"Rin! Bangun!" Hah! Buku dan meja?
Tempat ini kan... kamarku!

Aku mencubit pipi kananku. "Aish!"

Ini bukan mimpi?! Aku benar-benar balik ke duniaku?!

"Rin?" Miku-nee? Aku langsung berdiri dan menoleh ke belakang.
Miku-nee berdiri disana dengan ekspresi bingung terpampang di wajahnya.

Kupeluk Miku-nee seraya berbisik pelan padanya, "Miku-nee..."

Miku-nee membalas pelukanku, membelai-belai rambutku. "Ada apa Rin? Kamu habis mimpi buruk?"

Tidak. Kejadian yang ada di dunia otome itu nyata. Untunglah aku kembali sebelum bertemu dengan Len lagi.

Tunggu... aku melepaskan pelukanku, menggerakkan sepasang tangan dan kakiku.

"Miku-nee, bukankah aku mengalami kecelakaan?" Seharusnya kan ada satu atau dua bagian tubuhku yang patah...

Miku-nee sedikit memiringkan kepalanya seraya menyentuh pipi kanannya. "Kecelakaan?"

"Masa Miku-nee lupa. Aku kan ditabrak mobil pas jemput Miku-nee yang mabuk berat." Aku saja masih ingat rasa sakitnya terpental.

Miku-nee mengerutkan alisnya. "Kapan aku mabuk? Hari ini aku langsung pulang ke rumah kok. Dari aku pulang, kamu sudah belajar di dalam kamar sampai ketiduran. Ini aja aku membangunkamu untuk makan malam."

"Aku gatau kapan tapi aku beneran mengalami kecelakaan!" Apa perlu kujelaskan bagaimana rasanya melayang?

"Kamu baik-baik saja Rin. Kecelakaan itu cuman mimpi burukmu." Tidak. Rasa sakitnya begitu nyata.

Apa mungkin... kecelakaan serta dunia otome itu hanya bangkai tidur? Atau... aku yang kembali ke duniaku ini hanya bunga tidur?

"Auh." Aku spontan menghempaskan tangan Miku-nee dari pipiku.

Miku-nee tersenyum simpul, mengelus pipiku yang tadi dicubitnya. "Lihat? Kamu merasakan sakitnya, kan? Ini dunia nyata Rin."

"Tapi-"
Kalau dipikir-pikir, tidak ada gunanya aku memperdebatkan hal ini. Mau mimpi atau nyata kan tak masalah asal aku baik-baik saja.

"Lupakan saja Miku-nee. Ayo kita makan." Untuk sekarang, lebih baik aku berpikir positif dan menanyakan tentang dunia game otome itu pada Miku-nee.

"Uuh! Aku benar-benar kesal dengan Rin yang ada di game Chosen Path-Miracle OTWay. Mentang-mentang Len mencintainya, dia bisa seenaknya memanfaatkan Len." Ini dia keluh-kesah Miku-nee tentang game-game otomenya terutama game chosen blablabla a.k.a dunia otome sialan itu.

Aku menyantap ayam goreng yang dipesan Miku-nee sambil menompang dagu. "Memangnya *nyam* game itu tentang apa sih? *nyam*"

Miku-nee melongo, memandangiku dengan tatapan tak percaya. "Tumben Rin, kamu tertarik sama game otome."

"Aku cuman pengen tahu *nyam* apa sih yang menarik dari game itu *nyam* sampai Miku-nee membicarakannya tiap hari *nyam* tiap sarapan, tiap makan malam." Sehingga membuatku yang tadinya kesal jadi bosan dan fokus ke diri sendiri. Sampai-sampai aku tidak ingat apa pun tentang hubungan 'Rin' dan Len selain status mereka sebagai tunangan satu sama lain.

Miku-nee membuka sekaleng bir sembari tertawa kecil. "Benarkah? Aku tidak menyadarinya ehehehe."

"Aku selalu membicarakan game ini mungkin karena kamu dan Rin di dalam game ini mirip tapi berbeda? Hmm... Aku susah menjelaskannya." Miku-nee mengambil sepotong ayam goreng yang sedaritadi ditelantarkannya.

"Tak perlu repot-repot menjelaskannya Miku-nee, jelaskan saja apa yang kutanyakan tadi." Aku tidak mau mendengarkan hal tidak penting yang bisa bikin kepalaku mumet.

*nyem* *nyem* *nyem* Miku-nee terburu-buru menghabiskan paha ayam yang ada di tangannya, kemudian membuang tulangnya ke atas piring.

"Intinya game ini bercerita tentang perjalanan hidup seorang Heroine. Ingin menjadi apa? Ratukah? Penyihirkah? Menterikah? Sesuai dengan route capture target yang player pilih. Total ada 6 capture target dan 17 ending. Setiap capture target punya 2 ending, normal dan good. Ada juga true ending, very happy ending, bad ending, harem ending dan independent ending. Game ini termasuk game visual novel yang jalan ceritanya bergantung pada pilihan player jadi tidak ada battle dan tidak perlu menaikkan stat." Miku-nee mengerak-gerakkan kedua tangannya dengan semangat.

"Aku pribadi sangat menyukai route Fukase dan paling kesal sama route Len. Tunangan Len, Rin sangat amat menyebalkan. Dia mencelakai Heroine dan memutarbalikkan fakta setelah mengetahui kedekatan Heroine dan Len." Miku-nee meninggikan nada suaranya lalu meneguk sekaleng bir dalam sekali teguk.

"Wajarlah Rin di game itu cemburu. Dia kan mencintai Len." Seharusnya sih gitu yang ditunjukkan dari drama singkat Len dan Yuuma.

Miku-nee mengepalkan kedua tangannya, membantingnya ke atas meja -brak-. "Tidak! Rin sama sekali tidak mencintai Len. Rin hanya peduli pada kekuasaan, harta dan status. Dia berpura-pura mencintai Len agar tujuannya tercapai, menjadi Ratu Kerajaan Voca. Bahkan dia merencanakan pembunuhan terhadap Heroine dan Len demi mendapatkan kekuasaan penuh atas Kerajaan Voca. Rin itu egois, sombong, kejam, pelit dan semua yang negatif. Simpelnya, dia wanita iblis!"

"Aku ga habis pikir, padahal di pertengahan cerita Len sudah tahu watak asli Rin tapi Len masih tetap mencintai Rin. Saat hari eksekusi mati Rin sekaligus hari pernikahan Len dan Heroine pun, Len masih peduli pada Rin sampai ada Secret CG nya di good ending. CG Len yang menangis di pelukan Heroine dengan pakaian pengantin mereka di depan jeruji besi kosong bekas Rin dipenjara!" Miku-nee membuka kaleng bir yang kedua, *gluk* *gluk* *gluk* meminumnya dalam sekali teguk lagi.

Miku-nee meremas kaleng bir tersebut lalu melemparnya ke dalam plastik sampah. "Aku emosi banget pas dapet CG itu, ga sesuai sama ekspektasiku! Kukira bakal dapat CG lovey dovey Heroine dan Len makanya aku beli DLC nya eh taunya malah dapat CG sedih kayak gitu. Gara-gara CG itu aku jadi kepikiran terus apalagi di creditnya ada tambahan cuplikan kenangan Rin dan Len sebelum Heroine muncul. Sampai-sampai aku ulang terus mainin route Len cuman buat lihat cuplikan kenangan itu."

Bola mata Miku-nee berkaca-kaca, pipi Miku-nee basah karena tetesan-tetesan air yang jatuh dari matanya, "Hueee! Ekspresi Rin yang ada di cuplikan itu sama kayak kamu Rinny, senyuman kaku tapi tulus tanpa dibuat-buat. Senyumannya berbeda dengan senyuman sinis atau pun senyuman palsu Rin setelah Heroine muncul. Artinya sebenarnya Rin itu orang baik tapi entah karena apa dia jadi jahat. Aku takut suatu hari kamu berubah seperti Rin di game ini."

"Jangan berlebihan Miku-nee. Aku tidak akan berubah menjadi Rin yang jahat karena aku sudah jahat dari awal. Miku-nee tidak perlu khawatir." Aduh! Aku salah ngomong.

"Ber-" Sebelum sempat mengkoreksi omonganku, Miku-nee berteriak dan tangisannya semakin menjadi.

"HUAAAA! Aku gagal melindungi Rinny! Aku membuat Rinny jadi jahat!" Hadeh... Mulai deh ngelanturnya.

Aku menuangkan segelas air dan memberikannya pada Miku-nee, "Aku bercanda Miku-nee. Aku janji tidak akan pernah berubah asal Miku-nee berhenti menangis."

Aku berpindah tempat ke sebelah Miku-nee agar dapat mengusap air mata Miku-nee. Perlahan-lahan Miku-nee berhenti menangis dan ikut mengusap air matanya. Setelah Miku-nee tenang, aku dan Miku-nee melanjutkan makan malam kami.

Jadi... 'Rin' itu rival sekaligus musuh sih Heroine. 'Rin' tidak mencintai Len dan sangat jahat sampai menyusun rencana untuk membunuh Len dan Heroine. Anehnya Len tetap mencintai 'Rin' biarpun sudah dicelakai olehnya. Lebih anehnya lagi, meskipun sih Heroine tahu kalau Len masih mencintai 'Rin' tapi Heroine masih mau menikah sama Len!

"Ngomong-ngomong *nyam*, kenapa Len bisa sebegitunya mencintai Rin? *nyam*" Apa yang 'Rin' lakukan sampai Len jadi bucin begitu?

"Rin itu cinta pertama Len. Mereka dan butler pribadi Rin adalah teman masa kecil. Len jatuh cinta pada senyuman serta sikap manis yang hanya Rin tunjukkan pada Len." Klise banget, jatuh cinta pada teman masa kecil.

"Di Heart Event kelima Len, setelah Len tahu watak asli Rin, Len bercerita pada Heroine akan satu kenangannya dengan Rin yang tak'kan pernah ia lupakan. Rin pernah menampar Len sekali saat mereka berumur dua belas tahun di tepi Danau Peri, ketika Len menangkap sepasang peri dengan sihirnya untuk diberikan kepada Rin. Sayangnya, Rin tidak suka dengan hadiah Len. Rin menyuruh Len melepaskan peri tersebut. Namun Len tidak mau melepaskannya karena Len percaya rumor yang beredar tentang peri, yaitu jika sepasang kekasih memelihara sepasang peri maka mereka bakalan terus bersama selamanya. Rin sangat marah pada Len hingga menamparnya." Buset, baru 12 tahun aja udah mikirin cara buat bisa bersama selamanya.

"Beberapa hari kemudian, Len meminta maaf pada Rin dan melepaskan peri tersebut di depan Rin, di tepi Danau Peri. Peri tersebut pun berterima kasih pada mereka. Rin tertawa senang melihat peri tersebut terbang bebas lalu meminta maaf pada Len karena sudah menamparnya. Rin kemudian bercerita bahwa sebelum Rin bertemu Len bahkan sejak Rin masih tinggal di gereja, Rin sudah berteman dengan peri-peri yang tinggal di Danau Peri, Hutan Elf dan Gua Kurcaci di dekat kediaman keluarga Dikrof." Danau peri, hutan elf dan gua kurcaci. Aku harus mencatat nama-nama tempat tersebut di otakku.

"Rumor yang beredar tentang peri memang terbukti benar tetapi sepasang peri yang dipelihara akan menguap, menyatu dengan udara dan alam. Peri-peri ini mengorbankan diri mereka guna memberikan sihir cinta sejati pada pemiliknya, sihir yang membuat sepasang kekasih hidup dan mati bersama-sama. Peri sangatlah baik kendati dikurung dalam toples, kendati tidak diperhatikan oleh majikannya. Hanya demi kebahagian majikan atau orang lain, peri tidak akan segan mengorbankan dirinya." Detail sekali, berasa didogengin sama Miku-nee.

"Rin juga ingin terus bersama dengan Len selamanya tapi tidak dengan cara ini. Rin ingin mereka berjuang bersama untuk mencapai keinginan mereka. Dari sinilah Len menyadari bahwa dia benar-benar mencintai Rin dan berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu mencintai serta berada di samping Rin selamanya." Hoam... sudah tamatkah? Syukurlah. Aku bisa ketiduran beneran kalau cerita Miku-nee masih berlanjut.

Miku-nee sedikit tersenyum seraya mengusap kepalaku, "Kau sudah tahu kan, apa yang bisa kau ceritakan pada Len besok, Riliane."

"Ap-" Tiba-tiba, tubuhku ditarik ke bawah, dipaksa menjauh dari Miku-nee. Pandanganku pun menjadi gelap. Aku berteriak sekencang-kencangnya, walau suaraku sama sekali tidak keluar.

"Miku-neeeee!" Hah hah hah... Langit-langit ini...
Aku membangunkan tubuhku, menyenderkannya pada sandaran kasur. Yaps inilah kenyataannya Rin, bangkai tidurmu.

"Selamat pagi Rin-sama." Aku menoleh ke sebelah kananku, menjumpai seseorang berambut pendek berwarna pink dengan bando berenda menghiasi kepalanya. Dia memakai gaun serta celemek yang berenda-renda pula.

"Yuuma?! Bfft... Buahahahahaha!" Aku langsung tertawa terbahak-bahak akibat baju yang dipakai Yuuma.

"Kenapa kau memakai baju maid?" Apa ini salah satu hobimu, memakai baju maid di pagi hari?

"Kenapa saya memakai seragam maid? Lebih baik Anda tidak perlu tahu. Yang jelas memakai seragam maid bukanlah hobi saya." Yuuma menutupi wajahnya yang memerah dengan kedua tangannya. Dia pasti malu mengakui hobinya ini.

*Ting* Mataku mengarah pada jam dinding di atas cermin meja rias yang menunjukkan pukul 7 pagi. "Sejak kapan kau berdiri disitu?"

"Sekitar pukul 6 pagi saya sudah berdiri di sini." Aku menaikkan salah satu alisku, menatap heran diri Yuuma.
Ngapain dia diam disitu tanpa melakukan apa-apa selama satu jam?

"Kau ke sini untuk membangunkanku?" Yuuma menanggapi pertanyaanku dengan menganggukkan kepalanya.
Kalau memang demikian, kenapa dia tidak langsung membangunkanku? Kenapa dia menungguku terbangun sendiri?

'Miku-neeeee!' Ah! Igauan! Mungkinkah aku mengigaukan percakapanku dengan Miku-nee dan... Yuuma mendengarkan semuanya?

"Tenang Rin-sama, Anda tidak mengigau. Anda hanya mendengkur." Ha-ha-ha terima kasih Yuuma karena sudah berbaik hati memberitahuku dan selamat, kau berhasil membuatku speechless.

-syut- "Aku juga dengar suara dengkuranmu." Astaga! Jantungku serasa mau keluar melihat Len yang mendadak muncul dari bawah, di depan tempat tidurku.

Len menghampiriku dan mencium punggung tangan kananku, "Pagi Rin. Apa kau memimpikanku semalam?"

"Selamat pagi Yang Mulia. Mohon maaf Yang Mulia, saya tidak terlalu mengingat apa yang saya mimpikan kemarin malam." Lebih tepatnya aku belum siap mengubah cerita Miku-nee tentang danau peri menjadi ingatan 'Rin'.

"Bagaimana dengan ingatanmu? Apa sudah ada kenangan kita yang berhasil kau ingat?" Tidak ada! Coba saja aku bisa menjawab seperti itu.

"Saya tidak yakin..." Aku sengaja memasang ekpresi orang lugu yang sedang berpikir.

*bepbepbepbepbepbep* Aku refleks melirik ke arah sumber bunyi, jam tangan yang dipakai oleh Len.

Len mematikan alarm jam tangannya sambil tersenyum datar. "Sebaiknya kau bersiap-siap sekarang Rin. Kita lanjutkan percakapan ini di kereta kuda."

Aku ikut tersenyum datar sembari mengkedip-kedipkan mataku. "Maksud Yang Mulia?"

Len tidak menjawab pertanyaanku, dia malah sibuk berbisik-bisikan dengan Yuuma. Aku tidak cemburu tapi rasanya kesal banget melihat mereka asik bermesraan bagai aku tidak ada di sini.

Melihat Maika dan seorang maid masuk ke dalam kamarku, Len menyentuh kepalaku. "Aku akan menunggumu di lobi depan bersama Yuuma."

Selepas berkata begitu, Len beserta Yuuma melangkah keluar dari kamar 'Rin'.

Aku menatap was-was Maika dan temannya. "Apa yang kalian mau lakukan padaku?"

Maika dan temannya menundukkan kepalanya, "Kami hanya menjalankan tugas kami untuk membantu mempersiapkan diri Anda."

"Aku bisa mempersiapkan diriku sendiri." Mengerti dengan maksudku, Maika dan temannya membungkukkan tubuh mereka lalu pergi meninggalkanku sendirian.

-blam-

Aku bangkit berdiri dan mulai mempersiapkan diriku. Aku tidak peduli kemana Len akan membawaku pergi. Yang penting sekarang, aku harus memikirkan kata-kata yang pas untuk menjelaskan peristiwa danau peri saat di kereta kuda nanti.

Aish... kenapa pipiku gatal banget ya?

Aku memeriksa wajahku di cermin meja rias, mendapati seluruh wajahku yang memerah dan panas. Gatal, merah dan panas. Apa karena cuaca? Aaah aku tidak tahan sama rasa gatalnya, aku harus segera mencuci wajahku.

-kurang dari satu jam kemudian-

Padahal aku sudah mandi serta mencuci wajahku berkali-kali tapi pipiku masih merah dan terasa gatal. Telapak tangan kananku juga ikut-ikutan gatal dan panas. Masa iya gara-gara gigitan nyamuk. Perasaan gigitan nyamuk gak bikin panas. Oh iya, nyamuk dunia nyata sama dunia otome kan bisa aja berbeda. Entar kutanyakan pada Yuuma deh.

Aku menyisir rambutku dan merapikan gaunku, gaun paling simpel yang 'Rin' miliki. Kemudian aku melangkahkan kakiku keluar kamar, menyusul Len dan Yuuma.

Aku mengikuti Maika menuju lobi yang dimaksud Len. Aku berhati-hati menuruni banyak anak tangga yang licin supaya tidak terjatuh seperti yang dialami 'Rin'.

"Rin, kau terlihat cantik dengan perona di pipimu itu." Aku tidak tahu Len lagi mengejekku atau dia memang tidak bisa membedakan perona dengan warna alami kulit.

"Terima kasih atas pujian Anda, Yang Mulia." Aku merespons pujian Len dengan senyuman terpaksa dan nada bicara yang sarkastik.

Mataku tertuju pada Yuuma yang telah mengganti pakaiannya. "Yuuma, apa kau punya obat nyamuk?"

"Obat nyamuk? Anda ingin menyembuhkan nyamuk?" Lucu sekali Yuuma, sungguh amat lucu.

Aku memutar bola mataku dengan ekspresi datar. "Maksudku alat atau apapun yang dapat membasmi nyamuk."

"Oh. Untuk apa Anda meminta obat nyamuk?" Untuk kujadikan bahan masakan terus kumakan.

"Untuk basmi nyamuk di kamarlah. Kau tidak lihat pipiku merah akibat gigitan nyamuk?" Aku menunjuk-nunjuk serta mengaruk-garuk kedua pipiku.

"Pfft." Kenapa Len tertawa? Memangnya ada yang salah dengan perkataanku?

"Fft... maaf Rin-sama tapi di sekeliling mansion, taman dan setiap ruangan termasuk kamar Anda sudah ditanami bunga Lavender dan bunga Geranium sehingga seratus persen terbebas dari nyamuk maupun serangga. Saya rasa penyebab pipi Anda memerah bukan karena gigitan nyamuk melainkan karena ulah Pangeran Len yang terus-menerus mencubit pipi Anda selagi Anda tertidur pagi ini." Mendengar pernyataan Yuuma, aku pun memandang Len dengan tatapan maut. Len membalas tatapan mautku dengan tatapan serta senyuman polos yang dibuat-buat.

"Kau tersenyum senang setiap kali aku mencubitmu sih." Gimana gak senang? Kupikir aku sudah kembali ke duniakuuu!

"Apa Yang Mulia juga mengelus kepalaku?" Aku menatap kesal diri Len sambil terus mengaruk pipiku.

Kedua alis Len terangkat dan wajahnya sedikit memerah. "Kenapa kau bisa tahu? Kau merasakannya di mimpimu?"

"Menurut Yang Mulia saja." Aku menekankan nada bicaraku. Pantas cubitan dan elusannya terasa nyata.

"Maafkan aku Rin. Rasa gatal yang kamu rasakan pasti gara-gara aku tidak mencuci tanganku sehabis memegang bunga Dandelion. Kukira aku tidak akan menyentuhmu." Loh? Apa hubungannya rasa gatalku sama bunga Dandelion?

Yuuma mendekatkan wajahnya ke telingaku, berbisik kecil padaku, "Anda alergi bunga Dandelion, Rin-sama."

*boom* Karakteeerrr iniiii...! Aku sudah tidak dapat mengontrol emosiku! Aku yakin wajahku menunjukkan ekspresi marah besar tapi kenapa Len masih bisa tersenyum senang seolah dia tidak salah apa-apa?! Pangeran kampret ini minta dijitak kali ya! Dia udah PHP-in orang, bikin alergi orang kambuh tapi masih bisa berekspresi kayak giniii!?

Aku yang sudah berancang-ancang menjitak kepala Len, -sring- dihalangi oleh sinar menyilaukan yang keluar dari tangan Yuuma. Cahaya itu sepenuhnya menghilangkan rasa gatal di pipi dan di telapak tangan kananku.

Aku mengecek warna tangan kananku. Warna kulitnya sudah kembali normal. "Apa yang kau lakukan? Kenapa aku tidak merasakan gatal lagi?"

"Saya menggunakan sedikit sihir untuk menghilangkan rasa gatal Anda, Rin-sama." Wah, kau memang bisa diandalkan Yuuma! Tidak seperti pangeran iseng ini, aku melirik jengkel diri Len.

"Hormat Yang Mulia, kereta kudanya sudah siap." Seorang pria berpostur kekar dan tegap layaknya prajurit memberi hormat pada Len. Dia menuntunku, Len dan Yuuma keluar dari mansion 'Rin', ke tempat kereta kuda berada.

Len menghentikan langkah kakinya di dekat pintu kereta kuda, kemudian mengulurkan tangannya padaku, menawarkan diri untuk membantuku naik ke dalam kereta kuda tersebut.

Aku tidak menerima uluran tangan Len, spontan merangkul lengan kanan Yuuma. "Aku pegang tangan Yuuma saja. Aku tidak mau alergiku kambuh lagi."

Kedua pasang mata Len dan Yuuma melotot kaget. Yuuma secepat mungkin melepaskan lengannya dari genggaman tanganku. "Maaf Rin-sama, saya tidak dapat ikut dengan Anda."

"Kenapa?" Dia kan butler pribadi 'Rin', bukankah seharusnya dia selalu ada di sisi 'Rin'?

"Sekolah kita berbeda Rin-sama. Saya belajar di akademi spesialis sihir, Mizard Academy sedangkan Anda bersama Pangeran Len belajar di akademi umum, Guess Academy." Sekolah? Jadi aku dan Len akan pergi sekolah, ke Guess Academy?

Tanpa berkata apa-apa, Len menggendong paksa diriku memasuki kereta kuda lalu mendudukkanku di bangku seberangnya.

Yuuma menutup pintu kereta kuda sembari tersenyum penuh arti. "Semoga perjalanan Anda menyenangkan, Pangeran Len dan Rin-sama."

-ctar- *taktuk* *taktuk* Aku tertegun, mencoba mencerna situasiku.

Eh tunggu tunggu tunggu. Aku berduaan doang nih sama Len? Aku menengok sekilas ke depan, aura hitam yang menyelimuti Len seakan memberikanku peringatan 'jangan ganggu aku!'.

-TBC-


Author's Note

Gataulah2323, terima kasih atas reviewnya :D Harus ada fanservice dikitlah wkwkwk

Hola~ Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca fic ane sampai chapter ini :') Jika berkenan silahkan dibaca cerita pendek / cookies di bawah ini agar lebih mengenali karakternya~


-Third Person POV-

Cookies 1 ~ Keseharian Len Keared

Sudah menjadi rahasia umum jika Yang Mulia Putra Mahkota atau dikenal juga sebagai Len sangat suka bangun pagi. Sebagai Putra Mahkota, tentu saja pekerjaan Len sangat amat banyak. Dari pagi sampai malam, Len selalu berkutik dengan meja dan kertas. Tapi yang membuat Len suka bangun pagi bukanlah pekerjaannya, melainkan Rin, pujaan hatinya.

Setiap hari, Len bangun pukul 4 pagi untuk bersiap-siap mengunjungi Rin. Pukul setengah 6 pagi, Len pasti sudah berada di kediaman keluarga Dikrof, keluarga angkat Rin.

Saat hari sekolah, Len akan berangkat dan pulang bareng Rin. Saat hari libur, Len akan mengobrol atau jalan-jalan dengan Rin sampai pukul 10 pagi. Pokoknya tiada hari tanpa bertemu Rin, tak peduli sesibuk dan sebanyak apapun tugas Len. Bahkan, bila Rin dalam masalah ataupun sekadar meminta, Len pasti datang meski tengah bekerja.

Setelah menghabiskan waktu bersama Rin, Len baru mau melakukan pekerjaannya. Di antaranya, mengurus organisasi dan OSIS akademi, memeriksa laporan keuangan serta melihat cara kerja sekaligus menyeleksi pegawai Kerajaan. Belum lagi mengerjakan PR dan tugasnya sebagai seorang siswa.

Len selalu menutup kegiatan hariannya dengan melihat bintang-bintang karena mengingatkan Len akan salah satu kenangannya dan Rin.

Sekitar pukul 10 malam, Len akan memastikan alarmnya sudah terpasang sebelum menggunakan sihirnya agar dapat memimpikan Rin.

Cookies 2 ~ Keseharian Yuuma

Butler pribadi Rin, Yuuma mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan papa Rin. Oliver sudah menganggap Yuuma sebagai anaknya sendiri walau tidak tertulis di kertas seperti Rin. Terlepas dari statusnya sebagai rakyat biasa, Yuuma juga dekat dengan Rin dan Len.

Bisa dibilang Yuuma adalah mata-mata Oliver dan Len terutama setelah Rin jatuh dari tangga. Yuuma selalu mencatat segala aktivitas yang dilakukan Rin lalu melaporkannya pada Oliver dan Len.

Setiap hari, Yuuma terpaksa bangun pukul 4 pagi untuk bersiap-siap menyambut kedatangan Len. Kemudian pada pukul 6 pagi, Yuuma besama dengan Len pergi membangunkan Rin.

Saat hari sekolah, Yuuma menunggu kereta kuda yang dinaiki Rin dan Len pergi agak menjauh dari mansion lalu dia diam-diam mengikuti mereka dengan menggunakan bantuan sihir. Setelah memastikan Rin dan Len sampai dengan selamat, Yuuma baru berangkat ke Mizard Academy yang letaknya tidak begitu jauh dari Guess Academy. Begitu pun saat mereka pulang.

Sepulang dari akademi, Yuuma tidak akan meninggalkan Rin. Tak peduli apapun yang terjadi sampai Rin terlelap. Bahkan, jika Rin memaksa Yuuma untuk meninggalkannya sendirian, Yuuma tidak akan menuruti Rin dan bila perlu memakai sihirnya kecuali bila Oliver atau Len menyuruhnya untuk membiarkan Rin sendirian.

Saat hari libur, Yuuma akan menemani dan kadang ikut mengobrol bersama Rin dan Len. Setelah Len pulang, Yuuma selalu mengikuti serta berada di samping Rin sampai pukul 5 sore. Yuuma lebih membebaskan dan memanjakan Rin khusus di hari libur tanpa sepengetahuan Oliver dan Len.

Setiap pukul 7 malam di hari minggu, Yuuma akan memberikan catatan laporan aktivitas Rin pada Oliver serta mengirimkan pesan sihir tentang catatan tersebut pada Len.

Sebelum menutup kegiatan hariannya, Yuuma akan memastikan bahwa Rin sudah terlelap. Jika Rin belum tidur maka Yuuma akan membantu juga menunggu Rin sampai tertidur baru Yuuma bisa bersiap untuk tidur.

Cookies 3 ~ Yuuma dan Baju Maid

"Hei Yuuma!" Len merangkul pundak Yuuma dari samping.

Yuuma memasang wajah tak nyaman sembari melepaskan rangkulan Len. "Selamat Pagi, Len-sama."

Meskipun mereka sudah saling mengenal sejak masih kecil, meski Len sudah sering merangkul pundak Yuuma, namun seiring bertumbuh besarnya mereka, Yuuma semakin merasa tak nyaman dengan tatapan dan cibiran orang-orang dari kaum bangsawan tentang hubungan mereka bertiga. Bahkan, walaupun cuman berdua atau bertiga dengan Rin dan Len, Yuuma masih merasa ditatap dan dicibir oleh mereka.

"Kau mau kemana? Ke kamar Rin?" Yuuma menganggukkan kepalanya, mengiyakan pertanyaan Len.

"Kau mau ke kamar Rin dengan pakaian seperti itu? Jam segini? Berduaan dengan Rin di dalam kamarnya?" Yuuma memeriksa dengan saksama pakaian yang ia kenakan.
Tidak ada yang salah dengan pakaiannya, dia mengenakan seragam butler yang biasa dipakainya. Merekah ulang perkataan Len tadi, Yuuma tersadarkan oleh pertanyaan terakhir Len.

"Jika Len-sama mau, Len-sama bisa ikut denganku." Yuuma tersenyum lebar lalu berjalan menuju kamar Rin.

"Sudah pasti aku bakal ikut ke kamar Rin." Len mengikuti Yuuma menuju kamar Rin.

Selama di koridor, Len hanya diam mengawasi Yuuma padahal biasanya Len suka mengajak Yuuma berbicara tentang apa saja.

"Ada apa Len-sama?" Yuuma merasa sedikit risih dengan tatapan intens Len yang sedikit pun tidak berkedip.

"Aku bingung kenapa tidak maid saja yang membangunkan Rin. Kenapa harus butlernya?" Tanpa perlu diperjelas oleh Len, Yuuma sudah mengerti apa maksud Len.

Yuuma bisa saja menyuruh Maika atau maid lain untuk membangunkan Rin, namun baik Len maupun Yuuma sama-sama tahu bahwa tugas ini hanya boleh dilakukan oleh Yuuma atas perintah Oliver.

Sayangnya, ada peraturan Kerajaan tentang sopan santun dalam lingkungan bangsawan, yaitu seorang wanita bangsawan tidak boleh dibangunkan oleh pria lain yang bukan tunangan atau suaminya kecuali keluarganya. Apalagi jika wanita tersebut adalah tunangan keluarga inti kerajaan, pria yang membangunkan bisa kena hukuman mati. Oliver tahu akan peraturan ini tapi tetap menyuruh Yuuma karena Oliver mengibaratkan Yuuma sebagai kakak Rin dan Yuuma pun melihat Rin sebagai adiknya.

Sebenarnya Len tidak keberatan bila Yuuma membangunkan Rin. Len sudah menganggap Yuuma sebagai saudaranya sendiri. Karenanya, Len sering dan suka mengerjai Yuuma seperti sekarang ini.

Yuuma tidak mau membantah dan mengkhianati kepercayaan Oliver maka satu-satunya cara untuk lolos dari pertanyaan Len...
"Baik, aku akan mengganti seragamku terlebih dahulu."

Semenjak itulah, Yuuma selalu memakai seragam maid setiap kali membangunkan Rin di pagi hari.


#suntingankelar ane ada edit (tambahin, kurangin dan perbaikin) kalimat / kata-kata di chapter ini biar lebih efektif + gak terlalu monoton XD