Disclaimer : demi apapun, naruto bukan punya saya, punya masashi sensei, aku hanya pinjam saja.

.

.

Stupid or Kind?

.

(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)

.

Stupid or Kind by author03

Uzumaki Naruto x Hinata Hyuga.

Romance\Drama

.

.

.

Please.. Dont like dont read.. Thanks.

.

.

Chapter 9

.

.

.

07.43

Matahari kembali terbit. Suara-suara mulai terdengar dari gedung bernama Sma konoha. Keadaan masih sama dengan hari-hari sebelumnya kecuali..

"Pagi Naruto." senyum menghiasi wajah gadis bersuai pink itu ketika dirinya mensejajarkan langkahnya dengan Naruto yang baru saja menaiki tangga menuju lantai 2.

Tak biasanya gadis ini sok ramah padanya.

Manusia yang di sapa menghiraukan sang penyapa sambil terus melanjutkan aksi jalannya.

Asal kau, Haruno Sakura tahu. Saat ini Naruto ingin gadis bernama HYUUGA HINATA menyapanya bukan yang lain!

Sakura terus bertahan pada senyum nya ketika menghalang jalan Naruto.

"Naru"

"Jangan tersenyum padaku dan berbicara padaku apalagi menyapaku. Kau membuat ku kesal!" sela Naruto kesal yang langsung memudarkan senyum di bibir Sakura.

Tanpa sepatah kata lagi, ia pun melangkah pergi guna menahan rasa bercampur aduknya.

"HYUUGA HINATA!" panggil Naruto kesal. Persetan dimana manusia itu saat ini. Yang jelas Naruto ingin manusia itu di sini detik ini juga.

Persetan juga dengan para-para manusia yang terkejut dengan suaranya maupun menatap nya bertanya-tanya. Ia ingin Hinata saat ini juga!

Deg!

Dengan segera sang pemilik nama kembali bersembunyi di balik dinding. Bagaimana ini? Sakura senpai melarangnya dekat dengan Naruto.

"HYUUGA HINATA!"

Tapi mau tak mau Hinata pun muncul dari tempat persembunyian nya tadi dan berlari menghampiri Naruto.

"Ha-ha'i senpai?" Naruto menatap Hinata yang kini berdiri tepat di hadapannya.

"Kau kemana? Mengapa Sakura terlebih dulu menyapa ku daripadamu?!" tanya Naruto tak suka.

"Umm.." Hinata tak tahu harus menjawab apa.

Dan jika kita melihat dari sisi lain. Terlihat seorang gadis bersurai pink kini menempati tempat persembunyian Hinata tadi.

"Dia terlihat seperti anak kecil pada Hinata." batinnya berkata entah dengan nada apa.

Deg

.

.

"Senpai?" Hinata membeku sejenak ketika Naruto membalikkan badannya dan menempel ke punggungnya.

"Anggap saja aku sedang mengidam, sekarang angkat aku ke atas." Naruto mengeratkan kedua tangannya di leher Hinata. Mengapa perasaannya aneh sekali hari ini? Ia sedang sangat bad mood tapi ia malah ingin bermanja pada Hinata. Ia pasti sudah gila.

...

Hinata tak tahu bagimana cara mengatakannya tapi mengapa rasanya nyaman sekali di dekat lelaki ini?

"Ta-tapi senp"

"Bla bla bla. Cepat jalan." kaki Naruto melangkah yang membuat kaki Hinata turut melangkah mau tak mau.

Kedua tangan Hinata mengengam lembut lengan Naruto di lehernya. Naruto tetap terasa berat meskipun Hinata tak sungguh mengendongnya.

Ia berjalan dengan menyeret Naruto yang turut berjalan.

.

.

"Umm,, Naruto senpai?" panggil Hinata sambil terus menatap ke sepatu hitamnya. Nafas Naruto di dekat pipinya sungguh membuatnya merasa geli dan hangat.

"Ap"

"Hinata.."

Deg!

Untuk ke dua kalinya. Kedua manusia itu menjauh dalam waktu satu detik.

"Aa.. Iya Sasuke-kun?" sapa Hinata dengan senyum nya, mengabaikan kejadian yang baru saja terjadi dan ternyata lelaki bernama Sasuke itu juga berpura-pura tak melihat apapun.

"Mari kita ke kantin." ajak Sasuke dengan senyumnya yang di balas anggukan kecil oleh Hinata.

"Aa.. Senpai, saya pergi dulu." Hinata berlalu pergi mengekori Sasuke dengan melewati Naruto yang langsung memasang wajah tak suka nya.

"Ha?! Tidak tidak." ia kembali pada wajah normalnya ketika Hinata menghilang dari matanya.

"Mengapa aku malah menjadi kesal dan sedih begini?" ia menggeleng kepalanya tak mengerti.

Tapi perhatiannya seketika teralih pada sebuah kertas kecil yang entah sejak kapan di genggam tangan kirinya.

Temui aku di belakang sekolah setelah kelas selesai.

Isi surat itu.

Oh, Naruto ingat. Hinata menyelipkan sesuatu ke tangannya tadi sewaktu hampir melewatinya tapi mengapa dia ingin di temui sepulang sekolah?

"Apapun itu. Hmm.. Apa boleh buat?" Naruto menaikan kedua pundaknya, berpura-pura acuh dan melangkah pergi.

.

.

.

13.32

...

Terlihat seorang gadis bersurai pink melangkah menuju belakang sekolah. Ia terlihat sedikit ragu tapi keraguan itu tak berhasil menghentikan langkahnya.

"Senpai akan berada di belakang sekolah setelah kelas selesai."

Langkah gadis yang ternyata Sakura itu berhenti ketika ia melihat Naruto terbaring di tanah dengan alas rumput hijau nan segar di dekat pohon. Apakah dia sedang tidur? Matanya terpejam.

"Duduk di sebelahnya dan jangan bersuara." Sakura langsung menuruti suara itu.

"Panggil dia."

"Naruto.." Sakura memanggil dengan pelan dan hanya cukup sekali memanggil, mata itu terbuka dan menatapnya.

"Mengapa kau disini?" tanya Naruto terkejut setelah mendudukan dirinya dengan melipatkan kedua kakinya.

"Mengapa aku tak boleh disini?"

Sakura mencopy suara yang baru saja ia dengar dengan menganti kata 'saya' ke 'aku'

"Dimana Hinata?" tanya Naruto tak suka. Ia menunggu Hinata tapi mengapa malah manusia ini yang muncul?

"Sebenarnya aku yang memintanya memberikan kertas itu padamu." ucap Sakura jujur.

"Untuk?"

"Tidak ada.. Aku hanya ingin kau disini dan temani aku." jawab Sakura dengan senyum lucunya.

"Aku tak punya waktu untuk ini." Naruto beranjak dari tempatnya tapi dengan cepat Sakura menahan tangannya.

"Temani aku sebentar. Ya?" pujuknya ketika Naruto menatapnya tak suka.

"Lagipula kau kan hanya perlu duduk disini. Aku tak akan menganggumu. Biasanya kau pun memang terbaring disini." tambah Sakura tak suka tapi terkesan manja.

"Ka"

"Baiklah baiklah. Kau cerewet sekali." mau tak mau Naruto pun kembali terduduk pada tempatnya tadi. Gadis ini tiba-tiba bersikap aneh dan itu sangat menakutkan.

"Terima kasih.."

"Hah?! Apa yang kau katakan?" tanya Naruto sambil menatap Sakura dengan wajah bertanya. Apa yang baru saja dia bisikkan?

"Rahasia. Hehe.." jawab Sakura lucu.

Dia..

Naruto membeku sejenak sambil terus mengamati wajah Sakura.

"Mengapa dia terasa seperti Hinata?"

.

.

.

Klik.

Sambungan itu terputus.

Gadis di balik dinding itu mencopot earphone di kedua telinganya setelah menyandarkan punggungnya ke dinding di belakangnya.

"Harusnya aku tak melakukan ini." gadis yang adalah Hinata itu berjongkok sambil menutup wajah frustasinya. Bukan menyesal karena membantu gadis itu tapi menyesal karena membuat gadis itu tak menjadi dirinya sendiri hanya..

Hanya..

Karena cinta.

"Tapi dia menginginkannya." inner Hinata berkata seolah tak memiliki pilihan lain.

"Apapun caranya. Dekatkan aku dengan dia. Bagaiamana dan apa yang selalu kau lakukan didekatnya. Cukup katakan padaku. Aku akan melakukan apapun agar kami bisa dekat." ucapan Sakura kembali melintasi kepalanya.

Satu tangan Hinata menekan dadanya yang terasa semakin berdenyut.

"Tapi.."

Deg

"Mengapa rasanya sakit?"

.

.

.

.

07.21

"Hinata!"

"Naruto." lebih cepat dari kilat, Sakura telah menghalang jalan Naruto sedangkan Hinata yang langsung melangkah menjauh, berpura-pura tak mendengar suara kesal yang baru saja meneriaki namanya.

"Maaf senpai." innernya berkata.

Setelah kau berbuat sesuatu. Kau harus menyelesaikan pekerjaan itu karena tak ada kesempatan untuk kembali.

.

"Ada apa lagi?" Tanya Naruto menahan kesalnya pada gadis yang kembali mengganggunya. Apa kurang ia telah berbaik hati dan terduduk dengannya selama berjam-jam semalam?!

"Tidak ada. Kalau begitu aku pergi dulu." Sakura menepuk punggung Naruto dan berlari pergi dengan senyumannya.

.

"Setelah senpai tahu, dia pasti akan marah dan mencari Sakura senpai. Cuk"

"Aku mengerti. Terima kasih." sambungan itu di akhiri sepihak.

.

.

Hinata kembali mencopot earphonenya dan memasukkannya ke saku roknya.

Itu bukan rencana Hinata, percayalah. Apa yang ia lakukan disini hanyalah membuat Naruto terpikat pada Sakura tapi siapa sangka?

Gadis itu malah memutuskan sambungan sebelum dirinya sempat berkata apapun?

.

.

.

"Sakuraaaaaa!" pandangan Sakura langsung menoleh ke asal suara nyaring itu.

"Berani sekali kau!" Naruto meremukkan kertas bertulisan 'aku gila' yang ia dapat dari punggungnya dan berlari mengampiri Sakura dengan niat mencekiknya tapi langkahnya berhenti ketika.

"Itu bukan aku!" Sakura langsung berlari pergi.

Biasanya otak nya lah yang berkata tapi kini hatinya berkata.

"Hari ini dia terasa berbeda."

Semalam dia bahkan bisa membuat Naruto mengira bahwa dia adalah Hinata tapi kini perasaan itu menghilang.

.

.

"Senpai harusnya tertawa canggung dan mengatakan hanya bercanda."

.

.

.

.

"Naruto!"

Lagi dan lagi

Lagi dan lagi

Seminggu full ini rasanya peran Hinata tergantikan oleh wakil nya ini.

Rasanya sangat aneh. Terkadang dia seperti Hinata dan terkadang dia bukan.

Ini sangat membingungkan dan apa yang lebih membuatnya frustasi atau tak sadar adalah ia sudah tak berbicara pada Hinata ASLI selama hampir dua minggu!

Bagaimana mungkin?!

Mengapa ia tiba-tiba sadar sekarang?

Bagaimana bisa ia selalu merasa bahwa gadis ini adalah Hinata dan terkadang bagaimana bisa rasanya dia bukan Hinata? Mengapa rasanya ada dua jiwa di satu tubuh itu?

Ini sangat aneh.

"Pergi dari sini. Aku tak mau melihatmu." perintah Naruto dengan penuh kebingungan ketika Sakura berdiri di hadapannya.

"Aa.. Ma-maaf jika aku menganggu. Aku tak bermaksud begitu." Sakura membalikkan badannya dan melangkah pergi tapi Naruto menahan tangannya.

Sakura tak akan pernah pergi sebagaimana Naruto mengusirnya.

Dia adalah Hinata.

Mengapa bisa? Jelas-jelas dia adalah Sakura.

Mengapa bisa hal kecil ini membuat dirinya di landa kebingungan?

"Tidak tidak. Aku hanya sedang kesal." Naruto menjauhkan tangannya ketika Sakura menatapnya.

"Tersenyumlah maka kekesalanmu akan hilang." Sakura memamerkan senyum gigi rapi berderetnya dan lagi-lagi membuat Naruto merasa bahwa gadis ini adalah Hinata.

.

.

.

Klik

Panggilan itu kembali di akhiri dan earphone kembali lepas dari telinga itu.

Semakin hari, rasa bersalah semakin memenuhi dirinya tapi apa yang bisa ia lakukan? Ia tak bisa menghentikan peran ini sekarang.

"Ini lebih sulit dari yang ku kira.."

Parahnya lagi Sakura sama sekali tak ingin mendengar sarannya untuk menjadi dirinya sendiri. Dia merasa semuanya sudah benar.

Benar untuknya tapi tidak untuk orang lain dan dia tak mengerti, tepatnya tak mau mengerti hal itu.

Dia terlalu senang atas kedekatan itu. Memang kedekatan itu tak seberapa tapi setidaknya jauh lebih baik daripada saat Hinata belum membantu nya.

.

.

.

"Um, Naruto. Besok minggu, apakah kau ada acara?" tanya Sakura menganti topik pembicaraan.

"Banyak. sangat banyak. Sangat sangat banyak hingga aku tak bisa menghitungnya." jawab Naruto cepat, ragu dan takut bercampur aduk di dirinya.

"Kau pasti bohong, kau tak akan pernah punya acara. Bisakah temani aku keluar besok?" tanya Sakura dengan senyumnya dan lagi-lagi Naruto kembali di landa kebingungan.

Baru beberapa menit lalu dia seperti Hinata dan kini dia berubah lagi.

Dimana Hinata harusnya menjawab 'baiklah kalau begitu, maaf' dengan senyum manisnya dan Naruto akan menerima tawarannya itu tapi gadis ini berubah menjadi orang lain lagi.

Dia Sakura tapi Sakura tak pernah seramah ini padanya.

Dia Hinata tapi terkadang dia bukan Hinata dan juga bukan Sakura.

Siapa gadis ini sebenarnya?

Baiklah, Naruto bisa mengerti jika gadis ini berubah menjadi ramah tapi sikap dan cara bicaranya yang seperti Hinata seolah dia adalah Hinata?

Bagaimana cara otaknya menjelaskan hal itu?

Ia tak mengerti.

Gadis ini terlalu aneh dan dirinya yang entah dengan alasan apa tak berani bertanya.

Semua ini terlalu membingungkan untuk otak bahkan hatinya.

Tapi ia malah tersenyum.

"Baiklah, mari kira pergi besok." meskipun dengan semua keanehan itu. Kenyamanan dan rasa menenangkan tetaplah pernah menginap di hatinya sesekali ketika ia tengah bersama replika Hinata ini.

Sakura membalas tersenyum.

Perlukah ia katakan betapa bahagianya ia sekarang?

Tiga minggu ia berusaha, akhirnya Naruto memberinya senyuman yang ia inginkan selama ini!

.

.

.

.

13.21

"Maaf merepotkan Sasuke kun." Hinata masuk ke dalam mobil dan Sasuke pun menutup pintu mobilnya itu.

Hari ini Naruto dan Sakura akan pergi berkencan, begitu juga dengan dirinya dan Sasuke. Tujuan mereka mungkin berbeda. Entahlah, karena mereka juga tidak janjian tapi tetap saja Hinata memiliki tugas yang tak bisa ia tinggal.

.

.

.

"Mengapa kau tersenyum terus?" tanya Naruto ngeri pada Sakura yang terus melangkah di sebelahnya.

"Tidak ada."

.

Hinata mendengar jelas pembicaraan singkat itu. Ia bisa merasakan betapa bahagianya Sakura saat ini.

Ia turut mengangkat sudut bibirnya.

Baguslah..

"Lagu apa yang tengah kau dengar, Hinata?" tanya Sasuke penasaran pada senyum tipis Hinata dan earphone yang setia menemani telinganya sedari tadi.

"Tidak ada. Umm.. Omong-omong kita mau kemana?" Hinata menganti topik pembicaraan.

"Taman."

.

.

.

"Sebenarnya apa yang bagus dari taman ini?" tanya Sakura tak mengerti sambil ikut mendudukan dirinya ke bangku besi panjang disebelah Naruto.

"Tidak ada." mata Naruto menatap tinggi ke atas. Hanya saja semenjak ia mengenal seseorang, taman ini selalu mengingatkannya pada orang itu. Dimana dia selalu berkata dan Naruto selalu menjadi si pendengar.

Mereka terkadang bercanda. Naruto marah tapi dia malah tersenyum.

Meskipun tiga minggu ini kejadian itu tak lagi terulang, Naruto merasa ada, dengannya gadis ini. Gadis aneh yang tiba-tiba berubah dan bahkan mirip dengan dia.

Ia bahkan hampir tak pernah bertanya soal hal ini tapi mengapa Hinata terasa seperti sedang menjauhinya? Dan mengapa gadis ini selalu muncul ketika ia ingin mendekati Hinata? Bukannya ingin berpikiran buruk tapi ini terlalu mencurigakan.

Apa jangan-jangan aahh.. Lupakanlah.

"Sejujurnya ini tak begitu buruk." Sakura menyandarkan samping kepalanya ke lengan Naruto, berharap Naruto tak akan memprotes hal ini.

Sedangkan Naruto tak memprotes terus menatap lurus ke depan.

Ia bahkan tak tahu bagaimana dan kapan ia begini dengan dengan Sakura. Yang ia tahu hanyalah gadis ini membuatnya bingung dan membuatnya tak bisa bahkan tak punya kesempatan untuk menjauh sama seperti dirinya tak bisa menjauh dari Hinata entah dengan alasan apa.

Naruto memiringkan kepalanya dan menyandarkan kepalanya ke pucuk kepala Sakura. Otaknya terlalu lelah untuk hal aneh yang tiba-tiba ini.

Tapi..

.

Deg

Deg

Deg!

Senyum tak kunjung hilang dari bibir Sakura.

Ia tak tahu bagaimana bisa dan sejak kapan ia jatuh hati pada lelaki ini tapi yang ia tahu semuanya baik-baik saja sebelum gadis bernama Hinata itu mendekati Naruto tapi setidaknya kini hal itu sudah berhasil ia ambil alih.

Naruto miliknya. Ia tak ingin Naruto dekat dengan perempuan manapun kecuali dirinya.

Sakura memejamkan matanya, senyum kian memanjang di bibirnya menandakan ia sangat bahagia saat ini.

.

Tapi mengapa rasanya ada yang aneh?

Mengapa Naruto mendengar suara Hinata?

Memang terdengar samar-samar tapi suara itu ada.

Mata Naruto melirik ke arah Sakura. Suara itu berasal dari telinga Sakura?

.

.

Entah keberuntungan atau kebetulan. Hinata muncul jauh di depannya dengan seorang lelaki tapi lelaki itu melangkah pergi entah kemana.

"Aa.. Sakura, tunggu sebentar disini. Aku akan kembali." dengan secepat kilat Naruto berlari pergi.

...

"Hinata, sudah dulu ya. Aku bisa mengurus sisanya sekarang." Sakura segera menekan tombol merah pada layar ponsel yang baru saja ia keluarkan dari tas kecilnya.

Ia tak ingin ada yang menganggu kencannya.

.

.

.

"Ha'i Sakura sen"

Grap!

Ucapan Hinata terpotong ketika seseorang tiba-tiba menarik kuat lengannya hingga dirinya berbalik.

"Sakura?

Deg!

Detik itu juga badan Hinata membeku.

"Na-naruto senpai?!"

Tanpa berkata apapun, Naruto merebut ponsel di tangan Hinata.

Ia melihat kontak Sakura lah yang bercetak di bagian atas list panggilan.

"Jadi ternyata benar dugaanku."

Deg!

.

.

.

.

To be continue.

.

.

.

.

Balas review

More love you : sebenarnya cerita author itu sama semua. Hahaha. Bedanya hanya karena sikap pemerannya berbeda, jadi ceritanya sedikit terkesan berbeda. Mungkin. Hehe

.

antiy3629 : sudah ketahuan kok :v

.

lasminist1 : gak di manfaatkan kok. Orang dia minta baik2 ya meskipun terkesan memaksa.

.

Guest : hehe. Sepertinya kamu sering baca fic author ya? Okok.. Next nya biar gak sering-sering Shion jadi jahat. Hehe..

.

RaTiZa : nanti juga ketahuan di akhir cerita :v

.

Nico Andrian : lope you too ^^

.

DandiDandi : thank you ^^

.

Kamvang : tq sarannya. Biasa kalau alurnya udh kecepatan, Itu artinya author udh gak sabar buat fic baru. Hehe.. Akan author usahakan lebih bagus lagi. Terkadang author gk sadar dimana salahnya sebelum membaca ulang.. Hehe.. Thank you

.

.

Moga makin bagus dan moga makin suka.

Maaf kalau gak cukup memuaskan ataupun hal lainnya.

Bye bye..