Disclaimer : demi apapun, naruto bukan punya saya, punya masashi sensei, aku hanya pinjam saja.
.
.
Stupid or Kind?
.
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
.
Stupid or Kind by author03
Uzumaki Naruto x Hinata Hyuga.
Romance\Drama
.
.
.
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 4
.
.
.
"Naruto-senpai tak tersenyum. Mata saya rabun."
"Naruto-senpai tak tersenyum. Mata saya rabun." perkataan yang terus saja terulang di bibir mungil peach itu sedari tadi.
Kedua tangannya setia menjewer kedua daun telinganya. Satu kakinya sedikit terangkat.
"Yang kuat. Kau dengar itu Hinata!" marah sang pemerintah tak senang. Suara cicit itu bahkan tak sampai ke telinganya yang hanya berjarak tak setengah meter darinya bagaimana bisa orang lain tahu bahwa dia rabun?
"Naruto-senpai tak tersenyum! Mata saya salah." suara Hinata meninggikan dan kembali menelan suaranya. Bibirnya terkadang memanjang. Mengapa cuma karena dia tersenyum, Hinata dihukum? Di tengah-tengah lapangan pula. Apakah tak bisa dikelas saja? Ah, Biarkan saja. Anggap saja ini, menjemur matahari pagi yang menyehatkan, meskipun tempatnya berpijak kini masih tertutup bayangan gedung karena matahari tak begitu tinggi.
"Naruto, ada apa ini?" pertanyaan penasaran dari seorang gadis bersurai pink yang entah berasal dari mana.
"Jangan dekat dengannya Sakura." Naruto menarik Sakura menjauh dari Hinata ketika dia semakin mendekati Hinata di hadapannya.
"Ada apa?" tanya Sakura tak mengerti. Mengapa Naruto terlihat takut sekali?
"Aku tersenyum tanpa sadar karena didekat dia." jawab Naruto dengan tatapan super duper horor yang langsung membuat Sakura terdiam, mencerna soal apa yang baru saja Naruto katakan.
...
Seemur hidup mengenal Naruto, dia tak pernah sekalipun menampilkan wajah bodoh seperti itu. Apa yang terjadi di antara mereka? Dan apa maksudnya tersenyum?
"Ada apa Hinata?" tanya Sakura ingin penjelasan.
"Ano, saya tak tahu. Kami hanya berbicara dan Naruto senpai tiba-tiba tersenyum ketika mengatakan 'O tentu saja aku serius. Jika kau berani menolak apa yang aku suruh, aku juga akan menghajarmu'" jawab Hinata jujur. Ia bahkan tak tahu mengapa ia harus dijewer dan ditarik kesini hanya karena memuji senyuman itu.
...
Sakura terdiam dan kembali mencerna apa yang terjadi. Entah tak mengerti atau tak mau mempercayai nya. Dari awal ia mengenal Naruto, Naruto bahkan tak pernah akrab dengan siapapun tapi mengapa dia bisa begini dekat dengan siswi baru ini?
"Aku tidak! Bukan kau bilang matamu rabun tadi? Ha?! Jangan asal bicara!" marah Naruto syok dan membuat Sakura menatapnya tanpa ekspresi.
"A. Terserah. Aku tak mau berada didekatmu. Kau sangat berbahaya." Hinata menurunkan kaki dan tangannya ketika Naruto melangkah pergi.
"Sakura senpai, saya juga harus pergi. Kelas akan dimulai sebentar lagi." Hinata membungkuk hormat dan pergi setelah menjawab jawaban "ya." dari senpainya.
...
Sakura menatap datar punggung Hinata dan Naruto secara bergantian. Tak ada yang tahu apa yang tengah ia pikirkan saat ini kecuali dirinya sendiri.
.
.
.
.
.
Teng
Tong
Bel pulang berbunyi. Dimana para murid langsung berhamburan keluar.
Jam sudah menunjuk pukul 12.32, matahari telah naik diatas kepala.
Terlihat Hinata baru saja membereskan tasnya dan keluar dari kelas yang telah kosong itu.
.
.
Langkahnya berhenti didekat pintu kamarnya ketika ia melihat seseorang gadis bersurai ungu didepan pintu kamarnya, tak lupa dengan satu koper besar disebelah nya.
"Mengapa yugao-san disini?" tanya Hinata sambil melangkah menghampiri Yugao.
"Hinata. Biarkan aku tinggal dikamarmu." pinta Yugao to the point dengan bibir manyunnya.
"Apakah boleh? Aku tak keberatan tapi bukankah kita sudah diberi kamar masing-masing?" ucap Hinata memastikan.
"Tak apa. Cukup diam saja. Kau mau kan membiarkan ku satu kamar denganmu?" Yugao memelas yang membuat Hinata berpikir sejenak.
"Baiklah." jawab Hinata dengan senyumnya. Lagipula tak akan ada yang protes. Ini hanya kamar.
.
.
...
"Apa ada yang ingin kau bicarakan, Naruto?" tanya lelaki bersurai perak yang sudah tak tahan akan tatapan menyipit dari manusia di seberang nya.
Naruto yang terduduk diatas ranjang semakin menyipitkan matanya. Menatap entah dengan artian apa teman sekamarnya yang masih sibuk terduduk dan menulis dimeja belajar terletak tak jauh darinya.
"Kau bodoh, Toneri. Tak ada gunanya bertanya padamu." jawab Naruto tak suka.
"Aku dapat juara dua dikelas satu kemarin. Aku tak bodoh." jawab Toneri apa adanya. Apakah dia tak lelah terus mengatakan orang lain bodoh?
"Aku dapat juara satu." balas Naruto dengan bangganya.
"Aku akan mengejarmu tahun ini." jawab Toneri tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku didepannya. Tumben sekali lelaki ini berbicara padanya seperti ini?
"Tidak. Bukan ini yang ingin aku bicarakan." ucap Naruto teringat. Mengapa mereka jadi membahas peringkat?
"Bagaimana caranya membuat orang bodoh sepertimu marah?" tanya Naruto membuka pembicaraan baru. Mungkin ia bisa mendapat sedikit tip dari orang bodoh ini untuk membuat Hinata putus asa? Supaya senyum sialan itu hilang dari bibir mungilnya.
"Apa ini karena Hinata?" tanya Toneri memastikan.
Naruto berpikir sejenak sebelum menjawab. "Yaaaaaa.. Kurasa bisa begitu juga. Dia tersenyum ketika aku menyiksanya. Bukankah itu gila?" Naruto tak kuasa menahan untuk mengatakan apa yang ada di otaknya.
...
Toneri menghentikan laju penannya dan menatap sejenak Naruto. Maksud menyiksanya adalah mengendongnya kesana-kemari? Itu bukan menyiksa menurut Toneri.
"Kau tak akan berhasil membuat senyumannya hilang, tak perduli apapun yang kau lakukan." Toneri kembali melanjutkan acara menulisnya. Ia bisa melihat jelas hal itu dari mata Hinata. Dia tak akan menunjukan wajah lain selain wajah tersenyum kepada siapapun.
"Apa kau sedang meremehkanku?" tanya Naruto tak suka.
"Tidak. Tapi aku mengatakan apa yang aku pikirkan." jawab Toneri apa adanya.
.
.
.
"Haah~" helaan nafas keluar dari mulut Yugao ketika ia mendudukan dirinya ke atas ranjang single bertingkat diseberang ranjang Hinata. Lelah sekali. Akhirnya acara memgemas baju-bajunya selesai. Tepatnya di selesaikan Hinata, Apa yang ia lakukan hanyalah memerintah dan melihat.
Hinata turut duduk ke ranjang single sizenya yang terdapat di seberang ranjang Yugao.
"Kalau boleh saya tahu, mengapa Yugao-san pindah kesini? Apakah ada masalah?" tanya Hinata membuka pembicaraan.
Yugao menatap sejenak Hinata." jangan berbicara begitu kaku padaku dan cukup panggil aku Yugao." ucap Yugao basa-basi.
"Anoo, baiklah. Lalu mengapa Yugao disini?" Hinata kembali pada pertanyaannya. Bukannya ia tak suka Yugao disini tapi ia cukup penasaran mengapa dia tiba-tiba pindah.
"Teman sekamarku itu sangat menjengkelkan. Mereka membuatku kesal, itu mengapa aku pindah." jelasnya singkat.
"Souka.." jawab Hinata mengerti dan tak berani bertanya lebih jauh lagi.
"Hm Hinata sebenarnya aku ingin bercerita. Kau pasti kenal Shion kan? Dia sungguh menjengkelkan. Kami memang baru kenal dan dia terlihat sangat baik tapi ternyata dia itu hanya si jalang tukang pamer." curhat Yugao menahan rasa tak suka nya. Karena si jalang itu, dirinya harus pindah ke sini ya meskipun rasanya tak terlalu buruk tinggal dengan orang ini.
"Kami.. mungkin berteman dulu." ucap Hinata jujur dan ragu.
"Hah?! Sungguh? Lalu mengapa aku tak melihatmu berbicara padanya?" tanya Yugao tak percaya.
"Aku tak tahu kami teman atau bukan. Kami hanya kadang-kadang bersama." jawab Hinata. Jujurnya, mereka hanya bersama Hinata ketika memerlukannya dan Hinata hanya menemani mereka selama yang mereka mau begitu pun sebaliknya, mereka melupakan Hinata ketika tak memerlukannya dan Hinata hanya berpura-pura tak tahu.
"Dia bersamamu pasti hanya karena ada maunya. Si jalang itu hanya berteman dengan orang yang mau dijadikan pembantu olehnya. Cih! Menjijikan." Omel Yugao.
Hinata hanya tersenyum tipis nan singkat. Sebaiknya ia tidak layani pembicaraan buruk tentang seseorang ini.
Pom!
Pom!
Pom!
"Yaampun!" pekik Shion terkejut. Siapa yang mengetuk pintu itu seperti orang gila itu?
"saya akan membukanya." Hinata segera berlari ke arah pintu dan membukanya selebar badan mungil nya.
"A? Naruto senpai, ada apa?" tanya Hinata pada sang pengetuk pintu yang tak lain adalah Naruto senpai.
"Bu kepsek memanggilmu."
.
.
.
"Mengapa kau tak mengatakannya dari awal?" tanya sang wanita bernama Tsunade yang berstatus sebagai kepala sekolah di Sma konoha lelah.
Hinata yang terduduk di kursi di hadapan meja kantor besar menunduk sejenak sebelum kembali menatap sang kepsek yang terduduk di balik meja.
"Ayah sibuk jadi saya tak mau mengganggunya." jawab Hinata jujur.
"Ya ampun, jika saja saya tak membaca kertas ini. Saya tak akan menelepon ayahmu dan menanyakan hal ini. Ternyata benar apa yang saya kira." Tsunade memamerkan beberapa lembar kertas di tangannya dan kembali meletakkannya di atas meja.
"Saya sudah berbicara dengan ayahmu tadi dan saya akan mengurus segalanya. Saya akan memberitahu wali kelasmu besok jadi silahkan kembali ke kamarmu." tambah sang kepsek.
"Ha'i" Hinata menurut. Ia berdiri, membungkuk hormat dan melangkah keluar.
.
.
"Aku tidak menguping." Hinata tersentak terkejut pada manusia yang hampir terjungkir ketika ia membuka pintu kantor kepala sekolah.
"Saya yakin itu." Hinata terkekeh geli akan kelakuan yang tertangkap basah barusan.
"Saya permisi kembali ke kamar Senpai." Hinata membungkuk hormat dan melangkah pergi.
Tapi bukannya pergi, Naruto malah mengekorinya.
"Apa yang kepsek katakan?" tanya nya penasaran.
"Senpai akan tahu besok." jawab Hinata lucu yang membuat Naruto menyipitkan matanya.
"Beri tahu aku." perintah Naruto tak suka akan permaianan rahasia-rahasiaan ini.
"Bes"
Krrriiinnggg..
Ucapan Hinata terhenti kerena deringan ponsel dibalik saku rok nya berdering.
"Sebentar senpai." ucap Hinata setelah meraih ponselnya dan melirik ke arah layarnya.
Ia melangkah beberapa langkah menjauh dari Naruto sebelum menekan tombol hijau di layar.
"Hinata, mengapa kau tak memberitahu ayah soal hal ini?" suara dari seberang sana terdengar sebelum Hinata sempat menyapa.
"Maaf ayah, aku tak mau menggangu ayah. Lagipula itu hanya masalah kecil." jawab Hinata.
"Itu bukan masalah kecil. Ayah merasa seperti melupakanmu."
"Kau memang melakukannya." Hinata membatin kecewa.
Mata Naruto lagi-lagi menyipit ke arah Hinata. Mengapa raut wajahnya berubah begitu?
"Aku bisa mengerti ayah sibuk. Lagipula kan masalahnya sudah selesai." jawab Hinata.
"Aa ayah. Aku tutup dulu teleponnya, aku sedang ada sedikit urusan. Aku akan menelepon nanti malam." tambah Hinata cepat.
"Baiklah." tanpa banyak bertanya, telepon itu di akhiri sepihak.
Hinata menyimpan ponselnya sebelum menatap Naruto.
"Oh, aku baru ingat." Ucap Naruto teringat.
"Ulurkan tanganmu." perintah Naruto sambil merogoh saku celana jeansnya dan menghampiri Hinata.
Tanpa banyak tanya, Hinata menuruti Naruto.
"Diamlah." kepalan tangan Naruto perlahan terbuka di atas telapak tangan Hinata.
"Baaaaaahhh!"
?
Krik krik
Krik krik
Hinata memiringkan kepalanya sambil menatap apa yang baru saja Naruto letakan ke telapak tangannya.
"Mengapa kau tak berteriak?!" Pekik Naruto terkejut. Mengapa dia terlihat santai begitu?
"Sudah saya duga senpai akan mengerjai saya." Hinata tersenyum lucu sebelum menjepit satu helai kumis kecoa palsu di tangannya dan mengangkatnya setinggi wajahnya.
"Saya tak bodoh senpai. Saya bisa membaca rencana itu dari wajah senpai." Naruto masih terdiam akan penjelasan Hinata. Mengapa ia malah merasa ia yang terbodohi disini?
"Kau.." gigi Naruto terkatup erat.
"Berani sekali kau mempermalukanku! Seharusnya kau berteriak ketakutan! Seperti aaaaaaahhh!" marah Naruto menaikan dua oktaf suaranya dan kemudian meniru teriakan takut layaknya cewek ketika melihat kecoa.
"Aa.. Baiklah." jawab Hinata mengerti. "Aaaaaahhh!" Hinata memekik takut tapi terdengar lembut sambil melempar kecoa mainan di tangannya ke lantai. Dengan begini, masalah selesai bukan?
Iya, itu yang ia harapkan tapi siapa sangka senpainya malah semakin melototinya?
"Kau kurang ajar! Aku akan menghancurkanmu!" marah Naruto yang merasa terejek oleh Hinata.
"Kyaahhh! Apa salah saya? Saya telah menuruti apa mau senpai." Hinata berlari pergi karena takut ketika Naruto mengejarnya.
"Kemari kau!"
"Maafkan saya jika saya membuat salah senpai!" ucap Hinata menyesal sambil terus berlari menyusuri tangga menuju kamarnya. Ia bisa dalam masalah besar jika lelaki ini menangkapnya.
Sebaiknya ia kabur dulu dan meminta maaf ketika lelaki ini kembali tenang.
"Hentikan Hyuuga!"
Blammm!
Langkah Naruto terhenti ketika Hinata masuk ke ruangan dengan menutup pintu yang menghempas sempurna ke wajahnya.
"Yaampun!" pekik Hinata syok. Sepertinya pintu kamarnya baru saja menampar wajah senpainya?
Brackkk!
Brackkk!
Bracckkkk!
"Buka Hyuuga! Biarkan aku mencekikmu!" Hinata menjauh dari pintu yang di tendang layaknya orang gila begitu juga dengan knop pintunya yang tak berhenti berputar. Untung saja ia sempat mengunci pintu itu.
"Maaf senpai!" teriak Hinata menyesal. Ini sungguh gawat. Bagaimana ini?
"Ada apa Hinata?"
Hinata membalikkan badannya dan menatap Yugao yang baru saja berbicara padanya.
"Na-Naruto senpai tengah marah-marah diluar karena aku baru saja melukai wajahnya. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Hinata takut.
"Dia berisik sekali. Bawa dia pergi. Jangan mengangguku." ucap Yugao tak suka sambil melangkah kembali ke ranjang single nya.
Glek
Hinata menelan ludahnya sambil terus menatap ke arah pintu di hadapannya. Ia rasa ia tengah keringat dingin. Ia takut senpai itu sungguh mencekiknya.
Tapi mau tak mau, berani tak berani Hinata menghampiri pintu itu dan memutar knop pintu untuk membuka pintu itu.
"Maafkan saya. Saya berjanji akan mengantar tas senpai ke kelas tiap hari!" jelas Hinata cepat sambil memejamkan matanya ketika melihat Naruto dalam keadaan mengangkat kepalan tangannya dan hendak meninjunya.
...
Naruto terdiam sejenak setelah menurunkan tangannya.
Wow
Gadis ini berani sekali membuka pintu ini.
"Baiklah.." jawab Naruto.
Eh?
Mata Hinata terbuka.
Mudah sekali membujuknya.
Tap!
"Kau kira aku akan menjawab itu? Hah?!" Naruto menempelkan kasar tangannya ke ambang pintu tepat di sebelah wajah Hinata.
"Maaf senpai. Saya sungguh tak sengaja. Apa yang harus saya lakukan agar senpai memaafkan saya?" tanya Hinata menyesal. Susah sekali membujuk senpainya ini.
"Lagipula itu hanya masalah kecil. Harusnya senpai melupakan masalah itu dan hidup bahagia." atas bibir Naruto berkedut ketika Hinata kembali berkata. Apa maksudnya itu? Apa di mengira Naruto tak bahagia?
"Apa yang paling kau tak suka?" tanya Naruto.
Hinata punya firasat buruk atas ini.
"Saya tak suka makanan yang tak pedas." bohong Hinata dengan senyum manis hingga mata menyipitnya.
"Souka." Naruto mengangguk mengerti.
"Aku akan ke kelasmu besok jam istirahat " Naruto berlalu pergi setelah ucapan itu.
Hinata berpikir keras. Apa lagi yang di otak lelaki itu?
Apalagi kalau bukan rencana untuk mengerjainya?
.
.
.
Besok paginya.
Tap
Tas hitam mendarat sempurna di tangan Hinata.
"Gadis pintar." ejek sang pelempar tas yang tak lain adalah Naruto.
"Terima kasih." raut wajah Naruto berubah seketika. Itu hinaan bukan pujian, HYUUGA!
"Kau bodoh."
"Terim"
"Hinata! Tangkap tasku."
Brack
"Aww." desis Hinata sakit dan terkejut ketika sesuatu benda tiba-tiba menghantam lengannya.
"Yaampun! Tangkap begitu saja kau tak bisa." omel sang pelempar yang ternyata Yugao ketika ia melihat tasnya terjatuh ke lantai.
"Maaf Yugao." Ucap Hinata menyesal sambil memungut tas Yugao di lantai, dibawah kakinya.
"Hei! Kau pikir kau siapa?! Hanya aku yang boleh memerintah si bodoh ini." Naruto merebut tas Yugao di tangan Hinata dengan kasar.
"Makan tu tas!"
Braacckk!
"Iittai!" pekik Yugao kesakitan ketika tas nya yang di lempar Naruto mendarat dengan mulus dan kasar di wajahnya yang membuatnya terjatuh kelantai.
"Senpai!" panggil Hinata terkejut sambil berlari menghampiri Yugao dan membantunya berdiri.
"Aku tak memaksa jika kau tak mau! Mengapa kau harus menyuruhnya sekasar itu?!" marah Yugao seolah ia adalah korban sambil menepis tangan Hinata di lengannya.
"Maaf Yugao. Saya tak menyuruhnya melakukan itu." ucap Hinata menyesal. senpai itu kan memang begitu tanpa Hinata suruh sekalipun.
"Hinata, kau harus marah padanya. Dia memperlakukanmu seperti pembantunya!" marah Naruto tak terima.
"Aku tidak melakukannya!" bantah Yugao.
Naruto menatap tajam Yugao. Jalang itu!
"Tak apa Senpai, itu hanya tas. Lagipula saya memang mau ke kelas." sela Hinata cepat sebelum perdebatan ini semakin membesar.
"Awas saja kau. Aku akan menggilingmu nanti." Ancam Naruto dengan amarah tertahan yang kemudian melangkah pergi. Mengapa ia malah kesal melihat Hinata membelanya? Oh ia lupa lagi. Ia kan benci pada orang bodoh sepertinya.
"Maaf Yugao." Hinata mengulangi ucapan maafnya.
"Cih! Kau menyebalkan. Antarkan tas ku ke kelas." Yugao berlalu pergi setelah perintah itu.
...
Hinata terdiam sejenak.
Ia bahkan terlalu lelah untuk menghela panjang nafasnya.
.
.
Teng
Tong
Jam telah menujuk pukul 08.12
Pelajaran akan di mulai sebentar lagi.
Semua murid telah terduduk rapi di bangku masing-masing.
Kakashi, guru yang akan mengajar di kelas 2-A memasuki kelasnya.
"Pagi sensei." sapa semua murid kompak.
"Pagi aaa.. Baiklah. Hari ini kita ada siswi baru. Ya bisa dibilang begitu." mulut itu berkata di balik masker hitam.
"Hyuuga. Masuklah." siswi yang merasa terpanggil melirik sejenak sebelum melangkah masuk melewati pintu yang tak tertutup dan berdiri disebelah meja guru.
"Kau!" Pekik Naruto terkejut dan Hinata hanya tersenyum canggung. Ia tak tahu harus bersikap apa. Tapi omong-omong ternyata Sakura senpai dan Toneri senpai juga berada di kelas ini.
Jadi, ini yang dia maksud dengan 'kau akan terkejut?' pikir Naruto mengerti.
"Aa.. Sepertinya kalian sudah saling mengenal?" Ucap Kakashi basa-basi.
"Siapa yang tak mengenal gadis bodoh seperti dia?" ucap Naruto jujur.
"Eer.. Abaikan saja." sela Kakashi malas akan melayani ucapan itu.
"Sedikit info, namanya Hyuuga Hinata dan ada sedikit kesalahan ketika Hinata masuk kesekolah ini. Harusnya ia kelas dua tapi ayahnya salah kira dan memasukkannya ke kelas satu." jelas Kakashi singkat.
"Pasti ayahnya sangat memperhatikannya hingga bisa benar seperti itu." ejek seorang siswi di bangku belakang.
Deg
Hinata hanya tersenyum tipis akan ucapan itu.
"Ya baiklah. Abaikan itu juga. Hyuuga. Silahkan duduk disana."
"Ha'i sensei." Hinata membungkuk hormat dan melangkah menuju bangku di barisan kedua dari belakang di sebelah bangku baris pertama dari timur dan duduk disana.
"Harusnya kau menghajar jalang itu karena telah mengatai ayahmu." bisik siswa yang terduduk di belakang Hinata kesal.
"Naruto senpai, Ayah sering mengatakan pada saya, mengapa harus marah jika ucapan itu tak benar?" jawab Hinata apa adanya. Permasalahan akan semakin panjang jika di layani jadi, sebaiknya ia diam saja.
"Kau bodoh." Naruto menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Tak akan ada yang tahu kebenarannya jika kebenaran itu disembunyikan.
.
.
.
Teng
Tong
Tak terasa beberapa jam telah berlalu.
Bel istirahat baru saja berbunyi dan Naruto telah menarik pergelangan tangan Hinata dan menyeretnya ke kantin.
"Dua mangkuk ramen tanpa pedas." Ucap Naruto dengan senyum senangnya.
Tapi siapa sangka gadis yang ingin ia kerjai turut tersenyum dalam diam.
Sudah Hinata duga. Untung saja ia berbohong waktu itu.
"Maaf senpai karena telah berbohong. Ini hanya untuk melindungi diri, tak lebih." Hinata membatin menyesal.
Hinata duduk di seberang Naruto setelah Naruto mendudukan dirinya di kursi dengan semangkuk ramen di atas meja, tepat didepannya.
"Makan saja. Aku akan menaktirmu." ucap Naruto senang dengan senyum nya.
"Terima kasih senpai." jawab Hinata.
"Selamat makan." tambahnya sambil meraih sepasang sumpit di dekat nya. Meskipun senpai berniat mengerjai, dia tetap saja telah berbaik hati dengan mentraktir Hinata makan siang.
Hinata menyumpit mie ke mulutnya dan melahapnya.
Deg!
Matanya langsung melebar sempurna sebelum alisnya berkerut hebat dan badannya bergetar begitu juga dengan mulut dan lidahnya.
"Bodoh sekali jika kau mengira orang seperti mu bisa membodohiku."
.
.
.
.
To be continue.
.
.
.
.
Maaf sudah lama baru up. Author tiba-tiba blank soal fic ini.
Dan akan ada sedikit perubahan soal ini.
Kalian akan terkejut(mungkin kalau jalan ceritanya tak berubah lagi). Hehe
Moga suka. Moga bagus. Makasih udh tungguin fic ini.
Bye bye
