Dangerous Romance
Chapter 19
"Kau pasti tahu sesuatu mengenai ini."
Sehun mengusap wajahnya dengan kasar dan beranjak berdiri menjauh dari meja kerjanya menghindari pertanyaan dan pernyataan yang sama sejak beberapa menit yang lalu terus ditujukan padanya.
"Aku benar – benar tidak tahu."
"BOHONG!" Teriakan kencang dilontarkan Luhan kearahnya. Wanita berdarah China itu bahkan mengikuti dirinya yang kini tengah melangkah hendak mengambil sebotol minuman dingin dari dalam lemari pendingin di pojok ruangannya. "Kau orang kepercayaannya, kau bahkan menyimpan segala dokumen perjanjian percintaan bodoh mereka tidak mungkin kau tidak tahu apa yang Chanyeol rencanakan selama ini."
"Aku berkata jujur."
"TIDAK! Kau menyebutkan kata 'mereka' itu berarti antara Chanyeol dan orang lain dan ini sudah pasti ada hubungannya dengan Baekhyun."
"Aku tidak tahu—
"OH SEHUN!" kesabaran Luhan mencapai batas maksimalnya, ia bukan hanya berteriak melainkan memukul bagain punggung Sehun dengan tas tangan yang ia genggam sedari tadi dan tentu saja itu terasa menyakitkan bagi Sehun. Pria berwajah campuran Korea dan Inggris itu bahkan mengaduh dan berusaha menahan tangan Luhan agar tidak memukulnya lagi.
"Chanyeol mendaftarkan diri mengikuti wajib militer."
Kris bersuara. Sedari tadi pria itu memperhatikan isi email yang ada dikomputer Sehun dan mengabaikan perdebatan antara Luhan dan Sehun, ia terdiam tak itu berkomentar sementara tangan – tangannya bergerak membuka semua file yang berhubungan dengn Chanyeol pada komputer Sehun.
"Kau melihat semua data milik klien-ku?" Sehun memburu langkahnya mendekat kearah meja kerjanya. "Yaaa! Kau membaca semuanya?! Haish!"
Luhan semakin bingung. "Bisa kalian jelaskan apa yang terjadi?"
Sehun terdiam menatap kesal kearah Kris yang juga kini bersandar pada kursi kerja Sehun, ia membalas tatapan yang diberikan Sehun tapi tidak menunjukkan sedikit pun kekesalan atau rasa marah terhadap temannya itu.
"Chanyeol mendaftakan diri untuk ikut wajib militer, dimana seharusnya ia mendaftarkan diri ketika usianya 30 tahun."
Luhan menoleh kearah Yoora yang tengah memberikan jawaban dari pertanyaan yang ia tanyakkan pada Sehun sebelumnya. "Ia mendaftarkan diri dan itu semua beralasan hanya karena Baekhyun."
"Kenapa?" Luhan bertanya lagi. Kali ini merasa hanya dirinyalah sosok yang bodoh dan tidak mengerti apapun mengenai apapun yang berhubungan dengan Chanyeol dan juga Baekhyun. "Chanyeol akan menikah dengan Baekhyun 'kan? Itu yang kita rencakan selama ini bukan?"
"Rencananya masih sama, yaitu menikahkan Chanyeol dengan Baekhyun sebelum mengetahui masalah perjodohan—"
Kris berucap, tatapannya menuju kearah Luhan yang duduk cukup jauh darinya. "Tapi kita tidak tahu apa yang Chanyeol rencanakan ketika ia tahu siapa pria yang dijodohkan untuk Baekhyun."
Luhan terdiam penuh perasaan aneh mendengar apa yang dikatakan Kris. "Tung-tunggu.. maksudmu?"
"Chanyeol sudah tahu siapa pria yang dijodohkan untuk Baekhyun oleh mendiang Tuan Byun." Kris masih menjelaskan kearah Luhan namun tangan pria itu kembali bergerak lincah pada keyboard komputer Sehun dan meminta sang empunya mengambil semua berkas yang ia tampilkan pada layar komputernya.
Sehun menuruti dan melangkah mendekat pada lemari penyimpanan dokumennya, mengambit satu bundle map yang bertuliskan nama Chanyeol dan Baekhyun disamping sisi map itu dan memberikannya pada Kris dimana pria China itu sudah berpindah duduk bergabung dengan Yoora dan Luhan.
"Chanyeol merencanakan semuanya." Kris menerima bundle map yang Sehun berikan kearahnya. "Dan ahli hukum serta seseorang yang membuat bukti perjanjian antara Chanyeol dan The Man bahkan tidak menyadarinya." Ucapan pada kalimat terakhir jelas ia maksudkan untuk memberikan sindiran pada Sehun.
"Perjanjian antara Tuan Park Chanyeol dengan Tuan Shim C." Kris membacakan judul pertama pada halaman depan print out perjanjian yang telah diberikan keterangan sign pada bagian depannya.
"Aku tidak tahu mengenai perjanjian itu." Sehun menunjuk pada sebuah tanda tangan dibawah halaman tersebut yang tertera marga Oh.
"Tapi disini ada namamu Oh Sehun." Suara Luhan penuh penekanan.
"Itu nama Ayahnya." Luhan terdiam dan memeriksa kembali nama yang tertera dibawah sana dan memang disebutkan dengan jelas bahwa yang membuat dokumen perjanjian itu adalah Ayah Sehun. "Mendiang Tuan Byun yang memberi tahu siapa namja yang dijodohkan untuk Baekhyun, dan dari pembicaraan Tuan Byun dan Chanyeol sesaat sebelum Tuan Byun meninggal.. Chanyeol menemui namja itu.. sebelum pada akhirnya mereka membuat sebuah perjanjian."
Dangerous Romance
"Pertanyaanku untukmu masih sama Tuan Muda Park."Tuan Byun menyingkap kedua tangannya didepan dada dengan kedua matanya menatap dalam dua manik hitam milik Chanyeol. "Apa kau benar – benar mencintainya?"
Chanyeol kembali bungkam.
"Jangan kau pikir aku tidak mengerti mengenai cinta." Kedua tangan Tuan Byun terbebas dan kini bersandar pada lengan sofa tempat duduknya. "Aku tahu kau mungkin berpikir kenapa aku menanyakkan hal ini padamu sedangkan aku tahu pria yang dijodohkan untuk Puteri-ku pun pasti tidak mungkin memiliki perasaan cinta terhadapnya—tapi mereka pasti akan menikah dan hdiup bersama bagaimana pun juga bukan? Kau mengerti maksudku?"
Chanyeol menggeleng. "Maaf Tuan, aku tidak mengerti."
Tuan Byun sedikit tersenyum kearah Chanyeol. "Aku menjodohkan Baekhyun dengan lelaki yang kelak akan menjadi pria hebat, kesuksesan dan kemapanannya akan menjamin hidup Puteriku dengan baik, tanpa cinta ia bisa menjalani hidup bahagia dengan pria itu nantinya. Lalu bila kau memohon agar bisa menikahi Puteriku—tanpa ada rasa cinta? Bukankah itu sama saja dengan pria yang aku jodohkan?"
Kalimat itu barulah membuat Chanyeol tersadar. Tanpa cinta yang ia miliki itu sama saja dengan ia memaksakan diri untuk memiliki Baekhyun seutuhnya dan hanya menjamin kehidupan gadis itu dalam segi finansial.
Bukan memberikan kebahagiaan untuk hati dan perasaannya.
"A—aku.. aku.. bisa mencintainya." Chanyeol menunduk dan berlutut menghadap kepada Tuan Byun yang sontak bangkit berdiri melihat apa yang Chanyeol lakukan dihadapannya. "Aku yakin bisa mencintainya Tuan. Aku sudah menyayanginya sejak dulu sebagai teman dan sahabatku.. dan aku yakin pasti kami bisa memiliki perasaan cinta satu sama lain suatu saat nanti." Kedua telapak tangannya menyatu sempurna dan berulang kali Chanyeol membungkuk meminta waktu dan kesempatan agar ia bisa menunjukkan rasa cintanya pada Baekhyun dihadapan Ayahnya. "Aku memohon padamu Tuan Byun, biarkan Baekhyun tetap bersamaku hingga waktu untuk pernikahannya dan aku akan menunjukkan padamu bahwa aku memang sangat mencintainya."
"Kau bahkan akan berkuliah di Oxford, Tuan Muda—
"Aku mendaftarkan diri di Standford." Chanyeol menjawab lantang dan bangkit berdiri berani menatap Tuan Byun dihadapannya. "Aku akan kuliah di Standford dan berjanji padamu Tuan, aku akan menjaga Baekhyun dalam kondisi apapun. Aku akan membuktikan padamu aku bisa mencintai dirinya sepenuh hati dan menjaga ia dengan baik."
Tuan Byun mematung mendengar semua yang Chanyeol lakukan dan katakan padanya, sungguh aneh. Lelaki berusia 19 tahun dihadapannya berani mengubah masa depannya yang akan terlihat sempurna mendapatkan kesempatan untuk kuliah di Inggris dan beralih mengejar ilmu di Negara lain hanya untuk membuktikan bahwa dirinya bisa menjadi pria yang mencintai seorang gadis keras kepala.
"Park Chanyeol…" Chanyeol mendongak menatap kearah Tuan Byun yang kini berada dekat dihadapannya. "Aku menunggu bukti dari apa yang kau katakan padaku." Tuan Byun tersenyum dan menepuk bahu Chanyeol dengan kedua tangannya.
Kala itu Chanyeol merasa lega—perjodohan Baekhyun bisa saja berubah.
"Jadi.. kau yang bernama Park Chanyeol."
"Dan kau adalah Shim Changmin?"
Pertemuan pertama kedua pria yang mendapatkan surat wasiat selang tiga hari semenjak Tuan Byun dimakamkan.
"Apa isi surat yang kau dapatkan?" Pria yang Chanyeol panggil dengan nama Shim Changmin itu menunjukkan arah matanya yang melihat amplop surat ditangan Chanyeol sedari tadi genggam.
"Akan lebih baik bila kita membukanya bersamaan bukan?" Chanyeol berucap angkuh bahkan kepalanya sedikit mendongak menatap kembali kearah pria itu.
"Aku setuju, kau tidak keberatan kita membukanya tepat didepan gedung ini?" Changmin menoleh kembali dan menunjuk Gedung Kantor dimana mereka baru saja melangkah keluar setelah menemui Pengacara Keluarga Byun.
"Well.. tidak peduli dimana tempatnya kalau itu adalah berita bahagia maka aku akan merasa bahagia. Dan bila itu ada berita buruk untukku maka aku tidak mau kembali lagi berdiri di depan gedung ini karena akan membuatku teringat menjadi pihak yang kalah untuk mendapatkan seorang gadis." Jawaban Chanyeol terdengar santai, bahkan wajahnya tidak menunjukkan ketakutan atau pun kegelisahan berhadapan dengan pria yang ia jelas tahu pria tersebut adalah pria yang akan dijodohkan oleh Baekhyun.
"Dalam hitungan ketiga.."
"Satu." Chanyeol langsung mengucapkan angka pertama dan bersiap membuka isi dalam amplop yang ia pegang.
"Dua." Sama halnya dengan Changmin yang melakukan hal yang sama.
"Tiga."
e)(o
Dangerous Romance
"Mereka mendapatkan surat wasiat?" suara Luhan dan Kris terdengar bersaman tepat ketika Yoora menjeda lanjutan ceritanya mengenai bagaimana Chanyeol yang menjadi satu – satunya sosok yang mengetahui siapa pria yang akan dijodohkan dengan Baekhyun.
"Sial! Jadi pengacara itu tahu siapa yang dijodohkan dengan Baekhyun! Kurang ajar!" Kris masih melanjut mengumpati nama sang pengacara hingga ia bahkan mengancam akan meneror langsung ketika ia kembali ke China secepatnya.
"Yang jelas isi surat itu tetap kembali dihubungkan pada Baekhyun." Yoora melanjutkan lagi bercerita dan kalimat yang ia katakan membuat alis Luhan dan Kris kembali terbentu tak beraturan mendengar apa yang dikatakan olehnya.
"Bisa kau ceritakan kembali lebih detail? Aku rasa otakku mulai bekerja secara lambat karena penjelasan sebelumnya."
Yoora tertawa sebentar mendengar apa yang Luhan katakan kearahnya. "Isi surat itu—
"Melalui surat ini, saya Byun Heechul menyampaikan dengan setulus dan sepenuh hati kepada Park Chanyeol mengenai perjodohan yang selama ini kami bicarakan dengan keadaan hati yang saling terbuka satu sama lain. Dan jawaban dari semua pertanyaan yang ia miliki sampai dengan detik dimana ia membaca surat yang ku tinggalkan ini adalah.."
Sehun menatap satu per satu wajah Luhan dan Kris yang tengah menegang mendengar apa yang ia katakan berdasarkan apa yang tertulis diatasnya.
"YAK! KAU MEMBUATKU MATI PENASARAN!" Kris beranjak dengan emosi yang tengah meliputi perasaannya. Tangannya dengan cepat mengambil kertas itu dan matanya terlihat bergerak cepat membaca bagian akhir kalimat penjelasan disana.
"Sial! Byun Baekhyuuuuunnnn!" Kris berteriak memanggil nama Baekhyun dengan kencang sementara tangannya meremas kasar kertas yang ia pegang.
"Apa.. kenapa? Apa jawabannya? Siapa yang akan menikah dengan Baekhyun akhirnya?" Luhan yang masih merasa belum mendapatkan jawaban dari pertanyaan dikepalanya sedari tadi mendekat kearah Kris dan bahkan tangannya mengambil secarik kertas yang kini nampak tak terbentuk sempurna.
"Percuma kita merencanakan semuanya dan bahkan Chanyeol harus membuktikan segala janji yang ada kepada Tuan Byun bila semua jawaban itu ada pada Byun Baekhyun!" Kris masih berteriak penuh amarah. Kini ia menagmbil kembali bundle map yang berada diatas meja Sehun dan membuang nya tepat diatas meja di lain didekat Yoora.
"Aku semakin tidak mengerti.."
"Duduklah dulu Luhan, aku akan menjelaskan yang aku ketahui lagi." Yoora menggandeng tangan Luhan dan memaksa wanita itu untuk duduk disebelahnya. Kris ikut menyusul dan duduk diseberang tepat dimana Luhan duduk dengan Yoora.
"Changmin dan Chanyeol mendapatkan isi surat yang sama seperti tertulis disurat ini." Yoora mengambil alih surat itu berusaha untuk merapikan kembali bentuk kertas itu seperti sedia kala. "Seperti tertulis disini, mengenai perjodohan untuk Baekhyun telah Tuan Byun tuangkan pada surat wasiat yang ia tinggalkan untuk Baekhyun—
"Dan sepupu kita yang keras kepala dan bodoh itu belum mau membaca sedikit pun kalimat yang dituliskan didalam sana sampai detik ini dan mungkin sampai usainya 30 puluh tahun atau entahlah! Hanya dirinya dan Tuhan yang tahu!"suara Kris masih terdengar penuh emosi dan rasa kesal yang terpendam disana.
Luhan masih menjadi pihak pendengar yang baik namun dirinya tengah berpikir. "Bukankah akan lebih baik kita memaksa Baekhyun membaca isi surat wasiat itu?"
"Chanyeol dan Changmin memiliki perjanjian." Yoora melanjutkan penjelasannya. "Mereka berjanji tidak akan memaksa Baekhyun untuk membaca isi surat wasiat itu bila bukan kehendaknya sendiri. Dan semua perjanjian yang Chanyeol buat dengan Baekhyun selama ini itu semua ada hubungannya dengan perjanjian yang Chanyeol buat dengan Changmin."
"Well,semuanya kembali lagi kepada Baekhyun." Changmin melipat kembali kertas ditangannya.
"Jawabannya berada di tangan Baekhyun." Chanyeol menambahkan.
Kedua pria itu terdiam dan menatap satu sama lain. Tidak ada yang bisa meluapkan kegembiraan atau pun kesedihan akan apa yang tertulis pada surat yang mereka terima saat ini.
Teruntuk Tuan Muda Park Chanyeol,
Pria yang selama ini telah berada disisi Puteriku dalam keadaan apapun dan dimanapun
Dan dengan kebesaran hati yang kau miliki rela mengorbankan apapun untuk kebahagian Puteri kecilku satu – satunya Byun Baekhyun.
Dalam kurun waktu beberapa tahun belakangan ini kau telah memperlihatkan dan membuktikan padaku atas semua pertanyaan yang aku sempat tanyakkan padamu mengenai perasaanmu terhadap dirinya.
Dan aku sudah mengetahui jawabannya.
Tapi jawaban yang kau nantikan semua ada didalam surat yang aku tinggalkan pada Puteriku Byun Baekhyun, karena aku ingin ia yang memberikan jawabannya pada dirimu untuk lebih pantasnya.
Terima kasih untuk semuanya Tuan Muda.
Aku akan selalu mendoakan kalian berdua, selamanya.
Tertanda,
Byun Heechul
"Chanyeol dan Changmin sama – sama mendapatkan surat yang sama. Hanya berbeda beberapa kalimat penjelasan didalamnya, tapi pada intinya sama. Semua pertanyaan mengenai siapa pria yang dijodohkan oleh Baekhyun tertuang dalam surat yang ditinggalkan mendiang Tuan Byun untuk puterinya." Yoora mengambil alih bundle map masih berada digenggaman tangan Kris. "Chanyeol dan Changmin sama – sama setuju untuk tetap menjaga dan melindungi Baekhyun hingga sampai tiba waktunya wanita itu berkeinginan untuk membaca suratnya. Perjanjian yang mereka buat pada awalnya memojokkan Chanyeol karena adikku lah yang akan selalu bersama Baekhyun di setiap waktunya, kalian tentu tahu bukan Baekhyun sama sekali tidak mengetahui nama Changmin dalam urusan bisnis selama ini—untuk itulah Changmin meminta Chanyeol membuat sebuah perjanjian dimana ia seharusnya tidak boleh jatuh cinta pada Baekhyun tanpa sepengetahuan dirinya, ia dilarang untuk melakukan skinship, berciuman, dan tentu saja bercinta dengannya."
Luhan, Kris dan Sehun terdiam bersamaan, dan tidak ada satu pun dari mereka yang berniat melontarkan komentar dengan apa yang Yoora jelaskan mengenai Changmin dan juga mengenai awal mula perjanjian bodoh yang Chanyeol buat dengan Baekhyun.
"Semua perjanjian yang Chanyeol buat dengan Baekhyun adalah untuk pembuktian kepada Changmin bahwa Baekhyun akan tetap ia lindungi dan jaga sebaik mungkin." Yoora membuka semua perjanjian yang Chanyeol buat dengan Changmin, semua perjanjian yang Chanyeol buat dengan Baekhyun juga termasuk didalamnya.
"Dan itu alasannya ia memintaku membuat salinan perjanjian percintaan dirinya dengan Baekhyun dalam format yang berbeda." Sehun membuka dokumen perjanjian terakhir yang ia buat untuk Chanyeol dan menunjukkan pada mereka semua. "Chanyeol Hyung memintaku membuat perjanjian yang berbeda dengan perjanjian yang ia miliki dengan Baekhyun—perjanjian percintaan mereka—" Sehun menjelaskan. "Awalnya aku tidak paham kenapa ia membuat dengan format yang berbeda, bahkan isi perjanjian ini bukanlah mengenai persetujuan mereka untuk menikmati tubuh masing – masing—
Kris dan Luhan mendelik tajam mendengar kalimat yang Sehun katakan karena pengertian kalimat tersebut memiliki banyak arti yang beragam.
"Ya kalian sudah tahu apa maksudnya bukan." Sehun tidak memperdulikan dan membandingkan kembali dokumen –dokumen yang sudah ia buat atas permintaan Chanyeol.
"Lalu.. hubungannya dengan mereka mengikuti wajib militer bersama?" Luhan menanyakkan pertanyaan sejak awal yang belum juga dijawab oleh siapa pun.
"Pembuktian untuk menjadi seorang pria sesungguhnya." Yoora menjawab santai. Badannya bersandar pada bagian sofa sementara kakinya tersilang anggun. "Aku pernah mendengar Chanyeol memohon pada Ayahku untuk mendaftarkan dirinya mengikuti wajib militer dan alasanya karena ia tidak mungkin menikah dengan Baekhyun bila ia belum menjadi Pria sesungguhnya."
Kris menganggukkan kepala dan bertepuk tangan seorang diri tak lama Yoora terdiam menyelesaikan ucapannya. "Such a gentleman." Mulutnya berucap kalimat pujian.
"Mereka mendaftar bersama, dan akan menyelesaikan bersama.. dan disaat mereka telah selesai Baekhyun akan menikah dengan salah satunya." Luhan mencoba menjabarkan kesimpulan yang berhasil ia dapatkan setelah mendengar semua penjelasannya. "Apa Baekhyun tahu mengenai ini?" Ia bertanya pada Yoora, lalu Kris dan terakhir menatap Sehun. Berharap mendapatkan sebuah penjelasan mengenai pertanyaan terakhirnya.
"Bagaimana? Apa Baekhyun tahu mengenai masalah wajib militer ini? karena seingatku, berdasarkan perjanjian percintaan bodoh itu." Tangannya menunjuk judul dokumen perjanjian terkahir yang Chanyeol dan Baekhyun buat. "Kita harus membuat Baekhyun luluh dan mau mencintai Chanyeol dan bahkan menikahinya—dan juga berharapa ia membuka surat yang ditinggalkan dari mendiang ayahnya, iya kan? Tidak ada yang menjelaskan padaku mengenai rencana wajib militer yang Chanyeol rencanakan dengan Changmin."
Tidak ada yang menjawab.
Kris terdiam tengah memikirkan akan seperti apa bila Baekhyun mengetahui bahwa Chanyeol akan meninggalkan dirinya dan juga perusahaan yang mereka berdua pimpin selama mungkin lebih dari dua tahun. Belum lagi mengenai perasaan mereka yang jelas terlihat akan sulit terpisah dalam jarak dan waktu yang cukup lama.
Sementara Sehun, pria itu kini mengetahui alasana kenapa Chanyeol pernah meminta sesuatu hal padanya. Sesuatu yang dulu ia anggap membingungkan dan sangat tidak masuk akal tapi kini semua mulai terjawab.
"Tambahkan pada perjanjian itu, bahwa siapapun yang telah mengakui telah jatuh cinta pada satu sama lain. Ia akan pergi, meninggalkan salah satu pihak, tapi bila salah satu pihak tidak menyetujuinya—maka ia tidak boleh pergi dan meninggalkan pihak lain."
"Hyung.." Sehun tersenyum bermaksud mengejek Chanyeol karena ia tahu pria itu tidak mau Baekhyun meninggalkan dirinya atau pun dirinya meninggalkan Chanyeol.
"Jangan tersenyum bodoh. Cepat selesaikan agar aku bisa tidur tenang."
Sehun menganggukkan kepala dan mulai menyusun kembali draft – draft perjanjian itu pada layar komputernya.
"Aku butuh fotografer yang handal untuk mengambil fotoku dengan Baekhyun."
Sehun menahan suapan makanannya agar tidak masuk dalam mulutnya tepat ketika Chanyeol mengucapkan kalimat itu kearahnya.
"Untuk?"
"Jangan bertanya, cukup lakukan saja." ucapan Chanyeol bagaikan perintah yang sulit untuk dibantah dan terdengar memaksa untuk dilakukan.
"Semua benar – benar terjawab." Suara Sehun pada akhirnya yang memecah keheningan setelah cukup lama suasana diam dan tenang memenuhi ruangan dimana mereka berempat masih duduk bersama. "Alasan kenapa Chanyeol membuat perjanjian bercinta dengan Baekhyun dan lain sebagainya, bagaimana Chanyeol yang meminta media mengambil gambarnya tapi menahannya agar tidak ada satupun foto yang beredar hingga pada akhirnya membuat sebuah berita penuh skandal mengenai dirinya, dan juga alasannya kenapa ia mengulur waktu untuk menghadiri acara talkshow pada sebuah media televisi. Semuanya benar – benar ia rencanakan." Sehun menjelaskan sementara ia menunjukkan raut wajah yang jelas tengah berpikir kosong dan terlihat kaku, bahkan ia tidak mengetahui ketiga orang lain yang berada disekitarnya menatap kearahnya dengan tatapan bingung.
"Chanyeol benar – benar merencanakan semuanya." Ia berucap lagi untuk kedua kalinya.
Dangerous Romance
"Gossip mengenai dirimu dengan wanita tengah beredar diseluruh kota? Ada apa ini?"
"Hanya sebuah gossip. Itu akan menghilang dengan cepat."
"Park Chanyeol yang selalu percaya diri eh?"
"Kau bisa menyebutku seperti itu."
Pembicaraan mereka sempat terdiam tanpa ada sahutan dari pihak diseberang sana ataupun pernyataan lain dari Chanyeol.
"Aku sudah mendapatkan surat mengenai tanggal wajib militerku."
"Begitu pun denganku."
"Aku tidak diijinkan mempercepat proses ini, Pihak Militer sepertinya tahu kesibukkanku dengan perusahaan serta aktivitas lainnya."
Mendengar apa yang dikatakan oleh pihak di seberang ponselnya jauh sana membaut Chanyeol tersenyum membanggakan dirinya. Shim Changmin namanya. Pria yang beberapa tahun belakangan sering Chanyeol temui dan membicarakan mengenai satu – satunya wanita yang menjadi alasan mereka berdua saling bertemu.
Changmin adalah pria yang akan dijodohkan oleh Baekhyun atau dalam kalimat yang selalu Chanyeol pikirkan, Changmin adalah saingan dirinya untuk mendapatkan Baekhyun.
"Aku mendapatkan ijin mereka."
Tidak ada sahutan dari seberang sana dan Chanyeol sangat yakin Changmin merasak kalah dari dirinya. Pada awal rencana yang mereka buat, mereka berdua berharap bisa mengikuti kegiatan wajib militer kali ini dan menyelesaikannya dengan cepat tepat sebelum usia Baekhyun menginjak usia 30 tahun karena dengan begitu siapapun yang akan menikah dengannya bisa langsung menyelenggarakan pernikahan tanpa harus menunggu waktu untuk menyelesaikan kewajiban negara itu.
Lebih tepatnya mereka berdua jelas menginginkan memiliki Baekhyun dengan resmi tanpa harus melakukan persaingan kembali.
"Kau harus meninggalkannya."Changmin hanya meloloskan satu kalimat pendek menyahuti apa yang Chanyeol infokan padanya.
"Aku harus, dan kau tidak berhak memilikinya meskipun aku tidak ada."
Changmin terdengar mendengus tertawa disana. "Aku tahu Tuan Muda."Dan tak lama sambungan mereka terputus dengan Changmin yang berpamitan lebih dulu mengingat ia memiliki pekerjaan lain jauh disana.
Chanyeol terdiam dan melihat kembali isi email di ponselnya dimana pemberitahuan mengenai tanggal dimana ia harus pergi menyelesaikan wajib militernya hanyalah tinggal dalam hitungan minggu. Ia memang berharap akan diijinkan mengikuti wajib militer dalam waktu dekat, tapi bukan dalam hitungan secepat ini dan dalam hitungan minggu seperti ini.
Saatnya tidak tepat.
Ketika dirinya menginginkan untuk menikmati waktu lebih banyak dengan Baekhyun, ketika dirinya tengah memikirkan apakah memungkinkan untuk meminta atau tepatnya memaksa Baekhyun menikah dengannya dan menuruti seperti yang diinginkan wanita itu sebelumnya. Menikah dan pergi dari Korea.
Tapi pada akhrinya, ia harus meninggalkan wanita itu hanya untuk pembuktian dan menepati janji yang telah ia buat kepada Mendiang Tuan Byun—ayah Baekhyun.
e)(o
Dangerous Romance
"Chanyeol aku lapar.."
"Kau sudah mendapatkan makananmu Baek." Chanyeol menjawab disela – sela kegiatannya menciumi bahu Baekhyun yang kini tengah duduk di meja makan dan masih mencoba untuk menghabiskan makanan dihadapannya dimana Chanyeol tengah memasak dan menyiapkan untuknya.
"Bagaimana aku bisa menghabiskan makanan ini kalau kau terus menciumi badanku! Chanyeol stop ish!" Baekhyun berteriak lebih kencang dan membanting sendok di atas mejanya, ia bahkan bangkit berdiri dari posisi duduknya dan membawa piring makannya ketika ia akan berpindah pada kursi yang lainnya. "Jangan ikuti aku! Habiskan makananmu!" ia memberikan perintah lagi tentu saja ditujukan pada Chanyeol yang akan bersiap mengangkat piringnya dan mengikuti kemana Baekhyun duduk.
Chanyeol menurut. Kali ini pria itu tetap dalam posisi awalnya dan memperhatikan Baekhyun menyantap makanannya secara perlahan dengan matanya tetap terfokus pada Chanyeol bersiaga bila Chanyeol akan mendekat kearahnya lagi dan mencumbui badannya.
"Habiskan makanmu Byun Baekhyun, aku tahu aku tampan." setelahnya Chanyeol menyuapkan sesuap potongan daging pada mulutnya dan juga mengedipkan salah satu matanya yang jelas terarah hanya untuk Baekhyun.
Baekhyun menatap tidak percaya pada Chanyeol dan hanya membalas menggelengkan kepala berusaha mengabaikan apa yang tengah dilakukan pria itu terhadapnya. Entah apa yang terjadi dengan Chanyeol, mungkin pria itu salah minum obat, atau mungkin jiwanya tertukar dengan penghuni rumah baru milik dirinya sendiri atau ah entahlah. Baekhyun tidak mengerti.
Semua terjadi selama perjalanan mereka kembali dari rumah milik Chanyeol menuju apartemen mereka tadi sore. Chanyeol terus menggenggam tangan Baekhyun selama pria itu mengemudikan mobil Ferrari miliknya—yang didapat dari hasil pertaruhan dengan Kris. Tak hanya menggenggam tepatnya, Chanyeol bahkan mencium dan menarik Baekhyun mendekat kearahnya guna mencium bibir milik Baekhyun disetiap pemberhentian lampu lalu lintas sepanjang jalan mereka menuju apartemen.
Hanya berciuman tidak lebih.
Tak hanya itu, ketika mereka memasuki area parkir dan juga melangkah bersamaan masuk kedalam lift menuju lantai apartemen, Chanyeol masih melakukan hal – hal lainnya. Pria itu memeluk Baekhyun dengan erat atau bisa dikatakan tidak membiarkan Baekhyun jauh sedikit darinya. Memeluk dari belakang, mencium bahu dan lehernya dan juga bibirnya tak luput dari cumbuan pria itu. Ketika lift menghantarkan pada area apartemen mereka Chanyeol bahkan dengan cepat membawa badan Baekhyun pada gendongannya, mencium bibirnya dengan penuh gairah dan mendudukkan Baekhyun pada meja dapur. Menghujami bibir, wajah, leher dan setiap bagian wanita itu dengan ciumannya dan mungkin bisa saja mereka berakhir akan bercinta diatas meja dapur bila bukan karena peringatan alami yang keluar dari perut Baekhyun yang disebabkan oleh rasa kelaparannya.
"Chanyeol.. sungguh kau harus menghentikan tingkahmu ini." Baekhyun berujar lagi tak lama ketika Chanyeol memeluknya dari belakang tepat ketika ia menyelesaikan acara makannya.
Chanyeol tak menjawab. Tangannya masih memeluk Baekhyun dari belakang, ia menciumi kepala Baekhyun berulang kali dengan durasi yang cukup lama.
"Chaann.." Baekhyun merengek merasakan risih karena badannya jelas dikukung oleh Chanyeol.
"Mandilah, ayo kita berkencan." Pelukan pada badan Baekhyun dilepaskan oleh Chanyeol, ia sempat mengusak rambut wanita itu sebelum mengambil alih piring bekas makannya dan ia bawa pada tempat cucian piring.
Baekhyun belum menjawab. Wanita itu menggigit bibirnya tak begitu dalam sambil memperhatikan punggung Chanyeol dari tempat duduknya. Memikirkan dan mencerna ajakan yang Chanyeol katakan beberapa menit yang lalu.
"Kita akan berkencan?"
"Hm." Chanyeol menyahut, ia tidak menatap kearah Baekhyun dan memilih menyelesaikan tumpukkan cucian piring ditangannya.
"Maksudmu benar- benar berkencan?" Baekhyun bertanya lagi untuk meyakinkan pendengarannya tidak salah.
"Iya Baek."
Baekhyun terdiam, ia ingin tersenyum sebenarnya tapi masih ia tahan.
"Berkencan seperti pasangan yang lain?"
Chanyeol menghentikkan kegiatan mencucinya, membilas tangannya sebentar dan mengeringkannya dengan handuk lalu berbalik untuk melihat kearah Baekhyun yang nyatanya masih duduk pada kursi meja makan dengan tangannya terlipat rapi diatas meja itu.
"Kita akan pergi berkencan, ya berkencan seperti pasangan yang lain. Mungkin menonton film, atau berjalan – jalan di tempat hiburan lainnya atau kemanapun yang bisa kita jangkau di saat ini mengingat kini sudah pukul lima sore. Jadi kalau kau memang mau kita pergi segeralah mandi sementara aku membersihkan area dapur atau kalau kau tidak menginginkan—
"Aku mandi!" Baekhyun dengan sigap bergerak, berlari meninggalkan dapur dan jelas menuju kamarnya untuk mandi dan bersiap – siap. Chanyeol tersenyum melihatnya lalu memutuskan kembali berhadapan dengan piring – piring serta alat makan yang lainnya.
Pembagian tugas untuk mengurusi apartemen yang mereka tinggali cukup adil sebenarnya. Chanyeol mengambil alih mengurusi dapur dan segala urusan serta perlengkapannya sementara Baekhyun akan mengambil alih mengurusi sisa ruangan yang ada di apartemen ini. Chanyeol juga mendapatkan tugas untuk mengurusi area bermainnya karena Baekhyun tidak mau memikirkan bagaimana meletakkan peralatan billiard yang benar dan mengurusi bola – bola warna warni dan bernomor itu untuk diperhatikan.
Ada alasan kenapa Chanyeol meminta Baekhyun mandi dan bersiap lebih dulu karena wanita itu butuh waktu cukup lama untuk melakukannya. Ketika Chanyeol telah selesai dengan urusan dapurnya dan menyusul Baekhyun di lantai kamar mereka, wanita itu bahkan belum selesai dengan acara mandinya. Sempat Chanyeol terpikir untuk ikut masuk kedalam kamar mandi dan itu sudah pasti akan berakhir dengan acara mari bercinta didalam kamar mandi dan mereka melewatkan acara berkencan.
Untuk itu Chanyeol beralih masuk kedalam kamar mandi dikamar Baekhyun, sementara sang pemilik kamar menggunakkan kamar mandi pada kamarnya.
Chanyeol selesai setelah waktu mandi tak lebih dari 15 menit dan bersiap – siap tak lebih dari 20 menit. Dalam waktu 35 menit ia telah bersiap dengan setelan kaos putih dan celana jeansnya sementara Baekhyun masih mondar – mondar berjalan masuk kedalam kamar Chanyeol ataupun kamar miliknya hanya untuk mencari pakaian apa yang harus ia kenakkan.
"Apa aku tidak apa bila mengenakkan ini?" Baekhyun menanyakkan lagi bagaimana penampilannya. Mengenakkan kaos yang terlihat begitu kebesaran di badannya serta celana jeans selutut pada bagian kakinya. Chanyeol mengangguk, baginya apapun yang Baekhyun kenakkan itu akan terlihat bagus dan indah.
"Kau yakin? Ini tidak terlalu terlihat biasa saja?" Baekhyun bertanya lagi.
"Aku yakin. Baekhyun, kita hanya akan berjalan – jalan layaknya pasangan lain bukan untuk menghadiri acara meeting atau undangan lainnya." Chanyeol bangkit berdiri dari posisinya yang sebelumnya bersandar pada sofa didalam kamarnya menyusul mendekat dan berdiri dihadapan Baekhyun. "Kau cantik mengenakkan apapun.. atau tidak mengenakkan apapun." Chanyeol menyengir lebar setelahnya dan pukulan telak cukup keras ia terima menghantam perutnya.
Baekhyun berbalik cepat meninggalkan Chanyeol yang meringis karenanya.
e)(o
Dangerous Romance
