Tidak mungkin, tidak mungkin, tidak mungkin, TIDAK MUNGKIN!

Aku menarik kedua sisi rambutku dengan sekuat tenaga, AUH rasanya sakit sekali. Aku mencubit kedua lenganku dengan sekuat tenaga, AUH rasanya tak kalah sakit dengan yang tadi. Aku menampar kedua pipiku dengan sekuat tenaga dan rasanya lebih sakit dari pukulan sebelumnya. 'Dunia' ini memang neraka. Semua yang kulakukan terasa menyakitkan.

'Jelaslah, mukul diri sendiri dengan sekuat tenaga pula, sudah pasti menyakitkan,' Otakku memprotes pernyataanku dengan sendirinya.
Uh, rasanya ingin berteriak sekencang-kencangnya.

"Rin, kamu baik-baik saja?" Mungkin karena kelakuanku yang sudah seperti orang setengah waras, 'Papa angkat Rin' berupaya memegang keningku.

"TENTU SAJA TIDAK!" Ups. Aku tak sengaja berteriak menyuarakan perasaanku.

Kelopak mata kanannya menurun, nyaris menutupi penglihatannya. Sebuah senyuman dipaksa untuk menyeimbangi kesedihan yang terukir di wajahnya.

Ukh... Tenangkan dirimu, Rin!

"Oliver-sama, Yang Mulia Pangeran Len datang berkunjung." Seorang wanita berambut sebahu berwarna hitam serta memakai baju kantoran, mendadak muncul di sebelah 'Papa angkat Rin'.
Ternyata ada juga orang dengan pakaian normal di 'Dunia' ini.

"Persilakan dia masuk." Wanita yang kelihatannya asisten 'Papa angkat Rin', menganggukkan kepala dan melangkahkan kakinya meninggalkan kamar 'Rin'.

'Len' ya... kalau tidak salah, dia adalah 'Tunangan Rin' sekaligus Putra Mahkota Kerajaan Voca yang selalu diceritakan Miku-nee.

"Selamat sore Oliver-sensei." Seorang laki-laki dengan rambut kuning lemon terang, memakai baju yang berkilau, tersenyum ramah pada 'Papa angkat Rin'.

"Selamat sore Len-sama." 'Papa angkat Rin' membalas senyumannya seraya membungkukkan tubuhnya.

Kedua mata 'Tunangan Rin' em maksudku Len membesar dan sedikit bersinar ketika melihatku. Mulutnya terbuka, membentuk seringai lebar yang agak aneh namun tidak menyeramkan.

"Rin! Syukurlah kau sudah sadar." Dia berlari kecil menghampiriku dengan iris mata yang semakin bersinar.

Dia terlihat sangat senang seakan mendapati 'Rin' yang terbangun dari tidur panjangnya. Padahal seingatku, 'Rin' cuman koma sehari saja.

"Bukan sehari, Rin-sama. Anda terbaring, tak bergerak selama seminggu lamanya." Aku mengernyitkan dahiku, melototi 'Butler papa Rin'.
Aku sengaja memasang ekspresi yang seolah mengatakan 'Bagaimana, kenapa, darimana kau bisa tahu isi pikiranku?'.

"Oliver-sama, sudah waktunya Anda mengunjungi Duke Muryad-sama." Perubahan intonasi wanita kantoran tadi, membuatku menoleh ke arahnya dan 'Papa angkat Rin'.

'Papa angkat Rin' menatap langsung kedua mataku, mengelus rambutku, "Kamu boleh mengobrol bersama Len-sama sepuasmu. Tapi, jangan sampai kamu lupa istirahat, Rin."

Raut wajah dan nada bicaranya tegas namun penuh perhatian. Aku refleks mengangguk mengiyakannya.

Dia tersenyum lebar, memohon undur diri pada Len, kemudian beranjak pergi bersama dengan asistennya.

Baru berapa detik 'Papa angkat Rin' menghilang dari pandanganku, tiba-tiba Len memelukku tanpa berkata apa-apa.
Merasa tak nyaman, aku spontan mendorongnya.

Kedua alisnya terangkat dan bola matanya membulat sempurna. Mungkin di mata orang lain, dia terlihat kaget. Tapi di mataku, raut wajahnya juga menunjukkan kekesalan yang berhasil mendirikan bulu kuduk di leherku.

"Ma- maaf... Saya tak bermaksud..." Aku berusaha memasang tampang bersalah walau aku tidak merasa demikian.

Len menutup kedua matanya sembari tersenyum. "Rin? Apa ada sesuatu yang menganggumu? Atau apa ada sesuatu yang ingin kau katakan?"

Ekspresi yang ditunjukkan dengan nada suaranya sama sekali tidak sinkron. Nada suaranya memang terdengar khawatir, namun senyuman lebarnya terlihat seperti boomerang tajam yang siap memutuskan leherku kapan saja.

Glek! Kurasa tindakanku yang mendorongnya tadi membuatnya marah. Aku yakin jawabanku ini berperan penting dalam menentukan nasibku selanjutnya. Masalahnya pilihan jawabanku hanya ada tiga, yaitu mengatakan yang sebenarnya, berpura-pura menjadi 'Rin' dan memberikan jawaban simpel yang sedikit ambigu seperti 'tidak ada' atau 'biasa saja'.

Aku melirik ke arah 'Butler papa Rin' yang sedaritadi berdiri di sebelah kiri tempat tidurku. Dia mungkin bisa membantuku. Aku menarik lengan bajunya, memberi kode minta tolong padanya.
Dia tidak menanggapi kodeku dan terdiam dengan tubuh yang berguncang.

Gawat... dia yang tidak melakukan apa-apa aja merasa takut. Aku tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi padaku jika aku salah menjawab.

"Rin?" Len membuka matanya, menatap tajam diriku. Senyuman yang sama masih menghiasi wajahnya.

Uh oh! Aku harus menjawab apa? Aku tak mungkin mengatakan yang sebenarnya seperti 'Aku bukan Rin dunia ini', kemungkinan besar dia tidak akan percaya. Aku juga tidak bisa berpura-pura menjadi 'Rin' dan berkata 'Aku mengalami amnesia', terdengar aneh jika kata 'amnesia' keluar dari mulut orang yang mengalaminya. Mau tak mau, satu-satunya jawaban yang bisa kuberikan hanyalah jawaban simpel itu.

"Tidak ada. Saya baik-baik saja." Aku memalingkan pandanganku, menolak kontak mata dengannya.

"Tidak. Kau tidak baik-baik saja. Sikapmu sangat aneh." Aku sedikit melirik ke arah Len, ekspresinya terlihat... normal?

"Biasanya kau selalu memanggil namaku, tersenyum senang sambil merangkul lenganku setiap kali kita bertemu." Oh begitu. Berarti untuk menjadi 'Rin' di depannya, aku hanya perlu memanggil namanya, tersenyum senang sambil merangkul lengannya...

Mana bisa aku melakukannya?!

"Yuuma, apa yang terjadi pada Rin?" Kupandangi 'Butler papa Rin' alias Yuuma dengan penuh harap. Semoga saja dia menjawab amnesia.

"Rin-sama mengalami amnesia, Pangeran." Bagus Yuuma! Sekarang aku bisa bernafas lega.
Aku memang kesal saat dibilang amnesia sebelumnya, tapi setelah menenangkan diri, suka cita menyelimutiku.
Lebay? Ya memang, semua orang yang berada di posisiku pasti akan berpikir dan bertindak berlebihan.

"Baiklah. Aku akan membantu memulihkan ingatanmu, Rin." Aku menatap horor diri Len yang tertawa senang. Lupakan nafas legamu Rin, belum waktunya untuk merasa lega.

"Pertama, aku akan memperlihatkan sikap yang selalu kau tujukan padaku. Yuuma!" Len mendekati Yuuma lalu menepuk kedua sisi pundaknya.

"Mohon maaf Pangeran, saya tidak bermaksud lancang. Bolehkah maid di sebelah sana saja yang membantu Pangeran? Bila yang melakukannya perempuan, saya yakin akan lebih mempunyai efek pada pemulihan ingatan Rin-sama." Yuuma membungkukkan tubuhnya seraya menunjuk dua orang maid yang berdiri di dekat pintu.

"Yuuma, kau tahu posisiku kan. Aku Len Keared, Putra Mahkota Kerajaaan Voca yang artinya penerus sah gelar Raja Kerajaan ini. Tentu selalu banyak mata dan telinga yang mengarah kepadaku. Menurutmu apa yang akan terjadi bila gosip tentangku dan maid itu muncul dan tersebar?" Senyuman Len yang seperti boomerang kembali menghiasi wajahnya. Bedanya, kali ini kedua matanya juga ikut tersenyum seperti boomerang.

Sepertinya raut wajah ini bukanlah ekspresi marahnya melainkan ekspresi intimidasinya. Aku sedikit merasa prihatin melihat tubuh Yuuma yang mulai membeku.

"Gosip tentangku dan kau bisa saja muncul tapi akan lebih gampang untuk diatasi. Lagipula kau ini butler pribadi Rin yang sudah sangat lama bersama dan selalu ada di sisinya. Kau pasti ingat kebiasaan dan tingkah laku Rin lebih dari siapapun. Selain itu, ingatlah Yuuma, semua yang berhubungan dengan Rin bukanlah permintaan tapi perintah dari Putra Mahkota." Aku tak dapat melihat ekspresi Yuuma tapi aku tahu bahwa ekspresi yang terpampang di wajahku sama dengannya. Ekspresi Len yang semakin menyeramkan seperti karakter yandere membuat tubuhku ikut membeku.

"Saya mengerti Pangeran, sesuai dengan keinginan Anda." Yuuma mengangkat tubuhnya dan sedikit memalingkan wajahnya ke arahku.

Aku tak tahu apa yang mau kalian lakukan tapi good luck Yuuma, semoga kau selamat!

"Bagus." Len tersenyum senang. Ekspresinya berubah dengan sangat cepat. Bisa jadi dia beneran punya sifat psikopat...

"Maika." Len melihat ke arah maid yang tadi memanggil 'Papa angkat Rin'. Maika pun berjalan mendekati Len.

"Apa ada yang bisa saya bantu, Yang Mulia?" Maika menutup kedua matanya serta membungkukkan tubuhnya.

"Kau akan bertindak sebagai sutradara. Cukup katakan satu dua tiga mulai agar aku dan Yuuma bisa memainkan peran secara bersamaan." Len menjentikkan jari saat berkata mulai. Mereka mau main teater rupanya.

"Nah Rin, sekarang aku dan Yuuma akan bermain peran secara singkat. Aku menjadi diriku dan Yuuma berperan sebagai dirimu." Len terlihat sangat bersemangat sedangkan Yuuma... sibuk dengan pikirannya sendiri, meratapi nasibnya.

Len menarik tirai, menutupi sebagian besar jendela. Kemudian, dia menarik lengan Yuuma ke dekat sofa yang ada di sebelah kiriku. Aku penasaran, adengan apa yang ingin mereka tampilkan.

Len berjalan menuju pintu kamar dan berdiri disana. "Maika."

"Satu dua tiga mulai." Maika sedikit berteriak dan menjentikkan jarinya.

"Len!" Yuuma berlari ke arah Len lalu memeluknya. Tak kusangka Yuuma dapat menirukan suara perempuan semirip aslinya.

"Rin!" Len membalas pelukan Yuuma. Senyuman yang terukir di wajah Len tampak tulus, entah senyuman itu ditujukan pada 'Rin' atau Yuuma.

"Sudah lama sekali aku tidak menghabiskan waktu berdua denganmu." Yuuma melepas pelukannya, mengajak Len duduk di sofa.

"Ouh Rin kangen padaku?" Len mencubit pipi kanan Yuuma. Selintas aku melihat ekspresi Len yang berusaha menahan tawa dan ekspresi takut Yuuma yang ingin kabur dari Len.

"Tentu saja." Yuuma mengembungkan pipinya yang sedikit memerah, entah karena dia merasa malu atau karena 'Rin' biasanya merespons seperti itu.

"Aku juga kangen Rin." Len menyentuh pipi kanan Yuuma sembari tertawa kecil.
Oke aku mulai geli melihat tingkah mereka.

"Bagaimana dengan pekerjaanmu Len? Semakin sulit atau semakin menarik?" Kedua mata Yuuma berbinar-binar bagaikan orang yang berminat akan sesuatu.

"Seperti biasa kau selalu tertarik dengan pekerjaanku. Nanti akan aku perlihatkan padamu." Len melirik ke arahku dengan senyuman mengejek terpampang di wajahnya.

"Bagaimana dengan kegiatan kelasmu, semakin menyenangkan?" Len memalingkan wajahnya dariku dan kembali memandangi wajah Yuuma.

"Hehehe... Yah semuanya menjadi sangat menyenangkan semenjak Len ada di sana." Yuuma tertawa senang. Matanya pun juga ikut tertawa. Dia terlihat seperti perempuan yang sedang jatuh cinta.

"Aku senang jika kau senang. Karena Rin ada di kelas itu, aku mengajukan diri menjadi asisten profesor wali kelasmu." Len ikut tertawa senang. Saking bahagianya raut wajah mereka, ditambah dengan kata-kata cheesy mereka, mereka sudah seperti sepasang pengantin baru sungguhan.

"Kamu mengajukan diri demi aku? Padahal tugasmu kan sudah banyak banget." Yuuma menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.

Len mengkedipkan salah satu matanya, menarik tangan kanan Yuuma, "Aku ingin membantu dan sesering mungkin berada di dekatmu, Rin."

OMG! Len mencium pipi kanan Yuuma!

"Aku sayang Len!" Oho Yuuma, percuma saja menyembunyikan wajah merahmu dengan memeluk Len. Aku sudah melihatnya.

"Aku juga sayang Rin!" Len mengusap-usap penuh kasih kepala Yuuma. Tubuhku perlahan bergetar saking gelinya melihat serta mendengar percakapan mereka.

"THE END." Wow! Kuakui kemampuan akting mereka sangat bagus, begitu totalitas sampai membuat tubuhku merasakan dampaknya.

"Drama singkat tadi adalah percakapan terakhir kita sebelum kau terjatuh. Apa ada sesuatu yang berhasil kau ingat?" Tidak ada. Aku bukan 'Rin' dunia ini, kau tahu.

"Maaf, tak ada satupun yang saya ingat." Aku mensayukan sorot mataku, memandang lesu muka Len.

"Kalau begitu, aku akan menunjukkan percakapan kita yang lain. Yuuma!" Len kembali bersemangat. Kelihatannya dia bukannya ingin mengembalikan ingatan 'Rin' melainkan ingin mengerjai Yuuma.

"Tidak perlu. Saya hanya butuh waktu sendirian untuk memulihkan ingatan saya. Bisakah Yang Mulia mengabulkan permintaan saya dan memerintahkan semua orang termasuk Yuuma untuk keluar?" Aku memasang wajah lemas sambil memegangi kedua sisi kepalaku.

Len mengangguk mengerti, menyuruh semua maid untuk meninggalkan ruangan ini.

"Semoga ingatanmu cepat pulih. Aku harus mendengar perkembangannya besok. Sampai jumpa, Rin." Len membelai halus rambutku lalu pergi menyeret Yuuma keluar dari kamar 'Rin'.

-blam-

Huft...

Owh pinggangku sakit sekali, ini pasti gara-gara tubuh 'Rin' terbaring terlalu lama.

Kubangkitkan diri dari tempat tidur, guna merenggangkan seluruh anggota tubuhku yang pegal.

Mmkh... rasanya mendingan, walau pinggangku masih terasa nyeri.

Aku menduduki tepian kasur seraya menghela nafas, "Hah..."

Sudah pasti ini bukan mimpi. Aku benar-benar berada di dalam game otome kesukaan Miku-nee!

Lord, kenapa aku bisa terjebak disini...
Dari sekian banyak manusia dan dunia, kenapa aku dan dunia otome yang dipilih? Apakah ini karma untukku karena sering mengejek dan menjelek-jelekkan developer game otome?

'Aku harus mendengar perkembangannya besok.'

Kenapa mendadak teringat perkataan Len sih...

'besok' 'BEsok' 'BESOk' 'BESOK' Besok!? Apa yang harus aku ceritakan padanya? Lebih tepatnya, apa yang ingin dia dengar dariku? Apa aku bilang belum bisa ingat apa-apa kali ya?

'Harus' Gak, gak mungkin diterima.
Oh iya! Semoga saja 'Rin' punya buku harian. Amin ada.

Aku mengobrak-abrik, mencari buku harian 'Rin' di setiap furnitur yang ada di kamar ini. Melihat pantulan tubuh 'Rin', mataku tertuju pada cermin besar yang ada di sebelah lemari coklat berpintu empat. Aku memasang berbagai macam ekpresi, sedih, senang, kaget, marah dan lainnya di depan cermin tersebut.

Sekilas wajahku dan wajah 'Rin' memang mirip. Namun jika benar-benar diperhatikan, struktur wajah 'Rin' lebih tirus, rahangnya lebih kecil, ukuran matanya lebih besar dan bulu matanya lebih lentik. Senyumannya lebih manis dengan lesung pipinya, cocok dengan rambut kuning lembutnya yang panjang. Tubuhnya juga ideal. Bisa dibilang aku dan 'Rin' hanya mirip di warna mata, bentuk hidung, warna rambut dan tinggi badan saja.

Aku sudah tahu sih kalau 'Rin' cantik tapi tak kuduga dia secantik ini. Coba saja aku masih tetap berada di 'Duniaku' dengan tubuh 'Rin', aku pasti akan menikmati situasiku. Maksudku, perempuan mana yang tidak senang mempunyai wajah atau tubuh yang cantik dan ideal?

'Aku harus mendengar perkembangannya besok.'

Aaaah bukan saatnya berandai-andai. Aku harus lanjut mencari buku harian itu.

Tidak ada di laci meja rias.

Tidak ada di lemari baju.

Tidak ada di...

-Satu jam kemudian-

"Sial!" Aku membantingkan tubuhku ke atas kasur. Buku hariannya tidak ada dimanapun. Sepertinya 'Rin' memang tidak menulis buku harian.

"Hoam..." Aku lelah dan mataku terasa berat.

Apa aku terima nasib saja ya... ah Miku-nee kan sering cerita tentang hubungan 'Rin' dan Len... Aduh aku tidak ingat dan tidak terlalu mendengarkannya lagi. Seandainya waktu itu aku...

-TBC-


Author's Note

aku hooman, terima kasih atas reviewnya :D Hehe salam isekai ;)

stardee25, terima kasih atas reviewnya :D Gara-gara ada notif di email, ane jadi ingat kalau chapter ini udah kelar hahaha. Ane juga suka isekai yang protagonisnya reinkarnasi jadi villain :d

Untuk chapter-chapter selanjutnya mungkin bakal agak lama karena ane sibuk kuliah dan kerja :') Semoga kalian yang tertarik mau menunggu dan mengikuti sampai akhir ya :D


#suntingankelar ane ada edit (tambahin, kurangin dan perbaikin) kalimat / kata-kata di chapter ini biar lebih efektif gak terlalu monoton XD