Disclaimer : demi apapun, naruto bukan punya saya, punya masashi sensei, aku hanya pinjam saja.

.

.

Stupid or Kind?

.

(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)

.

Stupid or Kind by author03

Uzumaki Naruto x Hinata Hyuga.

Romance\Drama

.

.

.

Please.. Dont like dont read.. Thanks.

.

.

Chapter 7

.

.

.

"Hinataa!" dua tangan mulus itu menahan pundak Hinata yang baru saja melewati pintu kamar.

Matanya menatap syok Hinata dengan banyaknya pertanyaan.

"Umm.. Ada apa Yugao?" Tanya Hinata ragu. Mengapa wajahnya begitu terkejut?

"Kau kencan dengan Naruto senpai yang tampan itu?" tanya nya menuntut jawaban yang membuat Hinata tersentak kaget.

Ia baru saja kembali ke sini dengan Naruto dan sudah ada gossip mereka berkencan? Dari mana asalnya gossip itu?

"Itu tidak benar." jawab Hinata jujur.

"Kau bohong!" Yugao berlari dan meraih ponselnya di atas ranjang dan kembali menghampiri Hinata.

Satu persatu foto di layar ponsel itu di tunjukan dengan cara menggesernya ke kiri.

Deg!

Itu foto-fotonya dan Naruto di taman tadi. Bagaimana bisa, dari mana dan siapa yang mendapatkan foto itu?

Senpai itu pasti akan mengamuk karena gossip mereka berkencan ini.

"Saya hanya melihatnya di taman dan menghampirinya, kami sedikit bicara. Hanya itu saja." jelas Hinata jujur.

"Mana mungkin senpai galak itu mau bicara pada manusia?" ucap Yugao tak percaya. Setiap kali Yugao menyapa ataupun berbicara padanya, dia berlalu pergi seolah Yugao itu hanyalah angin atau terkadang dia marah-marah dan mengusirnya. Dia sangat galak.

"Senpai.. tidak terlalu buruk. Dia orang yang baik." jawab Hinata jujur. "Umm Yugao. Maaf, saya akan mandi dan istirahat. Saya merasa sedikit tak enak badan." tambah Hinata sambil mengelus pelan pundaknya yang tadi terasa penat dan semakin penat. Perutnya terasa mual dan ia merasa panas. Ini pasti karena ia terus bermain dengan angin di bis tadi selama berjam-jam.

"Ya ya. Pergilah." jawab Yugao yang kemudian berpikir keras. Ia akan mencoba menyapa senpai tampan itu lagi besok. Hmm.

.

.

.

.

Semua pasang mata di dalam kelas terus saja melirik dalam diam seorang lelaki bersurai kuning yang terlihat terduduk di atas meja dengan kedua telapak sepatu hitamnya mendarat di kedua sisi kursi di depannya. Alisnya berkerut, matanya terfokus pada ponsel di tangannya.

Ruangan ini terasa gerah sekali.

Glek

Mereka menelan gugup ludah mereka karena sangking gugupnya. Siapa yang menyebar gosip itu?

Siapapun dia, dia sungguh dalam bahaya.

.

.

Mata lelaki yang ternyata Naruto mengamati sekelilingnya.

Hm.

Setelah di pikir-pikir, mungkin ia akan melayani hal ini setelah melihat reaksi Hinata tapi mengapa manusia itu tak muncul-muncul padahal kelas akan di mulai 10 menit lagi?

"Sepertinya mood seseorang sedang baik hingga dia tak bisa marah." Mata Naruto menoleh ke arah seorang gadis bersurai pink yang baru saja duduk di belakangnya atau tepatnya di depannya( Naruto terduduk memunggungi papan tulis)

"Sepertinya mood seseorang sedang buruk beberapa minggu ini. Oh, mungkin dia sedang dalam masa ya kau tahulah." jawab Naruto sinis pada wakil kelasnya yang tak lain adalah Haruno Sakura. Belakangan ini gadis itu terlihat sangat bad mood. Ya, Naruto tak perduli juga karena saat ini Naruto tengah menunggu seseorang bernama Hyuuga Hinata.

...

Sakura menatap Naruto entah dengan artian apa. Mengapa ia susah sekali mengontrol dirinya belakangan ini? Dadanya sering kali memanas dan ia sangat kesal meskipun ia berhasil menyembunyikan nya.

"Berhentilah mengurusi gadis itu dan urusi tugasmu sebagai ketua osis." Ucap Sakura menatap lurus Naruto yang masih terduduk di atas meja dengan menghadap nya.

"Bla bla bla." Cuek Naruto sambil menekan-nekan layar ponselnya dan kemudian menempelkannya ke telinga kirinya.

Tutt

Tutt

Dengan tak bertenaga, Hinata meraih ponsel di atas bantalnya dan menekan tombol hijau tanpa melihat siapa yang menelepon nya.

"Hallo.." sapanya berat tanpa membuka matanya. Rasanya berat sekali, perutnya semakin mual dan kepalanya masih berdenyut.

.

"Hei! Kau dimana? Kelas sudah akan mulai dan mengapa suaramu lemah begitu?!" marah Naruto tak suka akan sapaan tanpa tenaga yang bahkan terkesan lemah itu.

.

"Maaf senpai, sepertinya hari ini saya izin karena tak enak badan. Rasanya mual sekali." jawab Hinata masih tanpa menggerakan anggota tubuh sedikitpun ataupun membuka matanya.

.

"Kau terlihat seperti sedang mabuk. Mengapa kau malah sakit di saat-saat penting?!"

.

"Suara senpai membuat kepala saya berdenyut semakin keras." Hinata sungguh merasa kepalanya akan meledak karena suara nyaring itu.

.

"Kau benar-benar menjengkelkan. Aku akan menghajarmu nanti." Naruto mengakhiri sepihak panggilan itu.

.

"Nngghh" Hinata membiarkan telepon itu jatuh di dekat telinganya. Ia kembali tertidur setelah sedikit mengerakkan punggungnya guna membuang rasa panas yang sudah sangat mengukus punggung nya itu.

.

.

Tap!

Pipi Naruto mengembung, alisnya berkerut ketika ponsel itu mendarat ke atas meja yang ia duduki. Mengapa harus sekarang sakitnya? Apa tak bisa besok? dan mengapa dia begitu lemah? Cuma sakit sedikit saja harus izin. Menjengkelkan!

Naruto turun dari atas meja dengan menendang kursi yang menjadi sandaran kakinya sedari tadi.

"Setan mana yang berani membuat gossip tentangku?"

Nafas setiap murid tertahan akan pertanyaan itu.

Mengapa tiba-tiba saja mereka merasa bahwa lelaki ini bisa di jinakan oleh Hinata yang dengan sialnya sakit hari ini?

"Aku." Naruto menoleh tajam ke asal suara.

.

.

.

.

"Ada masalah?" tambahnya ketika Naruto menatapnya tak suka.

"Berikan ponselmu, Haruno." Naruto mengulurkan telapak tangannya ke sang pelaku yang baru saja mengaku, Haruno Sakura.

"Kau ingin menghancurkan ponselku atau menghapus fotonya?" tanya Sakura dengan santainya tanpa menatap Naruto.

"Dua duanya." jawab Naruto datar.

"Bagaimana jika aku tak mau?" tantang Sakura datar.

"Undang-undang xx no x, barang siapa yang mengambil dan menyebarkan foto seseorang tanpa izin akan di hukum penjara 3 bulan dengan denda 50juta." jelas Naruto malas yang kemudian memamerkan ponsel ditangannya dengan cara mengangkatnya tinggi.

"Perlukah ku menelepon polisi sekarang?" tambahnya dan Sakura masih bertahan pada wajah datarnya.

"Kalau kau berani." Tantang Sakura tak percaya akan ancaman Naruto.

"Baiklah." Naruto menekan-nekan sejenak layar ponselnya dan menempelkannya ke telinga kirinya.

Tutt

Sakura masih bertahan pada wajah datarnya. Dia pasti hanya menakutinya.

"Selamat pagi, dengan kepolisian xx, Ada yang bisa kami bantu?"

"Hal"

Grap!

Sakura langsung merebut ponsel Naruto dan menekan tombol merah.

"Kau!" Ia syok sejenak karena tak habis pikir bahwa Naruto sungguh serius. Tega sekali.

"Berikan ponselku dan ponsel mu." mau tak mau Sakura merogoh ponsel di dalam saku roknya dan menyerahkannya pada Naruto.

"Kau sungguh tak bisa di ajak bercanda, Uzumaki Naruto." Sakura kembali terduduk di bangku nya dan sebisa mungkin kembali pada wajah datarnya.

"Aku tak berniat bercanda dengan manusia dan juga kau dan aku juga tak berniat melayani manusia dan juga kau." Naruto menekan-nekan layar ponsel Sakura yang tak terkunci.

Banyak sekali foto nya dan Hinata yang dia ambil.

Hm

Tapi jika dipikir-pikir sayang sekali membuang gambar yang lumayan enak di lihat ini.

...

Akhirnya, Naruto pun memutuskan mengirim semua foto itu ke ponsel nya sebelum menghapusnya.

Brack!

Semua manusia langsung tersentak kaget ketika ponsel itu berakhir di lantai sedangkan Sakura hanya bisa bertahan dengan wajah datarnya padahal ia sudah mati-matian menahan kesal karena ponsel nya itu di injak-injak.

Tidak, tapi ia akan kalah jika ia marah jadi sebaiknya ia tetap diam.

Brack!

Naruto menginjak kesal ponsel Sakura hingga layar retaknya semakin retak.

Naruto pastikan benda ini tak akan bekerja lagi tapi sejujurnya alasan Naruto kesal adalah mengapa gadis ini tak menyebarkan foto ini lain waktu? Misalnya di waktu Hyuuga itu sedang berada di kelas ini?

Memjengkelkan!

Tapi dia seharusnya merasa beruntung karena Naruto menginjak ponselnya bukan wajahnya.

Tap

Naruto menendang ponsel itu ke arah kaki Sakura setelah berhasil sedikit menyingkirkan rasa kesalnya.

"Kuharap kau melakukan hal yang sama pada seorang gadis yang mungkin telah sering bercanda pada mu." Naruto menatap Sakura.

"Memuji senyummu manis. Membuatmu tertawa. Oh, aku lupa. Kau mana bisa menginjak-injaknya." tambahnya datar tapi sinis.

Naruto mengangkat sudut bibirnya sinis.

Tap

Kedua tangannya mendarat di meja Sakura dan diikuti oleh wajah tampannya yang kini berjarak dua jengkal dari wajah Sakura.

"Bicara lagi dan aku akan menginjakmu. Cobalah kalau kau berani." ancamnya dingin.

...

Sakura tak bersuara. Ia tahu itu bukan sekedar ancaman..

Brack

Naruto tersenyum sinis sebelum menendang kesal kaki meja Sakura dan melangkah pergi.

Semua mata segera dialihkan ketika lelaki itu melewati mereka dan melangkah pergi melewati pintu kelas.

...

Semua nya hanya terdiam ketika lelaki itu menghilang.

Mereka bahkan tak berani berpikir soalnya.

...

Sedangkan Sakura masih terdiam dengan wajah datarnya yang terus menatap lurus ke depan. Tak ada yang tahu apa yang tengah dia pikirkan saat ini dan sejujurnya, wajahnya itu terlihat sangat menakutkan seolah dipenuhi oleh...

.

Kecemburuan?

.

.

.

"Menjengkelkan." Naruto menyaku satu tangannya ke saku celana dan melangkah menelusuri tangga.

Emm?

Mungkin ia akan menjenguk Hinata dan melihat keadaannya?

Tidak!

"Maksudnya aku akan mencarinya dan memarahinya karena sakit di saat yang tak tepat." sela Naruto cepat tapi entah sadar tak sadar. Kini ia sudah berada tepat di depan kamar Hinata.

Hah? Sejak kapan?

Tapi jika dipikir-pikir lagi, bagaimana caranya masuk?

"Aku tak punya kunci kamarnya.." dan dia sedang sakit. Naruto merasa tak bisa membangunkannya.

"Hinata! Aku akan pergi! Aku sudah terlambat!"

Klik

Pintu itu terbuka cepat dengan memuncul seorang gadis bersurai ungu dari dalamnya.

Brack!

Gadis yang ternyata Yugao itu tak sengaja menabrak seseorang di depan pintu.

"Iitammpphh!" Naruto langsung membungkam mulut Yugao dengan satu telapak tangannya ketika dia hampir memekik.

"Senpai!?" inner Yugao berteriak terkejut. Mengapa senpai tampan ini disini?

"Diam." perintah Naruto setelah menjauhkan tangannya dari mulut Yugao.

"Mengapa senpai disini?" tanya Yugao.

"Harusnya aku yang bertanya. Mengapa kau di kamar ini?" tanya Naruto balik.

"Aa... Hi-Hinata sedang sakit jadi saya menjaganya. Iya." bohong Yugao cepat. Ia bisa kena omelan kalau senpai ini tahu dirinya pindah ke kamar ini tanpa izin.

"Kebetulan. Kepsek menyuruh ku melihatnya. Berikan kunci kamar nya dan pergi dari sini." Naruto menyodorkan satu tangannya ke arah Yugao.

"Aa.. Tap-tapi senpa" ucapan Yugao terpotong oleh tatapan maut Naruto yang seolah mengatakan "kau mau mati?"

"Ha'i Ha'i!" dengan segera Yugao memberikan kunci di tangannya ke sodoran tangan Naruto.

"Kalau begitu pergi." usir Naruto ketika Yugao malah terdiam di posisinya.

"Um ano.. Pagi senpai." sapa nya dengan senyum manis yang membuat Naruto menatapnya aneh.

"Aku lempar atau kau pergi?" tawar Naruto tak suka akan gadis yang sok akrab ini.

"Ha'i senpai!" jawab Yugao yang langsung berlari pergi. Lihat lah. Sudah ia katakan bukan? Dia sangat tak ramah.

...

Jika kita lebih memperhatikannya. Senyuman kecil penuh kemenangan dan kebahagiaan menghiasi bibir Naruto.

Dia pasti sangat senang kerena bisa masuk ke kamar Hinata. Eh? Mengapa juga ia senang?

Entahlah, hanya saja ia merasa senang karena bisa melihat Hinata dalam keadaan lemah.

Hup

Naruto melirik kesana-kesini sebelum masuk ke dalam kamar Hinata, tak menutup pintu yang ia lewati itu.

"Dingin sekali." udara dingin menyapu kulit Naruto ketika ia berada di dalam ruangan.

"Dia sakit tapi masih mengunakan ac?" ucap Naruto tak percaya pada ac yang masih menyala.

Tet

Dengan segera ia mencari remot ac dan menekan tombol off. Emang orang sakit tak boleh memakai ac? Entahlah, apa yang Naruto tahu adalah tak boleh mengunakan ac ketika sedang tak enak badan.

...

Matanya melirik kesana-kesini di dalam kegelapan yang hanya di teringi oleh sedikit cahaya matahari di balik tirai jendela.

...

Mata Naruto mengamati dua ranjang bertingkat yang berseberangan secara bergantian.

Kakinya mengendap-endap ke ranjang sebelah kanan di mana Hinata berada.

...

Ia mengamati sejanak wajah Hinata yang terlihat tak tenang.

Kaki hingga lehernya tertutup selimut dua lapis.

"Senpai..?" panggil Hinata dengan kedua matanya yang perlahan terbuka.

"Wow. Bagaimana bisa kau tahu aku disini?" tanya Naruto terpesona oleh kehebatan Hinata.

"Hawa iblis senpai memancar." Jawaban Hinata diakhiri oleh senyuman lucunya. Sejujurnya, suara Naruto diluar dengan Yugao terdengar jelas dari sini.

"Saat tak sehat pun kau masih menjengkelkan. Mengapa kau belum tidur?" Naruto menahan rasa kesal nya.

"Dingin." jawab Hinata singkat. Punggungnya terasa panas tapi seluruh badannya mengigil kedinginan. Itu sebabnya mengapa ia tak bisa tidur. Oh, alasan mengapa ac itu tak dimatikan karena mungkin Yugao lupa mematikannya.

"Kau sudah makan belum?" tanya Naruto lagi dan Hinata menggeleng kepalanya.

"Mungkin saya bisa makan sesuatu di balik mangkuk di tangan senpai itu?" tanya Hinata yang membuat Naruto melirik ke arah tangan kirinya.

Bu-bubur?

"Aku bersumpah aku tak membawa ini tadi." ucap Naruto syok pada semangkuk bubur hangat yang entah sejak kapan berada di tangan nya.

Hinata hanya bisa tersenyum lucu akan tingkah itu. Ia bahkan sudah tak ingat ini sudah berapa kalinya dia tak sadar akan sesuatu.

"Tapi ya sudah. Mungkin ini tak beracun jadi kau bisa makan." Naruto memelankan suaranya ketika ia ingat ini semangkuk bubur yang ia beli dari kantin tadi sebelum menuju kesini.

"Terima kasih senpai." Hinata kembali tersenyum sebelum mendudukan dirinya dengan menyandar punggungnya ke tiang ranjang.

Naruto mendudukan dirinya dipinggir ranjang di dekat Hinata dan langsung menyodorkan sesuap bubur ke arah Hinata.

"Terima kasih senpai." Hinata melahap pelan suapan hangat itu tanpa banyak protes dan kembali tersenyum lucu.

"Aku melakukannya bukan karena aku mau. Ingat itu." ucap Naruto gugup entah karena apa.

"Saya tak mengatakan apapun, senpai." jawab Hinata lucu.

"Mengapa kau menyebalkan sekali?" tanya Naruto dengan alis berkerut nya.

Hinata menelan bubur yang di suap Naruto sebelum menjawab. "Lalu apa yang harus saja jawab?" tanya Hinata.

"Aaaa.. Misalnya seperti?.." ucapan Naruto terjeda. "Lupakan saja. Makanlah." Naruto mengakhiri sepihak obrolan yang ia lakukan. Mengapa tiba-tiba ia merasa wajahnya memanas pada apa yang baru saja di pikirkan otaknya?

Blushhh!

Abaikan. Sialan!

.

.

"Senpai, senpai tahu tidak apa yang ingin saya katakan?" tanya Hinata setelah ia menelan suapan terakhir.

"Kau kira aku peramal? Tentu saja aku tak tahu." jawab Naruto sinis.

"Lapar kesal, kenyang bodoh." ucap Hinata lucu.

"Tadi karena saya lapar, saya menjadi sangat kesal hingga menambah panas dingin badan saya yang menyebabkan saya tak bisa tidur tapi sekarang setelah kenyang saya malah merasa malas dan bodoh hingga tak bisa berpikir dan malas bergerak. Rasanya ingin tidur dalam keadaan begini saja." jelas Hinata lucu. Ia bahkan merasa bodoh karena ucapan ini.

"Kenyang tak kenyang pun kau memang bodoh." jawab Naruto sambil meletakkan mangkuk kosong tadi ke atas meja kecil di sebelah ranjang.

Ia meraih sesuatu di saku bajunya dan menyodorkannya ke Hinata.

"Terima kasih." Hinata menerima obat tablet pereda panas itu, menyobek bungkusnya dan memasukkan tablet itu ke dalam mulutnya.

"Bagaimana bisa kau meminum obat tanpa air?" tanya Naruto aneh dan ngeri.

"Hm. Rasanya tak enak." alis Hinata berkerut diikuti oleh senyuman lucunya. Padahal ia ingin sok berani tapi ternyata gagal total.

"Kau memang bodoh." Naruto mengeleng-geleng kepalanya tak percaya akan sikap bodoh itu.

.

.

.

.

"Senpai? Saya tidak apa-apa. Senpai bisa pergi jika mau." Ucap Hinata tak enak pada Naruto yang terduduk di kursi meja belajar tak jauh darinya. Dia terlihat sangat bosan.

"Abaikan aku dan tidur sebelum aku membuatmu tertidur selamanya." jawab Naruto tak perduli pada Hinata di balik selimut empat lapis disana.

"Baiklah.. Maaf dan terima kasih senpai." mau tak mau Hinata pun menutup matanya.

.

.

Beberapa jam kemudian..

"Yaampun. Membosankan sekali." Naruto beranjak dari posisi duduknya dan melangkah menghampiri Hinata yang pastinya sudah tertidur pulas.

Telapak tangannya menyentuh kening Hinata yang sudah tak panas setelah menyingkirkan kain putih kering yang tadinya basah dari kening Hinata.

Dengan hati-hati Naruto menyingkirkan tiga selimut dari badan Hinata agar Hinata tak mati kepanasan dan melemparkannya ke lantai begitu saja.

Ia melipat kedua tangannya di atas pinggir ranjang dan menyandarkan dagunya kesana setelah duduk di lantai.

Matanya menatap wajah Hinata dan badan Hinata dibalik selimut yang menghadap ke arahnya.

"Aku baru tahu ternyata orang bodoh bisa sakit." Naruto meraih ponsel di dalam saku celananya dan menekan-nekanya sejenak.

Ia menggeserkan jempolnya ke kiri setelah membuka album foto yang ia kirim ke aplikasi linenya melalui ponsel Sakura tadi.

"Ternyata aku sangat tampan." ucap Naruto pada foto dimana dirinya tersenyum dan tertawa.

"Hinata terlihat seperti bidadari tanpa sayap dengan senyumannya itu." ucapnya lagi pada foto tersenyum Hinata dari jauh. Dia terlihat seperti bidadari tak bersayap. Naruto merasakan jelas aura cantik dan lembut memancar dari tubuh Hinata. Senyumnya sangat indah. Sangat cantik.

Hah?!

"Apa yang aku pikirkan?" Naruto segera menyingkirkan pemikirannya tapi kesadarannya kembali di ambil alih ketika matanya tertuju pada wajah Hinata dengan sedikit senyuman.

"Dia pasti tengah bermimpi indah."

Tidak tidak.

Kepala Naruto mengeleng.

"Dia kan memang begitu. Di kelas tersenyum, bis tersenyum, makan tersenyum, minum tersenyum jadi tak akan aneh jika dia tersenyum dalam keadaan tidur." ucap Naruto mengerti dan aneh.

"Tapi dia memang sangat cantik. Mengapa aku baru menyadarinya?" tanya Naruto aneh entah pada siapa ketika matanya semakin intens mengamati wajah cantik nan lembut Hinata.

"Nngg?" badan Hinata sedikit menggeliat hingga posisinya kembali menghadap ke langit-langit.

"Siapa yang menyuruhmu bergerak?" tanya Naruto tak suka.

Kedua tangannya meraih tangan Hinata yang menerobos keluar dari balik selimut.

Rencananya hendak memasukkan kembali tangan itu ke balik selimut tapi mengapa tangan hangat ini malah terasa menyenangkan untuk di gengam?

Naruto pindah dari posisinya di lantai dan duduk di pinggir ranjang.

"Hangat sekali." kedua telapak tangan dingin Naruto mengengam erat tangan mungil itu seolah terhipnotis.

.

.

.

.

13.21

Klik

"Aku pulang." sapa Yugao setelah memasuki kamar yang untungnya tak terkunci.

Tapi matanya membulat ketika ia melihat dua orang di atas ranjang single itu tengah tertidur pulas!

Dengan segera ia menutup mulutnya yang hampir memekik histeris. Ternyata senpai masih disini dan dan dia!

Dengan senyap dan cepat, Yugao berlari keluar dari kamarnya. Bagaimana ini? Ia bisa mati jika asal melapor hal ini, jadi dengan siapa ia harus mengadu?

Brackk!

Tak ada angin, tak ada hujan. Mengapa hari ini ia terus saja menabrak seseorang ketika hendak melewati pintu?!

"Sakura senpai?" panggil nya terkejut setelah melihat siapa yang ia tabrak.

"Aa.. Mengapa senpai disini?" tanya Yugao gugup.

"Aku mencari Hinata. Dimana kamarnya?" Tanya Sakura.

"Aaa.. Disini tapi senpai. Sebaiknya senpai tak masuk saat ini." jawab Yugao cepat.

"Mengapa?" tanya Sakura penasaran.

"Aaaa.. Naruto senpai sedang menjenguknya." bukannya mendengarkan, Sakura malah melangkah masuk ke dalam melewati Yugao.

Deg!

Ia membeku ketika melihat Naruto turut tertidur di atas ranjang yang sama dengan Hinata.

Tangan Hinata berada di pipi kiri Naruto yang berada di hadapan dadanya dengan jarak dua jengkal.

Pingang hingga kaki mereka tertutup selimut sedangkan kedua tangan Naruto mengengam satu lagi tangan Hinata.

Wow

Ternyata benar dugaan nya. Lelaki itu menghilang kesini.

Ia bisa mengerti jika lelaki itu terduduk dan menjaga gadis itu tapi tidur di ranjang yang sama dengannya sambil bergenggam tangan... Bukankah itu berlebihan?

"Anoo, senpai." panggil Yugao ragu yang membuat Sakura membalikkan badannya dan menatapnya entah dengan tatapan apa.

"Anggap kau tak pernah melihat hal ini. Apa kau mengerti?" mata Sakura menatap tajam mata Yugao seolah mengatakan kau akan mati jika seorangpun tahu hal ini.

Glek.

Yugao menggangguk cepat karena takut akan tatapan membunuh itu. Mengapa senpai-senpainya mengerikan sekali?

.

.

.

.

.

07.21

"Hinata.."

Gadis bernama Hinata baru saja memasuki daerah sekolah menoleh ke asal suara dan berlari menghampirinya.

"Ada apa Sakura senpai?" tanya nya setelah berdiri di hadapan Sakura.

"Kudengar semalam Naruto seharian di kamarmu?" ucapnya basa-basi.

"Sebetulnya hanya setengah hari." Hinata memperbaiki. Setelah ia bangun jam tiga siang, Naruto telah menghilang. Jadi itu artinya Naruto hanya berada di kamarnya setengah hari atau mungkin hanya beberapa jam?

"Hinata!" Hinata kembali menoleh ke asal suara di belakangnya.

"Naruto-senpai.." panggil nya.

"Terima kasih untuk semalam." Hinata membungkuk hormat pada Naruto yang kini berada di sampingnya. Jika saja bukan karena makanan yang di bawa Naruto semalam. Ia pasti sudah mengamuk karena kelaparan. Haha..

"Sebagai gantinya. Belikan aku makanan" jawab Naruto singkat. Sedikit info, semalam ketika Naruto bangun tidur, betapa syok dirinya yang entah bagaimana dan sejak kapan tertidur di ranjang yang sama dengan Hinata. Tapi untungnya ia hanya mengengam tangan Hinata bukan memeluknya.

Itu sungguh akan menjadi masalah besar jika ada yang melihatnya dan salah sangka tapi untung lah hal itu tak terjadi.

Tapi itu salahnya! Siapa suruh tangannya begitu hangat dan nyaman?

"Ha'i" jawab Hinata cepat dengan senyum manisnya.

"Aa.. Naruto, sepertinya tugas tengah menunggumu." sela Sakura cepat ketika Naruto hendak menarik pergi Hinata.

"Kerjakan sendiri. Kau kan wakilku." jawab Naruto tak perduli.

"Hyuuga-san, lihatlah. Ketua osis ini terlalu sibuk bersamamu hingga menlalaikan tugas-tugasnya." Sakura melipatkan kedua tangan di dekat dadanya dan menatap mengimidasi Hinata.

"Maaf Senpai." jawab Hinata menyesal.

"Naruto senpai, tidakkah sebaiknya senpai menyelesaikan tugas-tugas senpai?" ucap Hinata tak enak hati pada Sakura maupun Naruto.

...

Mata Naruto menatap tajam Hinata seolah mengatakan ia "tak mau" di balas senyuman oleh Hinata.

"Bagaimana jika saya membantu senpai mengerjakannya?" tawar Hinata dengan senyum manisnya.

...

"Saya rasa bisa sedikit membantu?" tambah Hinata ketika Naruto tak menjawab.

"Baiklah kalau kau memaksa." jawab Naruto cuek tepatnya berpura-pura cuek yang kembali di balas senyuman oleh Hinata.

"Kalau begitu mari kita ke kantin." ajak Naruto tapi lagi-lagi acara menarik pergi Hinata terhenti karena suara Sakura.

"Oh, dan Hinata. Terima kasih karena kau mau mengerti tapi kau tak berhak ikut campur dalam tugas Naruto."

"Dan Naruto, aku perlu bicara empat mata denganmu."

.

.

.

.

.

To be continue.

.

.

.

.

Sepertinya fic ini gak begitu bagus ya.

Hmm..

Ya sudahlah. Apa boleh buat? Udh terlanjur. Yang penting kan bisa dibaca heje..

Njir :v di katain garing.

.

.

Moga suka. Moga bagus.

Bye bye..