pagi hari,
Sinar matahari yang terang menerangi kamar seorang remaja laki-laki tertentu.
karena terangnya sinar matahari ia pun bangun dengan wajah seperti seorang zombie yang baru saja bangkit dari kubur
"..."
'Selamat pagi dunia, Disini aku Mitsurogi Naruto kelas 2 SMA yang normal. Aku kakak laki-laki dari Mitsurogi Rinze sekaligus kepala keluarga disini. jika kalian bertanya maka jawabannya sangat mudah, orang tua kami sudah meninggal'
seperti biasanya aku menuju kamar mandi sekaligus membersihkan diri dan mempersiapkan sarapan pagi walaupun sejujurnya aku sangat malas sekali.
"Uargh" Suara eranganku di kamar mandi ternyata cukup keras ya?
yah maklum saja aku begadang satu malaman bekerja di proyek walau bisa dikatakan aku dibagian kuli bangunan.
selesai dari kamar mandi langsung ke dapur dan langsung memasak. hal biasa yang selalu terjadi, kulihat sekali lagi ke kalender di dinding dan alangkah senangnya diriku bahkan senyuman tidak bisa hilang dari wajahku.
"Akhirnya masa muda bisa datang ke padaku" sedikit tangisan keluar dari mataku melihat bagaimana nasib kami, walau bisa dibilang nasibku yang tidak bisa menghadiri festival sekolah setiap tahunnya karena aku selalu ijin tidak hadir karena harus bekerja
"Pagi Onii-chan"
terdengar suara Rinze yang nampaknya baru saja selesai dari kamar mandi.
"Pagi juga, Hei Rinze hari ini apa kau ada urusan dengan OSIS?"
Rinze duduk di kursi bertepatan di meja makan dan langsung menatap kearah kakak laki-lakinya dengan heran.
"Sudah pasti, aku kan anggota juga"
"oh? Apa yang kalian kerjakan nanti?"
"Jangan banyak tanya dan cepat siapkan makanannya Onii-chan"
Rinze spontan memberikan tatapan tidak menyenangkan pada kakaknya membuat ia sedikit menghela nafas.
"oke-oke, ini lagi aku masak tunggu sebentar ya"
'yah memang seperti inilah sifatnya yang asli' aku hanya bisa menghela nafas dan tersenyum
setelah selesai memasak makanan aku menyuruh Rinze untuk makan selagi hangat, yah walaupun ia langsung membantahku dengan asam
kami berdua makan dengan tenang membuat suasana pagi ini terasa damai sekali (yah wajar saja karena biasanya Rinze selalu membentakku di pagi hari karena sifatku yang sulit bangun cepat)
"Oh ya aku baru ingat, Apa kau tau apa rencana ketua osis kali ini dalam acara Festival Budaya senin depan?"
aku bertanya sambil makan, Rinze hanya menganggukkan kepala sebentar lalu ia membalas pertanyaanku sambil makan.
"Ada, Menurut ketua osis rencananya sekolah kita nanti dibuat acara yang beragam"
"beragam?"
"Jangan tanya aku, aku belum tahu detilnya dari dia"
"kalian belum di kabari? ku kira kalian sudah di kabari mengenai acara nanti?"
Rinze meletakkan sepasang sumpit makannya di meja sambil membiarkan mangkuknya yang sudah kosong itu.
"aku pun heran Onii-chan, normalnya Ketua OSIS sudah memberikan pengarahan pada kami. tapi sampai sekarang ia masih diam saja sementara pembuatan spanduk dan papan penyambutan festival sudah mulai di kerjakan"
aku menempatkan tangan di dagu sambil berpikir sebentar. 'sebenarnya apa sih yang dia pikirkan?'
"Sudahlah onii-chan jangan kau pikirkan" Rinze kemudian menundukkan kepala sedikit
ia dengan ragu-ragu menatap kearah tangan kakak laki-lakinya.
"Ehm... Apa tanganmu itu baik-baik saja?"
Rinze bertanya dengan ragu-ragu ketika melihat tangan kiriku yang dilapisi perban karena luka akibat mengangkat material di pekerjaanku.
"... Tidak apa-apa, sudah lebih baik dari sebelumnya" aku menjawab dengan senyuman
Rinze dengan cepat memalingkan wajahnya. "Hump, Baguslah kalau gitu. Lain kali kalau kerja yang benar jangan ceroboh seperti itu!"
Rinze berbicara ketus membuatku tertawa kaku melihat bagaimana dinginnya sikapnya padaku.
"Baik-baik"
aku menjawab dengan santai, namun wajah senyumanku langsung hilang setelah melihat ekspresi muram di wajah adik perempuanku.
'...'
"Jangan kau pikirkan itu"
aku langsung berbicara dengan lancar diikuti seringai geli membuat Rinze langsung terkejut.
"kau khawatir, ya kan? jangan kau pikirkan itu. kakakmu ini kuat loh"
sambil menepukkan dada beberapa kali dengan bangga.
melihat jawaban itu Rinze spontan memerah dan tersetak kaget. "Ha? ja...jangan salah paham! Si...siapa juga yang khawatir samamu! Hump! Bodoh"
aku tertawa melihat bagaimana dia berusaha menyangkal fakta itu.
'yah seperti ini memang adik perempuan yang aku kenal sejak dulu'
[Di sekolah]
"Mitsurogi, Pak Nishimura memanggilmu. katanya kau disuruh ke ruang Konseling"
aku yang duduk santai dikelas langsung mengeluh "Ehhh. kenapa?"
"jangan tanya aku bro. sudah sana pigi daripada aku yang kena nanti"
"ya..ya.."
sebelum aku pergi dari tempat duduk Naofumi menghentikan langkah kakiku dengan menggengam tangan di iringi dengan wajah sedih. "Aku mendoakanmu agar tenang disana"
"Hoi! kau mendoakanku mati!"
aku segera pergi dari kelas dengan wajah kesal.
Di kelas satu-satunya yang memperhatikan ia pergi dari tempat duduknya hanyalah seorang gadis berambut merah kekuningan dengan mata biru yang bernama, Hinata Kyouko
'Semoga berhasil Naru-chan' Kyouko memberikan senyuman sebelum akhirnya laki-laki itu keluar dari kelas.
seperginya Naruto dari kelas Naofumi langsung berdiri dan menuju ke meja guru yang berada di depan kelas.
"Baiklah kalian semua! Saatnya masa muda kita dimulai!"
"Hooo!"
laki-laki dikelas yang berjumlah 15 orang itu langsung menjawab serentak si Naofumi.
'Festival Budaya, kami datang' Naofumi menyeringai.
"Interupsi Ketua!"
Naofumi langsung menunjuk kearah laki-laki yang menaikkan tangan.
"Saya dari kesatuan pengintai para murid. Menurut pengamatan saya, kali ini saingan kita cukup kuat"
Naofumi menyeringai. "Jangan khawatirkan soal itu. karena kita pasti akan menang dan membalas kekalahan kita tahun kemarin"
salah satu perempuan yang ada dikelas hanya bisa menghela nafas pada tingkah laki-laki di kelas. "laki-laki di kelas ini mrmang komplotan sesat semua"
"."
Hinata Kyouko kemudian mengangkat tangan dan menyuarakan pendapatnya.
"Bagaimana dengan kafe cosplay?"
Naofumi langsung merubah sikap dan memberikan tatapan tertarik pada opini Hinata Kyouko. "Menarik, baik aku tulis. ada lagi?"
lalu seorang anak laki-laki ikut mengangkat tangan.
"oh Kurakumi, apa masukanmu?"
Laki-laki yang bernama Kurakumi itu kemudian melipat tangan. "Pertunjukkan foto seksi"
Naofumi mulai menepuk dahi. "Kau tau, aku terkesan dengan nada datarmu itu"
apa boleh buat setelah melihat tanggapan dia yang sama sekali tidak menunjukkan ekspresi malu, ia menyerah dan menulis apa yang tadi Kurakumi katakan.
"Apa ada lagi?"
terjadi keheningan sejenak sebelum akhirnya Naofumi mengangkat suara lagi. "Baiklah sekarang saatnya kita voting"
Naofumi melihat berapa banyak yang memvoting untuk 2 pilihan ini. yang bukan artinya ia ingin banyak pilihan yang akan berujung ke sesuatu yang merepotkan.
'oh? ternyata banyak yang mau ke pertunjukan foto seksi ya? tapi...'
ia berkeringat seperti orang bodoh ketika melihat jumlah suara tertulis di kertas. yang memvoting foto seksi sekitar 100 persen, namun dari sisi laki-laki
nah masalahnya dikelas ini lebih banyak perempuannya daripada laki-laki yang dimana laki-laki di kelas hanya berjumlah 15 orang dari 42 murid
"Baiklah, sekarang keputusan sudah mutlak. Mari kita susun bagian-bagian kerja"
Naofumi kemudian menulis beberapa kerangka kerja dimulai dari ketua, penganggung jawab, kru konstruksi, pemasaran, pengintaian? ('untuk apa ini' naofumi bertanya-tanya) dan terakhir kru dapur.
"Baiklah sekarang susunan akan aku susun berdasarkan kriteria dan kapabilitas. Untuk kepala kru dapur aku serahkan pada Nishizura (orang yang dimaksud menjawab dengan ia) untuk bagian promosi aku serahkan pada Kugezaki, Untuk bagian pengintaian aku serahkan pada Kurakumi..."
pembagian terus berlanjut hingga akhirnya mereka semua setuju mengenai rencana Naofumi.
[Sementara itu]
"Dengar Mitsurogi Naruto, aku tak tahu apa yang kau lakukan setelah sekolah tapi peraturan tetaplah sebuah peraturan. setiap siswa dilarang untuk bekerja sambilan, dan aku yakin sekali kau sudah tahu hal itu"
aku menundukkan kepala ketika duduk tepat di depan Nishimura-Sensei yang menjadi srorang guru Konseling sekaligus kepala hukuman di sekolah ini.
Nishimura Sensei kemudian berdiri dan menatap kearah jendela. "Kau tau, kau masih memiliki jalan yang panjang. tapi sayang sekali nasibmu kurang bagus"
"..."
Nishimura sensei kemudian mendesah dan ia berjalan kearah remaja itu yang saat ini sedang merasa down.
"Kau tahu, terkadang hidup itu tak adil tapi..."
ia kemudian menepuk pundak Naruto diikuti dengan senyuman.
"... Setidaknya kau bisa menjalani hidup normal sejauh ini bukankah sudah cukup. Sudah tugasku sebagai guru untuk menuntun kalian, bukan memperburuk keadaan yang sudah ada. Itu saja untuk hari ini"
Nishimura Sensei pergi dari ruangan konseling meninggalkan Mitsurogi Naruto yang masih depresi karena rahasia ia bekerja ketahuan oleh sekolah.
'Kenapa harus sekarang?'
'Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku, jika aku lakukan bukan hanya sekolah Rinze yang akan terancam. Tapi masa depannya juga, aku tidak bisa melakukan itu'
ia kemudian berdiri dari tempat duduknya dan pergi dari ruangan Konseling tak lupa dengan surat peringatan dari sekolah.
'Di keluarkan dari sekolah jika masih kerja ya? peraturan yang aneh' aku menghela nafas sambil berjalan sepanjang aula
Aku terus berjalan dan tak sengaja aku melihat perempuan berambut hitam tertentu melalui jendela dia terlihat saat ini mengatur bawahannya tepat di lapangan.
Mitsurogi Rinze
'Dia terlihat menikmatinya ya' Aku tersenyum lalu aku mulai kembali berjalan menuju lantai 3 dimana kelas 2 terletak.
sebelum aku bisa naik tangga ke lantai 3 aku merasakan perasaan tidak enak.
"... tunggu sebentar, ada yang aneh disini. Kenapa aku dari tadi gak ada lihat dimana ketua osis?"
'paling cuma perasaanku aja'
aku kemudian naik tangga menuju lantai 3 dan langsung menuju kelas.
"Yo Mitsurogi"
"yo, bagaimana dengan acaranya? apa yang kita buat nanti?"
Naofumi tersenyum lalu ia menepun pundak ku. "Aku mendoakanmu agar selamat bro"
ketika aku masuk kedalam kelas dan kulihat papan tulis mengenai acara yang akan kami kerjakan spontan aku ingin sekali menghajar Naofumi.
"Oi, apa maksudnya ini"
Naofumi berdiri disebelahku dengan cap jempol. "Sebuah inovasi"
"Anak Goblok! apanya yang inovasi dengan ini anjir!"
aku spontan membentaknya ketika melihat apa acara yang kelas kami adakan di festival budaya nanti
Kafe Cosplay dengan beragam kostum, namun yang menjadi promosinya adalah Mitsurogi Naruto.
"Naru-chan" Hinata Kyouko menatap kearahnya dengan blushing di pipinya.
"Kau akan terlihat cantik"
Mitsurogi Naruto, 16 tahun. Selama hidupnya baru ini ia berteriak seperti orang bodoh sedunia ketika melihat apa yang akan terjadi pada dirinya dan status laki-lakinya.
Diatap sekolah dimana biasanya siswa tidak di ijinkan. seorang perempuan tertentu dengan rambut kecoklatan memiliki satu penutup mata di sebelah kiri berpakaian sailor uniform berwarna hitam saat ini menatap kearah sekolah dari bawah dengan ekspresi menggelap
"Nampaknya cahaya keadilan sudah memenuhi area pertempuran. Kami sang pengikut kegelapan untuk saat ini harus mundur dari perang besar yang akan datang"
"Dark Lightning!" perempuan itu menaikkan satu tangannya keatas layaknya pose untuk teknik mematikan
ia kemudian tersenyum bagaikan iblis.
"Akan aku hancurkan setiap pengikut pahlawan yang menghalangi jalanku"
[Di Rumah Keluarga Mitsurogi]
"Aku pulang"
Pintu aku buka seperti biasa dan ku lihat sepatu Rinze sudah tersusun rapi di rak dengan kata lain ia sudah di rumah.
'Sebaiknya aku memasak sesuatu'
dapur adalah destinasi yang aku datangi paling pertama setelah sepatu aku susun di rak
masakan normal aku buat untuk makan malam, setelah itu aku langsung menuju kamar dan mengerjakan tugas sekolah yang ada.
"Baiklah, aku rasa sekarang aku harus memperbaiki nilai sekolahku jika tidak, aku kena masalah lagi nanti"
belajar, belajar, belajar dan belajar hingga lupa waktu adalah hal yang aku lakukan sepanjang malam hingga tanpa ku sadari aku merasa lapar.
"kok aku jadi lapar ya?" ku lihat jam di meja belajarku dan aku cukup terkejut melihat sekarang sudah jam 2 malam.
aku keluar dari kamar dan kulihat pintu kamar rinze. 'Dia pasti sudah tidur'
ketika aku sudah di dapur aku melihat sebuah pemandangan yang membuatku tersenyum.
"Kerja bagus" aku mengelus kepala gadis yang tertidur tepat di depan meja makan dengan tenang. Terlihat di meja terdapat banyak sekali dokumen OSIS yang harus di kerjakan
"Rinze aku tahu kalau kau masih membenciku, tapi kau tahu? aku sangat menyayangimu lebih dari siapapun di dunia ini"
aku kemudian mengangkat tubuh Rinze dan membawanya ke kamar.
"hrm" ia mengerang dalam gendongan
saat aku melihat kearah wajah Rinze yang masih tertidur di tubuhku senyumanku semakin melebar karena wajah damainya mengingatkanku akan masa kecil kami.
sesampainya di kamar aku tidurkan ia senormal mungkin dan tidak perlu berlama-lama aku di dalam kamarnya aku segera keluar.
seperginya Naruto dari kamar Rinze, tanpa ia ketahui wajah Rinze berubah menjadi warna merah.
'...'
'Onii-chan...'
'... ehehe... Onii-chan mencintaku!' Rinze berguling-guling di kasurnya dengan kegirangan.
[Pagi]
"Arghm"
Seperti biasa dan kegiatan seperti biasa yang selalu berulang lagi dan lagi. Itulah kehidupan Mitsurogi Naruto sebagai kakak laki-laki dari Mitsurogi Rinze
Setelah mandi ia sangat terkejut ketika melihat siapa yang di dapur.
"Rinze?!"
"Oh? Selamat pagi Onii-chan"
Aku kemudian duduk dan dapat aku lihat Rinze sudah selesai memasak makanan membuatku sangat kaget akan hal ini
"Rinze, kenapa kau tiba-tiba mau masak?" aku bertanya dengan wajah sangat keheranan, namun jawaban yang aku terima sangat tidak aku harapkan
"Siapa juga yang mau membangunkanmu dan menunggumu bersiap-siap? sudah lambat bangun, suka bersantai dan pemalas sepertimu mana bisa aku andalkan"
Rinze menjawab dengan sangat ketus membuat hatiku sedikit hati.
'kau tau, kau tidak perlu mengatakan hal itu'
aku hanya bisa tersenyum melihat betapa kasarnya adik perempuanku ini.
setelah selesai makan aku bersiap untuk berangkat ke sekolah dimana hari ini kami satu sekolah mempersiapkan festival budaya yang akan datang 5 hari dari sekarang.
"Rinze, aku duluan ya"
aku melambaikan tangan pada Rinze yang masih di dapur. Namun Rinze sama sekali tidak membalas dan justru terlihat mengabaikan dia.
seperginya Naruto dari Rumah Rinze kemudian menatap kearah pintu keluar lalu ia melambaikan tangan dengan senyuman. "Berhati-hati Onii-chan"
ia kemudian meletakkan tangan di kepalanya dan mengingat apa yang terjadi tadi malam.
tadi malam karena ia kelelahan ia memilih untuk menyandarkan kepala di meja makan namun tanpa ia duga kakak laki-lakinya tiba-tiba datang ke dapur dan mengatakan padanya kalau ia mencintai dirinya sambil mengelus kepalanya dengan lembut
"hehe..." Rinze tertawa kecil ketika mengingat malam itu, malam yang ia tidak akan lupakan sama sekali. 'Onii-chan aku mencintaimu juga'
ia kemudian menggenggam kedua tangannya dan memejamkan mata sebentar. 'Aku tahu jika aku bersikap jahat padanya, tapi aku lebih takut apa yang akan terjadi jika aku bertindak berbeda. kami berdua adalah saudara kandung' di kalimat terakhir itu Rinze berubah menjadi murung
[Sekolah]
Mitsurogi Naruto berjalan memasuki gerbang sekolah dimana ada banyak sekali siswa mengerjakan beragam hal. di gerbang sekolah anggota dari beragam komite mulai mengerjakan papan slogan untuk festival, ada yang mengerjakan bagian gerbang untuk para pengunjung, dan banyak lagi.
"Sebaiknya aku cepat kembali ke kelas"
aku mempercepat langkahku menuju kelas. Setelah masuk ke dalam sekolah aku segera menuju kelas 2.
di dalam kelas Naofumi masih sibuk mengatur teman-temannya untuk mengurus kelas mereka dan juga ia mengumpat pada Naruto yang kelamaan datang. "Kemana anak itu sih?"
ngomong-ngomong soal Naruto, sekarang entah bagaimana ia bisa berada di sebuah ruangan gelap tanpa cahaya sama sekali.
"urgh... ada apa? eh? dimana aku?"
matanya menatap ke semua tempaf dimana saat ini dia berada di ruangan yang benar-benar gelap.
"Akhirnya kau sudah bangun, pahlawan"
Naruto mulai berkeringat ketika mendengar suara yang datang dari belakangnya. "Siapa itu?"
cahaya merah kemudian muncul dari depannya, cahaya itu memiliki bentuk sebuah mata yang berwarna merah sangat terang sekali.
'Jangan bilang'
Lampu di ruangan kemudian menyala dan menampilkan sesosok perempuan dengan perban di tangan kirinya serta memakai penutup mata disebelah kiri.
"Ketua OSIS" Dia berbicara pada sosok perempuan yang saat ini berdiri di depannya dengan senyuman gelap.
"Ku..ku...ku... Kau nampaknya sudah memperoleh kesadaranmu lagi ya. Pahlawan umat manusia"
Naruto hanya bisa membuat ekspresi poker face ketika mendengar ocehan dari perempuan yang memakai baju Sailor Uniform berwarna hitam itu. "Ketua, kau mau ngapain? aku masih ada urusan di kelas"
ketua osis kembali tertawa gelap. "Ku..ku... seperti yang aku harapkan dari pahlawan umat manusia. Kau bahkan bisa bicara menembus perisai kegelapanku"
"Rasakan ini pahlawan manusia! Dark shadow!"
ketua osis menyerang Naruto dengan teknik bayangan hitam (dengan cara mematikan lampu ruangan)
Dan dia hanya bisa diam di sana seperti orang goblok.
"Oi anak goblok! jangan main-main cepat lepaskan aku!" Dahi Naruto berkedut kesal melihat tingkah ketua OSIS ini yang bertindak seperti anak-anak alay
lampu ruangan kembali menyala dan kali ini ia melihat ketua OSIS berdiri disana dengan sebuah pisau cutter.
"hm, sudah aku duga. aku tidak bisa menembus barier cahayamu"
aku mendesah ketika ikatan di tubuhku mulai bisa aku lepaskan.
"Apa yang kau mau dariku Neyuki Hikage-san"
Neyuki Hikage, 16 tahun. Menjabat sebagai ketua OSIS di SMA ini, serta memiliki kepribadian Alay yang menganggap dirinya sebagai putri dari raja iblis. Ia memiliki tinggi sekitar 156cm dan karena sikap alay nya itu kebanyakan murid SMA disini sangat menyukainya dan bahkan mengikuti apa yang ketua OSIS ini khayalkan.
'Apa-apaan dengan sekolah ini?'
"Pahlawan umat manusia, Aku saat ini sedang bertempur melawan pasukan dari gereja yang saat ini sedang memojokkanku. Dan aku sangat tahu sekali jika kau tidak berniat bertempur melawanku..."
Hikage mendekat kearah Naruto dengan pisau Cutter ditangan kirinya. "... Dalam situasi ini, pasukan iblisku sedang terpojok dan bahkan mereka sudah tidak bisa lagi menahan pasukan gereja... oleh karena itu"
ia kemudian menempelkan wajahnya ke wajahku dengan pisau cutter ia sedikit goreskan ke leherku.
'oi..oi... dia gak berniat membunuhku kan?' dia sedikit berkeringat
"... bergabunglah denganku untuk mengalahkan pasukan gereja"
aku langsung membuat poker face.
"Tidak, suruh orang lain"
Hikage/Ketua OSIS langsung tersenyum. "Seperti yang aku harapkan kau sudah seharusnya bergabung dengan... eh?"
dia baru menyadari sesuatu dari kalimat Naruto barusan.
"Aku bilang aku gak mau, ajak orang lain" Naruto kemudian berdiri dari tempat duduknya dimana ia tadi diikat lalu bersiap pergi dari ruang OSIS itu.
"Tunggu Pahlawan" Hikage menahan ia pergi dengan menarik lengan bajunya
"K...Kau adalah harapan terakhir dari pasukan iblis agar bisa bertahan dari invasi mengerikan ini jadi..."
"Dengan kata lain karena pekerjaan kalian di OSIS sangat banyak kalian kekurangan orang sehingga kau ditekan dari pihak komite untuk mengurus semuanya. Tapi karena kau sudah terlalu banyak hal merepotkan dan ditambah lagi dengan hal merepotkan, kau ingin aku menjadi bawahanmu untuk membantu kalian, apa aku salah?" Naruto memotong dengan cepat membuat Hikage tersenyum gugup
"e..eh... se..seperti yang aku harapkan dari Pahlawan Manusia"
"dan karena aku tahu itu merepotkan aku gak mau"
aku menarik pintu keluar dan disaat yang sama tangan ketua OSIS menarikku dengan kuat. "Tu...tunggu dulu, komohon jangan pergi"
"Sudah ku bilang itu terlalu merepotkan dan aku gak mau"
"Ta...tapi... aku sudah hampir kalah"
"Itu urusanmu" aku dan dia saling tarik-menarik yang dimana aku menarik pintu keluar dan dia menarik bajuku.
"kyah!" Hikage terjatuh ketika kekuatannya tidak kuat menarikku .
"Sudah aku bilang aku gak..." kalimatku terputus ketika melihat matanya. Neyuki Hikage murung di lantai dengan sedikit air mata turun dari matanya.
'apa kau bercanda' aku mulai mengutuk diriku sendiri
"K...kau sangat jahat sekali..."
Aku kalah, dan aku hanya bisa mendesah melihat keadaan ini. ayahku selalu memperingatiku sejak aku kecil untuk selalu bersikap baik kepada siapapun dan jangan pernah menyakiti seorang gadis
"huh... oke-oke, aku mengerti. apa yang harus aku lakukan Hikage?"
Neyuki Hikage mengangkat kepalanya dan menatap kearah Naruto dengan mata masih berair. "Apa kau mau membantuku?"
"yah bukan artinya aku gak bisa membantumu dalam semua urusan"
melihat reaksi dari Naruto, Neyuki Hikage mulai tersenyum tipis lalu ia langsung berdiri dengan gagah. "Seperti yang aku harapkan dari Pahlawan umat manusia"
'entah kenapa aku menggali kuburanku sendiri ya'
'yah, setidaknya aku bisa membuat seorang gadis bahagia, apa salahnya'
Neyuki Hikage terlihat senang dari beragam sisi
[Minus -1 Hari sebelum festival budaya]
"Huh.. akhirnya selesai"
aku menatap kearah papan slogan yang sudah selesai aku cat. selama 5 hari berturut-turut aku bekerja di tim dewan OSIS dalam mempersiapkan segala macam hal, dan tentu saja hal itu memberatkanku dimana aku harus bekerja di dua sisi sebagai tim OSIS dan tim kelasku.
aku melihat-lihat ke sekolah sambil berjalan-jalan ke dalam sekolah. banyak kelas-kelas sudah di dekorasi menjadi banyak hal yang beragam mulai dari stand makanan hingga menjadi studio
"Kafe Cosplay" aku mendesah melihat kelasku. kelas aneh dimana aku dipaksa menjadi cross dresser
"Naru-chan?"
aku berbalik badan dan kulihat Kyouko "Oh, belum pulang Kyouko? sudah jam 5 sore ini"
Kyouko tersenyum "Belum, aku masih mau mengerjakan beberapa papan menu"
"Biar aku bantu"
Kyouko tersenyum. "Terima kasih"
kami berdua mengerjakan papan menu dengan tenang dan aku bisa melihat dengan sangat dekat wajah cantik dari Hinata Kyouko. Kami berdua sudah saling kenal sejak SD dan jujur selama ini aku tidak berpikir jika hubungan kami akan berubah dari teman
'Aku rasa memang itu yang akan terus terjadi'
aku menghela nafas lalu mengambil kuas cat yang ada di depanku. secara tidak sengaja Kyouko juga ingin mengambil kuas itu sehingga kedua tangan kami saling bersentuhan
"maaf" aku dengan cepat menarik tanganku namun reaksi yang aku harapkan dari kyouki sangat berbeda dengan apa yang terjadi saat ini.
"pfft... kau sangat lucu sekali Naru-chan"
Kyouko tertawa kecil ketika melihat Naruto blushing hanya karena kedua tangan mereka yang bersentuhan.
"Ayo kita siapkan ini Naru-chan"
Orang yang dimaksud hanya bisa mengangguk dengan pipi masih kemerahan. 'Sial, aku menunjukkan sisi memalukanku lagi'
Saat semua selesai jam menunjukkan pukul 7 Malam dan mereka berdua segera bergerak pulang. sepanjang perjalanan mereka berdua tetap diam namun Naruto masih terus memandang kearah Kyouko secara diam-diam
"Ada apa Naru-chan?"
Kyouko membalas tatapan Naruto ketika ia ketahuan memandang kearah Kyouko secara diam-diam. "Ti..tidak ada"
Kyouko kembali tertawa dan kali ini blushing Naruto semakin terlihat jelas "...h..hei jangan tertawa seperti itu"
"hmmm? kenapa?" Kyouko masih tersenyum menatap kearahku dengan tatapan penasaran.
"ya...yah.. kau tahu, orang-orang mungkin akan menganggap kau itu aneh" aku menggaruk kepala belakangku
"ho? jadi Naru-chan cemburu ya?" Kyouko menatapnya dengan tatapan menuduh, namun karena ekspressi yang sangat indah itu justru membuatnya seperti kena serangan jantung dan...
"argh!" aku langsung terkena serangan jantung ketika mendengar kalimat itu ditambah raut wajah tidak berdosanya 'Sial, kenapa aku lemah dengan tatapan itu'
Aku mengumpat, lalu aku sedikit mempercepat langkah kakiku demi menyembunyikan fakta jika saat ini aku hampir kalah.
"Jangan salah sangka, aku tidak ada perasaan apapun untukmu kau tau!" aku berusaha menyangkal dengan wajah yakin.
"oh..." Hinata Kyouko langsung muram sebelum akhirnya ia merubah raut wajahnya dengan cepat.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju rumah dalam diam lagi.
Sesampainya di Rumah, Hinata Kyouko langsung menuju kamar dan membaringkan tubuh dan wajahnya dalam depresi.
"Naru-chan ternyata masih melihatku sebagai teman" ia mulai muram lagi ketika mrlihat foto dia dan Mitsurogi Naruto ketika kelulusan SD
'kenapa aku merasa sakit di dadaku ya?'
ia memegang dadanya dimana ia merasa sangat sesak sekali.
"... Naru-chan..."
[Pagi]
"Baiklah, hari ini adalah hari yang besar jadi aku tidak bisa melewatkannya untuk satu detikpun"
aku mengepalkan tangan penuh semangat karena hari ini akhirnya datang juga.
ketika aku memasak makanan aku melihat Rinze sudah berpakaian lengkap sekarang menonton TV menungguku. 'Apa perasaanku saja tapi Rinze kok kelihatan aneh?'
aku tak tahu bagaimana menjelaskannya, tapi aku sangat yakin sekali kalau Rinze terlihat berbeda
"..."
"Rinze sarapan sudah selesai, makan dulu sini" aku berbicara padanya.
Rinze tidak berbicara sama sekali dan memilih untuk duduk dalam diam di meja makan ini.
"Rinze bagaimana dengan urusan OSIS kalian?"
"... huh? oh itu tidak ada apa-apa. hanya beberapa pekerjaan dengan dokumen"
"Rinze?"
"ah!"
Rinze terkejut ketika sebuah tangan menyentuh dahinya.
"Sudah aku duga, kau terkena demam"
"aku baik-baik saja" Rinze menyangkal dengan keras sambil menepis tangan kakak laki-lakinya.
dengan cepat dia memegang bahu Rinze dengan tangannya. "Rinze! aku tahu kalau kau tidak menyukaiku. Tapi sebagai kakakmu bukan artinya aku akan membiarkanmu sakit begitu saja"
"Siapa juga yang perlu bantuanmu... sudah jangan urus aku!" Rinze berusaha pergi dan mengambil tasnya namun ia langsung terjatuh membuat semua benda yang ada di tasnya berserakan.
"Rinze!" Naruto langsung panik dan bergerak cepat menuju Rinze.
"Sudah aku bilang kau itu demam!"
dengan cepat aku mengangkat Rinze menuju kamarnya
sesampainya di kamar aku langsung mengambil obat dan merawat Rinze. Namun melihat bagaimana parahnya demam Rinze membuatku sedikit berani untuk membawanya ke rumah sakit walau aku tahu dengan jelas jika kondisi ekonomi kami saat ini akan makin sulit
"Apa boleh buat" Aku dengan cepat mengambil HP milikku namun tanganku di cegah oleh Rinze yang masih sadar.
"Onii-chan, jangan... aku masih bisa, jangan panggil ambulan"
"Tapi..."
"Aku katakan jangan!" Rinze memaksa dengan nada tegas, dan ketika aku melihat tangisannya sesuatu yang sangat menyakitkan datang menyerangku lagi.
"A..aku tidak mau kalau harus hidup sendirian. Aku tidak mau itu"
"Rinze apa maksudmu?"
"Kenapa kau tidak mengatakan apapun padaku?!" Rinze menatap kearahku
"apa maksudmu?"
"Aku tahu kalau kau di peringati oleh sekolah dan aku tahu kalau ka...kau akan di keluarkan jika kau masih terus bekerja..."
"Aku tidak mau itu! Aku tidak mau!"
tanganku mulau bergetar mendengar apa yang Rinze katakan. Rinze masih shock dengan apa yang terjadi pada kedua orang tua kami yang meninggal karena pergi bekerja dan meninggalkan kami berdua. semenjak itu Rinze sangat sensitif akan topik yang berkaitan dengan bekerja dan selama ini aku berusaha yang aku bisa untuk membuat Rinze tidak tahu apapun mengenai aku yang bekerja terlalu banyak di beragam wilayah.
'... bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan?'
'Selama ini aku pikir kalau aku melakukan hal yang benar, dan sekarang aku gagal lagi'
aku muram dan membiarkan posisi kami seperti ini untuk beberapa menit sebelum akhirnya tangis ringan Rinze mereda.
"Sudahlah, keluar dari kamarku!" ia membentak kakak laki-lakinya dengan kasar meninggalkan dia sendirian di kamar
[Sekolah]
'Apa yang harus aku lakukan? Aku baru saja mengacaukan semuanya'
Dengan depresi aku memegang kepala di dalam kelas mengabaikan dimana satu kelas saat ini memperhatikannya dengan kebingungan
"Kenapa lagi lah itu anak?" Naofumi mendesah melihat bagaimana depresinya si Mitsurogi Naruto ini. Kelas lagi sibuk kerja membereskan kelas untuk acara yang hanya beberapa hari lagi selesai (walau belum sepenuhnya dimulai sih)
"oi bro, kau kenapa?" Naofumi menepuk pundak temannya.
"Jangan ajak bicara aku dulu"
jawaban yang ia terima sangat dingin sekali. "lah kok gitu pula jawabanmu? kita lagi mempersiapkan acara nanti, apa kau mau melarikan diri?"
kepalaku mulai berdenyut dengan cepat aku membanting tanganku ke meja. "Apa maksudmu aku harus pakai baju aneh itu ha anak goblok anjir!"
Tanganku menunjuk kearah perempuan berambut merah dengan mata biru yang saat ini blushing merah di pipinya ketika memegang baju waitress perempuan
Naofumi sekali lagi menepuk pundaknya. "Jadilah laki"
dia berbicara santai dengan binar bagaikan orang keren.
Dengan cepat aku melarikan diri dari kelas bahkan mereka hampir menangkapku.
"Naru-chan tunggu!"
"Bodo amat!"
jawabanku dengan cepat ketika melarikan diri.
beberapa meni aku berlari aku sampai di tangga menuju atap, 'nampaknya aku bisa tenang diatas' pikirku
Sampai di puncak sekolah matanya menatap kearah lapangan sekolah yang masih sibuk di Dekorasi. ingatannya kemudian tertuju pada Rinze yang kemarin sempat marah padanya
"Rinze"
ia melihat adik perempuannya yang berjalan dilapangan di kelilingi banyak gadis-gadis. ia cukup populer namun entah kenapa Rinze tidak terlihat tersenyum sama sekali. Kemarin ia sakit dan sekarang Rinze memaksakan dirinya lagi.
'Sebaiknya aku minta maaf padanya'
Mitsurogi Rinze berjalan menuruni tangga menuju lantai bawah dimana ia tadi melihat Rinze.
Di lapangan suasana sangat ramai dimana murid dibawah komando para guru bekerja sama mendekorasi semuanya.
'Dimana dia?'
keliling mencari sebentar sebelum akhirnya ia melihat rinze yang saat ini sedang mengecat papan sendirian.
"..."
Rinze masih mengecat dalam diam sambil melamun akan sesuatu. 'Onii-chan...'
ia murung lagi ketika memikirkan apa yang ia katakan pada kakaknya kemarin. "..."
tiba seseorang datang membantunya mengecat dan ketika ia mengetahui siapa yang membantunya ia sedikit kesal. "mau apa onii-chan, aku bisa sendiri"
"..." Rinze menjawab dengan ketus diikuti dengan wajah marah, ia masih tidak menerima jika kakaknya berbohong padanya mengenai peringatan sekolah.
"Rinze. Dengar, aku tahu kau marah tapi bisakah kau mengerti mengenai situasi"
"Apa dengan melakukan semua sendiri dan membiarkan aku tidak tahu apapun sama sekali bisa kau katakan dengan mengerti situasi?"
ia mendesah lalu mengangguk "Baik aku memang salah, tapi aku itu khawatir padamu"
"... Ba...Baiklah, aku akan memaafkanmu kalau kau mau menemaniku hari ini"
dia tersenyum lalu menganggukkan kepala. "Baik"
Dua bersaudara ini berjalan-jalan disekitar stand-stand makanan serta pertunjukkan. Wajah Rinze yang memerah menunjukkan ia masih demam membuat Naruto sedikit khawatir.
"Rinze apa kau yakin kau baik-baik saja?"
Rinze tersenyum "Aku baik-baik saja onii-chan"
Mereka berdua kemudian duduk dibawah pohon dengan angin pelan bertiup.
"..."
Rinze sedikit menatap kearah wajah kakak laki-lakinya yang masih memperhatikan sekitar dengan senyuman senang.
'Syukurlah. Onii-chan akhirnya bisa menghadiri acara ini'
'A...tidak apa-apa kan kalau aku ingin sedikit manja dengannya' Ia mulai memerah ketika melihat wajah kakaknya.
Dengan memberanikan diri ia menyandarkan kepalanya tepat dibahu Naruto.
"Eh? Ri..Rinze?"
Naruto mulai terkejut ketika melihat Rinze menyandarkan kepalanya dibahunya.
Namun Rinze hanya diam dengan wajah kemerahan.
aku hanya bisa terdiam sejenak dan dengan sedikit kaku aku mengangkat tanganku dan meletakkannya di kepala Rinze.
"uhm!" Rinze tersentak sedikit namun langsung terdiam dengan wajah ia tundukkan menahan malu karena kepalanya dielus.
Entah kerasukan apa, tapi keduanya terlihat seperti Couple yang sangat serasi sekali bermesraan dibawah pohon dan mengabaikan sekeliling mereka.
