Disclaimer: seluruh tokoh bukan milik saya. Tidak mengambil keuntungan apa pun dalam membuat fanfiksi ini. Dibuat hanya untuk senang-senang

Main pair: Fang x fem! All elemental Boboiboy

Selamat membaca...

.

[Pick Me]

—chapter 3: Cemburu?—

.

Kelas 10-A terlihat sangat tenang. Jam pertama adalah pelajaran kimia. Guru cantik berkerudung biru menjelas materi tentang atom. Semua murid memperhatikan ke depan, sibuk mencatat segala sesuatu yang penting. Gempa terlihat sangat semangat menulis catatan. Taufan yang sibuk mencoret-coret catatannya tidak jelas. Blaze sibuk memperhatikan papan tulis. Halilintar sibuk membaca buku novel, tak peduli dengan pelajaran yang sedang berlangsung. Dan terakhir Ice yang sibuk dengan mimpi indahnya, sedikit air liur membentang dari sudut bibir.

Kring kring.

Bel istirahat berbunyi. Guru segera mengakhiri pelajaran dan keluar dari kelas. Para murid berhamburan menuju kantin. Boboiboy bersaudara hanya diam di dalam kelas, karena mereka membawa bekal.

"Kak Taufan! Sudah kubilang jangan makan punyaku!" teriak Blaze. Sedangkan Taufan tetap menghiraukan. Makanan Blaze terlalu sayang untuk dilewatkan.

Gempa pun memberikan sebagian lauknya pada sang adik kembar yang masih sibuk mengoceh, "Ini Blaze, makanlah." ucap Gempa.

Blaze hanya menatap lauknya. Kemudian sedikit menitikan air mata, "Hiks—kak Gempa terlalu baik—hiks."

Ice hanya menggelengkan kepala, menurutnya Blaze terlalu mendrama. Taufan yang sedang asik makan pun membuka suara, "Bagaimana jika kak Fang makan bersama kita? Ah, tidak maksudku makan bersamaku?"

1 detik.

2 detik.

3 detik.

PLAK!

"KYAA! SAKIT BLAZE!" Taufan mengaduh ketika kepalanya dipukul oleh sang adik. Blaze hanya menatap nanar sang kakak, "Tidak! Kak Fang hanya akan makan bersamaku!"

Dua kembar itu mulai beradu argumen. Tak terima jika ketua OSIS itu direbut. Sedangkan Ice semakin malas mendengarkan ocehan kedua kakaknya. "Cukup! Kak Fang akan makan bersamaku!" teriak Ice pada akhirnya.

Krik krik.

"HUWAAAA! AMPUNI AKU KAKAK-KAKAK!"

Ice berteriak ketika kedua telinganya ditarik oleh Taufan dan Blaze. Halilintar dan Gempa hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Baiklah. Kita taruhan, siapa yang bisa makan siang dengan kak Fang besok. Dia yang akan mendapatkan kak Fang!" ucap Taufan.

"Aku setuju, tentu saja kak Fang akan memilihku." ucap Blaze.

"Tidak, kak Fang akan memilihku." ucap Ice.

Dan, terjadilah perang dunia ketiga antara Taufan, Blaze, dan Ice.

.

Keesokan harinya.

"Fang, kau mau ke kantin?" tanya seorang pria. Amar Deep namanya.

Pemuda berambut raven itu menengok ke arah temannya, "Tidak Amar, aku akan makan di sini saja. Aku bawa bekal."

Amar pun mengangguk lalu pergi ke kantin sendirian. Fang sudah bersiap dengan bekal serta sendok di tangannya. Hari ini ia membawa nasi goreng seafood dengan makanan penutup donat lobak merah. Makanan favorite Fang.

Bau harum mulai menyeruak ke dalam hidung pria berkacamata. Mulutnya sudah bersiap untuk memasukkan sesuap nasi. Beberapa detik lagi, dan...

"KAK FANG!"

Suara cempreng Taufan membuat pemuda berambut ungu sedikit—sangat terkejut. Bayangkan saja jika dirimu sedang sendirian dan tiba-tiba seseorang berteriak sangat keras tepat di telingamu. Untung saja Fang tidak tuli mendadak.

"B—boboiboy?" ucap Fang bingung. Taufan dengan santai duduk di hadapan pemuda Cina.

"Aku Taufan," ucap Taufan dengan senyum yang merekah di wajah.

Fang hanya tersenyum. Lalu kembali mengambil nasi goreng seafoodnya lalu mulai memasukkan ke dalam mulut.

PUK!

"KAK TAUFAANNN! JAUH-JAUH DARI KAK FANG!"

"TIDAK MAU! KAU SAJA YANG PERGI!"

Si bawel Blaze datang dan kembali merusak suasana makan siang Fang. Taufan mulai mendorong-dorong tubuh kembarannya. Berniat menjauhkan si bawel Blaze dari Ketua OSIS SMA Pulau Rintis.

Pemuda raven hanya bisa tersenyum kaku. "Ah, bagaimana kalau kita makan bersama-sama saja?"

Taufan dan Blaze menatap wajah Fang. "Baiklah, aku akan duduk di sebelah Kak Fang." Blaze mengambil kursi di sebelah lalu menaruhnya di samping Fang.

"Sial kau Blaze! Menyingkirlah dari Kak Fang!" Taufan mulai menarik-narik tangan Blaze agar menjauh. Blaze dengan sekuat tenaga menahan tarikan Taufan, "Tidak, kak Taufan berhentilah menarik tanganku!"

Kepala Fang seketika pening. Ia hanya ingin memakan bekal nya dengan tenang. Diam-diam, pemuda berkacamata itu keluar dari kelas. Meninggalkan duo Boboiboy yang sedang berduel di dalam kelasnya. Ia hanya ingin makan dengan tenang saat ini.

Kaki jenjangnya melangkah ke kantin. Ia mendudukkan diri di kursi paling belakang lalu bersiap memakan bekalnya.

PUK!

"Kak Fang, sendirian aja. Mau aku temani?" Ice menepuk pundak Fang keras. Pemuda raven hampir loncat ketika tangan lentik Ice mendarat di pundak kanannya.

"B—boboiboy?!"

"Ice, aku Ice Boboiboy." ucap Ice lalu duduk di depan Fang. Menaruh bekalnya lalu mulai memakannya dengan nikmat.

Ya, setidaknya Ice tidak serusuh kedua kembarannya tadi.

Fang kembali menyuapi bekalnya perlahan. Tiba-tiba duo rusuh kembali mendatanginya. "KAK FAAANGGG!"

Oh, biarkan Fang untuk makan bekalnya satu suap saja. Pemuda berkacamata itu rasanya ingin menangis. Perutnya daritadi sudah berbunyi untuk segera diisi. Ice kemudian menengok ke arah dua kembarannya sekilas. Lalu kembali menoleh kearah Fang.

"Lho, Kak Fang ke mana?" ucap Ice bingung.

.

Pemuda berambut raven terengah-engah. Lelah berlari dari kantin menuju ruang OSIS. Terlihat Ying yang baru keluar dari dalam ruangan, "Fang, kau kenapa?"

Fang yang melihat gadis berkacamata bulat itu langsung berbinar. "Ying! Syukurlah."

"Eh, kau kenapa?" tanya Ying bingung.

Pria berkacamata itu mulai bercerita pada gadia keturunan Cina. Mulai dari awal istirahat sampai akhirnya ia harus berlari dari kantin sampai ruang OSIS. Ying hanya tertawa mendengar cerita Fang. "Haha, jadi kau dikejar-kejar si kembar Boboiboy?"

Fang hanya mendengus kesal, "Diam kau. Sekarang aku mau makan di dalam ruang OSIS saja."

"Ya sudah, aku mau balik ke kelas dulu." Ying pun pergi. Fang segera masuk ke dalam ruangan OSIS.

Sepi. Fang terseyum lebar ketika mengetahui ruang OSIS sepi. Itu artinya ia bisa bebas dari si kembar Boboiboy. Pemuda Cina itu langsung menaruh bekal di atas meja yang digunakan untuk rapat. Lalu mulai memakan bekalnya lahap. Akhirnya, ia bisa makan bekalnya dengan tenang sekarang.

"Kak Fang?"

Mata Fang mendadak melebar. Jangan katakan jika dirinya harus kembali berurusan dengan para kembaran Boboiboy?!

"BOBOIBOY?!"

"Kak Fang kenapa berteriak?" Gempa mulai duduk di samping Fang. Pria berambut raven itu masih terlihat syok. "Kau Boboiboy bersaudara kan?"

Gempa mengangguk. Gadis berambut panjang hitam itu tersenyum, "Jangan katakan jika Kak Fang habis dikejar-kejar kembaranku yang lain."

Fang menganggukkan kepalanya. Gempa hanya terkekeh pelan, "Maafkan kembaranku kak Fang. Mereka terlalu terobsesi dengan kakak."

Pemuda berkacamata itu menghela napas. Ya, dulu ia memiliki cita-cita menjadi siswa terpopuler di sekolah. Tapi, ia kini tahu rasanya menjadi populer itu seperti apa. "Tidak apa." ucap Fang tersenyum pada Gempa.

BLUSH!

Wajah manis Gempa mulai merona. Senyuman Fang mengalihkan dunia gadis berambut hitam panjang. Dirinya masih setia duduk di samping Ketua OSIS SMA Pulau Rintis. Menemaninya makan siang. Fang yang melihat Gempa pun menawarkan bekalnya, "Kamu mau?"

"Tidak. Kakak makan saja." ucap Gempa sopan.

Tangan kanan Fang mulai mengambil sesendok nasi. Lalu menyuapi Gempa, "Ayo buka mulutmu."

Gempa gelagapan. Oh, bayangkan saja seorang Fang tiba-tiba ingin menyuapi Gempa. Gadis itu mendadak gugup. Tak berani menatap wajah Fang, "T—tidak usah kak.."

"Aku tidak menerima penolakan. Ayo, buka mulutmu." ucap Fang masih setia memegang sendok.

Perlahan, mulut mungil Gempa terbuka. Menerima suapan nasi dari sang kakak kelas. Enak, nasi goreng seafood-nya enak. Apalagi yang nyuapin kak Fang. Gempa mengunyah lembut nasi yang berada di mulutnya. Sedikit tersenyum pada Fang.

Gempa dan Fang mulai tertawa bersama di dalam ruang OSIS. Tak menyadari sosok gadis berambut hitam panjang dikuncir dengan wajah datar dan dinginnya berdiri di depan pintu. Gadis itu menatap bekal di tangannya, lalu kemudian melangkah pergi meninggalkan Fang dan Gempa berdua di dalam ruang OSIS.

"Kurasa pemuda kacamata itu senang bersama Gempa." ucap Halilintar. Lalu matanya menatap datar bekal di tangan kanannya.

.

BUG!

BUG!

BUG!

CTAS!

"Tendanglah pelan-pelan Hali, nanti samsaknya robek." ucap Yaya.

Halilintar yang terlihat masih menendang samsak dengan kencang pun tak menghiraukan ucapan sang kakak kelas. Ia hanya ingin melampiaskan perasaannya sekarang pada samsak tak berdosa di depannya. Yaya tersenyum, gadis berkerudung merah muda itu menghampiri Halilintar. Gadis itu masih setia menendang tak henti-henti.

"HIAAATTTTTT!"

CTASSSS!

Samsak itu robek. Robeknya sangat lebar, Halilintar menatap dingin samsak yang sudah rusak. Ia lalu berjalan menuju tas. Mengambil air mineral lalu meneguknya sampai habis. Ia duduk dan mengelap seluruh keringatnya K dengan handuk berwarna merah. Yaya duduk di samping Halilintar.

"Kamu ada masalah?" tanya Yaya. Halilintar tetap cuek, "Jangan ikut campur urusanku."

Ingatkan sekali lagi. Halilintar bukanlah tipe gadis yang akan terbuka dengan sesama gadis lainnya. Ia cenderung menutup diri dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Yaya memaklumi itu, "Oke, sebaiknya kamu pulang. Sudah pukul enam sore sekarang."

Halilintar hanya diam. Mendengarkan ucapan ketua karate SMA Pulau Rintis dengan diam. Yaya beranjak dari duduknya lalu pergi meninggalkan si Ice Princess sendirian di ruang karate.

Gadis itu kembali meneguk air mineral. Ia menaruh botol ke dalam tas ranselnya. Dirinya mulai termenung. Kembali mengingat kejadian ketika Fang menyuapi Gempa di ruang OSIS.

"Sial, kenapa aku jadi kepikiran." desah Halilintar kesal. Ia kemudian merapikan seluruh barang-barangnya lalu keluar dari ruang karate.

.

Hari sudah mulai gelap. Jam tangan sudah menunjukkan pukul 18.25 sore. Halilintar menatap sunset dari jendela sekolah, "Indah." gumamnya pelan.

"Kenapa masih ada murid di sini? Bukankah ini sudah terlalu sore?"

Halilintar menoleh, melihat sosok pria tinggi yang sedang berdiri tak jauh darinya. Gadis itu terdiam, hanya menatap datar pria itu. "Kenapa kau diam?" tanya pria tersebut.

Malas, Halilintar kemudian berjalan melewati pria tersebut. Namun, tangan kanannya ditahan. "Siapa namamu?"

"Lepaskan." ucap Halilintar dingin.

"Aku Kaizo. Kelas 12-B. Siapa namamu?"

Dengan sekali hentakan, Halilintar melepaskan tautan tangan mereka. Gadis itu berjalan ke depan tanpa menghiraukan Kaizo yang berteriak memanggilnya.

Sebuah kertas terjatuh di lantai. Kaizo segera memungutnya. Lalu membuka isi kertas.

Nama: Halilintar Boboiboy

Kelas: 10-A

Kaizo tersenyum. Lalu kembali menatap ke bawah jendela. Terlihat Halilintar yang sedang berjalan di lapangan sekolah. Pemuda itu menangkup wajahnya dengan tangan kanan, lalu tersenyum, "Nama yang unik. Orangnya juga unik."

.

Halilintar berjalan di trotoar. Kembarannya yang lain sudah pulang terlebih dahulu. Jam tangan sudah menunjukkan pukul 18.45 sore. Gadis itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana olahraga sekolah. Hari sudah mulai gelap. Jalanan juga terlihat sepi.

Tin tin.

Gadis itu menengok ke sebelah kanan, sebuah motor hitam besar berhenti di sampingnya. "Boboiboy? Kenapa kamu masih disini?"

Halilintar menatap datar Fang yang sedang membuka helm. Rambut ravennya sedikit berantakan. Membuat kesan bad boy semakin melekat pada lelaki berstatus Ketua OSIS SMA Pulau Rintis tersebut.

"Baru pulang karate," jawab Halilintar singkat.

"Kuantar kamu pulang." ucap Fang.

"Tidak usah." jawab Halilintar.

Pemuda berkacamata itu menghela napas sejenak, "Hari sudah malam. Tidak baik seorang gadis berjalan sendirian di trotoar."

Pipi Halilintar sedikit merona. Dirinya sedikit gugup ketika menerima perlakuan yang sedikit spesial dari sang kakak kelas, "Aku tidak ingin merepotkanmu."

"Tidak, aku tidak menerima penolakan apa pun. Cepat naik." titah Fang.

"Kau menyuruhku duduk di motor ninjamu itu? Jangan katakan jika kau ingin mengambil kesempatan dariku dengan nge-rem dadakan motormu nanti." ucap Halilintar.

Fang memutar bola matanya malas, "Kenapa kamu selalu berpikiran buruk tentangku?"

"Karena kau pria mesum." jawab Halilintar datar.

Wajah Fang merona. "Soal di loteng itu aku tidak sengaja."

"Tapi tetap saja kau melihatnya."

"S—sudah, cepat naik ke motorku!" ucap Fang sedikit gugup.

Halilintar berjalan mendekati Fang. Lalu menaiki motor ninja itu perlahan. Pemuda berambut ungu itu kembali memakai helmnya lalu menyalakan mesin motor, "Pegang kuat bajuku, aku akan ngebut."

"Cih, dasar mesum." desis Halilintar.

Fang melajukan motornya cepat. Halilintar masih tenang di belakang dengan tangannya yang mencengkram kuat baju Fang.

Tidak ada obrolan apa pun. Mereka hanya diam. Fang sibuk menyetir dan Halilintar sibuk menatap jalanan malam. Udara di malam hari sangat sejuk. Gadis itu menutup matanya rapat, merasakan embusan angin yang menerpa wajahnya.

Motor hitam itu berhenti di depan sebuah rumah tingkat dua. Halilintar turun dari motor besar itu, lalu membungkuk pada Fang, "Terima kasih."

Fang tersenyum, "Tidak masalah. Hati-hati."

"Ck, seharusnya aku yang berkata seperti itu." desis Halilintar. Fang hanya tertawa pelan.

"Baiklah, aku pulang dulu." sang Ketua OSIS pun kembali menyalakan mesin motornya lalu melaju pergi dari halaman rumah Boboiboy bersaudara.

Halilintar menatap kepergian Fang. Seulas senyum terpampang di wajah dinginnya.

"KAK HALIIIIII!"

Suara cempreng Taufan dan Blaze menggema di telinga Halilintar. Gadis berambut panjang itu menatap semua kembarannya yang sudah berhamburan mendekatinya.

"HUWEEEE! KENAPA KAK HALI DIANTAR SAMA KAK FANG?! SEJAK KAPAN KAK HALI AKRAB SAMA KAK FANG?!" Blaze mulai meraung-raung pada Boboiboy tertua.

"KAK HALI CURANG! SUDAH MULAI START DULUAN!" teriak Taufan.

"HAAAA~ TADI KAK FANG TAMPAN SEKALI!" teriak Ice.

Taufan, Blaze, dan Ice mulai berceloteh ria. Pandangan Halilintar tertuju pada kembar ketiga Boboiboy yang masih terdiam menatap dirinya. Gempa.

"Wah, aku tak menyangka jika Kak Hali dekat dengan Kak Fang." ucap Gempa dengan lembut. Seulas senyuman terpatri di wajahnya.

"Hanya kebetulan saja." jawab Halilintar.

Gempa hanya tersenyum pada sang kakak. Lalu kembali masuk ke dalam rumah, "Kalian semua, masuk sekarang." ucap Halilintar datar pada ketiga adiknya yang masih asik berceloteh di depan rumah.

.

Setelah makan malam, para Boboiboy beranjak dari ruang makan dan berjalan memasuki kamar masing-masing. Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Halilintar terbangun dari tidur, mendadak dirinya haus. Gadis berambut panjang itu keluar dari kamar, lalu turun ke dapur.

Tangannya mengambil sebuah gelas dan mengisinya dengan air. Ia meneguk air putih dengan cepat.

"Kak Hali?"

Halilintar menoleh, menatap sang adik yang sedang mengambil air minum. "Gempa? Kau belum tidur?"

"Aku haus." ucap Gempa lalu meneguk habis airnya. Halilintar yang berniat kembali ke dalam kamar pun ditahan, "Aku senang Kak Hali sudah mulai akrab dengan orang lain."

Halilintar menatap bingung kembarannya, "Akrab dengan siapa?"

"Kak Fang. Bukankah kalian sudah akrab? Kak Fang bahkan sampai mengantar kakak pulang." ucap Gempa.

"Tapi sayangnya aku tidak akrab dengannya. Kemarin itu hanya kebetulan." ucap Halilintar

Puk.

"Aku harap Kak Hali bisa akrab dengan Kak Fang." ucap Gempa menepuk pundak Halilintar pelan.

Halilintar menatap datar Gempa, "Bukankah kau dan si mesum itu lebih akrab? Kulihat kau tertawa bersama dan saling menyuapi saat di ruang OSIS."

Gempa mendadak salah tingkah, "T—tidak. Kami hanya teman, kok."

"Tidurlah, sudah larut malam." ucap Halilintar. Gempa pun tersenyum lalu melangkah pergi meninggalkan sang kakak di dapur.

Gempa kembali menoleh ke arah sang Kakak, "Kak Hali?"

"Apa?" tanya Halilintar.

"Apa Kak Hali menyukai Kak Fang?"

.

TBC

Balasan review chapter sebelumnya:

Irinaa27:Wkwk Taufan sama Blaze suka yang frontal-frontal xD /plak. Waahh ternyata suka Fang x Gempa ya hehe okelah. Terima kasih sudah membaca :)

Erumin Smith:Taufan kan udah kayak lem sukanya deket-deket mulu wkwk xD /plak. Wahhh berarti sama kayak saya ya xD heuheu terima kasih sudah membaca :)

SayaTest:Waduh, keenakan si Fang nanti xD /plak. Terima kasih sudah membaca :)

AisuAshy:Haha ya untungnya ini hanya di fanfiksi xD /plak. Hali suka menyendiri di loteng ya jadinya... gitu /plak. Huehue ya sama Gempa dan Hali memang cocok sih, terima kasih sudah membaca :)

Wahyu nur aeni:Fang terlalu tampan sih, jadi bahan rebutan deh:(( /plak. Terima kasih sudah membaca :)

Beasttamer99:Huehue mungkin bakal klepek klepek kalo ketemu Kaizo xD /plak. Terima kasih sudah membaca :)

Shidiq743:Disini Ochobot manusia kok hehe :D umurnya saya bikin 23 tahun disini. Terima kasih sudah membaca :)

Frost the Mischief:Hali malu malu mau kan orangnya wkwk xD /plak. Huhu saya juga suka Fang x Hali. Huehue untuk kedepannya Fang sama siapa nanti masih dirahasiakan, karena saya sendiri masih bingung :v /ditampol. Terima kasih sudah membaca :)

frdaannsa:Wkwk mata Fang sudah ternodai :'v Ice kalo dikelas itu kerjaannya ya tidur. Tapi, dia bakal bangun kalo ada Fang xD /plak. Terima kasih sudah membaca :)

Marjuki:Wkwk diambang keberuntungan :v /plak. Terima kasih sudah membaca :)

206:Hehe sengaja disini saya bikin Boboiboy genderbender. Lagi mood aja bikin GS wkwk. Terima kasih sudah membaca :)

Unfortunate:Hehe justru saya suka Fang x Hali dalam versi cowok. Keren aja gitu apalagi Hali kan yaa... gitu /plak. Oke, terima kasih sudah memberikan pendapat xD

:Muehehehe saya juga suka Fang harem xD huhu mungkin lain waktu saya akan bikin versi yaoi nya—kalau sempet. Terima kasih sudah membaca :)

A/n:

Halo semua~ huehue akhirnya saya mendapat ilham untuk melanjutkan fanfiksi ini xD /dilempar palu. Mungkim saya akan jarang update karena jadwal sekolah padat, tugas numpuk, dan jadwal les yang membuat lelah TvT /pundung dipojokan. Adakah disini yang nonton drama Thailand '2 Moons the Series'? Kalau ada, berarti kita sama xD /plak. N'Yo manis banget sumpah TvT dan P'Pha... dia terlalu tampan x'D /mimisan.

Terima kasih yang sudah memberikan review, follow, dan vote untuk fanfiksi ini :) /bow. Kritik dan saran selalu saya terima :D

-levieren225