LOVE BETWEEN FRIENDSHIP

Cast : Kim Minseok, Luhan, Oh Sehun, Kim Jongdae.

Leght : 2/...

Genre : yaoi. Sad dll

Happy reading

.

.

.

flashback on

"Dae-ie oper bolanya kesini"

"Baik" Jongdae berlari mengikuti temannya yang membawa bola.

"Min-ie sini-sini" Minseok mengoper kearah Jongdae, tapi tendangan Minseok terlalu kuat dan melambung tinggi melewati Jongdae.

"Ya! Min-ie kenapa kuat sekali menendangnya?"

"Hehe mian Dae-ie, aku terlalu bersemangat"

"Teman-teman istirahat sebentar, aku akan mengambil bolanya." kata Jongdae dan segera berlari mengambil bola.

"Dimana bolanya, ah itu dia." Jongdae mengambil bolanya, saat akan kembali dia mendengar suara tangisan.

"Hiks hiks hiks"

"Eoh siapa yang menangis?" anak umur 10 tahun itu mengedarkan pandangannya dan mencari siapa yang menangis dan dia menemukannya, seorang anak kecil duduk menekuk kakinya dan menelungkup kan kepalanya diantara kakinya dibawah pohon besar. Jongdae menghampiri anak itu.

"Hai adik kecil kenapa kau menangis?" tanya Jongdae. Anak itu mendongak menatap seseorang didepannya.

"H- hyung bicara padaku?" tanya anak itu balik.

"Ya iyalah siapa lagi kan aku didepanmu jadi aku bicara padamu"

"Hyung tidak t- takut padaku?" tanya anak itu lagi. Jongdae heran dengan pertanyaan anak itu.

"Kenapa aku harus takut pada anak selucu dirimu ini heum?" Jongdae berjongkok mensejajarkan tinggi mereka.

"Kenapa kau menangis?" Jongdae mengulangi pertannyaannya.

"Hiks teman-teman ku tidak mau bermain denganku karena mereka takut padaku hiks."

Jongdae mengelus rambut anak itu.

"Kenapa mereka takut padamu, kelihatannya kau anak yang baik" tanya Jongdae penasaran.

"Mereka hiks takut padaku karena hiks kulitku yang sangat putih, seperti hantu di TV hiks."

"Sudahlah jangan menangis, lelaki itu tidak boleh cengeng. Bagaimana kalau kau bermain bersama hyung dan teman-teman hyung?" tanya Jongdae tersenyum ramah.

"Bolehkah hyung" anak itu menatap Jongdae sambil mengusap air matanya, Jongdae menggangguk.

"Tentu saja, oh ya siapa namamu? Namaku Jongdae, Kim Jongdae." Jongdae mengulurkan tangannya.

"Namaku Sehun, Oh Sehun" anak itu Sehun menjabat tangan Jongdae.

Jongdae berdiri dan mengajak Sehun ke tempat teman-temannya.

...

"Teman-teman aku kembali!!" teriak Jongdae saat meliat teman-temannya duduk di pinggir lapangan.

"Ya! Dae-ie kau lama sekali." Minseok berlari ke Jongdae.

"Teman-teman marah padaku karena aku yang menendang bolanya." Minseok mengerucutkan bibirnya.

"Hehe mian Min-ie aku lama karena aku tadi-"

Kalimat Jongdae terhenti karena teriakan teman-temannya yang juga berlari kearahnya.

"Ya! Jongdae kenapa kau membawa anak hantu itu, kau bisa sial kalau bersamanya." ucap salah satu teman Jongdae.

"Ya! Jangan bicara sembarangan dia bukan anak hantu dia anak manusia buktinya aku bisa melihat dan memegangnya" bela Jongdae.

Sehun yang mendengar ejekan teman-teman Jongdae beringsut kebelakang Jongdae.

"Benar kata Dae-ie kalian ini, kata eomma ku kita tidak boleh mengejek orang apalagi anak kecil." tambah Minseok.

"Aish kalian berdua sama saja, kalau kalian masih tetap bersama anak hantu itu kami tidak akan bermain lagi dengan kalian, ayo kita pergi teman-teman nanti kita bisa terkena sial jika dekat-dekat dengan anak hantu itu" teman-teman ChenMin pergi meninggalkan mereka bertiga.

Sehun yang merasa bersalah pun angkat bicara.

"Mianhae hyung karena aku hyung dijahui teman-teman hyung. Lebih baik aku pergi saja." Sehun berbalik namun ada tangan yang menghentikannya.

"Jangan pergi, bukankah kita akan bermain bersama?" kata Minseok tersenyum manis.

'Manis' batin Sehun. "Bolehkah" tanya Sehun.

"Hem. Oh ya siapa namamu, aku Minseok Kim Minseok."

"A -aku Oh Sehun"

"Kajja Sehun-ie kita bermain!!" kata Minseok semangat sambil menarik Sehun untuk berlari.

"Ya! Tunggu aku" Jongdae ikut berlari mengejar Minseok dan Sehun.

flashback off

Saat ini Luhan dan Sehun hanya bisa menatap sayu Jongdae yang menutup mata dalam dekapan ibunya masing-masing.

Orang tua Luhan dan Sehun datang saat Sehun menangis meraung sambil mengguncang-guncang tubuh Jongdae. Saat mereka menanyakan ada apa mereka malah mendapatkan kabar yang lebih mengejutkan yaitu Jongdae yang telah meninggal.

Saat ini para perawat telah melepaskan alat-alat medis yang terpasang di tubuh Jongdae.

"Lu sebaiknya kau dengan Sehun menemani Minseok saja. Jongdae biar kami yang mengurusnya." kata ibu Luhan.

"Tapi ma-"

"Bukankah Minseok-ie juga harus tahu keadaan Jongdae" ibu Luhan mengelus rambut Luhan pelan.

"Pergilah dan suruh paman dan bibi Kim kemari" tambah ibu Sehun.

"Baiklah" kata Sehun dan Luhan.

...

"Hyung bagaimana kita akan menjelaskan ini semua pada Minseok hyung. Aku sudah berjanji akan membawanya melihat Jongdae hyung jika aku kembali" kata Sehun.

Saat ini mereka berdua berjalan menuju kamar rawat Minseok.

"Aku juga tak tahu Sehun. Tapi tenanglah, aku yang akan bicara dengannya" kata Luhan berusaha tenang dihadapan Sehun. Meski dihatinya diliputi rasa kecemasan.

CKLEK

"Sehun-ie, Luhan-ie" kata Minseok semangat begitu tahu siapa yang membuka pintu.

"Oh, Sehun Luhan, kalian kemari." tuan Kim menyambut HunHan.

"Iya paman, aku ingin melihat keadaan Minseok. Oh ya paman bibi kalian disuruh mama dan papa untuk menemui mereka"

"Oh baiklah kalau begitu, tolong jaga Minseok sebentar ya"

Tuan dan nyonya Kim pamit pada Minseok dan Minseok menganggukkan kepalnya.

"Nah Sehun karena kau sudah ada disini berarti kau bisa kan mengantarku ke tempat Jongdae" kata Minseok semangat.

"Eh, itu hyung..." Sehun melirik kearah Luhan meminta perrolongan.

"Apalagi Sehun, kau sudah janji padaku. Kalau kau tidak mau aku akan membencimu" Minseok menatap tajam Sehun, berniat merajuk pada Sehun. Tapi Sehun mengartikan lain tatapan itu.

Tatapan itu, Sehun terdiam. Tatapan itu tatapan yang sering ia dapat waktu kecil tatapan kebencian yang telah membawa kegelapan dalam hidupnya. Tidak Minseok tidak boleh menatapnya seperti itu. Minseok tidak boleh membencinya, karena dia tidak sanggup dibenci oleh Minseok.

"Minseok-ah kau belum bisa menemui Jongdae ok" kalimat Luhan menyadarkan Sehun dari lamunannya.

"Kenapa? aku sudah bisa berjalan jadi bisakan aku kesana. Aku sangat menghawatirkan Jongdae" kata Minseok

"Ayolah Sehun kau sudah janji padaku" kali ini Minseok meminta pada Sehun.

"Baiklah aku akan mengantarmu" kata Sehun pelan

"Sehun" Luhan terkejut dengan ucapan Sehun.

"Apa. Aku sudah janji padanya hyung"

"Iya Sehun tapi-"

"Ya! Kalian kenapa? Dan kau Luhan kenapa kau aneh sekali. Apa kalian menyembunyikan sesuatu?" mata Minseok memicing.

"Apa keadaan Jongdae parah?" lanjut Minseok pelan.

"Ah tidak Jongdae baik-baik saja Minseok" jawab Luhan cepat.

"Tidak Jongdae hyung tidak baik-baik saja" Luhan menatap tajam Sehun.

"Apa yang kau katakan Sehun" desis Luhan.

"Ya! Apa yang terjadi sebenarnya, cepat katakan padaku" tuntut Minseok.

"Jongdae hyung... Jongdae hyung sudah-"

"Cukup Sehun!" Luhan menatap tajam Sehun tapi Sehun mengabaikannya dan melanjutkan kalimatnya.

"Jongdae hyung sudah meninggal" lanjut Sehun pelan dia menundukkan kepalanya.

"A- apa. Apa yang kau bilang Sehun. Tidak, tidak mungkin. Jongdae tidak mungkin meninggal dia masih hidup. Kau bohong Sehun." air mata Minseok merembes keluar dari kedua matanya.

"Minseok kau harus tenang ya"

"Tidak aku akan memastikannya sendiri" Minseok turun dari ranjangnya. Luhan yang melihat itu mencegatnya.

"Kau mau kemana Minseok"

"Jangan halangi aku Luhan"

Minseok berjalan melewati Luhan, sedangngkan Luhan dengan cepat berlari dan berdiri didepan pintu.

"Minggir atau kau ku pukul" kata Minseok dingin.

"Minseok-"

BUGH

Satu pukulan keras Minseok berikan pada Luhan dan Luhan tersungkur dilantai dengan darah disudut bibirnya.

"Tunjukkan dimana kamar rawat Jongdae Oh Sehun"

Minseok berjalan keluar kamar rawatnya dan diikuti oleh Sehun dibelakangnya.

"Sial" Luhan bangkit dan menyusul Minseok dan Sehun.

...

"Jongdae!!" teriak Minseok begitu sampai di dalam kamar rawat Jongdae. Minseok menghambur ke ranjang Jongdae.

"Jongdae bangun kau jangan mengerjaiku ini tidak lucu Jongdae. Bangun, aku akan memukulmu kalau kau tidak bangun" Minseok menggoyangkan tubuh Jongdae.

"Jongdae hiks bukankah besok kita akan kencan hiks kau sudah janji hiks akan mengajakku jalan-jalan. Kau juga sudah janji hiks akan memberiku kejutan hiks. Ayolah Jongdae bukankah kau selalu menepati janjimu hiks. Ayo bangun"

Minseok menangis tersedu, suara tangisnya dapat membuat siapa saja yang mendengar dapat merasakan rasa sakitnya.

"Permisi tuan kami akan membawa mayat pasien untuk dipindah kan"

"Tidak Jongdae tidak mati dia hanya tidur, kalian tidak boleh membawanya kemana-mana" Minseok mengeratkan pelukannya.

"Tuan kami mohon lepaskan tubuh pasien, kami harus cepat-cepat memindahkan pasien"

"Tidak. Kalian tidak boleh membawanya" Minseok bersikeras.

Akhirnya tuan Kim bersama tuan Oh dan Lu menarik Minseok dari tubuh Jongdae dan itu berhasil.

"Appa lepaskan!! Jangan biarkan mereka membawa Jongdae" Minseok memberontak.

"Andwae!! jangan bawa Jongdae!" teriak Minseon saat para perawat mendorong ranjang Jongdae keluar.

"Appa eomma tolong Jongdae. Jongdae!"

Tubuh Minseok meluruh dalam dekapan ayahnya.

"Minseok, Minseok" ayah Minseok menggoyangkan tubuh Minseok.

"Yeobo bawa Minseok ke kamar rawatnya dan aku akan memanggil dokter" kata ibu Minseok.

"Baik"

Saat Sehun akan mengikuti ayah Minseok, Luhan menahan legannya.

"Ikut aku sebentar"

.

.

.

.

TBC

review juseyo bbuing bbuing