Dangerous Romance
Chapter 13
"Aku baru berusia delapan belas tahun Papa! Jangan merusak hari ulang tahunku ini dengan segala pembicaraan mengenai perjodohan dan hal apapun mengenai perusahaan! Aku tidak mau!" Puteri satu – satunya dari Keluarga Byun beranjak berdiri dari kursi makannya, melangkah penuh emosi dan tergesa - gesa untuk segera meninggalkan ruangan makan, dirinya tidak memikirkan bagaimana keadaan lilin dan kue ulang tahunnya disana yang belum ia tiup dan nikmati yang ia pikirkan adalah keluar dari hadapan kedua orang tuanya.
Baekhyun tidak peduli bila Papa dan Mamanya mungkin akan marah dan mencoret namanya dari daftar keluarga Byun, karena mungkin itu yang terbaik dibandingkan harus mendengarkan segala omongan mengenai perjodohan dirinya.
Gadis yang kini berusia delapan belas tahun itu berlari keluar rumah, masuk kedalam mobil miliknya—hadiah ulang tahun hari itu—dan langsung menyalakan mesin dan menjalankannya keluar area rumah dengan kecepatan yang bisa dibilang tidaklah normal. Gadis itu mengumpat penuh emosi merutuki setiap ingatan yang ada dalam pikirannya mengenai segala pembicaraan yang dikatakan Papa-nya mengenai perjodohan yang akan kedua orang tuanya lakukan agar ia bisa mendapatkan suami yang terbaik, maksudya dalam segi finansial, latar belakang keluarga dan juga penampilannya.
Baekhyun mengusap air matanya berkali – kali dari kedua pipinya, berusaha mempertahankan penglihatan dihadapannya untuk fokus menyetir tapi ia juga tidak bisa menahan segala rasa kecewa, sedih dan kesal dari dalam hatinya saat ini. Baekhyun membawa mobilnya melaju kencang membelah jalanan kota Seoul yang nampak sepi dan ia baru menyadari bahwa saat ini jam di kota tersebut menunjukkan pukul setengah satu dini hari. Baekhyun menenangkan dirinya sebentar setelah ia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan yang sangat sepi. Kepalanya menunduk pada stri mobil dan tangisannya kembali terdengar dengan kencang.
Isakan tangis, umpatan serta beberapa pukulan kencang dilayangkan pada stir kemudi hingga terdengar bunyi klackson karena Baekhyun tepat mengenai bagian tengah kemudi itu, ia melonjak kaget dengan sendirinya mendengar suara klackson dari mobilnya dan juga karena suara dering handphone di kantung celananya.
Chanyeollie is calling..
Baekhyun semakin lesu dan menunduk melihat nama yang tertera pada layar handphonenya. Biasanya ia akan bahagia melihat nama itu tertera di layarnya, tapi mengingat kondisi saat ini sangatlah menyedihkan dan Baekhyun tidak sanggup untuk menceritakan apa yang terjadi pada dirinya.
Ia mengabaikan telepon itu hingga dering untuk keempat kalinya, berharap Pria itu yang juga sahabatnya tidak akan meneleponnya lagi.
Bunyi suara notifikasi pesan masuk terdengar kali ini. Baekhyun membuka kotak masuk di handphonenya dan membaca pesan yang masuk disana, dikirmkan oleh orang yang sama yang sudah berulang kali meneleponnya.
From : Chanyeollie
Buka pintu mobilmu Nona Muda.
Seketika wajahnya menoleh kearah samping jalan dan sosok yang bernama Chanyeol berada disana, melambaikan tangannya dan juga menggesturkan tangannya untuk meminta Baekhyun membuka pintunya, dan tangisan Baekhyun malah semakin kencang dan histeris dari sebelumnya. Ia tetap membukakan pintu mobilnya dan ketika Chanyeol masuk kedalam dan duduk pada kursi penumpang, Baekhyun memeluk erat badan Chanyeol serta bergumam tidak jelas melampiaskan segala kekesalannya, dan Chanyeol disana, membalas pelukannya dengan begitu erat serta menangkan Sang Nona Muda yang tengah meluapkan segala polemik di hatinya.
Chanyeol tidak melakukan apapun untuk menenangkan gadis yang berada dalam pelukannya, yang ia lakukan hanyalah memberikan usapan pelan pada kepala dan punggung serta kecupan singkat di pucuk kepala Baekhyun, pendengarannya mendengarkan semua keluh kesah yang Baekhyun ungkapkan dan Chanyeol sama sekali tidak membantah atau memotongnya sejak awal gadis itu bercerita.
"P-pa-papa masih terus membicarakan hal itu.. ngh.. hiks.." isakan tangisnya mulai terpotong – potong, tarikan nafasnya bahkan mulai terlihat susah. "T-t-ta-tadi ia mengatakan akan meng-mengenal—nya padaku.. ngh.. ngh."
Chanyeol mengusap air mata Baekhyun dengan tangannya. Entah memang ia memang terbawa suasana yang begitu menyedihkan karena melihat Baekhyun yang menangis hingga terisak – isak seperti saat ini atau memang dia mengerti bagaimana perasaan Baekhyun saat ini yang merasa kebahagiaan di hari ulang tahunnya terpaksa lenyap hanya karena sebuah perjodohan.
"Chan—chanyeol.." Baekhyun menatap wajah Chanyeol meminta pertolongan. "Batalkan, batalkan perjodohanku please.." Baekhyun kembali menangis kencang dan memeluk badan Chanyeol lebih erat. "Lelaki itu pasti jelek, gendut, tidak tampan! Pasti keluarga mereka juga angkuh dan dingin! Aku tidak mauuu!" Baekhyun meraung – raung menangis lebih kencang dari sebelumnya.
Chanyeol belum menjawab apa yang Baekhyun katakan padanya.
"K-kau mengatakan akan memberikan apapun yang kuinginkan kan?" Baekhyun meraup wajah hingga mereka saling beradu pandang. "Aku mohon.." Wajahnya memohon pertolongan pada Chanyeol, kedua matanya yang kecil itu semakin basah dan mengeluarkan air mata terus menerus. Bibirnya yang tipis dan berwarna merah muda sudah memerah padam sama halnya dengan kedua pipinya yang berwarna merah bukan karena merona melainkan karena ia sedari tadi tengah menangis terus menerus.
"Apa kau akan bahagia nantinya?"
Baekhyun terseguk – seguk mendengarkan jawaban Chanyeol.
"Bila aku memohon pada Papa-mu untuk membatalkan perjodohanmu itu, apa kau akan bahagia?" Chanyeol menjelaskan lagi dan Baekhyun menganggukkan kepala dengan cepat walaupun masih terseguk pelan.
"Aku akan lakukan apapun asal kau bahagia." Chanyeol mengusap kedua pipi Baekhyun dengan lembut, membersihkan setiap aliran air mata yang keluar dari sudut mata gadis itu yang masih terseguk menangis dipangkuannya.
"Ingat apa yang kukatakan padamu?"
Baekhyun menggelengkan kepala. "Yang mana? Aku tidak tahu apa yang kau maksudkan."
Chanyeol tersenyum kearah Baekhyun. "Mengenai kebahagiaanmu."
Baekhyun menggeleng lagi.
"Aku pernah mengatakan.." Chanyeol merapikan beberapa helai rambut Baekhyun, dikaitkan kebelakang telinga gadis itu dan juga beberapa anak poni rambut yang menghalangi pandangan Baekhyun ia kesampingkan. "Kebahagiaanmu adalah prioritas utamaku. Asalkan kau bahagia dan bisa tersenyum apapun akan aku lakukan."
Baekhyun kembali menangis dengan kedua matanya yang terpejam, kedua bibirnya menekuk kedalam sedangkan badannya kembali memeluk Chanyeol.
"Aku memintamu tersenyum tapi kau malah semakin menangis." Chanyeol menggelengkan kepala dengan dua bola matanya berputar.
"Aku sedang terharu, bodoh." Baekhyun menyahut sambil terseguk – seguk.
"Ku kira kau tidak akan terharu dengan apapun yang aku katakan." Lengan Chanyeol semakin memperat membalas pelukan Baekhyun sedangkan gadis itu sempat memberontak tidak setuju dengan perkataan Chanyeol tapi tetap memeluk badan besar itu.
"Tapi kau tetap akan mengatakan pada Papa untuk membatalkan perjodohanku kan?"
Chanyeol mencium pucuk kepala Baekhyun. "Aku akan mencobanya."
Dangerous Romance
Chanyeol's Pov
"Ahh.. haaa.. haaa…"
"Tiga—puluh—argh—haa haa.."
"Sial!"
"Aaarrgghhh!"
Jangan membayangkan hal yang aneh – aneh.
Karena suara – suara itu berasal dari diriku sendiri yang sedang tersiksa untuk menghilangkan efek obat perangsang yang Nenek Sihir—setengah gila— bernama Park Yoora—yang ia berikan padaku dalam minuman teh sebelumnya.
Ini pertama kali, benar – benar pertama kalinya seorang Park Chanyeol meminum obat perangsang, dan rasanya—kalian mau tahu bagaimana rasanya? Di dalam tubuh kalian akan terasa terbakar, panas ditambah segala otot dan nadi darah dalam tubuhmu ikut menegang. Belum lagi proses kerja otakmu yang hanya terpaku pada saat – saat bercinta—dalam pikiranku kali ini teringat jelas bagaimana wajah Baekhyun yang mendesah dan memohon. Bagaimana belah bibirnya yang bergerak memanggil namaku dengan suara lembutnya, pergerakkan tangannya yang mengusap bahu dan mencengkram punggung belakangku dengan begitu kerasnya.
Oke ini harus dihentikkan.
Dalam hati dan pikiranku, aku meyakinkan bahwa tidak ada acara bercinta malam ini, di kamarku, di dalam rumah ini. Khususnya disaat kedua orang tua Appa dan Eomma tercinta berada dikamar tepat sebelah kamarku.
Tidak boleh.
Okey Chanyeol, kau kuat! Tahan nafsu dan singkirkan segala pikiran kotormu.—Itu ucapanku dalam hati bertujuan menguatkan diri sendiri agar tidak membayangkan hal – hal berbau mesum dan juga Baekhyun serta hal – hal kemesuman lainnya untuk menghindari ketegangan lebih kuat dibagian bawahku—sial. Jujur saja saat ini aku ingin memaki Yoora dengan penuh sumpah serapah karena ide gilanya ini sangat – sangat – sangat keterlaluan. Mengingat, kami berada dalam satu rumah dengan kedua orang tua kami tercinta berada di tempat yang sama dan mungkin mereka kini tengah menikmati waktu istirahat malam. Ditambah Baekhyun berada di dalam tempat yang sama, meskipun kini ia berada bersama Yoora didalam kamar, tapi kesadaranku jelas memikirkan bahwa ya Baekhyun ada disini.
Kehadirannya jelas bisa dirasakan oleh seluruh bagian tubuh dan otakku.
Sial, aku kembali memikirkannya.
Bayangan akan wajahnya dan aroma wangi strawberry yang menjadi ciri khas wangi badannya kini mulai terbayang – bayang lagi. Mataku terpejam erat sedangkan pendengaranku berusaha untuk difokuskan pada suara music yang terputar tak jauh dari posisiku.
Don't you worry, don't you worry, child
See heaven's got a plan for you
Don't you worry, don't you worry now
Yeah!
There was a time, I met a girl of a different kind.
We ruled the world, I thought I'll never lose her out of sight.
We were so young, I think of her now and then
I still hear the songs reminding me of a friend!
Yeah! Setidaknya lagu ini berisikan lirik – lirik lagu yang bisa untuk menyemangati olahraga malam ini—yang sialnya masih susah dilakukan karena bayangan akan badan mungil yang menggeliat dengan kepala yang mengadah keatas dan mengharapkan sebuah ciuman panas kini terbayang lagi—sial! Sial! Sial!
Sebuah tendangan aku lakukan dan itu mengenai tempat air minum yang terletak diatas meja—menghantam beberapa miniature action figure hingga semuanya jatuh berserakan.
Kekacauan lainnya yang terjadi malam ini.
Usai melakukan push up yang tentunya gagal. Pikiranku sempat berpikir untuk melakukan olahraga lainnya, seperti sit up? Sepertinya ide yang bagus. Dengan gerakan pelan dan teratur serta pengaturan nafas yang cukup teratur, pada akhirnya sit up kali ini berhasil kulakukan sampai pada hitungan lima puluh sekian—karena kembali lagi bayangan Baekhyun yang tersenyum menggoda merangkak mendekat dan memegang kedua siku lutut yang kini tengah tertekuk. Usapan tangannya yang lembut turun membelai paha dan menuju bagian int—
"AAAAHHH!" sebuah teriakan terdengar keluar dari mulutku tanpa memperdulikan mungkin saja seisi rumah akan terganggu.
"Aish!" Mataku terpejam dengan usapan kasar mengusak wajah menyesali ingatanku yang memikirkan Baekhyun, Baekhyun dan Baekhyun.
Kembali aku berpikir hal apa yang bisa aku lakukan lagi, percobaan push up sudah jelas gagal karena mengingatkan Baekhyun yang mendesah dan menggeliat dibawahku. Percobaan sit up gagal juga karena pikiranku membayangkan dirinya yang merangkak mendekat serta membelai bagian bawahku. Baru mencoba dua hal dan semuanya gagal sementara efek obat perangsang yang Yoora berikan jelas – jelas masih terasa disetiap bagian tubuhku terutama bagian terpenting dibawah sana yang mulai berkedut bangun.
"Arrrghhhhhh!" Kedua tanganku meremat kuat rambut – rambut di kepala sedangkan badan dan kakiku bergerak melompat – lompat untuk mengalihkan pemikiran tentang Baekhyun yang bisa muncul kembali. Helaan nafas yang sungguh berat ku hembuskan, pandangan mataku kini beralih memperhatikan setiap bagian ruangan olahraga guna memikirkan hal apa lagi yang bisa dilakukan untuk membuang sisa – sisa obat perangsang sialan ini tanpa harus melampiaskannya pada Baekhyun.
Pandangan mataku memperhatikan satu – satu alat olahraga yang ada, dari mulai Treadmill, Static bicycle, Barbell Machine dan Dumbbellyang menurutku semuanya adalah perlengkapan olahraga biasa dan kurang memacu tingkat hormon yang terlalu berlebihan dalam diriku saat ini. Untung saja mataku ini masih bisa menangkap perlengkapan samsak tinju yang masih menggantung dengan baik dan juga sarung tangan yang terlihat masih bisa digunakkan. Dengan cepat langkahku kubawa kearah dimana samsak itu tergantung dan memasangkan sarung tinju pada kedua tangan.
Pelampiasan dimulai.
Chanyeol's Pov End
Dangerous Romance
Chanyeol benar – benar melampiaskan seluruh gairahnya dengan menghantam bungkusan samsak tinju itu dengan sekuat tenaga, erangan penuh emosi mulai terdengar sayup – sayup dari dalam ruangan olahraga milik Keluarga Park. Meskipun begitu, seisi rumah tidak ada yang merasa terganggu dan tetap terlelap menikmati istirahat malamnya, kecuali sang tamu mungil nan cantik yang kini duduk manis didalam kamar Tuan Muda Keluarga Park. Tangannya meremas selimut putih milik Tuan Muda itu dengan pendengarannya yang masih terfokuskan pada suara – suara erangan yang berasal dari ruangan olahraga disebelahnya.
"Ayolah Baekhyun! Kau bisa menghadapinya." Baekhyun, sang tamu mungil itu kini mulai kembali menggumamkan kalimat – kalimat untuk menyemangati dirinya sendiri.
"Aaaahhh!" teriakan frustasi terdengar bersamaan dengan hempasan badan mungil yang berhasil membuat sedikit kusutan pada selimut yang menutupi bagian ranjang atas milik Tuan Muda Park, dan kini bukan hanya sebuah hempasan baringan tubuhnya tapi tubuh itu kini terlihat terbungkus rapi dalam lilitan selimut yang mengelilingi tubuhnya ditambah suara – suara nyanyian memanggil nama sang Tuan Muda.
"Chanyeolll~ aku bingung! Aaaahh! Chanyeooolll! Cepatlah kau tidur saja sana ish!" untaian ucapan bernadanya terdengar berakhir diikuti badannya yang kini mulai menggeliat keluar dari dalam lilitan selimut.
"What should I do?" helaan nafas berat ia lakukan. Pandangannya masih menuju pintu kamar yang sedikit terbuka karena memang ia sengaja melakukannya untuk bisa mendengar suara dari balik pintu ruangan olahraga dan mengira – ngira hal apa yang tengah dilakukan Tuan Muda Park itu. Baekhyun menundukkan kepala dan membuka genggaman tangannya yang masih menyimpan erat dua bungkus obat yang diberikan Yoora sebelum ia keluar dari kamar kakak perempuan Chanyeol.
"Kau yakin ini keputusanmu?" Yoora tersenyum nakal dengan gerak naik turun dari kedua alisnya yang terbentuk sempurna meskipun dalam kondisi bare face-nya.
Baekhyun terdiam dihadapannya dan hanya mampu memberikan gerakkan bibirnya yang dikulum dan digigit sedari tadi.
"Kau tahu bagaimana Chanyeol saat tengah ber-cinta denganmu bukan?" Yoora berbisik sensual tepat disamping wajah Baekhyun. "Ditambah dengan obat perangsang kali ini.. kau tahu dia bisa lebih liar dari biasanya." Yoora kembali menjauh dan memperhatikan wajah Baekhyun. "Menurut percobaanku seperti itu—oh bukan dengan Chanyeol tentunya. Aku mencobanya pada yang lain, dan hasilnya…" Yoora mendekat lagi. Menyamakan posisi wajanya tepat dihadapan Baekhyun yang tengah menyimak segala ucapannya. "Sangat memuaskan.. dan juga melelahkan."
Yoora tersenyum licik memperhatikan perubahan raut wajah Baekhyun. "Kau menyukainya kan? Jadi, apa keputusanmu Nona Byun? Selamatkan adikku dari siksaan obat perangsang, atau membiarkan ia tersiksa sendirinya. Mungkin bila Chanyeol tidak sanggup ia akan pergi dari rumah ini dan menyewa jalang di pinggir jalan untuk menuntaskan hasrat—
"A-aku akan membantunya." Baekhyun mengambil keputusan langsung karena seketika pikirannya tidak mau terpenuhi bayangan Chanyeol-nya memberikan kenikmatan dan pelepasan pada wanita lain. Ia tidak mau miliknya dinikmati oleh orang lain, jelas bukan? Bahkan dalam perjanjian percintaan yang mereka buat, Chanyeol jelas – jelas ia larang untuk bermain dengan para jalang. Hanya dirinya yang boleh menyentuh Chanyeol dan hanya Chanyeol yang boleh menyentuh Baekhyun.
"Baiklah, itu keputusanmu. Tapi sesuai perkataanku sebelumnya, gunakkan lingerie ini baru kau boleh keluar." Tatapan Yoora kini sangat mengintimidasi, tidak ada senyuman nakal atau mengejeknya, yang ada dua tatapan mata tajam yang siap merobek pakaiannya bila Baekhyun tidak menuruti yang ia inginkan.
"Aku akan mengenakkannya." Baekhyun menjawab.
"Good girl!" Yoora mengusap kepala Baekhyun dan berlalu menjauh menuju meja riasnya." Cepat kenakkan dan susul adikku itu—oh! Ini." Yoora kembali mendekat padanya. "Aku juga ingin kau menikmati permainannya." Kedipan mata nakal ia layangkan pada Baekhyun, memaksakan tangan mungil itu menerima dua bungkusan obat yang ia ambil dari meja riasnya.
"Jangan lupa meminumnya! Have fun~!"
Kepalanya menatap pintu kamar milik Chanyeol kembali, ia menelan ludahnya dengan susah payah serta membuka bungkusan obat yang Yoora berikan dan langsung menenggak obat itu masuk dalam mulutnya.
"Shit!" Baekhyun mengumpat merasakan rasa obat yang pahit ditambah didalam kamar Chanyeol sama sekali tidak ada segelas air minum untuknya. Badannya beranjak berlari keluar kamar menuju dapur dengan terburu – buru demi segelas air karena rasa pahit dari obat yang ia minum sudah menjalar keseluruh lidah dan tenggorokannya.
Dangerous Romance
Sementara didalam ruang olahraga, Chanyeol tengah berbaring lemas mengingat beberapa menit sebelumnya ia habiskan dengan sepenuh tenaga melampiaskan segala emosi dan semua perasaan yang ada dalam pikirannya. Bulir – bulir keringat terlihat membanjiri seluruh badannya seakan- akan ia tengah bermandikan keringat. Deru nafasnya yang memburu juga jelas mengartikan dirinya terlalu kelelahan meluapkan segala tenaganya hanya untuk samsak yang menggantung disana.
Hanya selang beberapa menit, Chanyeol kembali beranjak bangun dan melangkahkan kakinya menuju meja kecil dimana ia meletakkan player music-nya yang sedari tadi bersuara memberikan semangat melalui lagu – lagu yang ada didalamnya. Kini ia memasangkan satu set headset pada sambunga playernya dan beralih menuju treadmill untuk melanjutkan kegiatan olahraga malamnya.
Alat itu awalnya bergerak pelan hingga membuat Chanyeol berjalan santai diatasnya, tapi tangannya menekan tombol pengaturan yang ada dan membuat alat itu kini bergerak cepat hingga kaki – kaki Chanyeol bergerak seakan – akan berlari cepat menyimbangi gerakan alat dibawah kakinya.
Suara nyanyian pada headset-nya juga jelas menambah semangat dirinya untuk semakin bergerak cepat, suara dari para vokalis EXO yang menyanyikkan lagu Been Through mengingang – ngiang di telinganya dengan baik. Bahkan Chanyeol mengaktifkan mode repeat demi bisa mendengarkan bait liriknya yang menjadi favoritenya.
Hoesaekbit haneul wien bunmyeonghi deo balkeun bicci
Meokgureum geothin dwien nunbusige biccnal teni
You shine like the stars
You light up my heart
Oneurui siryeon kkeuten chanranhage nareul bichwo
Nunbusin bicceul garin meokgureum dwi hae
Byeonhameopsi neon nareul bichune yeongwonhae
Goyohan gonggi, ttatteushan baramdo hamkke
Geogi geudaero isseo hangsang gateun jarie yeah
Hoesaekbit haneul wien bunmyeonghi deo balkeun bicci
Meokgureum geothin dwien nunbusige biccnal teni
You shine like the stars
You light up my heart
Oneurui siryeon kkeuten chanranhage nareul bichwo
Penggalan lirik pada lagu tersebut seketika mengingatkan bagaimana senyuman tipis dari bibir manis milik seorang Byun Baekhyun yang begitu terasa sangat menghangatkan hatinya—tapi tidak dengan keadaan hormon tubuhnya saat ini.
Chanyeol menggelengkan kepala guna menghilangkan bayangan wajah Baekhyun, playlist pada pemutar musiknya ia gantikkan dan berharap lagu yang lainnya yang akan terputar tidak akan mengingatkan dirinya pada Baekhyun.
Semoga.
Amin.Chanyeol berdoa.
I just need to get it off my chest
Yeah, more than you know
Yeah, more than you know
You should know that, baby, you're the best
Yeah, more than you know
Yeah, more than you know
Setidaknya lagu ini lebih baik, menurutnya. Musik EDM ditambah suara – suara dang DJ yang terdengar menyanyikkan dengan penuh semangat. Kecepatan treadmill dibawah sana ia sesuaikan dengan tempo lagu dan kini terasa lebih pas.
I saw it coming, from miles away
I better speak up if I got something to say
'Cause it ain't over, until she sings
You had your reasons, you had a few
But you knew that I would go anywhere for you
'Cause it ain't over, until she sings
Satu bagian awal lagu berhasil dilalui dan tidak ada bayangan mengenai Baekhyun, meskipun jelas ia mendengar bagian dari lirik terakhirnya.
I just need to get it off my chest
"No, get it off my head too!" Chanyeol menambahkan dengan sendirinya.
Yeah, more than you know
Yeah, more than you know
You should know that, baby, you're the best
Yeah, more than you know
Yeah, more than you know
I just...
I just...
Chanyeol menikmati musik dan juga gerakkan kakinya yang saling bergerak bersamaan dengan gerakkan Treadmill dibawahnya.
Your good intentions are sweet and pure
But they can never tame a fire like yours
No it ain't over, until she sings
Right where you wanted, down on my knees
"Sial!" Chanyeol mengumpat lagi mendengar penggalan akhir dari lagu itu. Seketika pikirannya membayangkan Baekhyun berada dibawahnya dalam posisi berlutut dengan wajah polos nan cantiknya berhadapan dengan miliknya yang mengeras. Tangan lentiknya mengusap lembut miliknya dibawah sana bermain menarik ulur dan sesekali memberikan ciuman hangat dari mulutnya yang kecil dan basah.
You got me begging, pretty baby, set me free
'Cause it ain't over, until she sings
Kedua tangannya mencengkram kuat pegangan pada alat treadmillnya, kedua matanya terpejam erat dan sekujur tubuhnya mulai menegang kaku karena bayangan di dalam pikirannya masih membayangkan Baekhyun bermain dengan miliknya dibawah sana.
"Chanyeol.."
Bahkan kini ia mulai membayangkan dan mendengar bagaimana suara lembut penuh desahan milik Baekhyun memanggil namanya berulang kali.
Come a little closer, let me taste your smile
Until the morning lights
Ain't no going back the way you look tonight
I see it in your eyes
"Chanyeol." Suara Baekhyun terdengar memanggil lagi.
"Aaaaargghhh!"
I just need to get it off my chest
Yeah, more than you know
Yeah, more than you know
You should know that, baby, you're the best
Yeah, more than you know
Yeah, more than you know
"Dia tidak ada disini, dia sudah tidur Yeol, dia sudah tidur. Dia berada dikamar Yoora dan sekarang sudah tidur." Chanyeol bergumam sendiri masih dengan kedua matanya yang masih terpejam dan kedua tangannya yang masih mencengkram kuat pegangan tangan pada alat Treadmill itu.
"YAA CHANYEOL!"—tangan Baekhyun menarik kabel headset yang terpasang pada telinga Chanyeol dengan kasar sedangkan Chanyeol yang tersadar suaar Baekhyun benar – benar memanggil namanya itu berada disampingnya dengan pakaian lingerie hitam yang jelas mencetak bentuk tubuhnya yang seksi dan indah—
BRAK!
"Aahhhhh!" Chanyeol terbelanting jatuh kebelakang dan menabrak alat olahraga lainnya yang menghantam punggung belakang dan kepalanya.
"Ommoo!" Baekhyun berteriak panik membantu Chanyeol untuk berdiri dan melihat kondisi punggung belakang pria itu untuk melihat luka atau lebam biru yang mungkin akan terlihat jelas akibat kejadian tadi.
"Sedikit berdarah."
"Ah!" Chanyeol meringis pelan merasakan tangan Baekhyun yang mengusap punggungnya yang terluka.
"Ini salahmu! Tengah malam malah berolahraga!" Baekhyun memukul punggung itu dan Chanyeol kembali meringis kesakitan. "Aku sudah memanggil namamu berkali – kali tapi tidak dipedulikan!" pukulan kedua paha paha Chanyeol namun kali ini lebih pelan.
"Kau bisa berdiri? Aku akan membantumu mengobati punggungmu itu."
Baekhyun memapah badan Chanyeol agar bisa berdiri dan mereka berjalan bersamaan menuju kamar Chanyeol dengan langkah pelan. Chanyeol berusaha menahan sekuat tenaga segala rangsangan dari dalam dirinya yang menginginkan untuk segera menyetubuhi Baekhyun. Sementara Baekhyun berusaha terlihat tenang dan mengabaikan detak jantungnya yang berdetak begitu cepat, apalagi kali ini ia memeluk badan Chanyeol yang berkeringat dan itu terlihat lebih bergairah untuknya.
Baekhyun membiarkan Chanyeol duduk pada ranjangnya sementara dirinya berlari menuju kamar mandi guna mencari perlengkapan obat – obatan.
"Aku hanya menemukan ini." Baekhyun menunjukkan beberapa kapas dan betadine kecil di tangannya.
"Itu cukup." Chanyeol menjawab singkat dan mengalihkan pandangannya ketempat lain menahan sakit pada punggung, kaki dan juga bagian terpentingnya yang sudah menegang dan mengembung sesak dibalik celananya.
"Aku bisa mengobatinya sendiri. Kau—kau kembalilah tidur."
"Tidak mau." Baekhyun menyahut dan tanpa meminta ijin ia langsung memberikan usapan betadine pada punggung Chanyeol.
"AH! Pelan – pelan!" Chanyeol meringis perih.
"Ini sudah pelan Tuan Park!" Baekhyun mendengus kesal dan semakin menekan usapannya hingga membuat Chanyeol meringis lebih kesakitan dan pada akhirnya ia yang tertawa melihat Chanyeol tersiksa dihadapannya.
Gelenyar aneh ia rasakan ketika memandangi punggung Chanyeol yang begitu lebar, melihat beberapa luka cakaran yang jelas ia tahu semua itu berasal dari kuku jarinya yang mencengkram kuat punggung itu ketika merasakan klimaks dari setiap percintaan yang mereka lakukan. Baekhyun mengusap bekas luka itu dengan pelan dan Chanyeol menggeliat merasakan usapannya. Erangan yang tertahan dari Chanyeol semakin jelas terdengar, dan Baekhyun semakin mendekatkan dirinya pada punggung Chanyeol. Mengusap seluruh bagian punggung itu dan memberikan kecupan singkat pada setiap luka yang ada hingga tubuhnya menempel dengan punggung Chanyeol dan kini wajahnya berhadapan dengan wajah Chanyeol yang sudah beralih untuk melihat kearahnya.
Tidak ada pergerakan lembut yang dilakukan Chanyeol, ciuman yang dilakukan begitu kasar dan juga penuh gairah bertumpah ruah disana, lumatan kasar jilatan panas pada bagian pipi dan bibir Baekhyun dan juga gigitan kecil ia lakukan sementara tangannya merobek bagian depan lingerie yang Baekhyun kenakkan guna memberikan pandangan yang lebih jelas untuk melihat dua gundukkan payudara yang Baekhyun miliki. Baekhyun bahkan tidak meringis kesakitan ketika tangan Chanyeol mencengkram kuat tangannya untuk terkunci disamping kepalanya sementara pria itu menikmati melumat puting miliknya yang mengeras disana.
Chanyeol bermain cepat, kali ini ia beralih turun menjilati bagian bawah Baekhyun yang sudah lembap, lidahnya menjilati setiap bagian dan mengoyak ruang kosong disana, kedua jarinya bahkan melesak masuk tanpa ijin dan tidak memperdulikan ringisan sakit dari suara yang dihasilkan Baekhyun.
Baekhyun menggeliat pada posisinya yang kini berbaring lemah diatas ranjang Chanyeol dengan tangannya yang tak henti – hentinya meremat setiap bagian selimut dan sprei yang bisa ia jangkau sebagai pelampiasan yang bisa ia lakukan untuk mengalihkan rasa sakit dan nikmat dari apa yang Chanyeol lakukan. Mulutnya tak berhenti terbuka kecil mengerangkan berbagai desahan untuk merintih, sementara Chanyeol seakan – akan menjadi tuli karena ia sama sekali tidak memperdulikan segala yang Baekhyun katakan untuk berlaku lebih lembut dan pelan dibawah sana.
Gerakkan mendorong kasar hingga deritan dari kaki ranjang terdengar dan juga jeritan sakit dari mulut Baekhyun terdengar bersamaan. Tangan Chanyeol membungkam mulut Baekhyun dan ia gantikkan dengan ciuman kasar tak beraturan supaya rintihan sakit itu tidak terdengar lebih jelas saat dirinya bergerak semakin cepat membawa masuk kejantanannya menusuk bagian dalam lubang intim Baekhyun, melihat wanita dibawahnya menggeliat semakin merangsang Chanyeol untuk mempercepat gerakkannya. Tangannya meregangkan kedua kaki Baekhyun untuk semakin terbuka lebar dan ia tekuk dan tekan sementara pinggulnya semakin bergerak menusuk dalam lubang Baekhyun.
"Ahh—aahh..sakit—chanyeol—nngghh!" Baekhyun merintih sakit tapi pada akhirnya wanita itu menggigit bibirnya sendiri dan meremas lengan berotot Chanyeol ketika mencapai kenikmatannya. Dan Chanyeol tak berhenti, libidonya semakin naik dan bahkan tenagannya masih ada untuk terus bergerak mengejar kenikmatannya sendiri. Tak cukup puas dengan posisi Baekhyun yang berada dibawahnya dan leluasa melihat wajah cantik itu, meringis sakit dan menikmati permainan yang ia lakukan. Chanyeol melepaskan tautannya dan membalik badan Baekhyun dengan begitu mudah dan kasar hingga kini Baekhyun terlungkup diatas ranjang dengan wajahnya yang beradu tenggelam didalam bantal.
Sebuah tamparan keras terdengar, itu adalah tangan Chanyeol yang menampar pipi pantat Baekhyun dan mencetak bekas tangannya disana. Posisi Baekhyun sedikit menungging dan seperti sebelumnya Chanyeol membawa masuk miliknya yang menegang dengan ukuran besar itu masuk dalam lubang sempit intim Baekhyun.
"Akh!" Baekhyun meringis lagi.
Dan Chanyeol tidak peduli karena jelas pria itu masih bergerak begitu kasar menghujam lubangnya, mengerang kenikmatan sendiri sedangkan bagi Baekhyun sama sekali tidak merasakan kenikmatan seperti percintaan mereka yang sebelum – belumnya. Kali ini terasa perih dan sakit pada bagian dalamnya. Remasan pada kain dan gigitan pada bantal dibawahnya bahkan tidak cukup untuk menghilangkan rasa sakit itu.
Keadaan semakin terasa nyeri ketika milik Chanyeol didalam sana terasa berdenyut akan meledakkan spermanya karena posisinya kini semakin menungging sementara ia bisa mendengar deru nafas kencang Chanyeol dibalik punggungnya. Jambakkan pada rambutnya yang dilakukan Chanyeol semakin kencang dan juga remasan pada tangannya ketika pria itu meledak didalam Baekhyun, ciuman yang dilakukannya bahkan tidak terasa lembut seperti sebelumnya dan yang Baekhyun bisa ingat, badannya kembali ditarik oleh Chanyeol untuk duduk dalam pangkuannya dan mereka melanjutkan kegiatan bercinta hingga kesadarannya hilang setelah meringis kesakitan.
Dangerous Romance
Chanyeol terbaring lemah pada ranjangnya sementara Baekhyun meringkuk membelakanginya, ia berpikir wanitanya itu terasa sangat lelah setelah kegiatan yang baru saja mereka lakukan dalam kurun waktu ber jam - jam nya tanpa henti. Namun ada yang aneh ketika Chanyeol menarik selimut untuk menutupi badan Baekhyun. Noda darah yang begitu kental tercetak dibeberapa bagian pada selimut putihnya dan pandangan matanya melihat noda darah yang lebih jelas pada bagian paha Baekhyun yang juga dialiri oleh darah dari bagian intimnya.
Bahkan ketika dirinya memanggil nama wanita itu dan membalik badannya, hanya wajah pucat dan tubuh yang lemas yang ia dapati.
"Sial, Baekhyun!" Chanyeol dengan terburu – buru memakai pakaian untuk dirinya dan juga mengambil mantel tebal untuk dipakaikan pada Baekhyun. Chanyeol membawa Baekhyun dalam gendongannya dan beranjak keluar kamar dengan cepat tidak memperdulikan saat ini adalah waktu dini hari yang akan menyongsong mentari pagi.
Badan Baekhyun direbahkan dengan begitu pelan pada kursi kemudinya, sementara dirinya sendiri bergerak kasar dan terburu – buru untuk masuk dan menjalankan mobilnya membelah jalanan untuk mencari rumah sakit. Salah satu tangannya masih menggenggam tangan Baekhyun yang tergulai lemas diatas badannya, mulutnya mengucapkan kata – kata kasar untuk mengumpati segala yang ia lakukan tadi dan juga meminta maaf karena kebodohannya.
"Maafkan aku sungguh!" Chanyeol mencium punggung tangan itu diiringi aliran air mata yang mengalir tanpa ia perintahkan.
Tangannya membawa stir mobilnya berbelok kasar masuk kedalam halaman unit emergency rumah sakit berada di jalan itu, tidak memperdulikan bagian belakang mobilnya yang sempat terkena hantaman mobil lain, atau pun bagian bannya yang menabrak pembatas jalan. Chanyeol berlari keluar dari dalam mobil dan membawa Baekhyun dalam gendongannya lagi untuk masuk kedalam ruangan rumah sakit. Ia berterika meminta tolong dengan kencang dan menarik perhatian setiap petugas yang berjaga disana.
"AKU BUTUH DOKTER! TOLONG PANGGILKAN DOKTER!" Chanyeol kembali berteriak lebih kencang dan berlari kesana kemari dengan Baekhyun yang masih erat dalam gendongannya.
"Tuan! Dimohon tenang! Anda sudah berada di rumah sakit."
"Tolong bantu letakkan pasien disini." Dua dokter yang mendekat kearah Chanyeol memanggil beberapa perawat dan meminta Baekhyun untuk diletakkan pada ranjang rumah sakit. Mereka berpikir mungkin Baekhyun tidak sadarkan diri karena sakit atau kecelakaan, karena itu salah satu Dokter langsung memeriksa setiap bagian pada tubuh Baekhyun dan juga memeriksa detak jantungnya dan juga pupil matanya.
"Jantungnya normal. Coba periksa seluruh badannya."
"Baik Dok." Dokter lain yang menjawab kini membuka mantel yang digunakkan dan mendapati aliran darah yang mengering pada paha Baekhyun.
"Dok—
"Panggilkan dokter kandungan." Dokter yang pertama memberikan perintah dan yang lainnya dengan cepat berlari keluar sementara Chanyeol yang mendengar dan melihat apa yang dilakukn kedua dokter itu sekarang berdiri terdiam kaku tak jauh dari tempat dimana Baekhyun berbaring lemas diranjang rumah sakit.
e)(o
