Dangerous Romance
Chapter 12
Bunyi deringan ringtone dari dua ponsel milik mereka berdua tidak cukup berisik untuk dapat menyadarkan Chnayeol dan Baekhyun dari posisi tidur didalam mobil milik Chanyeol. Setelah permainan panas mereka yang menggoyangkan mobil dan tentu saja membuat diri mereka basah penuh keringat serta segala cairan yang tercampur membuat aroma seks yang sangat menguar didalam mobil barunya itu, nyatanya masih cukup nyaman untuk membuat dua anak Adam dan Hawa untuk mengistirahatkan badan mereka. Bahkan suara mobil yang berlalu lalang pada area parkir dan juga beberapa klackson mobil yang terdengar beberapa kali sampai saat ini tidak mampu mengusik mereka berdua.
Chanyeol masih dengan nyamannya tertidur dengan posisi duduk pada kursi penumpang belakang, dada bidangnya menjadi sandaran bantal paling nyaman untuk Baekhyun yang masih terlelap tidur pulas dengan lengan Chanyeol sebagai selimut hangatnya. Getaran dan bunyi dari ponsel mereka masih saling sahut-sahutan terdengar menandakkan beberapa orang kini mulai mencari posisi mereka dan keberadaan yang sebenarnya mengingat saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore dan tentu saja sudah lewat 4 jam dari waktu dimana Chanyeol sempat memberikan kabar melalui pesannya kepada Kyungsoo dan Minseok—sekretaris mereka.
Getaran dan bunyi ringtone kali ini terdengar lebih lama bertahan dibandingkan beberapa menit sebelumnya, dan ternyata cukup berhasil membuat salah satu dari mereka terusik mulai mencari sumber suara di dalam mobilnya. Chanyeol perlahan-lahan membuka matanya, mengingat-ingat posisi dan alasan kenapa ia masih berada dalam satu mobil dengan seorang wanita yang masih mendengkur halus pada pelukannya. Sebuah senyuman segera terpatri di wajahnya, dan dirinya kembali memejamkan kedua matanya lalu memeluk erat tubuh mungil itu untuk kembali nyaman masuk dalam pelukannya—tapi tak lama kenyamannya terganggu karena lagi-lagi sebuah suara nyaring dan getaran ponsel entah milik siapa mulai terdengar.
Chanyeol mendengus kesal dan membuka matanya. Perlahan-lahan ia menahan badan Baekhyun untuk tetap nyaman berada disandarannya sementara dirinya penuh perjuangan harus mengerakkan badannya untuk bisa sekedar mencari dan mengambil ponsel yang tengah bergetar dan bersuara itu.
"Hal—o"
"Baekhyunniiiieeeee! Kau kemana saja eoh?"
"Yoora?"
"Chanyeol?"
Chanyeol mengernyitkan alisnya. Jelas-jelas ia mendengar suara khas dari kakak perempuannya bersuara pada ponsel milik Baekhyun, bahkan dirinya harus menjauhkan jangkauan ponsel itu dari telinganya hanya untuk memastikan bahwa yang ia genggam kali ini adalah ponsel milik Baekhyun.
"Kau bersama Baekhyun?"
"Kenapa kau menelepon Baekhyun?" Suara mereka berdua saling beradu.
"Adikku sayang, aku menelepon Baekhyun karena menelepon ke nomormu sama sekali tidak ada jawaban! Aku menelepon sudah hampir beratus-ratus kali!" Yoora langsung menyerang memberikan alasan.
"O-oh."
"Kalian dimana sebenarnya?"
"Hm?" Chanyeol berpikir lebih dulu untuk menjawab pertanyaa Yoora karena tidak mungkin ia menjawab dirinya tengah tertidur bersama Baekhyun sehabis bercinta kan. "Ka-kami ada meeting." Sahutan Chanyeol dibalas 'Aaahh' oleh Yoora disana.
"Meeting dengan para investor?"
"Ya, seperti itulah." Sahutnya lagi.
"Ya, aku tahu, Minseok dan Kyungsoo yang memberi tahu sebelumnya bahwa kau membatalkan semua pertemuan meeting hari ini setelah bertemu dengan Baekhyun di Restoran tadi. Jadi bisa kau jelaskan meeting apa yang sebenarnya kalian lakukan?" Yoora terkekeh di akhirnya sedangkan Chanyeol memejamkan matanya menahan kesal dan malu karena kebohongannya kali ini diketahui oleh sang Kakak.
"Aaaahh~ Chanyeolliiieee~" suara desahan Baekhyun terdengar yang sontak ikut terdengar oleh Yoora diseberang sana.
"Yaaaa Park Chanyeoolll! Eomma! Eomma! Chanyeol tidur bersama Baekhyun!"
"Ya! Noona!" Chanyeol ikut berteriak ketika mendengar teriakan Yoora yang mengatakan bahwa dirinya tengah tidur bersama dengan Baekhyun, belum lagi suara sang Appa yang ikut terdengar dan memanggil nama Baekhyun dengan suara imutnya, bahkan telinganya cukup jelas memanggil nama Baekhyun dengan sebutan Baekhyunnie dan mengatakan bahwa dirinya merindukkan pacar kecilnya.
Astaga Appa! Yang benar saja! pacar kecil?—Chanyeol menggerutu kesal dalam hatinya.
"Park Chanyeol! Kau harus membawa pacar kecil Appa kerumah sekarang juga sebagai hukumanmu karena telah melupakan janji meeting dengan Appa hari ini. Kalau tidak, Appa akan membatalkan setiap keinginanmu. Kau mengerti?" Ucapan singkat sang Appa pada teleponnya terdengar mengerikan namun selang berapa waktu jelas diseberang sana mereka tengah tertawa bersama.
"Kami tunggu kedatangan kalian!" Yoora menjadi pihak terakhir yang memberikan sapaan kata sebelum ia memutuskan panggilan teleponnya.
Chanyeol menghela nafas berat dengan kepalanya yang bersandar pada badan kursi penumpang belakangnya. Matanya terpejam membayangkan apa yang akan terjadi nanti saat mereka berdua tiba di kediaman orang tuanya. Sudah dapat dipastikan ia akan menjadi korban bully oleh satu keluarga besarnya.
Sudah pasti.
Dangerous Romance
Baekhyun menggeliat dalam tidurnya, mengusakkan wajahnya untuk semakin menempel pada dada bidang yang tentu saja menjadi tempat ternyamannya. Belaian lembut pada rambutnya seakan-akan menjadi lagu tidur baginya untuk semakin terus memejamkan matanya namun kesadarannya sudah kembali sepenuhnya hingga tidak mungkin ia terus terpejam.
"Kau tidak membangunkan aku." Baekhyun bergumam dengan kedua matanya masih dalam posisi yang sama—terpejam.
Sebuah ciuman ia dapatkan dikepalanya sebelum suara bass yang menjadi suara paling ia cinta terdengar. "Kau tidur cukup lelap, bahkan mendengkur, dan juga membasahi dadaku dengan cairan dari mulut manismu itu—auw!" Cubitan kecil Baekhyun berikan pada perut Chanyeol.
"Aku tidak ngiler !" Baekhyun beranjak bangun dan memukul paha Chanyeol lagi.
"Coba aku periksa." Chanyeol menarik dagu Baekhyun dan langsung memberikan lumatan-lumatan lembut pada bibir mungil Baekhyun. Meskipun awalnya Baekhyun menolak tidak memberikan balasan tapi hatinya tidak bisa mengabaikan sentuhan Chanyeol yang membuat candu untuknya. Bibirnya ikut membalas lumatan itu dan bahkan mendorong badannya untuk lebih dekat dan masuk dalam pelukan Chanyeol.
"Aromamu wangi." Chanyeol masih melanjutkan lumatannya dan Baekhyun hanya bisa mengangguk. "Dan masih sama." Anggukkan sekali lagi ia lakukan. Dan lumatan ciuman itu berlanjut hingga peperangan lidah didalam mulutnya sementara tangan Chanyeol mulai bergerak membelai bagian tubuh lainnya. Baekhyun bergerak untuk duduk dalam pangkuan Chanyeol hingga ia kini yang lebih mendominasi ciuman pada bibir Chanyeol. "Jangan memancingku lagi." Chanyeol melepaskan ciumannya, kepalanya terdongak kebelakang memberikan ijin pada Baekhyun untuk bisa menciumi leher hingga bagian dadanya.
"Aku tidak memancing, aku hanya melanjutkan apa yang kau mulai Tuan Park." telunjuk tangannya bermain naik turun pada leher Chanyeol.
"Dan kau tidak boleh melanjutkannya Nona Byun." Kedua tangan Chanyeol menangkap menghentikkan pergerakkan tangan Baekhyun, dan itu membuat wanita bermarga Byun itu mempoutkan bibirnya merasa dirinya dilarang untuk melanjutkan kesenangan yang ia cari. "Appa dan Eomma ingin bertemu dengan Puteri Kecilnya." Chanyeol mencubit pipi Baekhyun dan memainkannya dengan begitu gemas.
"Appa?"
"Hm, Yoora menelepon dan mengetahui kau sedang bersamaku tadi, ia akhirnya memberi tahu Appa dan Eomma."
"Okey! Aku harus ganti baju! Tidak mungkin 'kan aku menemui mereka dengan kondisi sehabis diperkosa habis-habisan oleh Putera kesayangan mereka." Baekhyun bergumam menyindir sambil memungut pakaian dalam lainnya yang masih berserakan didasar mobil mereka sementara Chanyeol merasa kesal karena dirinya dianggap sebagai penjahat yang sudah memperkosa Baekhyun.
"Hehhehe." Baekhyun terkekeh bahagia. "Aku hanya bercanda." Sebuah ciuman di pipi ia hadiahkan pada Chanyeol.
"Aku akan mengatakan pada mereka bahwa Puteri Kecil mereka lah yang sudah memperkosa putera kesayanganya." Chanyeol membalas dengan seringai nakalnya sambil berpindah pada kursi kemudi mobilnya.
Tanganya mulai bergerak cepat menyalakan mesin dan bersiap mulai menjalankan mobil, sementara Baekhyun dibelakang sana bergerutu kesal dengan mata mendelik tajam kearah Chanyeol.
Dangerous Romance
"Ini terlihat seperti wanita-wanita penjaga image!" Baekhyun berkomentar menunjukkan pakaian yang baru saja ia coba di dalam ruang fitting room. Sebuah dress dengan motif bunga-bunga dengan panjang dibawah lututnya dan memiliki lengan hingga ke siku tangannya.
Chanyeol membawa mereka berdua untuk berhenti pada sebuah butik baju yang searah kearah Kediaman Keluarga Park, karena ia mengatakan untuk putar arah kembali ke apartemen mereka hanya akan menghabiskan waktu. Bahkan mereka membersihkan diri di toilet pada sebuah coffee shop karena kembali Baekhyun menolak saat Chanyeol akan membawanya masuk kedalam hotel.
"Kau memperlakukan aku seperti jalangmu Tuan Park! Dan aku tidak jamin keselamatanku didalam hotel itu, karena kau pasti akan menggoda lagi dan kita akan berakhir bercinta cukup lama dan batal tiba di rumah kedua orang tuamu." Ucapan Baekhyun yang pada akhirnya disetujui Chanyeol mengingat diirnya sendiri bahkan sulit untuk menahan segala nafsunya bila berada didekat Baekhyun.
"Itu bagus."
"Tidak! Aku tidak mau!" Baekhyun menolak lagi, langkahnya masuk kedalam ruang fitting room dengan beberapa pakaian yang lainnya. Chanyeol hanya bisa menggelengkan kepala, menyandarkan kembali badannya di sebuah sofa ruang tunggu.
"Ta-raaa~" Baekhyun kembali menyibak gorden penutup ruangan itu dan memperlihatkan baju yang ia pilih sebelumnya. Sebuah dress tanpa lengan yang memiliki tali ikatan dibagain depan dengan bagian bawah dress tersebut berbahan tulle yang cukup lebar. Berwarna hitam yang jelas terlihat membuat kulit putih Baekhyun telihat sangat kontras menggoda, ditambah dengan sepatu flat shoes menambah kesan manis padanya.
"Bagaimana?" Baekhyun menanyakkan lagi. Karena Chanyeol hanya terdiam mematung tanpa berkedip sedikitpun memperhatikannya. "Ya! Park Chanyeol!" lagi ia berteriak menyadarkan Chanyeol.
"A-ah? Ini sama bagusnya dengan yang tadi." Sahutnya.
"Ish! Jadi mana yang kau pilih sebenarnya sih?" Baekhyun merasa kesal, menghentakkan langkahnya masuk kedalam ruang fitting room tanpa menunggu jawaban dari Chanyeol. Mulai membuka pakaiannya lagi dan mencoba pakaian yang lainnya.
Dan saat ia tengah mengenakkan bagian kaus atasnya pemandangan Chanyeol yang sudah berada dibelakangnya mengejutkan dirinya.
"YAA!" Baekhyun sontak kaget bersandar pada dinding ruangan itu sementara Chanyeol semakin memojokkan dirinya.
"Kau mau tahu apa yang akan ku pilih?" suaranya semakin berat dan menggoda. "Aku akan memilih kau tidak memakai baju apapun bila dihadapannku, jadi aku tidak usah membuang tenaga untuk membuka paksa atau merobeknya seperti tadi." Tangan besar itu membelai bagian perut Baekhyun dan mulai menyelusup masuk kedalam pakaian dalam bawahnya. Baekhyun berusaha keras untuk menahan suara agar tidak terdengar mendesah atau pun menolak apa yang Chanyeol akan lakukan.
Tangannya bergerak menahan tangan Chanyeol yang akan menurunkan celan dalamnya. "Chanyeol." Nada datarnya memperingati. "Kita di ruangan umum." Suaranya sangat pelan berbisik dengan susah payah karena sebenarnya yang ia ingin lakukan adalah mendesah mengingat posisi tangan si brengsek Park Chanyeol itu tengah berada dibagian tengah kewanitaannya.
"Lalu kenapa?"
Sebuah jawaban yang Baekhyun ingin balas dengan umpatan kasar namun tak berhasil ia lakukan karena sebuah bibir tebal lebih dulu membuat kedua belah bibirnya bergerak melumat dengan kasar disertai pergerakan tangan Chanyeol dibawah sana bergerak bebas memporak - porandakan kesensitifannya. Lenguhan Baekhyun terhambat isapan bibir Chanyeol, sedangkan kakinya mulai menggeliat merasakan bagaimana ketiga jari Chanyeol tengah bergerak masuk didalam lubangnya dan tentu saja bermain keluar masuk dengan bebas. Baekhyun merutuki kenikmatan yang Chanyeol berikan sementara ia sama sekali tidak menolak atau pun memberikan penolakan kepada sifat iblis mesum Park Chanyeol. Baekhyun menggigit bibir Chanyeol ketika merasakan pergolakan didalam tubuhnya yang tengah menikmati pergerakan tiga jari Chanyeol didalam sana, dan dengan sengajanya Chanyeol memainkan tangannya yang lain dengan meremas bagian dada Baekhyun hingga membuat lenguhan merdu keluar dari mulut Baekhyun karena bersamaan dengan tercapainya sebuah klimaks untuk Baekhyun.
Chanyeol terkekeh pelan ketika Baekhyun meremat bagian bahunya karena jelas wanita itu tengah mengumpulkan beberapa energinya kembali. "Mau merasakan yang lain lagi?" Chanyeol kembali memancing dan Baekhyun dengan cepat menggeleng.
"Kau gila."
"Oh, aku tidak mau mendengar jawaban itu Nona Byun." Chanyeol menatap Baekhyun yang masih mengatur pola pergerakan nafasnya. Baekhyun menggerutu dan mencubit perut Chanyeol berkali-kali.
"Mesum!" Baekhyun berbisik penuh penekanan dan tentu memberikan sebuah cubitan lagi. "Hindari pemikiran otakmu untuk bisa bercinta didalam ruangan ini Tuan Park!" Baekhyun memakai lagi celana dalamnya yang sudah terlepas dari badannya.
"Siapa yang memintamu memakai itu?" suara Chanyeol terdengar dominan lagi.
"Hah?" Baekhyun kembali tercengang ketika Chanyeol menahan celana itu dengan kakinya ditambah kini Chanyeol menutup mulutnya dengan sobekan kemeja yang sebelumnya ia pakai.
"Ngghh!" Baekhyun mengerang meskipun mulutnya tertutup. Kedua tangannya kini ikut terikat oleh potongan kemeja yang sama seperti di mulutnya. Matanya membelak lebar melihat Chanyeol yang kini berlutut berhadapan dengan bagian intimnya dan langsung memainkan lidahnya membelai bagian yang masih lembab disana.
"Mmmmhhh." Desahan Baekhyun tertahan oleh ikatan pada mulutnya. Ia mendesah merasakan permainan Chanyeol dibawah sana tangannya yang terikat meremas rambut Chanyeol dengan cukup kuat guna mengisyaratkan pada pria itu bahwa dirinya cukup tersiksa dengan kondisi seperti ini. Bahkan Baekhyun dengan cepatnya kembali menyerah untuk klimaks kedua kalinya hanya dalam selang beberapa menit. Entah karena memang ia mudah terangsang dengan permainan Chanyeol atau karena memang Chanyeol yang terlalu lihai bermain dengan setiap bagian tubuhnya.
Chanyeol beranjak berdiri untuk melihat kondisi wanita yang sudah klimaks karena dirinya. "Aku rasa aku tidak bisa menahannya lagi." Chanyeol membelai pipi Baekhyun dan membuka ikatan pada mulutnya, dan juga membuka ikatan belt celananya. Membebaskan kejantanannya yang tengah memberontak keras dibalik celananya dan segera diarahkan masuk kedalam lubang Baekhyun yang sudah siap.
"Aa—" teriakan Baekhyun tertahan oleh lumatan bibir Chanyeol. Mereka kembali menyatu dalam posisi berdiri didalam ruangan fitting itu. Memanfaatkan waktu kosong dari para pengunjung butik itu.
Chanyeol mendorong dengan begitu keras dan kasar sedangkan Baekhyun melenguh dalam setiap lumatan bibir Chanyeol. Tangannya yang terikat hanya bisa bergerak meremat rambut Chanyeol dan juga bahu pria itu ketika beberapa sodokan yang Chanyeol lakukan membuat badannya menggeliat merasakan sakit dan juga kenikmatan.
"Kau benar-benar mesum!" Baekhyun memukul badan Chanyeol berkali-kali dengan cubitan atau pukulan yang cukup keras.
"Aku tahu."
Balasannya yang Chanyeol berikan malah semakin membuat dirinya semakin penuh emosi jiwa mengingat mereka tengah bercinta di dalam bilik fitting room dalam posis berdiri dengan kedua tanganya yang terikat tanpa pengaman melindungi cairan-cairan sperma milik Chanyeol yang ditumpahkan kedalam rahimnya sebanyak dua kali. Baekhyun tak henti-hentinya menggelengkan kepala, mengatai dirinya cukup bodoh mau menuruti dan patuh atas apa yang Chanyeol lakukan tadi, bahkan seingatnya ia mencapai klimaks hampir lima kali.
Chanyeol merapikan kemejanya yang sudah sobek dibagian bawahnya dan memasang kembali ikatan pinggangnya sebelum ia pergi keluar untuk membeli kemeja baru sebagai ganti untuk kemejanya. Dan Baekhyun dengan cepat memanfaatkan waktu itu untuk memakaian pakaian yang lainnya sebelum mereka akan berakhir untuk bercumbu dan bercinta lagi didalam butik ini.
Baekhyun kini menunggu Chanyeol yang tengah berganti pakaian, begitu pria itu keluar dengan kemeja berwarna biru muda dengan motif garis-garis ia langsung menggelengkan kepalanya karena melihat senyum bodoh milik Chanyeol yang menunjukkan dirinya tidak merasa bersalah sama sekali mengingat apa yang tengah mereka lakukan sebelumnya.
Satu orang kasir memberikan dua kantung belanja yang cukup besar dan itu membuat Baekhyun menatap bingung.
"Aku rasa kami hanya membeli dua pakaian saja."
"Tuan ini membayar semua pakaian yang Nona tengah coba sebelumnya." Kasir pada butik itu menjelaskan.
Baekhyun menatap Chanyeol untuk bertanya.
"Kau menyukai semua bajunya." Jawaban singkat Chanyeol lontarkan sebelum ia menggandeng Baekhyun untuk segera beranjak dari tempat itu.
"Kau membeli semuanya? Kenapa memintaku mencoba satu per satu kalau begitu?" pertanyaan Baekhyun tidak langsung ia jawab, fokusnya lebih terarah pada kondisi jalan yang mulai terlihat padat dan Baekhyun juga tidak melemparkan berbagai pertanyaan lagi, ia menikmati perjalanan disekitarnya sambil bersenandung mengikuti setiap lagu yang terputar pada player music didalam mobil.
"Aku memang berniat akan mencumbumu, tapi aku tengah berpikir dimana aku bisa melakukannya. Dan ketika melihat kau keluar masuk ruangan fitting room tanpa ada satu pun pihak butik yang menanyakkan dan mengganggu. Aku teringat disebuah cerita ada sepasang kekasih yang bercinta didalam bilik ruangan itu. Maka dari itu aku langsung masuk kedalam dan menggodamu."
"Ck-ck-ck. Park Chanyeol kau benar – benar playboy sejati."
"Well, terima kasih pujiannya."
"Aku tidak memuji."
"Aku anggap seperti itu."
"Kau menyebalkan."
"Tapi kau menyukaiku."
"Ya, aku tidak tahu kenapa aku bisa mencintaimu."
Suasana seketika dipenuhi dengan keheningan. Baekhyun memejamkan matanya merutuki dirinya melakukan sebuah kesalahan mengatakan sesuatu hal yang bisa saja memancing sebuah bencana mengingat perjanjian yang ia dan Chanyeol pernah tanda tangani. Chnayeol tidak bersuara satu kata pun ketika ia selesai mengatakan kalimat itu dan Baekhyun juga enggan untuk membuka sebuah percakapan kembali, bahkan pandangannya tetap bertahana melihat keluar jendela enggan untuk melihat kearah Chanyeol. Tarikan nafasnya bahkan harus ia lakukan dengan pelan tanpa menimbulkan suara sedikitpun.
Bodohnya dirimu Byun.
Dangerous Romance
Sisa perjalanan menuju Kediaman Park benar – benar dipenuhi dengan keheningan diantara mereka berdua. Baekhyun yang pada akhirnya terlelap tidur dan Chanyeol yang fokus sepenuhnya mengemudikan mobilnya demi mempercepat waktu tiba mereka dikediaman Park. Mobil mereka mulai memasuki komplek perumahan dan Baekhyun masih terlelap tidur bersandar pada kaca jendela mobil. Ketika mobil berhenti dan terlihat Yoora melambaikan tangan lewat kaca jendela kamarnya, Chanyeol hanya membalas dengan menekan klackson mobilnya.
Tangannya mengusap pipi Baekhyun bermaksud untuk membangungkan si mungil dari dunia mimpinya, walaupun ia tahu membangunkan Baekhyun tidaklah semudah itu.
Cubitan pelan ia lakukan dan itu berhasil mengusik Baekhyun.
"Aaaahh~ sebentar lagi." Baekhyun bergumam dan menolehkan kepalanya kini kearah Chanyeol meskipun matanya masih terpejam.
"Kita sudah sampai, sayang." Chanyeol beucap lembut.
"Hmm.."
"Bangun atau aku akan membawamu masuk dalam gendongan dan kita berakhir didalam kamarku. Kau tahu kan apa yang terjadi setelahnya—
Baekhyun membuka matanya cepat dan merapikan riasannya, setelah itu membuka pintu mobil dengan cepat meninggalkan Chanyeol yang tertawa keras didalam mobil sebelum pada akhirnya menyusul Baekhyun keluar.
"Mesum."
"Itu aku."
"Ish!"
Chanyeol hendak membuka pintu rumahnya, tapi Eomma dan Appa Park lebih dulu membuka dan langsung memeluk Baekhyun yang tengah terbengong karena cukup terkejut mereka berdua sudah menyambutnya lebih dulu.
"Pacar kecil Appa!" itu adalah suara Appa Park yang menggoda Baekhyun. "Bagaimana, apa anakku memperlakukan dirimu dengan kejam?"
Baekhyun mengangguk. "Ia menyiksaku Appa. Anakmu sungguh kejam. " Suara Baekhyun seketika terdengar layaknya anak kecil yang tengah mengadu kepada Ayah mereka.
"Oh.. kasihan sekali pacar kecil Appa." Eomma dan Appa Park masih mengusap lengan Baekhyun sambil berjalan masuk kedalam ruangan tengah rumah mereka.
"Kau merasa disiksa tapi kau mendesah kenikmatan saat ia menyiksamu." Suara Yoora sontak membuat Baekhyun dan Chanyeol tersedak dan bertingkah gugup. Appa dan Eomma Park hanya bisa tertawa penuh dengan pura – pura seakan – akan mereka tidak mengerti apa yang tengah Putri sulungnya katakan.
"Kalimatmu sungguh luar biasa, tersirat dengan jelas." Sahutan itu berasal dari mulut Chanyeol sebelum menghadiahkan sebuah ciuman pada Eomma dan juga Yoora. Baekhyun memperhatikan semuanya dan kemudian dirinya merasa malu membayangkan setiap paginya Chanyeol selalu melakukan hal yang sama pada dirinya ketika mereka tengah menyiapkan sarapan bersama atau pun baru beranjak bangun pagi.
"Aku tidak akan mau mengerti apa yang kalian siratkan, Tuan Muda! Kita punya urusan yang harus diselesaikan." Appa Park mengajak Chanyeol masuk ekdalam ruangan kerjanya dan anak bungsu itu mengikutinya tanpa bantahan sedikit pun.
"Appa! Kau tidak akan menjodohkan Chanyeol bukan?!" Ini suara Baekhyun yang bersuara nyaring hingga langkah Appa Park terhenti.
"Kenapa kau menanyakkan itu sayang?"
Baekhyun terdiam dan menatap Appa dengan gugup. "Aku belum mau Chanyeol menikah dan meninggalkan aku sendirian, Appa mau Chanyeol selalu menjagaku kan?"
Appa Park tersenyum dan menganggukkan kepala. "Kenapa bukan kau saja yang menikah dengan Chanyeol?"
Pernyataan itu justru membuat Baekhyun terdiam dan membelakkan matanya dan terdiam cukup lama.
"Bagaimana Nona Byun?"
Baekhyun masih terdiam dalam posisinya, bibirnya ia gigit dengan wajah yang nampak bingung memberikan jawaban apa yang bisa ia berikan pada Appa Park.
"Baekhyun dijodohkan, Appa." Chanyeol pada akhirnya yang menjawab. "Tuan Byun sudah menyiapkan jodoh untuk Baekhyun sebelum ia meninggal."
"Ah, sayang sekali." Appa Park menyahut penuh kesedihan.
"I-iya.. aku bahkan tidak ingat bahwa tengah dijodohkan." Baekhyun mendengus dengan sebuah senyuman yang terpaksa ia berikan kearah Appa Park dan juga Chanyeol.
Appa Park ikut memberikan sebuah senyuman kepada Baekhyun sedangkan Chanyeol nampak menunduk dan membuang wajahnya untuk melihat kearah lain agar tidak langsung memandang wajah Baekhyun karena ia sudah tahu akan wajah murung yang akan diperlihatkan Baekhyun mengingat wanita itu selalu menolak membicarakan masalah permintaan terkakhir dari ayahnya mengenai perjodohan.
"Kalian sebaiknya segera menyelesaikan urusan bisnis Tuan-Tuan." Suara Eomma Park mencairkan suasana canggung yang terjadi.
"Ah! Baekhyun ayo ke dapur! Tadi aku membeli Strawberry Cake, kau harus mencobanya lebih dulu!" Yoora membawa Baekhyun paksa dan bercerita panjang lebar sepanjang jalan menuju ke ruangan dapur mereka yang berada di ujung lantai dasar kediaman Park. Baekhyun berusaha kembali menjadi sosok yang riang dan ikut masuk dalam pembicaraan yang Yoora jelaskan mengenai kondisi pekerjaannya yang mengalami peningkatan karena Chanyeol memasukkan sedikit dana investasi pada proyek pembangunan Gedung Entertainment yang akan menjadi pusat Hall Concert terbesar di Korea.
"Kau akan datang pada acara peresmian Casino and Resort of The Galaxy weekend ini?"
Baekhyun menggelengkan kepala. "Aku tidak berminat berada dalam satu ruangan dengan wanita itu."
Yoora terkekeh. "Kau masih memiliki dendam padanya?"
"Tentu saja." Baekhyun mulai menenerima potongan kue strawberry itu dan langsung melahapnya dengan semangat. "Ini enak. Mereka memberikan strawberry cukup banyak."
"Chanyeol yang memberitahu tempat ini."
Baekhyun menahan suapannya. "Chanyeol yang memberitahu?"
"Iya, dia memberitahu bahwa toko ini memiliki kue yang cukup enak dibandingkan yang lainnya khususnya Strawberry Cake ini."
Baekhyun masih mendengarkan Yoora menjelaskan mengenai toko kue dimana tempat Strawberry Cake yang baru saja ia makan dan nikmati didalam mulutnya. Pikirannya mengingat beberapa kali setiap Chanyeol kembali dari rumahnya ia akan membawa kue ini dan mengatakan bahwa Appa dan Eommanya yang membelikan untuk dirinya, sedangkan kini Yoora mengatakan bahwa dirinya diberitahu oleh Chanyeol mengenai lokasi tempat dimana kue ini berada.
"Chanyeol selalu membeli ini dan mengatakan kau menginginkannya ketika ia berkunjung, bahkan ia mengatakan kalau dirinya tidak membawa kue ini pulang, akan ada wanita yang cemberut menyambutnya begitu tiba di apartemennya." Eomma Park mengusap kepala Baekhyun dan memberikan ciuman diatas kepalanya.
"Chanyeol benar-benar menjagamu dengan baik-kan."
"I-iya Eomma."
Jujur saja Baekhyun ingin mendatangi Chanyeol saat ini juga dan meminta segala penjelasan lagi mengenai setiap kepulangannya selalu membawa kue ini dan kenapa ia tidak mengatakan langsung kalau selalu dirinya yang membelikan—bahkan ketika Baekhyun tidak meminta langsung agar ia membawakan kue ini untuk dirinya.
Yoora dan Eomma Park membiarkan Baekhyun duduk dengan tenang dan menikmati santapan kue itu sementara mereka tengah sibuk menyiapkan bahan- bahan makanan untuk santapan makan malam. Baekhyun bahkan tidak diijinkan hanya untuk memotong sedikit bahan-bahan atau hanya untuk membantu mencuci piring dan hal lainnya. Ia benar-benar hanya duduk diam dan menghabiskan potongan kue dan juga jus buah strawberry yang disiapkan Yoora.
"Aku akan mengantarkan minuman untuk Appa dan Chanyeol." Yoora berucap dengan membawa nampan kecil di tangannya.
"Aku bisa membawanya Eonnie."
"No no, no need." Yoora menyahut cepat. "Kau disini saja, Chanyeol tidak akan aku racuni. Dan kau harus tidur bersamaku nanti malam." Suara tawa terdengar leaps dan cukup kencang meskipun ia menjawab sambil terus melangkah menuju ruangan kerja dilantai yang sama. Baekhyun menatap Yoora aneh lalu mengabaikannya dan mendekat kearah Eomma Park yang masih sibuk menyelesaikan masakannya.
"Aku bisa membantu sedikit."
Eomma Park tersenyum. "Chanyeol bahkan tidak membiarkanmu berada didapur, kenapa kau malah ingin membantu dan mengolah segala bahan masakan sayang."
"Eomma, Chanyeol bahkan tidak mengijinkanku untuk memegang pisau." Baekhyun mengadu. "Anakmu itu sungguh pelit."
"Dia tidak mau jari-jari lentikmu ini terluka sayang." Eomma Park mengusap tangan Baekhyun. "Kau terlalu indah untuknya." Dan beralih dengan usapan pada pipi Baekhyun. "Kau bisa mengatur meja makan dan memindahkan semua makanan ini." Eomma Park memberikan tugas dan dengan senang hati Baekhyun Segera menjalankannya.
Dengan sigap ia memindahkan semua piring – piring yang sudah tersaji begitu banyak makanan, beberapa pelayan rumah juga ikut membantu menyiapkan segala perlengkapan makanan dan juga membawakan beberapa hidangan lainnya. Sehingga memudahkan Baekhyun untuk menata tata letak piring-piring tersebut untuk lebih mudah dijangkau saat mereka mulai menyantap makanan.
Selang beberapa menit kemudian, Yoora, Chanyeol dan Appa Park mulai memasuki ruangan makan, Chanyeol menghampiri Baekhyun dan memberikan sebuah kecupan pada lengan wanita itu ketika Baekhyun tengan menyelesaikan meletakkan beberapa piring yang berisikan buah.
"Yaaa~" suara pelannya memperingati tingkah Chanyeol.
"Wae?"
"Ingatlah ada seluruh anggota keluargamu Tuan Park." Baekhyun masih merendahkan suaranya, berusaha menahan bahwa bisikan itu hanya dapat didengar oleh dirinya dan juga Chanyeol.
"Kau menyebutkan Tuan Park seakan-akan kau tengah menggoda Appa-ku, Baek."
Baekhyun memukul perut Chanyeol dengan nampan dengan cukup keras hingga Yoora dan Appa Park menyakinkan mereka berdua bahwa hal itu hanya sebuah candaan dan bukan adegan pertengkaran antara suami istri yang melibatkan sikap kekerasan dirumah tangga.
Sungguh menggelikkan.
Chanyeol membawa Baekhyun untuk duduk bersamanya—tepat disebelahnya. Sedangkan Appa dan Eomma Park duduk berhadapan pada sisi ujung meja dan Yoora duduk seorang diri dihadapan Chanyeol. Mereka menyantap makan malam dengan suasana tenang sementara Chanyeol mulai merasa gelisah karena jelas ia menyantap terlalu banyak makanan pedas dan mengeluh akan hawa panas didalam ruangan itu.
"Ini bahkan tidak terlalu pedas Chan." Baekhyun meyakinkan dan memakan potongan daging dan juga beberapa paprika yang ada pada piring Chanyeol, melahapnya dengan penuh nikmat hingga kedua matanya terpejam. Merasakan makanan yang dibuat oleh Eomma Park benar-benar mengunggah selera makannya dengan cepat.
Tak banyak yang dibicarakan saat mereka menyantap makan malam selain membicarakan Chanyeol yang duduk gelisah dan juga mengeluh pedas dan panas yang ia rasakan. Chanyeol bahkan langsung beranjak masuk kedalam kamarnya ketika mereka telah selesai. Yoora langsung membawa Baekhyun masuk kedalam kamarnya dengan alasan akan membantu tamu specialnya ini untuk membersihkan diri sementara Appa dan Eomma Park juga mengikuti untuk kembali ke kamar mereka.
"Pakailah baju tidurku ini." Yoora memberikan pakaian tidur yang terlihat layaknya sebuah lingerie.
"Tidak adakah baju normal lainnya?"
"Tidak ada." Yoora menyahut dan mengunci pintu kamarnya. "Pakai baju itu dan kau ku ijinkan tidur bersama Chanyeol atau pakai baju yang lainnya dan kau tidur bersamaku malam ini.
Baekhyun menatap curiga kearah Yoora. "Bukankah kau mengatakan aku tidak diijinkan untuk tidur bersama Chanyeol?"
"Hm, aku memang mengatakannya. Tapi mengingat adikku kali ini pasti tengah merasakan penderitaan pada alat kelaminnya karena rasa tegang dan panas dari obat perangsang yang aku campurkan pada minumannya, ia sungguh akan menderita bukan."
Baekhyun berusaha mencerna kaliamat Yoora dengan perlahan-lahan hingga akhrinya cara kerja otaknya mendapatkan hasil mengenai yang dimaksud oleh Yoora.
"MWO?!"
Your choice Byun
e)(o
