CODE DXD
Chapter 2
Ular
-Tengah malam-
Malam sudah larut orang sudah banyak yang terlelap di dalam mimpi mereka masimg-masing walau ada juga manusia yang masih beraktifitas hingga tengah malam seperti mereka melakukan judi, karoke atau kegiatan lainnya guna menghilangkan rasa penat mereka. Selain manusia terdapat sosok lain yang bukan manusia yag menikmati sang malam seperti mereka di sebut dengan makhluk gaib.
Makhluk gaid sangat suka menyeret manusia dalam kesesat dunia dan ada juga yang bahkan menyerang manusia untuk menpadatkan kesenangan yang sangat mereka inginkan.
Di pinggiran kota terdapat sebuah rumah yang cukup besar yang bergaya eropa dan rumah itu seperti sudah di tinggalkan oleh pemiliknya dalam jangka waktu yang sangat lama, itu bisa terlihat dari kondisi rumah yang sudah memiliki kerusakan di sana-sini. Di depan gerbang rumah itu terdapat seorang yang tengah berdiri.
Orang itu adalah seorang remaja berpakaian serba hitam dan ia menutup wajahnya dengan menggunakan topeng rubah berwarna putih pucat. Pria itu memiliki tubuh yang tegap berisi, rambut berwarna kuning, mata sebiru langit dan ia membawa pedang katana di pinggang sebelah kirinya.
Pemuda itu membuka gerbang, saat ia masuk ke halaman rumah itu ia melihat banyak patung pria yang memiliki raut wajah yang ketakutan dan juga putus asa. Sesampai di depan pintu sang pemuda pun membuka pintu dan walau ruangan itu gelap tapi ia masih dapat melihat dengan cukup jelas.
Di ruang utama itu ia melihat patung-patung yang hampir sama dengan patung yang ia temukan di halaman yaitu patung pria yang berekspresi ketakutan dan putus asa. Selain terdapat patung-patung itu dan juga sebuah sopa panjang di salah satu sisi ruang itu dan di sopa itu terdapat seorang wanita bugil yang tengah tidur-tiduran di sofa itu.
Wanita cantik itu memiliki rambut kuning keemasan, payudarah yang sangat besar, mata berwarna coklat dan kulit yang berwarna putih bersih
"Ara...ara... sepertinya aku kedatangan tamu" kata wanita sambil tersenyum menggoda. Sang pria hanya diam ia tidak mau merespon kata-kata sang wanita.
Sang wanita merubah posisi tubuhnya dari terlentang menjadi terduduk "Apa yang membuatmu datang kemari ?" tanya sang wanita.
"Apa kau datang kesini untuk bersenang-senang dengan ku?" kata sang wanita sambil bersuara manja dan tidak lupa melebarkan kaki memamerkan gerbang kenikmatan dunia.
"Bisa kau diam ? kau membuatku jijik" kata sang pria sebelum ia berlari ke arah sang wanita.
Ia mengeluarkan pedangnya dan mencoba menebas sang wanita tapi sang wanita langsung melopat menghindari tebasan sehingga Cuma sofa itu saja yang terbelah menjadi dua.
"Kau sungguh tidak sabaran ya, padahal kita bisa menghabiskan malam ini dengan penuh kenikmatan" kata sang wanita.
"Aku datang kesini cuma untuk menghabisi iblis laknat seperti mu" kata sang pria sambil mengarahkan pedangnya ke arah sang wanita.
"Memangnya apa salahku sampai kau mau menghabisiku ?" tanya sang wanita seperti tanpa dosa.
"Aku tau kau adalah iblis yang sudah banyak merubah laki-laki yang tergoda dengan tubuh jelekmu dan menjadikan mereka patung batu" kata sang pemuda.
"Kurasa itu kurang tepat karena yang kulakukan hanya membuat mereka merasakan indahnya surga dunia dan mereka membayar surga itu dengan jiwa dan raga mereka" kata sang wanita.
"Aku tidak peduli dengan surga yang kau maksud, kedatanganku kesini cuma untuk membunuhmu sang iblis ular Hebina" kata sang pemuda pada iblis yang ternyata bernama hebina
"Kalau begitu sayang sekali padahal kau terlihat seperti tipeku" kata hebina sambil merubah wujud,. Kakinya panjangnya menepel satu sama lain dan berubah menjadi seperti ekor ular, rambunyanya yang indah berubah menjadi ular berwarna hitam, kulitnya yang mulus sekarang miliki sisik dan matanya kini berubah menjadi seperti mata ular.
Tangan sang gadis memanjang dan melilit dua buah patung dan tanpa ragu-ragu Hebina melempar patung batu itu ke arah sang pemuda tapi sang pemuda dapat memotong patung batu itu dengan sangat mudah.
"Wah tegak sekali kau pada mereka, padahal kau taukan kalau mereka itu adalah manusia yang sama denganmu tapi kau tanpa ragu menebas mereka. Padahal jika kamu tidak melakukan itu mungkin saja akan ada cara bagimu untuk mengembalikan mereka ke bentuk semula" kata Hebina.
Sang pemuda tidak bergeming dengan sindiran hebina "Maaf saja, aku datang tidak dengan tekad yang setengah-setengah dan juga aku tidak peduli dengan orang-orang bodoh yang terpedaya oleh nafsu mereka sendiri" kata pemuda itu.
"Huh jahatnya, tapi aku jadi semakin tertarik denganmu" kata hebina sambil menjilat bibirnya sendiri.
Hebina merubah kedua tanganya menjadi lima ekor ular di setiap tangannya, sepuluh ular itu melilit patung-patung di dekat mereka dan langsung melempar patung-patung itu ke arah sang pemuda, seperti tadi sang pemuda itu pun langsung memotong seluruh patung itu.
Ternyata patung-patung tersebut cuma pengalihan tujuan sebenarnya dari Hebina adalah membuat titik buta dengan menggunakan patung-patung tersebut sehingga tangan ularnya bisa mendekati pemuda itu dengan cara memanjangkan ularnya.
Pemuda yang tidak menduga siasat itu tidak dapat menghindar sehingga kecepuluh ular itu berhasil menancapkan taringnya ke tubuh sang pemuda. "Hahaha bagaimana perasaanmu sekarang ? apa sekarang kau menyesal tidak menerima tawaranku sebelumnya" ejek Hebina.
"Kau pikir ular-ular bodoh ini bisa menghentikanku untuk menghabisimu" kata pemuda itu sambil mengayunkan pedangnya dan cara itu berhasil untuk memotong seluruh ular yang menggigitnya.
Setelah ular-ularnya terpotong Hebina pun menarik bagian ular yang tersisa dan merubahnya menjadi tangannya yang semula, sementara pemuda itu mencabut dan membuang kepala ular yang masih menggigit dirinya.
"Kau cukup mengesankan untuk seorang manusia" puji Hebina.
"Berhentilah melakukan pujian yang menjijikan itu" kata sang pemuda, ia bener-bener tidak suka ketika dirinya di puji oleh iblis.
"Baiklah aku tidak akan memujimu lagi tapi aku akan langsung menghabisimu" kata hebina, tangan hebina kembali menjadi ular dan langsung menyerang ke arah sang pemuda.
"Kau pikir serangan yang sama akan mempan padaku" kata sang pemuda sambil memotong ular-lar Hebina hingga akhirnya semua ular itu terpotong.
Merasa serangannya percuma Hebina pun menarik kembali ular-ularnya. "Sepertinya aku harus ganti rencana" kata Hebina sambil merubah tanganya kembali normal.
Hebina membuka mulutnya dan menembakan ludah ke arah sang pemuda, melihat itu pemuda itu pun menghidarinya, saat melihat ludah hebina yang mengenai lantai, lantai itu meleleh seperti terkena cairan asam yang sangat pekat.
'sepertinya dia masih memiliki trik yang masih ia sembunyikan' pikir pemuda itu.
Hebina menembakan lagi ludahnya ke arah pemuda, pemuda itu pun menghindarinya sambil memperpendek jarak antara mereka, melihat sang pemuda mendekatinya hebina menghentikan tembakan dan mulai merubah kedua tangannya menjadi ular lagi.
Ular-ular itu memanjang ke arah pemuda, tidak seperti sebelumnya sang pemuda berhasil memotong ular-ular itu sambil terus berlari ke arah Hebina, tidak mau tinggal diam Hebina pun menggunakan ekornya untuk mencambuk pemuda itu.
Pemuda yang melihat hal itupun mencoba menahan cambukan itu dengan menggunakan pedangnya tapi sabetan ekor itu terlalu kuat dan berat sehingga membuat sang pemuda itu tidak kuat menahannya dan akhirnya ia terpental hingga menabrak dinding.
"Ugh..." pekik sang pemuda ketika punggunya menabrak dinding. Tubuh sang pemuda merasa sang sakit sekarang dan keluar beberapa tetes darah dari balik topeng yang ia kenakan.
"Bagaimana apa kau senang sekarang ?" ledek hebina.
Sang pemuda berusaha berdiri lagi, tapi kakinya gemetaran dan ia pun sulit untuk bernafas. "Diam...lah..." kata pemuda itu.
"Aku takut" ledek Hebina.
"Kali ini aku pasti akan membunuhmu" kata pemuda itu sambil menyarungkan kembali pedangnya.
'apa yang dia lakukan ?. apa dia sudah menyerah' pikir Hebina yang kebingungan dengan tingkah sang pemuda.
Tang...tang... suara yang dihasilkan karena sang pemuda mengeluar masukan pedangnnya menggunakan ibu jarinya
"Aku tidak tau apa yang kau lakukan tapi aku pasti akan menghentikanmu melakukan rencana mu" kata Hebina sambil mengeluarkan 2 lingkaran sihir yang cukup besar. Dari lingkaran sihir itu muncul dua kepala ular.
"Futatsu no hebi no atama" kata hebina dan ular-ular itu pun langsung menerjang sang pemuda.
Ular-ular itu melesat dengan sangat cepatnya tapi sang pemuda tidak bergerak dari tempatnya dan masil melakukan hal yang ia lakukan sejak tapi.
"Mati kau manusia" kata Hebina.
Kedua ular itu menyerang dari sisi kanan dan kiri sang pemuda, mereka membuka mulut mereka lebar-lebar seperti hendak memakan sang pemuda. 'Tap' suara pedang katana yang sudah di masukkan ke dalam sarungnya.
"Shi no surasshu" kata sang pemuda dan seketika itu pula ular-ular yang hendak menyerang sang pemuda itu terbelah dan terpotong-potong mulai dari bagian kepala hingga sampai lingkaran sihir Hebina. Selain ular dan lingkaran sihir yang terpotong tubuh hebina pun ikut terluka.
"Agh..." teriak hebina karena tubuhnya terkena sayatan dari teknik sang pemuda. 'apa yang terjadi ? tidak mungkin dari jarak sejauh ini pedangnya mampu mengenaiku' pikir Hebina.
"Sepertinya sangat kebingunan dengan apa yang terjadi, tapi tenangnya setelah aku menebas kepalamu kau tidak akan bingung lagi" sinder pemuda itu. Mendengar ejekan itu hebina pun memasang wajah marahnya.
"Jangan sombong dulu kau manusia, luka seperti ini mudah sekali kusembuhkan" kata Hebina sambil memulihkan dirinya, Hebina mulai meregenerasi tubuhnya hingga luka yang ia terima mejadi tertutup.
pemuda itu berlari ke arah Hebina, melihat sang pemuda mendekat hebina pun membuka mulutnya dan keluar kabut berwarna ungu kehitaman. Melihat kabut itu sang pemuda pun melompat mundur, ia tidak mau mengambil resiko tapi dengan cepat kabut itu memenuhi seluruh rumah.
Dalam kondisi ini sosok hebina tidak dapat terlihat dengan jelas oleh sang pemuda. 'ia menyembunyikan hawa keberadaannya' pikir sang pemuda sambil berusaha mencari hawa keberadaannya.
"Bagaimana sekarang manusia apa kau masih bisa sombong !?" kata hebina di dalam kepulan kabut.
Sang pemuda memejamkan matanya ia mencoba mencari keberadaan hebina. Merasa hawa keberadaan di arah belakangnya, ia pun langsung menebas ke arah sana. Pedang sang pemuda berhasil mengenai sosok hebina "Hahaha" kata Hebina dan tiba-tiba saja tubuh Hebina berubah menjadi tumpukan ular yang berjatuhan ke lantai.
Melihat ular-ular itu sang pemuda pun lari menjauhi tumpukan ular itu. Merasa sudah cukup jauh pemuda itupun berhenti, ia lalu memandang sekeliling dan saat memandang sekeliling muncul siluet Hebina yang tengah mengepung dirinya.
"Sebaiknya kau menyerah saja dan menjadi makanan ku" kata Hebina sambil tertawa.
Mendengar tawa itu pemuda hanya diam sambil mencari keberadaan Hebina dan tiba-tiba saja sepuluh ekor ular muncul di depan pemuda dan langsung menggigit tubuh sang pemuda.
Bukannya merintih kesakitan sang pemuda justru menyeringai dan berlari menuju asal munculnya ular-ular itu guna menemukan sosok Hebina, menyadari strategi milik sang pemuda Hebina pun langsung melepaskan giitan ular-ular itu dan menarik kembali ular-ular itu tapi sayang sang pemuda dapat menangkap tiga ular itu dan terus berlari ke arah hebina.
Tak perlu waktu lama sang pemuda pun berhasil menemukan sosok Hebina dan tanpa buang-buang waktu sang pemuda langsung menebas kepala Hebina hingga terputus. Saat kepala Hebina terputus kabut ungu yang dikeluarkan perlahan-lahan menghilang.
Sang pemuda berdiri dan ia hendak menuju kepala Hebina, ia mengangkat pedangnya hendak menusuk menghabisi hebina yang masih hidup walaupun kepala sudah terputus.
"Tunggu" kata Hebina.
Sang pemuda mengabaikan kata-kata hebina dan hendak menusuk kepala hebina untuk menghabisi Hebina untuk selama tapi tiba-tiba saja pandangannya menjadi kabur sehingga ia gagal menusuk kepala Hebina dan justru menusuk lantai di samping kepala Hebina.
Kaki sang pemuda tiba-tiba saja kaki sang pemuda menjadi lemas dan ia pun bertekuk lutut. "Akhirnya racun yang kusebar sudah mulai berefek pada mu" kata hebina.
Mendengar itu sang pemuda hanya diam tak mau menjawab "Kurasa kita berada di posisi yang sama jadi bagaimana kalau kita berkerja sama ?" tawar hebina.
Pemuda itu diam saja, ia mulai merasa sesak untuk bernafas, melihat kondisi sang pemuda yang semakin melemah Hebina pun merasa di atas angin "Jika kau membantuku untuk menyambungkan kepala dan tubuhku seperti semula aku akan mengobati racun yang ada di dalam tubuh mu"
Mendengar itu sang pemuda hanya diam sambil berusaha untuk berdiri, ia mulai mencabut pedangnya dari lantai dan sekali lagi ia arahkan kepada kepala hebina "Hei apa kau tidak mendengarku ? kau bisa mati karena keracunan manusia" kata hebina yang mulai panik.
"Kau pikir aku akan termakan oleh tipu dayamu seperti laki-laki yang sudah kamu tipu dan juga aku tidak memerlukan bantuan dari iblis sepertimu, aku lebih memilih mati dari pada harus mendapat bantuan darimu" kata sang pemuda.
Sang pemuda menggenggam pedang katananya dengan ke dua lengannya, ia mencoba memfokuskan matanya ke arah kepala Hebina sehingga ia tidak akan meleset seperti sebelumnya.
"Tungg..." sebelum Hebina menyelesaikan kata-katanya sang pemuda sudah menusuk kepala Hebina dan perlahan-lahan kepala dan tubuh Hebina berubah menjadi pasir berwarna hitam.
Mata sang muda semakin rabun dan juga berat hingga akhirnya ia pun tumbang tak sadarkan diri. Setelah beberapa waktu mata sang pemuda terbuka kembali dan hal yang pertama ia lihat setelah membuka matanya adalah sesosok biarawati.
Biarawati itu menyentuh daerah dada sang pemuda dan terdapat cahaya berwarna hijau menyelimuti lengangan dan tubuh sang pemuda.
Menyadari bahwa sang pemuda sudah sadarkan diri, wajah sang biarawati yang tadi cemas kini wajahnya tampak terlihat lega sekaligus senang.
"Kenapa kau ada disini ?, seharusnya kau ada misi lain bukan ?" tanya sang pemuda.
"Apa kau harus bertanya seperti itu, aku datang kemari karena aku khawatir kepada mu yang melakukan misi sulit ini seorang diri saja" kata biarawati.
"Kau seharusnya tidak perlu menghawatirkan ku sampai sejauh itu karena aku bisa mengatasi hal semacam ini seorang diri" kata sang pemuda.
Mendengar itu sang biarawati memasang wajah sedih "Aku tau kau kuat tapi ada kalanya kau harus bergantung pada orang lain dan bukannya menyelesaikan segala masalah dengan maksakan dirimu" kata sang biarawati
"Lagi pula kita adalah saudara jadi coba untuk bergantung pada onee-san mu ini !" kata sang biarawati mendengar itu sang pemuda hanya diam.
"Sudah cukup" kata sang pemuda sambil berusaha bangkit.
"Tunggu dulu aku belum selesai" kata sang biarawati.
"Tidak apa-apa, aku sudah sudah mendingan dan racun di tubuhku sudah hilang sepenuhnya jadi kau tidak perlu khawatir" kata sang pemuda sambil berdiri membelakangi sang biarawati.
Sang pemuda itu berjalan menuju pintu keluar dengan langkah yang sedikit sepoyongan, melihat sang adik yang berjalan seperti itu sang biarawati pun langsung membantu membopong sang pemuda agar bisa berjalan lebih baik.
"Apa yang kau lakukan ?" tanya sang pemuda ketika sang gadis mencoba membantu dia berjalan.
"aku hanya menjalankan tugasku sebagai onee-san jadi jangan protes" kata sang biarawati sambil terus membopong tubuh sang pemuda.
"Baiklah onee-san" kata sang pemuda. Dan mereka pada akhirnya bejalan menuju rumah mereka dan meninggalkan rumah yang sudah terbengkalai itu.
Bersambung...
xxx
xxx
xxx
xxx
Akhirnya chapter dua selesai juga, saya ucapkan terima kasih karena sudah menunggu dan membaca chapter kedua ini, saya berharap kalian bisa menikmati chapter ini. Saya menunggu kritik dan saran dari kalian agar saya bisa menjadi lebih baik kedepannya.
