Disclaimer : demi apapun, naruto bukan punya saya, punya masashi sensei, aku hanya pinjam saja.
.
.
Stupid or Kind?
.
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
.
Stupid or Kind by author03
Uzumaki Naruto x Hinata Hyuga.
Romance\Drama
.
.
.
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 3
.
.
.
"Aahaha.. Aw kakiku."
"Hik."
"Woi! Hentikan. Kalian sudah bodoh, jangan gila lagi. Sudah tahu sakit malah tertawa. Dasar sinting." marah Naruto yang sudah tak tahan akan acara tertawa ditambah desisan sakit itu.
Kedua manusia yang termarah itu langsung terdiam dan menatap Naruto.
...
"Naruto, tolong bantu kami berdiri." Toneri meminta tolong dan langsung membuat dahi Naruto berkerut. Berani sekali dia memerintah. Dia kira dia siapa?
"Hmm.. Senpai, saya juga. Tiba-tiba saja saya rasa kaki saya semakin sakit." tambah Hinata berharap. Sangking sakitnya, ia rasa kaki itu tak lagi bisa dipakai.
"Tak akan pernah." mengabaikan dua bodoh itu, Naruto melangkah pergi tapi langkahnya berhenti ketika Hinata memanggilnya.
"Senpai. Tolonglah. Kali ini saya sungguh memerlukan bantuan." bujuk Hinata memelas. Ia sungguh tak bisa berdiri.
"Senpai." panggil Hinata lembut, berharap lelaki itu mau menolongnya setidaknya bantu ia berdiri.
"Senpai, Kumohon.."
"Aisshh! Menjengkelkan!" Mau tak mau Naruto membalikkan badannya dan menghampiri Hinata.
"Aaw!" desis Hinata sakit ketika Naruto menarik paksa dirinya untuk bangkit dan berdiri.
"Terima kasih banyak." teriak Hinata pada Naruto yang langsung melangkah pergi tanpa sepatah katapun.
"Senpai ulurkan tanganmu." satu tangan Hinata terulur ke arah Toneri sedangkan satunya lagi menempel di dinding untuk menahan dirinya agar tak tumbang.
.
Tap tap tap.
Lagi-lagi langkah Naruto terhenti. Daripada dia khawatir pada manusia itu, bukankah sebaiknya dia khawatir pada dirinya sendiri? dan bahkan orang bodoh pun tahu bagaimana mungkin tangan mungil itu bisa menarik lelaki itu untuk berdiri? Bodoh si bodoh tapi sungguh tak ketulungan ini membuat Naruto kesal.
Naruto membalik arah, menghampiri dua makhluk bodoh itu.
"Aa!"
"Ittai!" desis Toneri sakit ketika bokongnya yang sudah terangkat 5cm kembali terjatuh kerena Naruto tiba-tiba muncul dan memisahkan tangannya dengan tangan Hinata.
Naruto mengambil paksa ransel di punggung Toneri dan menuangkan isinya ke kepala Toneri.
"Naruto-senpai!" pekik Hinata terkejut.
"Jangan bergerak." perintah Naruto ketika Hinata mendekatinya sambil menyeret kaki pincangnya itu.
"Hei. Apa yang kau lakukan?" tanya Toneri terkejut ketika Naruto mendorong nya yang membuat dirinya terbaring sempurna dilantai.
"Naruto ini tak lucu." tambah Toneri. Asal tahu saja, pagi ini ia harus bekerja sangat ekstra karena kakinya yang sakit ini. Ia bahkan harus menjatuhkan dirinya dari atas ranjang agar bisa berdiri tapi kini ia malah terbaring dilantai, bagaimana caranya berdiri?
"Toneri senpai." Hinata mengulurkan tangannya niat membantu tapi Naruto malah menepis tangannya itu.
Grep.
"Lepaskan saya, senpai." Hinata memberontak ketika Naruto tiba-tiba mengendongnya ala bridel style dan membawanya pergi.
"Diam." perintah Naruto kesal. Jika ia tak memisahkan dua manusia ini. Gadis bodoh ini pasti akan menolong lelaki itu dan sia-sia saja niatnya untuk membuat lelaki bodoh itu menrerita. Sedikit info, Naruto satu kamar dengan Toneri dan kalian tahu apa yang ia saksikan tadi pagi.
"Aa.. Naruto!" panggil Toneri susah payah. Ia bahkan tak bisa mengangkat kepalanya karena sakit seluruh kakinya. Setiap kali ia bergerak meskipun sangat lembut, kaki sakit nya pasti langsung merespon. Bagaimana caranya berdiri jika begini?
"Tolong! Siapapun."
.
.
.
.
.
Tap.
Tak terasa Naruto malah sudah berada dilantai tiga.
Ia menurunkan Hinata ke bawah dan mendelik tajam padanya.
...
Hinata menatap ke tangga. Ia ingin turun dan menolong Toneri tapi sepertinya murid-murid lain akan menolongnya, kan? Hinata sungguh harus minta maaf padanya nanti. Ia sungguh merasa tak enak.
"Terima kasih senpai." Hinata membungkuk hormat pada Naruto yang langsung membuatnya menatap aneh dan bingung Hinata.
"Terima kasih untuk apa?" tanya Naruto tak mengerti.
"Mengantar saya kesini." jawab Hinata lucu dan membuat Naruto menatap ke sekitarnya. Benar? Mengapa ia mengendong Hinata hingga kesini?
"A-aku hei! Aku tak bermaksud membantumu!" jawab Naruto tak terima. Mengapa dia malah membantu gadis ini?
"Saya tahu senpai pasti tak sadar tapi yang jelas terima kasih banyak." senyum di bibir Hinata semakin lebar. Bukan megejek tapi ia sungguh senang. Tunggu? Hinata memang selalu senang, kan? bahkan ketika ia masuk ke selokan, ia juga tersenyum.
Tak terima akan kebahagian Hinata. Naruto kambali mengendong Hinata ala bridel style dan membawanya turun.
"Sen-senpa"
"Jangan berani bicara."
.
.
Ketika tiba diluar sekolah, jauh dari kelas Hinata, Naruto pun menurunkannya.
"Nah, aku akan senang mendengar ucapan terima kasihmu." ucap Naruto mengejek dengan senyum manis hingga mata menyipitnya. Sekarang mari kita lihat apakah senyuman masih bisa berada di bibir mungil itu lagi atau tidak.
"Terima kasih." Ucap Hinata tulus dengan senyum manis hingga mata menyipitnya. "Karena telah membawaku berkeliling. Terkadang saya merasa bosan dikelas." tambah Hinata yang langsung membuat mata Naruto melebar, jantungnya berhenti berdetak. Apa-apaan ini? Mengapa gadis ini masih bisa memasang senyum itu?
Lagi-lagi Naruto tak terima jawaban sialan itu pun kembali mengendong Hinata pergi dan kali ini ke kelasnya. Dia bilang bosan di kelas, kan? Oh kali ini senyum itu tak akan hadir lagi.
.
.
!
Semua murid di dalam kelas hanya bisa menahan rasa terkejut mereka ketika mereka melihat senpai galak kemarin mengendong murid yang pernah dia sirami ke tempat duduk nya! Mengapa? Bagimana bisa?
.
"Hah! Hah!" Naruto mengatur nafasnya. Capek sekali.
"Sekarang masih hah! bisa kah kau senyum? Hah!" tanya Naruto ngos-ngosan. Cepek sekali. Mengapa tangga itu banyak sekali?
"Terima kasih telah mengantarku ke kelas." ucap Hinata dengan polosnya ditambah senyum manisnya yang langsung menyulut amarah Naruto. Gadis ini sungguh gila.
"Mengapa kau masih bisa senyum begitu? Bukankah kau bilang kau bosan disini?!" Naruto menaikan satu oktaf suaranya yang langsung membuat semua manusia didalam kelas berlari keluar. Mengerikan sekali. Apa yang terjadi diantara mereka?
"Memang bosan disini tapi saya bisa melakukan sesuatu untuk menghilangkan rasa bosan itu dan lagipula kaki saya sangat sakit. Daripada saya berjalan lagi, lebih baik terduduk dan menunggu disini, bukan?" jawab Hinata masih bertahan dengan senyumnya. Ia bisa mengambar, belajar atau apapun untuk menghilangkan rasa bosan itu dan kini ia sudah terduduk manis dibangkunya. Ia tak perlu lagi menyeret kakinya, bukankah itu hal bagus?
Naruto mendudukan dirinya ke kursi di depan Hinata untuk menormalkan kaki penatnya. "Apa kau sadar aku tengah berusaha membuatmu putus asa? Kau menjengkelkan." marah Naruto tak terima. Apapun yang ia lakukan tetap tak menghilangkan senyum di wajah itu dan itu membuatnya kesal.
"Mengapa saya harus putus asa?" tanya Hinata tak mengerti. Ia senang karena senpai baik hati mengantarkannya kesini meskipun dia tak berniat begitu.
"Jangan kemana-mana." Naruto berlari keluar entah dengan tujuan apa. Hal ini sungguh tak bisa dibiarkan.
.
.
"Senpai? Mengapa kau membawaku kesini?" tanya seorang siswi cemberut. senpai tampan itu tiba-tiba menyeretnya dan membawanya jauh dari kelas.
"Apa yang kau pikirkan saat ini?" tanya Naruto sambil menyembunyikan rasa capeknya.
"Kau harus mengembalikan ku ke bangku ku karena aku malas berjalan. Mengapa juga kau harus membawaku berkeliling?" ucapnya kesal. Ia akan terus melihat sekolah ini tiga tahun kedepan. Jadi untuk apa ia harus melihatnya ekstra?
"Kau kira kau anak anjing?! Bahkan anjingku kembali sendiri ke kandangnya! Menyebalkan! Pergi kau!" marah Naruto tak terima akan perintah siswi sialan itu. Berani sekali dia.
.
.
"Hah! Hah!" Hinata menatap Naruto yang baru saja mendudukan dirinya ke bangku didepannya dengan keadaan ngos-ngosan. Kemana dia?
"Ini senpai." Naruto yang menatap langit-langit melirik kearah botol minuman yang Hinata sodorkan. Mungkin itu minuman milik dia. Terserah.
"Mengapa kau bisa dengan santainya tersenyum ketika aku membawamu jauh dari kelas yang akan menyebabkanmu harus berjalan dengan menyeret kaki sakit mu itu?" tanya Naruto cepat ketika tangannya menepis sodorkan air Hinata. Ia butuh jawaban. Ia tak habis pikir. Bahkan gadis yang kakinya sehat itu tak mau berjalan tapi mengapa gadis ini bisa begitu senangnya?
"Meskipun sakit, kaki ini masih bisa berjalan. Cepat atau lambat saya akan sampai lagi ke kelas ini, jadi mengapa saya harus mengeluh dan lagipula saya sudah dikelas, mengapa hal itu masih perlu dipikiran?" ucap Hinata apa adanya.
"Harusnya kau marah karena seseorang sengaja menyiksamu." jawab Naruto tak terima. Ia merasa dirinya yang tersiksa disini.
"Senpai tak menyiksa ku. Senpai telah membawaku berkeliling tanpa membiarkanku berjalan dan kini senpai mengantarku ke bangku ini, meskipun senpai tak berniat begitu, senpai tetap sudah membantuku." balas Hinata yang masih bertahan dengan senyumnya.
"Oh jadi kau senang diatas penderitaanku?" tanya Naruto tak senang. Gadis ini telah menyiksanya dan masih berani tersenyum begitu manis.
"Itu salah senpai karena melihatnya dari sisi yang buruk. Daripada senpai memikirkan hal buruk bukankah lebih baik senpai berpikir bahwa itu adalah olahraga yang menyehatkan?" jawab Hinata apa adanya.
Oh, Naruto tahu. Gadis ini tengah positif thinking, itu yang membuat dia tak marah dengan niat Naruto untuk menyiksanya. Gadis ini memang gila. Ini kali kedua Naruto bertemu manusia bodoh seperti ini. Sudah bodoh, gila, sinting lagi. Memang menjengkelkan tapi tenang saja karena Naruto akan menghilangkan positif thinking itu segera! Dicatat dan digaris bawahi.
"Kau bodoh." Naruto tak kuasa tak mengucapkan kalimat ini.
"Saya tak bodoh, senpai. Buktinya saya bisa masuk ke sekolah ini." jawab Hinata jujur tapi terdengar bodoh oleh Naruto.
"Terserah. Besok pagi jam lima, kau harus berada di luar sekolah apapun alasannya." perintah Naruto tak ingin penolakan.
"Baiklah, sebagai ucapan terima kasih atas kebaikan senpai pagi ini." jawab Hinata dengan senyum manisnya yang langsung membuat Naruto merasa ingin mencekik nya. Naruto bahkan tak mengangap itu sebuah kebaikan tapi gadis ini malah menganggapnya begitu. Sungguh menjengkelkan! Mengapa ada manusia sebodoh ini?
.
.
.
Besok paginya dan disinilah Hinata sekarang sesuai janjinya pada Naruto.
Memakai celana pendek berwarna putih dan kaos hitam ditambah kain tipis lavender membungkus badan hingga pinggang nya.
"Hoaamm.." Hinata menguap. Ngantuk sekali. Ia lupa bertanya mengapa Naruto menyuruhnya kesini.
"Hei. Kau bilang ingin berterima kasih padaku, kan? Kalau begitu aku ingin makan mie ramen yang dijual di jalan zz saat ini juga." Naruto muncul dan diikuti dengan perintahnya.
Hinata menoleh ke sebelah, ke Naruto tepatnya. "Apa senpai mau mengerjaiku lagi?" tanya Hinata memastikan. Ia tak mau pergi sia-sia lagi.
"Dan senpai. Sekolah ini melarang semua murid keluar di jam segini." tambah Hinata teringat. Ia bida dihukum kalau ketahuan.
"Layaknya itu urusanku." jawab Naruto tak perduli sambil membuka gerbang sekolah dengan pelan agar tak ketahuan.
"Cepat lari." perintah Naruto pada Hinata.
Hinata mengganguk malas dan berjalan keluar. Kalau tahu disuruh pergi, ia akan memakai pakaian yang panjang. Pagi ini terasa dingin sekali tapi terima kasih sekali karena pagi ini kakinya tak lagi begitu sakit, jadi tak akan masalah berjalan.
...
Naruto melirik punggung Hinata menjauh darinya. Apakah baik-baik saja membiarkan seorang gadis setengah mengantuk pergi ketempat itu? Meskipun tak seberapa jauh tapi tempat itu bisa dibilang sering menjadi tempat nongkrong para lelaki.
"Itu salahnya. Siapa suruh dia menyetujuinya begitu saja?"
...
.
.
.
"Hai cantik.."
"Sendirian saja?" Hinata yang tengah berjalan hanya tersenyum tipis pada beberapa lelaki dipinggir jalan yang ia lewati. Ia rasa ia tengah berjalan dalam keadaan setengah tidur.
.
.
Naruto kembali bersembunyi dibalik dinding ketika ia melihat Hinata melewati beberapa lelaki yang lagi menongkrong, mungkin?
Sepertinya bukan rencana yang baik membiarkannya pergi sendiri. Bagaimana jika dia diculik? Naruto bisa terkena masalah karena hal itu. Dan mengapa juga dia dengan bodohnya pergi?
Deg!
Mata Naruto melebar ketika ia melihat dua orang lelaki tadi berlari ke arah Hinata.
"Hoi!" dengan cepat Naruto berlari ke arah Hinata. Mau apa dua orang itu?
.
.
"Kyaahh!" Hinata terpekik kaget ketika dua orang tiba-tiba mengangkat lengannya hingga kakinya tak menyentuh tanah dan mengayunkannya ke depan melewati sampah plastik?
"Pagi-pagi kok sudah melamun si?" tanya lelaki itu lucu ketika ia meletakkan kembali kaki Hinata ke lantai.
"Waa.. Terima kasih banyak." jawab Hinata yang masih setengah loading. Ia terlalu mengantuk hingga tak menyadari bisa saja terjatuh karena terpeleset.
Lelaki itu tersenyum. Gadis ini sungguh ramah. Tak salah sekali menolongnya.
"Haaaaaawas!" rem kaki Naruto tak bekerja karena lariannya terlalu cepat yang membuatnya tak sengaja menginjak sebuah sampah plastik dan meleset kedepan.
Bracckk
"Aaaw!" Hinata tersentak kaget ketika senpainya tiba-tiba muncul dan menabrak seorang lelaki yang baru saja menolongnya dan langsung membuat mereka tersungkur kelantai.
"Aaa! Mengapa sial sekali?!" Naruto berdiri dan melirik bajunya yang basah karena terkena sisa minuman entah punya siapa.
"Menjijikan." Naruto bahkan tak berani menyentuh baju didekat dadanya itu.
"Senpai. Senpai tak apa-apa?" tanya Hinata khawatir.
"Hoi! Kalau jalan tu pakai mata!" marah lelaki yang tak terima karena tertabrak.
"Apa?! Kau mau kelahi?" Naruto membungsungkan dadanya. Pagi-pagi darahnya sudah naik, bahkan mataharipun belum naik. Menjengkelkan sekali.
"Apa?!" lelaki yang tertantang itu turut membungsungkan dadanya. Lelaki ini sok sekali.
"Senpai. Ano. Maafkan kami." Hinata berusaha meleraikan tatapan tajam itu.
...
"Saya mohon. Maafkan dia." Hinata memohon. Ia sungguh tak ingin pulang bersama senpainya yang mungkin babak belur.
...
Lelaki tadi berpikir sejenak. Ya baiklah. Ia tak tega melihat gadis itu memohon.
Lelaki tadi pun memilih membalikkan badannya dan melangkah menghampiri temannya sedangkan Naruto terus saja menatapnya tak terima.
"Senpai. Pakaian senpai basah." Hinata menanggalkan kain yang melapis pakaiannya dan menempelkannya ke badan depan Naruto.
"Senpai, jangan terus menatap mereka seperti itu." Hinata berusaha meleraikan tatapan yang tak kunjung hilang itu.
"Saya juga baru ingat. Mengapa senpai disini?" tanya Hinata teringat. Apakah senpai ini mengikutinya kesini?
"Kau terlalu lama, jadi aku menyusul." bohong Naruto cepat. Mana mungkin Naruto bilang ia mengikuti gadis ini.
"Maafkan saya tapi toko ramen itu sudah dekat. Tunggulah sebentar biar saya kesana." Hinata hendak melangkah pergi tapi Naruto malah menahan pergelangan tangannya.
"Hei berhenti!" Teriak Naruto pada bis yang hampir melewati nya. Selera makannya langsung bilang.
"Senpai? Bagaimana dengan ramennya?" tanya Hinata ketika Naruto menariknya masuk kedalam bis.
"Selera makanku hilang." jawab Naruto kesal sambil mendudukan dirinya ke bangku dekat pintu dan Hinata langsung duduk disebelah Naruto.
"Maafkan saya, senpai." ucap Hinata menyesal. Pasti Naruto tak mau menunggu karena jalannya terlalu lambat. Hinata tak bisa berlari karena kakinya masih tak bisa melakukan nya.
...
Naruto tak menjawab. Sejujurnya ia kesal karena kejadian memalukan tadi yang untungnya terlupakan. Plastik sialan yang membuatnya terpeleset dan pemikiran soal Hinata hendak diculik. Huh! Menjengkelkan.
.
.
Bis kembali berhenti dan kembali masuk sekelompok orang yang langsung memenuhi bis kecil yang dinaiki Hinata dan Naruto yang kembali menyulut emosi Naruto tapi masih bisa ia sembunyikan.
.
...
"Kakek? Kakek duduk disini saja." Hinata berdiri dan menawari bangku untuk kakek yang tengah berdiri didepannya ketika tak ada satupun manusia yang mau menawarkan kursi.
"Te-terima kasih." Tangan Hinata mengengam lembut tangan keriput itu dan membantunya duduk.
...
Mata Naruto melirik kesal ke arah Hinata yang terlihat bersusah payah mengapai pegangan di atasnya. Dasar pendek.
Tak punya pilihan lain. Tangan Hinata pun memegang besi panjang disebalah bangku Naruto atau didekat pintu bis.
"Maaf senpai." ucap Hinata lucu pada Naruto dibangku. Maaf karena menyempit disini.
...
Naruto menatap Hinata berdiri tepat didepannya entah dengan tatapan apa. Mengapa dia masih bisa tersenyum setulus itu? Sungguh gadis yang aneh.
Bis kembali berhenti dan masuk lagi beberapa manusia yang semakin memenuhi bis. Ya Ampun. Apakah mereka tak lihat disini sudah penuh?
Naruto berdiri dari posisi duduknya dan mengapai pegangan dibelakang Hinata sambil membuang wajahnya ketika Hinata menatapnya. Ia tak punya pilihan.
"Terima kasih." seorang ibu dengan anak digendongannya terduduk dibangku yang di duduk Naruto tadi.
Hinata tersenyum dan sedikit memundurkan dirinya ketika seorang lelaki tua berdiri didepannya dan memegang pegangan besi yang sama dengannya.
Satu menit berlalu..
.
Dua menit berlalu..
"Woi! Berdiri! Apa kau tak lihat orang tua disini?" marah Naruto pada lelaki muda yang terduduk dibagian kanannya yang cukup mengagetkan semua manusia didalam bis.
Lelaki yang merasa diajak bicara menatap ke Naruto dengan tatapan bingung.
"Berdiri kau brengsek! Apa kau tak baca kertas itu, hah?! Utamakan orang tua!" tambah Naruto tak suka. Apa dia buta tak melihat orang tua disini? Menjengkelkan sekali. Sekalian buang saja mata tak berguna itu.
Entah karena terkejut atau takut, lelaki muda itu pun berdiri tanpa sepatah katapun ataupun mau menatap Naruto.
Tapi, tapi sesuatu yang cukup mengesalkan Naruto adalah lelaki tua yang hendak Naruto bantu malah turun dari bis. Astaga.. Sia-sia sekali usahanya.
Hinata hanya bisa menahan tawanya atas usaha sia-sia ini. Ya ampun.. Setidaknya dia sudah berusaha.
...
Hinata membalikkan badannya menatap Naruto dibelakang nya dengan senyuman lucunya. "Saya baru tahu senpai orang yang perduli." ucap Hinata hampir tak percaya bahwa Naruto akan membantu mencari sebuah bangku untuk lelaki tua tadi. Biasakan kerjaannya hanya menyiksa murid?
"Tidak! Aku aku tak. Diamlah!" Naruto terdiam setelah bentakkannya. Mengapa ia melakukan hal tadi? Entahlah ia sungguh tak sadar. Sumpah. Ia tak berniat melakukan hal itu.
Ceeettttt..
"Aaa." bis direm mendadak yang langsung membuat Hinata tersungkur kebelakang. Satu tangannya tak sengaja menarik baju Naruto yang membuat Naruto tak sadar melingkarkan tangan ke punggungnya, menahan agar badan Hinata tak tumbang.
Deg.
Rasa sakit ditelapak tangan Naruto karena menarik kuat pegangan diatas seketika terlupakan ketika matanya bertemu dengan mata Hinata dalam jarak beberapa cm.
Cantik.. Dia sangat cantik.. Meskipun ada sedikit bodohnya.
Eh?
Sadar akan apa yang ia lakukan. Naruto pun menjauhkan dirinya dari Hinata.
Blusshh..
Hinata langsung memalingkan wajahnya yang memerah. Sangat tampan meskipun terlihat sedikit kejahatan.
.
.
.
Akhirnya matahari pun kembali menampakkan dirinya, jam sudah menunjuk pukul 07.37
"Hei! Hinata!" panggil seorang gadis bersurai ungu ketika ia melihat gadis bersurai indigo itu hendak menaiki tangga.
"Ada apa Yugao-san?" tanya Hinata yang merasa terpanggil sambil menghampiri sang pemangil.
"Apa kau mau ke kelas?" tanya Yugao dan dibalas anggukan oleh Hinata.
"Bisakah kau bawakan tasku sekalian? Aku malas sekali mau naik ke atas." ucapnya sedikit memelas sambil menyodorkan rensel nya ke arah Hinata.
"Baiklah." jawab Hinata sambil menerima rensel Yugao.
"Dan oh cukup panggil aku Yugao saja." ucapnya yang langsung melangkah pergi. Ia harus segera menemui temannya di cafetaria.
.
.
"Naruto senpai?" panggil Hinata terkejut ketika ia membalikkan badannya dan menatap Naruto yang entah sejak kapan disana.
Naruto menggeleng kepalanya sebelum merebut rensel ditangan Hinata.
Bam.
Piang.
Bam.
"Senpai. Jangan melakukan hal itu." pinta Hinata terkejut ketika Naruto menuangkan isi rensel Yugao ke lantai.
"Mengapa kau dengan bodoh menuruti perintahnya?" tanya Naruto tak suka. Gadis ini seenaknya membiarkan dirinya diperintah layaknya pembantu.
"Yugao tak memerintah tapi dia meminta tolong." jawab Hinata apa adanya sambil memungut benda-benda yang keluar dari tas Yugao.
"Dia bahkan tak mengatakan tolong ataupun terima kasih." balas Naruto. Tapi mengapa juga ia harus perduli? Oh, Naruto ingat. Ia kan benci orang bodoh.
Hinata kembali mengangkat rensel Yugao yang telah ia bereskan dan menatap Naruto.
"Mengapa diperlukan? Dia bahkan tak merepotkan saya sama sekali." jawab Hinata apa adanya. Tujuannya sama dengan tujuan tas ini dan juga bahkan tas ini tak berat. Mengapa harus perhitungan sekali? Mengapa harus membesarkan masalah kecil ini?
...
"Senpai, senpai tahu?" Hinata menganti topik pembicaraan dan sedikit memberi jeda yang cukup membuat Naruto penasaran.
"Semenjak kejadian tadi pagi dibis, dimana senpai mencari kursi untuk seorang lelaki tua. Saya jadi tahu, bahwa senpai orang yang baik." sambung Hinata dengan senyum tulusnya.
...
Naruto terdiam sejenak sambil mencerna apa yang Hinata katakan.
"I-itu hanya kebetulan dia tua." jawab Naruto beberapa menit kemudian. Benar juga? Mengapa juga ia perduli? Mengapa ia jadi merasa menjadi seseorang yang lain? Tak seperti biasanya ia perduli pada manusia manapun?
"Apapun alasannya senpai tetap menolongnya meskipun terlambat satu menit." balas Hinata menahan tawanya yang langsung membuat Naruto hampir malu setengah mati. Ia bersumpah tak akan pernah melakukan hal seperti itu lagi.
Tap.
Hinata menangkap tas yang tiba-tiba dilempar Naruto.
"Antarkan tas ku kelas dan hentikan omong kosongmu itu atau aku akan mencincangmu hingga halus." Naruto melangkah pergi dengan wajah datarnya yang kembali berhasil ia pasang. Ini adalah pertama kalinya ia bertanya lebih dari satu pertanyaan tak penting pada seseorang. Tapi apa-apaan perasaan ini? Mengapa dia meminta ingin berbicara dengan gadis ini lebih lama lagi?
"Baiklah senpai." Hinata mengekori Naruto dan mensejajarkan langkahnya dengan Naruto.
.
...
Naruto menoleh ke arah Hinata begitu juga dengan sebaliknya, tanpa menghentikan langkah mereka.
"Kurasa kau bisa menjadi pembantu disekolah ini." ucap Naruto datar yang membuat Hinata tersenyum lucu.
"Membantu tak berarti kita adalah pembantu." jawab Hinata apa adanya. Jika hanya membantu mengantarkan tas seseorang ke kelas adalah pembantu, itu berarti banyak sekali pembantu disekolah ini?
"Itu hanyalah menurut orang bodoh seperti mu." jawab Naruto datar sambil mengalihkan matanya ke depan. Gadis ini terlalu bodoh hingga menganggap sebuah perintah adalah permintaan tolong.
"Lalu bagaimana jika menurut orang pintar seperti senpai?" tanya Hinata penasaran.
"Jika aku? Aku akan memarahinya, menyuruhnya melakukan sendiri, menghajarnya dan menyuruhnya mengantarkan tas ku ke kelas." jawab Naruto yang kembali membuat Hinata terkekeh. Jawaban apaan itu? Apa dia serius? Kejam sekali. Itu bukan pintar tapi berlebihan.
"Senpai tak serius, kan?" tanya Hinata memastikan.
"O tentu saja aku serius. Jika kau berani menolak apa yang aku suruh, aku juga akan menghajarmu." jawab Naruto serius yang langsung membuat Hinata menatapnya horor.
...
"Senpai.." panggil Hinata pelan sambil menghentikan langkahnya dan langsung diikuti Naruto.
Naruto menaikan satu alisnya, bertanya ada apa?
"Apakah Senpai sadar...-
.
.
.
-sadar senpai sedang tersenyum?"
Deg..
Naruto merasakan sudut bibirnya menurun.
A-Apaan ini?
Mengapa ia bisa tak sadar tengah tersenyum?
Hinata tersenyum manis dan lucu untuk menanggapi wajah syok Naruto. Dia tak sadar dia tengah tersenyum. Lucu sekali.
"Senpai memiliki senyum yang manis."
.
.
.
.
To be continue..
.
.
.
.
Uhuk uhuk..
Udh ada rasa rasanya naruto.
