"..."

'Sudah pagi ya?'

Mitsurogi Naruto, 16 tahun. Aku saat ini terbangun dengan tenang tanpa adanya sambutan pukulan yang menyakitkan sama sekali.. Aku sedikit heran karena biasanya Rinze pasti paling pertama bangun dan membangunkanku dengan sebuah kayu.

Sebuah cara yang menyedihkan untuk bangun pagi hem.

ia kemudian berjalan keluar dari kamar menuju kamar mandi mempersiapkan diri untuk memasak dan berangkat sekolah.

saat ia melewati kamar Rinze, ia terbayang hal kemarin di mana Rinze menangis kepadanya karena sikapnya yang mengabaikan Rinze secara tidak langsung.

'aku tidak akan membiarkan hal yang sama terulang'

ia mengatakan itu dengan jelas dikepalanya. saat ia terus berjalan melewati kamar, pintu itu sedikit terbuka dan menampilkan Rinze yang mengintip kakak laki-lakinya yang berjalan melewati kamarnya begitu saja.

'...'

Suasana pagi yang damai tercipta di kediaman Motsurogi dan hal itu terbilang sangat langka mengingat Rinze adalah gadis yang sangat berisik.

di dapur pun terasa sangat senyap yang ada hanya suara kompor dan suara masakan. Setelah selesai memasak ia tidak lupa memasukkan sebagian ke dalam kota bekal makan untuk dia dan Rinze.

'Baiklah, ini saja sudah cukup' ia mengusap keringat di dahinya dan tersenyum puas setelah melihat masakannya selesai

'mengingat saat pertama kalinya aku mencoba... Sangat memalukan sekali! TAPI AKU TIDAK AKAN GAGAL DALAM URUSAN MEMASAK!'

ia mengepalkan tangan dengan kuat dan mata yang berapi-api bahkan latar belakang tubuh terlihat seperti api yang menyala tanda semangatnya yang sangat tinggi

"Kau sedang apa Onii-chan"

"eh?"

.

.

.

...

saat ini adik perempuannya melihat ke arahnya dengan tatapan menyedihkan dan jijik karena tingkahnya yang over reacting.

'mampus aku!'

dengan cepat ia berdiri tegak lalu bertindak layaknya pria normal pada umumnya.

"hrmmmhum (suara batuk) Rinze, Kakak mu menyadari sesuatu"

"apa kau bodoh" Rinze menjawab dengan nada datar

Namun ia dengan cepat membalas dengan mata yang sangat berapi-api. "Aku menyadari jika aku ini sangat berpotensi dalam memasak! tidak! lebih tepatnya aku berbakat menjadi chef!"

"Kau bodoh, jangan mimpi yang aneh. Kau itu lambat, tidak tampan, idiot, tidak populer..."

Naruto saat itu juga seperti di tusuk beragam kalimat yang menyakitkan dari segala arah dan jujur itu sangat menyakitkan sekali.

"Tapi..."

'?' Ia menatap ke arah adiknya yang masih duduk di meja makan namun wajahnya menunduk ke bawah.

"...Tapi, kau masih keren dalam satu hal"

melihat adiknya yang memujinya seperti itu membuat dirinya senang. ia pun tersenyum lalu berjalan ke arah Rinze

Tangannya ia letakkan di kepala Rinze dan mengelusnya pelan.

"aua..."

"Tidak aku sangka jika adikku yang sangat cerewet itu sekarang menjadi pemalu. ahhh aku jadi bangga" elusan lembut di kepala Rinze berubah menjadi sebuah hinaan untuknya membuat dahi Rinze berkedut.

"eh?" melihat adiknya mengepalkan tangan ia mulai panik namun semua itu sudah terlambat setelah wajah Rinze yang gelap berhasil ia lihat.

"Jangan sentuh aku!"

"puah!" Rinze memukul wajah Naruto dengan sangat kuat sekali hingga ia terlempar menghantam dinding rumah.

"ke...kenapa?"


[Sekolah]

"Naru-chan, apa kau baik-baik saja?"

Kyouko bertanya dengan khawatir ketika melihat Naruto membaringkan wajahnya di meja.

"paling dia berkelahi dengan Rinze-chan lagi" Naofumi mengejek dengan tawa melihat bagaimana menyedihkannya temannya ini.

"Itu menyakitkan oi!" Dan orang yang sejak tadi diam akhirnya berbicara juga dengan ekspresi marah

"awh.. c'mon Naruto kau jangan marah man. aku hanya bercanda" ia berusaha menghibur temannya ini.

melihat bagaimana murungnya Naruto, kyouko mulai ikut murung. "Sudah ku duga. Naru-chan ternyata Siscon"

kalimat itu langsung membuat dia berdiri dengan wajah protes.

"Hei! aku tidak siscon"

"kyahh"

Kyouko terkejut melihat Naruto yang tiba-tiba saja berdiri dan berteriak seperti itu.

spontan tawa tidak terhindarkan dari Naofumi. "baik-baik aku mengerti Siscon"

"grrr" Tatapan kematian ia arahkan langsung kepada Naofumi.

"Komandan!"

tiba-tiba saja pintu kelas dibuka dan menunjukkan 3 orang murid dari kelas D.

Naofumi kemudian menatap mereka dengan serius. "Jadi mereka masih belum menyerah ya?"

"Bagaimana Komandan! Regu utama kami sudah dikalahkan dan sebagian ditangkap oleh Iron man" (sensei paling menakutkan)

Naofumi kemudian bergerak menuju meja guru di depan kelas dan bertindak layaknya komandan.

"Semuanya! Kelas 3 saat ini mendeklarasikan perang! Demi melindungi harga diri dan melindungi senyuman Kyouko-chan! (sambil menunjukkan jari ke Kyouko) Kita tidak boleh kalah!"

sorakan dari para anak laki-laki semakin mengeras dan mereka siap untuk bertarung meninggalkan Kyouko yang terkejut dan malu-malu.

satu-satunya laki-laki yang masih diam dikelas hanyalah Mutsurogi Naruto. dia hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah mereka.

"SEMUANYA IKUT AKU!"

"OAAH!"

Teriakan naofumi terdengar hingga ke dalam kelas, tak berselang lama suara Sensei pun ikut terdengar

"KALIAN SEMUA! JANGAN LARI!"

Keributan besar mulai mengeras dari luar kelas

'apa-apaan sih yang mereka pikirkan?'

"a..ano.. Naru-chan..."

Kyouko berbicara padanya dengan wajah memerah, ia memiliki perasaan yang buruk akan hal ini.

"Apa itu Kyouko?"

"Apa nanti jam makan siang kau kosong?"

"..? ada apa rupanya?"

"ah.. ti...tidak ada apa-apa... a..aku hanya berpikir.. ehm.. ba..bagaimana kita makan bersama"

Kalimat yang terakhir ia ucapkan terdengar sangat pelan namun ia bisa mendengar apa yang Kyouko katakan dengan sangat jelas sekali. 'maafkan aku kyouko'

Ia memeramkan mata sebentar lalu menatap kyouko dengan wajah menyesal.

"Maaf tapi aku tidak bisa, aku ada perlu dengan Rinze sebentar lagi"

Seperti ia duga, Kyouko langsung murung dengan jawabannya.

"Maafkan aku Kyouko, tapi lain waktu oke"

"hm" Kyouko membalas dengan sebuah gumaman pelan

bel pelajaran berbunyi dan tak lama pintu kelas dibuka.

"ha?"

Aku dan Kyouko. tidak, bahkan satu kelas (yang kebanyakan perempuan) melihat ke depan pintu kelas yang dibuka dengan kuat menampilkan sensei yang kejam itu membawa para laki-laki ke dalam kelas dengan paksa layaknya sampah

"KALIAN! SUDAH AKU DUGA KECERDASAN KALIAN SANGAT BERBEDA JAUH SEKALI! KALIAN WAJIB IKUT KELAS TAMBAHAN NANTI!"

pintu kembali di tutup membiarkan para laki-laki di sana masih terbaring layaknya habis berperang dengan sesuatu.

'Sebenarnya apa yang terjadi?'


(Jam istirahat)

setelah jam istirahat tiba, ia bergegas mengambil "hal" yang ia perlukan untuk memulai rencananya.

'Baiklah kalian anak-anak nakal. kalian baru saja bermain-main denganku, dan sekarang kalian akan tahu bagaimana berhadapan denganku' wajahnya menggelap dengan senyuman jahat mengenai rencananya untuk membalas mereka

'Baiklah, mari kita ke tahap pertama'

ia kemudian menuju loker sepatu di mana Target pertamanya adalah gadis dari kelas 3. ada 3orang yang membully Rinze dan kali ini dia akan membalas mereka bertiga dengan cara yang memalukan

'Plan 1, begin!'

setibanya ia di loker, ia meletakkan surat di situ.

lalu bergerak menuju taman di belakang sekolah di mana ia menyiapkan jebakan. tak lupa ia menambahkan beberapa bumbu penyedap disana sebagai hadiah terakhir.

"Hey! di mana bendaku?"

'ugh, gawat' ia langsung melompat ke pagar dedaunan yang tumbuh di pinggiran. tak lama, target terlihat bersama dengan rinze. Dan seperti ia harapkan, Rinze kembali di Bully dengan kejam dengan si target.

Beruntung Target hany dia sendiri.

'Ini berjalan dengan baik' ia tertawa kecil. Setelah Rinze pergi melakukan apa yang perempuan itu perintahkan, remaja perempuan itu berjalan ke arah lain tepat menuju ke jebakan.

"kyah!'

Ia terkejut ketika ia memijak lumpur yang tertutup oleh dedaunan. Tak sampai di situ Naruto dengan cepat menarik tali yang ia pegang dimana tali itu terhubung dengan jebakan lain di pohon.

Sebuah benda berisi cairan langsung melayang ke arahnya

"kyaah!' kali ini ia berteriak lagi setelah terkena serangan lain dari tinta yang di bungkus ke sebuah plastik.

"Siapa yang melakukan ini?!" ia mulai kesal ketika merasa di permainkan, sementara itu si pelaku hanya tertawa geli di tempat persembunyiannya

Sang target langsung melarikan diri dari posisi. 'Aku tidak akan membiarkanmu!'

Naruto melihat jebakan selanjutnya berhasil terlaksana dimana sebuah benang tipis dengan kail tersangkut di rok mininya saat ia terjatuh di jebakan pertama.

'Akan aku jahili habis-habisan kau! Aku dipanggil raja TROLL bukan sekedar gelar saja'

Ia menyengir dengan kejam melihat bagaimana korbannya saat ini. Dengan tanpa keraguan sedikitpun ia menarik benang itu dan spontan hal berikutnya membuat korban menjadi sangat terkejut

"crack" suara sobekan cukup keras terdengar.

Perempuan itu langsung terdiam membeku di tempat mendengar suara itu.

'a..apa itu?' ia mulai bergetar ketika merasakan sesuatu datang dari roknya.

'Jackpot'

"KYAAAH!"

Suara teriakan terdengar dari gadis itu, ia langsung terduduk disana dengan wajah memerah ketika roknya terkoyak menjadi dua bagian.

Spontan teriakannya mengundang perhatian banyak murid yang ingin tahu apa yang terjadi. Sangat malang sekali untuk gadis itu karena ia sangat di permalukan saat ini.

Saat ia terus tertawa karena berhasil menjahili satu orang ini, entah kenapa ia merasa sedikit bersalah.

'Sebaiknya aku pergi darisini'

Sepertinya dia dari lokasi Rinze datang dengan panik dan berusaha membantu gadis malang itu.

"Senpai apa kaik-baik saja?!" Rinze berusaha menutupi bagian bawahnya yang terlihat dengan blazer sekolahnya.

Namun dia hanya diam saja dan tidak membalas perkataan dari Rinze sama sekali.

"Jangan gangu aku" dia justru berbicara ketus dan segera berlari dari situ dengan sangat malu sekali

Dia pergi menjauh dengan wajah merah menahan perasaan malu. Sementara itu Rinze menatap kearah jebakan yang terpasang disana membuatnya sedikit marah.

'Onii-chan'


[di lain tempat]

Gadis yang malang itu atau lebih tepatnya ia pantas menerima itu, sekarang berada di loker dimana mau mengambil sepatu dan langsung pulang. Namun hal itu terpaksa gagal setelah di loker sepatunya terisi dengan beragam sampah yang menjijikkan dan bahkan parahnya sepatunya ikut di kotori dengan sampah itu.

"Siapa yang berani melakukan ini" ia mulai kesal sekali melihat ini

Tak lama dua temannya datang kearahnya dengan senyuman.

"Ara? Ternyata ada juga yang marah padamu ya? Kalau begitu selamat ya" salah satu dari mereka berdua berbicara dengan penghinaan padanya membuat matanya shock

"ke..Kenapa kalian berbicara seperti itu?.. bukan kah kita teman?"

"Ha? Teman? Dengan orang hina sepertimu? Jangan senang dulu kau bitch"

Mereka berdua kemudian mengambil sesuatu dari dalam tas mereka. Dan melemparkannya ke wajah dia.

Apa yang mereka berdua lemparkan adalah semua fotonya yang sedang ganti baju membuat matanya langsung menggelap melihat bagaimana mereka dengan tenangnya melemparkan hal memalukan itu

"Selamat untuk menjadi slut baru ya"

Mereka berdua pergi dengan tawa menginggalkan dia sendirian disitu.

Ia langsung terduduk diam disana tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Dari balik loker sepatu seorang remaja laki-laki bersandar dengan tangan terlipat di dada.

'...'


[Keesokan harinya]

Kusano Komugi, gadis 17 tahun kelas 3 di sekolah menengah atas, ia memiliki penampilan seperti gadis yang cantik pada umumnya. Rambut berwarna kuning kemerahan dengan sepasang bola mata berwarna crimson red sekarang berjalan menuju loker sepatu dengan raut wajah kesal karena kejadian kemarin.

"hei"

Dia kemudian menghadap kebelakang melihat siapa yang berbicara tiba-tiba padanya. Dan apa yang ia lihat adalah seorang remaja laki-laki dari kelas 2 menatapnya dengan senyuman.

"Apa yang kau mau? Mitsurogi Naruto" ia bertanya pada remaja di depannya

"oh? Kau sudah tahu ya?" ia tersenyum palsu pada Komugi.

"Apa kau kemari mau marah padaku ha?" ia berbicara dengan provokasi padanya walau ia masih mempertahankan sikapnya dengan baik

Namun ia hanya menjawab dengan gelengan kepala pada Komugi lalu ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. "Apa maksudmu? Aku marah untuk apa? Yah sudah lupakan, aku hanya menitipkan sesuatu dari Rinze untukmu"

Ia kemudian memberikan sebuah kotak berukuran cukup kecil dari dalam tasnya. Tanpa adanya sopan-santun perempuan itu menarik kotak itu dari tangannya dan melihat isinya.

"ho? Jadi Rinze akhirnya sadar ya" ia tersenyum melihat dalam kotak itu berisi sebuah kue kecil.

Naruto di lain sisi mulai tersenyum gelap. 'selamat natal'

Sebuah ledakan kecil dating dari kue itu membuat wajahnya menjadi sangat kotor sekali.

"ha..ha..ha… maaf-maaf, aku tidak sengaja"

*drip

Matanya langsung melebar ketika hal yang ia harapkan sangat berbeda dengan kenyataan.

"hic"

Kusano Komugi, salah satu dari 3 yang menindas Rinzekemarin sekarang menangis di depannya bahkan air matanya semakin deras.

"Ke..kenapa…Kenapa kau melakukan ini padaku" ia menatap kearahnya dengan tangisan,

Ia hanya bisa shock di tempat melihat ini.

"Onii-chan!"

"eh?"

Sekarang semua terlihat sangat kacau ketika RInze datang dengan wajah marah padanya. Rinze semakin mendekat kearahnya lalu ia menampar wajah kakak laki-lakinya sendiri dengan raut wajah penuh kemarahan

"Kenapa kau melakukan itu! Kenapa kau sangat tega sekali kepada perempuan!"

"Ta..tapi Rinze! Bukankah dia itu sudah bertindak kasar padamu?"

"Tapi apa aku memintamu untuk membantuku?!"

Pertanyaan rinze berhasil membungkam dirinya. Rinze kemudian menenangkan dia yang masih menangis disana.

"Maafkan kakakku Komugi-chan"

Melihat bagaimana tiba-tiba Rinze bisa dekat dengan salah satu orang yang bertindak kasar padanya ia semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi.

Namun sebelum ia memulai pertanyaan Rinze membungkamnya dengan sebuah pernyataan mengejutkan.

"Dia ini teman baikku, Komugi-chan selalu saja dianggap lemah oleh semua orang. Jadi aku yang memaksanya bergabung dan bertindak seperti mereka! Bisakah kau sedikit lebih peka sedikit Onii-chan!"

Keheningan terjadi diantara mereka untuk beberapa saat setelah mendengar apa yang RInze katakan padanya.

"Maaf" hanya satu kalimat itu yang ia bisa katakan pada mereka berdua


[Di kelas]

Seperti biasanya protagonis utama kita kali ini membaringkan wajahnya di meja dengan ekspresi putus asa

'sekarang bagaimana ini? Aku sudah membuat kesalahan fatal dan sekarang aku justru memperburuk keadaan'

"Naru-chan, apa kau baik-baik saja? Perlu ke UKS?"

Kyouko seperti biasanya, dia selalu khawatiran terhadap sesuatu.

"Aku baik-baik saja' ia tersenyum pada Kyouko untuk meyakinkan dia jika ia memang baik-baik saja

Namun kyouko memberikan tatapan serius "Jangan bohong Naru-chan, aku tahu jika kau sedang kesulitan"

"Bagaimana bisa?"

Kyouko tersenyum padanya "Karena, setiap kali Naru-chan terganggu akan sesuau. Kamu pasti sering diam dan menggerakkan kaki kananmu"

Melihat bagaimana teman lamanya memahami dirinya dengan baik sekali ia tidak punya pilihan selain menceritakan apa yang ia alami

Beberapa menit telah berlalu setelah ia menceritakan seluruh masalah yang sekarang ia hadapi. Melihat bagaimana kesulitannya Naruto, Kyouko hanya bisa mengelus kepalanya seperti seorang anak kecil

"Oi aku bukan anak-anak"

Ia hanya memberikan tawa kecil "baik-baik..."

"..." walaupun ia sedikit protes di elus kepalanya layaknya anak-anak, namun entah mengapa hal itu tidak terlalu buruk


[sepulang sekolah]

'... hah.. sebaiknya aku minta maaf besok'

"tadaima"

'hm? Kita kedatangan tamu?'

Dia melihat sepasang sepatu asing bersebelahan dengan sepatu Rinze. Dilihat dari bentuknya tamu mereka pasti perempuan

"RInze?"

Ia memanggil adik perempuannya ketika sampai di ruang tamu dan tidak menemukan siapapun. Melihat tidak ada tanda-tanda mereka di dekat dapur, ia memilih untuk masak makanan dan mempersiapkan meja.

"Ah!'

"hm?"

"Ah.." langsung tersenyum kepada mereka berdua yang terkejut melihat dia di dapur,

"Apa kalian sudah makan? Ayo kita makan malam bersama"

"Onii-chan, kenapa kau dirumah? Bukankah kau ada pekerjaan malam ini?"

Ia kemudian duduk dan menatap ke mereka berdua. "Onii-chan tidak kerja hari ini. Dan juga, Komugi"

Komugi kemudian segera menuju kebelakang tubuh Rinze dengan ekspresi wajah masih ketakutan.

Naruto berdiri lalu ia langsung menundukkan kepala. "Maafkan aku"

"Eh?!" mereka berdua sangat terkejut melihat dia menundukkan kepala meminta maaf

"Aku mengaku aku sangat salah kemarin, RInze aku sangat menyesal apa yang aku lakukan kemarin jujur aku kemarin ingin sekali membalas mereka yang menyakitimu tapi aku tidak pernah menyangka jika seperti itu. Jadi aku mohon maaf"

"dan juga Kusano Komug-san. Aku tahu apa yang aku lakukan sangat keterlaluan padamu kemarin, dan aku sangat menyesal akan apa yang kau lewati karena aku jadi aku mohon. Maafkan aku"

Kusano Komugi melihat Mitsurogi Naruto meminta maaf membuatnya sedikit lega, 'Sudah aku duga, kau masih tidak berubah" ia berbisik pelan

"Ha? Apa yang kau katakan Komugi-chan?"

"Eh.. tidak ada" ia membalas dengan cepat agar tidak ada yang membahas apa yang ia katakan secara tidak sengaja tadi

"Onii-chan! Mulai hari ini kau harus lebih hati-hati terhadap tindakanmu..."

Akhirnya Rinze memarahi Naruto, dan lucunya ia tidak melawan dan malah duduk diam di lantai menunduk bagaikan sedang dimarahi oleh gurunya


[di rumah Kusano Komugi]

"ahh... tadi sangat memalukan sekali" Komugi langsung membaringkan tubuhnya di kasur setelah pulang dari rumah Rinze & Naruto

Melihat Rinze memarahi kakaknya ia memilih untuk langsung pulang ke rumah

'Dia benar-benar tidak ingat aku'

Komugi mulai murung ketika memikirkan itu. Kemudian ia berjalan ke lemari pakaian dimana ia menyimpan album foto lama

'Sudah 5 tahun, jadi ya wajar jika ia tidak ingat aku'

Di album foto itu terlihat seorang gadis berusia 10 tahun dengan tubuh gemuk tertawa riang bersama dengan anak laki-laki

"Sejak dulu kau memang seperti itu, kau selalu melindugi adikmu apapun itu yang terjadi dan mengabaikan sekitarmu"

"Tapi kali ini akan aku maafkan" ia tersenyum sambil tertawa kecil


[Besok paginya]

"Rinze, bagun sudah pagi. Onii-chan sudah membuatkan sarapan pagi"

Kakak laki-laki dari Motsurogi Rinze sekarang memanggil adiknya dari luar kamar namun sudah 5 menit ia memanggil namun RInze sama sekali tidak menjawab panggilannya

"Baiklah Rinze! Kau yang memintaku"

Dengan kuat ia mendobrak pintu kamar Rinze dengan satu kali tendangan

"OII! Bangun!"

Ia membuka selimut Rinze dengan paksa dan membuka tirai membiarkan cahaya matahari yang terang menyinari ruangan kamarnya

"urhm.. Onii-chan, tutup lagi tirainya. Aku masih mengantuk"

Kedutan tercipta di dahinya melihat respon malas dari Rinze.

"OI! Hari ini kau ada rapat dengan OSIS bukan?!'

...

...

...

...

"Oh tidak aku lupa!"

Rinze langsung bangkit dari kuburannya dan bergegas menuju kamar mandi setelah di ingatkan itu. Nampaknya hal ini sangat berpengaruh sekali untuknya. Ia hanya bisa membuat poker face melihat tingkah adiknya di pagi hari