LOVE BETWEEN FRIENDSHIP

Cast : Kim Minseok, Luhan, Oh Sehun, Kim Jongdae.

Leght : 6/...

Genre : yaoi. Sad dll

Happy reading

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Euughh" lenguh seorang namja.

"Jam berapa ini?" dia mengambil ponsel di nakas samping kasur nya lalu menyalakannya sambil mengumpulkan kesadarannya.

"Omo!!" mata bulat itu melebar melihat jam yang tertera di ponselnya.

Namja itu langsung menyibak selimutnya, mengambil handuknya, lalu berlari menuju kamar mandi. Tapi disaat akan membuka pintu kamar mandi namja itu berhenti lalu menyeringai.

"Haha tenanglah Minseok, sekali-kali telat tidak apa-apa. Biarkan saja si albino bodoh itu menungguku lama"

Minseok berjalan keranjangnya lagi dan mengambil ponselnya. Mengetik kan sebuah pesan kepada seseorang lalu melangkah santai ke kamar mandi.

Dilain tempat.

Seorang namja dengan mata lelahnya masih sibuk menatap laptop yang ada di pangkuannya, sesekali namja itu memijat pangkal hidungnya untuk mengurangi rasa pusing yang mendera kepalanya.

Namja itu menghela nafas panjang lalu menyandarkan kepalanya dipunggung sofa dia lelah dan sesuatu yang dicarinya dari semalam belum juga ketemu. Pikirannya melayang di kejadian kemarin sore.

flashback

Ting tong

"iya cari siapa" kata wanita paruh baya setelah membuka pintu.

"Bukankah ini rumah paman Kim ah maksudku rumah Kim Mincheol"

"Ah Mincheol-ssi menjual rumah ini dan mereka pindah ke Jepang"

"Jepang? Baiklah terima kasih. Kalau begitu saya pamit" namja itu membungkukkan badan lalu pergi dari rumah itu.

Sampai di apartemen namja itu langsung berkutat dengan laptopnya mencari informasi tentang keluarga Kim. Dan memang benar kalau keluarga Kim pindah ke Jepang tapi tidak dengan Minseok dia masih di Korea, tapi sampai sekarang dia belum menemukan dimana Minseok tinggal.

flasback off

Ding ding

Namja itu menegakkan punggungnya, melihat laptop nya lagi dan ada satu email masuk disana. Namja itu membukanya dan isinya sebuah alamat. Namja itu tersenyum lalu membalas email tersebut, Terima kasih.

Namja itu menutup laptopnya mengambil jaket serta kunci motornya.

Sehun tersenyum membaca pesan Minseok.

*Sehun-ah aku akan telat hari ini -sengaja :p sekali-sekali kau harus menungguku biar kau bisa merasakan betapa jengkelnya aku menunggumu.*

"Dasar" Sehun berdiri dari duduknya, mencium wangi seikat bunga yang dibawanya.

"Hari ini akan menjadi hari terindah kita hyung" namja albino itu tersenyum memandang sungai Han yang berkilauan terkena sinar senja matahari yang hampir terbenam.

"Hari ini aku akan mengungkapkan semuanya"

Minseok berjalan riang keluar apartemennya dia memilih berjalan kaki karena sungai Han - tempat Sehun mengajaknya bertemu dekat dengan apartemennya dan juga dia bisa mengulur waktu jika berjalan kaki.

Senyum Minseok melebar membayangkan Sehun yang menggerutu karena dia belum datang, rasakan kau Oh Sehun hahaha.

Ditengah perjalanannya Minseok merasa ada yang mengikutinya, saat dia menengok kebelakang tidak ada apa-apa hanya orang-orang yang berlalu lalang dijalan.

Akhirnya Minseok berbelok ke sebuah gang mengambil jalan pintas, dia ingin membuktikan dugaannya. Minseok berjalan pelan dan dia mendengar ada suara langkah kaki selain dirinya meski samar.

Minseok menyeringai ternyata tebakannya benar ada orang yang mengikutinya. Minseok pun menghentikan langkahnya.

"Keluarlah aku tau kau dari tadi mengikutiku" kata Minseok tanpa membalikkan badannya. Seorang yang mengikuti Minseok tersentak karena Minseok tiba-tiba berhenti dan berbicara seperti itu.

"Keluarlah jangan jadi pengecut" kata Minseok lagi karena saat menghadap kebelakang dia tidak menemukan penguntit itu.

Minseok menajamkan penglihatannya samar-samar dia melihat siluet seseorang karena malam perlahan sudah membuat bumi menggelap.

"Siapa kau?" orang itu tidak menjawab melainkan berjalan mendekat.

Minseok mengepalkan tangannya dan memasang kuda-kuda siap menyerang kapan saja. Seseorang itu berhenti di bawah lampu jalanan, kini Minseok bisa melihat dengan jelas seseorang yang menguntitnya.

Seseorang itu berpakaian hitam-hitam meski dibawah lampu jalan Minseok tidak bisa melihat wajahnya karena orang itu menunduk ditambah kepalanya tertutup tudung jaketnya.

"Siapa kau!" tanya Minseok lagi agak keras.

Orang itu mengangkat wajahnya menatap Minseok lalu menurunkan tudung jaketnya.

Mata Minseok melebar, sekarang dia bisa melihat dengan jelas seseorang yang berdiri dibawah lampu itu. Seseorang yang di rindu kan nya.

"L- lu.. Luhan" kata Minseok tercekat.

"Minseok-ah anyeong"

"Ish Minseok hyung kemana, tega sekali menyuruhku menunggu sampai 3 jam disini"

"Awas kau hyung akan aku seret kau dari apartemenmu" lanjutnya lalu pergi ke apartemen Minseok.

Ting tong ~

"Hyung ini aku cepat keluar!" teriak Sehun, tapi tidak ada sahutan dari dalam.

"Tidak mau keluar eoh, kau lupa aku tau pasword apartemenmu hyung"

Cklek

"Hyung kau dimana? Minseok hyung" Sehun memutari apartemen Minseok tapi dia tidak menemukan Minseok dimanapun.

"Dimana dia?" Sehun mengambil ponselnya lalu menghubungi Minseok, tapi Sehun dikagetkan dengan dering ponsel minseok yang tergeletak diatas meja makan.

"minseok hyung meninggalkan ponselnya, kemana dia sebenarnya? apa terjadi sesuatu dengannya?" seketika Sehun merasa panik dia langsung berlari keluar mencari Minseok.

Sudah 30 menit lamanya dua namja itu bungkam. Luhan hanya berdiri sesekali melihat kearah Minseok yang tengah duduk menundukkan kepalanya. Sedangkan Minseok tidak tau apa yang ingin dia katakan pada Luhan.

"Luhan/Minseok" mereka bertanya bersamaan.

"Kau duluan saja" Luhan.

Minseok menundukkan kepalanya lagi lalu menghembuskan napas panjang.

"Lu apa kau... marah padaku" kata Minseok pelan.

Luhan tersentak mendengar perkataan pelan Minseok. Marah? atas dasar apa dia marah sama Minseok? Luhan semakin bingung.

"Apa karena aku memukulmu dulu membuatmu marah dan tidak mau melihatku lagi sampai kau pergi ke China. Bahkan kau tidak hadir dalam pemakaman Jongdae"

"Ti- tidak bukan begitu Minseok, aku tidak marah padamu aku hanya... aku hanya takut bertemu denganmu Minseok"

"Kenapa?" Minseok menatap Luhan dengan mata berkaca-kaca.

"Karena... semua masalah ini... semua atas kesalahanku, seandainya aku tidak menerima ajaknnya dulu, seandainya aku tidak mendorong sepedanya, Jongdae... Jongdae pasti masih ada disini-"

"Cukup Luhan jangan menyalahkan dirimu ini bukan salahmu ini memang sudah takdir"

Tidak ada sahutan dari Luhan, mereka berdiam lagi beberapa menit.

"Minseok" Luhan merogoh saku jaketnya memberikan kotak kecil itu ke Minseok.

Minseok mengernyit menerima kotak itu.

"Apa ini Lu?"

"Dihari kematian Jongdae bukankah kalian akan berkencan, itu adalah barang yang akan diberikan padamu Minseok"

Minseok membuka kotak itu yang ternyata isinya dua buah cincin.

"Jongdae..." minseok mengelus dua cincin tersebut, air mata nya mulai mengalir di pipi chubby nya, kenangan tentang Jongdae berputar-putar di kepala nya.

"Minseok-ah disaat terakhirnya Jongdae juga memintaku untuk..."

"kau dimana hyung aku khawatir padamu" Sehun berjalan agak cepat menuju tempat-tempat yang kemungkinan didatangi Minseok.

"Apa dia di kafe Chanyeol hyung?" Sehun langsung berlari cepat menuju kafe Chanyeol hanya itu tempat yang belum di datangi nya. 'Semoga Minseok hyung ada disana'

"Chanyeol hyung"

"Omo! Ish Sehun kau mengagetkan ku, kukira kau hantu tadi"

"Minseok hyung ada disini?" tanya Sehun mengabaikan gerutuan Chanyeol.

"Minseok seharian ini tidak kesini kena- Hei Sehun kau mau kemana ish dasar tidak sopan" gerutu Chanyeol lagi karena dia belum selesai bicara Sehun sudah berlari keluar kafe.

"Minseok hyung kau dimana" Sehun semakin panik, saat Sehun akan berlari lagi mencari Minseok, matanya melihat Minseok di depan sana.

Sehun langsung berlari ketempat Minseok berada tapi langsung berhenti begitu mendengar suara yang begitu familiar dan matanya membulat penuh amarah mendengar kelanjutan suara itu.

Sehun berdiri didepan dua orang namja yang sama-sama menunduk itu genggaman tangannya pada seikat bunga yang dari tadi dibawanya mengerat, karena sudah tidak bisa menahan emosi lagi seikat bunga itupun dilemparkan Sehun dengan kencang tepat di samping kepala Luhan membentur dinding dibelakangnya.

"Kau... apa katamu tadi" gigi Sehun berglemetuk menahan emosinya.

"Se- Sehun" Minseok kaget langsung berdiri dari duduknya.

"Kau mau menggantikan tempat Jongdae hyung? apa kau tidak malu hah" Sehun menatap Luhan yang menundukkan kepalanya.

"Aku... aku hanya ingin menepati janjiku pada Jongdae"

Sehun semakin mengeratkan kepalan tangannya, lalu berjalan mendekati Luhan.

Buuk

"Luhan" teriak Minseok, saat melihat Sehun memukul keras Luhan sampai Luhan tersungkur di tanah dengan sudut bibirnya mengeluarkan darah.

Sehun menarik kerah Luhan, "kau seorang pecundang yang lari dari masalah sekarang kembali dan meminta Minseok hyung jadi kekasihmu dengan menggunakan nama Jongdae hyung licik sekali kau!!!"

Buuk buuk bukk

Sehun memukuli Luhan dengan brutal sedangkan Luhan tidak melawan sama sekali dia tahu adiknya ini sangat marah dengannya jadi dia membiarkan Sehun memukulinya.

"Sehun cukup!" teriak Minseok menarik lengan Sehun yang masih memukuli Luhan.

Merasa Sehun tidak mendengarnya Mnseok pun memukul Sehun dengan sekuat tenaganya.

"Cukup Sehun!"

"Kau tidak apa-apa Luhan" Minseok membantu Luhan duduk, Minseok hampir menangis melihat wajah Luhan penuh dengan darah.

Sedangkan Sehun mengusap kasar darah yang keluar dari mulutnya lalu mendengus keras melihat Minseok membantu Luhan.

"Lihat apa yang kau lakukan Sehun, kenapa kau memukuli Luhan hah dia berkata jujur Sehun"

"Minseok-ah mungkin Sehun masih marah denganku jadi dia memukulku"

Sehun mendengus mendengar jawaban Luhan.

"Tidak Lu, Sehun tidak akan memukulmu sampai seperti ini hanya karena dia marah soal Jongdae dan aku"

"Sekarang katakan Sehun kenapa kau memukuli Luhan sampai seperti ini?"

"Aku melakukannya karena aku mencintaimu hyung dan aku tidak mau kehilanganmu lagi"

Mata Minseok melebar mendengan perkataan Sehun.

"Sehun-ah..."

"Aku sudah cukup sakit saat hyung mengatakan kalau hyung pacaran dengan Jongdae hyung, aku menahan amarahku karena Jongdae hyung aku punya teman, tapi saat pecundang ini mengambil mu dariku aku tidak bisa membiarkannya hyung" Sehun menatap tajam Luhan.

"Tunggu Sehun--"

"Sekarang kau pilih hyung--" potong Sehun

"Si pecundang yang telah menyakitimu atau aku yang selalu menemanimu?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Aloooohaaa im back again akhirnya bisa mampir ke ff ini setelah sekian lama disebelah

Harusnya sih muy muy up kemaren tapi karena negara api menyerang mood Muy Muy akhirnya up nya sekarang deh gpplah malah bagus kan bertepatan dg ultahnya bang Kai

Happy birth day Kim Jongin uri nini yg manis uri kai yg sexy uri jongin yg imut

#happykaiday

#happyjonginday

#happyniniday

gomawo yang sudah mereview di chapter kemaren chu chu chu

oh ya xiuhan vs xiuhun nya beda tipis nih hahaha

ok review nya Juseyo