Disclaimer : demi apapun, naruto bukan punya saya, punya masashi sensei, aku hanya pinjam saja.

.

.

Stupid or Kind?

.

(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)

.

Stupid or Kind by author03

Uzumaki Naruto x Hinata Hyuga.

Romance\Drama

.

.

.

Please.. Dont like dont read.. Thanks.

.

.

Chapter 5

.

.

.

Deg!

Matanya langsung melebar sempurna sebelum alisnya berkerut hebat dan badannya bergetar begitu juga dengan mulut dan lidahnya.

"Bodoh sekali jika kau mengira orang seperti mu bisa membodohiku." ucap Naruto bangga pada raut wajah histeris Hinata.

Hinata masih membeku, ia tak berani mengigit ataupun mengeluarkan mie yang masih berada di dalam mulutnya. Bagaimana ini?

"Telan. Aku bayar mie itu pakai uang bukan daun." paksa Naruto tertarik akan melihat Hinata menelan mie pedas itu.

Badan tegang Hinata melemah seketika. Matanya menatap Naruto seolah mengatakan "aku tak bisa."

Mie ini menyengat lidahnya. Ini sangat pedas. Hinata tak bisa menahannya lebih lama lagi.

"Cepat Hyuuga." Hinata menggeleng kepalanya ketika Naruto memaksanya.

"Jika kau memakannya aku tak akan menganggumu lagi."

Glek

Mie itu langsung di telan seketika tapi yang membuat Naruto membingung heran adalah mengapa wajahnya tak tampak kepedasan lagi?

"Baiklah senpai, senpai berjanji tak akan menganggu saja jika saya memakan mie ini kan?" Tanya Hinata memastikan dengan senyum lucunya.

"Mengapa kau tak kepedasan?" tanya Naruto syok.

"Saya tak pernah mengatakan saya tak bisa makan pedas." Hinata tersenyum manis yang membuat Naruto menatapnya entah terkejut atau marah.

"Lalu ada apa dengan wajahmu dua menit yang lalu?" tanya nya tak percaya. Apa gadis ini baru saja mengerjainya?

"Saya hanya bercanda Senpai. Hehe. Senpai mengerjai saya jadi saya membalasnya. Bukankah adil?" jawab Hinata lucu akan raut wajah terkejut Naruto. Anggap saja ini sebagai bukti bahwa dirinya tak bodoh dengan membiarkan senpai mengerjainya semudah yang dia pikirkan.

"Kalau begitu saya makan dulu Senpai. Sekali lagi terima kasih atas traktirannnya." Hinata kembali meraih sumpit di dekatnya tapi belum sempat sumpitnya mengenai mie ramennya, mangkuk ramen itu malah di tarik pergi.

"Enak sejak. Kau mau makan bayar sendiri." ucap sang penarik ramen yang tak lain adalah Naruto kesal.

"Ta-tapi tadi Se"

"Apa? Aku apa?!" sela Naruto sambil menatap sinis Hinata. Ternyata gadis ini sungguh berbahaya. Bagaimana bisa ia tertipu oleh akting murahan itu?

"Tidak senpai. Kalau begitu saya akan membeli makanan saya sendiri. Terima kasih senpai." ucap Hinata sambil membungkuk hormat.

"Kali ini terima kasih apa lagi?" Naruto sungguh tak mengerti pola pikir orang ini. Dirinya sama sekali tak melakukan apapun tapi dia terus saja berterima kasih bahkan tetap tersenyum ketika tahu Naruto akan megerjainya. Dia memang sudah tak benar. Sungguh membuat Naruto merinding.

"Terima kasih karena telah menghibur saya." Hinata berlari pergi setelah ucapannya itu. Ia bisa dalam bahaya jika tak kabur setelah ucapannya tadi.

Deg!

...

Tap

Perlahan semangkuk ramen di tangan Naruto menurun dan mendarat di meja di depannya.

Mengapa ia merasa hatinya tengah di gelitik banyaknya jari-jari mungil karena senyum mungil itu tadi.

"Hey,, hey.. Sepertinya senpai itu memang sudah gila. Dia tiba-tiba marah dan tersenyum sendiri." Naruto kembali ke dunianya ketika indra pendengarnya menangkap suara dari beberapa gadis yang baru saja melewatinya.

Matanya berpaling dari punggung Hinata dan menatap tajam tiga gadis yang masih menatapnya seolah mengatakannya tak waras.

"Kau benar. Dia"

"Apa?! Kau mau mati?! Pergi sebelum ramen ini mendarat di kepalamu." marah Naruto sambil memamerkan kesal ramennya yang baru saja ia ambil di atas meja yang membuat ketiga gadis tadi berhamburan pergi karena takut.

"Mengerikan."

"Cepat pergi."

Tap

Naruto kembali meletakkan mangkuk ramen tadi ke atas meja dan berpikir keras.

Bagaimana bisa orang bodoh itu berhasil menipu nya?

Sekarang ia malah merasa ia lah yang bodoh disini?

"Aaa Kuso! Aku akan menghajarnya." Naruto melangkah pergi mengekori Hinata dengan menghentak-hentakkan kakinya.

.

.

.

Brackk!

"Aw!"

"Gomenasai!" Hinata langsung membungkuk hormat ketika sadar ia baru saja menabrak seseorang.

"Hei! Kalau jalan itu pakai mata!" marah gadis yang baru saja di tabrak Hinata.

"Sekali lagi maaf." Hinata kembali membungkuk hormat sebelum menatap siapa yang baru saja ia tabrak.

"Hinata?!" panggil sang gadis yang baru saja tertabrak terkejut.

"Shion-san?" panggil Hinata sama terkejut nya.

"Wah, aku baru tahu kau sekolah disini." ucapnya terkejut.

"Iya." jawab Hinata singkat dengan senyum nya.

"Kalau begitu mari kita ke kantin." Shion menarik pergi Hinata tanpa menunggu persetujuannya.

"Aku sering mendengar namamu tapi aku tak menduga itu benaran kau." Shion membuka topik pembicaraan.

"Kudengar kau mendapat kamar sendiri dan hari ini kau naik ke kelas dua?" ucap Shion "tapi tunggu, kau kan memang kelas dua? Lalu mengapa kau bisa kembali ke kelas satu di sekolah ini?" tambahnya aneh.

"Aa iya. Ada sedikit kesalahan saat saya masuk ke sini." jawab Hinata apa adanya.

"Oo, kalau begitu aku akan membeli makanan. Kau ingin makan apa?" ucap Shion ketika tiba di salah satu meja di cafetaria.

"Aa.. Biar saya saja yang beli. Shion-san ingin makan apa?" Hinata menawarkan dirinya untuk masuk ke kerumunan manusia tak jauh darinya.

"Ramen saja." Shion tersenyum sebelum duduk di kursi di sampingnya.

.

.

Beberapa menit kemudian, Hinata pun kembali dengan dua mangkuk ramen di tangannya.

Shion merih semangkuk ramen yang disodorkan Hinata dan mulai melahap nya begitu juga dengan Hinata tapi belum sempat mie itu masuk ke mulut mereka, perhatian mereka telah teralihkan pada lelaki bersurai kuning yang tiba-tiba duduk di kursi diseberang mereka dan merebut semangkuk ramen Shion.

"Naruto-senpai?" Panggil Hinata tekejut.

"Hei! Itu punyaku." marah Shion terkejut.

"Kau membelinya dengan uangmu?" tanya Naruto dan Shion tak menjawab. Ramen itu kan Hinata yang membayarnya.

Hei, jangan meremehkan mata Naruto yang tajam ini. Ia melihat gadis itu membiarkan Hinata membelinya dan bahkan terlihat tak berniat mengembalikan uang Hinata ya meskipun Naruto yakin Hinata tak akan komplain soal hal itu tapi tetap saja Naruto tak terima.

"Beli sendiri sana. Disini tak ada namanya makanan gratis." Naruto menendang kaki kursi Shion guna mengusirnya.

"Senpai, tapi itu milik nya. jika Senpai mau saya bisa membelinya lagi." tawar Hinata cepat.

"Apa kau berteman dengan dia, Hinata? Menjengkelkan sekali temanmu ini." Shion beranjak dari posisi duduknya dengan kesal.

"Dasar tak sopan. Dia satu tahun lebih tua darimu. Panggil dia kakak!" omel Naruto tak suka tapi terabaikan.

"Maaf Shion-san. Saya akan membeli yang baru lagi." Hinata turut berdiri berniat membuat Shion kembali duduk tapi Shion malah melangkah pergi setelah mengatakan. "Menghilang kan mood makan ku saja. Kau makan saja sendiri."

"Shion-san." Hinata berniat mengejar tapi Naruto memaksa menghentikan langkahnya.

"Tadi kau membuatku rugi dua mangkuk ramen. Sekarang duduk dan temani aku makan." ucap Naruto di sela-sela memakan ramennya. Dia terlihat sangat tak perduli soal Shion yang marah.

"Senpai, sampai tak boleh begitu." bukannya Hinata berniat mengurui tapi hal yang Naruto lakukan memanglah tak pantas di lakukan.

"Duduk." perintah Naruto tanpa niat mendengarkan Hinata.

Mau tak mau Hinata pun mendudukan dirinya.

"Dengar Hyuuga." tegas Naruto sambil menghentikan acara makannya.

"Aku sudah membulatkan niatku untuk menghilang kan kebodohan mu." tambahnya seolah ini adalah masalah yang sangat serius.

"Hah?!"

.

.

.

.

Hinata tak mengerti. Ini bukanlah masalah yang serius tapi dia terlihat seperti ini adalah masalah yang besar. Dan harus berapa kali Hinata katakan. Ia tak bodoh.

"Tapi sen"

"Pertama sebelum kau menjadi pintar. Kau harus menjadi jahat." sela Naruto cepat.

"Tap"

"Kedua. Kau harus marah dan menghajar supaya tak ada yang berani membullymu."

"Ta-tapi senpai. Yang membully saya disini hanyalah senpai." jawab Hinata jujur.

"Itu karena kau bodoh!" Naruto menaikan satu oktaf suaranya.

"Senpai, bolehkah saya bertanya?" tanya Hinata ragu.

"Tidak boleh. Tentu saja boleh! Mengapa itu pun harus di tanyakan?" bentak Naruto menyentak Hinata.

"Ketika senpai mengerjai seseorang, apakah seseorang yang terkerjai itu mengatakan senpai orang yang pandai?" tanya Hinata ragu.

"Itu pertanyaan yang bodoh. Ketika aku mengerjai seseorang, itu artinya aku lebih pandai darinya hingga aku berhasil mengerjainya. Jadi secara teknik. Itu adalah pandai." Naruto mengangguk mengerti sementara Hinata membeku tak mengerti. Bagaimana bisa hal itu di bilang pandai?

"Baiklah. Cepat habiskan makananmu dan kita akan melanjutkan pelajaran kita." Naruto kembali melahap ramennya sementara Hinata terus menatapnya tak mengerti.

Pemikiran manusia berbeda-beda. Benar baginya belum berarti benar bagi Hinata. Benar bagi Hinata tak berarti benar baginya. Hinata tak berani banyak protes karena ia sadar hal itu. Ia mencoba mengerti.

.

.

.

.

Teng

Tong

Bel pulang telah berbunyi.

Jam telah menunjuk pukul 13.01 dan lagi-lagi Naruto telah menarik Hinata pergi dan kali ini tujuannya adalah ke belakang sekolah.

"Nah, ini namanya pohon."

"Eeemm?"

Hinata terdiam tak mengerti. Jikalaupun ia memang sangat bodoh, ia tetap tahu benda di hadapannya ini adalah pohon.

"Jadi apa yang harus saya lakukan pada pohon ini?" tanya Hinata beberapa menit kemudian.

"Bayangkan dia adalah orang yang paling kau benci dan hajar dia." Hinata semakin membeku bingung.

"Aa senpai yang pintar? Eee.. Saya rasa senpai akan tahu apa yang terjadi pada tangan saya jika saya memukul benda keras ini, bukan?" ucap Hinata ragu. "Jadi bagaimana bisa seseorang di sebut pandai karena melukai dirinya sendiri?" tambahnya tak mengerti.

"Ini namanya plan B. Karena seseorang tak mau menyakiti seseorang yang ia benci, ia memilih melampiaskan nya pada benda yang tak akan kesakitan." jawab Naruto bijak(menurutnya)

"Menurut saya bukankah lebih baik jika melupakan masalah itu agar seseorang itu tak menyakiti orang lain dan dirinya sendiri?" Hinata menyuarakan pendapatnya.

"Lagipula mengapa seseorang itu harus membenci?" tanya Hinata tak mengerti.

"Tentu saja seseorang akan membenci jika seseorang terus menjailihinya dan menganggu nya dan apapun itu." jawab Naruto.

"Menurut saya membenci seseorang tak membuat orang itu lebih baik dari orang yang menjahili nya."

"Dia membiarkan dirinya dijahili tapi didalam dirinya ia terus membenci, seseorang itu akan lebih buruk dari orang yang membullynya." tambah Hinata.

"Antara dua pilihan. Menghadapi mereka dengan cara lembut atau diam dan melupakannya. Dengan membenci tak membuat hidup seseorang itu lebih bahagia." tambah Hinata lagi yang cukup cukup membangkitkan emosi Naruto.

"Siapa yang mengajarimu begitu? Bagaimana bisa kau membiarkan mereka begitu. Harusnya seseorang itu marah ketika seseorang mengerjai nya. Itu menunjukan bahwa dirinya bukan orang yang bisa di bully." omel Naruto tak suka.

"Selama hal itu belum keterlaluan bukankah lebih baik diam untuk menghindari masalah?" jawab Hinata.

"Sama ketika orang-orang menghinamu di dalam kelas dan memanfaatkanmu dan memerintahmu seenak jidat mereka. Mengapa kau begitu bodoh membiarkan mereka melakukan hal itu padamu? Apa kau tak tahu caranya marah?" Naruto meninggikan suaranya. Ia sungguh tak habis pikir mengapa gadis ini berpikir sepanjang itu. Cukup marah dan masalah selesai tapi dia malah berpikir dari A hingga Z untuk suatu masalah yang harusnya bisa di selesaikan di B.

"Pernahkah kau marah? Bahkan ketika aku membullymu, kau hanya tersenyum dan ketika tadi di kelas mereka tetap mengejek ayahmu, kau hanya diam. Aku tak habis pikir. Mengapa kau begini bodoh."

"Senpai kira saya tak pernah marah?"

Deg!

Naruto membeku ketika Hinata menatapnya tanpa ekspresi tapi terasa menusuk hingga ke lapisan terdalam dadanya meskipun suaranya tetap terdengar lembut dan pelan.

"Apa masalah ketika seseorang berbuat jahat pada kita? Jika kita tetap memikirkan rasa sakit itu secara lagi dan lagi maka orang itu telah berhasil menyakiti kita berkali-kali. Cara yang bagus untuk tak membiarkan diri kita terluka adalah melupakannya."

"Saya diam tak berarti saya tak tahu apa-apa. Saya membiarkan tak berarti saya bodoh. Saya tersenyum tak berarti itu senyuman yang mengatakan saya baik-baik saja." jelas Hinata mengontrol suaranya agar tetap rendah. Mengapa masalah yang bisa selesai dengan mudah harus di saya hq sudah kan begitu?

"Jika senpai merasa itu buruk untuk saya, katakan bagian mana yang membuat saya menderita? Saya baik-baik saja." Hinata mengakhir ucapannya dan Naruto masih terdiam sambil berpikir keras. Benar juga. Dibagian mana yang buruk? Naruto tak pernah melihat gadis ini kesusahan hanya karena kejadian-kejadian kecil itu.

Tapi..

Naruto rasa...

Untuk pertama kalinya...

"Senpai tak mengenal saya. Saya jauh lebih berbahaya dari yang senpai pikirkan karena itulah saya diam."

Ia mengerti...

"Maaf senpai, saya pulang duluan." Hinata melangkah pergi dengan wajah tanpa ekspresinya. Ia tak ingin memikirkan ataupun membahas apa yang tengah hatinya rasakan saat ini. Wajahnya sudah cukup menjelaskan nya.

Bahwa..

"Dia hanyalah lelah pada dunia ini.."

Itu sebabnya dia diam..

Bukan karena dia memaafkan, tapi karena dia terlalu lelah untuk marah.

Dia tersenyum hanya agar dia melupakan rasa bencinya.

Dia tak protes karena dia mengerti bahwa tak akan ada yang mau mengerti dirinya..

Dia hanya lelah..

.

.

.

Ruangan yang gelap karena sudah tak lagi disinari lampu di langit-langit maupun cahaya matahari.

Terlihat seorang gadis bersurai ungu telah tertidur lelap, berbeda dengan seorang gadis bersurai indigo di seberang nya yang masih berfokus berbaring menghadap ke samping dengan ponsel di telinga kirinya.

"Sudah kubilang berhenti menjawab teleponnya." Hinata mengigit jari jempolnya guna mengontrol suaranya agar tetap terdengar pelan.

"Dia terus menelepon. Kami hanya sedikit berbicara." suara dari seberang sana. Terdengar seperti rasa bersalah tapi tetap tak ada penyesalan.

"Ayah, kau tak pernah mengerti. Kau tak percaya padaku."

Tes

Air mata kembali menetes dari sisi mata nya dan berakhir membasahi bantal putihnya.

"Aya"

"Ayah, sudah dulu ya. Aku ingin tidur dulu. Aku harus bangun pagi besok. Aku akan menghubungimu lagi." Hinata mengakhiri sepihak telepon itu dan kembali mengigit ibu jarinya.

Deg

Deg

Dadanya terasa sakit sekali. Ia bahkan tak tahu harus berkata apa. Tak ada satupun orang yang mau mengerti dirinya bahkan ayahnya yang paling ia bela sekalipun tak mempercayainya dan lebih mendengar wanita itu.

Ia terlalu lelah untuk mencoba mengerti lagi.

Tes

.

.

.

.

"Naruto! Apa kau mendengarkanku?!" gadis bersurai pink itu memekik frustasi.

"Bla bla bla." jawab lelaki yang di ajak bicara dengan entengnya. Ia tak perduli pada kerdil di sebelahnya karena ia sedang sibuk mengamati seseorang yang masih belum memasuki gedung besar ini.

"Naruto! Kau bla bla bla. Tugasmu bla bla bla"

Itu dia seseorang yang Naruto tunggu sedari tadi.

"Hinata!"

"Hinata.."

Gadis yang merasa terpanggil menoleh ke asal suara.

"Em? Toneri senpai." panggil Hinata dengan senyumnya ketika ia melihat Toneri tengah melangkah menghampirinya.

.

"Hinata?! Hei. Apa kau mendengarkanku dari tadi? Aku bicara padamu." Sakura mendorong kesal lengan Naruto yang membuat Naruto mendelik tajam padanya.

"Menyentuhku sekali lagi. Aku pastikan akan mematahkan leher kau." peringatan kesal dari Naruto sebelum ia melangkah pergi.

"Naruto!" panggil Sakura frustasi.

.

.

Tap

Langkah Naruto terhenti tepat di tempat dimana ia melihat Hinata tadi tapi dimana gadis itu?

Naruto melirik kesana-kesini tapi tak menemukan Hinata.

"Perasaan tapi dia disini dan melihat ke arahku?" ucapnya aneh.

"Tapi mengapa juga aku mencarinya?" pikir Naruto semakin aneh. Mengapa juga ia mencari gadis itu? Apa yang ingin ia bicarakan?

.

.

.

"Sudah ku bilang jangan memanggilku senpai lagi. Kita di tingkatan yang sama." ucap Toneri lucu.

"Baiklah senpai." mau tak mau Hinata menyetujui pintaan Toneri.

"Kau baru saja memanggilku senpai lagi."

"Ha?! Sungguh? Saya tak menyadarinya." jawab Hinata jujur dengan kekehan lucunya.

"Baiklah. Emm. Toneri-san? Toneri-kun?" tambah Hinata mencoba memanggil Toneri tanpa abal-abal senpai.

"Cukup Toneri." jawab Toneri.

"To-Toneri?..-Rasanya aneh sekali." Hinata terkekeh geli atas lidahnya yang terasa aneh tanpa abal-abal senpai untuk lelaki ini.

"Ya benar sekali. To ne ri." jelas Toneri akan namanya sendiri.

"Ya baiklah. To..Toneri." Hinata tersenyum lucu ke arah Toneri. Rasanya tetap aneh sekali.

Teng

Tong

Bel masuk berbunyi.

Dengan segera Toneri dan Hinata menghadap ke papan tulis. Mengabaikan para murid yang langsung berhamburan masuk entah dari mana.

.

"Selamat pagi semuanya." sapa seorang wanita yang baru saja melangkah masuk ke kelas dengan beberapa buku di tangannya.

"Pagi Anko sensei.."

Dan pelajaran pun di mulai..

.

.

"Hinata?" Hinata sedikit menoleh ke belakang, tepatnya ke siapa yang tengah menyoel punggungnya.

"Ada apa Naruto senpai?" tanya Hinata.

"Hmm.." Naruto terdiam sejenak. Ia tak tahu bagaimana cara berbicara dengan Hinata setelah kejadian semalam.

"Berpura-puralah kejadian itu tak pernah terjadi maka saya juga akan melupakannya." ucap Hinata seolah tahu apa yang Naruto pikirkan. Lagipula itu bukan masalah besar. Mengapa Naruto harus canggung seperti itu?

Naruto menyandarkan dagunya ke dua kepalan tangannya di atas meja ketika Hinata kembali fokus ke papan tulis.

"Bagaimana caranya seseorang bisa mengerti jika seseorang itu terus merahasiakan perasaannya?" ia bertanya dengan pelan. Seumur hidupnya, ini pertama kalinya ia berbicara dengan perasaan.

...

"Saya... Tak tahu." jawab Hinata ragu tanpa mengalihkan wajahnya dari papan tulis. Jika ia tahu bagaimana caranya, ia tak akan bersusah payah menjelaskan seperti semalam agar Naruto bisa mengerti bahwa dirinya tak bodoh seperti yang dia kira.

"Saya sangat membenci ibu saya. Saya memarahinya, membuatnya menangis, membuatnya menjauh dari saya, dari keluarga saya tanpa penyesalan sedikitpun." Hinata tiba-tiba bercerita dengan pelan agar suaranya tak menganggu murid yang lain.

"Tentu saja yang mendengarkan ucapan itu akan mengatakan omong kosong seperti 'betapa salahnya ibumu, kau tak boleh kasar padanya karena dia tetap ibumu' tapi bagaimana jika itu memang salahnya?" Naruto masih cermat mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Hinata dan tentu saja sejahat apapun seorang ibu, dia tetaplah ibu yang melahirkan kita. Mana boleh kita kasar pada mereka?

"Saya bisa mengerti jika itu kesalahan kecil tapi bagaimana jika itu kesalahan besar? Tak ada dari adik atau kakak saya yang perduli begitu pun ayah saya. Mengapa saya tak boleh memberi pelajaran pada ibu saya yang salah yang bahkan tak mau mengakui kesalahannya dan menyalahkan orang lain? Salah tetaplah salah tak perduli dia ibu ataupun ayah saya."

"Saya takut. Saya tak mau dia kembali dan merusak segalanya yang sudah lebih baik kini tapi mengapa semua orang menyalahkan saya yang telah berusaha menjaga keluarga kami?"

Naruto tak tahu kesalahan apa yang Hinata maksud karena Hinata tak menceritakan cerita lengkapnya tapi itu terdengar seperti sungguh bukan masalah kecil..

"Saya tahu saya salah karena kasar padanya tapi apakah saya harus membiarkan kesalahan yang sama terulang lagi? Dia sama sekali tak terlihat bersalah. Saya bisa memaafkannya jika dia mengatakan maaf tapi dia malah menyalahkan orang lain. Saya tak bisa berbaik hati padanya tak perduli apapun." mata Hinata berkedip sekali sebelum kembali menatap papan tulis putih yang kembali di garis oleh spidol hitam.

...

"Mengapa kau menceritakannya padaku?" tanya Naruto beberapa menit kemudian, ia masih bertahan pada posisinya tadi. Mungkin ia akan bertanya lebih jauh lagi nanti karena sepertinya ini bukan waktu yang tepat.

Mata Naruto menatap daun telinga, pipi, sisi mata hingga samping hidung macung Hinata dari tempatnya.

"Itu bukan rahasia." jawab Hinata jujur. Ia hanya sedikit menceritakannya karena Naruto sungguh mendengarkannyaa.

"Apa kau percaya padaku?" tanya Naruto lagi.

"Saya selalu mempercayai semua orang sampai mereka membuktikan sendiri bahwa mereka tak bisa dipercaya." jawab Hinata apa adanya dan jika kalian bertanya saat ini ada berapa orang yang ia percayai dan jawabannya adalah tidak satupun yang bisa ia percayai termaksud ayahnya sendiri ataupun dirinya.

"Dia sangat dingin.." inner Naruto berbicara. Tidak, dia memang memancarkan aura dingin dari pertama kali mereka bertemu tapi senyuman dan tingkah ramah nya berhasil menutupi aura nya itu.

Tapi aura dingin itu bukankah aura yang menunjukan bahwa dia seseorang yang arrogant melainkan menujukan bahwa dia seseorang yang tak perduli bahkan pada dirinya sendiri. Dia hanya menjalani hidupnya tanpa tahu mengapa ia hidup. Naruto jadi tak bisa membayangkan betapa banyak masalah atau betapa beratnya masalah yang di hadapi gadis ini.

"Lalu katakan,, apakah diam-diam kau membenciku?" tanya Naruto sambil mengalihkan matanya dari Hinata. Entah mengapa ia menjadi sangat iba pada gadis ini meskipun ia masih tak tahu banyak tentangnya.

"Tidak." jawab Hinata jujur.

"Kau bohong." balas Naruto tak percaya. Setelah dirinya selalu menggangu gadis itu bagaimana bisa dia tak membencinya?

"Tepatnya saya tak perduli." Hinata mengoreksi ucapannya sendiri.

"Selama saya tak menyakiti siapapun, saya tak perduli pada apapun. Saya tak tahu caranya membenci meskipun saya sangat menginginkannya dan saya tak perduli apapun yang terjadi selama saya masih bisa menahannya." jawab Hinata jujur. Dirinya hanya main jika mereka bermain dengannya. Diam jika mereka diam. Ia tak perduli pada apapun. Tak peduli jika seseorang menyakitinya, tak perduli jika seseorang membencinya selama ia masih bisa menahan perasaan sakit itu dan selama dirinya tak menyakiti siapapun. Terkadang Hinata sungguh merasa dirinya seperti robot. Robot yang hidup tanpa perasaan. Terkadang apapun yang terjadi padanya layaknya angin yang lewat begitu saja. Ia tak perduli. Entah tak berani atau tak bisa lagi perduli.

Dan soal ibunya. Ia memang benar mengatakan ia membenci ibunya. Sejujurnya ia berusaha membencinya dan terus membencinya meskipun ia tak bisa. Yang bisa ia lakukan hanyalah terus berusaha sangat keras agar tak berbaik hati pada ibunya itu agar ibunya sadar bahwa dia sudah sangat bersalah dalam kasus ini tapi apa daya jika dia masih tak merasa bersalah?

"Kurasa sekarang aku sedikit mengerti.." ucap Naruto ragu.

"Tentangmu." tambah innernya. Hinata tak banyak bicara karena tak mau masuk dalam masalah yang akan mungkin akan mendapat perbedaan pendapat. dia tak mau membuat orang tersinggung ataupun sejenisnya karena tak semua orang bisa memaklumi perbedaan pendapat orabg lain dan dia hanya sedikit berjaga jarak supaya tak melukai siapapun dari pikiran, lisan, batin ataupun langsung dari tangannya.

Dia membiarkan dirinya terluka supaya mereka merasa senang.

Hinata tersenyum tipis terhadap ucapan ragu Naruto meskipun terdapat banyak harapan yang tertutupi oleh kekecewaan di balik senyuman tipis itu.

"Kau tak akan mengerti. Tak ada siapapun yang bisa mengerti aku bahkan ayahku sendiri maupun diriku sendiri." inner Hinata berkata.

.

.

.

.

To be continue.

.

.

Sebenarnya ya,, susah bangat membenarkan sesuatu karena pikiran orang itu berbeda beda. Terkadang apa yang kita kira benar, tak berarti benar untuk mereka begitu juga sebaliknya. Bukan karena dari apa tapi memang dasarnya begitu di Pikiran masing2

Terkadang orang terlalu sibuk membenarkan dirinya hingga tak sadar ia berusaha membuat orang lain ikut sepertinya tak perduli dirinya salah ataupun benar.

Hinata hanya Terlalu memikirkan suatu kebenaran ataupun perasaan hingga ke rinci-rincinnya. Dan sambung next chap

Oh dan satu lagi biar kalian gak salah paham. Hanya karena Hinata terasa dingin tak berarti dia tak baik. Karena dia terlihat seperti berpura pura tak berarti dia munafik.

Karena dia mau tak berarti dia melakukannya.

Karena dia berkata begitu, tak berarti dia bermaksud begitu.

Intinya dia baik. Baik langsung dari hatinya bukan perilakunya.

Bye bye.