Disclaimer : demi apapun, naruto bukan punya saya, punya masashi sensei, aku hanya pinjam saja.

.

.

Stupid or Kind?

.

(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)

.

Stupid or Kind by author03

Uzumaki Naruto x Hinata Hyuga.

Romance\Drama

.

.

.

Please.. Dont like dont read.. Thanks.

.

.

Chapter 6

.

.

.

"Hei Hinata!"

Grep

Shion berlari dan merangkul Hinata yang tengah berjalan menelusuri tangga.

"Ada apa, Shion-san?" tanya Hinata sambil terus melangkah sesuai langkah Shion yang merangkulnya.

"Besok hari minggu. Apa kau ada kegiatan?" tanya nya bersemangat.

"Hmm.. Sebenarnya ada." jawab Hinata ragu.

"Yahh.. padahal aku ingin mengajakmu pergi ke mall. Ya. Batalkan acaramu dan temani aku. Ayolah aku mohon.." pujuk Shion dengan mata berbinarnya.

"Hmm.. Ta"

"Hei! Apa kau tak mendengarnya ada acara? Mengapa kau bertanya jika dia tetap harus ikut denganmu?!" raut wajah Shion berubah seratus delapan puluh derajat detik itu itu.

"Naruto senpai.." panggil Hinata pada Naruto yang tiba-tiba muncul dihadapannya lagi. Dia selalu saja muncul setiap pagi di hadapan Hinata dan selalu saja suaranya yang duluan terdengar sebelum anggota tubuhnya muncul. Terkadang ini sungguh terasa lucu untuk Hinata.

"Tak hari ini, tak semalam, tak kemarin. Mengapa kau selalu saja muncul? Apa kau tak bosan mengekori kami terus?" omel Shion frustasi akan lelaki yang berstatus sebagai kakak kelasnya ini.

"Aku menjaga Hinata. Kenapa? Tak boleh?!" Naruto menaikan dagunya guna menantang gadis pirang ini.

"Apa dia pacarmu? Kau kira kau siapa terus muncul dan melarangnya bergaul dengan siapapun? Lagipula dia bukan anak kecil. Mengapa dia harus dijaga?!"

"Bla bla bla. Aku tak mau tahu. Hanya aku yang bisa menyuruh Hinata dan dia hanya bisa mendengarkanku. Pergi sebelum aku menendang bokong ratamu itu." ucap Naruto tak perduli yang membuat Shion melototinya tak suka. Bokongnya bahkan lebih berbentuk dari bokong mu. Kau sialan!

...

Hinata hanya terdiam akan perdebatan kecil itu. Ya, meskipun ia membela salah satu dari mereka, hasil akhirnya adalah Shion akan melangkah pergi dengan menahan kesal dan Naruto menatapnya tak suka.

"Kau tunggu aku menyeretmu pergi? Pergi!"

"Menjengkelkan." umpat Shion menahan kesalnya sambil melangkah pergi dengan menghentak-hentakan kakinya sedangkan Naruto menatapnya tak suka.

"Hik" Hinata terkekeh kecil. Benar bukan apa yang ia pikirkan. Kejadian ini terus saja terulang.

"Apa yang kau ketawakan?" Tanya Naruto tak suka dengan mata menyipitnya.

"Tidak, saya hanya senang senpai mau menjaga saya." jawab Hinata jujur.

"Hei! A-aku aku tak bermaksud begitu! Maksudku hanya aku yang boleh memerintahmu dan kau hanya boleh menurutiku!" jawab Naruto cepat.

"Tapi Shion-san tidak memerintah saya. Dia han"

"Bla bla bla. Aku tak mau tahu. Btw besok kau kemana..?" Naruto memelankan suaranya, ingin tahu ketika ia menganti topik pembicaraan.

"Rahasia senpai." jawab Hinata lucu pada tingkah kepo senpainya.

"Ya baiklah. Aku juga tak perduli kau mau kemana dan dengan siapa." ucap Naruto tak mau tahu. bukannya apa-apa. Ia hanya penasaran tempat mana yang bisa dikunjungi gadis ini.

.

.

.

.

09.21

Naruto pov

Hup

Aku menyembunyikan badan seksiku di balik dinding ketika aku melihat targetku tengah melirik kesana-kesini di dekat gerbang sekolah.

Dia terlihat sangat mencurigakan. Kemana dia akan pergi?

Aku segera mengekorinya dari jauh ketika dia bergerak pergi dengan ransel di punggungnya.

.

.

Entah sudah berapa menit dia berjalan dan aku mengendap-endap mengekorinya setelah kami turun dari bis. Dia terus saja melangkah menuju rumah-rumah kecil dipinggir kali yang sungguh terlihat kumuh dan kotor. Untuk apa dia disini? Tempat ini terlihat menjijikan.

!

Aku kembali bersembunyi ketika melihat dia meletakkan sesuatu di lantai tepat di depan pintu kayu itu, mengetuk pintu tanpa cat itu dan berlari pergi.

Karena sangking penasaran. aku pergi menuju pintu itu. Aku melihat sesuatu yang ternyata amplop di sana.

"20. 20 jt!" aku terbengong kaget. Tentu saja! Untuk apa gadis itu meninggalkan 20jt disini?

"Tunggu sebentar." aku langsung berlari setelah meletakkan kembali amplop itu ketika terdengar suara dari balik pintu buruk itu.

Dengan segera aku kembali mengekori Hinata.

Dia melakukan hal yang sama di beberapa pintu dan kini ia malah berakhir di suatu halaman kecil dengan banyaknya anak kecil disana.

Tapi aku masih tak mengerti. Apa yang tengah dia lakukan?

.

.

Naruto pov end

"Nii-san? Nii-san mencari siapa?"

Deg!

Naruto tersentak kaget sebelum menoleh ke asal suara di belakang nya.

"Hei, anak kecil. Apa kau mengenal gadis itu?" tanya nya sambil menujuk Hinata dari jauh.

"Saya mengenalnya. Nee-san itu sedikit aneh." jawab gadis kecil itu yang membuat Naruto menatapnya bangga.

"Kau benar. Dia memang aneh tapi omong-omong mengapa dia aneh?" tanya Naruto tak mengerti.

"Hmm.." gadis kecil itu berpikir sejenak.

"Dulu nee-san sering datang kesini ketika tak ada orang disekitar sini, itu terlihat mencurgikan. Nee-san dan beberapa lelaki sering datang dengan banyak barang-barang seperti televisi, kulkas, pakaian untuk orang-orang daerah sini, nee-san bahkan memberikan kami buku, uang dan pakaian tapi nee-san bilang jangan mengatakan apapun pada siapapun, nee-san meninggalkan barang-barang mahal di depan pintu dan pergi begitu saja." jelas gadis kecil itu bingung.

"Mengapa?" tanya Naruto tak mengerti.

"Saya tak tahu. Nee-san bahkan mengatakan bukan dia yang melakukannya ketika ibu saya tak sengaja memergoki nya."

Naruto mengangguk mengerti. Apa? Ia masih tak mengerti mengapa dia lakukan hal itu?

"Aku akan bertanya padanya." guman Naruto. Ia sungguh sungguh

"A. Hinata-neesan disana. Saya akan membawa nii-san kesana." gadis kecil itu mengengam tangan Naruto dan menyeretnya pergi.

"Hei, tidak. Aku tida"

"Hinata-neesan."

Deg!

"Naruto senpai?!" panggil Hinata terkejut ketika Naruto tiba-tiba muncul di hadapannya dengan seorang gadis kecil.

"Aaa.. Aku aku aa.." Naruto menelan kembali kata-katanya karena tak tahu alasan apa yang cocok untuk menjelaskan situasi ini.

.

.

.

"Jadi mengapa kau lakukan itu? Mengapa kau merahasiakannya." tanya Naruto pada Hinata yang terduduk di sebelahnya.

Mereka kini terduduk di bangku panjang di taman dimana Naruto baru saja menjelaskan apa yang telah ia dengar dari gadis kecil tadi.

"Tidak. Saya hanya.. Takut mereka mengira saya merendahkan mereka." jawab Hinata jujur.

"Mengapa? Bukankah itu bagus membantu orang? Bagaimana jika tiba-tiba seseorang muncul dan mengaku-ngaku bahwa dialah yang telah menolong mereka semua?" tanya Naruto tak terima.

"Saya hanya merasa tak sopan memberikan uang pada orang lain dan siapapun yang mengaku atas uang itu tak masalah asalkan orang yang di beri bisa hidup lebih baik dengan uang itu bukan?" jelas Hinata apa adanya.

"Apa kau mengenal mereka semua?" tanya Naruto lagi.

"Hmm.. Bisa tidak. Bisa iya. Saya hanya bertemu mereka sekali dan sedikit berbicara. Hehe." jawab Hinata jujur. Ia bertemu orang-orang disana sekitar beberapa tahun lalu. Mereka semua orang yang baik. Itu sebabnya Hinata kembali dengan banyak uang untuk mereka. Dulu ia hanya bisa memberikan sedikit barang seperti alat-alat elektronik, buku-buku, makanan dan pakaian.

"Aku baru tahu ternyata kau sangat pandai membuang-buang uang." Naruto menggeleng kepalanya tak percaya. Apa yang ingin ia katakan adalah ia baru tahu ternyata Hinata sangat kaya hingga bisa membagikan uang 20jt di setiap depan pintu kumuh itu.

"Saya bekerja. Uang itu sudah saya kumpulkan dari saya kelas enam." jawab Hinata jujur. Ia bersekolah sambil bekerja sambilan dan dengan tambahan uang setiap bulan dari ayahnya.

"Dan hanya karena saya memberi tak berarti saya kaya. Saya rasa hanya ini yang bisa saya lakukan untuk membantu orang lain." mengapa semua orang berpikir, jika seseorang yang memberikan bantuan adalah orang kaya? Orang tak bercukupan pun bisa memberi jika dia berniat begitu.

"Kau pasti sudah gila." Nasuto masih tak mengerti. Mengapa dia berani membagikan uang-uang itu seolah itu sangat tak berarti? Untuk menyumbangkan satu juta saja semua orang akan berpikir seratus kali tapi gadis ini. Dia pasti sungguh tak waras.

"Saya hanya merasa tak memerlukan uang-uang itu. Jadi biarkan saja, lagipula ayahku akan mengirim uang lagi." ucap Hinata.

...

"Beberapa tahun lalu, saya memberikan 20 juta ke tiga orang tak mampu. Saya meminta mereka mengunakan uang itu untuk sedikit berbisnis atau hidup lebih baik tapi dua dari mereka malah menyia-nyiakan uang itu. Mereka berdua mengira saya akan datang bulan depan dan memberinya lagi hanya karena mereka ramah pada saya." Hinata tersenyum miris. Sejujurnya, ia merasa serba salah. Niatnya ingin membantu malah membuat mereka menjadi semberono. Ia bahkan tak tahu siapa yang salah dalam kasus itu.

"Jadi, saya rasa saya tak akan kembali lagi kesini." tambah Hinata. Karena ia rasa ia sudah cukup membantu.

"Aku tahu. Kau pasti mau bilang kau percaya pada mereka dan jika mereka melakukan kesalahan seperti dua orang itu. Kau tak akan percaya dan membantu mereka lagi." tebak Naruto tepat sasaran.

"Tidak, saya hanya merasa tidak adil terus membantu orang yang sama padahal masih banyak yang memerlukan bantuan diluar sana." Hinata tersenyum lucu. Tapi apa yang Naruto katakan ada benarnya juga. Mereka tak tahu betapa sakitnya jika sebuah kepercayaan di hianati. Hinata percaya pada mereka tapi jika mereka tak melakukan apa yang seharusnya di lakukan, Hinata tak akan perduli lagi pada kehidupan mereka. Bukannya Hinata membenci hanya karena mereka harus tahu bahwa tak semua kesempatan datang dua kali.

"Senpai, berjanjilah senpai tak akan mengatakan pada siapapun soal hal ini." pinta Hinata. Ia sungguh tak mau ada seorangpun manusia bertanya.

...

Naruto masih berpikir. Dia bodoh, karena membiarkan uang itu dipakai tanpa tahu siapa pemberinya. Dan mengapa dia tetap menyalahkan dirinya ketika orang yang dia bantu malah menjadi sembrono? Mengapa dia suka sekali menyalahkan dirinya sendiri? Mengapa dia tak berpikir jika merekalah yang tak tahu berterima kasih dan bodoh? Mengapa gadis ini bisa mempercayai seseorang yang bahkan hanya pernah dia temui sekali? Stock kepercayaannya banyak sekali untuk semua orang?

Tapi sepertinya Naruto bisa menebak mengapa gadis ini mau merahasiakan hal ini.

Pencitraan. Rasa berhutang budi. Rasa berterima kasih, pemikiran orang-orang ataupun berharap.

Rata-rata manusia akan mengangap hal itu hanyalah pencitraan dan itu pastinya akan menyakiti hatinya.

Rasa berhutang budi yang akan membuat mereka ingin membalas budi.

Rasa berterima kasih yang akan membuat mereka terus mengingatnya.

Pemikiran orang-orang dimana yang susah mungkin akan berhenti bekerja keras dan memilih meminta bantuannya sedangkan dimana para orang bercukupan mungkin akan berlomba-lomba membantu dengan tujuan pencitraan.

Dan

Berharap. akan gadis ini akan membantunya lagi yang akan membuat mereka menjadi tak bisa bersyukur, menjadi pemalas dan membuat rasa bersalah di dalam hati nya ini. Ini mengapa dia tak ingin mereka tahu bahwa bantuan itu berasal darinya.

Naruto tersenyum tanpa sadar.

Perlahan, Naruto merasa ia mulai berpikir serumit gadis ini. Apa salahnya jangan memikirkan serumit ini?

Mengapa dia malah memikirkan begitu jauh soal orang yang telah dia tolong? Apakah dia merasa bantuan itu tak cukup? Dia sungguh gadis yang aneh.

Tapi Naruto tak sejutu pada pemikiran Hinata.

Bagaimana jika orang lain turut membantu yang tak bercukupan karena melihat niat baik gadis ini?

Bagaimana jika niat tulus ini di nilai baik oleh orang-orang?

Bukankah bagus membiarkan mereka merasa berhutang budi dan berterima kasih supaya mereka bisa terus bersyukur?

"Baiklah, tapi kau harus menemaniku makan siang." tawar Naruto.

"Kau membuatku hampir mati kelaparan karena mengikuti mu." tambahnya yang membuat Hinata menatapnya lucu dan sedikit terkejut.

"Ternyata Senpai mengikutiku." ucap Hinata lucu, membuat Naruto menatapnya terkejut.

"Hei! Aku aku tidak! Maksudku aku."

"Hik. Baiklah senpai, mari kita pergi makan." Hinata beranjak dari posisi duduknya dan berlari pergi, tak lupa sebuah senyuman dengan memamerkan deretan gigi putih di wajah cantiknya.

.

.

.

.

18.33

Akhirnya setelah makan dan berjalan ke sana-sini.

Naruto dan Hinata pun telah menaiki bis dan baru saja tiba di depan sekolah.

Brack

"Aa.. Maaf." Hinata segera membungkuk hormat pada seorang lelaki yang baru saja ia tabrak dengan tak sengaja ketika hendak turun dari bis.

"Hei! Mengapa kau yang minta maaf? Aku lihat dia yang menabrakmu ketika ingin menaiki bis." Naruto menarik lengan lelaki yang ingin berlalu begitu saja tanpa permintaan maaf.

"Baiklah. Aku minta maaf." ucap lelaki itu tak perduli.

"Tidak. Masih belum. Hinata kau harus marah padanya." perintah Naruto. Ini adalah pelajaran untuk menjadi jahat.

"Hei, aku kan sudah minta maaf." ucap lelaki itu mulai merasa terganggu.

"Saya tidak apa-apa, lagipula itu hanya masalah kecil." ucap Hinata merasa tak enak akan situasi ini.

"Tidak. Kau tak marah, aku tak akan membiarkannya pergi."

"Sudah cukup bercandanya, bisnya akan pergi sebentar lagi." ucap lelaki tadi tak suka. Ia melangkah pergi tapi Naruto malah menghadangnya dan menatapnya tajam seolah akan membunuhnya jika ia bersikeras pergi. Sejujurnya, itu menakutkan tapi ia harus tetap bersikap keren di depan gadis cantik yang tak sengaja ia tabrak barusan

"Baiklah. Cepatlah marah supaya aku bisa pergi." pinta lekaki itu sambil menatap malas Hinata.

"Aa..anoo.." Hinata bersumpah, ia tak tahu apa yang harus ia katakan.

"Ma-marah. Saya marah."

Krik krik

Krik krik

"Baiklah, aku pergi." lelaki tadi membeku beberapa detik sebelum naik ke dalam bis.

... Begitu juga dengan Naruto yang masih membeku.

"Hei! Harusnya kau mengumpat nya bukan mengatakan kau marah! Mengapa kau bodoh sekali?" umpat Naruto kesal. Mana ada orang marah yang mengatakan dia marah?

"Ta-ta"

"Menjawab lagi?! Kalau aku mengatakan sesuatu itu, jangan berani menjawab bla bla bla."

.

Dua menit kemudian.

"Apa kau mendengarku? Mengapa kau diam?!" Naruto mengakhiri omelannya dengan kesal.

"Tapi tadi senpai"

"Hah?! Tapi tapi! Kau ingin menyalahkan ku?! Kau memang harus dihukum." Naruto menjewer daun telinga Hinata dan menyeretnya pergi masuk ke daerah sekolah.

"Senpai. Senpai ingin membawaku kemana?" tanya Hinata terpaksa mengikuti langkah Naruto agar tak menyakiti telinganya yang memang tak sakit oleh jeweran ringan itu.

"Akan aku pikirkan. aku harus mengilingmu dengan mobil atau mengikat mu di tiang bendera?" jawab Naruto terdengar seperti melucu oleh Hinata.

"Sebenarnya saya baru ingat sesuatu ketika senpai mengatakan mobil. Sekolah tak dibenarkan membawa mobil jadi saat ini senpai tak memiliki mobil untuk mengiling aku yang artinya senpai hanya mengancam saja." Hinata terkekeh kecil atas ucapannya sendiri. Ia tiba-tiba teringat akan hal kecil itu. Jadi selama ini senpai hanya mengancamnya. Dia tak benar-benar akan melakukannya. Dia manis sekali.

"Berani sekali kau, Hyuuga! Aku memiliki mobil di rumahku. Aku akan membawamu padanya dan membiarkan dia mengilingmu."

"Hahaha.. Senpai. Wajah senpai memerah."

"Diam kau Hyuuga!"

.

.

.

.


Hmhmhm

Ini aneh.

Aneh sekali,

Sekaligus menakutkan.

Wajah tampan dengan tiga garis di kedua pipi itu tak kunjung berpaling dari Hinata yang telah terduduk disebelahnya beberapa hari lalu.

Jam tengah kosong karena guru tak masuk tapi murid-murid tetap di beri tugas yang hampir saja memecahkan kepala tapi senyum tak kunjung hilang dari bibir mungil itu sedari tadi..

Dia terlihat sangat bahagia.

Apa yang tengah dia pikirkan?

Mata Naruto menyipit. Ia melirik buku di atas meja Hinata yang masih luar biasa kosong tanpa tulisan sedikitpun yang artinya gadis ini belum menyelesaikan tugasnya sama sekali, jadi apa alasan dia terlihat berbahagia begitu?

"Kau sakit?" ucap Naruto ngeri.

Hinata menatap Naruto sebelum tersenyum bahagia. Hinata tak bisa mengontrol senyumnya.

"Maaf senpai." ia kembali tersenyum bahagia dan sumpah, itu sangat membuat Naruto takut.

"Berhenti tersenyum. Kau terlihat mengerikan. Apa yang kau pikirkan?" tanya Naruto menaikan suaranya guna mengkontrol rasa takutnya bahkan semakin takut.

"Saya tak memikirkan apapun, saya hanya tengah mengkhayal." satu tangan Hinata di atas meja menompang berat dagunya.

Matanya menatap lurus ke depan. Baru saja berhenti menciptakan kebahagian, hatinya kembali berdenyut karena mengingat dunia ini.

"Jika tak bisa menemukan kebahagiaan, ciptakanlah kebahagiaan itu sendiri." Hinata berguman.

"Saya tak tahu bagaimana caranya tersenyum jika mengingat banyaknya masalah saya, jadi saya menciptakan kebahagiaan itu di dalam pikiran saya sendiri. Meskipun itu hanya khayalan, setidaknya itu bisa membuat saya bahagia." Hinata menatap Naruto dan tersenyum.

"Mungkin senpai harus mencobanya. Seperti tersenyum untuk menyalurkan energi kebahagian untuk orang lain agar mereka turut merasa bahagia?"

Naruto menaikan satu alisnya.

"Seperti kau tersenyum pada seorang wanita tua didalam bis dan dia kembali tersenyum padamu dan dia kembali tersenyum pada seorang lelaki yang masuk ke dalam bis dan selanjutnya?"

"Tidak terima kasih. Aku tak ingin menjadi aneh sepertimu." tutup Naruto langsung mengalihkan pandangannya ke buku di depannya.

"Seseorang berkata, sebelum anda merubah dunia, anda harus mulai dari merubah diri anda sendiri." tutup Hinata sambil kembali fokus pada buku di depannya. Sebelum dirinya menjadi benar, ia tak akan bisa berbuat banyak untuk orang lain.

...

Naruto menatap Hinata sambil berpikir apa yang baru saja dia katakan..

"Merubah diri anda sendiri..."

.

.

.

.

Besok siangnya.

Leher Naruto terus saja melengok-lengok tak nyaman.

Ia sedari tadi terduduk di dalam bis dan mengamati seorang nenek tua yang terduduk di seberangnya. Sebenarnya nenek itu terlihat takut karena Naruto terus menatapnya sangat aneh.

"Merubah diri anda sendiri."

"Ehem.." Naruto menatap nenek tua tadi dan memaksakan sedikit senyum padanya tapi dia malah berdiri dan melangkah pergi dengan wajah datarnya.

"Ah baiklah. Dimana pun, percobaan pertama selalu gagal." pikir Naruto menguatkan dirinya sendiri.

.

.

"Ehem.." Naruto berdehem karena sangking gugup nya terduduk diantara banyak orang dengan pikiran tak biasa.

Matanya menatap ke atas, niatnya mengkhayal tapi terlebih dulu di isi oleh senyum tanpa alasannya yang malah membuat semua orang di dalam bis menatapnya aneh dan berpindah duduk menjauh darinya.

Naruto mengaruk tengkuknya yang tak gatal sebelum turun dari bis yang baru saja berhenti. Ini sungguh memalukan! Bagaimana bisa Hinata melakukannya dengan begitu mudah? Mengapa dirinya malah terlihat gila dan aneh untuk orang lain?

.

.

18.21

"Haa~" Naruto menghela nafas panjang setelah duduk di salah satu bangku besi panjang di taman.

Ia membenarkan duduknya dan mencoba tersenyum pada seorang perempuan yang melewatinya tapi perempuan itu malah menatapnya aneh dan mempercepat langkahnya seolah mengatakannya tak waras.

"Hah~" Naruto menyerah. Ini bahkan lebih sulit dari pr fisikannya dan sangat memalukan. Mengapa juga ia mau melakukan hal ini?

Tapi lagi-lagi tanpa sadar Naruto membenarkan duduknya ketika sepasang kekasih melangkah hampir melewatinya.

Tap

Senyum di bibirnya tak jadi dipamerkan ketika seseorang tiba-tiba muncul di belakang dan menepuk pelan pundaknya.

Hinata..?

Hinata tersenyum dan sedikit menundukkan kepalanya pada sepasang kekasih yang menatap dan melewatinya begitu juga dengan Naruto yang ikut tersenyum tanpa sadar.

Hhaa!?

Mereka membalas tersenyum dan menundukkan kepala mereka!?

Bagaimana?

Naruto menatap syok Hinata. Bagaimana bisa dia melakukannya semudah itu tapi yang paling penting bagaimana bisa dia disini?

"Saya mengikuti senpai jika itu yang senpai pikirkan." gaku Hinata lucu sambil mendudukan dirinya di sebelah Naruto. Oh, jika kalian ingin tahu. Ia melihat semua kejadian di bis tadi. Dan karena Naruto terlalu sibuk tersenyum dan berpikir hingga tak menyadari dirinya berada di bis yang sama dengannya.

"Senpai sudah melakukan yang terbaik." ucap Hinata dengan senyum manisnya. Ia sungguh memujinya jadi jangan salah paham.

"Aku bahkan tak tahu mengapa aku melakukan hal itu." Naruto bersumpah. Ia tak tahu mengapa ia melakukan hal Itu. Semua itu terjadi begitu saja tanpa ia sadari.

"Dan aku juga heran. Bagaimana bisa kau tersenyum begitu saja seolah kau sangat bahagia?" tambahnya bingung dan yang semakin membingungkan adalah senyumannya yang terlihat sangat tulus.

"Senpai, kebahagian itu ada dimana saja." Hinata berdiri dan tersenyum pada Naruto.

"Bahkan sehelai rumput pun bisa membuat saya senang." ia berkata jujur.

Naruto masih menatap Hinata, lihat lah senyum bahagia dengan memamerkan gigi rapinya itu. Meskipun terlihat banyaknya kekecewaan, senyum itu tetap terlihat sangat tulus, dia benar-benar bahagia. Bagaimana bisa dia bahagia tanpa alasan begitu?

"Aku tak percaya itu. Buktinya tak ada kebahagian sekarang." tangan Naruto di atas tangan bangku besi menopang pipinya, malas.

"Mungkin senpai harus lebih memperdulikan hal-hal kecil seperti udara yang segar, cuaca yang cerah, rumput hijau dimana-mana. Bukankah ini menyenangkan?" Hinata merentangkan dua tangannya kesamping dan memutarkan pelan badannya menikmati cerahnya cuaca dan udara yang sangat menenangkan ini tapi..

Krak.

"Ittai!" Badan Hinata langsung tersungkur ke tanah tepat di hadapan Naruto ketika kakinya tak sengaja menyenggol benjolan tanah di dekatnya.

"Ya mungkin kau benar kebahagiaan itu di mana-mana. Bwuahahahaahaha!" Naruto langsung tertawa terbahak-bahak ketika Hinata menatapnya cemburut. Padahal dia baru saja mempromosikan kebahagian tapi kini lihatlah wajah nya yang tak lagi profesional itu. Itu sangat lucu.

Bibir Hinata memanjang. Bukannya berdiri, ia malah mendudukan bokongnya ke tanah hijau itu.

Tapi senyum kembali menghiasi bibirnya ketika Naruto menatapnya.

"Apa lagi yang kau senyumkan?" tanya Naruto kembali ngeri atas senyuman Hinata. Senyuman itu membuatnya tak bisa lagi tertawa.

"Senpai akan marah jika saya mengatakannya." Hinata menahan tawa kecilnya. Dia sama sekali tidak sadar.

"Apa? Katakan." Naruto sungguh tak tahu apa yang Hinata senyumkan dan apa yang baru saja ia lakukan?

"Ini pertama kalinya saya melihat senpai tertawa. Itu sangat manis." Hinata melemparkan senyum gigi putih, tulusnya pada Naruto di hadapannya.

...

Naruto terdiam sejenak sebelum menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku besi.

Seharusnya ia marah dan mengeles tapi saat ini ia malah membalas senyuman Hinata dengan senyum sinis tapi senang.

"Kau memang pandai sekali membuatku mati kutu."

Hinata menahan kekehannya.

"Saya tersanjung.."

.

.

.

.

To be continue.

.

.

Sorry baru up.

Uhuk uhuk

Ada benih benih cinta itu.

.

.

Balas review

I love you : awww.. Author tersanjung. Terima kasih.

Guest : ^^ bagus deh kalau kamu suka.

Anirahani : sorry kalau kelamaan up nya. Silahkan menikmati.

Devilux : itu bukan typo :v author kiranya memang begitu. Pantasan saja rasanya ada yang salah ternyata itu toh. Hahaha tq udah ingatin.

Nico andrian : makasih udh suka fic ini ^^

Kurogane Hizashi : kok lewat aja Sih? Gak mampir ya?

Guest : sabar ya :v

.

.

Moga suka. Moga bagus.

Bye bye