erat pada leher pria itu dengan remasan kuat dalam surai rambut Chanyeol.

"Kita harus pergi."

"Sebentar lagi." Baekhyun kembali menarik leher Chanyeol yang sebelumnya sudah menjauh, dua belah bibirnya kembali melumat bibir tebal itu dengan penuh gairah. Chanyeol pun masih membalas ciuman itu dan mengikuti setiap pergerakan bibir dan lidah Baekhyun, sifat dominan pada dirinya kembali mencuat tapi kesadaran akan keadaan sekelilingnya menjadi penahan baginya untuk berbuat lebih.

"Kita harus pergi—umph—Sekarang!" Chanyeol menjauhkan badannya dan beranjak untuk bangun dari kursi yang ia duduki, tangannya masih melingkar pada pinggang Baekhyun—mengajak wanita itu untuk ikut beranjak dan segera pergi dari dalam restoran itu sebelum keadaan semakin tidak terkendai.

Salah satu pelayan kembali menghampiri mereka dan menyerahkan kartu yang sebelumnya Chanyeol berikan, dan setelah itu mereka berdua melangkah keluar. Perlu diingat bahwa selama mereka melangkah keluar, tangan Chanyeol masih tetap melingkar pada pinggang Baekhyun, tidak memperdulikan siapa saja yang melihat atau mungkin akan mengambil foto mereka—foto Chanyeol lebih tepatnya.

"Tidak usah bersikap seakan-akan kau melindungiku." Baekhyun berkomentar sinis mengiringi gerak langkahnya yang angkuh dan Chanyeol hanya menggelengkan kepala menyaksikan perubahan sikap Baekhyun yang kembali sinis kepadanya.

Langkah mereka memasuki area parkiran di basement Gedung dengan tangan Chanyeol yang masih menggenggam tangan Baekhyun, menuntun wanita itu untuk terus berada di dekatnya. Bunyi hentakkan sepatu dan heels lancing yang mereka gunakan adalah satu-satu suaranya yang mengiringi langkah mereka hingga tiba dihadapan mobil Mercedes Benz G-Class milik Chanyeol—mobil yang baru saja ia beli beberapa bulan lalu.

"Lihat, kau bahkan menggunakkan mobil barumu hanya untuk bertemu dengan Seulgi, pasti kalian sudah berencana akan pergi ke suatu tempat kan? O-oh! Jangan bilang kau memiliki pemikiran untuk bercinta dengannya di dalam mobil ini? Kau miilkku Tuan Park! Aku tidak mau berbagi dengan siapapun!"

Segala kalimat yang dikatakan Baekhyun tidak ada satupun yang dibalas oleh Chanyeol, ia membiarkan wanita itu mengeluarkan segala kekesalannya, saat Baekhyun menghentikkan langkahnya tepat pada pintu kursi penumpang di belakang dan memintanya untuk membuka pintu secepatnya dengan alasan ia ingin segera tiba di kantor karena pekerjaan, Chanyeol tetap melakukannya. Tangannya mengarahkan kunci mobil yang ia pegang dan membuka lock door hanya dengan sekali tekan.

"Cepat!" Baekhyun kembali memerintah, masuk kedalam mobil dan bahkan menutup pintunya dengan cukup keras menandakan kekesalannya masih menyelimutinya.

Chanyeol tersenyum kecil, melanjutkan langkahnya mendekat kearah pintu mobilnya dengan tangannya kini bergerak pada layar ponselnya mengirimkan sebuah pesan perintah kepada dua sekretarisnya di kantor.

Kosongkan jadwalku dan Baekhyun hingga besok siang.

Batalkan semua meeting dan segala pertemuan hari ini.

Ia memasukkan ponselnya pada kantung jas yang tak lama ia lepaskan setelan jasnya dan melemparkan dengan asal pada kursi penumpang di depan, lengan kemeja ia lipat hingga sebatas siku dan bahkan tangannya melepas ikatan belt pada celananya. Pintu mobilnya ia tutup dengan kencang seakan-akan membalas apa yang Baekhyun lakukan sebelumnya.

"A-apa yang kau lakukan." Baekhyun menoleh bingung ketika melihat Chanyeol masuk kedalam mobil tepatnya disampingnya, duduk pada kursi penumpang yang sama dengannya. "Yak! Apa yang kau lakukan disini."

"Apa yang ingin kau dengar lagi?" Chanyeol menatap datar kearah Baekhyun. "Apa yang harus aku katakan padamu sampai kau percaya kalau aku dan Seulgi tidak ada hubungan apapun?"

Tatapan yang diberikan Chanyeol berbeda dengan sebelumnya, kali ini jelas pandangan kedua matanya menyiratkan rasa kesal. Baekhyun bahkan tidak berani menatap kedua mata itu dengan durasi yang lama, bibirnya ia gigit dan bahkan kini wajahnya menunduk sambil memikirkan jawaban apa yang bisa ia berikan, padahal jelas semua yang ia rasakan adalah kekesalan karena melihat Chanyeol bersama Seulgi pada satu tempat dan waktu yang sama.

"Aku sudah mengatakan padamu, semua ini hanyalah urusan bisnis dan perusahaan. Alasan kenapa aku tidak memberitahumu karena kau bahkan tidak pernah percaya padaku dan sangat sangat membenci Seulgi."

"Aku tidak peduli itu urusan pekerjaan atau bukan Park Chanyeol! Aku tidak mau ia ada didekatmu!" Baekhyun membalas dengan sebuah teriakan. "Aku tidak mau melihat dia ada didekatmu bahkan untuk bernafas di udara dan tempat yang sama! Aku tidak mau!"

Chanyeol mengatur nafasnya perlahan mencoba untuk tidak ikut meninggikan suaranya seperti yang Baekhyun lakukan. "Ini hanya untuk perusahaan dan project yang sudah kita inginkan sayang." Kata sayang yang diucapkan olehnya bahkan dibalas dengusan kesal oleh Baekhyun.

"Apa tidak ada Arsitek lain selain Kang Seulgi di seluruh Korea hah? Kenapa harus Seulgi? Kenapa harus perusahaan Keluarganya?"

"Karena memang hanya mereka yang bisa mewujudkan semuanya."

"Ya, termasuk mewujudkan keinginan Appa-mu untuk menjodohkan dirimu dengan dia."

"Tidak ada perjodohan—tetap di tempatmu Baekhyun!" Chanyeol menahan tangan Baekhyun yang bergerak akan membuka pintu mobilnya, badan Baekhyun tertarik kearahnya hingga berada tepat diatas dadanya, gerakan cepat yang Chanyeol lakukan lainnya adalah memegang pinggang Baekhyun sedikit ia angkat hingga kini berada dipangkuannya.

"LEPAS! Aku akan berangkat sendiri ke kantor!" Baekhyun memberontak dan Chanyeol semakin kuat menahan badan wanita itu.

"Tak bisakah kau percaya penuh padaku?" Suara Chanyeol kini berubah menjadi sebuah lirihan rendah. "Aku bahkan hanya mengucap dan membuat sebuah perjanjian hanya dengan dirimu, perlukah kuingatkan bahkan isi dalam perjanjian itu mengikat diriku padamu sepenuhnya?"

Mata kecil Baekhyun mengedip dengan cepat sedangkan gerakan detak jantungnya juga ikut bergerak lebih cepat.

"Aku bahkan hanya menghabiskan sepenuh waktuku untukmu tanpa terkecuali, bahkan saat kau memintaku untuk tidak bercinta denganmu atau wanita manapun apa aku pernah melanggar?" kepala Baekhyun menggeleng pelan dan bibirnya kini ia gigit dan menekuk dalam.

"Perlu berapa kali kukatakan padamu bahwa aku tidak akan menikah dengan Seulgi meskipun Ayahku yang meminta dan bahkan ia ucapkan pada permohonan terakhirnya saat ia meningg—

"Chanyeol!" Baekhyun memotong kalimatnya. "Ja-jangan katakan itu."

"Aku tidak akan menikah dengannnya, tidak bisakah kau percaya padaku hanya untuk itu?"

"Aku takut!" Baekhyun membalas dengan sahutan nyaring kearah Chanyeol. "Aku takut bukan karena Appa-mu yang akan menjodohkanmu dengannya atau pesan terakhir saat ia meninggal nanti seperti yang dilakukan Papa. Aku takut karena kau bisa saja jatuh cinta padanya tanpa kau sadari! Meskipun saat ini kau mengatakan tidak akan jatuh cinta padanya, tapi saat kau terus bersamanya pasti akan ada perhatian dan perasaan khusus untuknya! Aku tidak mau itu terjadi!"

"Astaga Baekhyun, itu tidak akan—

"Kau milikku Chanyeol! Tidak ada yang boleh mengakuI dirimu sebagai pacar mereka selain aku!" Baekhyun mencengkram kemeja Chanyeol untuk ia tarik sebagai cara mendaratkan sebuah ciuman dibibir Chanyeol. Gerakan kasar ciuman Baekhyun yang jelas akan menimbulkan luka pada bibirnya sendiri tidak ia pedulikan karena fokusnya kali ini menunjukkan bahwa dirinya-lah satu-satunya wanita yang bisa menyatakan diri sebagai pacar dari seorang Park Chanyeol. "Kau milikku." Baekhyun berbisik saat ciuman bibir terlepas. Matanya memandang kearah Chanyeol dengan jari tangannya membelai garis rahang pria itu dan beralih pada belah bibir yang masih terbuka.

"Kau milikku—kan?"

Tatapan mereka saling memandang satu sama lain, Baekhyun menanti sebuah jawaban dari Chanyeol sedangkan Chanyeol menjadi pihak yang memikirkan sebuah jawaban yang bisa ia berikan untuk Baekhyun.

Padahal hanya dua pilihan kata yang bisa ia berikan, Ya atau Tidak. Tidak ada pilihan kata Mungkin, atau Bisa jadi atau bahkan kata lainnya yang dapat ia pikirkan sebenarnya. Tapi melihat Chanyeol memandangi Baekhyun dengan penuh pemikiran tentu saja bisa dianggap ada banyak hal yang menjadi pilihan jawabannya hingga akhirnya Baekhyun perlahan-lahan memundurkan jarak wajah dan badannya, pandangan matanya bahkan terlihat rasa kecewa karena keterdiaman Chanyeol.

"Aku milikmu." Badan Baekhyun terhentak kaku mendengar jawaban Chanyeol. "Aku milikmu sepenuhnya Byun Baekhyun." namanya disebutkan dengan suara rendah yang terdengar sangat menggoda bahkan bagi Baekhyun sendiri mendengar namanya disebutkan oleh Chanyeol berefek pada badannya yang entah kenapa merasakan desiran aneh. Chanyeol menarik pinggang Baekhyun dan juga lehernya dengan gerakan pelan, memulai memberikan sebuah ciuman pada bibir Baekhyun dengan lembut dan berulang kali mengatakan 'Aku milikmu' disela-sela ciuman mereka.


Dangerous Romance


Bunyi gerakan pegas pada mobil tersebut untungnya tidak ada satupun yang mendengar karena situasi sekitar tempat parkir pada basement saat ini tidak banyak dikunjungi. Minimnya penjagaan dan cctv sebagai pengawas lahan parkir ini menjadi alasan banyak orang untuk tidak memakirkan kendaraannya di tempat ini, tapi tidak bagi Chanyeol yang dengan cepatnya memilih memarkirkan mobil barunya karena alasan ia tidak mau memutari setiap lantai parkir pada Gedung Linox yang tentu akan membuang waktunya.

Dan kali ini ia mensyukuri pilihannya. Tidak ada yang peduli apa yang terjadi pada mobilnya yang bergerak-gerak dalam kondisi mesin yang mati, tidak ada pandangan yang bisa jelas terlihat meskipun salah satu security nantinya akan memeriksa lewat kaca jendela hitamnya. Tidak akan ada yang mendengar setiap suara desahan nyaring dan suara geraman yang mereka keluarkan karena aktifitas bercinta yang sedari tadi dilakukan.

"Lebih dalam—ummhh." Suara Baekhyun memohon meskipun matanya terpejam dan ia hanya terfokus pada ciuman dan gerakan hentakkan yang Chanyeol lakukan. Meskipun badannya kini berada pada posisi yang sangat tidak nyaman karena jelas ia harus menekuk kakinya dan membukanya dengan lebar seperti saat ini, punggungnya hanya ditahan oleh Chanyeol sedangkan kepalanya bersandar pada bantalan kursi penumpang. Hal yang sama juga terlihat pada Chanyeol yang jelas-jelas terlihat sangat-sangat tidak nyaman. Kaki panjangnya harus ia tekuk sedemikian rupa dalam posis berlutut, bahkan ia harus bergerak menghentakkan miliknya masuk lebih dalam kedalam lubang Baekhyun untuk mencapai kenikmatan yang ketiga kalinya.

"AH! There!" Baekhyun kembali bersuara, kepalanya kini begerak mendongak kebelakang hingga badannya menjadi melengkuk dan semakin menekan kearah Chanyeol. Membiarkan prianya itu bergerak dan menghujami lubangnya dengan begitu cepat dan kasar, leher putih dan kulit pada dadanya bahkan sudah terpenuhi dengan jejak-jejak gigitan dan beberapa kissmark yang tentu saja itu semua adalah hasil perbuatan nakal seorang Park Chanyeol.

Baekhyun mengerang lagi ketika Chanyeol menghentakkan pinggulnya karena berakibatkan ia bisa merasakan ujung tumpul milik Chanyeol menyentuh bagian terdalamnya yang sudah pasti memanjakan lubangnya dan yang ia bisa lakukan adalah mengeratkan lubangya untuk memberikan sedikit sentuhan pada milik Chanyeol didalam sana. Chanyeol kembali bergerak dengan cepat, tangannya membelai setiap inchi badan Baekhyun, bermain dengan bagian sintal yang menggoda untuk ia lumat dan mainkan. Kulit putih halus nan lembut yang juga menggoda untuk ia kecupi pada akhirnya akan berhasil ia kuasai semuanya.

Seperti yang dikatakan Baekhyun sebelumnya, Chanyeol adalah milik Baekhyun dan begitu juga sebaliknya. Karena itu setiap yang ada pada Baekhyun akan menjadi miliknya.

"Haa—aahh—haa." Mulut Baekhyun tak berhenti menggumamkan kenikmatan. Ia bahkan tak segan-segan menjerit keras ketika pencapaiannya kembali terpenuhi. Dan kini mereka berdua sama-sama mengeram merasakan pelepasan bersama, Chanyeol mencengkram kulit pada sofa mobilnya hingga meninggalkan bekas kuku jarinya sementara Baekhyun memenuhi punggung belakangnya dengan sebuah cakaran dan juga cengkramannya.

"Aku lelah Chan." Baekhyun mengungkapkan rasa lelahnya sedangkan Chanyeol membalasnyan dengan suara tertawa kecil.

"Siapa tadi yang tidak sabaran, dan kini mengeluh lelah padaku." Chanyeol mengangkat wajahnya agar bisa melihat wajah damai Baekhyun—matanya terpejam dengan kedua mulutnya yang masih terbuka, deru nafasnya masih terdengar tidak beraturan tapi entah kenapa pemandangan itu menjadi pemandangan yang tidak akan pernah Chanyeol lewatkan setiap kegiatan percintaan mereka berakhir.

Baekhyun membuka matanya dengan gerakan pelan, tangannya mendorong badan Chanyeol untuk menjauh dan melepaskan tautan bagian intim mereka. "Hmmm." Baekhyun menahan erangannya merasakan gerakan milik Chanyeol yang perlahan-lahan keluar, bahkan ia bisa merasakan aliran cairan miliknya dan milik Chanyeol bergerak keluar bersamaan membasahi kursinya.

"Jangan menggodaku lagi." Chanyeol mencubit bibir Baekhyun dan memberikan kecupan pada kening Baekhyun, tangannya menarik Baekhyun untuk masuk dalam pelukan tangannya. Baekhyun tidak membalas ucapan Chanyeol, tapi ia jelas tersenyum. Wajahnya bersembunyi pada dada Chanyeol, membiarkan pria itu mengusap punggung badannya, memberikan kecupan pada tangan dan kepalanya, ketika Chanyeol menyalakan mesin mobilnya dan memasang pendingin dalam mobil itu Baekhyun masih tetap dalam posisinya—memejamkan matanya seperti yang biasa ia lakukan setiap saat bila mereka tengah selesai bercinta.

Keadaan pura-pura tertidur yang ia lakukan selalu membuat perasaannya lebih nyaman dan bahagia bersama Chanyeol. Bagaimana ia akan merasa menjadi wanita yang selalu diperhatikan oleh seorang Park Chanyeol. Usapan tangan, ucapan kalimat sayang selalu ia dengarkan keluar dari mulut Chanyeol, selalu sama seperti sekarang ini.

Chanyeol tengah membersihkan sisa-sisa cairan pada bagian intimnya hingga pahanya, usapan lembut tangannya ia rasakan dan juga beberapa kecupan pada tangan, kedua pipinya hingga ke kening kepalanya dan terakhir pada bibirnya. Kemudian Chanyeol memakaikan kemeja—Baekhyun sangat yakin bahwa kemeja yang dikenakan adalah milik Chanyeol karena seingatnya Chanyeol sungguh kasar dan merobek gaunnya dan entah bagaimana bentuk gaunnya saat ini. Gerakannya sangat pelan bahkan Chanyeol sangat berhati-hati saat memakaikannya, dan pada akhirnya Baekhyun akan dibawa kembali duduk pada pangkuannya seakan-akan ia adalah anak berusia 5 tahun yang tengah terlelap pada gendongan Daddy-nya.

Sebuah ciuman Chanyeol berikan lagi diam-diam pada bibir Baekhyun. "Kenapa wajahmu sangat menggemaskan." Kekehan dan sebuah cubitan ia berikan, membuat Baekhyun menggeliat risih sedangkan dalam hati wanita itu merutuki dirinya yang tengah berpura-pura terlelap karena bisa saja ia langsung membalas perlakuan Chanyeol.

"Jangan cemburu lagi ya. Kau satu-satunya wanitaku Byun Baekhyun." usapan lembut pada rambutnya terasa, tangan Chanyeol memeluk badannya dan menepuk-nepuk pahanya—benar-benar membuat Baekhyun seperti anak kecil.

"Aku mencintaimu. Sungguh-sungguh mencintaimu."

Baekhyun tersenyum kecil dan dalam hatinya terasa sangat bahagia.

Aku juga mencintaimu, Park Chanyeol.

Baekhyun bergerak untuk semakin masuk kedalam pelukan Chanyeol, Chanyeol mencintainya dan ia juga memiliki perasaan yang sama. Bukankan itu adalah sebuah kebahagiaan? Tentu saja sebuah kebahagiaan, hanya saja Baekhyun melupakan sesuatu. Perjanjian.

Perjanjian yang melarangnya untuk mencintainya Chanyeol sepenuhnya, perjanjian yang melarang dirinya untuk memiliki seorang Park Chanyeol, karena suatu saat perasaan yang ia miliki akan menjadi sebuah alasan untuk pergi meninggalkan Chanyeol. Sebuah pertanyaan terlintas dalam pikiran Baekhyun, siapa yang akan pergi? Dirinya kah? Atau Chanyeol? Apakah mereka bisa berpisah dari satu sama lain? Apakah kalau ia mengatakan tidak mau pergi dari hidup Chanyeol maka Chanyeol yang akan pergi dari hidupnya?

Baekhyun menahan nafasnya membiarkan aliran matanya mengalir keluar, berharap sebuah jawaban akan ia dapatkan pada suatu saat nanti. Karena untuk saat ini ia masih ingin merasakan hangat pelukan dan segala kasih sayang dari Chanyeol.

e)(o

Dangerous Romance