Disclaimer : demi apapun, naruto bukan punya saya, punya masashi sensei, aku hanya pinjam saja.

.

.

Stupid or Kind?

.

(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)

.

Stupid or Kind by author03

Uzumaki Naruto x Hinata Hyuga.

Romance\Drama

.

.

.

Please.. Dont like dont read.. Thanks.

.

.

Chapter 2

.

.

.

"Woiii!"

Deg!

Hinata mengangkat kepalanya dan menatap Naruto senpai yang menatapnya terkejut dan marah.

Glek..

"Na-na-naruto senpai.."

Sumpah niat Hinata hanya membantu. Bukan merusak. Sumpah.

"Sepertinya kau belum pernah ke neraka." Naruto melangkah dengan kesal ke arah Hinata. Akan ia kirim gadis itu ke nereka saat ini juga.

"Aa-a-a" Hinata menjatuhkan semua benda ditangannya dan memungut laptop yang terjatuh barusan.

Membuka laptop itu dan menekan tompol power.

"Me-me-menyala!" teriak Hinata panik sambil mengarahkan layar laptopnya ke arah senpainya yang semakin dekat padanya.

Naruto menghentikan langkahnya dan mengamati layar laptopnya yang menyala. Anggap saja ini keberuntungan gadis itu karena laptop ini tak kenapa-napa.

Naruto merebut laptopnya di tangan Hinata dan mengambil tas ranselnya dilantai. "Brengsek." umpatnya yang langsung melangkah pergi. Persetan dengan kertas-kertas itu. Biarkan saja mereka yang mengurusnya.

"Ma-maafkan saya." teriak Hinata berharap Naruto mendengarnya. Niatnya membantu malah menyusahkan.

.

.

.

.

Besok paginya dimana Hinata telah memasuki kawasan sekolah.

Langkahnya terhenti ketika ia berada ditaman dibelakang sekolah. Akhirnya setelah bertanya sana-sini, seseorang yang ia cari ketemu juga.. Hinata merasa tak enak pada senpainya itu. Ia merasa harus meminta maaf dengan benar.

.

.

...

"Umm, Naruto senpai?"

Nruto masih terbaring ditanah yang dilapisi rumput hijau perlahan membuka kelopak matanya, menatap seorang gadis berdiri disebelahnya. Ini gadis yang menjatuhkan laptopnya itu kan? Mau Apa lagi dia disini?

"Ano, maafkan saya atas kejadian semalam." Hinata membungkuk dalam-dalam petanda ia sangat menyesali kecelakaan itu.

"Sampai mati pun aku tak akan mau memaafkanmu." Naruto membalikkan badannya, membelakangi Hinata, tak berniat melayani gadis itu lebih lama lagi. Ia sedang mengantuk dan pantang diganggu, mengertilah.

"Hah.." Hinata terkejut akan fakta itu. Sungguh Naruto begitu marah padanya?

"Saya sungguh minta maaf. Saya akan melakukan apapun agar senpai memaafkan saya." pujuk Hinata yang membuat Naruto mendudukan dirinya. Hinata sungguh merasa tak enak pada senpai ini.

Naruto menatap tajam Hinata. Padahal dirinya cuma bercanda tapi gadis ini serius sekali tapi ya sudahlah. Sedikit mengerjai gadis ini tak akan bermasalah.

"Aku ingin makan ice cream dialamat xx toko xx tanpa meleleh. sekarang juga."

Jam masih pukul 07.43

Masih sempat.

"Baiklah." tanpa ba-bi-bu lagi Hinata langsung berlari pergi yang cukup membuat Naruto menatapnya terkejut. Apa dia salah mendengar alamat yang Naruto katakan? Tempat itu sangat jauh. Dan mau pergi pakai apa dia? Dan satu lagi. Naruto hanya bercanda, Ia hanya ingin melihat gadis itu mengeluh soal tempat jauh itu dan Naruto akan memarahinya tapi dia?

Demi memenuhi rasa penasaran nya, Naruto pun berlari mengekori Hinata ke gerbang sekolah dan ia melihat Hinata pergi dengan sebuah sepeda. Hah? Sepeda apa itu dan dia sungguh pergi? Gadis itu pasti gila.

.

.

.

.

35 menit kemudian.

"Haah haah~ terima kasih sekali atas sepedanya paman. Maaf jika saya merepotkanmu." Hinata membungkuk hormat pada seorang paman yang telah baik hati mau meminjamkan nya sepeda dan menunggunya disini.

"Tak apa." paman itu pergi dengan sepedanya. Ia memang sedang ada urusan didekat sini tadi dan urusan itu baru selesai beberapa menit lalu.

"Ha? Mengapa terkunci?" Hinata berusaha menggeser pagar besar didepannya tapi pagar itu terkunci. Apa dia sudah terlambat? Bagaimana ini?

?

"Naruto senpai!" panggil Hinata ketika ia melihat Naruto berjalan mendekatinya.

"Dilarang masuk, kau terlambat." ucap Naruto dengan tanpa rasa bersalahnya.

"Dan dimana ice creamku?" tambahnya ketika tak melihat apapun ditangan Hinata.

"Saya tak menemukan toko ice cream disana." jawab Hinata apa adanya. Mungkin toko ice cream itu sudah pindah entah kemana dan ia juga tak tahu ada toko ice cream disana? Tapi ia telah mencari kedua sisi jalan itu tak menemukan apapun.

Naruto terdiam sejenak. Gadis ini memang sungguh bodoh.

"Naruto hanya mengerjaimu." Hinata dan Naruto menatap asal suara.

"Jujurlah Naruto." tambah nya ketika ia berdiri disebelah Naruto.

"Toneri senpai." panggil Hinata.

"Dia saja bodoh langsung pergi." jawab Naruto tak perduli.

"Dia tak bodoh tapi dia bersungguh-sungguh ingin minta maaf padamu." ucap Toneri. Ia mendengar perbincangan Hinata dan Naruto di belakang sekolah tadi.

Ia hendak mengejar dan mengatakannya pada Hinata tapi Hinata melesat dengan cepat. Naruto tega sekali pada gadis baik yang tulus seperti Hinata ini.

"Dia bodoh. Bahkan orang gila pun akan mengeluh ketika disuruh pergi sejauh itu tapi dia malah pergi tanpa mengatakan apa-apa." Naruto bersikeras bahwa gadis itu bodoh.

"Dia tulus. Itu sebabnya dia tak mengeluh dan dia percaya padamu itu sebabnya dia langsung pergi tanpa banyak tanya." jawab Toneri yang masih bertahan dengan senyumnya. Hinata percaya bahwa Naruto serius akan memaafkannya jika dirinya membeli ice-cream itu tapi sayangnya dia malah dikerjai.

"Ano senpai? Saya sudah terlambat. Bisakah tolong buka pagar ini dan biarkan saya masuk?" Hinata menyela perdebatan kecil itu.

Naruto tersenyum dengan manisnya ke arah Hinata. "Tidak." jawabnya yang langsung melangkah pergi. Pagi-pagi gadis itu kembali merusak moodnya. Menjengkelkan.

"Untung saja aku membawa kunci cadangan." Toneri memamerkan kunci yang ia dapat dari sakunya ke Hinata yang cukup membuat Hinata tersenyum lega. Ya ampun. Terima kasih banyak.

"Sudah kuduga dia akan melakukan hal ini ketika aku melihatnya terus berjalan mondar mandir disini." ucap Toneri lucu sambil menggeser gerbang yang baru ia buka. Naruto sungguh tega. Setelah membuat murid baru ini mengayuh jauh, dia malah tak mengizinkannya masuk.

"Segeralah ke lapangan. Semua murid sudah disana."

"Ha'i. Terima kasih banyak senpai." Hinata membungkuk hormat dan berlari pergi. Terima kasih banyak pada senpai yang telah menyelamatkan nya ini.

.

.

.

"Woi! Siapa suruh kalian berbisik-bisik?!" marah Naruto pada beberapa siswa di antara sekumpulan murid yang terduduk berhimpit dilapangan itu.

Dengan cepat Hinata bergabung kedalam manusia-manusia itu agar tak terkena masalah.

"Na, dengan begini semuanya sudah berkumpul. Mari kita mulai acara bercerita kita. Siapa yang ingin bercerita pertama?" Toneri muncul dengan senyum manisnya yang membuat semua murid bernafas sedikit lega. Ini lebih baik dari pada kena marah terus, ditambah beberapa anggota osis lainnya hanya mengamati mereka kena marah tanpa niat membela mereka. Huh! Mengesalkan.

"Tidak tidak. Aku perlu minuman. Kau pergi beli minum untuk semua orang disini." Naruto menunjuk pada seorang gadis bersurai pirang yang terduduk didepan.

"Tapi sensei. Dari sekian banyaknya murid. Mengapa saya?" protesnya pelan dengan mulut bebeknya. Mana bisa dirinya mengangkat minuman sebanyak orang-orang disini dan juga mengapa harus dia?

..

Mata Naruto menelusuri semua murid dan berhenti ke Hinata? Oh mari kita lihat seberapa "tulus" dan apapun semacam itu dirinya.

"Kau Hyuuga. Kemari." Hinata yang merasa terpanggil langsung melangkah menghampiri sang pemanggil.

"Beli minuman untuk semua orang disini. Ini uangnya." Naruto menyodorkan beberapa lembar uang ke Hinata yang ia dapat dari dompet disaku celananya tapi sebelum sempat Hinata menerima uang itu, ia melepaskan pegangannya yang membuat uang itu berhamburan ke lantai.

"Ups. Maaf." bahkan orang bodoh pun tahu senpai itu sengaja. Padahal mereka sudah senang karena akan ditraktir tapi tingkahnya itu membuat mereka kesal.

"Tak apa." Hinata memunggut beberapa uang dilantai dan melangkah pergi menuju kantin di bagian barat.

"Aku akan membantumu. Minuman itu pasti berat."

"Tak apa senpai. Aku bisa." tolak Hinata lembut sambil terus melangkah pergi.

"Tak apa biar aku bantu." Toneri mengekori Hinata tanpa memperdulikan penolakannya. Hinata tak akan sanggup mengangkat banyaknya minuman untuk semua murid disini.

"Waaahh.. Sudah tampan, baik pula."

"Seandainya dia pacarku."

"Hatiku telah tercuri." semua manusia berbisik-bisik kagum. Dia bak malaikat.

"Hoi! Diam!" marah Naruto tak suka akan desas-desus mengenai manusia itu.

Naruto mengembungkan pipinya. Menjengkelkan! Awas saja Naruto akan balas dendam pada gadis dan lelaki itu.

.

.

Beberapa menit kemudian Hinata dan Toneri pun kembali dengan dua kantong nimuman ditangan masing-masing.

Hinata dan Toneri membagikannya pada murid-murid terlebih dahulu.

"Ini Sakura senpai." Hinata menyodorkan sebotol minuman pada gadis bersurai pink dan terakhir Naruto.

"Ini senpai." Naruto merebut kasar minuman itu ketika Hinata menampilkan senyumnya seolah tak ada yang terjadi. Menjengkelkan.

Byurrr..

Bukankah meminum minuman yang baru ia buka, Naruto malah menyiramkan minuman itu pada baju Hinata yang membuat semua orang tersentak kaget.

"Naruto! Mengapa kau begitu?!" marah Sakura terkejut. Mengapa dia lakukan itu?

"Tak sengaja. Maaf!" Naruto menekankan kata maaf karena sangking kesalnya.

"Tak apa senpai. Air putih tak akan lengket." jawab Hinata apa adanya. Lagipula Senpainya mengatakan dia tak sengaja dan dia sudah minta maaf.

Tak puas akan jawaban sialan itu. Naruto merebut kasar minuman bewarna dari tangan Sakura didekatnya dan kembali menyiramkannya ke Hinata yang lagi-lagi membuat semua pasang mata terkejut. Dia sengaja.

"Maaf. Tanganku licin." Naruto kembali menekankan kata-katanya.

"Naruto!" untuk kedua kalinya. Dia keterlaluan.

"Naruto. Mereka ini murid baru. Jangan begitu." tegur Toneri yang terabaikan.

"Tak apa. Saya bisa mencucinya lagipula pakaian cadangan saya hanya disebelah." jawab Hinata dengan santai nya yang kembali membuat darah Naruto mendesir. Gadis ini sungguh menjengkelkan!

"Kyaaaahh! Apa yang kau lakukan senpai?!" pekik seorang siswi terkejut ketika senpai tampannya tiba-tiba menuangkan sisa minuman berwarna tadi ke kepalanya.

"Naruto! Hentikan! Kau keterlaluan!" marah Sakura tapi Naruto lagi-lagi mengabaikannya.

"Aku benci padamu meskipun kau tampan!" gadis yang tersiram tadi beranjak dari tempatnya dan melangkah pergi. Ia perlu membersihkan diri. Senpainya sungguh keterlaluan.

"Lihat itu. Kau harusnya marah! Kau sungguh bodoh membiarkan dirimu terbully!" marah Naruto tak suka. Mengapa dia begitu bodoh?

"Naruto itu bukan bodoh tapi tak mau memperpanjang masalah. Lagipula apa yang akan dia dapatkan jika memperpanjang masalah ini?" sela Toneri. Lelaki itu keterlaluan, dengan tanpa rasa bersalahnya menyirami murid baru bukan satu tapi dua.

"Iya sensei. Dia benar. Kau keterlaluan. Menyirami murid baru yang sudah berbaik hati tak memperpanjang masalah ini. Kami pun tak mau memperpanjang masalah ini makanya kami diam." badan Naruto memanas ketika banyaknya murid baru mulai menyetujui ucapan barusan. Berani sekali.

"Kalau begitu diam lah disini."

Byurr! Byuur!

"Kyaaaahhh!"

"Sensei kau gila!" pekik para murid terkejut dan kesal ketika sensei itu merebut minuman ditangan mereka dan menyirami mereka.

"Hei. Hentikan." Toneri menahan tangan Naruto tapi Naruto langsung mendorongnya dan melanjutkan aksinya.

"Cukup! Kami akan melaporkan mu ke kepsek!" semua murid berdiri, tak sanggup lagi akan siksaan ini.

"Na-naruto-senpai?" Hinata hanya bisa terdiam karena sangking terkejut nya. Mengapa dia dengan gampangnya melakukan hal itu?

...

Naruto melipatkan kedua tangannya ke depan dadanya dan menaikan satu alisnya . "Ohh, kalian tak lupa bahwa masa mos masih berlaku, kan? Kalian yang akan aku laporkan karena telah tak sopan pada kakak kelas." jawab Naruto dengan enteng nya.

"Ta-tapi kau sudah keterlaluan." balas seorang siswi mulai ragu atas rencana melapor tadi.

"Terus apa? Tadi bukankah kalian mengatakan kami juga tak mau memperpanjang masalah? Menjijikan. Omong kosong." Naruto meniru gaya bicara menjijikan siswa tadi.

Deg.

Semua murid dihadapan Naruto terdiam. Mereka baru saja menyetujui omong kosong yang memojokan mereka.

"Apa?! kau mau menantangku? Sini kau." tantang Naruto pada siswa yang melotot padanya.

"Ti-tidak." jawabnya takut sambil mundur selangkah. Mengerikan sekali tatapan itu.

"Sebaiknya kalian semua bubar saja." Toneri tak bisa lagi membiarkan ini lebih lama.

"Hei! Siapa yang berani pergi tanpa izinku?" ucapan Naruto yang berhasil menghentikan langkah kaki para murid.

"Naruto hentikan ini." tegur Toneri. Ketua osis itu sangat keterlaluan, sayangnya ia tak bisa berbuat apa-apa karena sang kepsek telah memberi tanggung jawab penuh murid-murid baru ini pada ketua osis itu.

Aa.. Hal ini tiba-tiba mendatangkan rencana untuk Naruto.

"Kalian semua harus lari keliling lapangan sebanyak dua puluh kali dan aku akan membiarkan kalian pergi." ucapan yang langsung berhasil mendatangkan protes.

"Itu gila."

"Tak mungkin senpai."

"Kami bisa mati." protes semua murid yang masih berdiri dihadapan Naruto. Senpai ini sungguh sengaja menyiksa mereka. Lihatlah luasnya lapangan ini. Mereka tak sanggup.

...

"Baiklah. jika gadis ini mau berlari dua ratus keliling, kalian boleh tak melakukannya." Hinata menatap terkejut ketika Naruto menunjuknya.

Semua mata langsung menatap berharap pada Hinata layaknya mereka sudah tak makan selama tiga hari.

...

Mata Naruto tak lepas dari Hinata. Dia pasti menolak. Bahkan orang bodoh pun tak akan mau. Jadi, jika dia waras dia tak ak

"Baiklah, lagi pula aku sudah lama tak berolahraga. Hehe.." jawab Hinata dengan senyum lucunya yang membuat Naruto menatapnya tak percaya.

"Tidak. Kau tak perlu mendengarkan dia." sela Sakura tak terima. Apa-apaan ketua osis itu?

"Diam Sakura. Kau tak berhak protes." marah Naruto kesal. Perhatiannya terfokus pada Hinata sepenuhnya. Apa gadis itu bodoh? Sungguh dia menerima hal itu demi orang yang bahkan mungkin belum dia kenal?

"Yokkata."

"Terima kasih banyak."

"Hei, siapa namanya?"

"Terima kasih." semua murid bernafas lega. Mereka terselamatkan dari perintah senpai tampan itu.

Dengan tanpa rasa bersalahnya semua murid berhamburan pergi begitu juga dengan Naruto yang sudah kesal tak ketulungan dan Sakura yang hendak memprotes Naruto dan semua anggota osis lainnya kecuali Toneri.

Toneri cukup kagum pada gadis ini. Dia sangat baik hingga mau membantu orang yang mungkin belum dia kenal. Toneri bahkan tak melihat sedikitpun raut penyesalan di wajah manisnya itu.

"Kau sungguh berani." puji Toneri kagum. Ia tak tahu bagaimana cara mengungkapkan rasa kagumnya ini.

"Kau sungguh tak menyesal?" tanya Toneri memastikan. Tak akan ada satupun manusia yang akan rela melakukan hal ini. Lihat saja, tak ada satupun diantara banyaknya murid baru itu menolak bahwa hal ini tak adil. Mereka bahkan dengan mudahnya melangkah pergi tanpa memikirkan beban gadis ini.

"Tidak senpai. Saya senang melakukan nya." jawab Hinata jujur sambil berlari ke arah timur, memulai acara larinya mengelilingi lapangan luas ini.

Toneri mengekori Hinata dan turut berlari disebelahnya. "Kurasa aku tak bisa membantu. Jadi, aku akan ikut lari denganmu dan aku tak mau penolakan." hanya hal tak penting ini yang bisa di tawarkan Toneri.

"Tidak. Senpai sudah membantuku dengan menemaniku." jawab Hinata jujur dengan senyum senangnya. Cukup menyakitkan karena tak ada satu orangpun yang ia bantu mau menemaninya tapi tak apa. Selama mereka senang, Hinata turut senang.

.

.

"Hentikan langkahmu Uzumaki Naruto!" Sakura tak sanggup lagi menahan amarahnya. Manusia ini mengabaikannya yang terus mengekorinya kemana-mana sedari tadi.

"Apa?!" Naruto akhir nya tak tahan akan gadis pengganggu itu pun berhenti berjalan dan membalikkan badannya.

"Kau keterlaluan. Menyiram murid-murid itu dan menyuruh gadis itu berlari. Bukan dua puluh tapi dua ratus keliling. Kau gila!" jelas Sakura tak terima. Bagaimana bisa ada orang sekejam ini disekolah?

"Apa aku memaksanya untuk melakukan hal itu?"

Sakura terdiam.

Naruto memang tak memaksanya tapi tetap saja itu salah.

"Mengapa dia tak membiarkan murid-murid bodoh itu berlari? Mengapa dia sok dan mengambil alih semuanya? Itu karena dia bodoh. Jangan menyalahkan ku." tambah Naruto tak terima. Gadis itu saja bodoh mengapa dirinya menjadi tersalahkan?

"Naruto, dia hanya membantu. Dia tak bodoh. Jangan menilai semua orang bodoh semaumu saja." jawab Sakura tak terima.

"Katakan sejujurnya. Kau mau jika kau disuruh begitu?"

Sakura terdiam lagi.

Dirinya tak akan mau melakukan hal gila itu apalagi tak terpaksa.

"Nah, kau tahu jawabannya. Dia bodoh." Naruto membalikkan badannya dan kembali melangkah pergi.

Tidak. Sakura menolak hal itu.

Dia tak bodoh.

Dia hanya terlalu baik..?

.

.

.

.

"Haah haah!" langkah Hinata terhenti lagi. Ia menyentuh pinggangnya yang terasa hampir tercopot dari tempatnya. Masih 32 kali lagi. Capek sekali.

"Haah haah!" Toneri turut berhenti. Ia membungkuk dengan kedua tangannya menahan dilututnya. Kaki nya terasa hampir copot. Gila. Capek sekali dan juga panas. Nafas mereka tersengal-sengal. Mereka sungguh capek.

Keringat membasahi seragam, badan dan wajah mereka. Wajah mereka berdua memerah karena cahaya matahari dan kepenatan.

"Hah! Lelah.. seka..li." ucap Hinata lelah. Ia bahkan tak bisa merasakan kakinya dan ia bahkan tak tahu ini sudah berapa kalinya ia berhenti. Ia harus segera menyelesaikan acara larinya ini tapi ia sungguh tak sanggup. Tidak! Ia harus sanggup.

.

"Senpai, Senpai tak perlu berlari lagi. Senpai pasti cepek." ucap Hinata beberapa menit kemudian ketika ia sudah lebih tenang. Ia merasa tak enak pada senpainya itu.

"Tidak apa. Aku merasa menjadi lebih sehat dan aku rasa kaki ini bisa membunuh siapapun dengan sekali tendangan." canda Toneri yang membuat Hinata tertawa singkat. Senpai ini sungguh keras kepala. Dia tak mau meninggalkan Hinata tapi hal itu membuat Hinata senang.

Tanpa mereka berdua sadari. Mereka masih saja diperhatikan dari jauh.

.

.

"Cih!" lelaki bersurai kuning itu berdecih kesal. Tambah satu lagi orang bodoh. Harusnya mereka bisa saja berhenti dengan mengatakan sudah melakukan dua ratus kali larian tapi mereka malah terus berlari yang entah sudah berapa puluh kali keliling itu. Mereka memang bodoh. Tapi tunggu? Mengapa juga Toneri ikut berlari dengannya? Oh Naruto lupa. Diakan memang bodoh, sok baik dan tak punya kerjaan. Cih! Menjengkelkan! Apalagi gadis bodoh itu. Sok ingin membantu temannya padahal semua orang itu pergi dengan santai nya. Dia memang bodoh. Mengapa bisa orang bodoh seperti itu masuk ke seolah ini?

Naruto sungguh benci manusia bodoh.

Bus..

Seekor makhluk kecil berwarna putih suci muncul dan melayang di dekat pundak kanan Naruto yang membuat Naruto menoleh ke arahnya.

"Dia tak bodoh tapi dia berusaha membantu, membuat orang lain senang."

Bus..

Seekor makhluk berwarna merah darah muncul dan melayang didekat pundak kiri Naruto yang membuat Naruto menoleh ke arahnya.

"Dia hanya mencari perhatian. Bahkan orang bodoh pun tak akan pernah mau melakukan hal itu. Dia memang bodoh bukannya baik."

"Dia gadis yang baik. Meskipun dia tak sempurna, dia berusaha menjadi orang yang berguna. Kau tahu hal itu." Naruto kembali menoleh ke kanan dan kembali menoleh ke kiri lagi.

"Dia mengira semua orang akan bersimpati padanya ketika dia melakukan itu tapi siapa sangka tak ada satu orang pun yang perduli kecuali lelaki perak bodoh itu."

"Mungkin dia memang kecewa ketika tak ada seorang pun yang dia tolong perduli padanya tapi itu bukan berarti dia menyesal melakukannya. Buktinya dia masih terlihat tak mengeluh sedikitpun, kan?"

"Itu hanya kebetulan karena si perak bodoh itu bersamanya. Dan lagipula mana ada manusia bodoh yang membiarkan dirinya disiram?" aguramen masih berlangsung dan Naruto masih setia mendengar aguramen itu.

"Hal itu sudah terjadi. Meskipun dia marah hingga langit jatuh pun waktu tak akan kembali berputar dan dia tak ingin memperjangan masalah, itu sebabnya dia diam. Dia punya banyak alasan untuk tak marah. Salah satunya lelaki ini sudah minta maaf."

"Bahkan orang gila pun akan menghajar orang yang membullynya. Gadis itu memang bodoh membiarkan dirinya terbully."

"Jika kau waras mengapa kau harus melakukan hal seperti orang tak waras? Dan itu bukan disebut pembullyan tapi lelaki itu hanya mengerjainya. Apa gunanya marah jika masalah akan bertambah panjang?"

"Dan juga baik itu bukan dari apa yang kau lakukan maupun terlihat tapi baik itu adalah apa yang kau rasakan. Perasaan tulus untuk membantu tanpa mengharapkan imbalan meskipun bantuan itu tak dihargai."

Kening merah itu mengerut, tak suka pada ucapan sok pintar itu. "Pukul dia, wahai temanku! Kita buktikan bahwa malaikat pun akan marah jika diperlakukan begitu." tanpa basa-basi Naruto menepis kasar makhluk putih itu yang menyebabkannya melayang jauh.

"Aaaaa!"

.

.

"Na, temanku. Mari kita bekerja sama dan buktikan bahwa dia gadis bodoh bukannya baik." tangan merah kecil itu terulur yang langsung disambut oleh tangan besar Naruto.

"Dia bodoh. Aku setuju denganmu."

Bus..

Makhluk merah itu tiba-tiba menghilang.

.

.

.

.

"Ittai.." Hinata menghentikan langkahnya ketika satu tangannya berhasil menempel di dinding di sebelah kirinya untuk menahan berat tubuhnya. Kakinya terasa sangat penat dan sakit hingga hampir membuatnya menangis. Sungguh sakit dan penat. Bagaimana caranya naik ke lantai tiga jika begini?

"Haha.. Sepertinya kakimu juga terasa sakit." tawa Toneri lucu ketika ia menghentikan langkahnya didekat Hinata, tak lupa dengan menyeret kakinya yang rasanya tak jauh beda dari penderitaan kaki Hinata.

"Hik." Hinata menahan tawanya. Berbagi sukacita bersama. Rasanya menyenangkan dan menyakitkan disatu sisi. Setidaknya ia tahu ia tak sendiri.

"Maafkan saya senpai." ucap Hinata menyesal. Ia telah menyebabkan senpai ini menderita.

"Harusnya aku berterima kasih padamu karena membuatku merasa sehat hari ini." Hinata kembali menahan tawa atas ucapan itu. Apa dia sungguh-sungguh tulus melakukan semua ini? Dia bahkan menemani Hinata berlari hingga akhir. Sungguh dia begini tulus?

Braackk..

"Aw!"

"Ittai!" Toneri dan Hinata tersungkur ketanah ketika seseorang tiba-tiba melewati mereka dengan menyenggol kuat lengan mereka yang membuat mereka tersungkur ke lantai karena kaki lemah mereka.

"Ups, maaf." ucap sang penabrak berambut kuning itu mengejek.

"Hik." Hinata menahan tawanya begitu juga dengan Toneri. Kaki mereka terasa sakit, penat tapi disatu sisi terasa lucu. Kaki mereka itu menggelitik perut mereka dan membuat mereka merasa geli.

"Haha.." tawa mulai terdengar dari mulut Toneri dan membuat sang penabrak yang ternyata Naruto menatapnya heran dan aneh.

" ." bibir mungil Hinata mulai mengeluarkan tawa. Rasanya lucu sekali.

Kini mereka mengerti apa itu saling berbagi sukacita. Perasaan yang tak pernah mereka rasakan selama ini.

.

"hik."

"Hahaha.."

Naruto hanya bisa menggeleng pada dua manusia yang terus tertawa kecil tanpa saling menatap itu.

Mereka bukan hanya bodoh tapi juga gila..

.

.

.

.

To be continue..

.

Yo.. Baguslah jika kalian suka..

Moga makin bagus dan moga suka.

Bye bye..