Gone (Our Tomorrow)
.
.
Cerita ini hanya fiktif belaka, sekedar karangan. Apresiasi atas cinta pada sang idola. Bukan bermaksud menjatuhkan, menjelekan apalagi mendoakan yang tidak-tidak.
.
.
Kwon Jiyong menatap Luhan tepat dimata. Ketika anak itu hendak menaiki panggung untuk menyayikan sebuah lagu yang secara khusus ia ciptakan atas kerinduan dirinya terhadap seseorang.
Jiyong adalah pemilik acara, sejak dua tahun yang lalu dia mempersiapkan sebuah konser besar dengan beberapa maestro terkenal. Rumah orchestra terbesar yang berdiri gagah di tanah Australia menjadi pilihan tempatnya.
Bintang-bintang besar berdatangan, menyaksikkan suguhan yang dibuat oleh musisi paling fenomenal asal negeri gingseng – Kwon Jiyoung, selain bintang pengisi yang menjadi sorotan lantaran semuanya merupakan superstar, ada satu lagi yang menarik perhatian Luhan – bocah tujuh belas tahun yang minggu depan akan menjalankan ujian kelulusan.
Namanya menjadi trending topic nomor satu di seluruh mesin pencari. Siapa Luhan? Luhan hanya anak tujuh belas tahun yang kebetulan bersekolah di sekolahan milik sang musisi namun tanpa di duga dia menjadi salah satu pengisi acara dan mendapatkan kursi VIP, duduk di antara keluarga Kwon, tepatnya duduk di sebelah ny. Kwon – Ahn Sohee, isteri Kwon Jiyoung.
"Ahjussi" Luhan memanggil pelan, menunda langkahnya yang harus segera menapak naik. Ada sesuatu yang ingin di tanyakan. "Lakukan dengan baik Luhan." Jiyong menepuk pelan pundak anak itu, segera mendorong kecil anak China agar segera naik, tamu sudah menunggu, waktu tidak bisa di ulur lagi.
"Ah, chamkan" Jiyong mengambil sesuatu dari dalam sakunya, sebuah pita saku. Ia memasangkannya pada saku Luhan yang terlihat kosong. "Ini miliknya." Kata Jiyoung dengan nada tercekat dan suara yang berat, sesak mendera hatinya tiba-tiba.
"Ahjussi"
"Naiklah"
Sambil memegangi pita putih yang diberikan Kwon Jiyong, Luhan berfikir, miliknya? Mungkinkah milik…
"Luhan"
Pandangannya beralih, naik kepada seorang pria berbaju dengan tulisan crew di punggungnya. "Palli"
"Ah, ne. Chwiseonghaeyo" Luhan melangkah semakin cepat. Dia sudah membuat para crew menunggunya. Saat dia sampai pada atas panggung besar nan mewah, matanya menangkap sebuah grand piano besar di samping kanan, letaknya tertutup pemain musik lainnya tapi itu terlihat begitu mencolok, pasalnya piano itu tidak ada yang memainkan, kosong namun ditata seakan seseorang itu ada. Bermain disana.
"Apa kau sedang mempersiapkan konser tunggal?"
Luhan sedang duduk, menemani seseorang berkutat dengan piano super besar di ruang kesenian dengan dia hanya duduk, mendengarkan seraya menikmati es krim kap ukuran jumbo.
"Hmm, itu akan di adakan di Australia, kau mau datang?"
"Jinja?" Luhan lengah sebentar dari es krim dalam pelukannya dan menatap lawan bicara, dia begitu antusias, tentu saja karena Luhan sangat menyukai permainannya, juga karena dia bisa pergi keluar negeri, itu akan menambah daftar bepergiannya kenegara lain, bukankah itu mengagumkan.
Tapi kesenangan itu pudar tiba-tiba. "Kau tidak bisa melakukan itu. Bukankah kita akan menghadapi ujian. Kita harus banyak belajar." Luhan mendengus.
"Padahal aku sangat ingin kau datang, kalau perlu kau menjadi salah satu pengisi acaranya. Kau bernyayi dan aku memainkan musiknya"
Luhan mengibaskan sebelah tangannya. "Apa kau sangat ingin?"
"Hmm"
"Itu mungkin keinginan terakhirku…
Butuh waktu untuk Luhan mencerna maksud dari kalimat tersebut tapi sewaktu akan bertanya dentingan piano terdengar mengalun kembali.
"XiuMin" maka dia hanya menggumam memanggil nama tersebut.
Luhan kembali pada kesadaran bersama alunan lembut menggema dan suara riuh tepuk tangan. Ada butiran bening mengalir dari matanya, juga dari mata sang tuan rumah, tuan dan nyonya Kwon. Bibirnya mengembangkan senyuman lebar, tapi jelas sekali di sana jika mereka menjatuhkan air mata.
Ada apa sebenarnya? Pertanyaannya mengalun terus seiring langkah menuju stand mic. "Aku tidak tahu" Luhan mengawali penampilannya dengan sebuah sambutan kecil, suaranya bergetar tanda sulit mengucapkan perkata, tapi entah mengapa dia ingin.
"Kenapa aku berdiri disini, aku hanya siswa SMA yang akan menempuh ujian beberapa waktu lagi." Sengguk tangis mulai terdengar, riuh tepuk tangan mendadak berhenti, keheningan memenuhi aula besar dan lampu meredup secara perlahan. Lampu besar menyorot pada panggung, getaran punggunya tampak begitu jelas. "Salah seorang yang sangat berharga bagiku mengatakan padaku. Maukah kau datang pada konserku?"
"Aku akan mengadakan konser. Dia mengatakan itu padaku, dan aku menjawab aku tidak bisa karena aku … ah maksudku kami. Kami akan melaksanakan ujian, aku tidak menolak atau mengiyakan jadi aku bertanya lagi apa dia sangat ingin? Katanya iya, dia sangat ingin dan mungkin itu kemauan terakhirnya….
Ada jeda yang sangat panjang karena lelehan air mata semakin deras yang perlahan semua orang melakukannya. "Sebelum aku sempat bertanya, dia seakan tidak mengizinkan aku, dia melanjutkan permainannya. Sekarang, kurasa aku tahu apa alasannya… dia akan meninggalkan aku. Tapi kemana?...
Kau kemana? Aku merindukanmu"
Jiyong merasakan jas yang dikenakannya sudah hampir basah semua, dalam pelukannya isterinya menumpahkan kesedihan, sorot lampu yang menerangi Luhan membuat semua orang jelas melihatnya, sesekali tatapan anak itu jatuh pada Jiyong dan Sohee, disaat itulah kesakitan tiada tara seperti cambuk yang panas. Membakar kebahagiaan sekali tebas.
"Gwaenchana." Bisiknya pada Sohee, menepuk-nepuk pelan pundak isteri yang sudah menemaninya hampir seperempat abad, ibu dari putera kecilnya yang amat dia sayangi dan begitu berharga – Xiumin.
"Bogosiphoyo"
Sohee dan Luhan berucap bersama, memenuhi pendengarannya seperti musik rock atau underground memekakan juga menyakitkan "Nado, bogoshipo"
Tidak hanya Luhan dan Sohee, tapi Jiyong pun juga, kerinduannya juga sebesar mereka. Atau mungkin lebih besar dari yang mungkin dibayangkan. Anak kecilnya yang selalu suka di peluk dan di gendong, selalu suka di bacakan dongeng sebelum tidur dan anak kecil yang suka membuat orang tuanya cemas, selain itu juga sangat nakal dengan pergi tidak kembali. Xiumin benar-benar anak nakal kan.
.
.
Satu orang berjalan ke garis finis
Entah bagaimana caranya untuk kembali ke titik awal
Dunia baru
Sekarang yang kulakukan menyadari
Waktu yang tidak nyata
Sampai orang lain datang
Yang akan bisa mengerti perasaanku
Tidak perlu untuk di katakan, tidak perlu bertanya
Hanya perlu tahu, hanya perlu mengerti
Setiap saat akan seperti selamanya
Aku melihat tidak ada banyak waktu yang tersisa
Untuk membuat harapan
Aku berharap akan ada suatu hari lagi
Esok untuk kita
Aku bertanya, berapa banyak waktu yang tersisa
Di depan mataku, aku pikir akan ada satu hari lagi
Untuk memenuhi janji kita
Sampai orang lain datang
Yang akan bisa mengerti perasaanku
Tidak perlu untuk di katakan, tidak perlu bertanya
Hanya perlu tahu, hanya perlu mengerti
Setiap saat akan seperti selamanya
Aku melihat tidak ada banyak waktu yang tersisa
Untuk membuat harapan
Aku berharap akan ada suatu hari lagi
Esok untuk kita
Aku bertanya, berapa banyak waktu yang tersisa
Di depan mataku, aku pikir akan ada satu hari lagi
Untuk memenuhi janji kita
Sebenarnya ada dongeng yang dapat memutar kembali waktu
Karena ada mimpi, yang memberitahuku
Cinta tidak akan pernah bertahan kembali yang memberi kekuatanku
Aku melihat tidak ada banyak waktu yang tersisa
Untuk membuat harapan
Aku berharap akan ada suatu hari lagi
Esok untuk kita
Aku bertanya, berapa banyak waktu yang tersisa
Di depan mataku, aku pikir akan ada satu hari lagi
Untuk memenuhi janji kita
Kenangan yang menjadi keabadian.
-(Lu Han – Our Tomorrow)-
Luhan merubah semua liriknya, karena dia tahu. Xiumin telah pergi. Membawa janji yang tidak dia tepati, membawa sebuah kerinduan yang tidak bisa di tuntaskan.
Bagaimana bisa? Xiumin tidak sejahat ini sebelumnya. Apa salahnya sehingga dia meninggalkan Luhan dengan kenangan dan sejuta janji yang tidak satupun ia tepati.
Bukan hanya Luhan yang merasa Xiumin begitu nakal dan jahat, tapi Jiyong juga Sohee, Xiumin berjanji bahwa dia akan tumbuh dewasa dan membuat kedua orangtuanya bangga dan bahagia sepanjang hari, lalu lihat. Bahkan dia tidak ada di konsernya sendiri, menyisahkan piano penuh kenangan yang sekarang mulai berdebu karena tidak pernah lagi digunakan, hanya pajangan di salah satu ruangan besar dirumah mereka, menyisahkan kenangan penuh tawa ketika berlatih bersama, tidakkah ini terlalu jahat, jika Luhan merasa Xiumin sangat jahat padanya, bukankah Xiumin lebih jahat pada Jiyong dan Sohee?
Benturan antara tangan dan tangan saling bersautan, meriuhkan penampilan solo bocah tujuh belas tahun yang sedang merasa begitu kehilangan. Luhan kehilangan Xiumin.
.
.
a Fanfiction
by
Moonbabee
.
.
Dentingan musik mengalun indah sore itu. Luhan membuka dua kelopak matanya yang sejak tadi ia tutup sambil menikmati udara. Ada festival bunga sakura, musim semi telah tiba, bunga asal Jepang yang ditanam di sepanjang jalan sekitar sungai Han bermekaran, menampiklan suasana merah muda yang menyenangkan.
"Aku seperti ada di Jepang" ia bergumam, memetik satu mahkota merah muda dan menghirup aromanya yang semerbak. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di negara gingseng itu adalah musim yang sama, musim semi dengan bunga bermekaran, hanya saja waktu itu bukan bunga sakura yang dia lihat, melainkan bunga-bunga lokal yang umum di dapati di Korea.
"Kudengar dia Xiumin" seseorang membuyarkan lamunan Luhan mengenai bunga, musim pertama dan saat ini. Beberapa orang yang berbincang membicarakan seseorang. "Jinja? Dari yang aku dengar G-Dragon akan pergi ke Australia" yang lain menyahut.
"Mengenai konser tunggal Xiumin, itu memang benar tapi dia juga ada disini sekarang, aku melihat selebaran dari anak temanku yang les di akademi Seungri."
Xiumin? G-Dragon? Sepertinya Luhan pernah dengar nama itu? Ah, itu pemilik sekolahan dimana dia menimba ilmu.
Membuang bunga di tangan Luhan memasukan lengannya kedalam mantel dan mengikuti rombongan yang berbondong-bondong menuju selatan. Ada sebuah panggung ukuran sedang, tidak terlalu besar serta satu grand piano warna gelap bertuliskan XIUMIN.
"Xiumin, kuat?" nama Xiumin berasal dari bahasa China yang berarti kuat, untuk lidah Luhan yang orang China, nama itu sungguh mudah di ucapkan. Jadi dentingan yang begitu indah yang mengalun bersama sepoi angin itu adalah permainan anak bernama Xiumin, sepertinya dia lebih muda darinya.
"Pipinya tampak berisi ketika aku pertama melihatnya" Luhan mengusap salah satu pintu kromotorium dimana disana ada foto seorang anak. Mulai dari usia satu sampai tujuh belas tahunnya.
"Dia bermain dengan indah, dia bilang dia akan menjadi pengiring musik saat aku menyanyika lagu di konsernya" Luhan menumpahkan isi hatinya yang didengarkan oleh Jiyong dan Sohee. Peringatan kematian Xiumin, secara istimewa Jiyong memaba Luhan, siapa tahu Xiumin merindukan Luhan.
Sudah lama, sejak konser tunggal dalam rangka melangsungkan keinginan besar anaknya baru kali ini Jiyong membawa Luhan untuk mengunjungi anak nakalnya.
.
.
"Luhan-ah"
Langkah remaja itu terhenti, dia berbalik dan mendapati Kwon Jiyong berdiri bersama isterinya.
"Kau akan kembali ke China kan?"
Benar, ujian sudah dilaksanakan. Luhan lulus dengan nilai memuaskan, bersama ibunya dia akan kembali ke China, pekerjaan ayahnya telah selesai maka mereka tidak punya alasan lagi untuk berada dinegeri orang. "Ne, majjayo" ia mengangguk lemah.
"Bisakah aku meminta sesuatu padamu?"
Terdengar agak aneh. Kwon Jiyong yang memiliki segalanya meminta sesuatu padanya, pada Luhan yang seorang remaja biasa."Mwonde?"
"Jadilah anak yang berbakti pada orangtuamu, jangan kecewakan mereka dengan kekonyolan yang hanya semata, kau akan temukan gadis yang baik sebagai pengganti anakku"
Luhan hanya mengerjap, namun kepalanya mengangguk. Paham apa maksud dari perkataan Jiyong. "Satu lagi" ia berpindah, pada Sohee yang tadinya hanya diam, ia melangkah, mendekat lalu membenarkan mantel Luhan sebagai lapisan untuk menghangatkan. "Jadilah temanku, bisakah kau melakukannya"
"Ahjumma..
"Eomma, panggil aku eomma"
Sohee memandang mata indah milik Luhan dengan matanya yang berkaca, menahankan tangisan agar tidak tumpah, tidak lagi. Dia sudah berjanji untuk merelakan kepergian Xiuminnya, dia menyayangi dan mencintai anaknya tapi dia sadar, jika tuhan mengendalikan segalanya, tuhan lebih menyayangi Xiumin, ketimbang hidup seperti dipenjara dengan segudang larangan, bukankah lebih baik di surga dengan sejuta kesenangan.
"Menangislah, untuk yang terakhir kalinya. Eomma"
"Xiumin"
"Ne, jegayo"
"Xiu"
Lu Han menangis bersama Sohee, ada Xiumin dalam dirinya, mata indah yang sekarang memandang Sohee dan Jiyong adalah mata Xiumin, mata kucing dengan binary kekananakan yang menginginkan bayak hal, mata indah yang selalu mematahkan fokus Luhan hanya dengan berkedip, sekarang, salah satu benda tercantik itu menjadi miliknya, bersemayam dalam tubuhnya dan membuatnya bisa mengamati dunia.
"Aku akan menjadi temanmu, anakmu dan apapun yang kau butuhkan. Terimakasih eomma, telah melahirkan seorang anak yang begitu berharga, terimakasih sudah mengizinkn aku begitu dekat dengannya, dan terima kasih, bisa menggantikannya untuk melihatmu dengan mata ini"
.
.
Musim semi di awal usia dua puluh lima tahun, seorang gadis melompat girang ketika sampai di sungai Han dengan bunga sakura bermekaran, bibirnya yang serupa kucing itu menyenandungkan lirik milik boy band Korea yang sangat fenomenal – TVXQ. Dia menyukai TVXQ lebih dari apapun, meski group baru bermunculan dan begitu keren, tapi baginya Dong Bang Shin Ki tetaplah yang terbaik.
"Minkyung-ah"
Tubuh mungilnya berputar cepat, begitu mendengar namanya di panggil dan suaranya begitu dia kenal, dia langsung tahu – yang di tunggu sudah datang. "Oh Luhan-ah"
Luhan, pria muda yang membawa satu tangkai bunga krisan untuk di hanyutkan di sungai. Sudah delapan tahun, sudah sangat lama tapi seperti baru kemarin. "Na wasso. Xiumin-ah jaljineseo?"
Gadis yang di panggil Minkyung itu memandang wajah Luhan yang terlihat sedang berdo'a begitu serius tapi juga sendu, tidak berapa lama dia kemudian membuka matanya, menatapnya dan menyunggingkan senyumnya. "Jja" ia merangkul tubuh mungil Minkyung.
"Eodi?"
.
.
"JINJAYO?" Minkyung membolakan matanya, menatap tidak percay pada sepasang suami isteri yang berdiri dihadapannya yang menatapnya juga kaget. "G-G-G-Dragonnia?"
Ia menunjuk lelaki yang baru saja di kenalkan oleh Luhan sebagai Kwon Jiyong. "Eih, jangan bercanda"
"Apa aku terlihat tidak nyata?"
"Ani, keunde. Plak…AW" Minkyung memukul pipinya sendiri dan segera mengaduh, dia tahu lelaki yang dihadapannya ini memang G-Dragon, Kwon Jiyong yang terkenal. Tapi bagaimana bisa dia seperti bermimpi, bertemu superstar yang merupakan seorang legenda. Dan Luhan memperkenalkannya sebagai ayahnya? Jadi Luhan anak Kwon Jiyong dan Ahn Sohee?
Tapi dari yang ia dengar, anak mereka bernama Xiumin dan sudah meninggal delapan tahun lalu karena kelainan jantung yang dibawanya sejak lahir.
"Neo" lamunannya pecah, saat tangan halus milik Sohee menyentuh pipinya, mengusap benda gembul yang menurutnya sangat menyebalkan karena tidak mau menghilang sekeras apapun dia melakukan diet. "Membawa siapa Luhan? Jeongmal yeppuda" garisan sungai langsung terbentuk, Minkyung tertegun karena itu.
"Minkyungie, Kim Minkyung… dia calon isteriku"
Seketika itulah Sohee mengambil semua tubuh Minkyung kedalam dekapannya dan mulai menangis, merindukan dan merasa kalau dia sedang memeluk Xiuminnya. Dalam wujud yang sama hanya beda jenis kelamin, perempuan yang dicintai Luhan ini benar-benar seperti duplikan Xiumin.
"Keunde, naneun… lebih suka TVXQ daripada Big Bang" katanya polos, mengundang tawa orang-orang dan Sohee melepaskan pelukannya.
Wanita itu mengacak pelan gadis muda tersebut.
.
.
Luhan menatap Minkyung yang tersenyum begitu lebar pada Sohee dan Jiyong.
"Luhan-ah"
"Hmm?"
"Berjanjilah padaku"
Luhan menatap jari kelingking Xiumin yang terulur padanya. "Untuk hidup bahagia selalu"
Aku akan bahagia Xiu, aku akan bahagia selalu bersama Minkyung. Kwon Xiumin terimakasih telah memberikan mata indah ini kepadaku, terimakasih telah membuatku melihat keindahan dunia dan keindahan lain selain dirimu.
.
.
Xiumin melambai kecil, sebelum cahaya putih menelan dirinya dia berkata. "Yeppuda. Untuk hari esokmu"
.
.
END
