Code DxD
Chapter 3
PERTEMUAN
-malam hari-
Di sekolah lama dari sekolah khusus kuoh academy, terdapat 4 orang anak remaja yang terdiri dari tiga orang perempuan dan satu orang laki-laki. mereka tengah berkumpul di salah satu ruangan sekolah lama, mereka tengah sibuk membahas sesuatu yang tidak biasa bagi remaja normal lainnya.
Lelaki tersebut memiliki rambut berwarna kuning dengan mata berwarna abu-abu dan ia memiliki tahi lalat di bawah mata kirinya.
Sementara wanita pertama memiliki rambut panjang berwarna merah darah, tubuh langsing, mata yang berwarna hijau serta payudara yang besar.
Wanita kedua memiliki rambut panjang berwarna hitam yang ia kuncir ekor kuda, mata yang berwarna hitam, tubuh yang menggoda, mata yang berwarna hitam dan ia mempunyai bayudara yang lebih besar dari wanita pertama.
Wanita ketiga memiliki rambut berwarna putih seperti salju, mata berwarna coklat, dan tidak seperti kedua wanita lain, ia memiliki badan yang mungil dan payudara yang terbilang kecil.
Mereka berempat tengah duduk di meja yang sama. "Koneko-chan, aku ingin kau menyelesaikan kontrak dengan orang ini" kata wanita pertama sambal menyerahkan beberapa lembar kertas pada gadis ketiga yang bernama Koneko.
Koneko menerima kertas-kertas itu dan langsung membaca tulisan di kertas-kertas itu. "Kali ini permintaannya apa Rias-Buchou? Kata satu-satunya laki-laki di ruangan itu yang bertanya pada wanita pertama yang bernama Rias.
"Iya buchou aku juga ingin tau ?" kata wanita kedua yang juga penasaran dengan dengan tugas milik Koneko.
"Kau juga ? tidak biasanya kamu penasaran seperti itu Akeno" kata Rias pada wanita kedua yang bernama Akeno.
"Tidak apa-apakan jika sekali-kali aku pensaran'kan Rias-buchou ?" kata Akeno sambil tersenyum.
Rias hanya membalas kata-kata Akeno dengan sebuah senyum kecil. "Bagimana apa kau sudah paham Koneko-chan ?" tanya Rias, Koneko mengangguk tanda bahwa ia mengerti.
"Jadi apa permintaannya, Koneko-chan?" tanya Kiba.
"Sepertinya ia hanya meminta kita untuk menjadi lawan latihannya" jawab Koneko.
"Lawan latihan, maksudnya ?" tanya Kiba.
"Sepertinya ia adalah mantan atlit karate yang cukup hebat sehingga ia ingin mencoba bertarung dengan iblis untuk mencoba kekuatannya" jelas Koneko.
"Aku paham sekarang, tapi aku tidak menyangka kalau ada manusia biasa yang berani mengajak iblis untuk latihan tandingnya" kata Kiba.
"Aku juga penasaran dari mana datangnya kepercayaan dirinya itu" kata Akeno sambal tersenyum.
"Kalau begitu aku akan pergi sekarang" kata Koneko
"Sebelum kau pergi aku ingin memperingatkan mu akan satu hal Koneko-chan" kata Rias.
"Apa itu Rias-Buchou ?" tanya Koneko.
"Ini tentang exorcist yang baru-baru ini muncul di Kota ini, kudengar ia cukup berbahaya karena setelah kedatangannya ke kota ini sudah cukup banyak iblis liar yang ia bunuh, jadi aku ingin kau menjauhi dia bila kau bertemu dengannya" kata Rias.
Mendengar itu Koneko pun menjadi sedikit penasaran karena tidak biasanya Rias khawatir seperti ini tapi karena itu perkataan Rias maka Koneko akan melaksanakannya. "Baik aku paham, Rias-Buchou" kata Koneko.
Koneko berdiri dan bejalan sedikit menjauh dari kawan-kawannya "Akeno-san tolong" kata Koneko.
"Baik" kata Akeno sambil berdiri, ia merentangkan tangannya ke arah Koneko dan tiba-tiba muncul lingkaran sihir berwarna merah darah di bawah kaki Koneko.
"Hati-hati Koneko-chan" kata Rias sebelum sosok Koneko hilang dari ruangan itu.
Koneko muncul di depan pintu sebuah masion yang besar, Koneko merasa heran karena masion itu terasa sangat sunyi dan bahkan Koneko tidak dapat merasakan aura seseorang di dalam masion ini,Koneko membuka pintu itu tanpa meminta izin terlebih dahulu.
Saat Koneko membuka pintu ia terlihat sangat terkejut karena ia melihat banyak pelayan yang terledak dan berlumuran darah di lantai aula masion itu. Koneko mencoba mengecek keadaan salah satu pelayan disana dan ia menemukan bahwa pelayan itu telah mati karena kehilangan banyak darah.
"Kejamnya, perutnya robek karena benda tajam" kata Koneko setelah melihat kondisi dari sang pelayan.
Koneko yang penasaran memutuskan untuk menyelidiki kasus ini dan sekalian mencari kliennya tapi kata-kata Rias kembali terngiang di kepala Koneko tapi Koneko mencoba mengabaikan perkataan itu karena ia sudah sangat penasan tentang apa terjadi di masion ini.
Koneko mengenakan sarung tangan blade proof dengan sebuah batang besi di bagian punggung lengannyannya.
Koneko terus mencari sang klien di setiap kamar yang ada hingga tertinggal satu kamar lagi yang belum ia cek, Koneko bisa merasakan hawa yang kurang enak namun ia sudah tidak bisa mundur lagi. Ia membuka pintu itu dan ia melihat bahwa kliennya sudah tergeletak bersimbah darah dan ada seorang pria berpakaian hitam yang sepertinya adalah pelaku pembunuhan di masion itu, koneko tidak bisa melihat wajah karena wajahnya tertutup dengan topeng rubah dan ia membawa pedang di tangan kanannya.
Pemuda itu menyadari kedatangan Koneko, lalu ia menoleh ke arah Koneko, Koneko yang menyadari hal itu langsung memasang kuda-kuda bertarung. Mereka terdiam sambil menatap satu sama lain.
"Siapa kau ? apa kau iblis yang berkontarak dengan orang ini ?" kata sang pemuda sambil menujuk klien koneko yang sudah mati.
"Iya, dia adalah Klien ku" jawab Koneko.
"Lalu siapa kau ?, kau pasti bukan orang sembarangan karena kau tau aku seorang iblis dan kau juga telah membunuh semua orang di masion" tanya Koneko.
Mendengar perkataan koneko mata sang pemuda pun sedikit membulat, "aku adalah seorang exorcist yang di kirim gereja untuk membereskan orang-orang yang bersekutu dengan iblis" kata pemuda.
"Lalu kenapa kau membunuh mereka yang tidak bersalah" kata Koneko.
"Tidak bersalah ? apa yang kau maksud dengan tidak bersalah, jelas-jelas mereka membiarkan majikan mereka berbuat kontrak dengan iblis jadi sudah jelas kalau mereka juga ikut bersalah" kata sang pemuda.
Sang pemuda menatap sinis Koneko "Apa kau mau membelaskan dendam klien mu dan orang-orang yang sudah mati itu ?" tanya sang pemuda tapi Koneko tidak menjawab.
Tidak mendapatkan jawaban dari Koneko membuat sang pemuda geram "Aku benci iblis yang bersikap suci sepertimu" kata sang pemuda sambil berlari ke arah Koneko, ia berusaha menebas Koneko tapi ia berhasil menahannya dengan menggunakan besi di blade proofnya.
"Jika kau berkata kau membenci iblis seperti ku maka akan ku katakan aku juga membenci manusia yang sok suci sepertimu" kata Koneko sambil mencoba memukul perut sang pemuda tapi sang pemuda melompat ke belakang untuk menghindari serangan itu.
Sang pemuda kembali menerjang Koneko tapi kali ini ia tidak mengayunkan pedangnya tapi ia melakukan Teknik tusukan menggunakan pedang katananya. Koneko mencoba menghindari tusukan demi tusukan sang pemuda.
'bahan blade proof efektif untuk menahan tebasan tapi serangan menusuk dapat dengan mudah merobeknya, terlebih lagi aku tidak tau teknik pedang apa yang sedang ia gunakan' pikir Koneko sambil menghindari serangan sang pemuda.
Sebuah ide terlintas di pikiran Koneko 'aku harus melakukan itu' pikir koneko. Sang pemuda menlancarkan satu serangan lagi dan kali ini koneko berhasil menahannya dengan menjebit dan mengunci pedang sang pemuda dengan menepuk kedua tangannya sehingga pedangnya berada di tengah-tengah tangan Koneko.
Sang pemuda sedikit terkejut karena koneko bisa menahan serangannya sementara Koneko tersenyum penuh kemenagan, tidak sampai di situ koneko melintir pedang itu dengan sekuat tenaga hingga akhirnya pedang itu patah.
Sang pemuda kaget karena pedangnya patah di depan matanya, melihat kesempatan itu koneko langsung memukul pelipis kiri sang pemuda hingga terpental dan menabrak dinding kamar itu. Topeng sang pemuda hancur di bagian pelipis kirinya sehingga terlihat sedikit bagian wajah Sang pemuda
Sang pemuda itu natap koneko dengan tatapan dingin Koneko merasa merinding ketika melihat mata pemuda itu, ia mencoba untuk berdiri, lalu ia memasukan kembali ke dalam sarung, koneko merasa heran karena tiba-tiba saja sang pemuda memasukan pedangnya.
Sang pemuda memasang kuda-kuda seperti ingin menyerang koneko, 'apa yang mau ia lakukan ?' pikir Koneko yang penasaran dengan tingkah sang pemuda.
Melihat tidak adanya tindakan lain dari sang pemuda koneko pun memutuskan untuk membuat geraakn terlebih dahulu, ia berlari ke arah sang pemuda melihat itu sang pemuda langsung menggenggam pedang dan langsung menarik pedang dengan sekuat tenaga.
"Shibō-sen (garis kematian)" kata sang pemuda dan muncul perasaan tidak enak dari hati koneko. Koneko yang khawatir langsung memasang kuda-kuda bertahan, ia menganggkat kedua tangannya dan menjadikannya sebagai perisai.
"Aghh…." Teriak koneko ketika kedua tangannya tersayat oleh sesuatu yang tidak terlihat.
Kedua tangan koneko turun kebawah dan darah terus mengalir dari kedua tangan koneko, 'sebenarnya apa yang terjadi, tidak mungkin ia bisa menjangkau ku dari jarak itu' pikir Koneko yang bingung dengan serangan barusan.
"Apa yang akan kau lakukan setelah kedua tanganmu sudah tidak bisa digunakan ?" tanya sang pemuda sambil meledek kondisi koneko.
Dengan kondisi yang sudah tidak menguntungkan itu koneko pun lari meninggalkan kamar tersebut. Melihat koneko yang hendak melarikan diri sang pemuda pun hendak lari menyusul namun tiba-tiba saja terjadi sebuah ledakan yang cukup besar di ikuti dengan beberapa ledakan lainnya.
"Si sialan itu" kata sang pemuda yang menyadari siapa orang yang memasang bom itu. Sang pemuda langsung memutuskan keluar dengan cara melombat ke luar melalui jendela, ia terjun dari lantai 3 dan ia berhasil mendarat dengan selamat.
Sang pemuda menoleh pada masion yang tengah terbakar "Lain kali kau tidak akan seberuntung ini" kata sang pemuda sambil berjalan menjauh dari masion itu dan menghilang di dalam ke gelapan malam.
XxxxxX
Di suatu tempat ada seorang pemuda yang tengah melihat ke bakaran di sebuah masion, ia tampak senang dan sesekali ia tertawa melihat masio itu. Orang itu adalah seorang pemuda berambut putih dan ia mengenakan pakai seperti seorang pastur.
"Hahaha rasakan itu dasar orang-orang kafir sekarang kalian rasakan murka tuhan hahahaha" kata sang pemuda.
Tawa sang pemuda itu terhenti ketika ada sebuah bedang katana berada di menempel di lehernya, orang yang sedang memegang katana itu adalah pemuda yang tadi bertarung dengan koneko, ia berdiri di belakang pemuda berambut putih itu sambil menempelkan pedang katananya di leher pemuda berambut putih itu
"HEi apa yang kau lakukan, kita ini teman bodoh" kata sang pemuda berambut putih.
"Harusnya aku yang bertanya padamu freed sellzen, kenapa kau meledakan masion itu apa mencoba membunuhku dengan bom" kata sang pemuda sambil lebih menempelkan pedannya pada Freed sehingga membuat luka di leher Freed dan darah mengalir dari luka itu.
"Soal itu, aku tau kau tidak akan mati oleh bom-bom kecil itu. Apa kau memang orang selemah itu hingga bisa mati dengan mudah begitu" jawab Freed yang malah membuat sang pemuda itu makin kesal jadinya.
Sebenarnya sang pemuda dapat dengan membunuh Freed sekarang tapi ia memutuskan untuk mengurungkan niatnya karena itu cuma akan menambah masalah bagi dirinya.
"Lain kali aku akan membunuhmu" kata sang pemuda sambil menjauhkan pedangnya dari leher Freed, ia lalu berjalan meninggalkan Freed namun baru beberapa langka ia pun berhenti
"Dan satu hal lagi jika kau melakukan pembunuhan yang tidak perlu, aku sendiri yang akan membunuhmu" kata sang pemuda sebelum ia kembali berjalan menjauhi Freed.
'Orang itu benar-benar membuatku kesal, lihat saja nanti aku pasti akan memenggal kepalamu' pikir Freed sambil tersenyum.
XxxxxX
Sementara itu di tempat Koneko. Koneko tengah di obati oleh Akeno, ia memberikan obat dan membalut luka Koneko menggunakan perban. "Selesai" kata Akeno ketika ia telah selesai membalut luka Koneko.
Rias duduk di depan Koneko, ia menatap lekat-lekat Koneko, Koneko yang di tatap seperti itu merasa tidak nyaman. "Sudah ku katakan untuk berhati-hati tapi kau justru bertindak ceroboh dan bertarung. Apa kau tidak tau seberapa khawatirnya kami ketika kau pergi" kata Rias sambil memandang Koneko dengan tatap penuh dominasi.
Koneko hanya bisa menundukan kepalanya dalam-dalam ia tidak sanggup melihat wajah Rias, namun tiba-tiba saja Rias memeluk tubuhnya. "Tapi dari semuanya aku bersyukur kau selamat" kata Rias, kata-kata Rias telah membuat hati Koneko menjadi lega.
XxxxX
Di sebuah lereng dekat lapangan tenis Akademi khusus Kuoh academy tengah berbaring tiga orang siswa. siswa pertama memiliki rambut berwarna coklat dan bermata coklat; siswa kedua memiliki kepala botak licin dan siswa terakhir memilik rambut berwarna hitam dan mengenakan kacamata
"Ah aku ingin meremas dada" kata siswa berambut coklat.
"Aku juga" timbrung siswa botak.
"Jangan bicara sembarang itu membuat situasi kita terlihat lebih menyedihkan, Issei" kata siswa berkacamata.
"Matsuda. Motohama. Bisa kalian katakana tujuan kita masuk sekolah ini" kata siswa berambut coklat yang bernama Issei.
Sekolah khusu kuoh academy telah berubah dari sekolah khusus cewe menjadi sekolah campuran, dengan jumlah siswi yang lebih banyak dari siswanya membuat kondisi yang sangat sempurna untuk membuat harem" teriak mereka bertiga sambil berdiri.
Mereka bertiga sangat menantikan terbentuknya harem untuk diri mereka sendiri. "Kiba-Kun" teriak beberapa siswi memanggil Kiba. Mendengar itu Kiba pun menoleh ke arah siswi yang memanggilnya sementara rombongan Issei melihat ke arah mereka.
"Kiba-kun, mau ikut main karoke tidak dengan kami ?" kata salah satu rombongan cewek itu.
"Maaf aku ada kegiatan klub jadi aku tidak bisa itu. Bye" kata Kiba sebelum ia meninggalkan para rombongan siswi itu.
"KIba Yuuto dari kelas 2-c, sebagai anak yang paling di cintai oleh siswi dialah musuh utama kita" kata Motohama.
"Sial, hanya karena ia tampa, cerdas dan orang baik, ia mendapatkan segalanya sementara kita tidak mendapatkan apa pun" keluh Issei.
"Jangan katakana itu, itu membuat kita semakin menyedihkan" kata Motohama sambil menagis Bombay meratapi nasib mereka.
"Hei Motohama apa kau tau dia ?" kata Matsuda sambil menunjuk seorang pemuda yang tidak ia kenal.
Motohama melihat sosok yang ditanya Matsuda tapi ia sendiri tidak kenal siapa siswa itu "Aku tidak tau" jawab Motohama.
Sosok yang menjadi perhatian rombongan Issei adalah seorang siswa berambut jabri kuning, ia memiliki mata biru sebiru langit berkulit tan dan memiliki tanda lahir seperti kumis kucing di kedua pipinya.
Sosok itu menarik perhatian selain rombongan Issei tapi juga beberapa siswi yang terpana atas ketampanannya tapi sang siswa itu tidak ambil pusing dan terus berjalan menuju Gedung utama sekolah kuoh academy.
"Tidak peduli siapa dia cowok popular adalah musuh kita" teriak Issei bersemangat.
"Itu benar" kata kawan-kawan Issei.
Setelah siswa itu lewat tidak lama kemudia Koneko pun muncul dengan tangan yang masih di perban karena luka setelah pertarungan melawan exorcist semalam. Orang-orang yang melihat hal itu terheran-heran kenapa sosok maskot sekolah datang dengan tangan yang teluka.
Bel pelajaran petama pun berbunyi para siswa dan siswi masuk ke kelas mereka masing-masing. Di kelas 1-B Koneko tengah termenung memikirkan kejadian semalam tanpa ia sadari pensil mekaniknya jatuh ke bawah meja.
Pintu kelas itu terbuka dan tampak seorang guru wanita masuk di ikuti seorang siswa, siswa itu adalah siswa yang sempat menarik perhatian rombongan Issei dan para siswi tadi.
"Hari ini kita kedatangan murid baru" kata guru itu.
"Sekarang perkenalkan dirimu pada kawan-kawan barumu" kata sang guru. Mendengar itu sang pemuda pun tersenyum.
"Perkenalkan namaku Uzumaki Naruto, kuharap kita bisa berteman dengan akrab" kata Naruto sambil tersenyum, para siswi yang melihat senyum hangat Naruto membuat mereka kelepek-kelepek sementara para sisiwa hanya berdecik lidah karena iri dan cemburu.
"Baiklah kamu duduk di sana ! di samping Toujou Koneko" kata guru sambil menunjuk meja kosong di sebelah Koneko. Setelah mendengar itu Naruto pun berjalan ke mejanya namun langkahnya terhenti ketika ia melihat pensil mekanik milik Koneko yang tergeletak di lantai.
Ia mengambil pensil mekanik itu "Ini" kata Naruto sambil menyodorkan pensil mekanik itu pada Koneko. Lamunan Koneko buyar saat mendengar suara Naruto. Koneko menoleh ke arah Naruto tapi ketika ia menatap mata Naruto Koneko justru teringat dengan tatapan dingin sang pemuda yang ia lawan semalam.
"Aaaa…" teriak Koneko dan secara reflek Koneko pun berdiri dan menjauhi Naruto, seluruh kelas memperhatikan Koneko dan Naruto.
"Maaf kalau aku mengangetkanmu tapi aku Cuma mau mengembalikan pensil milikmu" kata Naruto.
Koneko melihat Naruto dan kali ini bayang mata sang pemuda hilang digantikan dengan tatapan mata biru yang secerah langit biru, melihat hal itu Koneko pun menjadi tenang lalu ia pun menerima pensil mekanik miliknya dari tangan Naruto.
Naruto senang ketika Koneko menerima pensil yang ia pungut itu. "Mulai sekarang mohon bantuannya Toujou-san" kata Naruto sambil tersenyum melihat senyum itu hati Koneko sedikit bergetar dan untuk siswi lain mereka malah langsung kelepek-kelepek.
Setelah menyerahkan pensil Koneko, Naruto pun duduk di kursinya begitu juga dengan Koneko yang duduk kembali di Kursinya. Pelajaran pun di mulai dan para siswa pun memperhatikan pelajran dengan giat.
Bel istirahat pertama pun berbunyi menandakan waktu istirahat sudah datang. "Baiklah cukup sampai disini, kalian jangan lupa pelajari lagi di rumah" kata sang guru sebelum ia meninggalkan ruangan kelas.
Setelah guru keluar para siswi pun langsung mengerumungi Naruto kecuali Koneko. "Naruto-kun, aku Tobichi Sara, ketua kelas kalau tidak keberatan bagaimana kalau aku memandumu keliling sekolah" tawar Sara, namun tiba-tiba Koneko memukul mejanya dengan cukup keras sehingga membuat orang-orang di kelas memperhatikannya.
Koneko berjalan melewati kerumunan siswi yang ingin berbicara dengan Naruto, setelah sosok Naruto terlihat Koneko langsung menggenggam tangan Naruto dan menarik Naruto untuk mengikuti dirinya, orang-orang yang melihat itu hanya bisa terdiam sejenak.
Koneko membawa Naruto ke atas atap sekolah, orang-orang yang melihat Naruto dan Koneko bergandengan tangan membuat seisi sekolah heboh dan mengikuti mereka hingga di ambang pintu menuju atap.
"Ada apa Tojou-san sampai-sampai kau membawa ku kemarin ?" tanya Naruto yang penasaran dengan alasan Koneko membawanya ke atap sekolah.
Jarang Koneko dan Naruto cukup jauh dari pintu atap sehingga sulit bagi orang-orang yang mengikuti Naruto dan Koneko untuk mendengar pembicaraan mereka berdua.
"Uzumaki-san bisa kau katakan semalam kau berada di mana dan apa yang kau lakukan ?" tanya Koneko ia masih mencurigai bahwa Naruto adalah pemuda yang bertarung dengannya semalam.
Naruto bingung karena Koneko menanyakan hal itu, dengan ragu Naruto menjawab pertanyaan Koneko "Semalam aku hanya tidur setelah selesai membereskan barang-barang ku setelah pindahan ke Kosan ku yang baru" jawab Naruto.
Koneko yang mendengar jawaban itu masih tetap saja merasa ragu, hatinya selalu berkata bahwa Naruto adalah orang yang bertarung dengannya semalam.
"Kalau begitu coba perlihatkan tanganmu" kata Koneko. Naruto yang mendengar itu lalu mengulurkan tangannya, Koneko menggengam tangan Naruto sambil melihat telapak tangannya, orang-orang yang melihat itu menjadi ribut karena sekali lagi maskot sekolah mereka menggenggam tangan Naruto.
'tangan ini terlalu lembut dan halus tidak cocok dengan tangan seorang ahli pedang. Apa aku sudah salah mencurigai Uzumaki-san ? tapi kenapa hatiku masih saja merasa gelisah dengan keberadaan Uzumaki-san' pikir Koneko.
Naruto memperhatikan tangan Koneko yang terbalut perban, "Ano Toujou-san kalau boleh tau kenapa tanganmu terperban begitu" kata-kata Naruto berhasil menyadarkan Koneko dari lamunannya.
Kali ini giliran Koneko yang bingung, ia diam sejenak memikirkan jawaban yang pas "Kemarin aku terjatuh dan membuat kedua tanganku terluka" jawab Koneko ngasal sementara Koneko hanya ber-oh ria saja.
Koneko melihat cincin yang melingkar di ibu jari di tangan kiri Naruto. "Cincin apa ini ?" tanya Koneko.
"Oh ini, ini adalah jimat, dulu aku pernah melukai seseoarang dengan tangan ini jadi ini jimat agar aku tidak melukai orang lain lagi" kata Naruto.
Setelah mendengar itu Koneko lalu melepaskan tangan Naruto, "Maaf sudah membawa ke sini dan menanyakan hal-hal aneh padamu" kata Koneko sambil menundukan kepalanya, ia merasa menyesal sudah menyeret Naruto ke masalahnya.
Naruto yang melihat itu pun tersenyum tipis "Tidak apa-apa, aku sama sekali tidak keberata kok jadi tidak usah kau pikirkan" kata Naruto.
"Terima kasih" jawab Koneko.
"Sama-sam…gruhh…" kata Naruto namun sebelum ia menyelesaikan kata-katanya perut Naruto sudah berbunyi duluan.
"Maaf ya, perutku bunyi" kata Naruto sambil tersenyum kikuk. Ia menggarut bagian belakang kepala yang tidak gatal dan pipinya memerah tanda bahwa ia tengah menahan malu.
Koneko tersenyum tipis dengan tingkah Naruto itu. "Kalau begitu mau makan di kanti ?" tanya Koneko.
Mendengar itu Naruto senang dan tersenyum "Benarkah ? kau mau mengantarku ke kantin ?" tanya Naruto yang sudah tidak sabar untuk mengisi perutnya yang keroncongan.
Koneko mengangguk tanda bahwa ia benar akan membawa Naruto ke kantin sekolah mereka. Mereka berdua berjalan beriringan menuju kantin mengabaikan puluhan mata yang tertuju ke arah mereka.
Orang-orang yang bingun dengan kejadian yang terjadi tadi hanya bisa penasaran sambil membubarkan diri mereka sendiri namun ada saja orang seenaknya mengambil kesimpulan dan menyebarkan kesimpulan mereka kepada orang lain dan sejak itu terdengar rumor di sekolah khusus Kuoh academy bahwa sang maskot sekolah telah menemukan pangerannya.
xxx
xxx
xxx
xxx
bersambung…..
xxx
xx
x
akhirnya capter ketiga ini sudah selesai…. Semoga kalian terhibur dengan chapter 3 ini. Saya mohon maaf lama updatenya karena saya sibuk menyelesaikan skripsi saya, saya mohon doanya agar skripsi saya cepet selesai.
Saya tunggu komentar kalian agar fanfic saya bisa menjadi lebih baik lagi dari pada sebelum, jika tidak keberatan tolong fav dan follow ya, agar kalian ga ketinggalan ceritanya 😊😊😊
