Disclaimer: seluruh tokoh bukan milik saya. Tidak mengambil keuntungan apa pun dalam membuat fanfiksi ini. Dibuat hanya untuk senang-senang

Main pair: Fang x fem! All elemental Boboiboy

Selamat membaca...

.

[Pick Me; no one]

—chapter 4: ICE and FANG—

.

"Tidak."

Gempa menatap wajah sang kakak. "Tapi kenapa?"

"Memang semua Boboiboy bersaudara harus menyukainya?" sahut Halilintar. Gadis itu masih meminum air dingin. Membuat suhu tubuh menjadi lebih sejuk.

Sedangkan sang adik masih berdiri. Ucapan sang Kakak memang ada benarnya. "Sebaiknya sekarang kau tidur. Besok masih hari rabu." ucap Halilintar. Lalu meninggalkan sang adik sendirian di dalam dapur yang gelap.

Gempa hanya mengukir senyum di bibir, "Kau selalu seperti itu kak."

.

Seperti biasa, pagi itu kelas menjadi ricuh karena ulah Taufan yang tak bisa diam. Membuat sang wali kelas—Papa Zola ingin segera pensiun menjadi guru. Dan tentu saja Gempa selalu menjadi superhero dadakan untuk kakaknya yang satu itu. Memang dari semua Boboiboy bersaudara, hanya Taufan yang hobi mencari masalah. Entah, padahal ia tak mendapat untung sama sekali.

Halilintar masih menatap keluar jendela. Melihat daun kering bergoyang akibat embusan angin. Menatap langit yang terlihat sedikit gelap—mungkin sebentar lagi akan hujan. Mata merahnya menatap satu objek di tengah lapangan. Melihat punggung lebar milik sosok yang familiar.

"Kak, jika ada guru. Tolong bangunkan aku." ucap Ice, gadis itu lalu menyamankan kepala di atas meja. Memejamkan mata untuk menggapai mimpi indah.

Saudari tertua dari Boboiboy bersaudara hanya menatap punggung sang Adik. Lalu kembali menatap keluar jendela yang sudah terkena rintikan air hujan. Hah, ia suka keadaan seperti ini. Earphone putih masih menancap di kedua telinga. Mendengar musik-musik klasik serta menatap hujan memang menyenangkan.

'Apa Kak Hali menyukai Kak Fang?'

Gadis bermata merah menyala menggelengkan kepala. Menepis perkataan sang Adik semalam. Masa iya dalam sekejap dirinya yang dingin dan angkuh menyukai sang ketua OSIS. Tidak tidak, itu tidak ada dalam kamus besar Halilintar. Dalam sejarah pun tak tercatat jika seorang Halilintar Boboiboy menyukai seseorang dalam sekali tatap. Tangannya menggenggam erat botol minum. Berusaha bersikap tenang.

Blaze dari kejauhan menatap Halilintar. Aneh sekali rasanya jika melihat sang Kakak yang biasanya dingin dan tenang terlihat gusar dan cemas. Penasaran, ia pun menghampiri Halilintar. Menepuk pundak sang Kakak pelan, "Kak Hali."

Spontan, Halilintar melempar botol minum yang digenggam ke depan; mengenai punggung sang adik—Ice yang tengah tertidur nyenyak terguncang. Berteriak keras seakan ada sebuah benda yang membelah tubuh belakangnya. "HUWAA KAK HALI!"

Semua mata tertuju pada tiga kembar di pojok belakang. Halilintar segera mengedarkan tatapan maut—membuat para murid tak berani menatap mereka. Sedangkan Ice masih sibuk mengusap punggungnya.

"Maaf, Ice. Aku tak sengaja." ucap Halilintar.

Ice masih mengusap punggung, dalam hati merutuki kelakuan sang kakak. 'Untung Kakak.'

"Kak Hali kenapa,sih? Aku perhatikan dari tadi kayaknya gusar gitu." ucap Blaze.

Halilintar hanya menyipitkan pandangan. Menatap tajam sang adik yang terkenal senang bersikap gegabah. Yang ditatap pun hanya bisa mengeluarkan keringat dingin.

"Ini juga karena kamu." ucap Halilintar datar. Lalu kembali bersikap biasa.

Bel pelajaran masuk. Ice masih mengeluh; tidak tidak, gadis pemalas itu bukan mengeluh karena punggungnya sakit—tapi karena jadwal tidurnya terbuang sia-sia akibat lemparan dahsyat sang Kakak.

'Tidur siangku..'

.

Bel pulang sekolah berdering. Kelima kembaran Boboiboy berpencar; Halilintar yang mengikuti ekskul karate, Taufan yang dipanggil guru BK, Gempa yang mendatangi acara pertemuan OSIS, Blaze yang mengikuti pelajaran tambahan, dan Ice.. dia pulang—karena tak ada kegiatan apa pun.

Punggungnya sudah tak lagi sakit. Tapi kantuknya sudah di ujung tanduk. Gadis berwajah beler itu menguap selebar-lebarnya; mungkin saja seluruh sekolah bisa masuk ke dalam mulutnya.

Dan ia lupa, jika dirinya masih di lingkungan sekolah.

"Boboiboy?"

Ice menengokkan kepala malas. Masih dengan acara membuka mulut dengan lebar. Matanya melebar ketika tahu siapa yang memanggil dirinya. "K-kak... KAK FANG?!"

Sang ketua OSIS, sang pujaan hati; Fang berjalan dengan gagahnya. Ice tentu saja senang—pada akhirnya, hanya ada dia dan Kak Fang. "Gempa?"

Syiiit.

Sakit, sudah senang, ternyata yang disenangi mencari orang lain.

"Aku Ice, bukan Kak Gempa." ucap Ice lesu.

"B—benarkah?! Oh, maafkan Aku..." Fang merasa bersalah. Ia menggaruk tengkuk dengan wajah gugup.

Ice hanya tersenyum. Wajahnya mengantuk (tapi dia memang mengantuk). "Ya sudah, aku mau pulang dulu."

Wanita itu berjalan sambil mengusap mata.

"Tunggu, Ice!"

Ice diam. Ia kemudian membalikkan badan—melihat Fang yang tengah tersenyum, "Mau kuantar pulang?"

"Ma—eh?! Bukannya Kak Fang ada urusan OSIS? Setahuku tadi Kak Gempa bilang—"

"Jangan banyak bicara, ayo ikut Aku."

Fang menarik tangan Ice lembut. Gadis itu bersemu merah; merasakan banyak bunga sakura bermekaran dengan indah.

'Mimpi apa Aku diajak jalan sama Kak Fang.' batin Ice.

"Kak," panggil Ice.

Yang dipanggil menoleh, "Iya?"

"Tumben sekali mengajakku jalan." Ice menatap Fang dalam. Betapa indah ciptaan Tuhan yang satu ini.

"Hanya ingin. Memang Ice tidak mau?" ucap Fang memasang wajah cemberut.

Duh, gemasnya; batin Ice. "Tentu saja mau! Siapa yang tidak mau diajak jalan sama Kak Fang?"

Fang mulai tertawa renyah, ternyata Ice bisa sebegitu menggemaskan (karena yang Fang pikirkan; Ice begitu menyeramkan ketika tengah bertarung memperebutkan dirinya dari para kembaran yang lain).

"Ice mau pergi ke mana?" tanya Fang.

"Terserah, asal bersama Kak Fang, Aku tak masalah pergi ke mana saja." sahut Ice.

Fang berpikir sejenak. Menatap langit cerah dengan berbalut kacamata ungu. Rambut raven sedikit bergoyang ketika embusan angin menerpa kulit. Lalu ia menyunggingkan senyum, "Ice."

"Ya?"

"Bagaimana kalau kita ke pameran lukisan?"

.

Kalau boleh jujur, sebenarnya Ice lebih senang bergelung dalam selimut tebal.

Kini, dirinya yang—amat sangat pemalas—berkelana dalam sebuah pameran lukisan. Masih mengenakan seragam sekolah, ia menatap beberapa orang yang berlalu-lalang. Ditatapnya lukisan pada dinding putih yang begitu menawan. Dilihat dari figurnya, sudah jelas jika ini lukisan kuno.

Ia suka tempat ini; tak banyak suara yang berisik dan juga dingin dalam ruangan (karena mengenakan AC). Namun tetap saja, kamar adalah tempat paling favorit menurut Ice.

Tapi kini dirinya harus berbangga hati. Karena ia adalah salah satu dari Boboiboy bersaudara yang pertama kali pergi berdua dengan Fang.

Tidak deh, Halilintar pernah diantar pulang oleh Fang.

"Kak Fang suka lukisan?" Ice bertanya.

Fang yang merasa ditanya pun menoleh, memperlihatkan senyum menawan yang tak akan pernah pudar dimakan waktu, "Sebenarnya biasa saja. Cuma, tempat pameran lukisan itu nyaman. Sepi dan dingin. Tak terlalu berisik."

Ice mengangguk. Setuju akan opini yang dikeluarkan Fang. Memang, pameran lukisan sungguh menyenangkan, "Kalau Ice sendiri, suka pameran lukisan?"

Fang bertanya. Ditatapnya lekat sang adik kelas berwajah beler (namun manis dan cantik sesungguhnya). Ice yang ditatap begitu hanya tersenyum malu, "A—ah, iya. Suka sekali,"

'Apalagi Kak Fang yang nemenin ke sini, hehe.'

Dua insan berbeda gender berjalan beriringan. Tertawa ketika menatap lukisan yang mereka anggap lucu. Ice berjalan begitu cepat untuk memperlihatkan beberapa lukisan yang bagus. Fang hanya terkekeh melihatnya, ia mengekori Ice dari belakang dengan dua tangan dimasukkan dalam saku celana.

"Ice, mau beli makanan?" tawar Fang.

Ice menoleh, ia tersenyum menggemaskan, "Boleh."

.

Kini mereka makan di pinggir jalan. Tidak masalah, Ice tidak pernah gengsi makan di mana saja. Ia selalu bersyukur bisa memasukkan sesuap nasi ke dalam perut. Lagi pula, makan mie ayam pilihan Fang tidak buruk.

"Kalau masih lapar, tambah saja." ucap Fang.

Laki-laki berambut landak itu berkata akan mentraktir Ice sebagai ucapan terima kasih sudah ditemani jalan-jalan. Tentu saja Ice tak menolak (sama sekali). Katanya rezeki tidak boleh ditolak, karena belum tentu datang dua kali. Entah kepada siapa ia berguru hingga berpikir seperti itu.

Tapi Fang tak ambil pusing. Justru ia senang dengan sifat Ice yang blak-blakkan, tidak jaim seperti wanita kebanyakan.

"Kak Fang kenapa mie-nya tidak dimakan?" tanya Ice. Ia menatap mie ayam yang masih utuh di dalam mangkok bergambar ayam jago.

Mata Fang berdalih menatap mangkoknya, "Oh, tidak apa-apa."

Ice lantas mengambil mie dalam mangkok Fang, "Buka mulutnya."

Fang tertawa. Ice mirip dengan ibunya (selalu begitu ketika ia susah makan). Tapi ia membuka mulutnya dengan senang hati. Dimasukkannya mie ayam dengan telaten ke dalam mulut, "Terima kasih."

Kalau boleh jujur, jantung Ice sedaritadi sudah loncat-loncat tidak karuan. Oh, kini wajahnya mulai merona. Fang tahu jika Ice sedang malu, dan itu terlihat sangat menggemaskan.

.

"Wah, tak disangka hari ini berjalan begitu cepat." ujar Fang.

Ice hanya mengangguk di sebelah. Ia menyayangkan hari yang berjalan begitu cepat. Kenapa waktu selalu bergilir? Bisakah dihentikan saja untuk saat ini? Ice ingin bersama Fang. Kalau besok belum tentu bisa. Hari ini saja Ice merasa dirinya mendapatkan jackpot karena bisa berduaan bersama Fang.

"Ice, kenapa?" Fang menyadari ada yang aneh dari Ice. Biasanya—gadis itu akan ikut menyahut (ya, walaupun dia memang jarang berbicara).

Ice tersadar dari lamunannya, "Tidak apa-apa. Malam ini dingin ya. Untung saja besok libur."

"Kalau libur, biasanya kamu ngapain?" tanya Fang.

Ice menoleh sejenak, lalu menjawab, "Tidur, makan, buang air besar dan kecil."

Suara Fang mendadak membahana di malam dingin. Ia tertawa mendengar ucapan jujur Ice, "Kamu ini, lucu sekali."

Sekali lagi, Ice dibuat merona.

Dan lagi, Ice merona hebat. Karena Fang melilitkan jaket ungunya pada tubuh Ice, "Masih dingin?" tanya Fang.

"T—TIDAK! M—MAKSUDKU I—IYA! AH, TIDAK!" Ice spontan berteriak ketika Fang bertanya. Wajahnya benar-benar merah.

"Tidak usah teriak, Ice. Aku belum tuli." jawab Fang.

Oh, tolonglah kubur Ice hidup-hidup. Ia sungguh malu sekarang.

"Nah, kita sampai." Fang berucap. Ice menatap rumahnya.

Waktu benar-benar cepat berlalu.

"Tidur yang nyenyak malam ini. Dan jangan terlalu sering tidur, ya." ucap Fang lalu mengusap lembut rambut hitam Ice.

Laki-laki itu pergi. Melambaikan tangan. Menghilang dengan disertai gelapnya malam. Ice hanya dapat membalas lambaian tangan. Jaket ungu masih membungkus tubuh kecilnya. Ia tersenyum.

"Aku suka kamu, Kak Fang."

.

TBC

AN: hai, masih adakah yang menunggu kelanjutan fanfik ini? /g. Hayoo, jadinya Fang suka sama siapa nih? xDD Huhu maafkan jika terlalu lama update ;A; kemarin lagi sibuk UN dan juga baru dapat ilham buat lanjut fanfik ini sekarang ;A; semoga menghibur

Terima kasih sudah membaca: ererigado, Marjuki, Unfortunate, BukalapakMemangCincay, kimmphi95, Irinaa27,