Dangerous Romance
Chapter 17
"Ngghh…ummphhtt.. jangan sobek gaunnya." Baekhyun melepaskan ciuman bibirnya, menahan tangan Chanyeol yang jelas akan mengoyak dress yang ia gunakkan seperti sebelum – sebelumnya.
"Aku bisa membelikanmu gaun yang lainnya." Chanyeol kembali menciumi leher dan menghisap bagian dada Baekhyun yang tengah mencondong kedepan.
"Kau bisa membelinya—ahh.. tapi aku butuh gaun ini untuk menemanimu.. nnggg—Chanyeol—srak!" Chanyeol tetap menyobek bagian depan gaun itu dan beralih melumat bibir Baekhyun dengan begitu kasarnya. Tangannya mengangkat badan mungil wanita itu pada gendongannya dan Baekhyun dengan cepat melingkarkan kakinya pada pinggang Chanyeol sementara mereka masih sibuk memagut dan melumat bibir satu sama lain, langkah kaki Chanyeol bergerak menuju ruangan tidur dalam kamar hotel yang sudah ia pesan.
Chanyeol membaringkan Baekhyun pada ranjang, bibirnya masih menciumi setiap bagian leher hingga dada dan juga perut ramping milik Baekhyun sedangkan tangannya menyingkap sisa bagian gaun yang Baekhyun kenakan dimana sudah ia sobek secara paksa. Baekhyun meremas rambut Chanyeol dengan cukup kencang ketika mulut dan lidah pria itu dengan begitu kurang ajarnya bermain menggoda dengan bagian intimnya dibawah sana, meskipun ia sudah merasakan berkali – kali bagaimana caranya Chanyeol membuatnya mendesah nikmat dan bercinta dengan dirinya tapi Baekhyun masih tetap merasakan sengatan penuh gairah setiap Chanyeol memulainya lagi.
Mulut Baekhyun terbuka kecil menjerit meluapkan kenikmatannya atas permainan Chanyeol, tangan besar milik pria itu ia remat bersamaan dengan kedua payudaranya yang sudah diremat lebih dulu oleh Chanyeol. Baekhyun menggeliat ke kanan dan ke kiri berusaha menjauhkan diri dari Chanyeol karena jelas ia hampir saja mencapai klimaksnya dalam waktu singkat dan hanya dengan lidah dan mulut pria itu.
Chanyeol beranjak bangun dan merangkak pelan sambil menciumi paha dan juga perut Baekhyun, membasahi setiap bagian kulit tubuh wanita itu dengan cairannya yang baru saja mengalir keluar—
"Ummpp." Baekhyun menarik wajah Chanyeol, mendominasi bibir tebal itu untuk saling beradu dan melumat dengan bibir tipisnya sementara tangan – tangannya melepaskan kancing kemeja milik Chanyeol dengan cukup kasar dan pada akhirnya ia melakukan hal yang sama seperti yang Chanyeol lakukan—bunyi hentakkan kancing – kancing yang terlepas dari jahitannya jelas terdengar ditambah suara tawa Chanyeol disela – sela ciuman mereka.
"Balas dendam?"
"Hm hm." Baekhyun menjawab asal dan tetap melanjutkan lumatan bibirnya. Tangannya mendorong Chanyeol agar berbaring pada ranjang dan kini ia merangkak pelan – pelan untuk menyamakan posisi badannya dengan Chanyeol. Jari – jarinya bergerak kesulitan membuka kancing celana milik Chanyeol hingga pada akhirnya pria itu yang membantunya untuk membuka dan melepaskan setelan terakhir yang menutupi bagian bawah pria itu.
Chanyeol kembali menindih badan Baekhyun setelah melepaskan celananya, mata mereka saling memandangi satu sama lain tanpa ada satupun kalimat yang diucapkan sebagai penjelasan apa yang mereka berdua pikirkan. Tangan Baekhyun membelai setiap bagian wajah Chanyeol, rahang dan kini berakhir pada bibir tebal pria itu yang tengah terbuka kecil. Chanyeol mencium ujung telunjuknya dan Baekhyun membiarkannya hingga seluruh bagian jarinya terhisap masuk kedalam mulut Chanyeol.
"Haaa.." Desahannya bukan karena jilatan lidah Chanyeol pada jarinya, melainkan pergerakkan yang dilakukan Chanyeol menggesekkan miliknya dengan bagian intimnya dibawah sana yang sama – sama tidak terhalangi apapun.
"Apa sudah boleh?" Chanyeol bertanya, kedua matanya memandangi wajah Baekhyun yang tengah menahan segala hasrat yang sudah berada di ujung tanduknya.
"Kau baru bertanya sekarang?" Baekhyun membalas ketika nafasnya sudah mulai stabil.
"Ya, easy Byun." Chanyeol merengut masih memandangi Baekhyun dan mencuri ciuman singkat pada bibir tipis yang tengah merajuk.
"Kau mau menyelesaikannya atau tidak?"
Chanyeol memandang remeh Baekhyun. "Lihat siapa kali ini yang lebih aggressive.
"Ck." Baekhyun berdecak kesal dan tanpa disadari Chanyeol, tangan wanita itu mendorong badan besar miliknya hingga kini posisinya Baekhyun berada diatas Chanyeol dan mengunci pergerakkan badannya. "Jangan meremehkan wanita Tuan Park. Kau lupa aku mengikuti Hapkido saat sekolah dulu." Baekhyun memainkan telunjuknya pada dagu Chanyeol dan menciumnya sebentar.
"Jadi.. sampai dimana tadi kita?" Baekhyun memposisikan dirinya duduk tepat dimana kejantanan Chanyeol berada yang sudah terasa cukup keras dan sangat tegang. Baekhyun hanya menggerakkan badannya maju mundur dengan pelan. Kedua tangannya meremas kedua payudaranya sendiri sementara Chanyeol dibawah sana meringis menahan hasratnya.
Selesai dirinya membuat Chanyeol meringis dan bahkan memberontak berkali – kali berusaha untuk mengubah posisi mereka agar Chanyeol bisa mendominasi tapi Baekhyun tetap pada posisinya duduk diatas badan Chanyeol.
"Easy, Boy." Suaranya sengaja ia buat serendah mungkin dan menggoda.
"Kau ingin ini cepat selesai atau tidak?" Chanyeol mengerang dan bangkit bangun dari posisi tidurnya. Berhadapan dengan Baekhyun, tangannya menarik wajah wanita itu dan langsung memburu sebuah ciuman dari bibir tipis milik Baekhyun—dan Baekhyun menyambutnya.
Kedua tangan wanita itu melingkar sempurna pada leher Chanyeol dan sesekali memberikan usapan pada rambut dan juga punggung pria itu yang kini sudah melesakkan batang miliknya dengan sempurna pada lubangnya. Meskipun badannya kini tengah melompat – lompat pada posisinya tapi ciuman dari pria itu tidak ia lepaskan dan bahkan membuatnya semakin panas. Baekhyun membiarkan lidahnya dengan lidah Chanyeol saling membelit, menghisap dan memporak porandakkan keadaan dalam mulutnya. Tusukkan – tusukkan yang ia rasakan dari milik Chanyeol yang tengah menyentuh spot didalam sana bahkan semakin membuatnya mengeratkan lingkaran tangan dan juga remasan pada rambut dan punggung pria itu.
Dan seperti biasanya, tangan Chanyeol tak bisa tinggal diam, kedua tangannya bermain dengan payudara Baekhyun dan juga punggung wanita itu. Satu tangannya meremas payudara sebelah kiri, sementara satu tangan yang lainnya bermain sempurna membelai dan mengusap dari punggung belakang hingga ke leher dan kini menjambak sedikit rambut Baekhyun agar ciuman mereka terlepas—
"AAHHH~" Baekhyun mendesah dengan matanya terpejam. Kepalanya mendongak mengikuti tarikan dari tangan Chanyeol disana. Ciuman basah dan juga gigitan yang dilakukan Chanyeol pada lehernya tak ia pedulikan karena sesungguhnya tangannya menekan kepala Chanyeol agar melanjutkan apa yang tengah dilakukan pria itu.
Ketika pergerakkan mereka semakin cepat dan tak beraturan hanya terdengar sebuah desahan panjang, erangan, dan deritan pegas ranjang yang saling beradu bergerak mengikuti pergerakkan badan mereka berdua. Baekhyun mendesah hanya menyebutkan nama Chanyeol dan memohon agar pria itu bergerak lebih cepat sedangkan Chanyeol mengerang merasakan miliknya didalam sana terapit sempurna oleh otot – otot bagian intim Baekhyun.
"Yeol—ahh—aahh—" Baekhyun meringis dengan badannya yang bergetar sambil memeluk kepala Chanyeol. Wajahnya menunduk pada bahu pria itu, mencium dan melumat bagian kulit disana sementara badannya bergerak naik turun karena Chanyeol menghujamnnya dengan gerak cepat.
Erangan Chanyeol terdengar bersamaan dengan gigitan keras dari gigi Baekhyun dan juga cairan yang membasahi miliknya didalam lubang, karena wanita itu lebih dulu mencapai pelepasan dibandingkan dirinya, dan itu semakin membuatnya lebih menggila menghujam milik Baekhyun.
Merasa tak puas akan posisinya sedari tadi, Chanyeol membawa badan Baekhyun yang kini sudah tergulai lemas berada dibawahnya dan melanjutkan bergerak melesakkan miliknya didalam sana demi menyusul sebuah kenikmatan surgawi.
Lenguhan yang Baekhyun lontarkan entah sudah berapa kali dan Chanyeol hanya bisa membalasnya dengan ciuman ataupun lenguhan yang sama memanggil dan mendesahkan nama Baekhyun dengan suara beratnya yang semakin terdengar lebih seksi. Chanyeol masih terus bergerak diatas Baekhyun, kini tangannya menahan pinggul wanita itu agar lebih mudah untuk dirinya melesakkan kejantanannya didalam sana.
"Haaaa! Chanyee—ooll—ngh.." Baekhyun meremas kuat selimut yang bisa ia jangkau dengan tangannya dan juga jari- jari kakinya.
"Ummm! Baek—ah!" dan kini giliran dirinya yang mengerang merasakan pencapaian semakin dekat.
Erangan dan desahan saling bersahutan sementara Chanyeol masih terus bergerak diatas sana dan Baekhyun hanya bisa berbaring lemah pasrah terhadap apa yang Chanyeol lakukan mendominasi seluruh badannya. Ketika pergerakannya semakin cepat, Chanyeol merendahkan badannya dan Baekhyun menyambutnya dengan sebuah ciuman yang bahkan tak bisa bertahan lama karena pada akhirnya giginya menggigit bibir Chanyeol tepat disaat ia dan Chanyeol mencapai pelepasannya bersamaan.
"Argh—" Chanyeol sempat meringis. Ringisan yang diakibatkan karena pelepasan spermanya yang membasahi bagian dalam rahim Baekhyun dan juga merasakan sakit pada bibirnya yang sedikit berdarah karena gigitan dari gigi Baekhyun yang cukup keras.
Belum ada yang bisa memberikan komentar satu kalimat pun karena kini mereka sama –sama terengah – engah merasakan lelah dan juga sebuah kepuasan dari kegiatan bercinta hanya dalam 25 menit.
Chanyeol masih berada diatas Baekhyun dengan kepalanya menunduk masuk kedalam leher Baekhyun, sementara wanita itu kini hampir saja tertidur lelap bila saja bukan karena suara getaran dari ponsel milik Chanyeol yang tiba – tiba terdengar.
"Aku yakin mereka mulai mencarimu." Tangannya mengusap punggung Chanyeol dan menepuk – nepuk pelan guna membangunkan pria itu.
Chanyeol menghela nafas pelan dan mulai berguling merebahkan badannya pada bagian ranjang yang lainnya.
"Hmm." Baekhyun memejamkan matanya dan mengapit keintimannya dengan kedua pahanya. Merasakan bagaimana Chanyeol menarik kejantanannya keluar dari dalam lubangnya dan juga denyutan dari otot –otot didalamnya jelas membuat dirinya merasakan rasa nyeri hanya karena itu. Sementara Baekhyun berusaha menenangkan gairah seksualnya, Chanyeol sudah dalam posisi duduk dan memperhatikan Baekhyun dengan perasaan khawatir.
"Apa terasa sakit lagi?"
"Eh?" Baekhyun membuka matanya.
"Apa aku membuatmu sakit lagi?" Chanyeo mengulang dan memperjelas pertanyaannya. Wajahnya jelas berubah frustasi dan takut sama seperti malam dimana ia melihat darah mengalir di paha Baekhyun.
Baekhyun menggeleng dan menahan senyuman dengan menutup wajahya dengan bantal, Chanyeol memeluknya dan memberikan ciuman pada punggung Baekhyun yang kini tepat disuguhkan dihadapan matanya.
"Maafkan aku. Seharusnya aku tidak terpancing dengan godaanmu—
"Yaa! Kau yang menggodaku!" Baekhyun dengan cepat menyangkal apa yang baru saja dikatakan Chanyeol.
"Aku? Kau yang datang dan membiarkan semua orang melihat punggung dan bahkan bagian dadamu." Chanyeol memperjelas lagi.
"Aku tidak menggoda orang lain! Kau saja yang mengira seperti itu dan tergoda, kau bahkan menciumku di lift dan menggeretku dari ruang makan, bahkan kau yang menyewa kamar ini?!"—dan Baekhyun adalah pihak yang tidak mudah mengalah, kini ia mengangkat kepalanya dan menengok sedikit untuk melihat kearah Chanyeol dibelakangnya.
"Mau menyangkal apa lagi hm?" Chanyeol mencium punggung halus itu sebentar dan memberikan gigitan kecil diakhirnya. "Kau bahkan yang memulainya Nona Byun, apa perlu kuingatkan bagaimana kau bergerak dan membangunkan sesuatu yang masih terlelap tadi?—"
"Aku tidak ingat—
"Kau bahkan mendesah dan memanggil namaku dengan keras.." Chanyeol mengigit bagian punggung yang lain.
".. mm.. Tidak, mulutku bahkan terkunci rapat sedari tadi.. mmhh.."
"Bagaimana kau berteriak agar aku bergerak lebih cepat?"
"No.. mmhh." Gigitan kali ini lebih dalam dan terasa cukup menggelikan bagi Baekhyun.
"Bagaimana kau mencium bibirku ketika kau mencapai klimaks dan bahkan menggigitnya hinga berdarah—Yak Baekhyunnie!" Chanyeol bangkit duduk dan memegang bibirnya. Merasakan rasa sedikit getir dari darah yang berasal dari bagian dalam bibirnya.
Baekhyun tersadar dan ikut beranjak sambil menarik selimut guna menutupi badannya yang masih telanjang. Pandangannya memperhatikan Chanyeol yang tengah memegangi bibirnya dan kini bergerak cepat menuju kamar mandi dengan masih bertelanjang bulat.
"YAK BYUN BAEKHYUN! KAU APAKAN BIBIRKU HAH?!"
Baekhyun menutup mata dan telingannya mendengar teriakan Chanyeol sambil memegangi jantungnya yang berdetak cukup kencang karena teriakan Chanyeol jelas mengagetkannya.
"A-aku tidak melakukan apapun.." Suara jawabannya bahkan tidak cukup keras seperti teriakan Chanyeol tadi, ia menjawab dengan suara lembut dan sangat sangat pelan yang bahkan hanya bisa ia dengar sendiri. Senyumannya terbentuk diwajahnya dan menunggu Chanyeol muncul kembali dari dalam kamar mandi.
"Bibirku sudah terluka seperti ini dan kau masih mengelak mengatakan tidak melakukan apapun? Ckckck." Chanyeol keluar dengan bathrobe-nya dengan tangannya sibuk menyimpulkan sebuah ikatan pada tali disana. "Pantas saja kau cukup pintar menyembunyikan perasaanmu padaku selama ini—
"Aku tidak! Aku tidak menyembunyikan perasaan apapun!" Baekhyun membuang wajahnya agar tidak melihat wajah Chanyeol yang sudah berada dihadapannya. Kedua tangan pria itu bertumpu pada ranjang dengan bagian badan atasnya dicondongkan kearahnya.
Chanyeol tersenyum disana dan masih memperhatikan gerak bibir dan mata Baekhyun.
"Kau tahu aku sudah mengenalmu berapa tahun lamanya 'kan? Dan kau masih berani berbohong dihadapanku hm?"
Bibir tipis milik Baekhyun mengerucut maju dengan begitu menggemaskannya sementara cubitan singkat diterima perut Chanyeol hingga pria itu meringis mengaduh.
"Jangan berbohong dan menahan perasaanmu—please." Chanyeol mendekatkan keningnya dengan kening Baekhyun, matanya terpejam dengan erat merasakan deru nafas dan aroma wangi dari badan Baekhyun."Aku bahkan mencintaimu sedari dulu dan kau tidak menyadarinya, iya kan?"
Baekhyun mengangguk.
"Kau juga mencintaiku?" Chanyeol bertanya padanya kembali dan Baekhyun membalasnnya dengan sebuah anggukkan kepala dan senyuman diwajahnya. Telapak tangannya membelai wajah Chanyeol dan memberikan sebuah tepukan ringan.
Chanyeol menajuhkan sedikit wajahnya—masih dalam posisi yang sama—memandangi Baekhyun dan kini ada sebuah seringai di wajahnya. "Aku mencintaimu." Chanyeol mengatakan lagi. "Aku mencintaimu." Kini dengan sebuah ciuman di bibir Baekhyun pada akhirnya. "Aku mencintaimu, sangat.. sangat.. mencintaimu." kedua pipi Baekhyun yang mendapatkan sebuah ciuman dari Chanyeol.
Baekhyun tertawa kecil dan menahan badan Chanyeol yang sudah berada diatas badannya. "Yaaa~"
Chanyeol tidak menyerah dan semakin terus menciumi wajah Baekhyun dan juga bagian badannya yang lain, tidak memperdulikan teriakan ampun dari Baekhyun yang juga terus tertawa merasakan geli pada seluruh badannya—bahkan suara teleponnya yang terus bordering kencang tidak cukup menjadi sebuah alasan untuk mereka agar berhenti bergumul.
Dangerous Romance
"YAK! Park Chanyeol!"
Teriakan Yoora yang sudah ketiga kalinya terdengar lagi. "Pencet terus bel kamarnya." Kali ini ia menyuruh Sehun untuk memencet tombol kamar hotel yang ia ketahui didalam sana Chanyeol dan Baekhyun berada.
Tangannya kembali memukul pelan pintu kamar itu sementara mulutnya masih berteriak memanggil nama Chanyeol. Untungnya ia tidak harus khawatir akan mengganggu tamu –tamu yang lainnya berada dalam satu lantai karena di lantai yang ia berdiri saat ini hanya ada dua kamar bertype suite dan hanya ada satu kamar yang berisikan tamu—yaitu kamar dimana Chanyeol dan Baekhyun berada.
"PARK CHAN—
Cklek. –Pintu kamar terbuka. Chanyeol membuka pintunya dan memperlihatkan sosok dirinya tengah dibalut mantel handuk dengan rambutnya yang sedikit basah.
"Sudah puas teriaknya?" Chanyeol menggerakkan dagunya mempersilahkan Yoora dan Sehun masuk.
"Kau ini—
"Ah." Chanyeol menerima injakkan sepatu milik Yoora yang tentunya ia sudah tahu kejadian itu sangat disengaja dan tidak bisa untuk dirinya mengelak.
Sehun yang ikut masuk kedalam kamar itu tidak mau ikut berkomentar dan langsung menyerahkan satu paperbag putih dengan sebuah logo brand ternama. "Hanya ini yang bisa kami belikan."
Chanyeol menerimanya dan melihat isi dalam papaerbag itu. Sebuah kemeja hitam lengkap dengan setelan blazer dan juga dasi kupu – kupu.
"Ingatlah untuk membawa pakaian ganti bila kau mau bercinta secara kasar dan mendadak." Sehun berkomentar dan melangkah lebar meninggalkan Chanyeol yang memperhatikannya dengan kesal karena tidak bisa membalasnya dengan sebuah pukulan.
"Awas kau." Chanyeol mengancam. Ia beralih masuk menuju kamar dimana Yoora dan Baekhyun kini tengah sibuk berkutat dengan gaun yang baru dibawakan Yoora untuk Baekhyun dan memilki model ikatan pada leher dan juga punggung belakangnya.
"Tidak adakan model gaun yang bisa kau temukan lebih baik dari ini?"
"Tidak usah berkomentar! Aku juga membeli syal ini untuk menutupinya. Ck cerewet sekali." Yoora menunjukkan salah satu syal yang sudah berada diatas ranjang dan juga kembali membantu Baekhyun mengikat tali gaunnya.
Chanyeol tidak mau melanjutkan perdebatannya lagi dan langsung masuk kedalam kamar mandi untuk bersiap.
Dangerous Romance
"Pakaianmu berbeda dari sebelumnya. Apa yang kau lakukan selama 1 jam—oh tepatnya 1,5 jam ini?"
"Aku mendapatkan hadiah yang sangat indah atas kemenanganku sebelumnya. Dan tentu saja aku menikmati seacara langsung secepat mungkin."
"Hm."
"Hadiahku tidak suka melihat aku dengan pakaian sebelumnya."
"Ck."
"Dia lebih suka melihatku tanpa pakaian." Chanyeol menenggak minumannya dan tersenyum nakal kearah Kris yang sudah memutar bola matanya berkali – kali sedari tadi mereka bicara.
Kris melempar lima koin yang ada ditangannya. "Rise."
"Rise from Mr. Wu." Sang Pemandu mengumpulkan koin yang dilempar Kris agar bergabung dengan total taruhan yang sudah dikumpulkan sejak permainan kedua mereka dimulai.
"Tuan Park?"
"Call." Chanyeol mengambil lima koin dengan nominal yang sama dan memberikan pada sang pemandu.
"Gentleman, show your card please."
Chanyeol menggeser kartunya ke tengah meja begitu juga dengan Kris dan mereka perlahan – lahan membuka kartu masing – masing.
Meskipun waktu di Kota itu sudah lewat dini hari tetapi didalam resort the Galaxy sekumpulan para undangan masih menikmati waktunya bermain dalam dunia poker dan permainan taruhan lainnya. Namun mengingat hari ini barulah pembukaan dan semua permainan yang ada bukanlah perjudian dan taruhan sepenuhnya tapi tetap saja mengundang minat para tamu undangan untuk bermain dan bertaruh.
Seulgi, sang arsitek dan Tuan Rumah acara ini bahkan terlihat menikmati waktu bermainya yang kini tengah bersiap melempar bola didalam meja yang berbentuk lingkaran. Para tamu yang lainnya ikut bersorak memberikan semangat sedangkan terlihat diseberang wanita itu Minseok dan Kyungsoo tengah melipat tangan dan berharapa kali ini bola yang dipegang Seulgi tidak berputar dan berhenti pada angka yang lebih besar dari mereka.
Jongin dan Jongdae serta Luhan duduk bersama pada meja poker kecil dan sudah hampir satu jam mereka bertaruh dengan posisi Luhan yang memenangkan taruhan lebih banyak dibandingkan dua pria yang kini sudah terduduk tegang menantikan hasil kartu yang akan Luhan tunjukkan.
"Full House."
Beberapa orang disekitarnya bertepuk tangan karena kali ini Luhan memenangkan taruhannya lagi dengan angka taruhan cukup besar.
"Ms. Xi, win."
"Thank you!" Luhan mengambil cek hasil taruhannya dan beranjak bangun. Senyuman lebarnya jelas terlhat lebih manis kali ini mengingat ia menang melawan empat pria dihadapannya—dua orang yang lain adalah tamu pengusaha—dan kini terduduk semakin lemas mengakui diri mereka telah kalah oleh seorang wanita yang terlihat seperti gadis polos.
"Jadi.." Sehun menghampiri Luhan yang tengah berjalan seorang diri dan sibuk dengan ponsel di tangannya. "Kau cukup berbakat dalam permaina judi ini."
"Heol, kau memuji atau mengataiku?" Luhan memukul bahu Sehun dengan tas kecil yang ia pegang ditangannya.
"Tergantung kau melihatnya dari sisi yang mana Nona Xi." Sehun memberikan lengannya lagi untuk digunakkan Luhan sebagai topangan tangannya.
"Karena malam ini aku menganggap dirimu teman kencanku, aku akan menganggap pujian, bagaimana?" Luhan menganggukkan kepala tersenyum kearah Sehun dan menunggu jawaban dari pria itu.
"Baiklah." Sehun mengangguk dan mereka melanjutkan perjalanan mengelilingi setiap tempat yang lainnya.
"Aku belum melihatmu sekalipun bermain disini."
"Aku bukan tipe orang yang suka bermain."
"Benarkah?" suara Luhan jelas terdengar tidak percaya.
"Percayalah, itu menjadi alasan utama aku menolak ikut bergabung di meja taruhan terlebih kakak sepupumu dan juga Chanyeol berada didalamnya."
"Aaahh."
"Aku tidak suka bertaruh. Aku tidak suka menunggu hal yang tidak pasti."
"Apakah sama dengan hatimu?" Luhan bertanya lagi.
Sehun tersenyum kecil. "Aku tidak suka bermain dengan hati, hati dan perasaan seseorang bukanlah tempat untuk bermain."
Luhan memandangi wajah Sehun yang tengah selesai menjelaskan jawabannya dan itu membuat sebuah senyuman lebih lebar terbentuk diwajahnya. "Kau terlalu banyak membaca novel romantis hm?"
Sehun menggeleng. "Bukan."
"Bukan?"
"Kalimatku barusan bukanlah dari sebuah novel yang kubaca, aku mendengar seseorang yang mengatakannya padaku."
"Siapa?"
Sehun tersenyum. "Rahasia."
"Cih. Seseorang specialkah atau—
"AH! Kalian disini rupanya." Yoora tiba – tiba muncul entah darimana dan membuat Sehun serta Luhan terkejut sesaat.
"Ya! Noona bisakah kau tidak muncul tiba – tiba—
"Aku kehilangan Baekhyun."
"Apa?!" suara dua orang dihadapan Yoora berhasil membuat perhatian beberapa orang disekitarnya.
"Tadi kami jalan bersama dan entah kenapa tiba – tiba dia tidak ada disampingku, dan aku menyadarinya setelah berjalan cukup lama."
"Yaa! Kau kan tahu Baekhyun tidak pernah memperhatikan orang sekitarnya dan akan mengikuti arah kemana matanya melihat. Aish!" Luhan mulai melihat sekelilingnya mencoba mencari Baekhyun disekitar mereka."
"Aku tahu, pegangan tanganku dan tangannya terlepas karena ia berniat membetulkan letak syalnya."
"Sudahlah, aku akan mencarinya ke tempat Chanyeol bermain, siapa tahu dia langsung menuju kesana." Sehun berpamitan dan langsung melangkah lebar untuk cepat tiba di ruang dimana Chanyeol berada. Sementara Luhan dan Yoora masih memutuskan akan mulai mencarinya dimana dengan tangan mereka yang sibuk mengirimkan pesan kepada Jongdae, Jongin, Minseok dan Kyungsoo serta Seulgi agar siapapun yang bertemu Baekhyun segera membawa wanita itu untuk masuk kedalam ruangan permainan dimana Chanyeol berada.
Dangerous Romance
Baekhyun berjalan santai dan menikmati pemandangan segala ornament yang ada disekelilingnya, pandangannya bukan untuk melihat segala alat permainan yang ada atau orang – orang yang berkumpul, berteriak dan bahkan tertawa senang ketika bergabung bermain berjudi disana. Ia lebih memilih untuk melihat bagaimana indahnya segala hal – hal seni yang ada didala sebagai penghias bangunan ini.
Dirinya mengagumi semua segala hasil kerja keras Kris, Chanyeol dan para pencetus untuk pembangunan tempat ini dan juga hasil pemikiran Seulgi sebagai Arsitektur dan juga keluarganya yang jelas lebih banyak bekerja keras mengerjakan proyek ini. Dalam hatinya ada sebuah tempat yang turut senang melihat semuanya itu dan tidak menyangka seseorang yang pernah ia anggap sebagai sahabat berhasil membuat semua ini dan sukses hingga saat ini—tapi tidak sebagian besar ruang hatinya.
Baekhyun mengambil kasar segelas wine yang baru saja lewat dibawa oleh seorang waitress dan menenggaknya sekali habis mengingat bahwa Seulgi adalah musuhnya saat ini. Seseorang yang merebut semua kebahagiaannya. Orang tuanya, Chanyeol dan juga bahkan dirinya sendiri. Baekhyun mengingat kembali bagaimana kejadian – kejadian dimana nama Seulgi disebutkan oleh Papa-nya akan menjadi orang yang menikah dengan Chanyeol, bagaimana nama kakaknya harus menikah dengan kakak Seulgi dan berakhir ia harus berpisah dengan kakaknya karena mereka memutuskan untuk tinggal di Swiss setelah menikah, dan yang paling tidak bisa Baekhyun lupakan adalah kejadian kecelakaan kedua orangtuanya yang terjadi sebelum pernikahan kakaknya.
Gelas wine yang sudah kosong digenggam erat oleh Baekhyun disaat ia tengah mengingat segala kebencian tentang keluarga Kang, ditambah kali ini tak jauh dari hadapannya jelas terlihat deretan keluarga Kang dari Tuan, Nyonya Byun dan juga Kang Sora—istri kakaknya—tersenyum bahagia menyambut dan menyapa para tamu – tamu undangan.
"Hai Baekkie."
Baekhyun tersontak mendengar nama panggilan yang biasa keluarganya gunakkan untuk memanggilnya kini diucapkan oleh suara yang sangat ia kenal—sangat kenal. Dalam dirinya enggan untuk menoleh kebelakang dan melihat secara jelas siapa yang memanggilnya tapi hatinya merasakan rindu mendalam dengan suara lembut dan penuh rasa sayang.
"Kau tidak merindukanku?"
Baekhyun menoleh dan memandangi sosok yang tengah bertanya pada dirinya. Badannya tergerak lemah sedangkan pandangan matanya membelak menunjukkan keterkejutan dan juga rasa rindu yang dalam kepada sosok yang nampak rapi dengan setelan tuxedo putih pada tubuh tegapnya.
"Tidak mau memeluk—
Baekhyun lebih dulu langsung mendekat dan memeluk tubuh tegap itu dengan begitu erat seakan –akan tidak akan mau ia lepaskan. "Aku merindukanmu." Baekhyun berbisik pelan dalam dekapan Baekbeom. "Sangat merindukanmu!" Baekhyun memperjelas lagi.
Baekbom membalas pelukan Baekhyun dengan begitu erat juga serta memberikan kecupan kecil pada pucuk kepala Baekhyun. "Aku juga merindukanmu, maafkan aku baru bisa kembali."
Baekhyun mengeratkan pelukannya sementara Baekboem juga membalas dan memberikan usapan serta kecupan pada pucuk kepala dan punggung Baekhyun, sementara pandangannya melihat kearah sang istri, Tuan dan Nyonya Kang yang ikut terharu melihat pemandangan kakak beradik yang sudah hampir delapan tahun tidak pernah berjumpa semenjak sepeninggalan kedua orang tua mereka.
"Semoga mereka bisa menyelesaikan kesalahpahaman yang ada." Tuan Kang berucap dan disetujui oleh Sora dan juga Nyonya Kang.
Ditempat lain, Luhan serta Yoora mereka berdua tersenyum melihatnya dan juga mengharapkan hal yang sama.
"Ide Chanyeol memang patut diacungi keempat ibu jari yang ada dibadanku."
"Chanyeol?" Luhan melihat kearah Seulgi yang entah sejak kapan ada disampingnya.
Kepala Seulgi bergerak mengangguk. "Tentu saja, kau tidak tahu betapa susahnya meminta kakakku untuk pulang karena alasan pekerjaan dan juga karena alasan tidak mau melihat kedua orang tuaku. Ia merasa bersalah membuat Baekhyun membenci keluarga kami. Kau tahulah karena kejadian itu." Seulgi berucap pelan menatap Luhan dan kini memandangi kembali kearah Baekhyun yang tengah bergelut manja pada Baekboem.
"Aku tidak heran." Yoora ikut menyahut. "Hanya Chanyeol yang bisa mengerti apa yang terbaik untuk Baekhyun, iya kan?"
"Ya.. mereka saling mengerti tapi tidak ada perubahan status sampai saat ini." Luhan menjawab lesu.
Seulgi dan Yoora tersenyum mendengarnya. Mereka bertiga berbalik dan melangkah untuk menjauh meninggalkan kedua kakak beradik itu untuk saling melepas rindu.
Dangerous Romance
"Chanyeol benar – benar menepati janjinya untuk bertanggung jawab padamu sepenuhnya ya."
Baekhyun mengerutkan keningnya. "Berjanji apa? Jelas saja ia bertanggung jawab padaku, kami memiliki perjanjian agar saling menjaga satu sama lain." Jawabannya dibalas dengan senyuman nakal Baekboem.
"Yaaa! Ini untuk kepentingan perusahaan." Baekhyun meyakinkan lagi.
"Aku tidak mengatakan apapun Baek." Baekbeom mengelak.
"Kau tidak mengatakan apapun, tapi mata dan senyumanmu itu jelas tidak menyetujui apa yang aku katakan barusan." Baekhyun memukul bahu Baekboem cukup keras.
"Kau salah mengartikannya."
"Tidak! Aku tahu isi pikiranmu!"
"Oh ya?" sahutan Baekboem menantang Baekhyun.
"Tidak sih." Suaranya kini pelan dan badannya bersandar pada kursi bar tempat mereka duduk. "Chanyeol mengatakan lebih susah menebak pikiranku daripada menebak kartu." Suara tawa terdengar diakhirnya dan juga sebuah senyuman manis menghiasi wajah Baekhyun mengingat saat – saat Chanyeol mengatakan hal itu kepadanya.
"Kau mencintainya?"
Baekhyun menengok kearah Baekboem. "Apa aku boleh mencintainya?"
Kini Baekboem terdiam menunggu lanjutan dari kalimatnya yang dikatakan Baekhyun.
"Aku mencintainya tapi tidak bisa memilikinya. Bahkan sebelum aku mencintainya ada orang lain yang memilikinya. What can I do for that hm?" Baekhyun memaksakan dirinya tertawa dan menutupnya dengan meminum cocktail yang ia pesan sebelumnya.
"Mengenai perjodohan itu—
"Jangan dilanjutkan." Baekhyun memotong dan menatap Baekboem tajam dan tegas. "Jangan bicarakan perjodohan siapapun, malam ini masih panjang dan aku tidak mau menghabisinya dengan sebuah emosi yang tidak bisa diluapkan."
"Baiklah aku tidak akan melanjutkan."
"Good." Baekhyun mengangkat gelasnya dan mengarahkan untuk melakuakn toast pada gelas yang ada di dekat Baekboem. "Selamat datang kembali kakakku tersayang! Aku benar – benar merindukanmu." Baekbeom menganggukkan kepala, gelas mereka saling beradu pelan dan setelahnya sama – sama menikmati minuman mereka masing – masing.
Obrolan selanjutnya hanya membahas seputar kehidupan Baekboem dan Sora di Swiss dan juga bagaimana pekerjaan yang dilakukan Baekboem disana yang berkutat dengan perusahan property milik mendiang ayah mereka.
"Papa pasti akan bangga." Baekhyun memberikan pujian. "Papa selalu tahu kau bisa membanggakan nama keluarga dengan baik."
"Papa juga akan bangga padamu."
"Ya, tentu saja. Setelah umurku 30 tahun dan menikah dengan seseorang yang ia jodohkan." Baekhyun berkomentar pedas lagi.
"Baek—
"Bahkan disaat terakhirnya ia hanya memintaku untuk menikah dengan orang itu."
Baekboem tidak berminat untuk memotong lagi dan hanya memandangi Baekhyun dengan tatapan sendu.
"Kau sudah membaca surat yang Papa tinggalkan?"
Datanglah kembali saat umurku tiga puluh dan bawa aku ke altar guna menikahkan aku dengan orang itu." Jawaban yang Baekhyun berikan jelas bukanlah jawaban yang Baekboem ingin dengar. Pertanyaan yang diucapakan dan ditanyakkan oleh Baekboem diabaikan begitu saja oleh Baekhyun dan ia tidak peduli untuk memberikan jawaban yang Baekboem inginkan.
Baekboem terdiam cukup lama dan masih memandangi Baekhyun.
"Kalau bukan dirimu yang mengantarkan aku, aku akan kabur dan menghilang." Suara tawa Baekhyun terdengar dibuat – buat tapi mampu membuat Baekboem tertawa setelahnya.
"Baiklah, aku akan datang dan membawamu ke altar." Senyuman lebar ia berikan kearah Baekhyun untuk sekedar meyakinkan adiknya bahwa ia pasti akan ada saat dimana pernikahan itu terjadi, meskipun dalam hatinya tahu Baekhyun akan berjuang keras untuk menghindari pernikahan perjodohan itu.
"Good."
Baekhyun tidak mengeluarkan kalimat apapun selain kata singkat itu di akhirnya, sedangkan Baekboem sesekali memperhatikan bagaimana raut wajah Baekhyun disampingnya. Jelas ia tahu adiknya akan selalu merasa kesal dan benci mengingat dan membicarakan perjodohan yang sudah disiapkan oleh Papa-nya bahkan sebelum Baekhyun lulus dari sekolah menengah atas.
"Haaa. Kau disini rupanya."
Baekhyun dan Baekboem menoleh kebelakang mereka dan terlihat Seulgi serta Sehun berada disana dengan wajah terlihat cemas.
"Baek, bisakah kau—
"Kenapa?" pertanyaan Baekhyun ditujukan untuk Sehun bukan untuk Seulgi yang sebelumnya melontarkan pertanyaan padanya.
"Aah—ah. Itu.."
"Taruhan Chanyeol dan Kris akan berakhir, mungkin kau mau memberikan semangat untuk kekasihmu sebelum—
Baekhyun mengambil tas kecil dari atas meja barnya dan juga membawa segelas minuman cokctailnya yang masih tersedia didalam gelasnya. Tidak ada kalimat balasan untuk penjelasan yang Seulgi berikan, bahkan wajahnya memperlihatkan segala emosi dan kekesalan dalam hatinya. Langkahnya bahkan terlihat angkuh tanpa menoleh kesiapapun orang – orang disekitarnya dan mengabaikan sapaan dari para keluarga Kang bila ia melewati mereka semua.
"Dia akan mengerti suatu saat nanti." Baekboem memecah keheningan hingga membuat Seulgi yang sebelumnya memperhatikan Baekhyun melangkah pergi disana. "Suatu saat dia akan mengerti.. hanya butuh waktu." Kembali Baekboem meyakinkan.
"Aku berharap waktu itu akan tiba." Senyuman manisnya ia berikan dengan sebuah jawaban serta doa yang ia ucapkan dalam hatinya.
Kumohon cepatlah pahami situasi yang ada Baek, dia milikmu.
"Jadi, kenapa dengan Chanyeol dan Kris?"
Dangerous Romance
"Maaf Tuan Wu, peraturannya tidak bisa untuk menambah jumlah taruhan." Penjelasan Sang Pemandu membuat Kris bersandar lemas dan kembali melihat angka dibalik kartunya.
"Kau sungguh yakin akan menang kali ini?"
"Tentu saja. Aku mendapatkan kartu yang bagus kali ini." Kris membalas, suaranya jelas terdengar sombong dan Chanyeol tahu itu.
"Kau belum melihat kartuku Tuan Wu." Chanyeol menggeser kedua kartu miliknya dan diserahkan ke tengah – tengah meja mereka. "Who knows?" Chanyeol melawan dengan seringai nakalnya.
"No no no. Kali ini kemenangan unutkku Tuan Park. Malam ini jelas dewi Fortuna tengah berada disampingku, dan bahkan aku sudah memenangkan permainan ini dua kali lebih banyak darimu."
Chanyeol masih memperlihatkan senyumannya sementara gerak matanya bergerak mengikuti sosok wanita yang baru saja tertangkap oleh kedua retina matanya dan tidak ia lepaskan bahkan ketika sosok itu berada diujung sana membawa segelas minuman dan tengah terlihat bingung mengartikan situasi yang ada di mejanya.
"Dewi Fortuna mungkin berada disampingmu, tapi Dewi-ku sudah berada di hati ini."
Tatapan kemenangan Kris berubah malas dan enggan mendengarnya, bahkan sang Pemandu yang berada tak jauh dari Chanyeol ikut tertawa mendengar apa yang dikatakan oelh Chanyeol.
"Aku tidak mau berkomentar." Kris memajukkan badannya dengan kedua tangan terlipat diatas meja.
"Aku tidak memintamu berkomentar."
"Ck."
"Jadi, masih mau menambah taruhannya?" Chanyeol meyakinkan lagi.
"Tuan Park—
Chanyeol mengangkat tangannya menahan sang pemandu untuk mengulang kesekian kalinya menjelaskan peraturan dilarangnya menaikkan jumlah taruhan di tengah berlangsungnya permainan. "Aku masih ingat tentang peraturannya, dan kau sudah mengatakan itu berkali – kali tadi hanya dalam waktu tak sampai 15 menit."
"Aku masih mau menambah taruhan." Kris memaksa lagi.
"Baiklah, baiklah." Chanyeol beranjak bangun. Salah satu tangannya masuk kedalam kantung celananya dan mengeluarkan kunci mobil dengan logo BMW yang jelas sengaja ia perlihatkan. "Ini di luar permainan. Mobil dengan Mobil, pemenang ambil semuanya." Ia meletakkan kunci itu di tengah tumpukkan koin dan kartu uang yang dipertaruhkan sebelumnya. Suara para penonton mulai terdengar kaget mendengar apa yang Chanyeol pertaruhkan diatas meja permainan mereka. "Call or not?"
Kali ini Kris yang mulai bimbang, melihat kunci mobil yang Chanyeol keluarkan dan dibandingkan dengan kunci mobilnya yang ia bawa untuk menghadiri keacara ini jelas berbeda cukup jauh.
Ferrari vs BMW
Walaupun harga mobil yang Chanyeol bawa kali ini adalah keluaran terbaru dari produk mobil terkenal itu, tapi jelas masih bisa dibilang untuk kisaran harga—mobil miliknya masih berada di tingkat atas.
"Kau sudah yakin menang bukan?" sebuah ejekkan Kris terima karena cukup lama terdiam dan berpikir."Harga mobilku masih dibawah harga mobilmu, aku tahu itu." Chanyeol mengusak hidungnya dan kemudian berdiri dengan kedua tangannya yang sudah masuk kedalam dua kantung celananya. "Bagaimana?"
Kris kini ikut beranjak berdiri. Mereka saling menatap meskipun tak begitu lama, Kris mencari kunci mobilnya pada kantung mantel yang ia kenakkan dan dengan sombongnya menujukkan kunci mobil dengan logo yang cukup besar dan terlihat mencolok. Bahkan tangannya menaruh kunci tersebut tepat diatas kunci mobil Chanyeol dengan gerakkan pelan menunjukkan betapa berharganya kunci mobil yang ia pegang.
"Ferrari and BMW."
"Sama – sama mobil." Jawaban santai Chanyeol berikan.
"Okey, gentleman.. show your card please."
Semua penonton mulai melangkah mendekat guna melihat secara langsung hasil akhir dari permainan poker antara Kris dan Chanyeol yang sudah berlangsung hampir dua jam lamanya. Kris menggeser kartunya dan membuka salah satu dari dua kartunya.
"Enam." Sang pemandu mengambil kartu itu dan menggabungkan dengan lima kartu yang ada didepannya yang memperlihatkan urutan kartu dengan angka enam berwarna lain dan juga tiga kartu AS. Suasana seakan – akan semakin tegang menunggu angka dibalik kartu Kris yang masih tertutup dan ketika tangan Kris membalik dan melemparkan kartu itu kearah taruhan kunci mereka semua penonton tertakjub dan bertepuk tangan meyakinkan bahwa Kris sudah pasti memenangkan taruhan kali ini.
"High Full House." Sang pemandu mengambil kartu AS milik Kris dan menggabungkan dengan deretan kartu yang sudah diatur.
"Aku memiliki kartu AS, Tuan Park." Kris menegakkan badanya dan juga sedikit mencodongkan dadanya. Bahkan dagunya ia naikkan sedikit, menunggu saat – saat kemenangannya.
"Well." Chanyeol menggigit bibirnya. "Aku malu membuka kartuku kali ini." Chanyeol menggeser kartunya kearah pemandu, mengisyaratkan pria itu untuk membuka dan memperlihatkan angka dibalik kartunya dan dengan cepat sang pemandu membuka dua kartu milik Chanyeol secara bersamaan.
"Wuahh!" Suara takjub dan tepukan tangan terdengar mengisi ruangan permainan sementara kedua orang yang bermain saling bertatap dengan raut wajah yang berbeda. Chanyeol masih tetap tersenyum dan kini memperlihatkan kemenangan diwajahnya sementara Kris diam termenung melihat jejeran lima kartu disana sudah sepenuhnya terpenuhi dengan warna yang sama dan berurutan.
"Straight Flush." Chanyeol mengucapkan lagi kondisi kartu yang ada disana. "Kau memang mempunyai kartu AS Tuan Wu. Tapi aku memiliki kartu yang saling mengisi." Kedipan mata Chanyeol berikan dan ia mengambil dua kunci mobil disana sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan Kris yang masih berdiri tak semangat sementara matanya masih menatap kearah urutan kartu hasil permainan mereka.
Chanyeol berjalan dan disambut ucapan selamat dari beberapa tamu yang ada tapi pandangannya dan hatinya lebih terfokuskan pada sosok wanita yang masih berdiri pada tempat yang sama dan sebuah senyuman bangga yang ia tahu tentu saja semua itu untuk dirinya.
"Well, kau mendapatkan banyak hadiah malam ini." Baekhyun menunjuk dua kunci yang ada ditangan Chanyeol dan memberikan minuman yang ada di tangannya untuk pria itu.
"Aku mendapat hadiah terindah malam ini."
"Ferrari cukup keren." Kepala Baekhyun mengangguk sependapat dengan apa yang dikatakan Chanyeol.
"Aku tidak membicarakan Ferrari, Nona Byun." Chanyeol meletakkan gelasnya diatas meja dan maju selangkah lebih dekat dengan Baekhyun. "Aku membicarakan dirimu." Bisikan pelan ia ucapkan tepat dihadapan wajah Baekhyun. Melupakan situasi sekitarnya yang tengah banyak pasang mata memperhatikan mereka berdua terutama saat ini ia baru saja memenangkan sebuah permainan dengan taruhan cukup tinggi.
"Aku bukanlah barang yang bisa kau pertaruhkan." Baekhyun menjawab datar.
Chanyeol mengangkat dagu Baekhyun dengan pelan kearah wajahnya, dan membelai dua belah bibir tipis yang tengah terbuka sedikit. "Kau tidak untuk dipertaruhkan sayang, aku berjuang keras dan mengorbankan segala hal untuk mendapatkanmu." Chanyeol menutupnya dengan sebuah ciuman pada bibir Baekhyun dengan sangat lembut. Tidak ada gerakkan melumat kasar ataupun remasan pada rambut atau leher masing – masing. Hanya dua bibir yang saling bersentuhan dan menyesap dimana kedua orang yang tengah melakukannya kini tak peduli akan suara riuh disekitarnya yang tengah memperhatikan mereka berdua.
e)(o
Dangerous Romance
