Awkward, kata itulah yang menggambarkan situasiku saat ini. Sejak tadi, Len hanya diam seribu bahasa, mengamati pemandangan di luar jendela. Raut wajahnya sulit kubaca. Dan aku tidak berani memulai percakapan duluan.

Kenapa sih aku sampai terbawa emosi segala. Pakai acara pegang tangan Yuuma lagi.

"Rin..." Len menyebut lirih namaku, pandangannya masih tertuju ke luar jendela.

"Y-Ya?" Aku ragu-ragu menjawab panggilannya. Aku takut dia cuma sebatas bergumam dan tidak bermaksud memanggilku.

Len sekilas melirikku. "Kau sudah ingat sampai sejauh mana?"

Glek. Oke waktunya berakting Rin!

Aku memeluk diriku sendiri, berupaya memasang mimik wajah sedih, "Setelah saya coba ingat-ingat... saya ada memimpikan sepasang anak perempuan dan anak laki-laki, mereka berdiri di tepi danau penuh peri. Kelihatannya mereka sedang bertengkar hebat sampai-sampai sang anak perempuan menampar temannya..."

Em... apa lagi ya...
Lord, aku lupa sisanya, gyaah!

Len mengalihkan pandangannya ke arahku, menatap dalam kedua mataku. "Hanya itu?"

Oh tidak. Aku tidak tahu kenangan mereka yang lain. Terpaksa ku iyakan dengan percaya diri... ya, dengan percaya diri.

"Y... yeah... h...hh-hanya itu saja yang bi-bisa saya ingat..." Sial, tatapan ketus dan raut wajah Len yang dingin bikin suaraku jadi gemetaran.

Len menarik nafas cukup panjang. "Haaa. Ternyata memang mustahil."

Aku menatap gelisah diri Len yang mendadak bangkit berdiri.
Apa yang ingin dia lakukan padaku? Menggertakku? Mengusirku?

Len berpindah tempat duduk ke sebelahku, -grep- mendekap erat diriku. "Tak usah takut, Rin. Aku tidak akan menyakitimu. Kumohon jangan mendorongku. Izinkan aku memelukmu sebentar saja..."

Dia peka akan niat dan pikiran negatifku!

Suaranya terdengar frustasi...
Yasudahlah... Tak ada salahnya juga kubiarkan dia memelukku.

"Pasti sulit bagimu. Kamu yang akhirnya terbangun dari koma malah disambut dengan kenyataan seperti ini. Kenyataan bahwa kamu tengah berada di tempat asing yang tidak kamu kenali. Seharusnya aku mendukung dan menuntunmu tapi aku..." Nada bicaranya begitu halus dan tulus, seakan-akan kepeduliannya itu ditujukan padaku bukan pada 'Rin'.

"Sikap yang kamu tunjukkan kepadaku kemarin membuatku kesal dan sedih. Aku ingin kamu segera mengingat semuanya hingga aku terkesan memaksamu, semata-mata karena... kamu bukanlah Rin yang aku kenal." Deg! Kalimatnya yang terakhir bagaikan serangan anak panah yang sukses menancap dan menghancurkan dinding keegoisanku.

"Aku rindu padamu, Rin Lapis Dikrof... ditambah tindakanmu yang lebih memilih bergantung pada Yuuma daripada bergantung padaku. Perasaanku..." Len melonggarkan cengkraman tangannya di bahuku, memperbolehkanku membebaskan diri dari dekapannya.

Aku sadar, tubuh ini bukan milikku dan Len membutuhkan support dari 'Rin' ...

Aku semakin menyandarkan kepalaku ke dadanya, melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya.

Tubuh Len sedikit tersentak. Aku dapat merasakan debaran jantungnya yang mulai berdegup cepat.

Jujur, aku merasa tidak nyaman, serasa sedang berpelukan mesra dengan pacar orang lain. Namun, aku tidak membenci bentuk rasa empati yang kuberikan kepadanya ini.

Len perlahan mendorongku, menjauhkan tubuhku darinya. Dengan tangan yang masih memegang kedua sisi bahuku, pipinya merona semirip warna kelopak bunga Sakura. "Maaf Rin, aku menyesali perbuatanku. Sebetulnya aku mengkhawatirkan alergimu tapi karena aku sudah lama sekali tidak melihat wajah marahmu, aku jadi..."

Dasar. Aku sudah menduganya, dia pasti tersenyum seolah-olah dirinya tak bersalah guna memancing kemarahanku.

Huh... kuakui, semenjak aku terdampar di dunia ini, aku cuman mikirin egoku sendiri tanpa mempedulikan perasaan Len dan 'Papa Rin'. Padahal sama sepertiku yang kehilangan sesosok Miku-nee, mereka pun juga kehilangan seorang 'Rin'!

Aku melihat ke arah lain, sengaja menghindari kontak mata dengan Len. "Tak apa, Yang Mulia. Saya juga bersalah karena terbawa emosi belaka sampai saya menyakiti hati Yang Mulia."

Len menyentuh pipi kiriku, menatap lembut wajahku dengan senyuman yang tak dapat kudefinisikan. "Kau salah paham, Rin. Aku memang terbuai oleh perasaanku tapi bukan berarti kau menyakiti hatiku. Lagipula, hal yang wajar bila kau bergantung pada butler pribadimu."

"Yang Mulia..." Aku tidak tahu kata-kata apa yang tepat untuk menanggapi pernyataannya ini.

Len melepaskan cengkraman tangannya lalu dia bergeser sedikit, memberikan jarak di antara kami. "Baiklah. Mari kita lanjutkan percakapan tentang ingatanmu, Rin."

"Mimpi yang kau ceritakan tadi merupakan salah satu kenangan kita berdua, ketika kita berumur dua belas tahun." Yayaya, aku sudah tahu. Bisa tidak sih aku skip pembincangan ini kayak di game beneran.

"Saat itu, aku menangkap sepasang peri untuk kujadikan sebagai hadiah atas resminya pertunangan kita. Hasilnya, kau sangat marah pada perbuatan konyolku. Ha-ha-ha... betapa bodohnya aku waktu itu." Len tertawa sarkastik dengan nada yang sendu.

"Aku tidak akan menceritakannya secara detail. Aku akan bersabar menunggumu mengingat semuanya walaupun membutuhkan waktu yang lama." Fiuh. Untunglah, aku tidak perlu mendengarkan cerita yang tak penting itu untuk kedua kalinya. Dan syukurlah, Len mau memaklumi keadaan 'Rin'.

Len mengelus sekali kepalaku. Kemudian dia melipat tangannya di dada seraya melirik ke luar jendela lagi. Aku pun turut melihat ke luar jendela yang sama, menatap pemandangan serba hijau yang asing. Sangat berbeda dengan pemandangan kota Tokyo yang padat.

Aku harus segera menyelesaikan masalah utamaku, mencari jalan pulang ke dunia nyata sebelum ada orang yang mengetahui identitas asliku. Aku mesti menyakinkan orang-orang di sekitar 'Rin' terutama Len bahwa aku adalan 'Rin' yang mereka kenali agar aku bisa leluasa melakukan apapun tanpa dicurigai oleh mereka.

"Yang Mulia, saya janji, saya akan memulihkan ingatan saya secepatnya." Yah, aku janji, aku akan secepatnya pergi dari dunia otome dan mengembalikan tubuh ini pada 'Rin'.

Len tetap memandang ke luar jendela, kedua sudut bibirnya terangkat membentuk seutas senyuman. "Panggil aku Len. Kau adalah teman kecil sekaligus tunanganku. Tentu saja kau boleh berbicara non-formal denganku."

"Oke jika itu maumu, Len." Aku membuang pandanganku ke jendela lain yang berlawanan arah dengan jendela yang masih dipandangi Len.

Suasana sekitarku kembali canggung meski tidak secanggung sebelumnya. Paling tidak, permasalahanku dan Len udah beres.

-Guess Academy-

Aku menerima uluran tangan Len guna membantuku turun dari kereta kuda. Sesaat setelah menginjakkan kakiku ke tanah, mataku langsung tertuju pada gedung berukuran super besar yang letaknya tak jauh dari hadapanku.

"Bagus kan? Inilah akademi utama Kerajaan Voca, Guess Academy." Aku mengangguk-anggukkan kepalaku, menyetujui perkataan Len.
Aku terpana, mengamati gedung akademi sambil berjalan menuju ke arahnya.

Desain bangunan akademi ini sungguh unik, megah, luas dan elegan. Arsitektur bangunannya mirip dengan bangunan Universitas Oxford!

Len menyamakan langkah kakinya denganku. Kami pun berjalan bersebelahan mendekati pintu masuk akademi. Lima buah mesin berbentuk kotak berlubang, berjejer menyambut kedatangan kami. Bentuk kelima mesin itu sama persis seperti bentuk body scanner yang terdapat di kebanyakan bandara dan mall.

"Ladies first." Len mempersilakanku melewati body scanner itu duluan. Tanpa rasa curiga, aku pun melewati salah satu body scanner.

"Wow. Gaunku!" Aku menatap takjub gaunku yang berubah menjadi semacam seragam sekolah beratribut lengkap dengan dasi panjang bertuliskan Guess.

Len menyusulku melewati body scanner dan saat itu juga, setelan pakaian yang dikenakannya juga berubah menjadi seragam sekolah beratribut lengkap dengan jubah bertuliskan Guess.

"Itu mesin apa? Kenapa pakaian kita bisa berubah jadi seragam sekolah?" Aku menatap orang-orang yang berlalu-lalang melintasi body scanner tersebut dengan santainya, seolah mereka telah terbiasa dengan perubahan pakaian mereka.

"Body scanner pengubah segalanya, body scanner yang tercipta dari material sihir langka dengan bantuan sihir pula. Disebut body scanner pengubah segalanya karena dapat mengubah pakaian, benda dan fisik atau identitas seseorang." Keren! Mesinnya bisa menggunakan sihir!

"Body scanner di akademi kita sudah di setting untuk mengenali identitas melalui wajah, ciri-ciri fisik serta data pribadi lalu mengubah pakaian mereka sesuai dengan status dan pekerjaan mereka di sini." Canggihnya! Mesinnya bisa membedakan jenis kelamin dan jabatan!

Aku yang tengah berantusias tiba-tiba tertarik pada dasi silang yang dikenakan oleh Len. "Kenapa dasi yang kita kenakan berbeda?"

"Dasiku melambangkan kelas akselerasi tahun ketiga sedangkan dasimu melambangkan kelas reguler tahun pertama. Semakin pendek dasimu maka semakin cepat kau lulus dari sini." Hoh. Tergantung dari kelas dan tingkatan rupanya.

Tahun ketiga dan tahun pertama?

"Kita gak seumuran?" Bukankah dia baru masuk akademi, barengan sama 'Rin'? Sekalipun Len di kelas aksel, agak tak logis bila dia langsung naik ke kelas terakhir.

Len tertawa ringan, sebuah senyuman mengejek menghiasi wajahnya, "Hahaha, rahasia. Coba kau ingat sendiri, Rin."

Heh-heh-heh bodoh amatlah mau seumuran atau tidak. Tak ada kaitannya denganku.

Beberapa orang yang berkemungkinan murid di akademi ini, sedikit membungkukkan badan ketika mereka bertemu pandang dengan Len. "Selamat pagi Yang Mulia Putra Mahkota, selamat pagi Lady Dikrof."

Aku refleks bersembunyi di belakang Len.

"Pagi." Len membalas sapaan mereka dengan senyuman formal. Sedangkan aku hanya dapat membalas sapaan mereka dengan senyuman kaku.

Setelah mereka menjauh dari pandanganku, Len menahan tawanya sembari mendorong pundakku, menyuruhku untuk kembali berdiri di sampingnya. "Tenang, Rin. Mereka tidak akan berani melakukan macam-macam padamu."

Siapa yang takut sih. Aku cuma sekadar refleks melindungi diri gara-gara tatapan aneh mereka.

Tak mengindahkan tatapan sarkastikku, Len melirik jam tangannya. "Hm. Bentar lagi kita masuk."

"Ayo pergi Rin, kuantar kau ke kelasmu." Len menggenggam pergelangan tangan kiriku, melangkahkan kakinya menuju kelas yang dimaksudnya.

Di sepanjang koridor, banyak sekali pasang mata yang tertuju pada kami berdua. Len tidak mempedulikan tatapan mereka dan terus melangkahkan kakinya.

Kalau diperhatikan, semua orang di sini melihatku dengan tatapan aneh itu. Tatapan dingin nan aneh...
Oh! Tatapan jijik dan hina. Sepertinya calon Ratu Kerajaan ini dibenci oleh teman-teman seperjuangannya.
Ini artinya... kerjaanku berkurang satu, aku tak usah capek-capek berakting di sekolah!

Sentilan pelan tiba-tiba terasa di keningku, "Lagi mikirin apa, Rin?"

Sentilan serta suara Len seketika membuyarkan pikiranku. Aku mengamati sekelilingku, menyadari bahwa aku sudah berada di depan kelas 'Rin'.

"Jangan terlalu serius memikirkannya. Waktumu tak terhingga. Kau bisa memulihkan ingatanmu pelan-pelan." Ha. Dia kira daritadi aku sedang mencoba mengingat-ingat memori 'Rin' apa.

"Aku akan membawamu ke beberapa tempat di sekitar kawasan akademi saat istirahat nanti. Mungkin tempat-tempat itu bisa membantu memulihkan ingatanmu." Len berkacak pinggang, nada bicaranya tegas seperti memerintahkanku untuk menerima tawarannya.

Ini... kesempatanku mendapatkan informasi paling akurat buat memperkuat penyamaranku sebagai 'Rin'!

"Oke, akan kutunggu di kelasku." Tuhan, semoga tawaran Len ini berkhasiat dan mampu memulihkan ingatan 'Rin'. Amin.

Len tersenyum senang kemudian dia beranjak pergi, membelakangiku. Aku pun memasuki kelas 'Rin', menempati tempat duduk kosong di pojok ruangan dekat jendela.

Belum semenit aku duduk, seorang perempuan berambut panjang, berwarna merah terang, bergerak menghampiriku. "Lady Lapis, bagaimana keadaan Anda? Saya dengar, Anda terjatuh dari tangga."

Lah. Kenapa ada orang yang menghampiri dan menanyai kabar 'Rin'? Semua murid di sini kan benci sama 'Rin'.

Sedikit demi sedikit, aku dapat mendengar pembicaraan segerombolan murid perempuan yang berdiri di dekat tempat dudukku. "Lagi-lagi Lady Derdeweis cari perhatian di depan Lady Dikrof."

"Biarin aja. Lumayan, ada tontonan menarik setelah sekian lama." Tontonan menarik? Jangkaun pendengaranku semakin kutajamkan dan kufokuskan pada obrolan mereka.

"Hahaha. Percakapan antara malaikat jadi-jadian dengan manusia tak tahu malu segera dimulai." Apaan dah mereka, gak jelas banget. Ganti-ganti nama orang seenak udel.

Mereka terdiam, menanti reaksi yang akan kuberikan. Biasanya 'Rin' merespons kayak gimana ya. 'Rin' menjawab dengan dinginkah? Atau tidak menjawab sama sekali?

'Percakapan antara malaikat-' Mereka tadi bilang percakapan sih...

"Aku baik-baik saja." Aku menanggapi pertanyaan Derde- siapalah itu namanya dengan nada sedingin mungkin.

"Syukurlah." Perempuan berambut merah itu tersenyum lega.

"Uuuh. Lady Dikrof tidak merespons seperti biasanya." Waduh. Aku salah kasih respons.

"Hehehehe. Kepalanya kebentur keras kali jadi gegar otak deh." Hei, aku tidak gegar otak! Aku menatap tajam diri mereka satu per satu.

"Kasihan, benturannya masih kurang keras. Buktinya dia tidak sadar akan posisinya sebagai rakyat jelata." Mereka serentak tertawa cukup keras, mengacuhkan tatapan membunuhku.

Salah satu dari mereka terang-terangan melakukan kontak mata denganku, "Namanya juga manusia tak tahu malu, dia gak punya muka dan harga diri."

Woah, mulut mereka lemes sekali. Mereka tidak takut kuadukan pada Len?! Meskipun perkataan mereka bukan ditujukan kepadaku, namun emosiku berhasil meluap-luap akibat cibiran mereka.

"Tahan emosi Anda, Lady Lapis." Perempuan berambut merah itu menahan diriku yang hendak berdiri.

Dia berbisik kecil padaku, "Jangan sampai keadaan Anda yang tengah mengalami amnesia diketahui oleh publik."

"Maksudmu?" Aku balik berbisik kecil padanya.

Dia semakin mengecilkan volume suaranya, "Pangeran Len telah memberitahu dan memerintahkan saya untuk membantu Anda beradaptasi dengan lingkungan kelas Anda."

"Yang Mulia khawatir stress Anda bertambah akibat sindiran dan gunjingan mereka yang akan semakin parah bila Anda ketahuan mengalami amnesia." Jadi Len tahu akan perbuatan mereka terhadap 'Rin' tapi dia tidak melakukan apapun? Tidak menegur mereka dan tidak membela 'Rin'?

"Kalau dia serius mengkhawatirkanku, kenapa dia tidak mengambil tindakan atas cibiran dan hinaan mereka?" Aku tak percaya, Len memperkenankan orang yang dicintainya dihina setiap saat.

"Mengemukakan pendapat secara terbuka dan terus terang diperbolehkan di kerajaan ini, kecuali jika orang yang digunjingkan merupakan anggota keluarga Inti Kerajaan." Keluarga inti Kerajaan...? 'Rin' itu calon Ratu, semestinya 'Rin' termasuk ke dalam anggota inti Kerajaan dong.

"Pangeran Len tak punya kuasa apa-apa, Pangeran tidak dapat menghukum mereka karena Anda belum resmi menjadi bagian dalam keluarga inti Kerajaan." Hoh... 'Rin' tidak termasuk keluarga inti Kerajaan lantaran Len belum resmi menikahi 'Rin'...

Perempuan itu menjauhkan bibirnya dari telinggaku dan menaruh kedua tangan di dadanya, "Apabila Anda memerlukan bantuan atau sekadar ingin bertanya, jangan sungkan-sungkan. Langsung katakan saja kepada saya."

"Baiklah, em siapa namamu?" Derde- aku lupa bagian belakangnya.

"Nama saya Miki Derdeweis." Miki tersenyum tipis, kemudian dia kembali ke tempat duduknya yang terletak di depan meja guru.

*TRIIiiinggg* Bel sekolah berbunyi sekali. Para murid berbondong-bondong masuk ke dalam kelas dan duduk ke tempatnya masing-masing.

Sebuah buku cetak virtual, dua buah buku catatan beserta alat tulisnya muncul di atas meja para murid, diiringi dengan masuknya seorang pria dewasa berpakaian formal ke dalam ruangan kelas.

Di akademi biasa aja udah serba sihir, gimana akademi khusus sihir ...

-beberapa jam kemudian-

*TRIIiiinggg*TRIIiiinggg* Bel yang berbunyi dua kali menyebabkan sebagian besar murid melakukan gerakan kemenangan, gerakan yes. Dilihat dari reaksi mereka, bel ini pasti menandakan jam istirahat. Sang Profesor pun menghentikan kegiatan mengajarnya dan pergi meninggalkan ruangan.

Pelajaran dan guru di sini bagus juga. Bahan ajarannya mirip dengan akutansi dasar yang kupelajari ketika aku masih maba.

"Rin!" Aku menoleh ke arah Len yang berdiri di depan pintu kelas.

Aku pun buru-buru keluar kelas, menuju ke arahnya. "Kita mau kemana Len?"

"Pertama, kita mampir ke tempat kesukaanmu dulu." Len menggandeng telapak tangan kananku, menarikku pergi ke tempat yang tidak kuketahui.

-Wold Biest Library-

Wuaah! Aku memutar-mutarkan tubuhku seraya memandang kagum ke segala penjuru ruangan yang tak ada ujungnya. Ukuran perpustakaan ini sangat amat besar. Aku berlari kecil ke sana kemari, menyamperi rak buku dan meja baca secara bergantian.

"Hehehe. Kau bersemangat sekali, Rin." Ya, kebetulan tempat favoritku sama seperti 'Rin'!

"Nama tempat ini Wold Biest Library, perpustakaan umum sekaligus yang terbesar di dunia ini. Perpustakaan ini buka dua puluh empat jam setiap harinya tanpa hari libur. Semua buku non fiksi di seluruh dunia ada di sini." Se-semua buku non fiksi di seluruh dunia?!

Aku membalikkan badanku kegirangan, menghadap ke arah Len. "Benarkah?"

Melihatku yang tiba-tiba meloncat, ekspresi Len sedikit terkejut. Sedetik kemudian, bibirnya membentuk sebuah senyuman lebar. "Rasa cintamu pada literatur tidak menghilang ya."

"Apa dari dulu aku suka belajar?" Mudah-mudahan hobiku dan 'Rin' juga sama.

"Kau sangat menyukainya. Kau sering menghabiskan waktu luangmu di sini, membaca berbagai macam buku seharian." Yes! Aku bebas datang dan belajar di sini kapan pun! Aku bakal sering-sering mampir ke sini selagi aku masih berada di dunia otome.

"Waktu istirahat kita tak banyak. Tapi jika kau mau, kau boleh berkeliling perpus sejenak." Mau, aku mau banget tapi kalau ada Len... mending aku lihat-lihat perpusnya pas hari libur aja deh.

"Tak usah. Kita lanjut ke tempat berikutnya saja." Yah... aku lumayan penasaran dengan tempat lain yang akan Len datangi.

-Academy's Maden Primary Park-

Len mengajakku kembali ke dalam gedung akademi. Dia memperlambat langkah kakinya tepat setelah kami keluar dari gedung melalui pintu belakang. "Ini taman utama akademi kita, Maden Primary Park."

Aku dan Len mengitari taman tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Len tampak menikmati suasana serta pemandangan sekitar taman.

Taman ini dikelilingi oleh pepohonan lebat dan penuh dengan hamparan bunga Tulip berwarna ungu. Udara di taman terasa sangat sejuk mungkin karena awan abu-abu yang telah menutupi langit sepenuhnya.

"Tempat ini adalah tempat kesuakaanku, kita kadang menghabiskan waktu istirahat di sini." Tak heran. Terlihat jelas bahwa Len sungguh menyukai pemandangan alam.

*tes*tes*tes* Rintik-rintik hujan mulai berjatuhan, mengenai kepala dan rambutku.

"Oh, hujan." Len melepas jubahnya lalu melemparnya ke atas. Bertepatan dengan jentikkan jari tangannya yang lain, jubah itu pun melayang, mengeras dan melengkung seperti payung.

-prok- -prok- -prok- Aku spontan bertepuk tangan. "Hebat! Trik apa yang kau gunakan?"

"Tidak ada. Aku cuma menggunakan sihir tingkat dasar atau biasa dikenali orang awam sebagai sulap. Sihir yang memanfaatkan benda-benda yang dekat dan melekat pada diri seseorang." Sihir tingkat dasar...?

"Sihir yang dipakai Yuuma untuk menghilangkan rasa gatalku itu sihir tingkat apa?" Sama tingkatankah?

"Sihir tingkat standar, sihir penyembuh luka dan alergi ringan." Oh, beda tingkatan.

"Kau bisa memakai sihir tingkat standar?" Aku memandang remeh diri Len, menyindir perbuatannya di mansion 'Rin' tadi pagi.

"Tentu saja aku bisa memakainya. Sayangnya saat ini, aku hanya dapat memakai sihir tingkat dasar karena penggunaan tingkatan serta jenis sihir di kawasan akademi sangat dibatasi." Len tersenyum bangga. Kayaknya dia tidak menangkap maksud tatapanku.

Tingkatan serta jenis sihir... topik menarik nih. Barangkali cara balik ke duniaku berhubungan dengan sihir.

"Apa itu tingkatan serta jenis sihir? Lalu tingkatan dan jenisnya dibatasi bagaimana?" Aku sengaja sekalian menanyakan sihir yang dibatasi di akademi agar pertanyaanku terkesan lebih natural.

Raut wajah Len yang rileks mendadak menjadi serius. "Penjelasannya bakalan panjang, kau yakin ingin mendengarnya?"

"Ya!" jawabku dengan nada mantap.

"Tingkatan sihir dibagi lima, yaitu tingkat dasar, standar, medium, protas dan tingkatan paling tinggi, gendrare." Len menggerakkan jari-jari tangan kanannya, berhitung 12345.

"Supaya tidak terlalu memusingkan, aku hanya akan menjelaskan tingkatan yang berlaku di sini, sihir tingkat dasar beserta jenisnya. Sisanya kita bahas di lain waktu saja." Okeoke. Sisanya bisa kucari sendiri atau kutanyakan pada Yuuma.

"Sihir tingkat dasar adalah sihir yang tercipta dari penggabungan kekuatan sihir milik diri sendiri dan benda yang menggandung kekuatan sihir. Contoh bendanya, seragam kita ini." Len menunjuk blazer sekolah yang dia kenakan.

Kemudian, Len mengangkat tiga jari tangannya. "Terdapat tiga jenis sihir dalam tingkatan ini, pertama, sihir fokus yang mengubah bentuk benda sesuai keinginan atau imajinasi."

Len mencopot dasi silangnya, menggenggamnya sembari menutup kedua matanya. "Perbatasan antara dunia asli dan imajinasi pun menipis, menimbulkan lubang di antara keduanya. Ubahlah benda yang ada di tanganku layaknya benda yang di pikiranku, Metakonfesis!"

*Puff* Dasi tersebut menghilang, digantikan oleh setangkai bunga Mawar hitam.

Len membuka kedua matanya, melihat ke arah Mawar tersebut. "Kedua, sihir konversi yang mengubah jumlah atau ukuran benda."

Dia mengguncangkan Mawar itu dua kali, menghasilkan dua tangkai bunga Mawar di tangannya. Dia meluruskan kedua bunga Mawar tersebut, sekejap, kedua Mawar itu menyatu dan ukurannya berubah menjadi dua kali lipat lebih besar.

*Puff* Mawar besar itu bertukar tempat lagi dengan dasi silang Len.

Len memasang dasinya kembali lalu tersenyum kepadaku. "Terakhir, sihir random yang mengubah fungsi serta bentuk benda sesuai situasi dan kondisi. Misalnya, jubahku yang berubah menjadi payung ini."

"Tingkatan sihir dasar dan jenisnya dibatasi dengan penambahan syarat yang berlaku khusus di akademi. Yakni, perlu memadukan lebih dari satu kekuatan sihir individu. Seperti sekarang, aku merangkulmu untuk meminjam kekuatan sihirmu." Merangkul? Aku melihat tangan Len yang tengah memegang bahu sebelah kiriku. Sejak kapan tangan kirinya melingkupi bahuku?

Aku menapis rangkulan Len sekalem mungkin. Saat itu juga, jubah Len kembali ke bentuknya yang semula, mengakibatkan -byur- hantaman hujan deras mengguyurku dan Len.

Len memungut jubahnya sambil menyeka poninya yang basah. "Rin, kau tidak mendengarkan penjelasanku ya..."

Ups. Aku gak suka dirangkul sih...

"Hatcim-" Dingin! Aku menutupi hidungku dengan kedua tanganku.

"Rin. Kita harus segera ke UKS sebelum kau masuk angin." Len memakaikan blazernya kepadaku dan buru-buru membawaku pergi meninggalkan taman.

-UKS-

Kedatangan kami disambut dengan wajah cemas seorang wanita dewasa berjas lab. "Oh My! Yang Mulia, Putri Rin, mengapa Anda bisa sampai basah kuyup begini?"

"Kami kehujanan di taman akademi, Dokter Gills." Gigi Len bergemeretak, dia pasti merasa kedinginan juga.

Dokter itu lekas menyiapkan tiga buah bangku. Kemudian, dia menduduki salah satu bangkunya. "My, my. Silahkan duduk di sini, Yang Mulia dan Putri Rin."

Kami mengikuti intruksinya, menduduki bangku yang dia letakkan tepat di bawah dua buah lampu neon panjang.

"Saya pinjam tangan Anda sebentar." Dia mengambil tanganku dan tangan Len sembari menutup kedua matanya.

Lambat laun, lampu panjang yang ada di atas kami mengeluarkan hawa panas, sepanas terik matahari. Tak butuh waktu lama, seragamku dan seragam Len mengering seperti sedia kala.

Len meremas kemejanya dan blazernya yang masih kupakai. "Sudah cukup, Dok."

Mendengar perkataan Len, Dokter Gills membuka kedua matanya dan melepas genggaman tangannya.

Len tersenyum simpul ke arahnya. "Terima kasih, Dok."

Dokter Gills melayangkan sebuah senyuman lembut kepadaku dan Len. "Sama-sama, Yang Mulia."

Aku dan Len pamit lalu beranjak keluar dari UKS. Kami pun berjalan santai di lorong UKS yang sepi.

"Kita beruntung. Kalau Dokter Gills tidak ada di UKS, kita terpaksa pakai baju staff." Hoh. Rencananya ke UKS untuk mengganti pakaian toh.

Aku melucuti blazer Len lalu menyerahkannya pada Len, "Apa tadi itu sihir random?"

Len mengambil blazernya dan langsung mengenakannya. "Yaps. Dokter Gills meminjam kekuatan sihir kita dengan memegang tangan kita."

Hm. Rangkulan dan genggaman tangan...
Berarti 'Rin' punya kekuatan sihir dong...

"Pangeran Len!"
Aku beserta Len serempak menengok ke arah perempuan berambut super panjang sampai ke tumit kaki.

Perempuan itu berjalan cepat menuju ke arah kami. Dasi yang dia kenakan sama seperti Len. Kelihatannya mereka seangkatan.

"Aduh..." Len bergumam kecil dengan raut muka malas.

Perempuan itu menatap riang dan tersenyum manis ke arahku. "Oh. Lady Rin, senang mengetahui kondisimu sudah membaik."

Raut wajah perempuan itu berubah drastis saat matanya memandang ke arah Len. "Pangeran! Jangan coba-coba kabur dari rapat OSIS hari ini. Ini rapat penting, PENTING!"

Len memandangnya acuh tak acuh. "Aku tidak kabur. Aku mau antar Rin pulang dulu, baru ikut rapat."

Mata perempuan itu melotot lebar seakan-akan bola matanya ingin keluar dari tempatnya. "TIDAK BOLEH! Kau tahu sendiri, tanpa Ketua OSIS, rapat tidak akan dimulai. AKU TIDAK SUDI BILA RAPATNYA DITUNDA LAGI!"

Len mengangkat kedua tangannya ke samping, tersenyum miring ke arah perempuan tersebut. "Ya ampun, anggota-anggota OSIS ini setia pada Ketua OSIS-nya deh. Rapat penting aja ditunda terus hanya demi menunggu partisipasi sang Ketua OSIS."

Perempuan itu memegangi kepalanya, mengeleng-gelengkannya perlahan, "Kau pikir gegara siapa rapatnya ditunda terus hah. Andaikan kau bukan sang Ketua OSIS, rapat ini udah kelar dari kemaren-kemaren..."

"Pokoknya, pulang nanti, AKU BAKAL MENYERETMU LANGSUNG KE RUANG OSIS!" Teriakan perempuan itu memekakkan telinga, membuatku dan Len menutupi telinga kami.

"Iyaiya, aku paham. Berhentilah berteriak. Kalau Rin jantungan terus koma lagi gara-gara teriakanmu gimana?" Ckckck, bisa-bisanya Len menyangkutpautkan kondisi 'Rin' buat mengubah topik pembicaraan.

"Jangan mengalihkan pembicaraan, Len. Kau mesti menjalankan kewajibanmu." Tak akan kubiarkan kau memakai kondisi 'Rin' sebagai alasan.

"Lady Rin!" Perempuan itu terlihat sangat senang dengan perkataanku.

"Rin... kau membela IA..." Siapa suruh kau melibatkanku dalam perdebatan kalian.

IA? Ah, nama perempuan itu.

"Kau dengar kan, Pangeran? Lady Rin menyuruhmu untuk menjalankan kewajibanmu. Masa kau tidak bersedia mengabulkan perintah Lady-mu ini." Tatapan dan senyuman penuh kemenangan diberikan IA kepada Len.

Ekspresi intimidasi Len mulai menghiasi wajahnya. "Wah wah, cara menekanmu ini kau pelajari dari siapa?"

IA balas memejamkan matanya seraya tersenyum lebar. "Dari orang yang sangat Pangeran kenali, seseorang yang mengalahkanku dalam pemilihan Ketua OSIS."

"Oh hoh. Dia pasti orang yang sangat kau kagumi. Sampai-sampai kau mendalami tekniknya itu." Len menekankan nada bicaranya, senyumannya pun semakin lebar, semakin menyeramkan.

Len dan IA diam membisu, ekspresi intimidasi masih terpasang di wajah mereka masing-masing. Menyaksikan mereka yang saling berhadapan dibalut suasana mencekam, menggebu-gebukan adrenalinku. Seseru ini rupanya nontonin orang berantem.

"Ah! Aku harus menemui Prof Seipey." Seketika ekspresi IA kembali normal.

IA tersenyum kepadaku dan mengacungkan jari telunjuk tangan kanannya ke wajah Len. "Sampai jumpa, Lady Rin. Ingat Pangeran, jalankan kewajibanmu. Mataku selalu mengawasimu."

Selepas berkata begitu, IA berlari sekencang-kencangnya hingga -bruk- dia terjatuh tak jauh dariku dan Len.

"Auh..." IA meringis kesakitan sambil berusaha bangkit sendiri. Lalu dia berlari kecil, menghilang di ujung lorong koridor.

"Kalian akur ya, siapa dia?" Saking akurnya, cara mereka beradu mulut bagaikan pertengkaran sepasang saudara, adek dan kakak.

"Akur? Haha. Kau bisa diceramahi IA, Rin." Len tertawa pelan.

Dia menatap kosong ke ujung lorong koridor. "Perempuan tadi bernama Aria Nadeau. Dia wakilku sekaligus ibu tiri para anggota OSIS."

"Kenapa dia dijuluki ibu tiri?" Aku tahu dia seram tapi seseram apakah dia sampai dijuluki begitu?

Wajah Len memutih pucat pasi. "IA begitu galak dan kejam. Jika dia bilang akan menyeretku maka dia benar-benar akan menyeretku ke ruang OSIS."

Aku membulatkan mataku, meragukan ekspresi serta deklarasi Len. "Dia beneran pernah menyeretmu?"

Len memandangiku penuh arti. "Tidak pernah. Hahaha. Aku selalu berhasil mendahuluinya, jadi dia tak punya alasan buat menyeretku."

Ish. Sempat-sempatnya orang ini nge-troll. Padahal rasa ibaku udah muncul.

Len menyapu poninya ke belakang dengan kedua tangannya, seutuhnya memperlihatkan mimik mukanya yang pasrah, "Karena hari ini aku ada rapat, Yuuma yang akan menjemput dan mengantarmu pulang."

Aku memendam tawa dibalik senyuman sarkastikku. "Oke. Semoga rapatmu membuahkan hasil."

Huahaha. Selamat bersenang-senang bersama IA.

*TRIIiinggg* Bel berbunyi sekali... apa ini tanda istirahat telah selesai?

"Gawat. Kita bisa telat masuk ke pelajaran berikutnya." Len menggandeng lenganku sembari berlari secepat yang dia bisa.

-drap- -drap- -drap- Suara hentakan kakiku dan Len memecahkan keheningan setiap koridor yang kami lalui.

-TBC-


Author's Note

kzmrnn, terima kasih atas reviewnya :D Hati-hati OTP-nya oleng wkwkwk

Hola! Selamat Natal 2019 dan Tahun Baru 2020! Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca fic ane. Jika ada pertanyaan, kritik dan saran, tanya atau tuliskan saja lewat pm or review :3

Sedikit ket :

Arti Lady = Arti -sama

Yang Mulia, Lady = sapaan / panggilan formal.

Pangeran, Putri, -sama = sapaan / panggilan akrab.

Nge-troll = memainkan perasaaan / emosi orang lain melalui ekspresi, candaan atau perkataan.


#suntingankelar ane ada edit (tambahin, kurangin dan perbaikin) kalimat / kata-kata di chapter ini biar lebih efektif + gak terlalu monoton XD