Disclaimer : demi apapun, naruto bukan punya saya, punya masashi sensei, aku hanya pinjam saja.
.
.
Stupid or Kind?
.
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
.
Stupid or Kind by author03
Uzumaki Naruto x Hinata Hyuga.
Romance\Drama
.
.
.
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 8
.
.
.
"Dan Naruto, aku perlu bicara empat mata denganmu." tambah Sakura yang membuat Naruto menatapnya tak suka sekaligus tak mengerti.
"Apakah otakmu sudah keluar dari sarangnya? Apa salahnya Hinata juga mendengar pembicaraan kita? Dan mengapa kau malah tak ijinkan dia membantuku disaat aku ingin mengerjakan tugas-tugas sialan itu dan mengapa belakangan ini kau selalu ingin mengaturku? Tidakkah kau berlebihan?" omel Naruto tak suka. Selain gadis ini terlihat sangat bad mood, dia juga sering sekali ingin mengatur Naruto, meskipun Naruto tak peduli, itu tetap saja sangat menjengkelkan.
"Tidak apa-apa senpai. Saya akan pergi dulu." tanpa jawaban dari Naruto maupun Sakura, Hinata berlari pergi.
.
"Ooh, sebagai wakilmu, aku bertugas untuk membantumu. Apa gunanya aku jika aku tak membantumu?" Sakura kembali pada topik.
"Kau tahu hal itu sekarang tapi mengapa kau terus-terusan meneriakiku ketika aku menyuruhmu membantu dengan mengerjakan nya sendiri?" jawab Naruto masuk pada perdebatan.
"Membantu dan mengerjakan sendiri tidaklah sama." jawab Sakura penuh penekanan.
"Apa nya tak sama? Kau mengerjakan semuanya, tugasnya selesai. Aku mengerjakannya, tugasnya selesai. Intinya tugas itu selesai. Mengapa kita harus mengerjakannya bersama-sama?" Naruto menekankan kata harus dan bersama-sama.
Sakura terdiam tak menjawab.
"Kau sangat menjengkelkan. Kau bertingkah seperti cemburu pada pacarmu yang tengah mengabaikanmu." tambah Naruto tak senang dan Sakura masih tak bersuara. Jantungnya berdebar tak karuan. Ia gugup, badannya terasa sedikit bergetar tapi berhasil ia sembunyikan. Mengapa perasaan nya aneh sekali?
"Intinya kita akan mengerjakan tugas kita bersama-sama. Apakah kau tak bisa mendengarkanku tanpa menjawab sekali saja?" tanya Sakura beberapa menit kemudian.
"Dengar Haruno. Aku ketua disini dan kau tak berhak memerintahku. Aku bilang Hinata akan ikut. Aku tak perduli kau ikut atau tidak yang penting jangan berani kau mengganggunya apalagi memprotes nya." Naruto berlalu pergi setelah ucapannya itu, meninggalkan Sakura yang masih membeku sambil terus menatap punggung nya.
...
"Apa yang terjadi denganku?" telapak tangan Sakura menutup satu matanya. Ia tengah menenangkan dirinya dari amarah. Bukan karena marah tapi karena sesuatu yang tak ia mengerti. Rasanya marah sekaligus sedih.
Ia menghela nafasnya panjang secara berkali-kali agar dirinya semakin tenang tapi hal itu tak begitu bekerja.
"Apa dia mengucapkannya dengan sadar?" tanya Sakura entah dengan siapa.
"Pokoknya dia ikut?"
"Tak perduli kau ikut atau tidak?
"Jangan berani menganggunya?"
"Jangan berani memprotes?" senyum tak percaya menghiasi bibir Sakura.
Deg
"Mengapa kau begitu baik padanya hingga memaksa begini? Kau tak pernah begini."
"Bagaimana bisa gadis itu membuat kau membelanya? Kau yang tak pernah perduli bahkan tak pernah mengatakan 'jangan menganggunya' pada siapapun?"
"Bagaimana kau bisa lebih baik pada murid baru itu dari pada aku?"
Deg
Satu telepak tangan Sakura menekan dadanya yang terasa tersayat.
"Aku bisa menahan sakitnya ketika kau mengabai ku dan itu karena kau turut mengabaikan yang lainnya tapi sekarang kau sangat dekat dan perduli padanya.."
Aku benci mengakuinya..
Mata Sakura berkedip sekali ketika ia tak lagi melihat punggung Naruto yang memang sudah lama tak terlihat.
"Aku merasa cemburu.."
.
.
.
.
13.32
"Tapi apa tak apa-apa senpai? Bukankah Sakura senpai telah me"
"Aku ketua disini dan dia tak berhak melarangku." sela Naruto cepat ketika ia berbalik dan menghentikan langkahnya di hadapan Hinata.
"Umm.. Dan sebenarnnya saya bukan anggota osis jadi senpai tak berhak memerintahkan saya mengangkat buku-buku ini." canda Hinata sambil memamerkan tumpukan buku ditangannya setinggi mulutnya ke Naruto di hadapannya.
"Berani sekali kau! Kau harus tetap mendengarkanku meskipun kau tak mau." jawab Naruto tak suka sambil melangkah mundur dan mendorong(membuka) pintu kaca di belakangnya dengan mengunakan bokongnya.
"Baiklah senpai." jawab Hinata menurut sambil masuk ke dalam ruangan.
Ia meletakkan tumpukan buku di tangannya ke atas meja hitam lonjong besar di tengah-tengah ruangan dan mengamati sekelilingnya sejenak.
Ruangan ini seperti kantor rapat ayahnya. Keren sekali.
"Hinata, kau disini?" Hinata menoleh ke arah pintu yang baru saja terbuka.
"Ha'i Toneri senpai." Hinata membungkuk hormat pada lelaki yang kini berdiri di hadapannya.
"Cukup Toneri saja." jawab Toneri lucu.
"Dimana yang lainnya?" tanya Naruto tak suka pada ruangan yang masih kosong.
"Tentu saja belum datang. Janjinya berkumpul jam dua, bukan?" jawab Toneri apa adanya.
"Oo." Naruto BerOria. Ia datang terlalu awal.
"Dan mengapa Hinata disini?" tanya Toneri penasaran.
"Umm.. Saya hanya berjanji akan membantu." jawab Hinata apa adanya dengan senyum manisnya.
Sejujurnya Toneri juga cukup penasaran mengapa Naruto mau datang kesini dengan sukarela tapi rasanya ia sedikit mengerti dengan kehadiran Hinata.
"Itu karena sang ketua hanya mau datang dengan tawaran itu." gadis bersurai pink itu masuk ke ruangan sambil melipatkan kedua tangannya di depan dada.
"Sakura senpai." Panggil Hinata tak enak hati. Dia masih terlihat sangat tak suka.
"Sungguh?" seorang gadis berambut ponytail pirang masuk kedalam bersamaan dengan seorang lelaki berambut raven.
"Masih ada 30 menit lagi. Mengapa kita harus datang lebih awal?" tanya seorang gadis bersurai merah mengekori beberapa temannya yang baru saja memasuki ruangan.
"Membosankan." sela seorang lelakai berambut nanas malas.
"Tanyakan saya pada sang wakil." jawab lelaki dengan tatto segitiga di kedua pipinya.
"Baiklah tak ada waktu untuk ini." sela Naruto tak perduli pada 10 anggota nya.
"Kalian semua urus semua tulisan buku-buku itu dan Hinata kau harus membantuku membersihkan ruangan ini." perintah Naruto.
"Kurasa sang ketua harus duduk di dekat kami dan membantu kami dengan kerjaan itu. Kami butuh perintah." sela sang wakil datar tapi terkesan menuntut.
"Kau membuat dirimu sangat tak berguna. Untuk apa kau menjadi wakilku jika tak mengerti apapun?" tanya Naruto tak perduli.
Sakura terdiam tak menjawab.
"Dan aku baru ingat. Anggota ku termaksud aku,kan hanya ada sembilan. Siapa lelaki berambut raven itu?" tanya Naruto sambil terus mengamati lelaki bermata hitam pekat di sebelah Sakura.
"Aku membawanya agar membantuku." jawab Sakura dengan maksud tertentu.
"Terserah. Aku tak perduli. Urusi tugas kalian sekarang juga. Hinata mari pergi." semua manusia mengambil kursi masing-masing dan sibuk pada tugas mereka sedangkan Hinata berlari pergi mengekori Naruto.
.
.
.
.
15.02
"Kyaaahh!" Hinata memekik histeris ketika tangga nya tiba-tiba terguncang.
"Sudah kubilang jangan tersenyum ketika kau sedang bekerja!" ucap sang penguncang tangga yang tak lain adalah Naruto tak suka. Bahkan dia bisa tersenyum saat sedang bersih-bersih. Sangat aneh.
"Senyum itu sehat senpai." Hinata mendudukan dirinya di pijakan tangga bagian atas ketika Naruto menaiki dan menduduki tangga di sebelah tangganya.
"Senyum itu gila. Buktinya orang gila di jalanan itu terus-terusan tersenyum." Naruto membantah ucapan Hinata.
.
.
"Mereka terlihat sangat akrab." ucap lelaki berambut nanas bernama Shikamaru itu tak percaya meskipun ia tak begitu perduli.
"Dia bahkan tersenyum." gadis berponytail bernama Ino pun tak percaya.
Mereka yang harusnya fokus pada kerjaaan mereka malah berfokus pada dua manusia dengan kemoceng di tangan mereka disana.
Ketua osis membersihkan ruangannya sendiri.
Wow..
Sulit dipercaya tapi itulah yang terjadi.
.
.
"Tapi mereka sehat bukan? Otak mereka mamang sedikit bermasalah tapi fisik mereka sangat sehat. Apa kah senpai pernah melihat mereka mengeluh sakit? Tidak Bukan? Itu artinya senyuman menyehatkan." jawab Hinata memenangkan perdebatan singkat yang membuat Naruto menatapnya tak suka.
"Berhenti menjawabku! Kau memang kurang ajar!" pekik Naruto sambil memukul lengan Hinata dengan kemoceng di tangannya.
"Hahaha.. Ampun senpai."
.
.
"Berhenti memandangi meraka dan fokus pada kerjaan kalian." sela sang wakil osis datar tanpa mengalihkan pandangannya dari buku di hadapannya.
"Satu bulan lagi ulang tahu Tsunade-sama. Apakah kalian sudah merencakan acaranya?" Tanya gadis bersurai merah bernama Karin sambil memainkan pena di tangannya. Bosan sekali dan Ia kehabisan idea.
"Aku punya ide yang menarik." jawab Sakura ketika bola matanya melirik ke arah Hinata dan Naruto.
Flashback.
.
"Dan?" tanya Sakura pada seorang gadis bersurai pirang bernama Shion yang terduduk di depannya.
"Iya pokoknya begitu senpai. Dia tak akan menolak selama dia bisa." jelas Shion singkat. Tapi mengapa juga dia bertanya soal Hinata padanya?
"Tapi jika teman senpai benar-benar menyukainya. Aku rasa bisa membantu. Naruto senpai sangat sering didekatnya dan itu sedikit menjengkelkan. Jika saja Hinata memiliki seorang pacar. Naruto senpai pasti akan menjauhinya bukan?" tanya Shion penuh semangat. Akhirnya ia tak akan terusir lagi ketika di dekat Hinata.
"Tapi sebenarnya.."
.
.
Beberapa menit kemudian.
"Hah?!" Shion membungkam mulutnya tak percaya dengan kedua telapak tangannya. Ternyata senpai ini..
"Bukankah kau begitu juga?" mata Sakura menatap mengimidasi mata Shion.
"Kau sangat munafik. Aku tahu kalau kau hanya berpura-pura baik di depannya demi keuntunganmu sendiri, jadi jangan berdrama di depanku." tambah nya tajam.
"Sen-senpai.. Aku tidak begitu. Hinata temanku. Aku tak mungkin menghianatinya." jawab Shion gugup.
"Dan asal senpai tahu. Ren"
"Bantu aku atau tidak? Bukankah ini keuntungan untukmu juga? Kau bisa datang, memeluknya dan menghiburnya?" sela Sakura datar dan Shion berpikir sejenak.
Jujur, ia sangat penasaran dengan wajah tanpa senyum percaya diri Hinata itu.
"Baiklah, aku akan berkata jujur. Aku tak suka padanya. Aku benci senyum nya itu. Aku benci karena dia selalu berpura-pura baik. Jadi ya kenapa tidak?"
.
Flashback end.
.
.
"Kita akan.."
.
.
.
.
.
17.32
"Terima kasih senpai atas hari ini. Kalau begitu saya permisi pulang dulu." Hinata membungkuk hormat pada senpai di hadapannya.
"Baiklah baiklah. Aku tak akan mengucapkan terima kasih atas bantuanmu." jawab Naruto sinis yang malah membuat Hinata menahan kekehannya.
"Sama-sama senpai. Bye-bye." ucap Hinata yang langsung melangkah pergi melewati pintu kaca.
"Ka" Naruto menelan kembali makiannya yang tak sempat di keluarkan.
Ia membalikkan badannya dan menatap Sakura, satu-satunya orang yang kini berada di ruangan bersamanya.
"Kau ingin mendengar sesuatu yang menarik Uzumaki-san?" Tanya Sakura sambil membereskan barang-barang di atas meja tanpa menatap Naruto dibelakangnya.
"Aku tak perduli." jawab Naruto cuek sambil meraih ranselnya di atas kursi dan melangkah pergi.
"Tapi ini soal Hinata." ucap Sakura yang berhasil menghentikan langkah Naruto.
"Tetap bukan urusanku." jawab Naruto menahan rasa penasaran nya semaksimal mungkin.
"Bagaimana jika ku tambahkan 'Sasuke menyukai nya'? Oh atau mungkin 'Hinata juga menyukainya'?"
Deg!
.
.
.
"Hah?! Tidak tidak. Saya tak mau." tolak Hinata cepat.
"Ayolah Hinata." pujuk Shion sambil menguncang pelan lengan Hinata.
"Aku sudah mengatakan padanya bahwa kau akan menemuinya di kantin setelah selesai dengan tugasmu."
"Saya bisa jika hanya menemuinya tapi tidak dengan pacaran dengannya." jelas Hinata. Temannya tiba-tiba datang dengan mengatakan berpacaranlah dengan lelaki bernama Sasuke. Tentu saja Hinata menolaknya. Hinata bahkan tak kenal lelaki itu.
"Tapi aku sudah mengatakan kau akan menerimanya. Dia pasti akan mengira aku pembohong sekarang. Padahal aku melakukan ini untukmu. Aku hanya ingin ada yang selalu menemanimu. Dia lelaki yang baik. Itu sebabnya aku ingin mendekatkan kalian berdua." jawab Shion dengan raut wajah kecewanya.
"Tapi kalau kau tak mau. Apa boleh buat? Aku aka"
"Baiklah." sela Hinata cepat.
"Kau mau?" tanya Shion memastikan.
"Emm.. Mungkin." jawab Hinata ragu.
"Baiklah. Kalau begitu cepat ke kantin dan temui dia!" Shion berdiri dari posisi duduknya dan menarik pergi Hinata. Dengan begini tugasnya selesai.
.
.
.
Kembali ke Sakura dan Naruto.
"Mungkin saat ini mereka sedang berada di kantin dan kau tahulah? Saling melempar senyuman dan duduk berseberangan?"
Naruto membalikkan badannya dan menatap tak suka Sakura.
"Perlu berapa kali lagi aku bilang kalau aku tak perduli?" Tanya Naruto menahan kesal nya yang kemudian melangkah keluar dari ruangan. Gadis ini merusak mood baiknya saja.
Tapi Hinata..
.
.
Hinata pov
"Umm.. Ano?"
"Kau pasti Hinata, kan?" sela lelaki berambut raven itu pada ku yang muncul di hadapannya.
"Kenalkan namaku Sasuke Uchiha." dia mengenalkan dirinya sambil mengulurkan satu tangannya, tak lupa dengan senyum nya.
"Hinata Hyuuga." aku meraih tangannya itu dan duduk di seberangnya setelah dia memintaku untuk duduk.
Kami sedikit berbicara. Tepatnya dia bertanya dan aku menjawab selama beberapa saat.
Tapi inginkan kalian tahu satu hal?
Tidak. Aku akan memberitahu ketika waktunya tiba.
"Aku tahu kita memang belum saling mengenal tapi aku menyukai mu pada pertama kali aku melihatmu dan aku baru berani mengatakannya sekarang." ucapnya dan satu hal yang cukup mengejutkanku ketika dia mengatakan.
"Aku berani mengatakannya karena teman baikmu itu mengatakan sebenarnya kau juga sering memerhatikan ku." tambahnya dengan senyum senangnya.
Aku hanya menjawab ucapannya dengan sebuah senyuman karena itu kebohongan yang mungkin di katakan Shion pada lelaki ini.
"Maukah kau menjadi pacarku?" pintanya tanpa berbasa-basi.
Aku menatapnya dan tersenyum tipis.
"Bagaimana jika kita PDKT dulu?" tawarku. Seratus persen aku ingin menolaknya tapi beberapa alasan aku tak bisa melakukannya, jadi hal terbaik yang bisa kulakukan adalah ini. Dengan begini aku tak akan di kira menolaknya dan Shion tak akan di cap pembohong.
"Mengapa?" tanya nya seolah kecewa.
"Rahasia." jawabku berpura-pura menahan kekehanku.
"Kau sangat manis." untunglah dia mengatakan hal itu dan kembali tersenyum.
"Oh saya jadi ingat, sepertinya kita bertemu di ruangan osis tadi?" Dengan segera aku mengubah topik pembicaraan.
"Aa.. Iya, Aku meminta Sakura membawaku kesana karena aku tahu kau akan kesana. Aku ingin melihatmu." dengan banyak alasan aku tahu bahwa..
"Dan omong-omong saya hampir tak pernah melihat Sasuke-san?"
"Aa.. Aku di kelas tiga dan jarang keluar dari kelas. Itu sebabnya kau tak pernah melihatku."
"Souka.."
"Tapi asal kau tahu. Aku cukup populer setelah Naruto loh... Hahaha"
.
Hinata pov end.
.
.
.
.
.
07.32
Matahari kembali terbit dan gedung sekolah bernama Sma Konoha mulai di penuhi manusia berseragam tapi satu-satu nya hal yang aneh disini adalah.
Hinata menghentikan langkahnya di anak tangga menuju lantai dua.
"Naruto senpai!" Panggil Hinata pada Naruto yang melewatinya begitu saja.
"Huh!" Naruto membuang wajahnya dan melangkah pergi.
"Senpai?" dengan segera Hinata mengejar Naruto dan menghalangi jalannya.
"Apa?" jawab Naruto dingin nan kesal.
"Mengapa senpai terlihat sangat kesal pada saya?" tanya Hinata merasa bersalah. Apa ia telah membuat kesalahan?
Naruto tak menjawab. Ia melihat jelas apa yang gadis ini lakukan semalam di kantin dengan seorang lelaki(berduaan dan saling tersenyum) tapi mengapa ia begini kesal? Entahlah. Yang jelas ia kesal dan tak suka.
"Padahal saya ingin bercerita sesuatu tapi karena mood senpai sedang tak baik, saya rasa tak jad"
"Mengapa kau suka sekali memaksaku?!" sela Naruto meninggikan suaranya tak suka yang membuat Hinata menahan senyumnya. Dia sangat kepo.
"Baiklah, mari kita berbicara di halaman belakang sekolah."
.
.
.
.
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Naruto tanpa menatap Hinata yang terduduk bersebelahan dengannya di tanah yang dilapisi rumput segar nan hijau.
"Umm sebenarnya saya tak tahu bagaimana menceritakannya. Intinya saya harus bersama seseorang yang tak saya suka karena seseorang." Hinata tak tahu mengapa ia mau menceritakan hal ini kepada Naruto. Yang ia tahu hanyalah ia mengatakan hal ini karena ia tak tahu ingin bercerita pada siapa dan ia tahu Naruto tak akan menyebarkan curhatannya kemana-mana.
"Mengapa? Karena apa? Seseorang siapa?" tanya Naruto penasaran.
"Seseorang, anggap saja teman saya. Dia sangat baik pada saya, jadi saya tak bisa menolak permintaannya untuk mengenal seorang lelaki."
"Tapi untungnya saya bisa sedikit menghindar dari permintaannya." tambah Hinata.
"Jadi?" tanya Naruto cepat.
"Ya jadi saat ini kami hanya PDKT." jawab Hinata lucu.
"Itu karena kau bodoh! Mengapa hanya karena dia baik, kau mau menurutinya? Kau memang bodoh. Harusnya kau menolaknya." jelas Naruto tak suka.
"Saya tak bisa. Teman saya mengatakan pada lelaki itu bahwa saya akan menerimanya jadi jika saya menolaknya, teman saya akan di cap pembohong. Dia sangat baik pada saya dan saya tak ingin hal itu terjadi." jelas Hinata apa adanya yang membuat mata Naruto menyipit menatapnya.
"Jadi siapa temanmu itu?" tanya Naruto menuntut jawaban. Ternyata Hinata terpaksa bersama lelaki itu karena menuruti teman jalangnya itu? Jadi sekarang TOLONG katakan manusia mana yang berani memintanya pacaran dengan lelaki yang ia lihat di ruangan osis semalam?!
"Rahasia senpai." jawab Hinata menahan kekehannya. Kepo pun ada batasannya.
"Hei, cepat beritahu aku." paksa Naruto tak senang. Ia akan menghajar manusia yang berani membuat perasannya bercampur aduk karena memikirkan gadis ini.
"Rahakyaahh! Geli senpai! Hahahaha.." Hinata tertawa geli ketika Naruto menggelitik samping badannya.
"Katakan padaku!" paksa Naruto sambil terus mengelelitik atas pinggang Hinata tanpa perduli Hinata terus tertawa kegelian.
"Hahaha.. Tihaha tidak!"
.
.
"Kusara rencanamu gagal Sakura senpai." ucap gadis bernama Shion pada gadis di sebelahnya.
Mereka masih memerhatikan dari jauh dua manusia yang tengah bermain mengelitik dan tertawa itu.
"Itu karenamu. Kau bilang dia tak akan menolaknya." ucapnya tak suka.
"Dia memang tak menolaknya bukan? Mereka PDKT sekarang." jawab Shion tak terima di salahkan. Mereka memang tak mendengar obrolan dua manusia itu tapi karena mereka terlihat sangat akrab sama saja dengan rencana mereka gagal.
Deg
Deg
Tangan Sakura perlahan terkepal atas apa yang masih ia saksikan dari jauh.
Lelaki itu bahkan tak pernah ramah padanya apalagi tertawa seperti itu. Jangankan tertawa. Tersenyum tipis saja tak pernah tapi dengan gadis itu..?
Dadanya terasa memanas sekali.
.
.
.
"Hahah"
"Hai Hinata."
Deg!
Detik itu juga acara menggelitik dua manusia itu terhenti.
Dengan segera mereka memperbaiki posisi duduk mereka dengan berjauhan.
"A.. Ya Sasuke-kun?" Hinata berdiri dan menyapa dengan senyumnya.
"Apa kau sudah makan? Mari kita ke kantin." ajaknya senang seolah tak melihat apa yang terjadi barusan.
"Aa.. I-iya." jawab Hinata mengalihkan lirikannya dari Naruto di belakangnya.
Sasuke tersenyum sebelum mengandeng tangan Hinata dan membawanya pergi.
...
"Cih! Harusnya dia bilang tidak. Dan mengapa harus bergandengan? Merusak suasana saja." umpat Naruto tak senang setelah Hinata menghilang dari matanya.
Sangat menjengkelkan! Hinata hanya boleh mendengar dan menurutinya saja!
Meskipun ia sedikit senang karena tahu bahwa mereka tak pacaran. Uhuk.
"Aku harus memisahkan mereka. Ini sangat menjengkelkan!" Naruto beranjak dari posisi duduknya tapi belum sempat ia melangkah tangannya di tahan oleh seseorang.
Ia menepis tangan itu dan membalikkan badannya, menatap siapa yang menahan tangannya tadi.
"Apa?" tanya Naruto malas tapi gadis yang biasa memasang wajah datar itu malah tersenyum manis padanya.
"Maafkan aku karena sedang bad mood beberapa hari ini. Sebagai permintaan maafku bagaimana jika aku menaktirmu makan?" tawar gadis yang ternyata Sakura senang.
"Kau kira aku tak punya uang? Enyahlah dari hadapanku." usir Naruto sebelum melangkah pergi meninggalkan Sakura yang langsung membeku.
...
"Bagaimana bisa dia melakukannya dengan mudah dan aku tak bisa?" tanya Sakura tak percaya. Naruto bahkan tak melirik padanya.
"Aku mengenalnya dari smp dan mereka baru saja mengenal tiga bulan. Bagaimana bisa dia mencuri perhatian nya dengan mudah? Apa yang special dari gadis itu?"
Apa yang kurang dariku?
Kedua tangan itu kembali terkepal erat. Amarah menguasai dirinya.
Ia sungguh tak percaya ini.
.
.
.
"Woi! Dimana Hinata?" tanya Naruto pada lelaki bernama Sasuke yang tengah sibuk dengan cemilannya di atas meja.
"Sakura membawanya pergi." jawabnya santai.
"Kemana?" tanya Naruto lagi.
"Tak tahu." jawabnya tak perduli.
.
.
.
"Intinya saja. Apakah kau menyukai Naruto?"
Deg!
Hinata tersentak sejenak atas pertanyaan itu. Mengapa senpai ini tiba-tiba menariknya ke toilet dan bertanya hal itu?
"Sa-saya tidak tahu. Kami berteman cukup baik." jawab Hinata apa adanya.
"Kuharap kau tidak menyukainya." ucap Sakura datar tapi terkesan memerintah.
"Karena aku menyukainya dan aku tak suka kau terus di dekatnya." tambah nya yang langsung membisukan Hinata.
...
Apa yang harus Hinata jawab? Ia tak tahu harus berkata apa.
Mengapa rasanya sulit sekali untuk berpikir dengan benar?
...
Beberapa menit menormalkan cara kerja otaknya. Hinata pun tersenyum tipis.
"Kami hanya berteman." jawab Hinata entah jujur atau bohong.
Sakura juga tak tahu apa gadis ini berkata jujur atau tidak tapi ia tak perduli. Ia hanya ingin gadis ini menjauh dari Naruto dan ia akan membuat gadis ini tak punya pilihan selain menjauh dari Naruto apapun alasannya.
"Apa aku bisa mempercayaimu?" tanya Sakura yang lagi-lagi membisukan Hinata sejenak.
"Saya.. Tak pernah berbohong." tapi mengapa hatinya menolak fakta ini?
"Gunakan kata teman dan dia tak akan bisa menolakmu."
"Kita teman bukan?" tanya Sakura dan Hinata mengangukkan kepalanya meskipun hatinya kembali menolak mengatakan iya.
"Jadi, maukah kau membantuku?" tanya Sakura sambil menepuk pelan kedua pundak Hinata.
..
Hinata mengangguk sekali lagi tanpa mengalihkan matanya dari mata Sakura. Ia bahkan tak berkedip karena tak ingin Sakura menggapnya berbohong tapi bagian mana yang ia bohongi?
Entahlah, ia tak bisa berpikir dengan benar saat ini.
"Bisakah...-
.
.
-kau membantuku mendekati Naruto?" pinta Sakura sambil menunjukan senyum tipis tulusnya.
Deg
Mengapa rasanya sakit?
...
Tapi Hinata kembali menganggukan kepalanya dan membalas senyuman tipis itu.
"Ten-tentu saja saya akan membantu. Kita, kan teman."
.
.
.
.
.
To be continue...
.
.
.
Ups..
Baguslah kalau kalian suka ini.
dan ohh ada yg tahu mengapa Hinata mau membantu sakura padahal sebenarnya dia bisa mengatakan tidak dengan banyak alasan?
dan apa yang aneh dari percakapan Hinata dan Sasuke di kantin?
Yapp.. Alasannya akan terbongkar setelah kejadian besar.. Jreng jreng.
Moga suka.
Moga bagus.
Bye Bye..
