LOVE BETWEEN FRIENDSHIP

Cast : Kim Minseok, Luhan, Oh Sehun, Kim Jongdae

Leght : 3/...

Genre : yaoi. Sad dll

Chapter Ini berisi flashback :)

Terinspirasi dari MV Up10tion - White Night

Happy reading

.

.

Saat Sehun akan mengikuti ayah Minseok Luhan menahan lengannya.

"Ikut denganku sebentar" Luhan menarik Sehun kelorong rumah sakit yang sepi.

"Lihat akibat perbuatanmu, bukankah sudah aku bilang aku saja yang bicara"

"Lalu sampai kapan kau akan menyembunyikannya hyung, sekarang atau nanti Minseok hyung pasti juga akan tahu"

"Tapi tidak disaat Minseok masih sakit Sehun" bentak Luhan.

"Lalu siapa yang menyebabkan Minseok hyung sakit? Siapa yang membuat Jongdae hyung meninggal hah!?" Sehun mencekram kerah baju Luhan.

"Itu semua karena mu hyung! Kaulah penyebab semua ini terjadi. Kau. seorang . pembunuh" desis Sehun. Luhan terperangah.

"Dan kau masih bisa menghawatirkan Minseok hyung yang statusnya adalah kekasih Jongdae hyung yang telah kau bunuh. Kau tidak malu hyung?" lanjut Sehun.

"Sehun aku bisa jelaskan-"

"Menjelaskan apa, bukankah sudah jelas kau yang mendorongnya waktu itu"

"Sehun itu-"

Sehun berbalik mengabaikan ucapan Luhan. Luhan terduduk dilantai, air matanya keluar.

"Apa aku benar-benar seorang pembunuh? Maafkan aku Jongdae, maafkan aku Minseok, maafkan aku Sehun."

flashback on

"Luhan!!" Luhan yang merasa namanya di panggil menoleh dan mendapati Jongdae yang sedang berlari kearahnya.

"Oh Jongdae ada apa?" kata Luhan saat Jongdae sudah ada didepannya.

Jongdae menetralkan nafasnya. "Mau tanding balap sepeda pulang nanti? Yang kalah harus mentraktir yang menang" kata Jongdae semangat.

"Tidak mau. Kau pasti akan berpasangan dengan kekasihmu itu, dan kau tahu Minseok itu juara balap sepeda waktu kita SMP. Sudah pasti aku yang kalah, aku tidak mau mentraktirmu dan Minseok lagi" jelas Luhan panjang lebar.

"Kau tidak asik Lu"

"Terserah"

Luhan melanjutkan langkahnya yang tertunda karena Jongdae tadi menuju kelasnya.

"Ya! Luhan tunggu! Begini saja bagaimana kalau kita undi saja siapa yang membonceng dan yang dibonceng" tawar Jongdae lagi.

"Kenapa kau sangat ingin sekali tanding sepada sih?"

"Tidak tahu, aku hanya ingin saja. Ayolaaah Lu~ kali ini saja, aku tidak akan meminta tanding lagi denganmu. Ya ya ya~" Jongdae memelas.

"Aish iya. Jangan memelas seperti itu mukamu jelek"

"Ouhh kau memang sahabat terbaikku, kalau begitu aku akan memberitahu Minseok dan Sehun. Anyeong"

Pulang sekolah.

"Aish kenapa aku yang harus membonceng, dan sialnya aku harus membonceng si raksasa ini" kesal Luhan karena hasil dari undiannya dia yang harus membonceng dan pasangannya adalah Sehun. Jadi otomatis dia harus membonceng Sehun yang tubuhnya lebih besar darinya.

"Sudahlah Luhan hyung, lagipula baru kali ini kau memboncengku. Biasanyakan aku yang selalu memboncengmu"

"Emm Jongdae kau yakin akan melakukan ini. Kau kan payah dalam bersepeda" tanya Minseok karena Jongdae diposisi pembonceng seperti Luhan.

"Kau tenang saja Minseok-ie namja chingumu ini tidak payah. Kita pasti menang karena Luhan lah yang payah" kata Jongdae yakin.

"Ya! Seenaknya saja kau bicara. Kau itu yang payah Jongdae"

"Baiklah kita buktikan saja siapa yang payah disini"

"Baik"

Jongdae dan Luhan mengambil sepeda masing-masing dan memosisikan sepedanya di depan gerbang sekolah dengan Minseok dan Sehun yang sudah berdiri di belakang sepeda pasangannya masing-masing.

"Siap?" tanya Jongdae.

"Heh aku selalu siap"

"Baiklah hana dul set sijak" kata Sehun dan Minseok bersamaan.

Luhan dan Jongdae mulai mengayuh sepedanya.

"Ya! Luhan hyung palli!! Kau lambat sekali kita tertinggal" kata Sehun menepuk-nepuk pundak Luhan.

"Aku sudah cepat ini, kau saja yang berat jadi memperlambat laju sepada"

"Aish hyung berusahalah lebih keras. Aku tidak mau mentraktir mereka lagi" kesal Sehun.

"Aku juga tidak mau"

"Kalau begitu cepat!"

"Aish diamlah"

Luhan mempercepat kayuhannya dan karena Jongdae yang memang payah dalam hal bersepeda, Luhan bisa menyamai posisi Jongdae.

"Hey tuan-tuan kami duluan. Anyeong" kata Luhan dengan suara mengajek.

"A- apa bukankah tadi mereka tertinggal jauh" Jongdae kaget.

"Aish ini tidak bisa dibiarkan" lanjutnya.

"Jangan terlalu memaksakan diri Jongdae, biarlah sekali-kali kita yang mentraktir mereka" Minseok menasehati.

"Tidak mau , kita harus menang apalagi aku yang membonceng kali ini, mau ditaruh mana harga diriku sebagai kekasihmu hah. Juga kalau kita kalah mereka akan mengejekku habis-habisan terutama Luhan." kata Jongdae panjang lebar, Minseok yang mendengarnya hanya geleng-geleng kepala.

Jongdae juga mempercepat kayuhannya dan akhirnya bisa menyusul HunHan meskipun tidak bisa menyamai posisi sepeda Luhan.

Jongdae yang tidak mau kalah pun mulai berbuat curang. Dia menendang ban belakang sepeda Luhan.

"Ya! Apa yang kau lakukan" Luhan berteriak pada Jongdae ketika sepedanya sedikit oleng.

"Aku tidak melakukan apa-apa kata Jongdae yang sekarang posisinya sama dengan Luhan.

"Jelas-jelas tadi hyung menendang ban sepeda kita, aku melihatnya tau" sahut Sehun.

"Oh kau mau bermain curang? Aku juga bisa curang" Luhan balas menendang pedal Jongdae.

"Ya!" teriak Jongdae tidak terima.

Akhirnya mereka berdua saling tendang dan beradu kaki.

DEG

Tiba-tiba Jongdae merasakan penyakit jantungnya kambuh.

'Aku mohon jangan sekarang. Jangan kambuh disaat ada semua teman-temanku'

Luhan melihat belokan yang menjadi garis finisnya. Luhan mendorong kaki Jongdae yang sedang beradu dengannya sekuat tenaga, membuat sepeda yang ditumpangi Jongdae dan Minseok bergeser ke tengah jalan, dan mengayuh dengan kencang meninggalkan ChenMin dibelakang.

"Jongdae awassss!!!!!!" teriak Minseok saat melihat didepannya ada mobil melaju dengan kencang.

Jongdae tersadar dari rasa sakitnya dan tidak dapat menghindar lagi dan...

BRAK!!!!!

Tubuh Minseok terlempar sampai ke tepi jalan disamping semak-semak, sedangkan tubuh Jongdae terlempar keatas mobil dan jatuh di aspal jalan di belakang mobil. Darah memenuhi kepala dan tubuh Jongdae.

"Yeah!! Kita menang Sehun yei!! Akhirnyawuhu!!" sorak Luhan bahagia.

"Kita tidak akan mentraktir mereka lagi hyung" Sehun menambahi dan turun dari sepeda.

"Ehh hyung tapi Jongdae hyung dan Minseok hyung mana" tanya Sehun karena tidak melihat dua hyungnya itu padahal tadi jarak mereka tidak begitu jauh.

"Seharusnya mereka sudah sampai disini sekarang" jawab Luhan.

"Oh atau jangan-jangan mereka kabur" lanjut Luhan.

"Kabur? Ini tidak bisa dibiarkan kita harus mencari mereka hyung, karena mereka punya dua orang kelaparan yang harus diberi makan" kata Sehun.

Akhirnya Sehun dan Luhan kembali untuk mencari Minseok dan Jongdae. Saat melewati belokan mereka melihat banyak orang yang berkerumun dijalan.

"Ada apa disana Sehun apa ada kecelakaan?" tanya Luhan menunjuk kearah kerumunan.

Sehun menhendikkan bahunya tanda tidak tahu.

"Kita lihat saja hyung"

Luhan dan Sehun menghampiri kerumunan tersebut. Luhan menerobos masuk kerumunan sedangkan Sehun dia melihat sebuah sepeda yang sebagian hancur lalu mendekatinya.

"Bukankah itu sepeda Minseok hyung"

Sehun melihat sekitar dan dan mendapati tubuh Minseok yang tergeletak dipinggir jalan samping semak-semak.

"Minseok hyung!!" teriak Sehun menghampiri Minseok.

Sehun memangku kepala Minseok dan menggoyangkan badannya serta menepuk-nepuk pipinya pelan.

"Minseok hyung bangun, Minseok hyung!!!" tak terasa air mata Sehun keluar.

"Hyung bangun hiks"

"Permisi, permisi" akhirnya Luhan sampai didepan dan bola matanya membulat lebar setelah mengetahui seseorang yang terbaring di aspal jalan tersebut.

"J- Jongdae" Luhan menghampiri Jongdae dan berjongkok mengangkat kepala Jongdae dan meletakkan dipangkuannya.

"Ya! Jongdae bangun, kenapa bisa seperti ini Jongdae. Ayo bangun Jongdae kumohon" Luhan menepuk-nepuk pipi Jongdae.

"Seseorang tolong telfon ambulans aku mohon"

"Baik" jawab salah seorang disana.

Tak lama kemudian ambulans datang dan menbawa tubuh Jongdae dan Minseok ke rumah sakit.

flasback off

.

.

TBC

Chapter 3 done huft.

Makasih ya yang udah baca yang udah review dan fol/fav. Aku tak sangka kalau ff abal2 ku ini ada yang baca hehe.

review lagi juseyo.