Disclaimer : demi apapun, naruto bukan punya saya, punya masashi sensei, aku hanya pinjam saja.

.

.

Stupid or Kind?

.

(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)

.

Stupid or Kind by author03

Uzumaki Naruto x Hinata Hyuga.

Romance\Drama

.

.

.

Please.. Dont like dont read.. Thanks.

.

.

Chapter 10

.

.

.

"Ha'i Sakura sen"

Grap!

Ucapan Hinata terpotong ketika seseorang tiba-tiba menarik kuat lengannya hingga dirinya berbalik.

"Sakura?"

Deg!

Detik itu juga badan Hinata membeku.

"Na-naruto senpai?!"

Tanpa berkata apapun, Naruto merebut ponsel di tangan Hinata.

Ia melihat kontak Sakura lah yang bercetak di bagian atas list panggilan.

"Jadi ternyata benar dugaanku."

Deg!

"Sen-senpai." panggil Hinata terbata-bata. Apa yang harus ia katakan agar rahasia ini tak terbongkar?

"I-ini tak seperti yang senpai piki"

"Ini alasannya mengapa dia terasa mirip denganmu. Mengapa kau lakukan ini?" sela Naruto tak percaya bahwa gadis ini tega mempermainkannya.

"Tidak senpai. Saya tadi tak sengaja menekan nomor Sakura senpai. Sungguh." bohong Hinata berharap Naruto mempercayainya.

"Kau bohong. Padahal aku mempercayaimu dan kini kau menghianati ku. Hah?!" ucap Naruto tak suka. Apa yang sering gadis ini ceritakan soal kepercayaan? Dan kini dia malah berbohong padanya?

Hinata terdiam tak menjawab. Ia sudah berjanji pada Sakura untuk tak mengatakan apapun.

Tap

Hinata tersentak kaget ketika kedua tangan Naruto mendarat di pundaknya yang di ikuti oleh tatapan matanya dari jarak dua jengkal di hadapan wajahnya.

"Memang benar kata orang bahwa manusia hanya pandai berbicara."

Deg!

Hinata menelan kembali omongannya yang tak sempat keluar. Kepalanya sedikit menunduk guna menghindari tatapan Naruto.

...

"Intinya saya hanya ingin Naruto senpai dekat dengan Sakura senpai." Hinata berucap beberapa menit kemudian dengan sekali tarikan nafas. Ia bahkan tak tahu ini kebohongan atau kejujuran.

"Mengapa?" tanya Naruto lagi.

"Ka-karena"

"Biar ku tebak. Karena kau sibuk dengan pacar tak jadimu itu jadi kau mengunakan Sakura untuk mengalihkan perhatianku agar aku tak bisa mengganggu mu, iya kan?" Sela Naruto yang membuat Hinata menatapnya terkejut.

"Ti-tid"

"Aku tak menyangka ternyata kau bisa memanfaatkan orang. Ternyata tak sia-sia aku mengajarimu selama ini." Naruto tersenyum dan mengelus bangga pucuk kepala Hinata. Ternyata gadis ini bisa memanfaatkan orang lain. Dia sudah mulai pintar.

"Asal kau tahu saja. Aku bahkan sempat berpikir kau sudah mati dan jiwa mu itu masuk ke tubuhnya." tambah Naruto ngeri dan lucu. Tapi Hinata tak perlu melakukan semua itu karena Naruto akan tetap mengganggunya apapun yang terjadi.

"Tap-tap"

"Ayo, kita ke tempat lain. Aku tak ingin pacar tak jadimu itu menganggu ku." Naruto menarik pergi Hinata dengan cara menarik pergelangan tangannya tapi Hinata menahan badannya agar tak bergerak dari posisinya.

"Senpai tak bisa meninggalkan Sakura senpai begitu saja." kepala Hinata tertunduk. Tugasnya belum selesai dan kini semuanya sudah hampir terbongkar atau tepatnya di bumbui kesalahpahaman. Bagaimana cara melurusi hal ini?

"Biarkan saja. Lagipula selama ini kan aku bersamamu yang ada di dalam dirinya bukan dengannya, jadi mengapa aku harus perduli padanya?" jawab Naruto dengan santai nya. Yang ia tahu selama ia bersama Sakura, apa yang bersamanya dan membuatnya nyaman adalah sikap Hinata di gadis itu bukan karena gadis itu.

"Wah.. Aku sungguh tak menyangka kau begitu memikirkan ku hingga rela selalu mengintruksi gadis itu agar menjadi mirip sepertimu." ucap Naruto tak percaya. Dia terdengar sangat girang.

"Ta-tapi sen"

"Diam dan cepat kabur. Pacarmu itu sudah di depan mata." dengan segera Naruto menarik pergi Hinata tanpa niat membiarkan Hinata lolos ataupun tak ikut dengannya.

...

?

"Hina..?"

"Dimana dia?" mata hitam itu mengamati sekitar tapi ia tak melihat siapa yang ia cari dan ia malah melihat..

"Sakura.."

.

.

"Sakura senpai menyukai senpai." Ucap Hinata setelah menepis pelan tangan Naruto dan menghentikan langkahnya.

"Apa?" Naruto membalikkan badannya dan menatap bertanya pada Hinata.

.

.

.

.

.

"Saya akan berkata jujur. Sakura senpai menyukai senpai. Itu sebabnya saya menjauhi senpai dan membantunya mendekati senpai." Hinata rasa mungkin berkata jujur dengan menghilangkan beberapa kata akan bisa menjelaskan hal ini pada Naruto.

"Dia meminta mu?" tebak Naruto tepat pada sasaran.

"Ti tidak. Sa"

"Aku mengenalnya lebih lama darimu dan aku juga mengenalmu. Aku bisa menebak apa yang dia lakukan dan aku bisa menebak apa yang kau pikirkan." sela Naruto dengan mata menyipitnya dan langsung membungkam Hinata.

...

"Baiklah, Sakura senpai meminta tolong dan saya merasa sangat senang membantunya." ucap Hinata jujur dan lagi-lagi di ganti beberapa kata.

"Ini ketiga kalinya kau berbohong dalam waktu kurang dari satu jam." Hinata lagi-lagi terbungkam.

"Sakura senpai mengatakan dia menyukai senpai dan Sakura senpai meminta bantuan saya karena senpai merasa ki-kita lumayan dekat? Dan saya rasa saya tak punya alasan untuk tidak membantunya?" lagi-lagi Hinata ragu ini kejujuran ataupun ketidakjujuran.

"Dan kau membantunya karena kau merasa rencanamu akan berhasil karena kita 'dekat'?" Naruto menekan kata dekat entah dengan nada apa.

"Saya rasa saya memang hampir berhasil?" jawab Hinata ragu sambil memainkan jari telunjuk nya di depan perutnya dengan kepala tertunduk.

Sudut bibir Naruto terangkat sinis. Baiklah, jujur saja bahwa dirinya memang mungkin sudah termakan oleh rencana mengerikan Hinata yang baru saja ia ketahui ini.

"Saya mohon. Bisakah senpai berikan kesempatan pada Sakura senpai?" Hinata memohon penuh harap.

"Tidak. Dia harus diberi pelajaran karena telah memanfaatkanmu selama tiga minggu ini." jawab Naruto bertahan pada pendiriannya.

"Ta-tapi senpai tidak memanfaatkan saya. Saya memang ingin membantunya." jawab Hinata jujur.

"Mengapa? Mengapa kau mau membantunya?" tanya Naruto memastikan.

"Ka..karena dia berani meminta langsung tanpa banyak basa-basi?" jawab Hinata. "Meskipun menyakitkan." innernya melanjutkan.

"Tapi setidaknya dia tidak munafik dengan berpura-pura baik didepan saya. Jadi sa-saya hanya merasa harus menghargai orang seperti nya " tambah nya jujur.

"Tetap tidak." sejujurnya Naruto tak tahu harus menjawab apa tapi ia tetap pada pendirian nya.

"Mari kita pergi." ia kembali menarik Hinata pergi dan Hinata langsung menahan badannya.

"Senpai harus kembali ke Sakura senpai." ucap Hinata seolah berharap.

"Kau sangat keras kepala Hyuuga. Baiklah, aku akan memberinya kesempatan. Mari kita membuat kesempatan." Naruto mengulurkan satu tangannya yang membuat Hinata menatap tangan sebelum kembali menatap wajahnya.

"Mari kita membuat kesepakatan. Jika Sakura berhasil menemukan ku dan tak marah soal aku yang meninggalkannya. Aku berjanji akan berbaik hati padanya tapi jika tidak, jangan berani lagi kau membantu manusia seperti itu dan kau harus terus berada di dekatku setiap saat aku memerlukanmu." tawar Naruto.

"Baiklah." Hinata memasang senyum manisnya, terlihat sangat senang dan kecewa secara bersamaan sebelum tangannya meraih tangan Naruto. Ia hanya perlu menelepon Sakura dalam diam dan tugasnya selesai. Ia bahkan tak tahu apakah hal yang ia lakukan ini salah atau benar tapi apa yang bisa ia katakan? Sudah terlambat untuk menyesalinya.

"Baiklah." Naruto turut tersenyum, bukan manis melainkan sinis. Entahlah apa yang sedang dia pikirkan.

"Kalau begitu mari kita pergi." ajak Naruto

"Kemana?" tanya Hinata.

"Entahlah, entah mengapa sesuatu di dalam diriku terus saja berkata 'aku ingin menghilang denganmu'" ucap Naruto tak mengerti yang membuat Hinata menahan senyumnya.

"Senpai jujur sekali." jawab Hinata lucu.

"Biarkan saja. Lagipula kau kan bodoh, kau tak akan mengerti apapun yang aku katakan." balas Naruto sinis. Ia sendiri bahkan tak mengerti mengapa ia kecewa karena respon singkat Hinata beberapa detik lalu.

"Kalau begitu bagaimana jika kita nonton saja?" tawar Hinata. Mungkin hari ini akan menjadi hari terakhir dirinya bisa bersama lelaki ini dan anggap saja kebersamaan singkat ini sebagai permintaan maaf karena telah menipu nya selama tiga minggu. Hinata tahu permintaan maaf ini tak cukup tapi hanya ini yang bisa ia lakukan. Meskipun masalahnya dan Naruto bisa di katakan hampir selesai, tetap jangan lupakan bahwa ia telah mengingkari janjinya pada Sakura sebanyak dua kali. Selain membocorkan rahasia mereka, ia kembali dekat dengan Naruto. Sakura pasti akan kecewa padanya..

.

.

.

.

"Tapi harusnya senpai memikirkan saya juga. Dengan teganya senpai membuat saya berbohong secara berkali-kali dan mengingkari janji saya lebih dari satu kali." bibir Hinata memanjang sejenak.

"Itu salahmu! Siapa suruh kau kepo! Sok jadi mak comblang." Marah Naruto tak terima di komplain.

"Tapi kan.. Manusia itu harus saling mengerti." jawab Hinata berharap.

"Suruh saja Sakura mengerti. Aku ogah." jawab Naruto sinis yang membuat Hinata menatapnya.

...

Hinata menghentikan langkah kakinya di tengah-tengah keramaian di dalam mall besar yang langsung di ikuti oleh Naruto.

"Senpai jahat sekali." bibir Hinata memanjang. Kasar sekali ucapannya, meskipun dia memang sering begitu tapi tak bisakah sehari saja dia lebih lembut?

"Oh, tak apa. Jahat boleh asal tak bodoh." jawab Naruto cepat.

"Senpai tahu jahat itu salah tapi masih melakukannya jadi yang bodoh disini siapa?" Mata Naruto melebar seketika akan pojokan Hinata barusan. Siapa yang mengajarinya berbicara begitu?

"Kau.." geram Naruto yang malah membuat Hinata menahan tawanya.

"Hahaha.. Bukan saya yang mengatakannya." Hinata langsung berlari pergi dengan flatnya yang malah membuat Naruto terdiam.

Tap

Langkah Hinata berhenti di langkah kelima. Ia membalikkan badannya dan menatap Naruto dengan senyum lucunya...

Dia meniru Sakura.

Naruto menyaku kedua tangan ke saku celana jeansnya tanpa mengalihkan matanya dari wajah Hinata.

"Kau bisa belajar itu tanpa di ajar tapi mengapa malah tak mengerti ketika aku mengajarimu?" tanya Naruto tak suka sambil melangkah menghampiri Hinata.

"Hehe.. Apakah tadi senpai merasa bahwa jiwa Sakura senpai masuk ke tubuh saya?" tanya Hinata dengan nada humor yang malah membuat Naruto menatapnya semakin tak suka.

"Apa kau mengejekku?! Berani sekali kau! Kemari kau bodoh!" Naruto mengejar Hinata yang langsung berlari setelah jari telunjuknya menunjuk kesal wajah Hinata.

"Hahaha.. Gomenasai."

.

.

.

.

16.21

"..." Hinata mengangkat wajahnya hingga menatap ke langit-langit yang gelap, melebarkan matanya sekali yang kemudian berkedip dan kembali menatap lurus kedepan, tepat nya ke layar besar di depannya dengan jarak beberapa kursi.

Naruto yang terduduk disebelah Hinata mengeleng kepalanya, kehabisan kata-kata.

Flashback.

.

.

"Hahaha.. Gomenasai."

"Maaf, mohon jangan berlari-lari disini karena lantai ini sangat licin."

Baru saja mendapat peringatan, flat tak berlompromi itu langsung meleset kencang yang menyebabkan sang empu terpeleset dan berakhir dengan badannya menindih lantai, parahnya hidung mencungnya turut menghantam kuat lantai licin itu.

"Astaga!" Naruto terpekik kaget pada Hinata yang baru saja mendudukan dirinya dan menyentuh keningnya pelan. Dia terlihat bingung. Sejujurnya itu lucu tapi hei! Bukan saatnya tertawa. Hidungnya berdarah!

"Hinata. Hidungmu berdarah!"

.

.

Flashback end.

Tapi saat ini bukan itu yang Naruto perhatikan saat ini.

Saat ini yang Naruto lihat bukankah tangan mungil itu menjepit hidungnya yang sudah tersumbat tisu melainkan melihat sedikit cairan putih di kedua mata indah itu.

Apakah dia begini sedih hanya karena film itu?

Hanya karena sang gadis pemain utama menangis frustasi pada diri lemahnya yang terkena kanker?

Naruto bahkan sama sekali tak tersentuh dengan adegan itu.

Tangan Naruto meraih popcorn di kotak ukuran besar ditangan Hinata begitu juga dengan Hinata secara bersamaan yang membuat kedua tangan itu saling bersentuhan.

Deg!

Wajah Hinata menoleh secara reflek ke arah sang pemilik tangan yang tanpa ia sadar masih saja menatapnya sedari tadi.

.

.

.

.

"Yap. Bisa kita simpulkan bahwa mereka berdua memang pergi bersama-sama." setelah tiga jam, akhirnya mulut lelaki itu pun kembali bersuara.

Mereka berdua sedari tadi terduduk di bangku panjang ditaman dan menunggu kehadiran dari orang yang keluar bersama mereka tadi tapi sayangnya sampai sekarangpun kedua batang hidung mereka sama sekali tak nampak.

Gadis bernama Sakura itu tak menjawab. Karena sangat kebetulan Sasuke mengatakan dia datang dengan Hinata dan lelaki yang bersamanya tadi adalah Naruto. Ia tak meragukan apa yang telah dan kembali di ucapkan oleh Sasuke.

Deg

Deg

Tega sekali Naruto meninggalkannya. Dan Hinata.

Padahal dia sudah berjanji. Mengapa dia malah menghilang dengan Naruto tanpa mengabarinya sedikitpun?

Dadanya terasa sakit sekali. Ia masih tak percaya bahwa Naruto pergi begitu saja. Jadi apa yang ia lakukan selama ini untuknya?

Apakah dia menganggapnya tak berarti?

Apakah dia sama sekali tak memikirkan Sakura?

"Sebenarnya sebagai seorang gadis. Hinata tidaklah begitu buruk. Dan sebagai orang asing, bukankah dia sangat baik ingin membantumu? Tidakkah kau harus menghentikan rencana mu itu?" Sasuke membuka pembicaraan baru. Selama bersamanya, meskipun dia tak banyak bicara. Sasuke merasa dan yakin bahwa Hinata adalah orang yang baik yang bahkan mau menyusahkan dirinya sendiri untuk membantu gadis yang bahkan bukan temannya dan hampir tak pernah bicara dengannya. Jadi apakah dia tidak terlalu berlebihan dengan rencana nya itu?

Tangan Sakura terkepal erat. Semakin memikirkan dua manusia itu semakin membuatnya kesal. Jika Hinata memang tak berniat membantunya, mengapa dia tak mengatakannya dari awal? Mengapa setelah membuat dirinya bahagia, gadis itu malah kembali merebut Naruto darinya?

"Aku benci mereka." bahkan Naruto sekalipun. Lelaki itu tega sekali. Apakah dia tak punya hati? Setidaknya tak bisakah dia mengirimi sebuah pesan untuknya soal apapun?

Bagaimana bisa dia pergi begitu saja tanpa kabar?

Apakah dia tak ingat atau tak perduli bahwa masih ada yang menunggunya disini?!

"Kau mau kemana?" Sasuke segera berdiri ketika melihat Sakura berdiri dari posisi duduknya dan melangkah pergi.

"Mencari Naruto."

.

.

.

.

...

Dengan segera Hinata mengalihkan pandangannya ke depan dan melahap popcorn yang ia ambil begitu juga dengan Naruto.

Deg

Deg

Blusssshhh!

Kedua wajah itu sontak memerah dengan jantung yang berdebar semakin kencang.

"Berhenti berpikir yang tidak-tidak.. / berhenti berpikir yang tidak-tidak!" inner mereka berteriak.

Berhenti?

Apa itu artinya sedari tadi mereka memang telah berpikiran sesuatu?

"Oh aku lupa." desis Hinata tiba-tiba terkejut. Ia baru ingat harus menghubungi Sakura.

Dengan cepat Hinata merogoh tas kecil di atas pahanya yang tertutup rok hitam setelah meletakkan sekotak popcorn ke atas paha Naruto tapi ia tak bisa menemukan ponselnya?

"Dimana ponselku?" tanya nya entah pada siapa sambil kembali meraba-raba isi tasnya tapi apa yang ia cari tetap lah tak ada.

"Tentu saja aku ambil. Aku tahu kau akan menghubungi Sakura." suara yang berasal dari lelaki di sebelah Hinata membuat Hinata menatapnya terkejut. Sejak kapan ponselnya berada di tangan lelaki itu? Mengapa ia sama sekali tak menyadarinya?

"Tidak senpai. saya saya hanya harus menghubungi ayah saya." bohong Hinata cepat.

"Nanti saja. Sekarang lanjutkan acara nonton mu." jawab Naruto tak perduli dan kembali fokus ke film yang ia tonton. Cih! Kau kira Naruto akan tertipu oleh alasan bodoh itu?

...

Hinata diam dan menuruti ucapan Naruto. Ia tak boleh memaksa kalau tak ingin dicurigai Naruto.

...

Tapi terkadang..

...

Terkadang ketika rasanya tiba-tiba sepi, suara seolah menghilang begitu juga dengan manusia-manusia di sekitarnya.

Hinata merasa..

Penahkan dirinya berpikir bahwa mengapa Naruto begini akrab dengannya?

Karena menurutnya Hinata bodoh?

Lalu bagaimana dengan Toneri yang juga bodoh menurutnya?

Bagaimana bisa Naruto akrab dengannya padahal ia sama sekali tak melakukan apapun yang bisa menarik perhatian Naruto?

Memang dia jarang ramah pada Hinata tapi bukankah mereka cukup akrab hingga terus terdempetan di sekolah?

Hinata cukup bertanya-tanya soal ini.

Jujur..

Jujur saja bahwa ia takut.

Semua orang selalu baik karena ada mau nya.

Bukannya ia tak mempercayai Naruto, hanya saja terkadang ketakutan itu muncul.

Ia takut bahwa lelaki ini hanya mendekatinya karena sesuatu..

Tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini, bukan?

Terkadang Hinata berpikir. Haruskah dirinya berjaga jarak dengan Naruto?

Bagaimana jika apa yang pernah terjadi terulang lagi?

Bagaimana jika dia hanya berdrama?

Bagaimana jika ada maksud di dalam keakraban ini?

Bagaimana...

"Terkadang aku berpikir. Mengapa bisa aku tiba-tiba dekat denganmu padahal sebelumnya aku tak pernah dekat dengan siapapun?" kali ini bukan Hinata yang berkata melainkan Naruto.

Ia cukup heran dan bertanya-tanya. Dari sekian banyaknya manusia, ia malah akrab dengan gadis ini tanpa ia sadari.

Bagaimana ceritanya?

"Entahlah.. Mungkin karena saya terlihat seperti orang yang mudah bergaul dengan siapapun?" Hinata tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangannya dari layar besar yang masih memutarkan film. Meskipun begitu, meskipun Hinata selalu menerima siapapun yang ia lihat, tak ada hal yang berubah. Mereka akan datang ketika perlu, pergi ketika tak perlu. Mereka berubah. Tak pernah ada teman sejati di dunia ini. Semuanya berubah dan pergi begitu saja.

Meskipun Hinata mengatakan ia percaya pada siapapun. jujur, ia takut pada sesuatu yang di namakan teman. Sesuatu yang datang, membuatnya senang dan bisa pergi kapan saja.

"..." Naruto tak berkata karena tak tahu harus berkata apa. Rasanya hanya seperti ada sesuatu dari Hinata yang terus menariknya mendekat. Rasanya seperti mereka memang sudah menjadi akrab jauh sebelumnya.

Sesuatu yang terlupakan...?

Apa itu...? Ia sama sekali tak ingat apa yang seharusnya ia ingat saat ini.

...

"Saya orang yang hampir tak pernah tersinggung ataupun marah. Saya suka kejujuran meskipun itu menyakitkan. Jadi siapapun boleh mengatakan apapun pada saya." Hinata menatap Naruto begitu juga dengan Naruto membalas menatapnya.

Mengapa.. Naruto merasa kata-kata itu ditujukan untuknya?

Tapi apa yang harus Naruto katakan? Ia merasa tak punya sesuatu untuk di akui..?

"Dan saya benci di tipu dengan keramahan. Memang saya tak mengatakan apapun tapi tak berarti saya tak tahu." tambahnya dan jujur saja bahwa ucapan ini untuk beberapa orang di luar sana.

"Terlebih lagi jika kesempatan yang diberikan untuk mengakui kesalahan malah di hadiahi seribu alasan seolah dirinya tak bersalah. Itu sangat menyebalkan sekaligus menyakitkan."

Sekarang Naruto mengerti apa bedanya Hinata asli dengan Hinata replika.

Hinata asli selalu berbicara dengan perasaan..

Sedangkan

Hinata replika berbicara begitu saja seperti angin.

"Kau selalu saja membuat ku kehabisan kata." ucap Naruto ragu dan Hinata kembali tersenyum tipis.

"Ternyata benar.." Hinata sengaja memberi jeda ucapannya.

"Benar apanya?" tanya Naruto penasaran.

"Yaa benar." Hinata memancing yang membuat mata Naruto menyipit menatapnya. "Apaan?" Tanya Naruto tak suka.

"Ya benar. Ternyata benar.." jawab Hinata semakin memancing yang semakin menyipitkan mata Naruto. Dia sengaja.

"Ya ya ya.. Ternyata benar aku sangat pandai dan tampan kan? Hah?! Ayolah aku tahu apa yang kau pikirkan." tebak Naruto bangga sambil mengangkat sudut bibirnya dan menatap lurus kedepan.

"Bibi saya mengatakan hanya orang gila yang berani memuji diri mereka sendiri." ucap Hinata bercanda yang langsung membuat Naruto melemparkan tatapan kesal nya.

"Apa maksudmu! Kau memang mau mengajakku kelahi ya?!" Naruto berdiri dari posisi duduknya yang malah membuat Hinata terkikih geli.

"Bercanda senpai." ucapnya lucu.

"Senpai tak bisa di ajak bercanda. Hehe.." kekehnya yang langsung memasamkan wajah Naruto.

"Sama sekali tak lucu. Aku akan menghajarmu jika kau melakukannya lagi." Naruto kembali duduk di kursinya, menjauh dari Hinata sebisa mungkin. Gadis ini sengaja membuatnya kesal.

"Maaf senpai.." jawab Hinata menahan tawanya.

Tangannya terulur ingin meraih popcorn di tangan Naruto tapi malah sebuah pukulan yang punggung tangannya dapatkan yang langsung memundurkan tangan mungil itu.

Pak

"Dilarang makan." Naruto menarik ke samping pop corn itu agar tak bisa di raih Hinata dan mulai melahap satu persatu popcorn itu.

Bukannya cemburut Hinata malah tertawa akan hal imut itu.

"Hahaha.. Senpai manis sekali." ucap Hinata lucu akan tingkah Naruto.

"Berhenti mengataiku manis!" marah Naruto tak suka. Mengapa gadis ini suka sekali mengatasinya manis?! Dirinya cowok yang keren! Bukannya banci yang manis!

.

.

.

18.21

"Oo, akhirnya kalian pulang juga?" wajah datar itu muncul dengan badan mungil dan tangan terlipat di depan dadanya.

"Setidaknya tak bisa kah biarkan aku mengantar Hinata masuk?" ucap lelaki bersurai kuning itu tak suka. Ia baru saja keluar dari bis di depan gerbang sekolah dan gadis itu sudah muncul entah dari mana layaknya setan.

"Sa-Sakura senpai." panggil Hinata terkejut.

"Apa tak ada waktu lain untuk muncul?" tanya Naruto tak suka sambil menarik Hinata masuk melewati gerbang.

"Aku bicara denganmu. Kau mau kemana, Uzumaki Naruto!" Sakura meningikan suaranya ketika menghalang jalan Naruto sambil menampilkan wajah marahnya. Apa dia sama sekali tak merasa bersalah?

Hinata melirik ke arah Sakura. Ia harus mengingatkan Sakura agar tak marah sesuai kesepakatan nya dengan Naruto.

"Sa-sakura sen"

"Aku tak bicara padamu! Jadi tutup mulutmu!" bentak Sakura mengagetkan Hinata. Dia terdengar sangat marah. Tentu saja. Siapa yang tak akan marah setelah kejadian tadi siang?

"Oo, sepertinya seseorang sudah kembali ke wujud aslinya." sela Naruto sinis.

Si jalang itu berani-berani nya membentak Hinata setelah meminta bantuannya!

Dia memang perlu di hajar.

.

.

.

.

To be continue..

.

.

Balas review.

Kamvang : tq sarannya :) author usahain yg terbaik.

.

Hina-Hime XD : ceritanya author pastikan end kok :) senang kalau kamu suka. Terima kasih..

.

161200- chan : hahaha, gak papa kok. Author kan gak paksa review ;) Rajin bangat baca ulang nya :v

.

: asal jangan makan author ya :v

.

WinNH376 : wkwwkwkwkw numpang ketawa aja btw terima kasih banyak..

.

RaTiZa : palingan bentar lagi sadarnya setelah kejadian ... Semoga suka sama fic nya.

.

Anonym : sorry baru up, moga suka.

.

anirahani : namanya juga ending :v

.

Nico Andrian : terima kasih..

.

Kurogane Hizashi : ...

.

antiy3629 : gpp kok ;) masih ada coba lagi.

.

.526 : Terima kasih :)

.

DandiDandi : Terus lanjut kok. Hehe

.

.

Maaf baru up. Author lagi kurang sehat beberapa hari ini.

Dan oh. Kalian mau baca ini dlu sampai habis atau campur2 dengan love story2( akan di tentukan oleh pilihan terbanyak)

.

Dan apa ada scene yang membuat kalian bisa menebak apa yang mungkin terjadi di next chapter?

Selamat menebak.

Moga suka. Moga bagus. Maaf kalau gak bagus. Meskipun gak bagus, usaha juga loh bikinnya. Hehe

bye bye