Aku akan mencobanya.

Chanyeol ingat kalimat yang ia ucapkan dimalam ketika Baekhyun ulang tahun beberapa hari lalu. Entah kenapa ia bisa mengatakan hal itu. Ia ingin membuat Baekhyun bahagia, memang. Itu yang selalu ia ucapkan dalam hati mengenai apapun tentang Baekhyun, ia ingin gadis itu bahagia dan memberikan senyuman manis yang selalu membuatnya merasa hangat.

Chanyeol menghela nafas panjang dan merapikan setelan kemeja yang ia gunakkan. "Ini untuk Baekhyun." ia berucap memandangi cermin pada ruangan toilet pria yang berada di gedung dirinya berada saat ini dan kemudian memantapkan dirinya berjalan keluar menuju sebuah tempat receptionist untuk meminta akses masuk kedalam kantor dimana Tuan Byun memimpin.

Ya, saat ini ia berada di lantai dasar sebuah gedung dimana adalah tempat sebuah Perusahaan yang dimiliki oleh Tuan Byun—Papa Baekhyun.

"Maaf, Anda dengan?"

"Chanyeol, Park Chanyeol." Sahutannya membalas kearah receptionist cantik yang kini sedang menelepon seseorang disana dan menjelaskan kehadirannya disini untuk bertemu dengan pimpinan tertinggi pada perusahaan itu.

"Tuan Byun menunggu Anda di ruangannya. Anda bisa langsung naik menuju lantai 8 melalui lift disebelah sini." Sang Receptionist itu mengantarkan Chanyeol menuju sebuah lift yang terletak disudut dalam gedung itu dan menekan tombol angka delapan. Setelahnya Chanyeol merasa lift itu naik dengan gerakkan cukup lambat tanpa berhenti di lantai manapun dan terbuka ketika suara indicator pada lift itu mengatakan bahwa dirinya telah sampai di lantai delapan.

"Tuan Park Chanyeol?" Chanyeol memandangi seorang wanita berumur dihadapannya dan menganggukkan kepala memberikan salam.

"Annyeong.. aku ingin bertemu dengan—

"Tuan Byun sudah menunggu Anda, mari saya antarkan." Chanyeol mengangguk paham. Ia sempat berpikir bahwa wanita ini mungkin adalah sekretaris pribadi milik Tuan Byun. Chanyeol mengikuti wanita itu menuju ruangan kecil dimana ia dipersilakan duduk dan bahkan dijamu dengan makanan kecil dan juga minuman disana.

"Mohon menunggu sebentar." Suara wanita itu kembali berucap dan Chanyeol menganggukkan kepala membalasnya. Ia duduk pada salah satu sofa dan merasakan kembali kegugupan mengenai apa yang akan ia bicarakan dihadapan Tuan Byun saat ini. Chanyeol mengusap – usap tangannya dan bahkan berulang kali menghela nafas dengan cukup panjang.

Suara pintu terbuka terdengar dari balik punggung Chanyeol disertai dengan suara berat Tuan Byun yang memanggil nama Chanyeol dengan bahagiannya.

"Chanyeol!"

Chanyeol beranjak bangun dan membungkuk hormat kearah Tuan Byun serta bersalaman dengan orang tua itu sebelum pada akhirnya mereka sama – sama duduk berhadapan.

"Aku mengira ketika nama Park disebutkan oleh Sekretarisku tadi adalah Ayahmu, dan ternyata yang datang adalah Tuan Muda Park. Wah, kau sudah pantas untuk menggantikan ayahmu memimpin Perusahaan Ayahmu saat ini Tuan Muda." Tuan Byun melayangkan pujian dimana itu semakin membuat Chanyeol gugup untuk mengatakan tujuannya datang kemari.

"Bagaimana kabar Baekhyun?" Tuan Byun membuka topik lebih dulu. "Apakah ia menyusahkan kalian disana, maafkan aku harus meminta bantuan padamu untuk membiarkan ia tinggal sementara dirumah kalian—

"Tidak apa Tuan. Kami sama sekali tidak merasa direpotkan, dan Baekhyun baik – baik saja. Kami menunggu pengumuman penerimaan Beasiswa yang sempat kami kirimkan beberapa waktu lalu, jadi ya.. kami hanya bersantai – santai dirumah." Chanyeol menjelaskan tidak begitu detail karena pasti Tuan Byun sudah mendapatkan penjelasan lebih mengenai Baekhyun yang tinggal dirumahnya setelah memilih kabur dari rumah karena rencana perjodohan di hari ulang tahunnya.

"Dia puteriku satu –satunya tapi ia juga yang membenci diriku melebihi siapa pun." Suara Tuan Byun terdengar lebih lirih. "Aku hanya ingin masa depannya tidaklah seperti kami yang masih kesulitan berjuang mendapatkan kesuksesan, ia memiliki pria yang akan mencintainya dengan sepenuh hati dan juga sebuah perusahaan besar yang akan menyokong finansialnya nanti. Aku hanya ingin yang terbaik untuknya. Aku ingin ia bahagia."

Chanyeol terdiam memandangi Tuan Byun yang kini memejamkan matanya menahan air mata yang mungkin akan mengalir membasahi pipinya.

"Dia sangat keras kepala 'kan." Tuan Byun tertawa pelan.

"Yeah, dia termasuk gadis keras kepala." Chanyeol mengangguk, menggaruk tekuk lehernya dengan canggung meskipun tidak terasa gatal.

Hening melanda diantara mereka berdua. Tuan Byun menyesap kopi hitamnya sementara Chanyeol masih menunduk mengingat kalimat apa yang akan ia ucapkan sebagai bahan pembuka topik percakapan mengenai keinginannya.

"Tuan Byun.."

"Apa kau mencintainya?"

Chanyeol seketika terdiam. Semua rentetan kalimat yang sudah ia susun rapi dan akan ia ucapkan menghilang dari ingatan kepalanya, bahkan untuk menjawab pertanyaan Tuan Byun saat ini ia tidak tahu akan menjawab apa.

"Aku sudah tahu tujuanmu kesini, dan aku hanya butuh jawaban darimu. Apa kau mencintainya?" Tuan Byun menanyakkan lagi padanya dan Chanyeol masih diam.

"Itu pertanyaan pertama untukmu. Aku tahu kau bisa menjadi sukses sama seperti seseorang yang aku jodohkan untuk Puteriku, aku tahu. Tidak ada keraguan untukmu Tuan Muda, hanya saja aku ingin hatimu memanglah untuk Puteriku seorang, bukan hanya di awal tapi hingga kalian menikah dan miliki anak nantinya. Apakah perasaanmu masih bisa sama? Bisakah kau mencintainya sama seperti kau mencintai dirimu sendiri?"


Dangerous Romance

Chapter 18


Hentakkan bolpoint yang tengah beradu dengan dasar meja besar kayu pada sebuah ruangan kecil itu terdengar dalam keterdiaman setiap orang yang tengah berkumpul bersama disana. Beberapa yang lainnya sempat berbisik namun masih setia menunggu sebuah jawaban dari sosok yang tengah duduk dengan wajah terpangku dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya masih bermain – main dengan bolpoint hitamnya.

"Suaraku tetap menolak rencana kalian ini." Layangan protest kembali terdengar. "Ini benar – benar semakin rumit dan juga gila kalian tahu. Ditambah kalian melibatkan media disini!" tangannya mengarah pada sekumpulan fotografer dan juga beberapa reporter disana yang sedari tadi terdiam dan jari – jari tangannya bermain pada layar ponsel masing – masing.

"Aku yang melibatkan mereka." Suara berat milik Sehun menyahuti suara tegas milik Kris.

"Kau sudah gila hah?!" Kris mencoba melangkah menantang Sehun yang berada diseberangnya, beruntungnya tangan Luhan berhasil menahan badan besar milik Kris sebelum terjadinya ada pukul antara Kris dan Sehun.

"Tenanglah.." Luhan berbisik dengan suaranya sedikit bergetar karena jelas pemandangan Kris tengah marah dan meluapkan seluruh emosinya adalah pemandangan yang paling ia hindarkan.

Deru nafas penuh emosi ia hela dengan begitu panjang. Kepalan tangannya masih dalam posisi siap menghantam siapapun yang memancing emosinya kembali sementara yang sosok – sosok yang berkumpul bersamanya disana masing – masing masih saling diam.

Sehun melangkah mendekat kearah Baekbeom yang masih dalam posisi duduknya dan Kris ikut melangkah pelan dengan Luhan yang masih berada disampingnya—siap untuk menahan Kris melayangkan pukulan pada siapapun.

"A—aku minta maaf." Sehun berucap. Menatap satu – satu dimulai dari Baekbeom, Yoora, Kris, Luhan, Seulgi yang berkumpul bersama dirinya disana. "Aku mendapatkan foto dari salah satu media dan menanyakkan siapa wanita yang bersama dengan Chanyeol saat di Jepang." Kris dan Luhan menunggu penjelasan lebih lanjut sementara Baekbeom beranjak dari posisi duduknya dan menyilangkan tangannya didepan dada.

"Lanjutkan." Baekboem yang meminta.

"Dia temanku, kepala editor di salah satu media di Korea dan ia mendapatkan semua bukti itu dari Dispatch—

"Dispatch menjual foto – foto itu kepada kami." Semua pandangan kini terarah pada sosok yang sedari tadi duduk diam dengan ponsel ditangannya tapi kini ia berjalan dengan pelan dan berdiri disamping Sehun.

"Dan kau adalah?"

"Perkenalkan aku—

"Kim Hyejin?" suara Seulgi mengucapkan nama sosok yang tengah berdiri disamping Sehun saat ini. Wajahnya menunjukkan ketidakpercayaan melihat sosok Hyejin berada dihadapannya dengan tampilan yang sangat berubah dibandingkan ketika Seulgi melihatnya saat mereka sama – sama berada di bangku Sekolah.

"HYEJIN?" Luhan yang memekik terkejut. Yoora, Kris dan juga Baekboem menjadi tiga orang yang tidak mengerti keadaan yang ada diantara sahutan antar Seulgi dan juga Luhan, bahkan Sehun hanya menggedikkan bahunya ketika tatapan Kris mengarah padanya dengan sebuah isyarat memohon penjelasan.

"Ya, halo. Aku Kim Hyejin." Hyejin melambaikan tangannya pada mereka semua. "Aku akan perjelas lagi disini, aku Kim Hyejin Kepala Editor pada majalah InSide dan ya aku satu sekolah dengan Chanyeol dan Baekhyun di tingkat menengah—

"Tunggu, tunggu.. kau teman mereka?"

"Hahhh? Teman? Eonnie, dia wanita yang menyebabkan Chanyeol dan Minwoo berkelahi saat itu." Seulgi memberikan jawaban secara langsung pada Yoora.

"Ahh.." Yoora menganggukkan kepala. "Eoh, kenapa kau penyebabnya? Mereka berkelahi di sebuah klub kan karena—

"Minwoo akan memperkosa Baekhyun saat itu, tapi penyebab utamanya adalah wanita yang saat ini dihadapan kita karena dia yang membuat sebuah permainan hanya untuk merasakan bagaimana rasanya bersetubuh dengan Chanyeol."

Suara dingin dan menusuk itu berasal dari Luhan. Wanita itu sudah melangkah mendekat dan berdiri tepat dihadapan Hyejin, mengintimidasi tepatnya. Luhan berdiri disana dengan angkuhnya, matanya menatap tajam Hyejin hingga wanita dihadapannya itu berdiam diri tak mau berkomentar walau hanya untuk mengatakan iya atau tidak.

"Lu.." Sehun menarik tangan Luhan yang pada akhirnya langsung dihempaskan dengan kasar.

"Aku tidak tahu kau berteman dengannya juga." Kini giliran Sehun yang mendapatkan sorotan dingin itu. "Kau tidak menidurinya kan?" Luhan lanjut bertanya kembali.

"Luhan!" Baekbeom mendului Kris yang baru saja akan melayangkan ucapan pencegahan kearah sepupunya itu.

"Okey, tenang. Aku sama sekali tidak pernah merasakan bagaimana tidur dengan Chanyeol ataupun merasakan penis dari milik pria siapapun disini."

Frontal.

Kalimat yang dikatakan Hyejin jelas membuat yang mendengarnya memejamkan mata dan juga enggan untuk menyahuti. "Aku serius. Aku sama sekali sudah melupakan masa lalu itu dan bahkan aku berusaha mencari Baekhyun agar ia tidak salah paham—

"Astaga, again?" Kris memutar bola matanya mendengar kata – kata yang menjuruskan kesalah pahaman dan itu berhubungan dengan Baekhyun. Seulgi bahkan ikut tertawa pada akhirnya. "Ck, tidak usah tertawa." Kris mendorong kepala Seulgi dengan telunjuknya agar wanita itu menjauh dari posisinya yang entah bisa berada disampingnya..

"Okey, bisa aku lanjutkan? Aku tidak mau membahas masa lalu untuk saat ini."

"Okey, lanjutkan." Yoora yang mewakili mereka semua untuk mendengar penjelasan dari Hyejin.

"Mm. Luhan-ssi. Bisa kau menjauh sedikit, ini sangat tidak nyaman."

Luhan melipat tangannya didepan dada, matanya masih sama memberikan tatapan intimidasi pada Hyejin tapi mengingat ada sebuah penjelasan panjang mengenai masalah antara Chanyeol dan Baekhyun saat ini lebih penting ia perdengarkan dibandingkan meluapkan emosinya pada Hyejin.

"Temanku yang bekerja di Dispatch memiliki keinginan untuk membuktikan bahwa Chanyeol adalah Executive Muda yang sama brengseknya dengan Executive lainnya. Bermain wanita, judi, mabuk dan juga memiliki usaha bisnis gelap—

"Adikku tidak seperti itu! Jaga bicaramu Nona!" suara protest terdengar dan jelas itu adalah suara Yoora sebagai seorang kakak yang tidak setuju adiknya dipermalukan dengan begitu mudahnya.

"Aku tahu, maafkan aku. Hey, jangan marah padaku. Aku hanya menjelaskan permasalahan awal bagaimana media bisa terlibat disini." Hyejin menjelaskan kembali dengan suara yang lebih santai untuk mengurangi ketegangan pada setiap orang yang ada disini.

"Orang ini bahkan mengetahui bahwa aku dan Chanyeol berada dalam satu sekolah dulunya, dan aku dengan cepat beranggapan bahwa mereka benar – benar tengah serius mengerjakkan proyek ini untuk menjatuhkan Chanyeol."

"Aku penasaran." Ucapan Seulgi terdengar ketika Hyejin baru saja menjeda penjelasannya.

"Kenapa?" Hyejin bertanya padanya.

"Bagaimana kau bisa mengetahui Dispatch memiliki rencana seperti itu? Maksudku.. kau dari media lain, dan untuk apa Dispatch berbagi berita kepadamu? Sedangkan ia tahu berita ini akan menjadi sebuah berita besar nantinya."

"Well.. berterima kasihlah pada Tuan Oh Sehun." Hyejin melirik kearah Sehun yang sedari tadi menutup mulutnya dan bahkan menundukkan kepalanya. "Dan juga Nona Park Irene." Hyejin menyebutkan nama lain yang sontak membuat mata mereka membola kecuali Yoora, karena wanita itu memutar bola matanya dan menggelengkan kepala.

"Aku tahu Irene memiliki saham di seluruh stasiun televisi negeri ini tapi kalau bukan karena ia yang meminta kepada seluruh Editor untuk menghentikkan pencarian berita mengenai wanita yang tengah bersama Chanyeol di Jepang saat itu.. mungkin berita itu sudah semakin memanas saat ini." Hyejin dengan bangga menjelaskan kontribusi yang Irene lakukan disaat semua orang yang berada diruangan itu tidak menyangka keturunan dalam keluarga Park yang memiliki sifat nakal dan bahkan tidak pernah berada begitu lama di negaranya bisa mengatur semua itu.

"Sementara Tuan Oh membantu dengan membayar semua foto yang Dispatch miliki dengan uang yang sangat sangat mahal dan memberikannya kepadaku, agar hanya majalah InSide yang menerbitkan berita itu dan tentunya dengan sebuah wawancara exclusive dengan Subjek yang kita bicarakan."

"Dispatch menyetujuinya?" Baekbeom membuka suara.

"Ya, mereka menyetujuinya." Hyejin menganggukkan kepala. "Sangat menyetujuinya. Tunggu." Hyejin menjeda. "Kalian tidak tahu Dispatch dinaungi oleh Park Inc sekarang?"

"WHAT?!" dan semuanya kembali berteriak kencang, bahkan Yoora yang lebih memekik kaget mendengar apa yang Hyejin katakan.

"Apa aku salah bicara?" Hyejin semakin bingung.

"Oh Seh-! Jelaskan apa yang kau perankan disini!" Yoora melangkah kearah Sehun dengan kedua tangan dipinggangnya.

Semua mata ikut melihat kearah Sehun yang saat itu masih terlihat santai dan juga menghela nafas sebentar.

"Baiklah.. akan aku jelaskan peranku disini." Sehun duduk pada meja dimana Baekboem berdiri dibelakangnya. "Hyejin datang ke kantorku saat itu dengan membawa semua foto yang diberikan temannya—semua foto-foto yang mereka ambil itu jelas memperlihatkan saat Baekhyun dan Chanyeol berada di Jepang. Saat mereka berciuman didalam mobil atau bahkan dibandara. Semua foto mereka di Jepang semuanya jelas tercetak disana. Aku pun terkejut dibuatnya karena bagaimana bisa Chanyeol lengah dan membiarkan satu media mengikutinya." Sehun menghela nafas sebelum melanjutkan penjelasannya.

"Aku berpikir ada bagusnya berita itu tersebar secara langsung dan membuat dua subjek disana menjelaskan secara langsung mengenai hubungan apa yang mereka punya—

"Kau gila hah! Kau mau membuat calon Baekhyun berada di Korea sebelum waktunya hah?" Luhan yang memprotest secara langsung memotong ucapan Sehun.

"Tenang Lu.. aku tahu itu."

"Kalau kau tahu kau tidak akan mempunyai pemikiran seperti itu." Luhan memojokkannya lagi.

"Aku memang baru tahu ketika aku menunjukkan semua foto itu pada Chanyeol beberapa hari setelah ia kembali dari China."

"Chanyeol tahu?" Baekbeom mengernyitkan alisnya mewakili pertanyaan dari semua orang yang juga akan menanyakkan hal yang sama kearahnya mengenai satu nama yang baru saja ia sebutkan.

"Ya, Chanyeol tahu." Hyejin membantu Sehun menjawab pertanyaan itu.

"Chanyeol tahu bahwa Dispatch memiliki keinginan untuk membuat berita tentang dirinya dan semua hal yang tidak diketahui oleh orang lain. Ia sendiri yang mengatakan untuk menahan semua berita mengenai dirinya dan Baekhyun agar tidak ada yang mengetahuinya termasuk ya—You know who." Sehun berucap lagi. "Ia bahkan cukup tahu penyebabnya adalah karena ia tidak pernah memberikan interview secara exclusive pada media apapun mengenai cerita sedikit tentang dirinya dan itu juga kenapa aku meminta Minseok, sekretaris Chanyeol untuk mengatur jadwal agar Chanyeol bisa tampil di sebuah acara di CMB."

Sehun mengatur nafasnya lagi sebelum melanjutkan penjelasan selanjutnya, Baekboem sudah kembali duduk di kursinya tapi masih terlihat ia tengah berpikir cukup keras. Kris dan Luhan saling menatap satu sama lain dan entah apa yang tengah mereka pikirkan. Seulgi mengigit bibirnya, Sehun tahu wanita itu pasti sudah bisa menangkap apa yang akan ia jelaskan nantinya.

"Kapan ia akan tampil diacara itu?"

"Aku menunggu keputusan yang sedang ia urus." Tanpa pikir panjang Sehun menjawab pertanyaan Yoora.

"Aku tahu apa yang Chanyeol sedang rencanakan pada akhirnya dan itulah alasan aku membayar semua foto yang Dispatch miliki dan meminta bantuan Irene untuk menahan semua media menayangkan gossip mengenai Chanyeol sampai tiba saatnya—

"Sebuah bom waktu hah?"

"Ya, sebuah bom waktu." Sehun memandang Kris dan menganggukkan kepalanya. "Aku berniat membuat Bom waktu untuk mereka berdua dan bahkan meminta seorang penyulut yang sangat tepat untuk membantu." Tatapannya kini kearah Seulgi, Yoora dan Kris yang mulai paham bahkan ikut memandangi sosok itu dan tertawa kecil melihat Seulgi yang tengah merengut kesal. "Alasan Chanyeol membeli Dispatch juga karena bom waktu itu, ia tahu seberapa mahal kami membayar semua foto yang mereka miliki pasti tidak menjamin foto – foto itu belum kesebar ke media yang lainnya. Dan suatu hari ia mengajakku untuk membuat sebuah perjanjian kerjasama yang entah mengapa sekarang membuat saham Dispatch terbesar dimiliki oleh seorang Park Chanyeol."

"Well, Chanyeol itu pintar dan ambisius kau tahu?" Yoora memamerkan senyuman bangga menyebut nama adiknya.

"Tapi ini tidak bisa bertahan lebih lama lagi." Hyejin kembali bersuara. "Semua media meliput acara hari ini dan tidak mungkin tidak menyebarkan apa yang terjadi di malam ini."

Semuanya kembali tegang mendengar kalimat yang Hyejin katakan. "Kami tidak mungkin tidak menampilkan Baekhyun dan Chanyeol dalam satu acara saat ini, bukan? Baekhyun datang melewati karpet merah dan bahkan berpose disana dengan begitu mengagumkannya belum lagi dengan gaun yang ia gunakkan. Baekhyun membuat sebuah cerita disini." Hyejin menjelaskan.

"Cerita?" itu ucapan Kris dan bukan hanya ia seorang diri yang tengah bingung dengan apa yang Hyejin katakan, kelima orang yang berada disekitarnya juga memiliki pemikiran yang sama.

"Ya, cerita. Kami pembuat berita berpikir seperti itu. Kehadirannya menjadikan sebuah berita, alasan ia datang, kenapa ia memakai gaun itu, kenapa ia dengan angkuhnya menampakkan diri menjadi sebuah sorotan, dan di tengah – tengah acara ia mengganti gaunnya yang menakjubkan dengan gaun lainnya, kenapa ia berada diruangan bersama Chanyeol—kenapa mereka berciuman? Hanya dengan menggunakkan nama Baekhyun itu akan menjadi sebuah berita panjang yang bisa mengisi satu bagian majalah."

Keenam orang itu ber-oh bersamaan entah mereka mengerti atau tidak dengan apa yang dikatakan olehnya, tapi itu tidak penting buat Hyejin. Yang terpenting adalah jawaban akan pertanyaan sedari awal tadi.

Berita apa yang media akan tampilkan pada pagi ini?


Dangerous Romance


Lalu lalang lintas jalanan di Seoul pada dini hari ini terlihat mulai lengang setelah perhelatan acara yang cukup menguras waktu dan juga dihadiri banyak tamu-tamu dan meramaikan lalu lintas di Kota Seoul sampai pukul lima dini hari ini. Warna langit mulai sedikit demi sedikit memudar tidak menampakkan warna hitam biru gelap, sedikit demi sedikit terlihat warna jingga mulai menghiasi sebaris lapisan diujung sana tapi kemudian menghilang kembali karena waktu kemunculannya belum tiba.

Aktifitas manusia malam mulai akan tergantikkan oleh manusia pagi, bahkan suara – suara sahutan burung – burung mulai terdengar dan juga lengungan anjing penjaga yang terusik karena beberapa aktifitas sudah dimulai dan membuat waktu lelapnya terganggu.

Tapi pendengaran Baekhyun bukan terganggu karena lengungan anjing atau kicauan burung – burung disekitarnya atau bahkan setiap suara mesin kendaraan yang berlalu lalang disekitarnya, melainkan sebuah seruputan dari mulut pria dihadapannya yang tengah menikmati semangkuk ramen panas dengan begitu nikmatnya—oh ini mangkuk kedua. Baekhyun melihat mangkuk kosong disamping mejanya dan ia tahu itu adalah mangkuk pertama yang Chanyeol makan sebelumnya.

Ya, mereka berdua tengah berada disebuah kedai ramen pinggir jalan yang beruntungnya masih berjualan meskipun kini sudah memasuki waktu pagi hari. Baekhyun menghela nafas dengan beratnya memandangi Chanyeol yang masih menikmati makanannya semnetara kini kedua mata Baekhyun beralih pada mobil Ferrari hitam yang terparkir menghalangi jalan masuk kedai ini.

Seruputan lainnya terdengar dan itu menyadarkan Baekhyun untuk kembali melihat kearah Chanyeol.

"Kau tahu?" Baekhyun memulai percakapan dan Chanyeol menggelengkan kepala kearahnya, matanya melihat kearah Baekhyun sebentar dan beralih kembali pada mangkuknya. "Orang – orang akan bertanya dengan aneh melihat kau makan ramen dengan begitu lahapnya sementara kau memiliki mobil Ferrari yang jelas – jelas terparkir di depan kedai ini dan bahkan menutupi pintu masuk disana. Seriously Park Chanyeol! Apa kau tidak makan tadi disana hah?!" suaranya di akhir kalimat itu terdengar begitu kesal.

Jelas saja Baekhyun merasa kesal, mengingat ciuman terkahir mereka ketika Chanyeol melakukannya dengan begitu romantis setelah pria itu memenagkan permainan poker seharusnya bisa membuat mereka berdua kini kembali bergelung di ranjang dengan sebuah desahan panas dan juga kenikmatan yang berlipat – lipat lebih baik disbanding dua mangkuk ramen. Atau setidaknya, Chanyeol bisa bercinta dengannya didalam mobil Ferrari itu dan kemudian melemparkan tubuh mungilnya di ranjang apartemen mereka. Setidaknya ada sebuah cumbuan yang mereka lakukan! Bukan duduk menemani seorang pria kelaparan disini.

Baekhyun menggelengkan kepala kembali mengingat apa yang dipikirannya sedari tadi sangat sangat jauh berbeda dengan kenyataan yang ada dihadapannya.

"Aku lapar." Chanyeol akhirnya menjawab sambil membersihkan sisa makanan di mulutnya sendiri dan menghabiskan dua gelas soju dalam sekali tenggak.

"Itu salahmu, siapa yang melarangmu untuk makan disana. Tidak ada. Kau hanya sibuk menikmati permainan dan mungkin mencari – cari wanita dengan gaun seksi dan— wae? Kenapa kau memandangiku dengan tatapan seperti itu ish!" Baekhyun memundurkan wajahnya kebelakang karena kini Chanyeol tengah memajukan wajahnya dan dengan sebuah seringai yang bisa diartikan lain oleh Baekhyun.

"Siapa tadi yang tiba – tiba datang dan menggoda hm? Bahkan.." Chanyeol beranjak berdiri. Menumpukkan kedua tangannya diatas meja sementara ia sedikit menunduk kearah Baekhyun hingga ke bagian leher wanita itu. "Bercinta dalam waktu singkat lebih menguras tenaga Byun Baekhyun." Chanyeol berbisik dengan suara yang dalam.

Baekhyun merutuki apa yang Chanyeol lakukan karena jelas itu hanya membuat badannya terasa panas dan bergedik merasakan suara Chanyeol seakan – akan menyentuh setiap permukaan kulitnya. Baru saja Baekhyun akan menarik kerah mantel yang Chanyeol gunakkan untuk bisa melampiaskan sedikit gairah yang sudah terasa di ujung bibirnya, Chanyeol sudah kembali pada posisinya dan bahkan berteriak memanggil sang pemiliki kedai.

"Kami sudah selesai Bi." Chanyeol menyahut lagi, dan bibi kedai itu keluar dengan cepat dan mulai menghitung berapa jumlah yang harus dibayarkan.

"Terima kasih Bibi." Chanyeol beranjak bangun dan membungkukkan badan, Baekhyun mengikuti dan berusaha tersenyum kearah bibi itu, mengikuti Chanyeol yang masih menikmati minumannya dan tengah berjalan lebih dulu keluar dari kedai dan tiba – tiba pria itu berhenti secara mendadak membuat Baekhyun menabrak punggung Chanyeol dan terhuyung ke belakang.

Chanyeol berbalik dengan sigap, menarik tangan Baekhyun agar wanita itu tidak terjatuh dan membawanya masuk dalam dekapan badannya. Baekhyun sempat memprotest karena ia tahu Chanyeol pasti akan sengaja melakukannya tapi ia urungkan niatan itu karena pandangannya tengah memperhatikan wajah pria itu yang entah terlihat semakin mempesona.

"Mau ikut ke sebuah tempat bersamaku?"

"Eh?" Baekhyun mendongak dengan raut wajah tidak mengeri apa yang Chanyeol katakan.

"Aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu. Sebuah rahasia yang tidak kau ketahui selama ini."

Mata Baekhyun berkejap dengan cepat. "Ra—rahasia apa?" Setidaknya Baekhyun berhasil meloloskan satu pertanyaan singkat yang cukup wajar karena dalam pikirannya kali ini ia tengah berpikir apakah Chanyeol akan menujukkan rahasia mengenai dirinya yang memiliki seorang kekasih atau ia diam – diam tengah menikah atau—semua yang Baekhyun pikirkan adalah hal – hal negatif yang semakin membuat pikiran dan hatinya merasa sakit.

"Sebuah rahasia. Ayo." Dan Chanyeol selalu menjadi pria paling menyebalkan karena membuat semuanya semakin misterius. Chanyeol menggandeng Baekhyun untuk berjalan bersamanya menuju mobil, bahkan dengan sangat gentleman-nya Chanyeol membukakan pintu penumpang untuk membiarkan Baekhyun mudah memasuki mobil bahkan ia rela berlutut demi membantu bagian belakang gaun Baekhyun yang sedikit menjuntai mengenai jalanan.

Tidak ada yang memperjelas tujuan kemana mereka akan pergi, Chanyeol terlalu fokus mengendari mobilnya membelah jalanan kosong dihadapannya dengan kecepatan tinggi sementara Baekhyun duduk dalam diam memperhatikan kondisi jalanan disamping mereka. Sesekali ia melirik kearah Chanyeol tapi tidak mengatakan kalimat satu pun, ketika Chanyeol membalas pandangannya ia hanya terdiam seribu bahasa dan memperhatikan senyuman Chanyeol dengan seribu satu pertanyaan dalam pikirannya.


Dangerous Romance


Pyeongchang-dong, Chanyeol membawa Baekhyun memasuki salah satu komplek perumahan elite yang berada di Seoul. Tepatnya di pinggiran Kota Seoul dan terletak di lereng gunung Bukhan yang jelas sangat jauh dari hiruk pikuk kesibukkan ibu kota.

Deru mesin mobil Ferrari yang Chanyeol tengah kendarai saat ini terkesan menjadi salah satu sumber suara yang membuat suara gaduh anjing – anjing yang dimiliki oleh beberapa komplek perumahan disekitar jalanan mereka. Baekhyun membuka kaca jendela mobilnya dan melihat dengan jelas betapa megahnya model rumah yang mereka lewati saat ini. Udara pagi segar yang ia rasakan bahkan membuat matanya terpejam dan merasakan sentuhan angin membelai wajahnya dan sinar mentari ikut menghangatkan kulitnya meskipun pada akhirnya ia masih merasakan hawa dingin setelahnya.

Chanyeol masih sibuk mengarahkan setir mobilnya mengikuti alur jalan yang berbelok – belok dan sedikit menanjak hingga pada akhirnya mobil itu berhenti tepat pada sebuah rumah yang memililiki taman cukup luas. Chanyeol memasang rem tangan pada mobilnya sebelum ia turun dan membuka gerbang rumah itu. Dan Baekhyun dengan cepat meyakinkan bahwa rumah ini adalah rumah Chanyeol. Lebih tepatnya rumah masa depan yang selalu Chanyeol bicarakan.

"Seseorang mengatakan bila suatu saat aku ingin menikah, aku harus mempunyai rumah untuk istriku kelak. Bukan hanya sebuah rumah yang hanya aku dan istriku tempati nantinya tapi sebuah rumah yang akan menjadi tempat untuk keluarga kecilku tinggal dan tumbuh bersama."

Kalimat itu Chanyeol katakan ketika mereka masih duduk di bangku kuliah empat tahun lalu sebelum mereka memutuskan untuk kembali ke Korea dan memulai usaha bersama.

Chanyeol kembali masuk kedalam mobil dan membawa menjalankan kembali mobil itu untuk masuk kedalam halaman parkir yang tersedia didalamnya.

Klasik. Itu yang Baekhyun pikirkan mengenai tampak depan rumah dihadapannya. Tidak terlalu besar seperti rumah – rumah yang ia lewati sebelumnya, Baekhyun yakin rumah ini hanya memiliki tiga lantai dan tidak begitu banyak kamar didalamnya.

"Jangan dipikirkan. Kau hanya harus melihatnya isi didalamnya secara langsung." Chanyeol sudah berada disampingnya, membuka pintu mobilnya dengan tangan yang sudah siap menerima tangan Baekhyun untuk membantunya keluar dari dalam mobil.

"Aku tidak mau melihat isinya." Sahutan dari mulutnya terdengar kesal.

"Sudah kubilang jangan dipikirkan dulu, kau hanya perlu melihatnya." Chanyeol menuntun Baekhyun untuk masuk menuju pintu utama rumah itu.

Pandangan yang Baekhyun dapatkan saat pintu itu terbuka adalah sebuah ruangan kosong yang belum terisikan property apapun. Bau cat tercium tajam dan itu seakan – akan menjadi sebuah jawaban bahwa rumah ini baru saja selesai proses pembangunannya. Chanyeol membiarkan Baekhyun berjalan melihat sekeliling lantai bawah dari rumah itu, batasan sebuah ruangan dengan taman diluar dibatasi dengan sebuah pintu kaca disepanjang luas rumah ini. Bahkan ketika ia memasuki wilayah dapur ia masih bisa mendapatkan pemandangan taman diluar sana.

"Kau belum mengisi segala perlengkapannya?" Baekhyun melangkah lagi mendekat kearah Chanyeol yang menunggunya didekat tangga naik menuju lantai 2.

"Aku belum mendapatkan ide akan membeli perlengkapan seperti apa. Ayo mungkin kau tertarik dengan keadaan di lantai 2." Chanyeol menggandeng Baekhyun untuk menaiki tangga bersamanya sementara pandangan Baekhyun melihat sekeliling dinding bangunan ini yang masih polos tidak berhiaskan apapun.

"Mungkin kau harus membeli sebuah lukisan untuk menghiasi dinding – dinding ini." Baekhyun menunjuk kearah sudut lain dinding disisi kirinya.

"Aku berpikir akan meletakkan sebuah foto besar disana." Chanyeol menyahut.

"Hah, ya itu bisa juga. Foto pernikahanmu mungkin." suaranya datar, tidak menunjukkan semangat atau pun candaan.

"Kalau aku tidak menikah? Foto siapa yang akan aku pajang?" Chanyeol berusaha mengalihkan topik pernikahan dimana itu menjadi sebuah pemicu naiknya emosi Baekhyun dalam sesaat.

"Foto dirimu dengan keluarga besarmu." Dan benar, suara Baekhyun kini terdengar kesal bahkan tangannya sudah terlepas dari genggaman tangan Chanyeol. Wanita itu memilih mengangkat gaunnya dan berjalan sendiri tanpa bantuan Chanyeol.

"Atau mungkin fotomu." Chanyeol menggoda lagi.

"Ya, foto pernikahanku dengan suamiku nantinya. Ide bagus Park." Baekhyun menjawab dengan nada semakin naik menunjukkan emosinya semakin tersulut, bahkan ia melenggang masuk melewati koridor tanpa tahu akan melihat kamar mana lebih dulu.

Chanyeol tersenyum dengan bodohnya, langkahnya menyusul Baekhyun dan langsung membawa wanita itu dalam gendongannya tidak memperdulikan suara pekikan kaget dan pukulan yang Baekhyun lakukan karena memberontak dari gendongan yang Chanyeol lakukan secara tiba – tiba.

"Kau semakin terlihat seksi ketika sedang marah kau tahu itu kan?" Chanyeol membuka salah satu pintu kamarnya dan menjatuhkan badan Baekhyun tepat diatas ranjang empuk disana dan mengukung badan Baekhyun tepat dibawahnya.

Baekhyun memukul dada Chanyeol dengan bibir yang menekuk kedepan. "Kamar siapa ini?" pertanyaannya ia lontarkan melihat seisi ruangan kamar itu sudah lengkap dengan segala furniture baru. Ranjang besar yang ia tiduri saat ini bahkan sudah terpasang dengan bed cover dan juga selimut, sebuah sofa panjang berada didekat jendela kamar dan juga sebuah televisi dilengkapi dengan segala alat pendukungnya.

"Kamarku, mungkin." Chanyeol menjawab masih memandangi wajah Baekhyun dibawahnya yang bergerak kekanan dan kekiri melihat seisi kamarnya.

"Ini terlalu kecil." Baekhyun menjawab. "Kau menyukai kamar yang besar dan juga luas, ukuran ranjang ini bahkan terlalu kecil untukmu."

"Kalau begitu ini bukan kamarku, ayo kita lihat kamar yang lain."Chanyeol beranjak dari badan Baekhyun, tetap meminta Baekhyun berada dalam gendongannya.

"Gendong belakang." Cicitan Baekhyun terdengar membuat Chanyeol sontak tertawa mendengarnya untuk mengejek kearah Baekhyun yang terlihat seperti anak kecil dan sangat bertolak belakang dengan gaun yang ia kenakkan saat ini.

Tapi apalah daya seorang Park Chanyeol yang tentunya akan mengiyakan permintaan apa saja yang disebutkan oleh seorang Byun Baekhyun.

Ia membuka terlebih dahulu dua pasang sepatu yang masih Baekhyun kenakkan sebelum pada akhirnya berbalik badan dan menunggu Baekhyun menyergap punggungnya. Chanyeol menunggunya, tapi yang ia dapatkan adalah sebuah usapan lembut tangan melingkar menuju dada depannya disusul sebuah benda lunak bergesekkan dengan punggung belakangnya.

"Kemana kau akan membawaku Tuan Park."

Chanyeol memejamkan matanya mendengar bisikan dari Baekhyun yang entah kenapa terdengar seakan – akan tengah menggodanya. Kaki wanita itu bahkan sudah melingkar sempurna pada pinggangnya dan menggesek miliknya entah itu disengaja maupun tidak tapi yang jelas ada sebuah reaksi dibawah sana.

"K-kau sudah siap." Ucapannya nyaris terdengar gagap.

"Hm.. aku sudah siap." Baekhyun membalas masih dengan suara bisikkan pada telinganya.

Chanyeol memegangi kaki Baekhyun dengan cukup kuat dan membawa wanita itu menuju pintu kamar lain tepat diseberang kamar pertama yang mereka masuki. Masih sama dengan kamar yang kedua, tipe kamar ini berukuran tak lebih jauh berbeda dengan sebelumnya. Bahkan segala fasilitas yang dipenuhi pada kamar tersebut juga tidak beda jauh.

"Ini jelas bukan kamarmu juga." Baekhyun menyahut dibelakang sana. "Kita kekamar lain." Perintahnya diiyakan Chanyeol.

Mereka berjalan pelan menuju kamar terakhir dilantai itu, terletak di ujung dan memiliki pintu kamar yang lebih besar dengan dua daun pintu tertutup rapat. Chanyeol membuka dengan kedua tangannya dan menampakkan kamar yang sangat luas bahkan melebihi luas kamar tidur Chanyeol di apartemennya. Ranjang yang sangat besar ditutupi selimut berwarna cokelat muda dengan bantal serta gulin tertata rapi disana. Sebuah lampu tidur berada di kedua sisinya dengan laci kecil dibawahnya.

Dua jendela besar dengan balkon diluarnya terlihat dan hanya ditutupi sebuah gorden berwarna senada dengan warna selimut pada ranjang. Bahkan wallpaper yang menghiasi dinding ini terlihat berwarna lebih muda dengan ukiran ornament manis disana.

Sama halnya dengan kamar yang lain, terdapat sofa panjang menghadap ke sisi jendela di sisi yang lain yang tidak memiliki balkon.

"Kau sengaja membuat kamar yang memiliki jendela dan ada sebuah sofa sebagai tempat duduknya?"

"Ya. Memang. Kau menyadarinya?" Chanyeol menyahut pernyataan Baekhyun. "Mengingatkan aku akan kegiatan seseorang dulu."

Baekhyun bungkam. Ia memilih melihat kearah lain dimana sebuah pintu lemari yang memiliki banyak pintu pada sisi kiri dari posisinya menarik perhatian matanya.

"Itu akan menjadi walk in closet di kamar ini." Chanyeol lebih dulu menjelaskan dan melangkah kearah tempat itu. "Ini belum seratus persen selesai karena aku tidak tahu apa yang akan diisi didalam ruangan ini nantinya. Aku butuh saran darimu."

Baekhyun masih diam. Ia tengah berpikir tepatnya.

Chanyeol tengah mempersiapkan rumah masa depannya, rumah untuk bersama istrinya kelak—entah ia dijodohkan atau ia memilih jodohnya sendiri. Dan Baekhyun tidak akan menjadi bagian dari itu. Chanyeol akan bahagia suatu saat nanti dan bahkan siapapun yang akan menjadi istrinya jelas akan mendapatkan seorang suami yang tanggung jawab, penyayang dan perhatian penuh padanya.

Sungguh kehidupan mereka akan bahagia.

Tidak dengan Baekhyun.

Dan kini kembali pada dirinya yang bahkan mungkin tidak mendapatkan apa yang akan dirasakan seorang istri lainnya. Ia dijodohkan, dengan seseorang yang sampai saat ini bahkan ia tidak tahu kapan dan mereka hanya akan bertemu tepat sebelum pernikahan itu dilaksanakan. Sebuah wasiat yang ditinggalkan oleh mendiang Papa-nya hanyalah sebuah surat berisikan penjelasan mengenai perjodohan yang Baekhyu belum baca sampai saat ini.

Umur 30 tahun, Baekhyun ingat hal itu. Tepat ketika umurnya menginjak 30 tahun, ia akan menikah dengan seseorang itu. Itu berarti kurang lebih 2 tahun dari hari ini ia akan menikah dengan orang lain. Bukan dengan Chanyeol yang kini berada didalam pelukannya. Bukan dengan pria yang ia cintai sedari dulu namun tidak pernah ia bisa miliki karena memang mereka berdua tidaklah ditakdirkan untuk bisa memiliki satu sama lain. Ketika mereka merencanakan masa depan, itu bukanlah masa depan untuk mereka berdua. Melainkan masa depan masing – masing dengan pasangan yang sudah ditetapkan.

Baekhyun memejamkan matanya mengingat permasalah yang selalu ia hindari, air matanya entah kenapa tidak bisa ia tahan untuk mengalir deras dari dua matanya yang tengah terpejam. Pelukan pada leher Chanyeol semakin erat dan itu membuat Chanyeol tahu ada yang salah dengan sikapnya sedari tadi.

"Baek?"

Baekhyun menggeleng dengan cepat, lingkaran tangannya semakin ia pererat.

"Hey, apa yang terjadi?"

"Biarkan seperti ini sebentar." Baekhyun menyahut dan itu membuat isakan tangisnya semakin terdengar oleh Chanyeol.

"Ku mohon biarkan seperti ini." Baekhyun memohon lagi. kepalanya semakin menunduk dan wajahnya bersembunyi pada punggung Chanyeol.

Chanyeol tidak bertanya lagi mengenai apa yang terjadi dengan Baekhyun, seharusnya ia tahu apa yang Baekhyun permasalahkan sedari tadi bahkan ketika mereka berdua masih didalam mobil tepat diluar rumah ini.

Desain rumah ini adalah keinginan Baekhyun.

Entah wanita itu mengingatnya atau tidak, tapi jelas Chanyeol ingat. Baekhyun selalu menginginkan sebuah rumah yang memiliki taman luas dan juga tidak memiliki kamar yang banyak, ia menginginkan setiap kamar yang akan ditempati dengan dirinya dan anak – anaknya kelak memiliki sebuah kamar dengan jendela disisi kamar itu, dan juga sebuah sofa agar bisa menikmati waktu berpikir atau membaca buku dengan suasana tenang memandangi pemandangan di luar sana.

"Ini rumah untukmu." Chanyeol berucap dengan spontan.

"Aku membangun rumah ini berdasarkan keinginanmu." Ucapannya berlanjut sementara ia tahu dibalik punggungnya Baekhyun tidak lagi menundukkan wajahnya melainkan menegang dengan badannya terasa kaku.

Chanyeol menurunkan gendongan kaki Baekhyun dan dengan cepat berbalik agar ia bisa melihat langsung bagaimana raut wajah wanita itu saat ini. Sesuai dengan apa yang ia duga, wajah Baekhyun memerah dengan raut kesedihan mendalam, riasan pada wajahnya mulai rusak karena air mata dan usapan tangannya yang menghapus setiap aliran air mata yang mengalir dari sudut matanya.

"Ini rumah untukmu." Chanyeol mengulang lagi. "Aku membangun rumah ini dengan mengingat jelas apa yang kau katakan padaku ketika kita membahas mengenai rumah yang aku ingin bangun untuk istriku kelak." Chanyeol mengajak Baekhyun untuk duduk pada ranjang di kamar itu sementara dirinya bersimpuh di lantai dengan kedua lututnya menekuk.

"Chanyeol.." Baekhyun semakin terisak melihat apa yang Chanyeol lakukan dihadapannya kini. Pria itu berlutut dihadapannya dengan tatapan serius.

"Dengarkan aku baik – baik." Chanyeol memegang kedua tangan Baekhyun dan sempat ia menghapus aliran air mata lainnya yang masih mengalir membasahi pipi Baekhyun. "Aku tidak akan menikah dengan wanita manapun yang berasal dari keturunan keluarga Kang, kau mengerti maksudku kan?" Chanyeol memandangi Baekhyun kembali dengan tatapan lembut dan penuh perhatian. "Aku tidak akan menikah dengan Seulgi dan perjodohan itu tidak ada Baekhyun. Aku tidak tahu bagaimana kesalah-pahamanmu terjadi hanya saja bukan Aku disini yang bisa menjelaskan lebih detailnya karena kau harus mendapatkan penjelasan itu dari mereka, bukan aku."

Baekhyun masih mendengarkan dengan baik apa yang Chanyeol katakan meskipun badannya terseguk – seguk karena entah kenapa ia menjadi cengeng saat ini dan masih terisak terus menerus.

"Kau ingat apa yang aku katakan padamu mengenai kebahagiaanmu adalah prioritas utamaku?"

Chanyeol bertanya lagi dan Baekhyun menganggukkan kepala yang entah kenapa bagi Chanyeol itu adalah pemandangan yang lucu karena wanita itu malah terlihat layaknya anak kecil penurut.

"Kau adalah prioritas utamaku, asalkan kau bahagia dan tersenyum, itu sudah cukup bagiku. Kau ingat aku pernah mengatakan itu padamu kan?"

Baekhyun mengangguk lagi patuh. Mendengar apa yang Chanyeol katakan berulang kali itu semakin membuat airmatanya terus mengalir.

"Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia."

"Pertanyaan kedua untukmu, apa yang akan kau berikan untuk Puteriku kelak?" Chanyeol masih diam mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Tuan Byun untuk kedua kalinya. "Aku tidak mau Puteriku menikmati seluruh harta dari Keluargamu Tuan Park, ayahmu adalah pengusaha sukses, dan aku menginginkan Puteriku memliki suami yang sukses dari hasil kerja kerasnya. Ia akan menikahimu dan mendapatkan penghormatan sebagai istri pengusaha sukses, bukan istri dari keluarga pengusaha sukses."

"Aku berusaha keras selama ini hanya untuk mendapatkanmu, dan dengan bodohnya aku baru bisa meyakinkan diriku bahwa pada kenyataanya sudah terlalu lama aku mencintaimu tapi aku baru menyadarinya saat semua perjuanganku telah sampai pada tahap akhir." Chanyeol memandangi wajah Baekhyun yang terlihat bingung. Tangisannya sudah mereda namun air matanya masih mengalir sedikit demi sedikit ditambah kini Chanyeol mulai membicarakan hal yang tidak bisa ia pahami dengan cepat.

"Pertanyaan ketiga. Apa kau sudah menjadi seorang pria bermartabat?" Pertanyaan ini yang membuat Chanyeol berpikir begitu keras dan memikirkan hal apa yang membuatnya menjadi seorang pria bermartabat?

"Aku mencintaimu.. sangat – sangat mencintaimu. Aku tahu aku belum bisa membuktikan bahwa aku adalah pria yang pantas untuk menikahimu nantinya.. tapi aku akan terus berusaha menjadi pria yang pantas sampai usiamu tiga puluh tahun, bahkan ketikau hari dimana perjodohanmu tiba aku akan berada disana dan memohon agar aku yang menjadi seseorang yang bisa menikahmu.. bukan orang lain."

Baekhyun terdiam memandangi Chanyeol yang masih berlutut dihadapannya.

"Hatiku sudah terkunci untukmu, apa yang harus aku lakukan terhadapnya? Aku tidak mau kau menikah dengan orang lain dan aku tidak mau menikah dengan siapapun selain dirimu untuk itu—

Baekhyun membungkam mulutnya dengan ciuman dan lumatan pada bibir Chanyeol, tangannya menangkup dengan erat wajah pria itu dan juga mengalung pada lehernya untuk semakin memperdalam ciuman mereka. Chanyeol yang sebelumnya terdiam tidak membalas ciuman itu kini beralih mendominasi membiarkan Baekhyun merasakan kenikmatan dari cumbuannya.

Rambutnya ia biarkan menjadi sasaran remasan tangan Baekhyun yang bergerak kasar dan bahkan menarik – nariknya untuk mengarahkan kepalanya agar mencium bagian badannya yang lain.

Chanyeol mendorong badan Baekhyun berbaring diatas ranjang sementara dirinya merangkak pelan dan melepaskan gaun yang Baekhyun gunakkan—

"Jangan dirobek lagi." Baekhyun melihat kearahnya yang tengah membuka bagian gaun depannya dan Chanyeol malah memulai meremas bagian gaun depannya dan langsung merobeknya dengan cepat dan begitu mudah karena bahan yang digunakkan gaun tersebut memang mendukung untuk ia robek sekali hentak. Tipis dan menerawang.

Mereka berdua kembali hanyut dalam cumbuan panas dalam sekejap setelah seluruh pakaian masing – masing kini terlepas dan berserakan di atas lantai. Badan mereka sudah saling bersentuhan dan menggeliat karena sentuhan dari setiap tangan dan juga gerakkan mulut Chanyeol yang memanjakkan setiap bagian tubuh Baekhyun.

Melupakan segala kalimat yang diucapkan dan terhanyut dalam pergumulan cinta yang menjemput sebuah kenikmatan hingga keduanya mendesahkan sebuah nama dengan begitu erotisnya.

Deru nafas yang memburu satu sama lain dengan kesadaran yang bahkan hampir hilang karena merasakan kenikmatan bercinta, Baekhyun memandangi wajah Chanyeol dengan penuh harapan sama halnya dengan yang dilakukan pria itu diatasnya yang masih menciumi bagian wajah leher hingga bahunya dan bergerak menghentakkan miliknya didalam Baekhyun agar mereka kembali merasakan kenikmatan lainnya—

Baekhyun menahan wajah Chanyeol agar bisa memandangi wajah pria dengan jelas, matanya berkedip dengan pelan dan mencuium bibri Chanyeol dengan sentuhan lembut. Tidak melumat seperti yang ia lakukan sebelumnya, hanya sebuah bibir yang saling bersentuhan begitu dalam dan dua mata yang terpejam. Baekhyun yang memulai dan ia yang mengakhiri menjauhkan bibirnya dengan bibir Chanyeol, sebuah senyuman terlihat diwajah pria itu hingga Bekhyun pada akhirnya melakukan yang sama.

Pandangan mereka saling beradu seakan – akan menyalurkan setiap emosi yang selama ini terpendam begitu lamanya. Membiarkan waktu berjalan sementara mereka masih saling memandang, Chanyeol baru akan mencium bibir Baekhyun seperti yang dilakukan wanita itu sebelumnya—tapi terlambat. Sebuah kalimat lebih dulu lolos dari mulut Baekhyun yang dimana membuat dia menahan diri dan memandangi kembali wajah wanita itu dengan air mata mengalir dari sudut matanya.

"Nikahi aku. Sekarang."


e)(o

Dangerous Romance


"Acara yang berlangsung hingga dini hari ini jelas menunjukkan kesuksesan bagi ketiga Perusahaan yang terlibat. Kang Corporation, KISTEC dan juga Park Inc. Selain kesuksesan Peresmian dan perayaan Grand Opening Resort ini, Kegiatan amal yang dilakukan semalam terbilang sukses karena mendapatkan angka sumbangan amal yang cukup fantastis. Berikut cuplikan beritanya—

"Terlepas dari kesuksesan yang terjadi pada acara itu, ada sebuah pertanyaan mengenai tamu – tamu undangan yang hadir dan juga rahasia dibaliknya. Nona Kang Seulgi selaku Tuan Rumah terlihat menyambut beberapa tamu undangan perwakilan setiap perusahaan. Setiap kamera berhasil mengabadikan setiap moment yang terjadi malam itu—

"Executive Muda perwakilan dari Park Inc, Tuan Park Chanyeol terlihat memasuki red carpet seorang diri dan tampak bahagia ketika ia dan Nona Kang berjabat tangan, bahkan keduanya memperlihatkan kedekatan yang cukup baik ketika para wartawan meminta sebuah foto mereka berdua—

"Park Chanyeol, perwakilan dari Park Inc terlihat datang seorang diri namun beberapa kamera berhasil menangkap dirinya tengah bersama wanita ketika berada didalam acara. Bahkan ada beberapa gambar yang berhasil ditangkap oleh kamera kami ia tengah berciuman dengan wanita itu, sayangnya sosok wanita yang tengah ia cium tidak terlihat begitu jelas. Beberapa netizen beranggapan bahwa bisa saja sosok itu adalah Kang Seulgi, Perwakilan dari Kang Corporation dimana selama ini mereka bekerja sama dalam proyek resort yang dibangun."

[Hot News]Park Chanyeol, Pimpinan Park Inc terlihat mencium seseorang wanita di tengah acara. Nona Kang atau sosok wanita lainnya?

[Hot News]Park Chanyeol, The Young—handsome—hot CEO of Park Inc kissing sexy and mysterious woman at the Party. Girlfriend or just one night stand?

"Selain berita dari kesuksesan yang berhasil mereka dapatkan dini hari tadi, ada sebuah pertanyaan yang kini semakin dibicarakan oleh kalangan public. Siapa sosok yang terlihat dekat dan begitu intim menghampiri Pimpinan dari Perusahaan ternama, Park Chanyeol ketika dirinya tengah berada diacara permanian poker-

[Hot News]Apakah ini pertanda Park Chanyeol akan melepas masa lajangnya dengan memantapkan diri menikahi Kang Seulgi?

[News]Byun Baekhyun tampil memukau ketika menghadiri Acara Peresmian Casino and Resort of The Galaxy.

[News]Pesona Byun Baekhyun, wanita berdarah dingin yang tampil memukau dan membuat setiap tamu undangan terkesima dengan pesonanya.

[Hot News]Kang Seulgi, Perwakilan dari Kang Corporation membantah sosok dirinya adalah sosok yang berdekatan dengan Park Chanyeol dimalam acara itu berlangsung.

[Hot News]Siapa sosok wanita misterius itu Tuan Park?

"Nona Kang Seulgi, memberikan pernyataan mengenai foto sosok misterius yang tengah berciuman dengan rekan kerjanya Tuan Park Chanyeol. Dalam pernyataan yang ia berikan kepada salah satu jurnalis sebuah media, ia menyatakan bahwa sosok itu bukanlah dirinya—

"Itu bukan aku. Seratus persen aku menjamin itu bukan aku. Aku dan Chanyeol adalah teman dekat dan kami bekerja sama secara professional mengingat juga keluar besar kami cukup dekat karena memang sejak awal kedua orang tua kami bersahabat sama halnya denga Keluarga Byun dan Keluarga Wu. Dan untuk sosok itu, aku tidak bisa menjawab, aku hanya berharap Chanyeol dapat menjelaskan lebih detail mengenai ini. Terima kasih,"

"Meskipun Nona Kang tengah memberikan pernyataannya, sampai saat ini Pihak dari Park Chanyeol belum bisa diklarifikasi dan bahkan keberadaan belum diketahui—

"Hanya dalam sekejap semua berita sudah memuat dan dipenuhi dengan berita itu."

Sehun terdiam dan masih menatap layar komputernya, mengabaikan ucapan Luhan yang baru saja ia dengar.

"Aku masih belum bisa menemukan Chanyeol." Itu suara Yoora yang baru masuk bergabung dengan yang lainnya. "Seulgi juga mengatakan Chanyeol tdiak terdaftar sebagai tamu menginap di resortnya.

"Kemana mereka." Kris masih sama gelisahnya sedari tadi, memikirkan dimana Baekhyun dan juga Chanyeol saat ini. Ia kembali mengangkat ponselnya dan menghubungi pihak – pihak yang bisa saja membantu mencari keberadaan Chanyeol dan Baekhyun.

Luhan yang kini bingung akan melakukan apa, memandangi Yoora yang masih berusaha menelepon ponsel milik Chanyeol atau memandangi Kris yang tengah berjalan mondar mandir bicara dengan entah siapa atau memandangi Sehun yang terdiam diposisinya menatap layar tanpa ada sebuah komentar.

Ia beranjak mendekat kearah Sehun dan ikut melihat apa yang tengah pria itu perhatikan. "Permohonan Wajib Militer?" Luhan mengucapkan judul yang ia baca dan sontak membuat Kris dan Yoora meliat kearahnya dan juga Sehun.

"Sehun.. " Yoora beranjak bangun dan melangkah mendekat. "Jangan bilang itu adalah—

Sehun memandang Yoora dan menganggukkan kepala.

"Mereka akan memenuhi wajib militernya."


e)(o

Dangerous Romance


Apa yang ia katakan beberapa menit lalu adalah pengutaraan isi hatinya secara spontan tanpa berpikir dengan benar apa memang ia sungguh – sungguh ingin Chanyeol menikahinya, atau hanya karena buaian manis yang pria itu katakan hingga membuat hatinya mencari jalan yang paling mudah untuk menolak perjodohan yang sudah diputuskan oleh pihak keluarganya dengan meminta Chnayeol menikahinya. Saat ini.

Tak ada yang salah bukan? Baekhyun tidak mencintai pria itu—hah bahkan kata mencintai tidak tepat menggambarkan semuanya.

Baekhyun bahkan tidak tahu siapa pria yang dijodohkan dengannya. Ia hanya ingat betul bahwa mendiang papanya mengatakan bahwa pria ini adalah anak dari sahabat dekatnya sesama pengusaha, tapi ia tidak ingin menggunakkan kekayaan keluarganya agar terlihat sukses, hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk bersekolah di salah satu kampus ternama di Kota Inggris. Meskipun sebelum menghembuskan nafas terakhir mendiang papanya meninggalkan surat wasiat mengenai perjodohan itu yang Baekhyun yakini surat itu adalah mengenai perjodohannya, tapi pada kenyataannya hingga sampai saat ini surat itu masih tersimpan rapi pada lemari penyimpanan abu kedua orang tua—ia enggan untuk membaca isi surat itu.

Akan aku baca ketika usiaku tepat umur 30 tahun.—Itu yang selalu Baekhyun katakan.

Dan kini.. dihadapannya ada seorang pria yang ternyata mencintai dirinya sama seperti ia mencintai pria itu, mengatakan akan sebuah perjuangan untuk bisa memiliki dirinya dengan sepenuhnya. Kata apalagi yang tepat Baekhyun katakan bila bukan permintaan agar Chanyeol menikahi dirinya.

Hatinya berdetak tak teratur memandangi wajah Chanyeol berada diatas wajahnya dengan jarak cukup dekat, deru nafas lembut yang pria itu lakukan bahkan terdengar dengan jelas—sangat jelas. Chanyeol masih berada diatas badannya dengan kedua tangan bertumpu pada ranjang tepat disebelah kedua bahunya dan mereka sama – sama tengah bertelanjang badan.

Pikirannya Baekhyun masih menimang jawaban apa yang akan Chanyeol katakan padanya, apakah pria ini akan menolak? Atau mungkin akan menikahi dan membawa dirinya pergi jauh dari siapa pun agar tidak bisa ditemukan oleh siapapun? Mungkin saja.

"Kau mau menikah denganku?" Chanyeol pada akhirnya bersuara. "Kau benar- benar ingin aku menikahimu?"

Baekhyun mengangguk. "Kau mencintaiku 'kan? Aku mencintaimu dan kau pun demikian—

"Kau dijodohkan." Chanyeol menjawab dan apa yang ia katakan itu membuat raut wajah wanita dibawahnya itu mendelik kesal dan bahkan mendorong badannya.

"PARK CHANYEOL—Kau menyebalkan!" Baekhyun berusaha mendorong badan Chanyeol dan memukul dada dan lengan pria itu yang bahkan sama sekali tidak membuat Chanyeol meringis sakit atau terdorong kearah lain. "Tidak usah tertawa!" ocehannya penuh kekesalan terdengar lagi dari mulut Baekhyun, yang mana malah semakin membuat Chanyeol tertawa dan kini menciumi setiap bagian kulit halus Baekhyun.

"YAAKK—Aaaahh Chanyeol." Suara kesal namun diakhiri dengan desahan Baekhyun loloskan dari mulutnya sedangkan dalam hatinya mengumpati apa yang Chanyeol lakukan saat ini dengan begitu kurang ajarnya menjilat, menggigit, menciumi bagian lehernya dan membuat pikiran ikut melayang jauh melupakan setiap kalimat panjang yang ingin ia lontarkan.

Semakin Baekhyun melengkungkan badannya sebagai balasan atas kenikmatan yang Chanyeol lakukan pada setiap bagian tubuhnya, Chanyeol semakin terus mencium setiap bagian tubuhnya gerakkan yang bermula hanya untuk bagian atas tubuhnya kini semakin turun dan ia tahu kemana arah bibir dan lidah Chanyeol akan berakhir.

"Tubuhmu milikku Baekhyun." Chanyeol berucap ketika gerakkan bibir dan lidahnya berhenti tepat dihadapan bagian intim Baekhyun.

Baekhyun menganggukkan kepala dan membalasnya dengan erangan dalam karena ia merasakan panas dengan sentuhan tangan Chanyeol disana dan juga deru nafas milik pria itu yang menyentuhnya sebelum Chanyeol dengan kurang ajarnya menjilati dan bermain dengan lihainya dibawah sana.Ini gila!

Baekhyun menggelengkan kepala menandakkan penolakan yang Chanyeol lakukan disana tapi tangannya semakin erat meremas rambut pria itu serta menekan lebih dalam agar lidah sialan yang bermain dihadapan lubang milik Baekhyun lebih masuk kedalam dan menggelitik miliknya—itu menggelikan tapi Baekhyun menikmatinya.

"AH—CHANYEOL!" Baekhyun memekik dengan mata terpejam, badannya terus menggeliat meronta sebagai perlawanan merasakan miliknya dimainkan dengan Chanyeol dengan begitu kurang ajarnya dibawah sana. Apa yang Chanyeol sentuh dengan bibir dan lidahnya disana jelas membuat Baekhyun menggeliat nikmat. Bahkan Baekhyun seakan – akan tengah dimabuk kepayang terlihat dari dua matanya yang kadang terpejam dan terbuka dengan gerakkan perlahan disaat tubuhnya melengkung keatas sedangkan kepalanya mendongak keatas.

Suaranya terdengar mengerang dan kadang merintih serta mendesah. Tidak ada permohonan apapun yang dikatakan hanya saja nama Chanyeol terus disebutkan dengan alunan desahannya.

Chanyeol yang masih terlihat bergerak disana bahkan sama sekali tidak menunjukkan perlawanan atau gerakkan tambahan lainnya, kepalanya hanya bergerak kekanan dan kekiri menutupi bagian intim Baekhyun sementara tangannya meremas dua buah dada milik Baekhyun dengan sesuka hati—dan pada akhirnya berpindah menahan dua kaki Baekhyun untuk terus terbuka lebar disaat pemiliknya akan mengapit kepalanya disana.

"CHANYEOL CEPATLAH!"Apa yang ia maksud dengan kata cepat adalah untuk meminta Chanyeol memasukkan miliknya yang besar dan panjang itu kedalam lubangnya yang tengah berkedut getar membutuhkan sentuhan dari dalam tapi pada kenyataannya Chanyeol hanya menjilati lubang luar miliknya dan entah bermain dengan apa dibawah sana yang mana membuai Baekhyun dengan begitu gilanya.

Kedua tangan wanita itu bahkan kini meremas erat selimut dibawah badannya, sementara badannya tengah dalam posisi setengah duduk dengan kepala yang mendongak kebelakang dan bergerak tak beraturan melawan gerakkan kepala Chanyeol disana, bahkan Baekhyun tak kuat menahan kedua pahanya yang bergetar ketika pencapaiannya semakin dekat.

Erangan desahan yang sebelumnya terdengar memekik keras kini hanya tertinggal hanyalah deru nafas tak beraturan dan keadaan badan Baekhyun yang kembali berbaring lemas diatas ranjang. Matanya terpejam erat sementara mulut terbuka kecil untuk membantu dirinya bernafas dengan baik karena jelas dari raut wajahnya wanita itu tengah kesulitan bernafas dengan baik.

Badannya bergetar ketika Chanyeol kembali menciumi bagian perut, dada dan bahunya dan kembali ke posisi semula sebelum ia berakhir dibagain intim Baekhyun sebelumnya.

"Kenapa kau selalu memintaku menikahimu bukan disaat yang tepat." Chanyeol berucap dengan suara menantang tepat dihadapan wajah Baekhyun.

Baekhyun mengatur nafasnya berulang kali sedangkan pikirannya bekerja untuk mencerna apa yang Chanyeol katakan.

"A-apa maksudmu?"

"Masih belum ingat ketika kau mabuk karena menghabiskan hampir 10 botol soju?"

Baekhyun menggelengkan kepala. "Kenapa? Apa yang terjadi—" Baekhyun menahan kalimatnya. Pikirannya kembali mengingat bagaimana mungkin Ia bisa menghabiskan 10 botol soju seorang diri.

"Mereka benar – benar memaksaku untuk menikah hah." Baekhyun memainkan gelas kecil yang ada ditangannya. Membiarkan cairan berwarna putih itu bergerak mengikuti perputaran gelas dimana semua terkoordinasi dengan gerak tangannya. Wajah gadis itu tengah memerah bahkan gerakkan matanya yang berkedip terlihat pelan dan sayu dibandingkan sebelum – sebelumnya. "Aku dijodohkan. Meskipun ayahku sudah hidup tenang dialam sana ia tetap membuatku menikah dengan pria yang ia anggap cocok untukku. Baekhyunnaah~ percintaanmu menyedihkan."

Mulutnya tak berhenti mengeluarkan kalimat – kalimat yang berisikan protes sementara disekelilingnya tidak ada satupun yang mendengarkan.

Sudah enam tahun berlalusejak kejadian kecelakaan yang menimpa mendiang kedua orangtuanya dan permasalahan yang masih menjadi beban pikirannya adalah surat wasiat untuk Baekhyun yang dititipkan kepada Pengacara keluarga Byun dan belum diijinkan oleh gadis itu untuk dibacakan kepadanya. Sang Pengacara selalu berusaha keras agar Baekhyun mengijinkan dirinya membuka isi surat dan membacakan apa yang tertulis didalamnya—tapi Baekhyun menolak.

Ia menolak mendengarkan isi surat itu yang ia yakini hanya menjelaskan proses pembagian harta dan nama seseorang yang dijodohkan dengannya.

"Hey tampan! Kau mau menikah denganku?" Baekhyun memanggil salah satu pengunjung kedai minum dimana sedari tadi dirinya telah duduk berjam –jam dan menghabiskan hampir 10 botol soju di mejanya seorang diri.

"Yaa.. yaa.. kalian mau kemana. Aku kesepian disini.." Baekhyun lagi – lagi memanggil beberapa pengunjung yang akan beranjak pergi dari kedai tersebut.

"Tidak adakah yang mau menikah denganku sekarang? Aku punya warisan banyak! Hei—hei—tampan—kemarilah!" Baekhyun beranjak bangun meskipun ia kembali jatuh pada posisi duduknya. "Aaahh.. kau sudah punya kekasih rupanya.." Ia menyandarkan badannya melihat satu per satu pengunjung yang mulai terlihat berkurang dibandingkan sebelumnya. "Aku tidak memiliki kekasih.." Baekhyun meminum kembali soju yang tersisa di gelasnya dan membuangnya dengan asal diatas meja. Tangannya kini meraih satu botol soju yang diisi hampir setengah botol cairan soju didalamnya.

"Aku hanya memilikimu soju sayang.."

Baekhyun memeluk botol itu dalam dekapannya dan bersandar kembali pada tempat duduknya, pikirannya masih dipenuhi dengan segala perbincangan hasil pertemuan dirinya dengan segenap keluarga besar dan juga pengacara keluarganya.

"Kalian tidak memikirkan perasaanku hm.." gumamannya terdengar lagi. Ketika getaran pada mantel yang disebabkan oleh panggilan pada ponsel miliknya masih ia abaikan sejak ia melangkah keluar dari tempat pertemuan sebelumnya.

Baekhyun masih duduk termenung dengan memeluk botol soju yang berada dalam dekapannya, posisinya jelas terlihat sangat tidak elit bagi para mata yang memandang. Bersandar pada punggung kursi dengan kedua kakinya diluruskan pada kursi yang lain. Tatanan rambutnya jelas terlihat berantakkan dan jangan lupakan wajahnya yang kian memerah sementara matanya perlahan – lahan bergerak sayup tertutup.

Kesadarannya mulai menghilang lenyap ingin bergabung dalam dunia mimpi yang tengah memanggilnya, sapaan dari pelayan kedai yang meminta ijin untuk mengambil beberapa botol kosong bahkan dihiraukan tapi ia cukup sadar ketika sosok yang ia kenal dan ia harapkan kedatangannya muncul di hadapannya meskipun sosok itu tidak mengeluarkan satu kata pun padanya.

"Chanyeol—ah.. kau mau menikah denganku kan—"

Belum selesai ia menyelesaikan kalimatnya atau pun mendengar balasan dari sosok itu, Baekhyun lebih dulu terlelap dalam keadaan mabuk.

"Kau mengajakku menikah disaat kau mabuk? Hah, benar – benar tidak bisa kupercaya." Chanyeol menahan tawanya berdiri di dekat meja Baekhyun dan memperhatikan gadis dihadapannya terlihat sangat berantakkan dan juga kacau. Belum lagi pandangan matanya melihat seberapa banyak minuman yang berhasil gadis itu habiskan hanya dalam kurun waktu kurang dari 4 jam—semenjak Ia tidak bisa menghubungi Baekhyun.

Tak lama setelah ia membayar semua tagihan yang Baekhyun pesankan sebelumnya, ia langsung menggendong Baekhyun dalam dekapannya dengan hati – hati, membawanya masuk dalam mobil yang ia kendarai dan bergerak pergi dari kedai itu.

Baekhyun baru menyadari ingatan dirinya ketika pertama kali ia memutuskan untuk meminum soju seorang diri kala itu dan tidak bisa membayangkan bagaimana ia bisa tanpa malu bertingkah mabuk pada pengunjung – pengunjung disana.

"Kau baru ingat?" Chanyeol berucap kearahnya sementara ia masih terdiam melihat kearah Chanyeol. Pria itu pasti kini tengah menertawakan dirinya—batinnya.

"Itu sungguh memalukan." Baekhyun menutup wajahnya dan membalikkan posisi badannya memunggui Chanyeol.

"Untuk itulah aku tidak mau kau minum minuman beralkohol seorang diri." Chanyeol berucap sementara badannya bergerak mendekati Baekhyun. Membawa badan wanita itu dalam pelukannya dengan kedua tangannya sementara bibirnya memberikan kecupan – kecupan singkat pada tubuh belakang Baekhyun.

Baekhyun membiarkan Chanyeol menjelajahi setiap bagian tubuh belakangnya dengan mulut dan lidahnya sementara dirinya masih mengingat percakapan yang ia lakukan sebelumnya dengan Chanyeol. Pria itu tidak memberikan jawaban. Bahkan tidak mengatakan apa yang Baekhyun inginkan akan dipikirkan atau mungkin dipertimbangkan di hari – hari berikutnya. Tidak ada jawaban dari Chanyeol. Baekhyun bahkan masih ingat dengan jelas, Chanyeol menjawab dengan mencumbui badannya.

"Chanyeol.." Baekhyun sedikit menoleh untuk melihat pria dibelakangnya kini masih membuai badannya.

"Hm.. hm.."

"Kau belum menjawab pertanyaanku." Baekhyun menahan posisi wajahnya sedikit kearah Chanyeol. Kalimat yang ia lontarkan berhasil menghentikkan gerakkan tangan dan bibir Chanyeol dalam seketika.

Mereka berdua masih terdiam dalam pikiran masing – masing, biasanya Baekhyun akan memaksakan apapun yang ia inginkan sementara Chanyeol biasanya akan memberikan jawaban dan apapun yang Baekhyun inginkan dan menjawab semua pertanyaan yang Baekhyun tanyakkan padanya.

Tapi semuanya berubah.. sepenggal kalimat yang Baekhyun katakan berhasil membekukan suasana.

Baekhyun tidak tahu dibalik punggungnya Chanyeol memejamkan matanya dan berpikir mengenai apa yang harus ia jelaskan kepada Baekhyun. Dan sama halnya dengan Chanyeol dimana ia juga tidak tahu apa yang ada dipikiran Baekhyun saat ini.

e)(o

Dangerous Romance