LOVE BETWEEN FRIENDSHIP
Cast : Kim Minseok, Luhan, Oh Sehun, Kim Jongdae.
Leght : 4/...
Genre : yaoi. Sad dll
Happy reading
Hari ini adalah pemakaman Jongdae, suara isakan tangis memenuhi pemakaman tersebut.
Minseok menangis sesenggukkan dalam pelukan Sehun. Sehun tahu betapa sedihnya Minseok saat ini, karena dia tahu betapa bahagiannya Minseok saat Jongdae menyatakan cinta padanya.
flashback on
"Sehun-ah!!" teriak Minseok berlari kearah Sehun yang sedang berdiri dipinggir lapangan basket outdoor. Tadi saat istirahat Sehun memang memintanya bertemu sepulang sekolah.
"Minseok hyung" Sehun segera menyembunyikan buket bunga di belakang tubuhnya.
"Sehun maaf aku telat" Minseok mengatur nafasnya.
"Tak apa hyung" Sehun tersenyum.
"Sehun-ah kau tahu?" kata Minseok penuh semangat.
"Apa" Sehun tersenyum melihat wajah semangat Minseok yang sangat imut.
"Aku dan Jongdae... kami sepasang kekasih" senyum dibibir Sehun menghilang.
"Jongdae baru saja menyatakan perasaannya padaku tadi, makanya aku telat kemari"
"Aku sangat bahagia Sehun. Kau tahu berapa lama aku menunggunya menyatakan perasaannya"
"Oh selamat ya hyung" Sehun tersenyum getir.
"Oh ya kau mau bicara apa Sehun-ah?" tanya Minseok tetap dengan senyum lebarnya.
"Ee itu emm. ah aku hanya ingin meminta hyung mengajariku PR Matematika hehe"
"Kenapa sampai harus menyuruhku menemuimu disini jika hanya memintaku mengajarimu PR. Kau kan bisa langsung kekelas ku" Sehun tersenyum canggung.
"Sehun-ah aku pergi ya Jongdae sudah menungguku. Tenang saja aku akan mengajarimu. Anyeong"
Sehun melihat Minseok berlari hingga tidak lagi terlihat. Sehun mengeluarkan buket bunga yang dari tadi disembunyikannya.
"Aku sudah keduluan ya" Sehun menghela nafas panjang dan mendongakkan kepalanya keatas menahan agar air matanya tidak jatuh.
Sehun melangkah meninggalkan lapangan basket dan membuang buket bunganya di tempat sampah.
Dan tanpa Sehun sadari seseorang mengambil buket bunga itu "aku tahu apa yang saat ini kau rasakan Sehun-ah, karena aku juga merasakannya"
flashback off
Sehun mengeratkan pelukannya pada Minseok yang masih terisak, lalu memandang foto Jongdae yang tersenyum lebar.
'Hyung kau orang pertama yang mau berteman dengan ku. Tapi kenapa kau juga harus menjadi orang pertama yang meninggalkanku'
Sehun memandang Minseok sejenak lalu memandang foto Jongdae lagi.
'Hyung kau tidak usah khawatir soal Minseok hyung, aku akan menjaganya'
"Hyung ayo kita pulang, semuanya sudah pulang dan mungkin sebentar lagi akan turun hujan" ajak Sehun
Minseok yang sudah tidak punya tenaga menurut saja dituntun Sehun pergi dari Makam Jongdae.
Setelah makam benar-benar sepi, seseorang yang dari tadi berdiri dibalik pohon besar keluar dan berjalan mendekati makam Jongdae.
Namja itu mengeluarkan kotak persegi kecil yang diberikan Jongdae padanya.
"Maaf Jongdae, aku tidak bisa menepati janjiku. Maaf, aku terlalu takut bertemu dengan Minseok, aku malu Jongdae" Namja itu menangis. Bersamaan dengan tangisannya hujan turun dengan derasnya menyamarkan air mata namja itu.
...
Seminggu berlalu. Hari ini seperti biasa sepulang sekolah Sehun akan mengunjungi Minseok untuk menghiburnya.
Sebenarnya Minseok sudah sembuh total lima hari yang lalu tapi Minseok tidak sanggup pergi ke sekolah karena tiap dia ingin mengambil sepedanya (Minseok memiliki 2 sepeda) Minseok selalu mengingat kejadian seram itu.
"Minseok hyung" sapa Sehun setelah membuka kamar Minseok.
"Ah Sehun-ie, akhirnya kau datang juga" Minseok tersenyum lebar.
Sehun yang melihat senyum Minseok ikut tersenyum. Pasalnya selama seminggu ini Minseok selalu murung.
'Apakah Minseok hyung sudah bisa menerima kematian Jongdae hyung. Syukurlah'
"Cha~ makan kau pasti melewatkan makan siangmu lagi hyung" Sehun meletakkan makanan yang dibawanya di meja nakas Minseok.
"Kau tahu makan sendiri itu tidak asik" Minseok mengerucutkan bibirnya.
"Itu bukan alasan untuk melewatkan makan siang mu kan hyung"
"Kalau begitu temani aku makan siang, aku tidak akan habis memakannya, kau membawa makanan banyak sekali" tunjuk Minseok pada makanan yang dibawa Sehun tadi.
"Baiklah, tapi kau harus makan yang banyak ya hyung, aku merindukan pipi gembulmu" Sehun mencubit kedua pipi Minseok.
"Sehun lepas sakit tau" Minseok mengusap-usap kedua pipinya.
...
"Sehun, Luhan kemana? Kenapa dia tidak pernah sekalipun menjengukku? Apa dia marah karena aku pukul waktu di rumah sakit?" tanya Minseok.
Sehun menyuapkan sesendok nasi ke Minseok lalu menjawab.
"Aku tidak tahu hyung, bahkan setelah pemakaman Jongdae hyung Luhan hyung tidak ke sekolah sampai sekarang" Sehun menyuapkan sesendok lagi ke Minseok.
"Dan aku yakin Luhan hyung tidak akan marah padamu" lanjut Sehun.
"Apa mungkin Luhan masih sedih karena kematian Jongdae" Minseok menundukkan kepalanya.
"Sehun-ah" Minseok mendongakkan kepalanya menatap Sehun.
"Antarkan aku kerumah Luhan" lanjutnya.
"Untuk apa hyung, lagi pula kau kan masih-"
"Aku sudah sehat Sehun" Minseok menyela.
"Aku ingin menghiburnya, seperti yang kau lakukan padaku. Aku juga ingin meminta maaf padanya. Hidupku rasanya kurang tanpa Luhan, Sehun" lanjut Minseok.
Sehun menunduk, hatinya terasa sakit mendengar kalimat terakhir Minseok. Tapi Sehun menahannya, dia memasang senyum dan mendekati Minseok.
"Baiklah kita akan kerumah Luhan hyung, tapi hyung harus menghabiskan makananmu dulu " Minseok mengangguk dan memakan makanannya dengan lahab.
...
Ting tong
Sehun memencet bel rumah Luhan beberapa saat kemudian pintu terbuka dan menampakkan sosok wanita paruh baya, ibunya Luhan.
"Oh Minseok-ie Sehun-ie" sapa ibu Luhan. Keduanya membungkukkan badan.
"Mari masuk" lanjut ibu Luhan.
"Minseok-ie bagaimana keadaanmu sudah membaik" tanya ibu Luhan setelah dia menghidangkan minuman untuk SeMin.
"Iya bibi, aku sudah baik-baik saja. Semua ini karena Sehun yang terus menghiburku" Minseok tersenyum.
Mendengar perkataan Minseok barusan hati Sehun serasa menghangat.
'Benarkah itu karena ku hyung'
"Kalau begitu kau harus berterima kasih pada Sehun-ie" ibu Luhan juga tertawa.
"Bibi Lu, Luhan dimana dari tadi tidak kelihatan, apa Luhan ada dikamarnya?" tanya Minseok.
"Oh kalian tidak tahu? Aku kira Luhan memberitahu kalian" ibu Luhan bingung.
"Memberitahu apa bibi, bahkan kami tidak pernah bertemu Luhan hyung" Sehun.
"Sehari setelah pemakaman Jongdae, Luhan berbicara pada kami ingin kembali ke China" mata keduanya melebar mendengarkan ucapan ibu Luhan.
"Setelah kutannya kenapa, Luhan hanya menjawab merindukan neneknya dan kampung halamannya" lanjut ibu Luhan.
"Kenapa mendadak sekali bibi, bahkan dia tidak memberitahu kami" Minseok.
"Bibi juga tidak tahu Minseok-ie, Luhan langsung pergi begitu saja setelah mengatakan itu pada kami"
...
"Sehun-ah apa Luhan benar-benar membenciku jadi dia pergi?" tanya Minseok, saat ini mereka ada di taman tempat mereka bermain sewaktu kecil.
Sehun mengelus punggung Minseok.
"Aku yakin Luhan hyung tidak akan membencimu hyung"
"Kenapa dia pergi" kata Minseok cepat.
"Mungkin dia punya alasan sendiri hyung-"
"Dan alasannya karena dia marah padaku, dia membenciku" air mata Minseok turun melewati pipiya.
Sehun memeluk Minseok dan mengelus punggungnya pelan.
"Tenang hyung, aku yakin Luhan hyung tidak seperti itu"
Minseok mengeratkan pelukannya dan menangis terisak dalam pelukan Sehun.
'Luhan hyung, kau telah membuat Minseok hyung menangis untuk yang kedua kalinya. Aku tidak akan memaafkanmu'
5 Tahun Kemudian
"Jongdae-ya!!" teriak seorang namja.
Namja itu mendudukkan dirinya dan memijat keningnya. Ini sudah kesekian kalinya namja itu mimpi buruk dan terbangun ditengah malam.
Namja itu mengambil air yang ada dinakas sebelah ranjangnya dan meminumnya. Saat meletakkan gelasnya kembali matanya menatap kotak kecil diantara tumpukan bukunya.
"Haah, kenapa kau selalu datang dengan wajah mengerikan Jongdae" kata namja itu masih memperhatikan kotak kecil itu.
"Apa jika aku menepati janjiku kau akan pergi?" tannyanya entah pada siapa.
"Tapi aku takut Jongdae, aku takut tidak bisa menahan perasaanku dan berbalik menghianatimu"
TBC
AAhhhh!!!!!! Akhirnya selesai juga chapter ini huh!!
Terima kasih untuk para readers sekalian yang telah membaca ff gaje ku ini.
Maaf ya kalau makin kesini makin gaje karna authornya pun makin gaje
review juseyoooooooooooo
